Faktor – Faktor yang Berhubungan dengan Kehamilan Remaja (skripsi, tesis, disertasi)

Faktor-faktor yang berhubungan dengan kehamilan remaja menurut Maurer&Smith(2010), karena ternyata 80% kehamilan remaja adalah tidak diinginkan (Henshaw,2001 dalam Maurer&Smith, 2010).

  1. a. Perubahan hormonal, timbulnya kesadaran seksual dan peer pressure.

Menurut Kalmusset.al (2003,dalam Maurer&Smith 2010), masa remaja adalah masa di mana kesadaran seksual, keingintahuan dan keinginan untuk bereksperimen meningkat. Tekanan teman sebaya mempengaruhi remaja untuk terlibat dalam aktivitas seksualnya.  Hal ini sebagaimana disebutkan oleh Wong (2000) bahwa remaja dihadapkan pada harapan adanya perilaku peran seksual yang matang baik dari teman sebaya maupun orang dewasa. Remaja yang terlibat dalam aktivitas seksual biasanya mempunyai teman yang melakukan hal itu juga.

  1. Pesan seksualyangpervasive dari media.

Remaja sering terekspose dengan paparan dari media terkait seks,aktivitas seksual, dan pentingnya menjadi orang yang menarik perhatian lawan jenis (Maurer&Smith,2010). Hal ini menjadikan remaja  terjebak dalam perilaku seks pra  nikah, yang antaralain berujung pada KTD.

  1. c. Aktivitas seksual yang terpaksa

Menurut Maurer&Smith(2010),  semakin muda usia remaja, semakin mudah untuk terlibat dalam aktivitas seksual yang terpaksa. Dua puluh satu persen gadis remaja yang terlibat aktivitas seksual sebelum berusia 15 tahun melaporkan bahwa hal itu terjadi karena dipaksa (Kalmuss et.al, 2003 dalam Maurer&Smith, 2010).

  1. Kurangnya pengetahuan tentang seks dan konsepsi

Peningkatan aktivitas seksual remaja tidak diimbangi dengan peningkatan pengetahuan tentang fungsi seksual, kontrol kehamilan dan pro-creation. Remaja juga kurang memahami tentang masa rentan dalam siklus menstruasi (Maurer&Smith, 2010).  Hal  ini  yang  menyebabkan  remaja  kurang   dapat menyesuaikan aktivitas seksual dengan masa subur dalam siklus haidnya.

  1. e. Misuse atau Nonuse kontrasepsi

Remaja kurang mengetahui metode kontrasepsi yang spesifik dan penggunaan kontrasepsi yang tepat. Satu dari empat gadis tidak melanjutkan mengkonsumsi pil KB  meskipun mereka tetap melanjutkan aktivitas seksualnya (Maurer &Smith,2010).

  1. f. Kesulitan mengakses alat kontrasepsi

Finer dan Zabin (1998 dalam Maurer & Smith,2010) menemukan bahwa interval antara intercourse seksual pertama dan kunjungan terhadap pelayanan kesehatan adalah 22 bulan. Pemasangan alat kontrasepsi efektifseperti IUD, implant atau suntik  membutuhkan  perjanjian  terlebih dahulu  dan pemeriksaan oleh tenaga kesehatan. Padahal remaja tidak pernah mencari pelayanan kesehatan tanpa ijin orang tua. Selain itu, masalah terkait masalah keuangan juga menjadi

Salahsatu sebab remaja sulit mengakses kontrasepsi (Maurer &Smith, 2010).

  1. Destigmatisasi/Illegitimacy

Saat ini sudah menjadi hal yang biasa seorang remaja hamil tanpa menikah dan menjadi single parent (Maurer&Smith,2010). Penurunan stigma  ini seolah-olah menjadi legalisasi bagi remaja bahwa hamil ketika remaja dan belum menikah adalah suatu hal yang biasa dan  dapat diterima oleh masyarakat.

  1. Usaha untuk mencapai kebebasan

Kehamilan bagi remaja dapat dimaknai sebagai suatu tindakan yang menunjukkan perlawanan terhadap pembatasan dari orang tua (Maurer&Smith,2010). Hal ini sebagaimana disebutkan dalam Wong (2000) bahwa terkait perkembangan  sosial, remaja ingin dewasa dan bebas dari orang tua. Orangtua tentu saja akan melarang anak remajanya untuk melakukan aktivitas seks diluar nikah. Kehamilan dapat dijadikan sebagai salah satu alas an menentang perintah orang tua untuk menunjukkan kebebasan remaja.

  1. Kebutuhan untuk merasaspesial, dicintai dan diinginkan.

Beberapa  remaja  putri  mengharapkan  adanya  bayi  dapat memenuhi kebutuhan mereka untuk dicintai dan diperhatikan (Maurer&Smith, 2010).

  1. Kurangnya maturitas dan orientasi masa depan

Perencanaan masa depan remaja minimal.  Mereka kurang berpikir tentang akibat dari aktivitas seksual mereka (Maurer&Smith,2010). Walau pun jika melihat perkembangan kognitif mereka, remaja sudah dapat memikirkan akibat dari tindakan yang dilakukan (Wong, 2008).