Respon Awal Remaja terhadap KTD (skripsi, tesis, disertasi)

 

Remaja yang mengalami KTD, awalnya tidak menyadari bahwa dirinya  hamil. Mereka  biasanya hanya  merasakan adanya perubahan yang terjadi dengan tubuhnya. Perubahan  tersebut meliputi tidak haid, mualdan muntah, kelelahan dan kepala pusing. Perubahan fisiologis dalam kehamilan tersebut yang mendorong remaja untuk melakukan tes kehamilan. Berdasarkan hasil tes barulah mereka menyadari bahwa mereka telah hamil.

Berikut akan dibahas respon awal remaja terhadap KTD menurutn Neamsakul (2008).  Ada berbagai macam respon ketika KTD remaja ini diketahui.  Respon-respon tersebut terdiri atas respon remaja itu sendiri terhadap  dirinya   dan  respon  remaja   terhadap  kehamilannya. Respon remaja terhadap dirinya berupa timbulnya perasaan takut dan perasaan tidak siap untuk hamil. Remaja takut dihukum, dikutuk, dijadikan bahan pergunjingan, dan takut ditinggalkan oleh teman lelakinya. Mereka  juga  takut akan mengalami kelahiran yang sulit dan meninggal pada saat melahirkan. Selain itu, mereka juga khawatir tidak mempunyai cukup uang untuk membesarkan bayi mereka. Pada akhirnya mereka takut bayimereka akan lemah, cacat, mati atau dibenci oleh oranglain.

Respon terhadap kehamilannya ditunjukkan dengan 3 jenis cara yaitu:1)concealment/ penyembunyian,2)secara rahasia berusaha mendapatkan aborsi,3) disclosur/mengungkapkan. Respon concealment dilakukan untuk menutupi kehamilan dari setiap orang, kecuali dari teman lelakinya dan keluarganya. Hal ini dilakukan dengan cara tetap melakukan rutinitas sebagaimana biasa, kamuflase dengan gaya berpakaian, dan berbohong tentang kehamilannya dengan mengatakan “tidak”.  Perilaku ini dilakukan selama sekitar 2 –  5 bulan atau lebih lama, sambil menunggu waktu sampai akhirnya mereka benar-benar tidak bias menutupi kehamilan mereka.

Respon remaja kedua terhadap KTD adalah dengan mencoba mencari aborsi secara rahasia. Mereka mengambil keputusan tersebut atas inisiatif mereka sendiri serta pengaruh orang lain seperti orang tua dan teman lelakinya. Keputusan untuk mendapatkan aborsi diambil karena takut dan merasa tidak siap serta karena celaaan dari orang lain. Aborsi dilakukan dengan cara yang tidak aman. Aborsi tidak aman antara lain dilakukan dengan cara melompat dari ketinggian, atau meminta orang yang tidak berkompeten untuk menggugurkan kandungan dengan cara menekan dan menindih perut. Pada akhirnya, sebagian dari mereka yang mengalami kegagalan aborsi mengungkapkan kehamilannya karena perubahan yang sudah tidak mungkin disembunyikan lagi.