Pada masa ini pemikiran remaja tidak hanya dibatasi pada hal- hal yang konkret dan actual saja. Mereka dapat membayangkan suatu rangkaian peristiwa yang mungkin terjadi, dan akibatnya. Pikiran mereka dapat dipengaruhi oleh prinsip-prinsip logis, dan tidak hanya persepsi atau pengalaman mereka sendiri. Remaja juga mampu berpikir tentang kemungkinan yang dipikirkan oleh orang lain. Mereka ingin tahu apa pendapat orang lain tentang dirinya. Kemampuan mereka untuk membayangkan dan menginterpretasikan apa yang dipikirkan orang lain semakin meningkat(Wong, 2008).
Remaja dengan kemampuan kognitif seperti ini sebenarnya sudah mengetahui beberapa hal yang bias ditimbulkan dari perilaku berisiko yang dilakukannya, termasuk perilaku seks pra nikah. Ketika melakukan seks pra nikah, secara logis mereka sebenarnya mengetahui kemungkinan yang bakal terjadi. Namun perilaku tersebut tetap dilakukan karena berbagai macam hal, diantaranya : memperoleh sensasiyang menyenangkan, memuaskan dorongan seksual, memuaskan rasa keingintahuan, sebagai tanda penaklukan, sebagai ekspresi rasa sayang, atau karena mereka tidak mampu untuk menahan tekanan penyesuaian diri dengan kelompok (Wong, 2008).
