Perkembangan Psikososial spiritual (skripsi, tesis, disertasi)

 

Perkembangan psikososial spiritual remaja meliputi perkembangan identitas diri, identitas kelompok, identitas peran seksual dan emosionalitas. Krisis perkembangan pada masa remaja menghasilkan  terbentuknya  identitas.  Pada  masa  remaja, mereka mulai melihat dirinya sebagai individu yang berbeda, unik dan terpisah dari yang lain(Wong, 2008).

Periode remaja awal dimulai dengan “awitan” pubertas dan berkembangnya stabilitas emosional dan fisik. Hal ini terjadi pada saat atau menjelang lulus dari SMU. Remaja pada tahap awal harus mampu memecahkan masalah terkait hubungan dengan teman sebaya sebelum mampu menjawab pertanyaan tentang siapa diri mereka dalam kaitannya dengan keluarga dan masyarakat. Selama tahap remaja awal, tekanan untuk memiliki suatu kelompok semakin kuat. Remaja menganggap bahwa memiliki kelompok adalah hal yang penting karena mereka merasa menjadi bagian dari kelompok dan kelompok dapat member mereka status. Menjadi individu yang berbeda menyebabkan remaja tidak diterima dan diasingkan dari kelompok. Orang yang penting bagi remaja mengharapkan perilaku tertentu dimiliki oleh remaja (Wong,2008). Akhirnya remaja menjadi seperti yang diharapkan oleh orang yang mereka anggap penting. Jika orang penting bagi remaja adalah kelompok teman sebayanya, maka remaja pun akan menjadi seperti orang yang diharapkan oleh kelompoknya. Mengingat besarnya pengaruh kelompok bagi perkembangan remaja, maka penting untuk ikut mengawasi kelompok teman sebaya remaja.

Selama masa remaja awal, kelompok teman sebaya mulai mengarahkan harapan pada hubungan heteroseksual. Remaja dihadapkan pada harapan terhadap perilaku peran seksual yang matang baik dari teman sebaya maupun orang dewasa(Wong,2008). Hal inilah yang mendukung perilaku seks pranikah remaja, jika remaja bergaul dengan teman sebaya dengan perilaku tersebut.

Status emosional remaja juga masih terombang-ambing antara perilaku yang sudah matang dengan perilaku seperti anak-anak. Akibat emosi yang mudah berubah ini, remaja sering dijuluki sebagai orang yang tidak stabil, tidak konsisten dan sulit diterka (Wong,2008). Emosi yang belum matang ini menyebabkan remaja perlu dukungan dalam mengambil keputusan menghadapi berbagai masalah yang ada, termasuk pengambilan keputusan terhadap KTD yang dialaminya. Walau pun pada remaja akhir remaja lebih dapatmengendalikan emosinya.