a. Pengertian Tunadaksa
Tunadaksa adalah suatu keadaan rusak atau terganggu sebagai
akibat gangguan bentuk atau hambatan pada tulang, otot, dan sendi
dalam fungsinya yang normal. Kondisi ini disebabkan oleh penyakit,
kecelakaan, atau dapat juga disebabkan oleh pembawaan sejak lahir.
Tunadaksa sering juga diartikan sebagai suatu kondisi yang
menghambat kegiatan individu sebagai akibat kerusakan atau
gangguan pada tulang dan otot, sehingga mengurangi kapasitas
norma l individu untuk mengikuti pendidikan dan untuk berdiri
sendiri.
Tarmansyah mendefinisikan Tunadaksa sebagai istilah lain
tuna fisik (dimana berbagai jenis gangguan fungsi fisik), yang
berhubungan dengan kemampuan motorik dan beberapa gejala
penyerta yang mengakibatkan seseorang mengalami hambatan dalam
mengikuti pendidikan secara normal, serta dalam proses penyesuaian
diri dengan lingkungan. Sementara Riadi , dkk. mendefinisikan
Tunadaksa adalah kelainan tubuh atau cacat tubuh. Menurut Muslim dan Sugiarmin istilah Tunadaksa merupakan
istilah lain dari cacat tubuh atau tuna fisik, yaitu berbagai kelainan
bentuk tubuh yang mengakibatkan kelainan fungsi dari tubuh untuk
melakukan gerakan–gerakan yang dibutuhkan. Pada jenis penyandang
tuna daksa tertentu disertai juga dengan kelainan panca indera dan
kelainan kecerdasan.
Hasil Seminar Nasional, Depdikbud tahun 1981 mengungkap
pengertian Tunadaksa sebagai seseorang yang menderita cacat akibat
polio myelitis, akibat kecelakaan, akibat keturunan, cacat sejak lahir,
kelayuan otot-otot, akibat peradangan otak dan kelainan motorik yang
disebabkan oleh kerusakan pada pusat syaraf (cerebrum).36
Berdasarkan pengertian diatas dapat disimpulkan bahwa
Tunadaksa adalah individu dengan adanya hambatan fisik karena
kerusakan ne urologis atau bagian tubuh yang cacat dimana mereka
mengalami kerusakan motorik sehingga mereka membutuhkan
peralatan khusus untuk dapat beraktivitas. b. Klasifikasi Tunadaksa
Menurut Koening, Tunadaksa dapat diklasifikasikan sebagai
berikut :
a. Kerusakan yang dibawa sejak lahir atau kerusakan yang
merupakan keturunan, meliputi:
1) Club_foot (kaki seperti tongkat)
2) Club_hand (tangan seperti tongkat)
3) Polydctylism (jari yang lebih dari lima pada masing-masing
tangan atau kaki)
4) Torticolism (gangguan pada leher sehingga kepala terkulai
kemuka)
5) Syndactylism (jari-jari yang berselaput atau menempel satu
dengan yang lainnya)
6) Cretinism (kerdil atau katai)
7) Mycrocepalus (kepala yang kecil, tidak normal)
8) Hydrocepalus (kepala yang besar karena adanya cairan)
9) Herelip (gangguan pada bibir atau mulut)
10) Congenital amputation (bayi yang dilahirkan tanpa anggota
tubuh tertentu).
b. Kerusakan pada waktu kelahiran :
1) Erb’s palys (kerusakan pada syaraf lengan akibat tertekan
atau tertarik waktu kelahiran)
2) Fragilitas osium (tulang yang rapuh dan mudah patah)
c. Infeksi
1) Tubercolosis tulang (menyerang sendi paha sehingga
menjadi kaku)
2) Osteomyelitis (radang didalam dan disekeliling sumsum
tulang karena bakteri).
3) Poliomyelitis (infeksi virus yang mungkin menyebabkan
kelumpuhan)
4) Tubercolosis pada lutut atau sendi lain.
d. Kondisi traumatik :
1) Amputasi (anggota tubuh dibuang akibat kecelakaan)
2) Kecelakaan akibat luka bakar
3) Patah tulang
e. Tumor:
1) Oxostosis (tumor tulang)
2) Osteosis fibrosa cystic (kista atau kantang yang berisi
cairan di dalam tulang).
f. Kondisi-kondisi lainnya:
1) Flatfeet (telapak kaki yang rata, tidak berteluk)
2) Kyphosis (bagian belakang sumsum tulang belakang yang
cekung)
3) Lordosis (bagian muka sumsum tulang belakang yang
cekung) 4) Perthe’s disease (sendi paha yang rusak atau mengalami
kelainan)
5) Rickets (tulang yang lunak karena nutrisi, menyebabkan
kerusakan tulang dan sendi)
6) Scilosis (tulang belakang yang berputar, bahu dan paha
yang miring).
c. Ciri-Ciri Tunadaksa
1) Anggota gerak tubuh kaku,lemah atau lumpuh
2) Kesulitan dalam gerakan (tidak sempurna, tidak lentur, tidak
terkendali)
3) Terdapat bagian anggota gerak yang tidak lengkap
4) Terdapat cacat pada alat gerak
5) Jari tangan kaku dan tidak dapat menggenggam
6) Kesulitan pada saat berdiri, berjalan, duduk, dan menunjukkan
sikap tubuh tidak normal
7) Hiperaktif atau tidak dapat tenang.
d. Perkembangan Fisik Tunadaksa
Aspek fisik merupakan potensi yang berkembang dan harus di
kembangkan oleh individu. Pada tunadaksa, potensi itu tidak utuh
karena ada bagian tubuh yang tidak sempurna. Dalam usahanya untuk mengaktualisasikan dirinya secara utuh, ketunadaksaan yang di alami
tuna daksa biasanya di kompensasikan oleh bagian tubuh yang lain.
Misalnya bila ada kerusakan pada tangan kanan, maka tangan kiri
akan lebih berkembang sebagai kompens asi kekurangan yang di alami
tangan kanan. 39
e. Perkembangan Kognitif Tunadaksa
Keadaan tunadaksa menyebabkan gangguan dan hambatan
dalam keterampilan motorik seseorang dan hal ini akan berpengaruh
terhadap perkembangan keterampilan motorik yang lebih kompleks
pada tahap berikutnya. keterbatasan ini sangat membatasi ruang gerak
anak terebut. Menurut Pieget anak tersebut tidak mampu memperoleh
skema baru dalam beradaptasi dengan suatu laju perkembangan yang
normal.
f. Perkembangan Bahasa Tunadaksa
Bahasa adalah alat komunikasi yang utama bagi manusia,
dengan bahasa manusia dapat berhubungan satu dengan yang lainnya,
dan dengan bahasa pula seseorang dapat mengungkapkan pikiran,
perasaan, dan kehendaknya kepada orang lain. Setiap manusia
memiliki potensi untuk berbahasa, potensi tersebut akan berkembang,
menjadi kecakapan berbahasa melalui proses yang berlangsung
sejalan dengan kesiapan dan kematangan sensori motoriknya.
Pada tunadaksa jenis polio, perkembangan bahasa atau
bicaranya tidak begitu berbeda dengan orang normal, lain halnya
degan cerebral palsy. Hasil beberapa penelitian menunjukkan bahwa
gangguan bicara dapat di temui pada hamper setiap cerebral palsy.
Terjadi kelainan bicara pada cerebral palsy di sebabkan oleh
ketidakmampuan dalam koordinasi motorik organ bicaranya akibat
kerusakan atau kelainan sistem nouromotor. Gangguan bicara pada
anak cerebral palsy biasanya berupa kesulitan artikulasi, phonasi, dan
sistem respirasi.
g. Perkembangan Emosi Tunadaksa
Seorang tunadaksa sejak kecil mengalami perkembangan
emosi sebagai seorang tunadaksa secara bertahap. Sedangkan orang
yang mengalami ketunadaksaan setelah besar mengalaminya sebagai
suatu hal yang mendadak, disamping orang yang bersangkutan pernah
menjalani kehidupan sebagai orang yang normal sehingga keadaan
tuna daksa di anggap sebagai suatu kemunduran dan sulit untuk di
terima oleh orang yang bersangkutan. dukungan orang tua dan orangorang di sekelilingnya merupakan hal yang sangat berpengaruh
terhadap perkembangan kehidupan emosi seorang tunadaksa.
Penelitian Fitzgerald menunjukkan bahwa reaksi dan perlakuan
keluarga merupakan salah satu sumber frustasi bagi seorang
tunadaksa, yang tidak jarang justru berakibat lebih berat daripada
akibat ketunadaksaannya. Lebih lanjut lagi hasil penelitian Mc
Michael menunjukkan bahwa adanya stress emosi sering merupakan
masalah yang menyertai keadaan tunadaksa tersebut. Hasil dari kedua
penelitian tersebut berkaitan dengan sikap orang tua dan orang-orang
lain di sekitar seorang tunadaksa. h. Perkembangan Sosial Tunadaksa
Keanekaragaman pengaruh pekembangan yang bersifat
negatif menimbulkan resiko bertambah besarnya kemungkinan
munculnya kesulitan dalam penyesuaian diri pada seorang tunadaksa.
Hal ini berkaitan erat dengan perlakuan masyarakat terhadap seorang
tuna daksa. Sebenarnya kondisi sosial yang positif menunjukkan
kecenderungan untuk menetralisasi akibat keadaan tuna daksa
tersebut. Nampak atau tidak nampaknya keadaan tunadaksa itu
merupakan faktor penting dalam penyesuaian diri seorang tuna daksa
dengan lingkungannya, karena sangat berpengaruh terhadap sikap dan
perlakuan orang normal terhadap orang tunadaksa. Keadaan seorang
tunadaksa yang tidak Nampak, lebih memungkinkan seseorang untukmenyesuaikan diri dengan wajar di bandingkan apabila ketunadaksaan
tersebut Nampak.
i. Perkembangan Kepribadian Tunadaksa
Masalah-masalah kepribadian yang mendasar pada seorang
tuna daksa sebenarnya sama dengan seorang yang mempunyai
keadaan fisik yang normal. Namun demikian ketunadaksaan
merupakan suatu variabel psikologis yang berarti.
Pada seorang tunadaksa nampak bahwa dalam hubungan
sosial mereka berusaha untuk meyakinkan konsep diri dalam arti
fisiknya dan juga berusaha untuk meyakinkan konsep diri yang di
sadarinya. Seorang tuna daksa mempunyai dua tipe masalah,yaitu:
1). Masalah penyesuaian diri yang mungkin terjadi pada kemajuan
perkembangan yang normal yang di alami setiap individu yang
pada saat bersamaan juga berusaha untuk memperluas ruang
gerak dirinya serta mempertahankan konsep diri (self concept)
yang sudah di milikinya.
2). Masalah penyesuaian diri yang semata-mata merupakan gabungan
dari kenyataan bahwa keadaan tunadaksa yang bersifat fisik
merupakan hambatan yang terletak antara tujuan (goal) dan
keinginan untuk mencapai tujuan tersebut
