Akibat yang Ditimbulkan oleh KTD pada Remaja (skripsi, tesis, disertasi)

1.  Ada dua macam risiko yang bisa dan biasa dilakukan mereka yang mengalami kehamilan tidak diinginkan yaitu meneruskan kehamilan atau mengakhiri kehamilannya. Meneruskan kehamilan maupun mengakhiri kehamilan akan mempunyai risiko baik secara fisik, psikologis, sosial, dan spiritual maupun medis. Adapun risiko jika kehamilan diteruskan atau dipertahankan, yaitu dapat mengakibatkan kelainan kongenital setelah kelahiran, abortus spontan, persalinan prematur, dan berat lahir rendah (Gipson et al., 2008). Akibat KTD yang lain adalah:

  1. Menurut PKBI (1998), kelahiran anak tidak diinginkan (unwanted child), kemungkinan mengalami masa depan menyedihkan, karena kurang mendapat kasih sayang dan pengasuhan semestinya dari orang tuanya, demikian juga keadaan psikologisnya akan terganggu, dan cenderung tidak mengenal kasih sayang terhadap sesamanya.
  2. Hasil penelitian Gipson et al. (2008) anak yang dilahirkan dari KTD, lebih kecil kemungkinannya untuk mendapat ASI, atau lebih besar peluangnya untuk mempunyai durasi menyusu yang lebih pendek dibandingkan anak yang dilahirkan dari kehamilan diinginkan.
  3. Dampak terhadap psikologis yaitu perasaan malu, bingung, cemas, depresi, pesimis terhadap masa depan, dan kadang-kadang disertai rasa benci dan marah, baik pada diri sendiri, pasangan maupun nasib yang menimpanya (Reardon and Cougle, 2002).
  4. Dampak terhadap Sosial-ekonomi: terjadi peningkatan jumlah anak yang terbuang dan diberlakukan secara salah oleh ibu-ibu terutama ibu dengan usia muda.
  5. Kehamilan tidak diinginkan juga berpengaruh terhadap pendidikan, posisi ekonomi partisipasi angkatan kerja perempuan (Munajat, 2000).
  6. Kehamilan diakhiri atau aborsi: risiko fisik seperti terjadinya perdarahan dan komplikasi mengakibatkan berisiko aborsi dan aborsi yang berulang dapat berakibat komplikasi dan kemandulan serta bisa berakibat fatal atau kematian (Manuaba, 2007).

Kematian pada ibu dan juga bayi tinggi dimungkinkan pada KTD remaja karena remaja cenderung menunggu lebih lama sebelum mencari bantuan karena tidak dapat mengakses pelayanan kesehatan, atau bahkan mungkin mereka tidak sadar atau tahu bahwa mereka hamil (Triswan, Gordon, Hughes, Murphey & Wilson, 2000). Remaja hamil sebagai kelompok vulnerable.

Kelompok  vulnerable adalah satu atau beberapa kelompok yang lebih mudah untuk mengalami masalah kesehatan, lebih mudah untuk mengalami kondisi buruk atau rentang kehidupan yang lebih pendek akibat semua kondisi tersebut (Maurer&Smith,2010). Stanhope dan Lancaster (2004)  mendefinisikan   vulnerable population sebagai  kelompok  sosial  yang   mempunyai  risiko relative yang tinggi atau kerentanan untuk mendapatkan outcome kesehatan yang negatif. Anggota kelompok vulnerable sering mempunyai cumulativerisk   atau kombinasi dari beberapa faktor risiko yang membuat mereka lebih sensitive terhadap efek buruk dari factor risiko individu.

Menurut data dari U. S. Departement of Health and Human Services( USDHHS) tahun2000, Healthy people 2010 telah mengidentifikasi beberapa kelompok yang rentan terhadap risiko kesehatan.  Kelompok  tersebut adalah  masyarakat miskin, homeless, disabled, severelly mentalill, orang yang sangat muda dan orang yang sangat tua (Maurer&Smith,2010). Stanhope dan Lancaster,(2004) menggolongkan kelompok vulnerable meliputi: orang miskin dan homeless, remaja yang hamil, migrantand immigrant tworkers, severellymentalill, substanceabuser,abuse individual dan korban kekerasan, orang dengan penyakit menular dan yang berisiko terhadapnya, orang dengan HIVpositif, Hepatitis B virus, dan PMS. Masih menurut   Maurer  dan  Smith (2010), semua  orang yang berada pada kondisi kesehatan yang buruk tidak akan dipertimbangkan  termasuk  dalam  kelompok vulnerable.  Kondisi seperti  itu  dapat  dipertimbangkan  sebagai  kelompok vulnerable jika seseorang/kelompok secara umum mempunyai faktor kekurangan yang menempatkan mereka pada  greater risk atau risiko yang lebih besar untuk mengalami status kesehatan yang buruk daripada oranglain yang berada pada kondisi at-risk yang sama.

Remaja dengan segala kondisi normal/fisiologis terkait perubahan bio, psiko, sosial dan spiritual yang cepat dengan segala kompleksnya permasalahan, menempatkan remaja pada kondisi at risk terhadap timbulnya beberapa masalah kesehatan.  Masalah kesehatan tersebut antara lain masalah terkait gangguan sistem reproduksi maupun seksualitas.

Mengacu kepada konsep Maurer dan Smith(2010), remaja dengan KTD mempunyai greaterrisk karena beberapa faktor kekurangan lain yang memperburuk keadaan kesehatan akibat kehamilannya. Apa lagi jika kehamilannya tidak diinginkan. Kondisi ini yang menempatkan remaja dengan KTD kedalam kelompok vulnerable.

Menurut Stanhope dan Lancaster (2004) bahwa penyebab kerentanan dapat meliputi faktor sosial ekonomi, risiko kesehatan, status kesehatan dan marginalisasi. Pada remaja dengan KTD, maka penyebab kerentanannya adalah KTD tersebut. KTD jika dimasukkan dalam penggolongan penyebab kerentanan menurut Stanhope dan Lancaster (2004) dapat digolongkan ke dalam penyebab dari faktor status kesehatan. Pada remaja yang hamil, perkembangan ini mungkin tidak akan tercapai secara optimal karena pada saat yang sama remaja yang hamil juga harus menyesuaikan pertumbuhan dirinya dengan kehamilan dan pertumbuhan  janin dalam kandungannya. Bahkan perkembangan fisiologis dari remaja yang belum optimal dapat menyebabkan   masalah  kesehatan   tersendiri  terhadap   diri remaja, kehamilannya maupun bayi yang akan dilahirkan.

Vulnerability juga mengakibatkan timbulnya beberapa hal sebagaimana berikut:

  1. Poor health outcomeandhealth disparities

       Poor health outcomeandhealth disparities yaitu mendapatkan dampak kesehatan yang lebih buruk jika dibandingkan dengan populasi yang lain. Hal ini berarti mereka mengalami disparitas dalam hal kesehatan. Disparitas kesehatan  terjadi dalam area cara untuk mengakses pelayanan, kualitas pelayanan, kesesuaian budaya dan bahasa dalam pelayanan dan status kesehatan (Stanhope&Lancaster, 2004). Menurut Agencyfor Health care Research and Quality, (2002) kelompok vulnerable menunggu lebih lama untuk memperoleh kesepakatan untuk bertemu dengan klinisi. Mereka   juga   mempunyai  persepsi  bahwa   komunikasi dengan klinisi mereka kurang menyenangkan (dalam Stanhope &Lancaster,2004). Hal ini juga dialami oleh remaja dengan KTD. Ada beberapa hal yang menghalangi remaja untuk mendapatkan akses pelayanan kesehatan. Cartoof,et.al. (1991),Van Winter&Simarnoons,(1990) mengatakan beberapa penyebab bagi remaja untuk mengawali pelayanan pre  natal adalah: biaya perawatan, dan sikap offensive dari petugas klinik (dalam Stanhope&Lancaster2004). Hal yang penting yang harus ditekankan dalam konsep ini adalah bahwa dampak dari kerentanan remaja dengan KTD adalah derajat kesehatan yang sangat buruk yang dapat disebabkan karena bertumpuknya masalah kesehatan yang dirasakan dan adanya disparitas dalam memperoleh pelayanan kesehatan. Penting untuk dibedakan dengan pembahasan mengenai factor penyebab kerentanan pada remaja dengan KTD. Pada pembahasan mengenai faktor penyebab kerentanan, khususnya status kesehatan, sebenarnya penekanannya adalah pada kondisi perkembangan remaja dari segi bio, psiko, sosial, kultural dan spiritual yang belum optimal. Remaja juga mempunyai tingkat mortalitas yang tinggi yang ditimbulkan karena kriminalitas dan kekerasan, termasuk hipertensi, kelahiran prematur, dan bermacam-macam masalah kesehatan yang lain.

  1. b) ChronicStress

Dampak kesehatan yang  buruk menimbulkan stress baik pada individu maupun keluarga. Stress timbul karena keterbatasan sumber yang mereka miliki. Kelompok vulnerable akan mengahadapi multiple stressor dan hal ini akan berlangsung terus menerus yang kemudian dapat disebut sebagai stress kronik (Stanhope&Lacaster, 2004). Hal ini dapat terjadi pada remaja dengan KTD. Thongchompoo (1999), melakukan penelitian kualitatif untuk menggambarkan praktik perawatan diri pada remaja di provinsi Bangkok dan Samut Prakan Thailand dengan KTD dan faktor-faktor yang berhubungan dengan praktik tersebut. Hasil dari penelitian ini terkait respon emosional remaja dengan KTD adalah ketidakbahagiaan, cemas, kecewa, hopelessness,loneliness, malu, takut, harga diri rendah (HDR), kurang percaya diri (PD) dan perasaan bersalah (dalamNeamsakul, 2008).

4)Cycleof vulnerability

Faktor  penyebab  vulnerability dan dampak dari vulnerability membentuk lingkaran dimana dampak vulnerability akan menguatkan faktor penyebab yang akan mengarahkan pada dampak yang lebih negatif  lagi (Stanhope &Lancaster,2004). Remaja dengan KTD kemungkinan besar akan dapat mengalami hal ini jika remaja dan keluarga tidak memiliki sumber yang  cukup atau bantuan yang dibutuhkan untuk mengatasi segala permasalahan yang ada. Keluarga harus dapat memecah lingkaran tersebut untuk keluar dari lingkaran kerentanan yang tidak berujung. Pada remaja dengan KTD, kemungkinan terjadi stress kronik sangat besar. Penelitian yang dilakukan oleh Neamsakul (2008) terhadap proses social yang dialami remaja Thailand dengan KTD dalam melewati masa childbearing menemukan adanya stress yang beruntun yang dirasakan remaja. Stress tersebut dialami remaja  ketika remaja KTD belum melaksanakan pernikahan yang sah menurut keyakinan mereka. Kondisi tersebut diperparah dengan perasaan bersalah remaja karena mereka telah melakukan tindakan yang amoral dan bertentangan dengan keyakinan yang ada di masyarakat mereka. Stress juga dialami remaja karena adanya isolasi dari teman sebayanya dana ktivitas sosial. Selain itu stress juga dirasakan ketika remaja KTD harus hidup bersama dengan keluarga dari pihak laki-laki di mana mereka berarti hidup dilingkungan yang baru.

c)Hopelessness

Hopelessness ditimbulkan dari perasaan ketidakberdayaan dalam mengatasi permasalahan yang ada serta isolasi sosial. Kondisi ini ditandai dengan adanya keyakinan bahwa tidak ada jalan untuk mengatasi semua masalah yang terjadi (Stanhope&Lancaster, 2004). Hal ini dapat terjadi pada remaja dengan KTD. Thongchompoo (1999), melakukan penelitian kualitatif untuk menggambarkan praktikperawatan diri pada remaja di provinsi Bangkok dan Samut Prakan Thailand dengan KTD dan faktor-faktor yang berhubungan dengan praktik tersebut. Hasil dari penelitian ini terkait respon emosional remaja dengan KTD adalah ketidakbahagiaan, cemas, kecewa, hopelessness, loneliness, malu, takut, harga diri rendah (HDR), kurang percaya diri (PD) dan perasaan bersalah (dalam Neamsakul, 2008).