Proses Hirarki Analitik (PHA) atau yang biasa dikenal Analitycal Hierarchy process (AHP) merupakan teknik yang dikelompokkan oleh Dr. Thomas L. Saaty, pada awal tahun 1991. PHA telah banyak digunakan oleh para pengambil keputusan untuk membantu memecahkan masalah yang kompleks dan telah teruji efektif dalam mengidentifikasi dan menentukan prioritas dalam suatu pengambilan keputusan. Metode PHA ditunjukan untuk memodalkan problema-problema tidak terstruktur, baik dalam bidang ekonomi, social, maupun sains manajemen. Teuku Afriliansyah, (2018) analisis AHP merupakan suatu model pendukung keputusan. AHP memerlukan pemilihan nilai alternatif dalam perbandingan berpasangan karena dapat memiliki sifat ketidakpastian serta harus dipertimbangkan kembali agar terdapat banyak penilaian dan perbandingan pasangan. AHP merupakan sebuah metode pengambilan keputusan yang digunakan sebagai alternatif yang diperoleh berdasarkan kriteria tertentu. Metode AHP banyak digunakan pada saat mengambil keputusan agar dapat menyelesaikan masalah – 18 masalah dalam hal perencanaan, menentukan alternatif, menyusun prioritas, pemilihan kebijakan, penentuan kebutuhan, peramalan hasil, perencanaan hasil, perencanaan sistem, pengukuran performance, optimasi dan pemecahan suatu konflik tertentu. Menurut Saaty (1991), secara khusus metode AHP dapat digunakan untuk persoalan keputusan seperti: 1. Menetapkan prioritas 2. Menghasilkan seperangkat alternatif 3. Memilih alternatif kebijakan yang terbaik 4. Menetapkan berbagai persyaratan 5. Mengaplikasikan sumber daya 6. Meramalkan hasil dan menaksir resiko 7. Mengukur prestasi 8. Merancang sistem 9. Menjamin kemantapan sistem 10. Mengoptimumkan 11. Merencanakan 12. Memecahkan konflik Tiga prinsip dasar proses AHP (Saaty,1991) adalah: 1. Menggambarkan dan menguraikan secara hirarki, yang disebut dasar menyusun secara hirarki, yaitu memecah-mecah persoalan menjadi unsurunsur terpisah. 19 2. Perbedaan prioritas dan sintesis, yang kita sebut penetapan priorias, yaitu menentukan peringkat elemen-elemen menurut relatife penting. 3. Konsistensi silogis, yaitu menjamin bahwa semua elemen dikelompokkan secara logis dan konsisten sesuai dengan suatu kriteria yang logis. Langkah – langkah dalam metode Analitical Hierarcy Process adalah sebagai berikut: 1. Menentukkan jenis-jenis kriteria yang digunakan. 2. Menyusun kriteria-kriteria tersebut dalam bentuk matriks berpasangan. 3. Hasil dari penjumlahan baris dibagi dengan elemen prioritas relatif. 4. Jumlahkan hasil bagi tersebut dengan banyaknya elemen yang digunakan. 5. Selanjutnya hitung consistency index (CI) menggunakan rumus CI = (λmaks – n) / (n-1) 6. Menentukkan nilai lamda max (eigen value) dengan rumus: ƛ Max = ∑𝑎 n 7.Menghitung Konsistensi index (Ci) Perbandingan antara CI dan RI untuk satu matriks didefinisikan sebagai rasio konsistensi, CR= CI/RI Beberapa penyusunan AHP pada bagian Hirarki sebagai berikut: 1. Penyederhanaan masalah ke dalam bagian-bagian yang menjadi elemen – elemen pokok 21 2. Penentuan kriteria-kriteria yang relevan dari setiap elemen pokok, hingga identifikasi beberapa aternatif keputusan 3. Tidak ada batasan tentang jumlah tingkat dalam hirarki 4. Hirarki harus bersifat fleksibel (dapat diubah) untuk menampung adanya kriteria yang baru ditemukan. Menurut Saaty (1991), keuntungan penggunaan metode AHP antara lain: 1. Kesatuan, AHP bekerja pada model tunggal berupa hirarki dari suatu proses pemilihan alternatife terbaik yang bersifat mudah di mengerti dan luas untuk aneka ragam persoalan. 2. Penyusunan hirarki, AHP mempresentasikan permasalahan kompleks ke dalam model hirarki yang logis dan sederhana. Hal ini mencerminkan kecenderungan alami pikiran untuk memilah-milah elemen-elemen suatu sistem dalam berbagai tingkat berlainan dan mengelompokkan unsur yang serupa ke dalam setiap tingkat. 3. Kompleksitas, AHP memadukan analisis secara bagian-bagian (rancangan deduktif) dan rancangan sistem dalam memecahkan persoalan kompleks. 4. Saling ketergantungan, AHP dapat menangani saling ketergantungan elemen-elemen dalam suatu sistem dan tidak memaksakan pemikiran yang rumit atau sulit untuk dapat dimengerti. 5. Konsistensi, AHP dapat melacak konsistensi logis dari pemberian atau penetapan berbagai priotitas dari setiap kriteria ataupun alternative. 6. Sintesis, AHP menuntun ke suatu taksiran menyeluruh tentang kebaikan setiap alternative. 22 7. Pengukuran, AHP memberikan suatu skala pengukuran yang bersifat fleksibel, yaitu melakukan pembandingan kriteria dari berbagai alternative skala prioritas. 8. Pengulangan proses, AHP memungkinkan kita dapat memperluas definisi dari suatu persoalan dan memperbaiki pertimbangan dan pengertian melakukan pengulangan. 9. Tawar-menawar, AHP mempertimbangkan prioritas relative dari berbagai elemen-elemen dari sistem dan memungkinkan orang untuk memilih alternative terbaik berdasarkan tujuan-tujuan mereka. 10. Penilaian dan consensus, AHP tidak memaksakan sensus tetapi mensintesis suatu hasil yang representative dari berbagai penilaian yang berbeda-beda. Berikut ini Kelebihan dari penggunaan metode AHP yaitu: 1. Jika Rasio Indeks (RI) lebih besar dari 0,1, maka mutu informasi harus diperbaiki dengan revisi penggunaan pertanyaan maupun melakukan pengisian ulang kuesioner. Jika tindakan ini gagal memperbaiki konsisitensi, ada kemungkinan persoalan ini tidak terstruktur secara tepat. 2. Responden adalah orang-orang yang harus menikuti, menguasai, dan mempengaruhi pengambilan kebijakan atau mengetahui informasi yang dibutuhkan. AHP memiliki beberapa kekurangan, ialah sebagai berikut: 1. Ketergantungan model AHP pada input utamanya. Input utama ini berupa persepsi seorang ahli sehingga dalam hal ini melibatkan 23 subyektifitas sang ahli selain itu juga model menjadi tidak berarti jika ahli tersebut memberikan penilaian yang keliru. 2. Metode AHP ini hanya metode matematis tanpa ada pengujian secara statistik sehingga tidak ada batas kepercayaan dari kebenaran model yang terbentuk
