Bentuk Terapi Aktivitas Kelompok (skripsi dan tesis)

Bentuk-bentuk aktivitas kelompok yang akan diberikan adalah
berdasarkan bentuk-bentuk dari terapi modalitas. Bentuk-bentuk aktivitas
yang akan diberikan tersebut dapat dilakukan untuk menyibukkan
seseorang secara produktif yaitu sebagai suatu media untuk belajar,
bersosialisasi dan berkembang, sekaligus sebagai sumber kepuasan
emosional maupun fisik (Setyoadi & Kushariyadi, 2011). Bentuk-bentuk
terapi aktivitas kelompok berdasarkan terapi modalitas (Setyoadi &
Kushariyadi, 2011) yang digunakan oleh para lansia sebagai berikut:
a. Life Review Therapy
Life Review Therapy ini akan membawa seseorang untuk bisa
menjadi lebih akrab pada realita kehidupan. Life Review Therapy
membantu seseorang untuk mengaktifkan ingatan jangka panjang di
mana akan terjadi mekanisme recall tentang kejadian pada kehidupan
masa lalu hingga sekarang. Dengan cara seperti ini lansia akan lebih
mengenal siapa dirinya dan dengan recall tersebut. Haight dan Dias
dalam (Setyoadi & Kushariyadi, 2011) menguji proses dan hasil dari
life review therapy tersebut dapat mengurangi depresi, mengurangi
kesepian, meningkatkan kepercayaan diri, dan meningkatkan
kemampuan individu untuk beraktivitas sehari-hari. Terapi ini juga
bertujuan untuk meningkatkan gairah hidup dan harga diri dengan
menceritakan pengalaman hidupnya. Misalnya bercerita di masa
mudanya.
b. Psikodrama
Psikodrama adalah metode psikoterapi kelompok di mana susunan
kepribadian, hubungan interpersonal, konflik, dan masalah emosional
digali dengan menggunakan metoda dramatik spesifik (Pramesti, dalam
Setyoadi & Kushariyadi, 2011). Psikodrama merupakan upaya
pemecahan masalah melalui drama, di mana masalah yang didramakan
adalah masalah psikis yang dialami oleh individu (Utama, dalam
Setyoadi & Kushariyadi, 2011). Terapi psikodrama diciptakan oleh
Moreno, seorang dokter psikiatri dari Vienna. Terapi psikodrama
bermanfaat terutama bagi individu yang sulit menyatakan suatu
peristiwa atau perasaan secara verbal (Kurniadi, dalam Setyoadi &
Kushariyadi, 2011) dan lansia yang mengalami kesepian dan depresi.
Terapi psikodrama ini juga bertujuan untuk mengekspresikan
perasaan lansia. Tema dapat dipilih sesuai dengan masalah lansia
yaitu kesepian.
c. Terapi Okupasi
Setyoadi & Kushariyadi (2011) menyatakan bahwa, terapi
okupasi adalah suatu ilmu dan seni pengarahan partisipasi seseorang
untuk melaksakan suatu tugas tertentu yang telah ditentukan dengan
42
maksud untuk memperbaiki, memperkuat, meningkatkan kemampuan,
serta mempermudah belajar keahlian atau fungsi yang dibutuhkan
dalam proses penyesuaian diri dengan lingkungan. Terapi okupasi lebih
dititikberatkan pada pengenalan kemampuan yang masih ada pada
seseorang kemudian memelihara atau meningkatkannya sehingga
mampu mengatasi masalah-masalah yang diharapkan oleh seseorang
tersebut. Berdasarkan penelitian dalam Kaharingan, Bidjuni, &
Karundeng (2015) menyatakan bahwa Menjadi seseorang yang berarti
dalam hidup tampaknya sangat penting saat memasuki periode lansia.
Pada masa ini, lansia harus dapat menerima, bersikap positif serta dapat
menjalani masa tuanya dengan tenang. Lansia akan menghadapi
berbagai persoalan seperti perasaan kesepian, menurunnya kondisi fisik
dan kognitif, perasaan tidak mampu, kematian pasangan atau orangorang terdekat, hilangnya dukungan sosial dan penurunan kesempatan
dalam hal ekonomi karena tidak bekerja atau pensiun (Suprapto, 2013).
Terapi okupasi ini baik diberikan kepada seseorang yang
mengalami kurangnya konsentrasi, mengalami kesepian, depresi. Terapi
okupasi ini juga bertujuan untuk memanfaatkan waktu luang dan
meningkatkan produktivitas dengan membuat atau menghasilkan karya
dari bahan yang telah disediakan. Misalnya: membuat kipas, membuat
keset, membuat bunga dari bahan yang mudah didapatkan (pelepah
pisang, sedotan, botol bekas, dan lain-lain), menjahit dari kain, merajut
dari benang, kerja bakti yaitu membersihkan lingkungan sekitar. Pada
penelitian ini bentuk terapi okupasi yang akan dilakukan adalah
membuat bunga dari sedotan, dan untuk membuat sedotan tersebut
adalah lansia yang tidak mengalami kekakuan pada jari tangan, tidak
mengalami tremor berat, dan lansia yang tidak memiliki gangguan
penglihatan. Alasan peneliti menggunakan sedotan untuk membuat
bunga, dilihat dari kondisi fisik yang dimiliki oleh para lansia. Kondisi
fisik yang dialami oleh para lansia mengalami penurunan terutama pada
gerakan motoriknya. Kegiatan okupasi tersebut para lansia dapat
bersosialisasi dan agar memilki kegiatan sehingga tidak merasa sendiri.
d. Terapi Tertawa
Terapi tertawa merupakan suatu terapi untuk mencapai
kegembiraan di dalam hati yang dikeluarkan melalui mulut dalam
bentuk suara tawa, senyuman yang menghias wajah, perasaan hati yang
lepas dan gembira, dada yang lapang, peredaran darah yang lancar
sehingga dapat mencegah penyakit, memelihara kesehatan, serta
menghilangkan stres (Robinson, 1990; Dahl dan O’Neal, 1993 dalam
Setyoadi & Kushariyadi, 2011).
Hipotesis fisiologis menyatakan bahwa tertawa melepaskan
hormon endorfin ke dalam sirkulasi sehingga tubuh menjadi lebih
nyaman dan rileks. Saat tertawa, tidak hanya hormon endorfin saja yang
keluar tetapi banyak hormon positif lainnya yang muncul. Keluarnya
hormon positif ini akan menyebabkan lancarnya peredaran darah dalam
tubuh sehingga fungsi kerja organ berjalan dengan normal.
Simon (dalam Setyoadi & Kushariyadi, 2011) menunjukkan bahwa
hormon dapat memengaruhi persepsi individu lansia tentang kesehatan
dan moral, berkaitan dengan proses penuaan yang lancar. Peneliti dari
Loma Linda University, California, mengungkapkan bahwa tertawa
dapat dijadikan terapi untuk sejumlah penyakit, diantaranya serangan
jantung dan juga diabetes. Terapi tertawa diberikan pada klien untuk
meringankan penyakit bronkitis, asma, dan migren. Tertawa juga bisa
meningkatkan kapasitas paru-paru dan kadar oksigen dalam darah.
e. Terapi Rekreasi
Terapi rekreasi adalah kegiatan penyegaran kembali tubuh dan
pikiran dan kegiatan yang menggembirakan hati seperti hiburan atau
piknik. Rekreasi dapat meningkatkan daya kreasi manusia dalam
mencapai keseimbangan antara bekerja dan beristirahat. Terapi rekreasi
pada lansia adalah aktivitas yang dilakukan pada waktu senggang yang
bertujuan untuk membentuk serta meningkatkan kembali kesegaran
fisik, mental, pikiran, dan daya rekreasi (individul maupun kelompok)
yang hilang akibat aktivitas rutinitas sehari-hari dengan dengan cara
mencari kesenangan, hiburan, dan kesibukan yang berbeda.
Terapi rekreasi yang diberikan kepada lansia akan memengaruhi
kondisi fisik dan psikis lansia. Secara fisik terapi rekreasi mampu
membantu lansia dalam mengembalikan atau memperbaiki kondisi fisik
yang sudah lama jarang di gerakkan akibat hospitalisasi yang lama.
Secara psikis terapi rekreasi akan memengaruhi psikis lansia seperti
45
membantu menyegarkan otak dan pikiran, membuat perasaan perasaan
menjadi tenang, senang, serta nyaman.
Dengan demikian, lansia tidak akan merasa cemas, stres, maupun
depresi. Terapi rekreasi bertujuan untuk menciptakan dan membina
hubungan manusia, mempertahankan nilai-nilai budaya, menimbulkan
kesenangan dan kepuasan karena dapat memenuhi rasa ingin tahu, dan
memulihkan kesehatan jasmani dan rohani. Terapi rekreasi ini cocok
diberikan kepada lansia yang baru keluar dari rumah sakit setelah
perawatan selama lebih dari dua minggu, lansia yang sedang
mengalami cemas, stres, maupun depresi, dan lansia yang mempunyai
penyakit kronis.
f. Terapi Hewan
Terapi hewan (animal therapy) adalah terapi modalitas/terapi
aktivitas kelompok yang menggunakan hewan peliharaan sebagai
medianya. Hewan yang digunakan adalah hewan yang berfungsi khusus
sebagai teman sehari-hari, setia pada majikan, dan memiliki
kemampuan menarik tertentu seterti menyanyi, misalnya kucing dan
burung. Dr. L. Suryantha Chandra, psikiater dan Direktur Utama
Sanatorium Dharmawangsa Jakarta, mengatakan bahwa mempunyai
hewan peliharaan bisa menjadi salah satu unsur dalam terapi pada
gangguan jiwa. Dengan demikian, dianjurkan orang yang mengalami
gangguan jiwa (depresi), agar mempunyai hewan peliharaan.
46
Hewan peliharaan mempunyai fungsi untuk memenuhi kebutuhan
jiwa manusia, mengisi rasa kesepian, dan juga sebagai tempat untuk
mencurahkan perasaan. Terapi hewan ini juga bertujuan untuk dapat
menyembuhkan hati yang patah, impian yang hilang, serta ide dan
pikiran yang buruk, dapat membantu seseorang untuk mengurangi
kecemasan melawan penyakit, mengusir kesepian, dan depresi,
meningkatkan interaksi sosial, bahkan dapat memperpanjang umur.
Selain itu terapi hewan dapat juga untuk membuat seseorang menjadi
tenang dan menanggulangi depresi, melawan penyakit jantung,
meningkatkan sistem kekebalan tubuh, dan meningkatkan kepercayaan
diri dan harga diri individu dengan gangguan fisik dan seksual.
g. Terapi Spiritual
Terapi spiritual adalah terapi dengan pendekatan terhadap
kepercayaan yang dianut oleh klien dengan cara memberikan
pencerahan. WHO menetapkan unsur spiritual (agama) sebagai salah
satu dari empat unsur kesehatan. Keempat unsur kesehatan tersebut
adalah sehat fisik, sehat psikis, sehat sosial, dan sehat spiritual.
Pendekatan ini diadopsi oleh psikiater Amerika Serikat (The American
Psychiatric Association, 1992) yang dikenal dengan pendekatan biopsiko-sosio-spiritual. Dari sudut ilmu kedokteran jiwa atau kesehatan
jiwa, doa dan zikir (psikoreligius terapi) merupakan terapi psikiatri
setingkat lebih tinggi daripada psikoterapi biasa.
Hal ini dikarenakan doa dan zikir mengandung unsur spiritual yang
dapat membangkitkan harapan (hope) dan rasa percaya diri (self
confidence) pada diri seseorang yang sedang sakit sehingga kekebalan
tubuh serta proses penyembuhan dapat meningkat. Penelitian Young
(1993) dalam (Setyoadi & Kushariyadi, 2011) menunjukkan bahwa
praktik spiritual klien lansia dapat meningkatkan perasaan produktivitas
dan kemampuan beradaptasi yang membantu dalam menghadapi
individu yang sakit kronis.
Hasil penelitian mengenai terapi psikoreligius menurut Larson
(1992) dalam (Setyoadi & Kushariyadi, 2011) yang melakukan studi
banding pada klien lansia dengan klien usia muda yang akan menjalani
operasi. Hasil dari studi tersebut menunjukkan bahwa klien lansia
dengan tingkat religius tinggi serta banyak berdoa atau berzikir kurang
mengalami ketakutan, kecemasan, tidak takut mati, dan tidak menundanunda jadwal operasi, dibandingkan dengan klien usia muda yang
tingkat religiusnya rendah. Terapi spiritual ini juga bertujuan untuk
mereduksi lamanya waktu perawatan individu gangguan psikis,
memperkuat mentalitas dan konsep diri individu. Individu dengan
gangguan psikis berasal dari persepsi yang salah terkait dengan dirinya,
orang lain dan lingkungan, dengan terapi spiritual maka individu akan
dikembalikan persepsinya terkait dengan dirinya, orang lain dan
lingkungan. Terapi spiritual juga mempunyai efek positif dalam
menurunkan stres yang dialami oleh individu.
Berdasarkan uraian di atas, maka dapat disimpulkan bahwa bentukbentuk terapi aktivitas kelompok berupa terapi okupasi, life review
therapy, psikodrama, terapi tertawa, terapi rekreasi, terapi hewan, dan
terapi spiritual. Bentuk terapi aktivitas kelompok yang akan dipakai untuk
penelitian ini adalah terapi aktivitas kelompok yang diambil menurut
Setyoadi & Kushariyadi yaitu terapi okupasi, life review therapy, dan
psikodrama untuk menurunkan kesepian pada lansia. Alasan peneliti
menggunakan terapi okupasi, psikodrama dan life review karena terapi
yang lain seperti terapi spiritual, terapi rekreasi, terapi hewan sudah pernah
dilakukan seperti lansia mengikuti pengajian, pergi piknik bersama dan
mereka sudah memiliki hewan peliharaan di rumah. Sehingga ketiga
bentuk terapi yaitu terapi okupasi yaitu terapi ini diberikan kepada lansia
guna para lansia dapat mengisi waktu luang dengan berkumpul dan
bersosialisasi dengan lansia dan melatih motorik kasarnya dengan
membuat suatu karya seperti membuat bunga dari sedotan , life review
therapy yaitu suatu terapi yang diberikan kepada lansia guna para lansia
tersebut berbagi pengalaman hidupnya kepada para lansia yang lain, dan
psikodrama yaitu suatu terapi yang diberikan kepada para lansia guna para
lansia dapat mengekspresikan perasaan-perasaan yang ada didalam
dirinya, sehingga ketiga bentuk terapi tersebut yang efektif untuk
dilakukan berdasarkan kondisi lansia yang akan menjadi subjek penelitian
yaitu lansia yang memiliki aspek kesepian seperti terisolasi, merasa disalah
mengerti, merasa tidak dicintai, tidak memiliki sahabat, malas membuka
diri, bosan, dan gelisah.