Menurut Lubis (2017:110-117), Sikap adalah suatu hal yang
mempelajari mengenai seluruh tendensi tindakan, yang
menguntungkan maupun yang tidak menguntungkan, tujuan manusia,
objek, gagasan, atau situasi. Sikap dapat diposisikan sebagai hasil
evaluasi terhadap objek sikap, yang diekspresikan ke dalam proses
kognitif, afektif, dan perilaku. Selain mengenai konsep sikap, menurut
Lubis (2017 : 118), motivasi didefinisikan sebagai kekuatan psikologis
yang menggerakkan seseorang ke arah beberapa jenis tindakan. Selain
itu motivasi adalah proses yang dimulai dengan definisi fisiologis atau
psikologis yang menggerakkan perilaku atau dorongan yang ditujukan
untuk tujuan insentif. Motivasi berkaitan dengan reaksi subjektif yang
terjadi sepanjang proses ini.
Menurut Lubis (2017 : 119-125), adapun beberapa teori yang
menentukan karir seseorang di masa depannya, antara lain :
a. Teori Kebutuhan dan Kepuasan
Pada tahun 1954 Maslow mengembangkan suatu bentuk teori
kelas. Teorinya menjelaskan bahwa setiap individu mempunyai
beraneka ragam kebutuhan yang dapat memengaruhi perilaku
mereka. Maslow membagi kebutuhan ini ke dalam beberapa
kelompok yang pengaruhnya berbeda. Pada kenyataannya, terdapat
suatu hierarki kebutuhan yang didominasi oleh kebutuhan lain
yang tidak mempunyai pengaruh motivasi yang lebih. Pada
praktiknya, teori kebutuhan ini merupakan bagian dari teori
kebutuhan psikologis yang akan didominasi oleh kebutuhan lain
jika tidak dipenuhi. Secara psikologis, kebutuhan merupakan syarat
dasar untuk memenuhi kebutuhan fisik, seperti makan, minum,
perlindungan, dan sebagainya, yang disebut kebutuhan dasar utama
(primary basic need). Secara ringkas, kelima hierarki kebutuhan
manusia oleh Maslow dijabarkan sebagai berikut :
1) Kebutuhan fisiologis (physiological needs), yaitu kebutuhan
fisik, seperti kebutuhan untuk memuaskan rasa lapar dan haus,
kebutuhan akan perumahan, pakaian, dan sebagainya.
2) Kebutuhan akan keamanan (safety needs), yaitu kebutuhan
akan keselamatan dan perlindungan dari bahaya, ancaman,
perampasan, atau pemecatan.
3) Kebutuhan sosial (social needs), yaitu kebutuhan akan rasa
cinta dan kepuasan dalam menjalin hubungan dengan orang
lain, kebutuhan akan kepuasan dan perasaan memiliki serta
diterima dalam suatu kelompok, rasa kekeluargaan,
persahabatan, dan kasih sayang.
4) Kebutuhan akan penghargaan (esteem needs), yaitu kebutuhan
akan status atau kedudukan, kehormatan diri, reputasi, dan
prestasi.
5) Kebutuhan akan aktualisasi diri (self actualization needs),
yaitu kebutuhan pemenuhan diri untuk menggunakan potensi
ekspresi diri dan melakukan apa yang paling sesuai dengan
dirinya.
b. Teori X dan Teori Y
Douglas McGregor , merupakan seorang psikolog sosial
Amerika, pada tahun 1960 mengajukan teori XY yang terkenal
pada tahun 1960 dalam bukunya The Human Side Of Enterprise.
McGregor teori XY adalah pengingat bermanfaat dan sederhana
dari aturan alam untuk mengelola orang, yang berada di bawah
tekanan kerja sehari-hari dan terlalu mudah dilupakan. Teori X dan
Teori Y masih disebut umum di bidang manajemen dan motivasi,
sementara yang lebih baru telah mempertanyakan kekakuan model
McGregor tersebut.
Pandangannya mengenai manusia menyimpulkan bahwa
manusia memuliki dasar negatif yang diberi tanda sebagai teori X,
dan yang lain positif, yang ditandai dengan teori Y. Setelah
memandang cara manajer menangani karyawan, Mc.Gregor
menyimpulkan bahwa pandangan seseorang manajer mengenai
kodrat manusia didasarkan pada suatu pengelompokan
pengandaian tertentu dan manajer cenderung membentuk
perilakunya terhadap bawahannya menurut pengandaian tersebut.
Secara umum, McGregor lebih mempercayai Teori-Y dengan
alasan bahwa para manajer penganut Teori-Y lebih merasa puas
dan mampu memotivasi para karyawannya.
c. Teori Kebutuhan McClelland
Teori ini digunakan untuk menjawab permasalahan yang
berhubungan dengan teori kebutuhan dan kepuasan, yang awalnya
dikembangkan oleh McClelland pada tahun 1961. Teori
McClelland juga mempunyai faktor hierarki untuk memotivasi
perilaku. Dalam kasus ini, terdapat tiga faktor, yaitu prestasi,
kekuatan, dan afilliasi. Dalam teori presrasi, terdapat banyak
kekakuan. Orang-orang yang berbeda dan orang-orang yang sama
pada waktu yang berbeda mempunyai perbedaan perintah dalam
suatu hierarki. Riset yang dilakukan oleh McClelland memberikan
hasil bahwa terdapat tiga karakteristik berikut dari orang yang
memiliki kebutuhan prestasi yang tinggi.
1) Orang yang memiliki kebutuhan prestasi yang tinggi memiliki
tanggung jawab yang tinggi terhadap pelaksanaan suatu tugas
atau pencarian solusi atas suatu permasalahan. Akibatnya
mereka lebih suka bekerja sendiri daripada dengan orang lain.
Apabila pekerjaan membutuhkan orang lain maka mereka
lebih suka memilih orang yang kompeten daripada sahabatnya.
2) Orang yang memiliki kebutuhan prestasi yang tinggi
cenderung menetapkan tingkat kesulitan tugas yang moderat
dan menghitung risikonya.
3) Orang yang memiliki kebutuhan prestasi yang tinggi memiliki
keinginan yang kuat untuk memperoleh umpan balik
(feedback) atau tanggapan atas pelaksanaan tugasnya.
d. Teori Harapan
Teori Harapan dikembangkan sejak tahun 1930-an oleh Kurt Levin
dan Edward Tolman. Dasar teori ini mempunyai sejarah yang
panjang, tetapi menjadi dikenal dalam akuntansi setelah
diperkenalkan oleh Ronen dan Livingstone pada tahun 1975,
kemudian secara komprehensif dan sistematik dirumuskan oleh
Victor Vroom pada tahun 1964. Teori harapan disebut juga teori
valensi atau instrumentalis. Ide dasar dari teori ini adalah motivasi
ditentukan oleh hasil yang diharapkan akan diperoleh seseorang
sebagai akibat dari tindakannya. Variabel kunci dalam teori
harapan adalah usaha (effort), hasil (income), harapan
(expectancy), instrumen yang berkaitan dengan hubungan antara
hasil tingkat pertama dengan hasil tingkat kedua, hubungan antara
prestasi dan imbalan atas pencapaian prestasi, serta valensi yang
berkaitan dengan kadar kekuatan dan keinginan seseorang terhadap
hasil tertentu
