Model Indikator Formatif (skripsi dan tesis)

Konstruk dengan indikator formatif mempunyai karakteristik berupa komposit, seperti
yang digunakan dalam literatur ekonomi yaitu index of sustainable economics welfare,
the human development index, dan the quality of life index. Asal usul model formatif
dapat ditelusuri kembali pada “operational definition”, dan berdasarkan definisi
operasional, maka dapat dinyatakan tepat menggunakan model formatif atau reflesif.
Jika η menggambarkan suatu variabel laten dan x adalah indikator, maka: η= x
Oleh karena itu, pada model formatif variabel komposit seolah-olah dipengaruhi
(ditentukan) oleh indikatornya. Jadi arah hubungan kausalitas seolah-olah dari indikator
ke variabel laten.
Ciri-ciri model indikator formatif adalah:
1. Arah hubungan kausalitas seolah-olah dari indikator ke konstruk
2. Antar indikator diasumsikan tidak berkorelasi (tidak diperlukan uji konsistensi
internal atau Alpha Cronbach)
3. Menghilangkan satu indikator berakibat merubah makna dari konstruk
4. Kesalahan pengukuran diletakkan pada tingkat konstruk (zeta)

Model Indikator Refleksif (skripsi dan tesis)

Model indikator refleksif dikembangkan berdasarkan pada classical test theory yang mengasumsikan bahwa variasi skor pengukuran konstruk merupakan fungsi dari true score ditambah error. Ciri-ciri model indikator reflektif adalah: 1. Arah hubungan kausalitas seolah-olah dari konstruk ke indikator 2. Antar indikator diarapkan saling berkorelasi (memiliki internal consitency reliability) 3. Menghilangkan satu indikator dari model pengukuran tidak akan merubah makna dan arti konstruk 4. Menghitung adanya kesalahan pengukuran (error) pada tingkat indikator

SEM (Structural Equation Modeling) (skripsi dan tesis)

SEM (Structural Equation Modeling) adalah suatu teknik statistik yang
mampu menganalisis pola hubungan antara
konstruk laten dan indikatornya,
konstruk laten yang satu dengan lainny
a, serta kesalahan pengukuran secara
langsung. SEM memungkinkan dilakukannya anal
isis di antara be berapa variabel
dependen dan independen secara langsung (Hair et al, 2006).
Teknik analisis data menggunakan
Structural Equation Modeling
(SEM),dilakukan untuk menjelaskan secara menyeluruh hubungan antar variabel yang
ada dalam penelitian
SEM adalah merupakan sekumpulan teknik-teknik statistik yang
memungkinkan pengujian sebuah rangkaian hubungan secara simultan. Hubungan
itu dibangun antara satu atau beberapa variabel independen (Santoso, 2011).
Yamin (2009) mengemukakan bahwa di dalam SEM peneliti dapat
melakukan tiga kegiatan sekaligus, yaitu pe
meriksaan validitas dan reliabilitas
instrumen (setara dengan analisis fakt
or konfirmatori), pengujian model hubungan
antar variabel laten (setara dengan analisis
path
), dan mendapatkan model yang
bermanfaat untuk prediksi (setara dengan mo
del struktural atau analisis regresi).
Alasan yang mendasari digunakannya SEM adalah (1) SEM mempunyai
kemampuan untuk mengestimasi hubungan antar variabel yang bersifat
multiple
relationship.
Hubungan ini dibentuk dalam model struktural (hubungan antara
konstruk dependen dan independen). (2) SEM mempunyai kemampuan untuk
menggambarkan pola hubungan antara konstr
uk laten dan variabel manifes atau
variabel indikator.
Berikut istilah – istilah dalam SEM
1. Model jalur ialah suatu diagram yang menghubungkan antara variabel bebas,
perantara dan tergantung. Pola hubungan ditunjukkan dengan menggunakan
anak panah. Anak panah tunggal menunjukkan hubungan sebab-akibat antara
variabel-variabel eksogen atau perantara dengan satu variabel tergantung atau
lebih. Anak panah juga menghubungkan kesalahan-kesalahan (variabel error)
dengan semua variabel endogen masing-masing. Anak panah ganda
menunjukkan korelasi antara pasangan variabel-variabel eksogen.
2. Model sebab akibat (causal modeling,) atau disebut juga analisis jalur (
pathanalysis) , yang menyusun hipotesis hubungan sebab akibat (causal
relationships ) diantara variabel- variabel dan menguji model-model sebab
akibat (causal models) dengan menggunakan sistem persamaan linier. Model-model sebab akibat dapat mencakup variabel-variabel manifes (indikator),
variabel-variabel laten atau keduanya.
3. Variabel eksogen dalam suatu model jalur ialah semua variabel yang tidak
ada penyebab – penyebab eksplisitnya atau dalam diagram tidak ada anak-anak panah yang menuju ke arahnya, selain pada bagian kesalahan pengukuran. Jika antara variabel eksogen dikorelasikan maka korelasi tersebut ditunjukkan dengan anak panah berkepala dua yang menghubungkan variabel-variabel tersebut.
4. Variabel endogen ialah variabel yang mempunyai anak panah-anak panah
menuju ke arah variabel tersebut. Variabel yang termasuk didalamnya
mencakup semua variabel perantara dan tergantung.
5. Variabel laten adalah variabel yang tidak dapat diukur secara langsung
kecuali diukur dengan satu atau lebih variabel manifes.
6. Variabel manifes adalah variabel yang digunakan untuk menjelaskan atau
mengukur sebuah variabel laten. Dalam satu variabel laten terdiri dari beberapa
variabel manifes.
13
7. Koefisien jalur adalah koefisien regresi standar atau disebut “beta” yang
menunjukkan pengaruh langsung dari suatu variabel bebas terhadap variabel
tergantung dalam suatu model jalur tertentu.
8. Analisis faktor penegasan (
confirmatory factor analysis)
, suatu teknik
kelanjutan dari analisis faktor dima
na dilakukan pengujian hipotesis-hipotesis
struktur
factor loadings
dan interkorelasinya.
Analisis jalur (
path analysis
) adalah suatu bentuk terapan dari analisis
multiregresi (Kerlinger, 2003). Metode
path analysis
adalah suatu metode yang
mengkaji pengaruh (efek) langsung maupun tidak langsung dari variabel-variabel
yang dihipotesiskan sebagai akibat pengaruh perlakuan terhadap variabel tersebut.
Teknik ini digunakan untuk menguji hubungan kausal yang diduga masuk akal
(
plausibility
) antara satu variabel dengan variabel lain di dalam kondisi
noneksperimental (Muhidin, 2009).
Secara teoritis variabel dapat didefinisikan sebagai atribut seseorang atau
objek, yang mempunyai variasi antara satu orang dengan yang lain atau satu objek
dengan objek yang lain (Sugiyono, 2006). Variabel juga dapat merupakan atribut
dari bidang keilmuan atau kegiatan
tertentu. Dalam model kausal, harus
dibedakan antara variabel eksogen dan endogen. Variabel eksogen adalah variabel
yang variabilitasnya diasumsikan ditentukan oleh sebab-sebab yang berada di luar
model. Sedangkan variabel endogen adalah variabel yang variasinya dapat
diterangkan oleh variabel eksogen dan endogen yang berada di dalam sistem.
Variabel endogen diperlakukan sebagai variabel terikat dalam suatu himpunan
variabel tertentu mungkin juga dikonsepsikan sebagai variabel bebas dalam
hubungannya dengan variabel yang lain.
14
Validitas berasal dari kata “
validity
” yang mempunyai arti ketepatan dan
kecermatan suatu alat ukur dalam me
lakukan fungsi ukurnya (Burhan dkk, 2002:
316). Validitas alat ukur merupakan suatu mekanisme kontrol dalam metode
penelitian survei. Suatu
instrument
pengukuran dikatakan valid jika
instrument
dapat mengukur sesuatu dengan tepat apa yang hendak diukur. Jadi validitas dapat
menentukan apakah
instrument
yang digunakan dalam penelitian mencapai taraf
kesahihan atau tidak.
Uji reliabilitas untuk mengetahui apakah instrumen memiliki indeks
kepercayaan yang baik jika diujikan berulang. Suatu instrument pengukuran
dikatakan reliable jika pengukurannya konsiste
n dan akurat. Jadi uji reliabilitas
dilakukan dengan tujuan mengetahui konsistensi dari instrument sebagai alat ukur,
sehingga hasil pengukuran dapat dipercaya.
Metode
Partial Least Square
(PLS) merupakan metode analisis yang
powerful
karena dapat diterapkan pada semua skala data, tidak membutuhkan
banyak asumsi dan ukuran sampel tidak harus besar (Imam Ghozali,2008).
Partial
least square
juga dikembangkan untuk perancangan model statistik yang
mempunyai model lemah atau indikator yang tersedia memenuhi model
pengukuran refleksif, formatif dan rekursif (gabungan). Di dalam PLS variabel
laten bisa berupa hasil pencerminan indikatornya, diistilahkan dengan indikator
refleksif
(reflesive indicator)
. Di samping itu, variabel yang dipengaruhi oleh
indikatornya, diistilahkan dengan indikator formatif
(formative indicator)
.
Model refleksif dipandang secara mate
matis indikator seolah-olah sebagai
variabel yang dipengaruhi oleh variabel la
ten. Hal ini mengakibatkan bila terjadi
15
perubahan dari satu indikator akan be
rakibat pada perubahan pada indikator
lainnya dengan arah yang sama.

Structural Equation Modelling (SEM) dan Partial Least Squares (PLS) (skripsi dan tesis)

 

SEM merupakan suatu teknik pemodelan statistika yang mampu menganalisi hubungan antar peubah laten, peubah indikator dan kesalahan pengukuran secara langsung. Di samping hubungan kausal searah, metode SEM

juga memungkinkan untuk melakukan analisis hubungan dua arah (Ghozali, dkk. 2005). Peubah laten adalah peubah yang tidak dapat diobservasi, sehingga tidak dapat diukur secara langsung. Pengamatan pada peubah laten melalui efek pada peubah-peubah terobservasi. Peubah terobservasi adalah indikator-indikator yang dapat diukur (Ghozali, et al. 2005). Ghozali (2008) memaparkan bahwa SEM dikembangkan berdasarkan 2 (dua) kelompok yaitu SEM berbasis covariance (CBSEM) dan SEM berbasis varian/Partial Least Squares (PLS). Perbedaan utama CBSEM dan PLS adalah pada CBSEM model yang dianalisis harus dikembangkan berdasarkan pada teori yang kuat dan bertujuan untuk mengkonfirmasi model dengan data empirisnya. Sedangkan PLS lebih menitikberatkan pada model prediksi sehingga dukungan teori yang kuat tidak begitu menjadi hal terpenting (Ghozali, 2008). CBSEM bertujuan memberikan pernyataan tentang hubungan kausalitas atau memberikan deskripsi mekanisme hubungan kausalitas (sebab-akibat). Sedangkan PLS memiliki tujuan untuk mencari hubungan linear prediktif antar peubah (Ghozali, 2008). Wold (1985) dalam Ghozali (2008) menyatakan bahwa PLS merupakan metode analisis yang powerfull, data tidak harus berdistribusi normal multivariate (indikator dengan skala kategori ordinal, interval sampai ratio dapat digunakan pada model yang sama), dan sampel tidak harus besar. PLS dapat digunakan untuk mengkonfirmasi teori dan juga untuk menjelaskan ada atau tidak adanya hubungan antar peubah laten. PLS dapat menganalisis sekaligus konstruk yang dibentuk dengan indikator refleksif dan indikator formatif. Menurut Chin (1998) dalam Ghozali (2008) menyatakan bahwa karena PLS tidak mengasumsikan adanya distribusi tertentu untuk estimasi parameter, maka teknik parametrik untuk menguji signifikansi parameter tidak diperlukan. Model evaluasi PLS berdasarkan pada pengukutan prediksi yang mempunyai sifat non parametrik. PLS tidak hanya dapat digunakan untuk mengkonfirmasi teori, namun dapat juga digunakan untuk menjelaskan ada atau tidaknya hubungan antara peubah laten. PLS dapat menganalisis sekaligus konstruk yang dibentuk dengan indikator refleksif dan indikator formatif dan hal ini tidak mungkin dijalankan dalam SEM karena akan terjadi unidentified model.

Metode Bootstrapping (skripsi dan tesis)

Metode bootstrap telah dikembangkan oleh Efron (1979)
sebagai alat untuk membantu mengurangi ketidak andalan
yang berhubungan dengan kesalahan penggunaan distribusi
normal dan penggunaannya. Pada bootstrap dibuat pseudo
data (data bayangan) menggunakan informasi dan sifat-sifat
dari data asli, sehingga data bayangan memiliki karakteristik
yang mirip dengan data asli [9].
Pada metode bootstrap dilakukan pengambilan sampel
dengan pengembalian dari sampel data (resampling with
replacement) [10]

Structural Equation Modeling (SEM) (skripsi dan tesis)

Structural Equation Modeling (SEM) merupakan metode analisis multivariat yang dapat digunakan untuk menggambarkan keterkaitan hubungan linier secara simultan antara variabel pengamatan (indikator) dan variabel yang tidak dapat diukur secara langsung (variabel laten). Variabel laten merupakan variabel tak teramati (unobserved) atau tak dapat diukur (unmeasured) secara langsung, melainkan harus diukur melalui beberapa indikator. Terdapat dua tipe variabel laten dalam SEM yaitu endogen () dan eksogen (ξ)

Profesionalisme (skripsi dan tesis)

Profesionalisme dapat dijadikan sebuah elemen motivasi yang
memberikan sumbangan terhadap prestasi kerja atau kinerja dengan
ketrampilan yang tinggi.Sikap profesionalisme dibutuhkan dalam
menghasilkan kualitas pekerjaan yang sebaik-baiknya. Hal ini dikarenakan
semakin berkualitas pekerjaan seorang pegawai, kinerjanya semakin
cemerlang. Semakin baik kinerjanya, masyarakat dan pihakpihak terkait
akan semakin percaya.
Profesional adalah tingkat penguasaan dan pelaksanaan terhadap
knowledge, skill, dan character. Seorang yang profesional akan
mempunyai tingkat tertentu pada ketiga bidang tersebut menurut Bernardi
(dalam prasetyoningrum : 2010). Perilaku profesional diperlukan bagi
semua profesi, agar profesi yang telah menjadi pilihannya mendapat
kepercayaan dari masyarakat menurut Bonner and Lewis (dalam
prasetyoningrum : 2010).
Profesionalisme sebagai sikap dan perilaku seseorang dalam
melakukan profesi tertentu. Seorang yang profesional, di samping
mempunyai keahlian dan kecakapan teknis, harus mempunyai kesungguhan
dan ketelitian bekerja, mengejar kepuasan orang lain, keberanian
menanggung risiko, ketekunan dan ketabahan hati, integritas tinggi,
konsistensi dan kesatuan pikiran, kata dan perbuatan menurut Christian
(dalam prasetyoningrum : 2010).
Hall (dalam prasetyoningrum : 2010). Menyatakan bahwa ada lima
dimensi profesionalisme seseoang, yaitu :
1. Afiliasi komunitas (Community affiliation)
2. Kebutuhan untuk mandiri (Autonomy demand)
3. Keyakinan terhadap peraturan sendiri / profesi (Belief selfregulation)
4. Dedikasi pada profesi (Dedication)
5. Dan kewajiban sosial (Social obligation)
Karyawan yang memiliki profesionalisme tinggi diharapkan dapat
memberikan kontribusi yang signifikan dalam pencapaian tujuan
organisasi. Secara khusus, peningkatan profesionalisme diharapkan dapat
memberikan dampak bagi peningkatan kinerja dan kepuasan bagi
karyawan, ini merupakan salah satu tujuan yang ingin dicapai oleh setiap
karyawan yang bekerja dalam suatu organisasi. Dengan demikian
peningkatan profesionalisme akan dapat membantu menyelaraskan
pencapaian tujuan organisasi dan tujuan personal. Menurut Sagie, Krausz.
dkk (dalam Prasetyoningrum : 2010). Yang menyatakan bahwa
Profesionalisme berhubungan positif terhadap kinerja karyawan.
Menurut Lui et al (dalam Prasetyoningrum : 2010). Merumuskan
definisi – definisi yang masih ada tentang profesionalisme dalam literatur
manajemen adalah ambisius. Mengadopsi sebuah perspektif sosialisasi,
melihat profesionalisme sebagai nilai – nilai, tujuan dan norma – norma
yang dipelajari dalam sosialisasi profesionalisme.

Lingkungan Kerja (skripsi dan tesis)

Lingkungan kerja dalam suatu perusahaan atau instansi perlu
diperhatikan, hal ini disebabkan karena lingkungan kerja mempunyai
pengaruh langsung terhadap para pegawai. Lingkungan keja daripada para
pegawai akan mempunyai pengaruh yang tidak kecil terhadap jalannya
operasi suatu pekerjaan di perusahaan atau instansi, Lingkungan kerja ini
yang akan mempengaruhi para pegawai, sehingga dengan demikian baik
langsung maupun tidak langsung akan mempengaruhi produktivitas
perusahaan atau instansi. Kondisi lingkungan kerja dikatakan baik apabila
manusia dapat melaksanakan kegiatan secara optimal, sehat, aman dan
nyaman. Kesesuaian lingkungan kerja dapat dilihat akibatnya dalam jangka
waktu yang lama. Lingkungan kerja yang kurang baik dapat menuntut
tenaga kerja dan waktu yang lebih banyak dan tidak mendukung
diperolehnya rancangan sistem kerja yang efisien. Lingkungan kerja yang
baik dan memuaskan para pegawai tentu akan meningkatkan produktivitas
kerja daripada pegawai. Sebaliknya lingkungan kerja yang tidak baik akan
menurunkan produktivitas kerja daripada pegawai.
Menurut Alex S. Nitisemito (dalam mandasari : 2015) Lingkungan
kerja adalah segala sesuatu yang ada di sekitar para pekerja yang dapat
mempengaruhi dirinya dalam menjalankan tugas-tugas yang diembankan
Secara garis besar, jenis lingkungan kerja terbagi menjadi dua, yaitu
Lingkungan Kerja Fisik (temparatur, kelembaban, sirkulasi udara,
pencahayaan, kebisingan, getaran mekanik, bau tidak sedap, warna) dan
Lingkungan Kerja Non Fisik (keadaan yang terjadi yang berkaitan dengan
hubungan kerja)
Menurut Darvis (dalam Permansari : 2013). Lingkungan kerja
dalam suatu organisasi mempunyai arti penting bagi individu yang bekerja
di dalamnya, karena lingkungan ini akan mempengaruhi secara langsung
maupun tidak langsung manusia yang ada di dalamnya. Dengan demikian
dapat disimpulkan bahwa lingkungan kerja adalah segala sesuatu yang ada
disekitar para pekerjaan dan yang dapat mempengaruhi dirinya dalam
menjalankan tugas tugas yang dibebankan Menurut Alex S. Niti Semito
(dalam Hidayat dan Taufiq : 2012).
Menurut Darvis (dalam Permansari : 2013). Tiga faktor utama yang
menentukan lingkungan akan mempengaruhi secara langsung maupun
tidak langsung manusia yang ada di dalamnya adalah :
1. Ada bukti yang menunjukan bahwa tugas dapat diselesaikan dengan
lebih baik pada lingkungan kerja organisasi yang baik.
2. Ada bukti bahwa manager dapat mempengaruhi lingkungan kerja
dalam organisasi atau unit kerja yang dipimpin.
3. Kecocokan antara individu dengan organisasi mempunyai peranan
yang sangat penting dalam mencapai prestasi dan kepuasan individu
itu sendiri dalam organisasi.
Indikator – indikator lingkungan kerja oleh Arikunto (dalam
Hidayat dan Taufiq : 2012) yaitu sebagai berikut:
1. Penerangan
2. Warna ruangan
3. Suasana
4. Udara
5. Tata ruang kantor

Kinerja Pegawai (skripsi dan tesis)

Menurut Ruky (dalam Mandasari : 2015). Kinerja merupakan suatu
bentuk usaha kegiatan atau program yang diprakarsai dan dilaksanakan
oleh pimpinan organisasi atau perusahaan untuk mengarahkan dan
mengendalikan prestasi karyawan. Sedangkan menurut Mangkunegara
(dalam Mandasari : 2015). Kinerja merupakan hasil kerja secara kualitas
dan kuantitas yang dicapai oleh seseorang pegawai dalam melaksanakan
tugasnya sesuai dengan tanggung jawan yang diberikan kepadanya.
Kinerja karyawan sering diartikan sebagai pencapaian tugas,
dimana karyawan dalam bekerja harus sesuai dengan program kerja
organisasi untuk menunjukkan tingkat kinerja organisasi dalam mencapai
visi, misi, dan tujuan organisasi. Kinerja seseorang merupakan ukuran
sejauh mana keberhasilan seseorang dalam melakukan tugas pekerjaannya.
Kinerja karyawan merupakan suatu tindakan yang dilakukan karyawan
dalam melaksanakan pekerjaan yang diberikan perusahaan menurut ,
Handoko (dalam Wirawan, Bagia. dkk : 2016).
Mathis dan Jackson (dalam Mandasari 2015) menjelaskan ada tiga
faktor utama yang mempengaruhi kinerja karyawan adalah :
1. Kemampuan individu untuk melakukan pekerjaan tersebut.
2. Tingkat usaha yang dicurahkan.
3. Dan dukungan organisasi yang diterimanya.
Menurut Hasibuan (dalam Hidayat dan Taufiq : 2012) menyatakan
bahwa prestasi kerja atau kinerja adalah suatu hasil kerja yang dicapai
seseorang dalam melaksanakan tugas-tugas yang dibebankan kepadanya
yang didasarkan kecakapan, pengalaman dan kesungguhan. Lebih lanjut
dikemukakan bahwa prestasi kerja atau kinerja ini merupakan gabungan
dari tiga faktor penting yaitu:
1. Kemampuan dan minat seorang karyawan.
2. Kemampuan dan penerimaan atas penjelasan delegasi tugas.
3. Peran serta tingkat motivasi seorang karyawan.
Menurut Malthis dan Jackson (dalam Mandasari : 2015) Kinerja
Karyawan dapat diukur melalui beberapa indicator yaitu :
1. Kualitas kerja.
2. Kuantitas kerja.
3. Ketepatan waktu.
Suyadi Prawirosentono (dalam Wirawan, Bagia. Dkk : 2016),
kinerja adalah hasil kerja yang dapat dicapai oleh seseorang atau
sekelompok orang dalam satu organisasi, sesuai dengan wewenang dan
tanggung jawab masing-masing, dalam rangka mencapai tujuan organisasi
yang bersangkutan secara legal, tidak melanggar hokum dan sesuai dengan
moral dan etika. Menurut Rivai (dalam Wirawan, Bagia. dkk : 2016)
Kinerja merupakan suatu fungsi dari motivasi dan kemampuan untuk
menyelesaikan tugas atau pekerjaan seseorang sepatutnya memiliki derajat
kesediaan dan tingkat kemampuan tertentu.

Hubungan antara pelatihan, kemampuan, dan kinerja (skripsi dan tesis)

Mangkunegara (2005:52) mengemukakan mengenai hubungan
pelatihan, kemampuan, dan kinerja; “Pelatihan merupakan penciptaan
suatu lingkungan dimana para pekerja dapat memperoleh atau
mengubah sikap, kemampuan, keahlian, dan pengetahuan yang
berkaitan dengan pekerjaan tertentu yang bertujuan untuk
meningkatkan kinerja karyawan”.
Pada hubungan antara variabel-variabel di atas dapat diartikan
bahwa pelatihan ini banyak memiliki pengaruh dalam peningkatan
kinerja, dan bagaimana kemampuan sebagai pendukung dalam
pengadaan pelatihan yang bertujuan untuk memaksimalkan potensi
yang dimiliki guna tercapainya target produksi yang dibebankan
kepada karyawan.

Hubungan Kemampuan dengan Kinerja (skripsi dan tesis)

Masalah kinerja tidak dapat dipisahkan dari kemampuan kerja
karyawan. Mangkunegara (2007:67) mengatakan bahwa faktor yang
mempengaruhi pencapaian kerja adalah faktor kemampuan (ability)
dan motivasi (motivation). Perusahaan memerlukan karyawan yang
memiliki kemampuan kerja yang sesuai dengan kebutuhan perusahaan
agar mampu meningkatkan kinerja. Melalui peningkatan kemampuan
kerja, maka kinerja karyawan akan ikut meningkat. Hal ini didukung
dengan hasil penelitian yang dilakukan Kusuma dkk (2015) dengan
hasil kemampuan kerja berpengaruh terhadap kinerja karyawan.

Hubungan Pelatihan dengan Kemampuan (skripsi dan tesis)

Mathis dan Jackson (2006:301) mendefinisikan Pelatihan
(training) sebagai proses di mana seseorang mendapatkan kapabilitas
untuk membantu pencapaian tujuan organisasional. Menurut
Widyasari dkk (2015) menemukan bahwa pelatihan (Metode,
instruktur, dan materi pelatiha) berpengaruh signifikan terhadap
kemampuan. Artinya, pelatihan sangat penting dilakukan sehingga
karyawan dapat meningkatkan kemampuan, pengetahuan, dan
keterampilan dalam mengerjakan suatu pekerjaan tertentu sesuai
dengan standar atau kebutuhan organisasi.

Hubungan Pelatihan dengan Kinerja (skripsi dan tesis)

Menurut Rivai dan Sagala (2010:211) mendefinisikan pelatihan
sebagai suatu kegiatan dalam meningkatkan kinerja saat ini dan
kinerja di masa yang akan datang. Artinya, pelatihan (training)
merupakan salah satu peran penting dalam peningkatan kinerja
karyawan. Pelatihan dilakukan sebagai solusi dari permasalahan
kinerja karyawan. Hal ini didukung dengan hasil penelitian yang
dilakukan Widyasari dkk (2015) dengan hasil penelitian pelatihan
yang meliputi metode, instruktur, dan materi berpengaruh signifikan
terhadap kinerja karyawan

Metode Pelatihan (skripsi dan tesis)

Metode pelatihan yang digunakan harus sesuai dengan jenis
pelatihan yang akan dilaksanakan perusahaan. Rivai dan Sagala
(2010:226) membedakan metode pelatihan menjadi dua, yaitu :
1) On the job training, yaitu metode pelatihan dengan memberikan
petunjuk mengenai pekerjaan secara langsung pada saat bekerja
untuk melatih karyawan bagaimana melaksanakan pekerjaan
mereka sekarang. Contoh metode ini adalah instruksi, rotasi,
magang.
2) Off the job training, yaitu metode yang dilakukan diluar jam kerja.
Contoh metode ini adalah ceramah,video, studi kasus, simulasi,
dan studi mandiri.
d. Indikator Pelatihan
Adapun indikator pelatihan menururt Rivai (2005:240) yaitu
sebagai berikut:
1) Materi pelatihan
Dengan mengetahui kebutuhan akan pelatihan, langkah
pertama yang dapat ditentukan yaitu mengenai materi yang harus
diberikan misalnya kelengkapan materi pelatihan.
2) Metode pelatihan
Sesuai dengan materi pelatihan yang diberikan, maka dapat
ditentukan metode atau cara penyajian yang paling tepat.
Penentuan atau pemilihan metode pelatihan disesuaikan dengan
materi yang akan disajikan.
3) Instruktur
Pelatih harus mempunyai keahlian dan kemampuan untuk
mentransformasikan keahlian tersebut pada peserta pelatihan.
4) Peserta pelatihan
Agar program pelatihan dapat mencapai sasaran yang
diinginkan hendaknya para peserta yang dipilih secara mental
telah dipersiapkan untuk mengikuti program tersebut. Peserta
yang dipilih juga harus memiliki motivasi yang tinggi dalam
mengikuti pelatihan.
5) Sarana pelatihan.
Sarana pendukung evaluasi pelatihan dimaksudkan untuk
mengukur kelebihan suatu program, kelengkapan peralatan, dan
kondisi lingkungan yang merupakan umpan balik untuk menilai
atau menghasilkan output yang sesuai.

Manfaat Pelatihan (skripsi dan tesis)

Manfaat pelatihan menurut Rivai dan Sagala (2010:217) dibagi
menjadi 3, yaitu :
1) Manfaat untuk karyawan
a) Membantu karyawan dalam membuat keputusan dan
pemecahan masalah
b) Membantu mendorong dan mencapai pengembangan diri dan
rasa percaya diri
c) Meningkatkan kepuasan kerja
d) Membantu karyawan mendekati tujuan pribadi sementara
meningkatkan keterampilan interaksi
2) Manfaat untuk perusahaan
a) Membantu pengembangan perusahaan
b) Memberikan informasi tentang kebutuhan perusahaan
dimasa yang akan datang
c) Meningkatkan efisiensi, efektivitas, produktifitas, dan
kualitas kerja
d) Membantu dalam menekan biaya dalam berbagai bidang
seperti produksi, SDM, administrasi
3) Manfaat dalam hubungan SDM, intra dan antargrup dan
pelaksanaan kebijakan
a) Meningkatkan komunikasi antargrup dan individual
b) Membantu dalam orientasi karyawan baru dan karyawan
transfer atau promosi
c) Meningkatkan keterampilan interpersonal

Pengertian Pelatihan (skripsi dan tesis)

Pelatihan (training) menurut Mathis dan Jackson (2006:301)
yaitu proses di mana seseorang mendapatkan kapabilitas untuk
membantu pencapaian tujuan organisasional. Rivai dan Sagala
(2010:212) mendefinisikan pelatihan sebagai suatu kegiatan dalam
meningkatkan kinerja saat ini dan kinerja di masa yang akan datang.
Pelatihan memiliki peran dalam membantu karyawan mendapatkan
keahlian dan kemampuan tertentu sehingga berhasil dalam
melaksanakan pekerjaannya.

Faktor yang Mempengaruhi Kinerja (skripsi dan tesis)

Faktor-faktor yang mempengaruhi pencapaian kerja adalah
faktor kemampuan (ability) dan motivasi (motivation)
(Mangkunegara,2007:67). Keith Davis (1964:484) dalam
Mangkunegara (2007:67) merumuskan faktor–faktor yang
mempengaruhi pencapaian kerja sebagai berikut :
Human Performance = Ability + Motivation
Motivation = Attitude + Situation
Ability = Knowledge + Skill
1) Faktor kemampuan : secara psikologis kemampuan (ability)
karyawan terdiri dari potensi (IQ) dan kemampuan reality
(knowledge + skill). Artinya, karyawan dengan IQ di atas rata –
rata (IQ 110 – 120) dengan pendidikan memadai untuk
jabatannya dan terampil dalam mengerjakan tugas sehari–hari,
maka karyawan tersebut akan lebih mudah untuk mencapai
kinerja yang diharapkan. Para karyawan perlu ditempatkan pada
pekerjaan yang sesuai dengan keahliannya (the right man in the
right place, the right man on the right job).
2) Faktor motivasi : motivasi terbentuk dari sikap (attitude)
karyawan dalam menghadapi situasi (situation) kerja. Motivasi
merupakan kondisi yang menggerakkan karyawan yang terarah
untuk mencapai tujuan organisasi.
Menurut Simamora dalam Mangkunegara (2005:14)
mengatakan bahwa kinerja dipengaruhi oleh tiga faktor, yaitu :
1) Fakor individual yang terdiri dari :
a) Kemampuan dan keahlian
b) Latar belakang
c) Demografi
2) Faktor psikologis yang terdiri dari :
a) Persepsi
b) Attitude
c) Personality
d) Pembelajaran
e) Motivasi
3) Faktor organisasi yang terdiri dari :
a) Sumber daya
b) Kepemimpinan
c) Penghargaan
d) Struktur
e) Job design
2. Kemampuan
a. Pengertian kemampuan
Menurut Robbins dan Judge (2008:57) kemampuan (ability)
merupakan suatu kapasitas yang dimiliki setiap individu untuk
mengerjakan tugas dalam suatu pekerjaan tertentu. Kemampuan
individu pada hakekatnya dibagi menjadi dua faktor yaitu kemampuan
intelektual dan kemampuan fisik. Kemampuan intelektual, yaitu
kemampuan yang diperlukan dalam menjalankan kegiatan mental.
Kemampuan fisik, yaitu kemampuan yang diperlukan untuk
melaksanakan pekerjaan yang menuntut stamina, kecekatan, kekuatan,
dan keterampilan yang sempurna.
Kemampuan merupakan faktor penentu keberhasilan
departemen personalia dalam mempertahankan sumber daya manusia
yang efektif (Handoko, 2001:117). Berdasarkan pedapat di atas, maka
dapat disimpulkan bahwa kemampuan merupakan potensi yang
dimiliki seseorang dalam melaksanakan pekerjaan.
b. Faktor yang Mempengaruhi Kemampuan
Menurut Abdullah (2014:59) terdapat beberapa faktor yang
mempengaruhi kompetensi (kemampuan) seseorang, yaitu :
1) Keyakinan dan nilai–nilai
2) Keterampilan
3) Pengalaman
4) Karakteristik kepribadian
5) Motivasi
6) Emosional
7) Intelektual
8) Budaya organisasi
c. Klasifikasi Kemampuan Kerja
Menurut Fitz dalam Swasto (2000:80) mengemukakan bahwa
kemampuan kerja dapat diklasifikasikan sebagai berikut :
1) Kemampuan pengetahuan, yaitu suatu pemahaman secara luas
mencakup segala hal yang pernah diketahui berkaitan dengan
tugas–tugas individu dalam organisasi.
2) Kemampuan keterampilan, yaitu kemampuan terkait teknik
pelaksanaan kerja tertentu yang berkaitan dengan tugas individu
dalam organisasi.
3) Kemampuan sikap, yaitu kemampuan yang mempunyai pengaruh
tertentu terhadap tanggapan seseorang kepada orang lain, objek
dan situasi yang berhubungan dengan orang tersebut.

Indikator Kinerja (skripsi dan tesis)

Indikator – indikator kinerja menurut Mangkunegara (2007:75)
yaitu :
1) Kuantitas kerja, yaitu seberapa lama karyawan menyelesaikan
tugas dalam setiap harinya. Kuantitas kerja dapat dilihat dari
kecepatan dalam menyelesaikan kerja ekstra.
2) Kualitas kerja, yaitu seberapa baik seorang karyawan
mengerjakan apa yang harusnya dikerjakan. Dalam hal ini
menyangkut ketepatan, ketelitian, keterampilan, dan kebersihan.
3) Tanggung jawab, yaitu kesadaran karyawan dalam melaksanakan
pekerjaan seperti mengikuti instruksi, inisiatif, hati –hati, dan
kerajinan.
4) Sikap karyawan, dalam hal ini sikap terhadap perusahaan,
pekerjaan, dan kerjasama dengan karyawan lain.

Pengertian Kinerja (skripsi dan tesis)

Mangkunegara (2007:67) mendefinisikan kinerja karyawan
sebagai hasil kerja secara kualitas dan kuantitas yang dicapai oleh
seorang karyawan dalam melaksanakan tugas dan tanggung jawab
yang diberikan perusahaan kepadanya. Robbins (2008)
mendefinisikan kinerja sebagi ukuran dari hasil yang dicapai
karyawan dalam melakukan pekerjaan sesuai dengan kriteria tertentu
yang disetujui bersama.
Unjuk kerja merupakan hasil kerja yang dihasilkan oleh
karyawan atau perilaku nyata yang ditampilkan sesuai perannya di
dalam organisasi (Hariandja, 2009:195). Berdasarkan pendapat diatas
dapat disimpulkan bahwa kinerja merupakan suatu hasil yang didapat
karyawan dalam menyelesaikan pekerjaan sesuai dengan standar yang
telah ditetapkan perusahaan.

Motivasi Belajar (skripsi dan tesis)

Melakukan perbuatan mengajar secara relative tidak semudah melakukan
kebiasaan yang rutin dilakukan. Oleh karena itu diperlukan adanya sesuatu yang
mendorong kegiatan agar semua tujuan yang diinginkan dapat tercapai. Hal tersebut
adalah adanya motivasi. Menurut (Oemar Hamalik,2009 ) motivasi dipandang sebagai
suatu proses.
Menurut Mc Donald yang di kutip oleh( Oemar Hamalik,2009) “Motivation is
an energy charge within the person characterized by affective arousal and anticipatory
goal reaction”, yang dapat diartikan bahwa motivasi adalah suatu perubahan energy
dalam diri ( pribadi) seseorang yang ditandai dengan timbulnya perasaan dan reaksi
untuk mencapai tujuan.Sedangkan menurut winkel motivasi adalah motif yang sudah
menjadi aktif pada saat – saat melakukan percobaan, sedangkan motif sudah ada dalam
diri seseorang jauh sebelum orang itu melalkukan suatu perbuatan. Menurut (
Nasution,2000) motivasi adalah segala daya yang mendorong seseorang untuk
melakukan sesuatu.

Kondisi Sosial Ekonomi (skripsi dan tesis)

Keadaan sosial ekonomi setiap orang itu berbeda-beda dan bertingkat, ada yang
keadaan sosial ekonominya tinggi, sedang, dan rendah.
Sosial ekonomi menurut (Abdulsyani,1994) adalah kedudukan atau posisi
seseorang dalam kelompok manusia yang ditentukan oleh jenis aktivitas ekonomi,
pendapatan, tingkat pendidikan, jenis rumah tinggal, dan jabatan dalam organisasi,
berdasarkan beberapa pendapat diatas, dapat disimpulkan pengertian keadaan sosial
ekonomi dalam penelitian ini adalah kedudukan atau posisi seseorang dalam masyarakat
berkaitan dengan tingkat pendidikan, tingkat pendapatan pemilikan kekayaan atau
fasilitas serta jenis tempat tinggal.

Prestasi Belajar (skripsi dan tesis)

(Santrock,2004) mendefinisikan belajar sebagai “a relatively permanent
influence on behavior, knowledge, and thinking skills, which comes about through
experience.” Pendapat yang sama dikemukakan oleh Woolfolk (2007:206) yang
menyatakan bahwa “learning occurs when experience causes a relatively permanent
change in an individual’s knowledge or behavior.” Kedua pengertian tersebut samasama menyatakan bahwa seseorang dikatakan telah belajar jika terjadi perubahan yang
sifatnya relatif tetap dalam pengetahuan dan tingkah lakunya, yang diperoleh melalui
pengalaman.
Belajar pada manusia dapat dirumuskan sebagai suatu aktivitas mental/psikis,
yang berlangsung dalam interaksi aktif dengan lingkungan, yang menghasilkan
sejumlah perubahan dalam pengetahuan-pemahaman, keterampilan, dan nilai-sikap.
Perubahan itu bersifat secara relatif konstan dan berbekas. Perolehan perubahan itu
dapat berupa suatu hasil yang baru atau pula penyempurnaan terhadap hasil yang telah
diperoleh (Winkel, 2004).
Prestasi belajar pada hakekatnya merupakan hasil yang telah dicapai seseorang
setelah melakukan usaha belajar. Pada umumnya semakin baik usaha belajar, maka
akan semakin baik pula prestasi yang akan dicapai. Menurut (Sardiman, 2001) “prestasi
belajar adalah kemampuan nyata yang merupakan hasil interaksi antara berbagai faktor
yang mempengaruhi, baik dari dalam maupun dari luar individu dalam belajar”,
sedangkan menurut (Tu’u, 2004) “prestasi belajar adalah penguasaan pengetahuan atau
keterampilan yang dikembangkan oleh mata pelajaran yang lazimnya ditunjukkan
dengan nilai tes atau angka nilai yang diberikan guru”.
Keberhasilan siswa dalam mencapai prestasi belajar dipengaruhi oleh beberapa
faktor, yaitu tingkat kecerdasan yang baik, pelajaran sesuai dengan bakat yang dimiliki,
ada minat dan perhatian yang tinggi dalam pembelajaran, motivasi yang baik dalam
belajar, cara belajar yang baik dan strategi pembelajaran yang dikembangkan guru.
Suasana keluarga yang mendorong anak untuk maju, lingkungan sekolah yang tertib,
Analisis Jalur (Path Analysis) Pengaruh Kondisi Sosial Ekonomi dan Motivasi Belajar
teratur, dan disiplin merupakan pendorong dalam proses pencapaian prestasi belajar
(Tulus Tu`u, 2004).
Slameto (2010:54) mengemukakan bahwa faktor-faktor tersebut dapat
dikelompokkan ke dalam dua jenis, yaitu:
1. Faktor-faktor intern
a. Faktor jasmaniah, meliputi faktor kesehatan dan cacat tubuh.
b. Faktor psikologis, meliputi faktor intelegensi, perhatian, minat, bakat, motivasi,
kematangan, dan kesiapan.
c. Faktor kelelahan, meliputi kelelahan jasmanin dan kelelahan rohani.
2. Faktor-faktor ekstern
a. Faktor keluarga, meliputi cara orang tua mendidik, relasi antar anggota keluarga,
suasana rumah, keadaan ekonomi keluarga, pengertian orang tua, dan latar
belakang kebudayaan.
b. Faktor sekolah, meliputi metode mengajar, relasi guru dengan siswa, relasi siswa
dengan siswa, disiplin sekolah, alat pelajaran, waktu sekolah, keadaan gedung,
metode belajar, dan tugas rumah.
c. Faktor masyarakat, meliputi kegiatan siswa dalam masyarakat, mass media, teman
bergaul, dan bentuk kehidupan masyarakat.

Komponen Indeks Pembangunan Manusia (skripsi dan tesis)

Indeks Pembangunan Manusia (IPM) atau Human Development Indeks (HDI)
merupakan suatu indeks komposit yang mencakup tiga bidang pembangunan
manusia yang dianggap, sangat mendasar, yaitu angka harapan hidup, tingkat
pendidikan, standar hidup layak.
1. Angka Harapan Hidup
Angka Harapan Hidup (AHH) merupakan rata-rata perkiraan banyak tahun
yang dapat ditempuh oleh seseorang selama hidup. Penghitungan angka
harapan hidup melalui pendekatan tak langsung (inderect estimation). Jenis
data yang digunakan adalah Anak Lahir Hidup (ALH) dan Anak Masih
Hidup (AMH).
2. Tingkat Pendidikan
Salah satu komponen pembentuk IPM adalah dari dimensi pengetahuan yang
diukur melalui tingkat pendidikan. Dalam hal ini, indikator yang digunakan
adalah rata-rata lama sekolah (means years of schooling) dan angka melek
huruf.
3. Standar Hidup Layak
Dimensi lain dari ukuran kualitas hidup manusia adalah standar hidup layak.
Dalam cakupan lebih luas, standar hidup layak menggambarkan tingkat
kesejahteraan yang dinikmati oleh penduduk sebagai dampak semakin
membaiknya ekonomi. .

Konsep Pembangunan Manusia (skripsi dan tesis)

Mengutip isi Human Development Report (HDR) pertama tahun 1990, pembangunan manusia
adalah suatu proses untuk memperbanyak pilihan-pilihan yang dimiliki oleh manusia. Diantara
banyak pilihan tersebut, pilihan yang terpenting adalah untuk berumur panjang dan sehat, untuk
berilmu pengetahuan, dan untuk mempunyai akses terhadap sumber daya yang dibutuhkan agar
dapat hidup secara layak.
Indeks Pembangunan Manusia (IPM) mengukur capaian pembangunan manusia berbasis
sejumlah komponen dasar kualitas hidup. Sebagai ukuran kualitas hidup, IPM dibangun melalui
pendekatan empat dimensi dasar. Dimensi tersebut mencakup umur panjang dan sehat;
pengetahuan, ketenagakerjaan dan kehidupan yang layak. Keempat dimensi tersebut memiliki
pengertian sangat luas karena terkait banyak faktor. Untuk mengukur dimensi kesehatan,
digunakan angka harapan hidup waktu lahir. Selanjutnya untuk mengukur dimensi pengetahuan
digunakan gabungan indikator angka melek huruf. Lalu untuk mengukur ketenagakerjaan
digunakan jumlah tenaga kerja. Adapun untuk mengukur dimensi hidup layak digunakan
indikator kemampuan daya beli masyarakat terhadap sejumlah kebutuhan pokok yang dilihat dari
rata-rata besarnya pengeluaran per kapita sebagai pendekatan pendapatan yang mewakili capaian
pembangunan untuk hidup layak.
Untuk menjamin tercapainya tujuan pembangunan manusia, empat hal pokok
yang perlu diperhatikan adalah produktivitas, pemerataan, kesinambungan,
pemberdayaan (UNDP, 1995: 12). Secara ringkas empat hal pokok tersebut
mengandung prinsip-prinsip sebagai berikut:
1. Produktivitas
Penduduk harus dimampukan untuk menigkatkan produktivitas dan untuk
berpatisipasi penuh dalam proses penciptaan pendapatan dan pekerjaan
nafkah. Pembangunan ekonomi, yang dengan demikian merupakan himpunan
bagian dari model pembangunan manusia.
2. Pemerataan
Penduduk harus memiliki kesempatan atau peluang yang sama untuk
mendapatkan akses terhadap semua sumber daya ekonomi dan sosial.
3. Kesinambungan
Akses terhadap sumber daya ekonomi dan sosial harus dipastikan tidak hanya
untuk generasi-generasi yang akan datang. Semua sumber daya fisik,
manusia, dan lingkungan harus selalu diperharui (replenished).
4. Pemberdayaan
Peduduk harus berpartisipasi penuh dalam keputusan dan proses yang akan
menentukan bentuk atau arah kehidupan mereka, serta untuk berpatisipasi dan
mengambil manfaat dari proses pembangunan, karenanya pembangunan
harus penduduk, bukan hanya untuk mereka.

Konsep dan Istilah Dalam Analisis Jalur (skripsi dan tesis)

Dalam analisis jalur dikenal beberapa konsep dan istilah dasar, yaitu:
a. Model jalur adalah suatu diagram yang menghubungkan antara variabel bebas; perantara
dan tergantung.
b. Jalur penyebab untuk suatu variabel yang diberikan.
c. Variabel exogenous adalah semua variabel yang tidak ada penyebab eksplisitnya atau
dalam diagram tidak ada anak panah yang menuju kearahnya, selain pada bagian
kesalahan pengukuran.
d. Variabel endogenous adalah variabel yang mempunyai anak panah menuju kearah
variabael tersebut.
e. Koefisien jalur adalah koefisien regresi standar atau disebut ‘beta’ yang menunjukkan
pengaruh dari suatu variabel bebas terhadap variabel tergantung dalam suatu model jalur
tertentu.
f. Variabel-variabel exogenous yang dikorelasikan.
g. Koefisien-koefisien jalur dapat digunakan untuk mengurai korelasi-korelasi dalam suatu
model kedalam pengaruh langsung dan tidak langsungyang berhubungan dengan jalur
langsung dan tidak langsung yang direfleksikan dengan anak panah dalamsuatu model
tertentu.
h. Model recursive. Model penyebab yang mempunyai satu arah.
i. Model non-recursive. Model penyebab dengan disertai arah yang memblik (feed back
loop) atau adanya pengaruh sebab-akibat (reciprocal)
j. Direct effect. Pengaruh langsung yang dapat dilihat dari koefisien jalur dari suatu variabel
ke variabel lainnya.
k. Indirect effect. Urutan jalur melalui satu lebih variabel perantara.

Manfaat Analisis Jalur (skripsi dan tesis)

Manfaat model analisis jalur adalah untuk:
a. Penjelasan atau explanation terhadap fenomena yang dipelajari atau permasalahan yang
diteliti.
b. Prediksi nilai variabel endogen berdasarkan nilai variabel eksogen.
c. Faktor dominan yaitu penentu variabel eksogen mana yang berpengaruh dominan
terhadap variabel endogen, juga untuk mekanisme pengaruh jalur-jalur variabel eksogen
terhadap variabel endogen.
d. Pengujian teori menggunakan teori trimming baik untuk uji reliabilitas konsep yang
sudah ada ataupun uji pengembangan konsep baru.

Karakteristik Analisis Jalur (skripsi dan tesis)

Merujuk pendapat yang dikemukakan oleh Land, Ching, Heise, Maruyama, Schumaker, dan
Lomax, Joreskog ( dalam Kusnendi, 2008 : 147 – 148 ). Karakteristik analisis jalur adalah
metode analisis data multivariate dependesi yang digunakan untuk menguji hipotesis
hubungan asimetris yang dibangun atas dasar kajian teori tertentu, dengan tujuan untuk
mengetahui pengaruh langsung atau tuidak langsung seperangkat variabel penyebab terhadap
variabel akibat.
Menguji hipotesis hubungan asimetris yang dibangun atas kajian teori tertentu artinya
yang diuji adalah model yang menjelaskan hubungan kausual antar variabel yang dibangun
atas kajian teori-teori tertentu. Hubungan kausual tersebut secara eksplisit dirumuskan dalam
bentuk hipotesis, baik positif maupun negati

Pengertian Analisis Jalur (skripsi dan tesis)

Analisis jalur dikembangkan pada tahun 1920-an oleh seorang ahli genetika yaitu oleh
Sewall Wright (Joreskog dan Sorbom, 1996; Johnson dan Wichern, 1992). Analisis
merupakan pengembangan korelasi yang diurai menjadi beberapa interprestasi akibat yang
ditimbulkannya. Analisis jalur memiliki kedekatan dengan regresi berganda, sehingga regresi
berganda adalah bentuk khusus analisis jalur. Teknik ini dikenal sebagai model sebab-akibat.
“Analisis jalur ialah salah satu teknik untuk menganalisis hubungan sebab-akibat yang terjadi
pada regresi berganda jika variabel bebasnya mempengaruhi variabel tergantung tidak hanya
secara langsung, tetapi juga secara tidak langsung” (Robert D. Rutherford, 1993). Defenisi
lain mengatakan “Analisis jalur merupakan pengembangan langsung bentuk regresi berganda
dengan tujuan untuk memberikan estimasi tingakat kepentingan dan signifikasi hubungan
sebab-akibat hipotetikal dalam perangkat variabel” (Paul Webley, 1997). Pengertian lain
mengatakan “Analisi jalur adalah model perluasan regresi yang digunakan untuk menguji
keselaran matriks korelasi dengan dua atau lebih model hubunga sebab-akibat yang
dindingkan oleh peneliti (David Garson, 2003).
Model analisis jalur digunakan untuk menganaisis palo hubungsn antar variabel dengan
tujuan untuk mengetahui pengaruh langsung dan tidak langsung seperangkat variabel bebas
(exogen) terhadap variabel terikat ( endogen). Oleh sebab itu, rumusan masalah penelitian
dalam kerangka analisis jalur adalah:
a. Apakah variabel eksogen (X1, X2, X3,….., Xn) berpengaruh terhadap variabel
endogen.
b. Berapa besar pengaruh kausal langsung, kausal tidak langsung, kausal total
maupum stimulan seperangkat variabel eksogen (X1, X2, X3,….., Xn) terhadap
variabel endogen.

Indonesian Family Life Survey (IFLS) (skripsi dan tesis)

Indonesia Family Live Survey (IFLS) atau Survei Aspek Kehidupan Rumah
Tangga Indonesia (SAKERTI) adalah survei rumah tangga, komunitas dan fasilitas
yang dilakukan di negara berkembang oleh RAND (Research ANd Development),
bekerja sama dengan lembaga penelitian di masing–masing survei. Selain di
Indonesia survei ini juga dilakukan dibeberapa Negara berkembang lainnya seperti
Malaysia (1976-1977, 1988-1989), Guatemala (1995) dan Bangladesh (1996).
IFLS merupakan survei longitudinal rumah tangga Indonesia dan merupakan survei
paling komprehensif yang pernah dilakukan di Indonesia. Survei ini adalah studi
panel rumah tangga, individu dan fasilitas umum yang berlangsung secara
terintegrasi lima gelombang semenjak tahun 1993 di 24 provinsi di Indonesia yaitu
provinsi Sumatera Utara, Sumatera Barat, Riau, Jambi, Kepulauan Riau, Bangka
Belitung, Sumatera Selatan, Lampung, seluruh provinsi di Jawa, Bali, NTB, seluruh
provinsi di Kalimantan, Sulawesi Selatan dan Sulawesi Barat. IFLS gelombang 5
dilakukan pada akhir 2014 dengan jumlah 15.900 rumah tangga dan 709 komunitas
dengan jumlah individu dalam rumah tangga sebanyak 50.000 individu yang
merupakan kolaborasi dari RAND dan Survey METER (Strauss, Witoelar, &
Bondan, 2016: 4).
Sampel awal dari rumah tangga dan masyarakat dimulai pada tahun 1993
(IFLS-1) sebagai baseline di 13 provinsi Indonesia mencakup 321 area pencacahan
(enumeration areas) dengan 7200 rumah tangga dan 16.300 individu. Sampel IFLS
mencapai 83% dari jumlah populasi pada tahun 1993. Kemudian kembali di survei
pada akhir 1997 (IFLS-2) dengan persentase responden yang dapat dihubungi
mencapai 94,4%, sampel mencapai 7.600 rumah tangga dan 25.000 individu. Pada
tahun 1998, 25% dari sampel atau sekitar 2000 rumah tangga kembali di survei
pada akhir 1998 (IFLS2+1998). Namun data tersebut tidak di publikasikan untuk
umum. RAND melakukan survei IFLS2+1998 setahun setelah IFLS-2 bertujuan
untuk melihat dampak krisis ekonomi yang terjadi di Indonesia pada kurun waktu
1997 sampai 1998. Tahun 2000 kembali dilakukan survei (IFLS-3) dengan
persentase responden yang dapat dihubungi mencapai 95.3% dengan sampel 10.400
rumah tangga dan 31.000 individu. Persentase responden yang dapat dihubungi
kembali dengan nilai tinggi juga dapat dipertahankan pada IFLS-4 tahun 2007
dengan jumlah 13.500 rumah tangga dan 43.000 individu yang diwawancarai.
Jumlah peningkatan sampel menjadi 15.900 rumah tangga dan 50.000 individu
diwawancarai pada IFLS-5 tahun 2014. Persentase responden yang dapat dihubungi
mencapai 90,5% dari IFLS 1, 2, 3 dan 4. Serta 92% responden yang dapat dihubungi
dari rumah tangga asli pada IFLS-1 (Strauss, Witoelar, & Bondan, 2016: 50).
Pada tahun 2012, RAND bersama Survey METER meluncurkan IFLS-East
untuk melihat kondisi provinsi-provinsi Indonesia bagian timur. Survei
mengumpulkan data di tingkat individu, rumah tangga dan masyarakat dimana
mereka tinggal serta kesehatan dan fasilitas pendidikan pada komunitas tersebut.
Survei ini dilakukan pada sekitar 10.000 individu dan 2.500 rumah tangga di
komunitas (wilayah pencacahan) yang tersebar di tujuh provinsi di Indonesia
bagian timur yaitu Nusa Tenggara Timur, Kalimantan Timur, Sulawesi Tenggara,
Maluku, Maluku Utara, Papua Barat dan Papua (Sikoki et al, 2013: 1).

Dekomposisi Hubungan Antar Variabel (skripsi dan tesis)

Model dekomposisi adalah model yang menekankan pada pengaruh yang
bersifat kausalitas antar variabel, baik pengaruh langsung maupun pengaruh tidak langsung dalam kerangka analisis jalur. Model dekomposisi pengaruh kausal antar variabel dibedakan menjadi tiga sebagai berikut (Alwin & Hauser, 1975: 38-39):
a. Pengaruh Langsung (Direct Effect)
Pengaruh langsung adalah pengaruh dari variabel X ke variabel Y langsung
tanpa melalui variabel lain. Sebagai contoh pada Gambar 2.1 pengaruh
langsung dari 𝑋1 ke 𝑋3 ditunjukan oleh 𝜌31
b. Pengaruh Tidak Langsung ( Indirect Effect)
Pengaruh tak langsung terjadi jika variabel eksogen mempengaruhi variabel
endogen melalui variabel ketiga. Sebagai contoh pada Gambar 2.1 pengaruh
tak langsung dari 𝑋1 ke 𝑋5 ditunjukan oleh anak panah satu arah dari 𝑋1 ke 𝑋3
dan 𝑋3 ke 𝑋5. Pengaruh tak langsung dari 𝑋1 ke 𝑋5 dapat dituliskan 𝜌31 × 𝜌53.
c. Pengaruh Total (Total Effect)
Pengaruh total adalah jumlah dari pengaruh langsung dan pengaruh tidak
langsung. Contoh dari Gambar 2.1 di atas adalah pengaruh total dari 𝑋3 ke
𝑋5 adalah 𝜌53 sama dengan pengaruh langsung dari 𝑋3 ke 𝑋5 karena tidak
mempunyai pengaruh tidak langsung melalui variabel lain.
5. Langkah-Langkah Analisis Jalur
Menurut Hair et al. (1998: 654-655), dalam analisis jalur diperlukan langkahlangkah tertentu yang harus dilakukan. Langkah-langkah tersebut adalah
22
a. Pengembangan Model Berbasis Teori
Langkah pertama dalam pengembangan model adalah pencarian atau
pengembangan sebuah model yang mempunyai justifikasi teoritis yang kuat.
Model yang dirancang merupakan model-model yang bisa dinyatakan ke dalam
bentuk persamaan dan mengandung hubungan kausal di dalamnya. Mengingat
bahwa model tersebut dikembangkan untuk menjawab permasalahan
penelitian yang berbasis pada teori dan konsep, maka dinamakan model
hipotik.
b. Konversi Diagram Jalur Kedalam Persamaan Struktural
Setelah model teoritis dibangun maka langkah selanjutnya adalah
mengembangkan model tersebut dalam diagram jalur. Diagram jalur tersebut
dapat mempermudah melihat hubungan-hubungan kausalitas yang ingin diuji.
Setelah dituangkan dalam diagram jalur maka dikonversi ke dalam persamaan
struktural.
c. Pengujian model
Pengujian pada model dilakukan untuk melihat apakah model yang
terbentuk sudah cukup signifikan. Alat uji paling fundamental untuk mengukur
kesesuaian model adalah χ2
. Namun, uji χ2
lebih sensitif terhadap ukuran
sampel yang besar. Oleh karena itu Hu dan Bentler (1999) merekomendasikan
Comparative Fit Index (CFI) untuk mengevaluasi kecocokan model relatif
terhadap model dasar lainnya. Semakin besar nilai CFI maka model semakin
baik, dengan maksimal nilai 1.
𝐶𝐹𝐼 = 1 −
max[𝑇𝑇 − 𝑑𝑓𝑇]
max[(𝑇𝑇 − 𝑑𝑓𝑇) , (𝑇𝐵 − 𝑑𝑓𝐵),0]
23
dengan,
𝑇𝑇 : statistik 𝑇 untuk model target
𝑑𝑓𝑇 : 𝑑𝑓 untuk model target
𝑇𝐵 : statistik 𝑇 untuk model target awal
𝑑𝑓𝐵 : 𝑑𝑓 untuk model target awal
Dengan ukuran sampel ≥ 250 nilai CFI yang disarankan adalah ≥ 0.96
(Yu, 2002: 40). Pada data kategorik, Yu dan Muthén (2002)
merekomendasikan Weighted Root Mean Square (WRMR), bukan
Standardized Root Mean Square Residual (SRMR).
d. Interprestasi Hasil Komputasi
Langkah terakhir adalah menginterpretasikan model. Apabila rangkaian
dari analisis jalur telah dilakukan maka dapat dimanfaatkan sebagai
1) Prediksi nilai variabel endogen berdasarkan nilai variabel eksogen
2) Penjelasan terhadap fenomena atau permasalahan yang dipelajari atau
diteliti

Diagram Jalur (skripsi dan tesis)

Model diagram yang biasanya digunakan untuk mengetahui hubunganhubungan kausalitas antar variabel yang diteliti biasanya menggunakan diagram jalur (path diagram). Salah satu komponen yang penting dalam analisis jalur yaitu diagram jalur. Diagram jalur digunakan untuk mengetahui hubungan kausalitas antar variabel ke dalam bentuk gambar sehingga mudah untuk dibaca. Sebagai ilustrasi misal ada variabel 𝑋1, 𝑋2,𝑋3, 𝑋4 dan 𝑋5 dan digambarka  Variabel endogen adalah 𝑋3, 𝑋4 dan 𝑋5 dan variabel eksogen adalah 𝑋1 dan 𝑋2 sedangkan kurva dan anak panah yang menghubungkan variabel 𝑋1 dan 𝑋2 mengindikasikan hubungan korelasional di antara variabel tersebut. Karena variabel eksogen 𝑋1 dan 𝑋2merupakan penyebab maka variabel ini tidak memiliki error. Sebaliknya variabel endogen yang merupakan akibat memiliki error berturut-turut 𝜀1, 𝜀2, 𝜀3

Definisi Analisis Jalur (skripsi dan tesis)

Analisis jalur atau path analysis dikembangkan pertama kali oleh Sewall Wright pada tahun 1934. Bohrnstedt mengartikan analisis jalur sebagai “a technique for estimating the effect’s a set of independent variabels has on a  dependent variabel from a set of observed correlations, given a set of hypothesized causal asymetric relatin among the variabels”. Analisis jalur merupakan bagian dari model regresi yang dapat digunakan untuk menganalisis hubungan sebab-akibat antara satu variabel dengan variabel yang lainnya. Terdapat dua jenis variabel yang digunakan dalam analisis jalur ini, yaitu variabel independen atau yang dikenal dengan nama variabel eksogen yang disimbolkan dengan huruf 𝑋1,𝑋2, … , 𝑋𝑚 dan variabel dependen atau variabel endogen yang disimbolkan dengan huruf 𝑌1, 𝑌2, … , 𝑌𝑚. Sedangkan tujuan analisis jalur yaitu A method of measuring the direct effect influence along each separate path in such a system and thus of finding the degree to which variation of a given effect is determined by each particular cause. The method depend on the combination of knowledge of the degree of correlation among the variables in a system with such knowledge as many possessed of the casual relations (Maruyama, 1998: 16)

Model Regresi (skripsi dan tesis)

Model regresi menspesifikasikan hubungan antara variabel independen dengan
variabel dependen, sehingga salah satu variabel dapat diduga dengan variabel
lainnya. Model regresi merupakan suatu cara untuk melihat kecenderungan
berubahnya variabel dependen. Model regresi dasar yang melibatkan satu variabel
independen disebut dengan model regresi sederhana.. Model regresi sederhana
dapat ditulis sebagai berikut
𝑌𝑖 = 𝛽0 + 𝛽1𝑋𝑖 + 𝜀𝑖
dengan,
𝑌𝑖
: nilai variabel dependen pada observasi ke-𝑖
𝛽0, 𝛽1 : parameter koefisien regresi
𝑋𝑖
: nilai variabel independen pada observasi ke-𝑖
12
𝜀𝑖
: error pada observasi ke-𝑖 dengan E(𝜀𝑖
)=0, 𝑉𝑎𝑟(𝜀𝑖) = 𝜎
2 dan 𝜀𝑗
tidak berkorelasi sehingga 𝐶𝑜𝑣(𝜀𝑖
, 𝜀𝑗) = 0 untuk semua nilai 𝑖 dan
𝑗, 𝑖 ≠ 𝑗.
Model regresi sederhana dapat diperluas menjadi model regresi berganda.
Model regresi ganda adalah model regresi yang menggunakan lebih dari satu
variabel independen yang disusun dalam satu persamaan. Model regresi ganda
dapat ditulis
𝑌𝑖 = 𝛽0 + 𝛽1𝑋1𝑖 + ⋯ + 𝛽𝑘𝑋𝑘𝑖 + 𝜀𝑖 (2.1)
dengan,
𝑌𝑖
: nilai variabel dependen pada observasi ke-𝑖
𝛽0, 𝛽1…𝛽𝑘: parameter koefisien regresi
𝑋𝑘𝑖 : nilai variabel independen ke-𝑘 pada observasi ke-𝑖
𝜀𝑖
: error pada observasi ke-𝑖 dengan E(𝜀𝑖
)=0, 𝑉𝑎𝑟(𝜀𝑖) = 𝜎
2 dan 𝜀𝑗
tidak berkorelasi sehingga 𝐶𝑜𝑣(𝜀𝑖
, 𝜀𝑗) = 0 untuk semua nilai 𝑖 dan
𝑗, 𝑖 ≠ 𝑗.
Analisis regresi tidak hanya digunakan untuk data kuantitatif saja, tetapi juga
bisa digunakan untuk data kualitatif. Penggunaan variabel dummy dapat dilakukan
untuk analisis regresi dengan data kualitatif. Jika terdapat 𝑘 variabel maka terdapat
𝑘 − 1 variabel dummy (𝐷𝑖
, 𝑖 = 1,2, … , 𝑘) (Hayes & Preacher, 2014: 456).

Analisis Multivariat (skripsi dan tesis)

Analisis statistika multivariat merupakan analisis statistika yang digunakan untuk menguji hubungan antar variabel secara bersamaan. Apabila hasil pengamatan tersebut merupakan kumpulan beberapa variabel acak yang saling berkorelasi maka analisis semacam ini akan diperlukan untuk mengamati gejala yang mungkin terjadi dari data hasil pengukuran tersebut. Oleh karena itu, analisis tersebut dinamakan analisis multivariat (Johnson & Wichern, 2007: 1). Analisis statistika multivariat muncul sebagai jawaban atas kekurangan dari analisis statistika univariat pada pengamatan yang merupakan kumpulan dari beberapa variabel acak. Apabila dianalisis dengan univariat maka hasil yang diperoleh mungkin menyesatkan. Hal ini karena analisis univariat melakukan uji terhadap masing-masing variabel acak secara terpisah dan tidak memperhitungkan kemungkinan adanya korelasi antara beberapa variabel acak. Analisis multivariat melibatkan data hasil pengukuran secara bersamaan, sehingga sebagian besar teknik analisis multivariat ini mensyaratkan operasi matriks dalam setiap perhitungannya

Model Persamaan Struktural (skripsi dan tesis)

Persamaan struktural atau juga disebut model struktural yaitu apabila setiap variabel endogen (endogenous) secara unik keadaannya ditentukan oleh seperangkat variabel eksogen (exogenous). Selanjutnya gambar meragakan struktur hubungan kausal antar variabel disebut diagram jalur. Jadi, persamaan ini Y=F(X1; X2; X3) dan Z=F(X1; X3;Y) merupakan persamaan struktural karena setiap persamaan menjelaskan hubungan kausal yaitu variabel eksogen X1, X2, dan X3 terhadap variabel endogen Y dan Z

Persamaan model struktural untuk diagram jalur, yaitu: Jadi, secara sistematik analisis jalur mengikuti pola model struktural, sehingga langkah awal untuk mengerjakan atau penerapan model analisis jalur yaitu dengan merumuskan persamaan struktural dan diagram jalur yang berdasarkan kajian teori tertentu yang telah diuraikan.

Model Analisis Jalur (skripsi dan tesis)

Sebelum menghitung koefisien jalur yang didasarkan pada koefisien regresi, diagram jalur terlebih dahulu dibuatkan dengan lengkap. Adapun model diagram jalur dan persamaan struktural yang paling sederhana sampai dengan yang lebih rumit di antaranya:
 1. Model Regresi Berganda Model ini merupakan pengembangan regresi berganda dengan menggunakan dua variabel exogenous, yaitu X1 dan X2 dengan satu variabel endogenous Y.

2. Model Mediasi Model mediasi atau perantara di mana variabel Y memodifikasi pengaruh variabel X terhadap variabel Z
3. Model Kombinasi Model ini merupakan kombinasi model regresi berganda dan model mediasi, yaitu variabel X berpengaruh terhadap variabel Z secara langsung dan secara tidak langsung mempengaruhi variabel Z melalui variabel Y
4. Model Kompleks Model ini merupakan model yang lebih kompleks, yaitu variabel X1 secara langsung mempengaruhi variabel Y2 dan melalui variabel X2 secara tidak langsung mempengaruhi Y2, sementara variabel Y2 juga dipengaruhi oleh variabel Y
5. Model Rekursif dan Model Non RekursifDari sisi pandang arah sebab-akibat, ada dua tipe model jalur, yaitu rekursif dan non rekursif. Model tersebut dapat diterangkan sebagai berikut: – Anak panah menuju satu arah, yaitu dari 1 ke 2, 3, dan 4; dari 2 ke 3 dan dari 3 menuju ke 4. Tidak ada arah yang terbalik, misalnya dari 4 ke 1. – Hanya terdapat satu variabel exogenous, yaitu 1 dan tiga variabel endogenous, yaitu 2, 3, dan 4. Masing-masing variabel endogenous diterangkan oleh variabel 1 dan error (e1, e2, e3). – Satu variabel endogenous dapat menjadi penyebab variabel endogenous lainnya, tetapi bukan ke variabel exogenous. Model non rekursif terjadi jika anak panah tidak searah atau terjadi arah yang terbalik (looping), misalnya dari 4 ke 3 atau dari 3 ke 1 dan 2, atau bersifat sebabakibat (reciprocal cause). Ada tiga tipe model dalam model rekursif dan non rekursif, yaitu:
a). Model persamaan satu jalur
b). Model persamaan dua jalur
c). Model persamaan tiga jalur

Beberapa Istilah dalam Analisis Jalur (skripsi dan tesis)

Model jalur adalah ialah suatu diagram yang menghubungkan antara variabel bebas, perantara dan terikat. Pola hubungan ditunjukkan dengan menggunakan anak panah. Anak panah-anak panah tunggal menunjukkan hubungan sebabakibat antara variabel-variabel bebas (exogenous) atau perantara dengan satu variabel dengan variabel terikat atau lebih. Anak panah juga menghubungkan kesalahan (variable residue) dengan semua variabel terikat (endogenous) masingmasing. Anak panah ganda menunjukkan korelasi antara pasangan variabelvariabel exogeneus. Variabel exogenous dalam suatu model jalur ialah semua variabel yang tidak ada penyebab-penyebab eksplisitnya atau dalam diagram tidak ada anak-anak panah yang menuju ke arahnya, selain pada bagian kesalahan pengukuran. Jika antara variabel exogenous dikorelasikan maka korelasi tersebut ditunjukkan dengan anak panah dengan kepala dua yang menghubungkan variabel-variabel tersebut. Variabel endogenous ialah variabel yang mempunyai anak-anak panah menuju ke arah variabel tersebut. Variabel yang termasuk di dalamnya ialah mencakup semua variabel perantara dan terikat. Variabel perantara endogenous   mempunyai anak panah yang menuju ke arahnya dan dari arah variabel tersebut dalam suatu model diagram jalur. Adapun variabel tergantung hanya mempunyai anak panah yang menuju ke arahnya. Koefisien jalur adalah koefisien regresi standar atau disebut „beta‟ yang menunjukkan pengaruh langsung dari suatu variabel bebas terhadap variabel terikat dalam suatu model jalur tertentu. Oleh karena itu, jika suatu model mempunyai dua atau lebih variabel-variabel penyebab, maka koefisien-koefisien jalurnya merupakan koefisien-koefisien regresi parsial yang mengukur besarnya pengaruh satu variabel terhadap variabel lain dalam suatu model jalur tertentu yang mengontrol dua variabel lain sebelumnya dengan menggunakan data yang sudah distandarkan atau matriks korelasi sebagai masukan. Jenis pengaruh dalam analisis jalur yaitu Direct Effect (DE) dan Indirect Effect (IE). Direct Effect (DE) adalah pengaruh langsung yang dapat dilihat dari koefisien dari satu variabel ke variabel lainnya, dan Indirect Effect (IE) adalah urutan jalur melalui satu atau lebih variabel perantara

Manfaat Analisis Jalur (skripsi dan tesis)

Manfaat model analisis jalur di antaranya adalah: 1. Untuk penjelasan terhadap fenomena yang dipelajari atau permasalahan yang diteliti.   2. Prediksi nilai variabel terikat (Y) berdasarkan nilai variabel bebas (X), dan prediksi dengan analisis jalur ini bersifat kualitatif. 3. Faktor dominan terhadap variabel terikat (Y) dapat digunakan untuk menelusuri mekanisme pengaruh variabel bebas (X) terhadap variabel (Y). 4. Pengujian model mengggunakan teori trimming baik untuk uji reliabilitas konsep yang sudah ada ataupun uji pengembangan konsep baru

Asumsi-asumsi Analisis Jalur (skripsi dan tesis)

Sebelum melakukan analisis, ada beberapa prinsip dasar atau asumsi yang mendasari analisis jalur, yaitu: 1. Pada model analisis jalur, hubungan antar variabel adalah bersifat linier, adaptif, dan bersifat normal. 2. Hanya sistem aliran kausal ke satu arah artinya tidak ada arah kausalitas yang berbalik. 3. Variabel terikat (endogen) minimal dalam skala ukur interval dan ratio. 4. Menggunakan sampel probability sampling yaitu teknik pengambilan sampel untuk memberikan peluang yang sama pada setiap anggota populasi untuk dipilih menjadi anggota sampel. 5. Variabel observasi diukur tanpa kesalahan (instrumen pengukuran valid dan reliabel) artinya variabel yang diteliti dapat diobservasi secara langsung. 6. Model yang dianalisis dispesifikasikan (diidentifikasi) dengan benar berdasarkan teori-teori dan konsep-konsep yang relevan artinya model teori yang dikaji atau diuji dibangun berdasarkan kerangka teoritis tertentu yang mampu menjelaskan hubungan kausalitas antar variabel yang diteliti.

Pengertian Analisis Jalur (skripsi dan tesis)

Analisis jalur dikenal dengan path analysis dikembangkan pertama tahun 1920-an oleh seorang ahli genetika yaitu Sewall Wright. Analisis jalur sebenarnya sebuah teknik yang merupakan pengembangan korelasi yang diurai menjadi beberapa interpretasi akibat yang ditimbulkannya. Teknik ini juga dikenal sebagai model sebab-akibat (causing modeling). Definisi analisis jalur, di antaranya: “Analisis jalur ialah suatu teknik untuk menganalisis hubungan sebab akibat yang terjadi pada regresi berganda jika variabel bebasnya mempengaruhi variabel tergantungnya tidak hanya secara langsung, tetapi juga secara tidak langsung” (Robert D. Rutherford, 1993). Definisi lain mengatakan “Analisis jalur merupakan pengembangan langsung bentuk regresi berganda dengan tujuan untuk memberikan estimasi tingkat kepentingan (magnitude) dan signifikansi (significance) hubungan sebab akibat hipotetikal dalam seperangkat variabel” (Paul Webley, 1997). Model analisis jalur digunakan untuk menganalisis pola hubungan antar variabel dengan tujuan untuk mengetahui pengaruh langsung maupun tidak langsung seperangkat variabel bebas (eksogen) terhadap variabel terikat (endogen). Model analisis jalur yang dibicarakan adalah pola hubungan sebab akibat. Oleh karena itu rumusan masalah penelitian dalam kerangka analisis jalur hanya berkisar pada variabel bebas (X1, X2, …, Xk) berpengaruh terhadap variabel terikat Y, atau berapa besar pengaruh kausal langsung, kausal tidak langsung,   kausal total maupun simultan seperangkat variabel bebas (X1, X2, …, Xk) terhadap variabel terikat Y

Analisis Cluster (Hierarchical Cluster) (skripsi dan tesis)

Proses clustering dengan menggunakan prosedur hierarki didasari konsep “treelike structure“. Konsep ini dimulai dengan menggabungkan dua obyek yang paling mirip, kemudian gabungan dua obyek tersebut akan bergabung lagi dengan satu atau lebih obyek yang paling mirip lainnya. Demikian seterusnya sehingga ada semacam hierarki (urutan) dari obyek yang membentuk kelompok (cluster). Urutan–urutan tersebut dapat dianalogikan seperti pohon (treelike) yang dimulai dari akar, batang, dahan, daun, dan seterusnya, yang bercabang–cabang. Secara logika proses clustering tersebut pada akhirnya akan menggumpal menjadi satu cluster besar yang mencakup semua obyek. Metode ini disebut sebagai metode agglomerasi (agglomerative Methods), yaitu metode atau cara pembuatan cluster yang dimulai dari dua atau lebih variabel yang paling mirip membentuk satu cluster, kemudian cluster memasukan lagi satu variabel yang paling mirip. (S. Singgih, Tjiptono Affandi, 2001, Riset Pemasaranan Konsep dan Aplikasi Dengan SPSS : hal 74). Pada proses penentuan peer groups dari unit yang tidak efisien, diperlukan metode yang dapat membantu dalam pengelompokan dari unit-unit yang memiliki karakteristik yang sama. Metode yang digunakan untuk ini adalah Hierarchical Cluster Analysis (HCA). Konsep dasar dari HCA ini adalah proses clustering dengan menggunakan hierarki didasari dengan konsep “treelike structure”. Konsep ini dimulai dengan menggabungkan dua objek yang mirip kemudian gabungan dua objek tersebut akan bergabung lagi dengan objek yang satu atau lebih objek yang paling mirip lainnya dan demikian seterusnya sehingga ada semacam hierarki dan objek yang membentuk cluster, urut-urutan tersebut bisa dianalogikan sebagai pohon yang bercabang-cabang mulai dari akar, daun, dahan dan seterusnya. Secara logika proses clustering tersebut akan membentuk satu cluster besar yang mencakup keseluruhan objek. Metode ini disebut sebagai “agglomerative methods” yang akan digambarkan secara diagram yang disebut sebagai dendogram. (S. Singgih, Tjiptono Affandi, 2001, Riset Pemasaranan Konsep dan Aplikasi Dengan SPSS : hal 74). Kelebihan-kelebihan yang dimiliki HCA technique mendukung dalam perhitungan DEA , antara lain: 1. Hierarchical Cluster Analysis disesuaikan untuk menyelesaikan persamaan yang terdiri atas output jamak maupun input jamak. 2. Dapat membantu dalam pembuktian keabsahan penelitian yang memiliki sampel penelitian yang keci3. Mengelompokkan unit-unit yang berkarakteristik sama secara statistik sehingga memudahkan dalam pembentukan peer group bagi unit yang tidak efisien. 4. Memperbaiki DEA origin karena dapat menggantikan asumsi umum DEA bahwa data penelitian dianggap representatif terhadap penelitian yang akan dilakukan, sehingga memudahkan dalam penentuan unit yang efisien maupun yang tidak efisien.

Aplikasi Data Envelopment Analysis (DEA) (skripsi dan tesis)

Data Envelopment Analysis (DEA) dapat digunakan dalam berbagai cara untuk memperbaiki produktivitas suatu unit dan untuk menentukan bagaimana unit dapat menjadi lebih efisien. Beberapa pemakaian DEA tersebut antara lain adalah peer group, identifikasi operasi yang efisien, penentuan target (target setting), identifikasi strategi yang efisien dan memonitor perubahan efisien setiap waktu

Model Variabel Return to Scale ( VRS ) (skripsi dan tesis)

 Asumsi Constant Return to Scale hanya tepat ketika semua unit dioperasikan pada skala optimal. Namun, karena kompetisi yang tidak sempurna, keterbatasan dana dan lain–lain, mungkin menyebabkan unit tidak beroperasi secara optimal. Untuk mengatasi masalah ini, model DEA dengan Variable Return to Scale (VRS) telah dikembangkan dimana variabel technical efficiency yang dipengaruhi oleh scale efficiency pada model CRS akibat ada unit yang tidak beroperasi secara optimal dapat diatasi. Hal ini dilakukan dengan menambah konstrain konveksitas.
Perbedaan antara model CRS dan model VRS adalah ditunjukan pada lj saat ini yang dibatasi sama dengan 1. Pada model VRS ini ditambahkan sebuah kendala pada model VRS dual (model primal tidak dibahas lagi karena membutuhkan penyelesaian yang lebih runit, yaitu lebih banyak kendala, namun memberikan hasil yang sama dengan model dualnya). Kendala yang ditambahkan adalah å =l j j 1 yang tidak terdapat pada model CRSKendala ini mengakibatkan didapatkannya nilai efisiensi yang lebih tinggi daripada model CRS, karena pada model CRS tidak hanya dihasilkan efisiensi teknis murni tetapi juga mengikutsertakan skala ketidakefisienan (scale unefficien) sedangkan yang diukur oleh model VRS adalah efisiensi murni. Inilah efek dari menghilangkan batasan tersebut pada model CRS yang mengharuskan DMU–DMU pada scale efficient. Sehingga konsekuensinya model VRS mengijinkan variabel kembali pada bentuk skala dan hanya mengukur technical efficiency untuk tiap DMU. Jadi, untuk DMU yang dipertimbangkan menjadi efisien secara CCR, DMU tersebut harus memenuhi Scale Efficiency dan Technical Efficiency. Sedangkan untuk DMU yang dipertimbangkan menjadi efisien secara VRS, hanya membutuhkan efisien secara teknis (Technical Efficiency)

Model Constant Return to Scale (CRS) (skripsi dan tesis)

Technical Efeciency (TE) berkaitan dengan penggunaan sumber daya manusia, kapital, mesin sebagai input untuk memproduksi output relative terhadap performansi terbaik DMUs dalam suatu sample (Bhat,1997). Model prima DEA yang pertama digunakan, dikenal dengan model Constant Return to Scale (CRS) yang berasumsi bahwa setiap DMUs telah beroperasi pada skala optimal. Model awal yang digunakan dikenal dengan rasio CCR, merupakan persamaan non linier
Sasaran persamaan  adalah untuk menentukan jumlah terbesar output yang dibobotkan dari DMUk dengan menjaga jumlah dari input yang dibobotkan pada suatu DMU agar rasio antara output yang dibobotkan dengan input yang dibobotkan kurang dari atau sama dengan satu. Nilai efisiensi teknis dalam DEA tidak hanya mengidentifikasikan unit yang tidak efisien, tapi juga derajat ketidakefisiennya. Analisa ini menjelaskan bagaimana unit yang tidak efisien menjadi efisien dengan memberikan prosentase penurunan input (input-oriented DEA) untuk memproduksi output yang sama atau memberikan prosentase penambahan output (output-oriented DEA) untuk sejumlah unit yang sama

Model Matematis DEA (skripsi dan tesis)

Data Envelopment Analysis (DEA) dikembangkan sebagai perluasan dari metode rasio teknik klasik untuk efisiensi. DEA menentukan rasio maksimal untuk tiap DMU dari jumlah output yang diberi bobot terhadap jumlah input yang diberi bobot, dengan bobot ditentukan oleh model. Ada dua dasar model DEA yang dikembangkan oleh ahli antara lain ialah : a. Charnes, Cooper dan Rhodes (1978) menggunakan teknik multiple output dan multiple input Costant Return to Scale (CRS) dan pengembangan CRS Model. b. Banker, R., D Charnes, A. dan W. W. Cooper (1985 ) memperkenalkan model Variabel Return to Scale (VRS).

Kelebihan dan Kekurangan DEA (skripsi dan tesis)

Kelebihan DEA : 1. DEA dapat mengakomodasi banyak input dan output.2. DEA tidak memerlukan asumsi dari bentuk fungsional dalam hubungan input dengan output. 3. DEA mengakomodasikan input dan output dapat memiliki nilai unit yang berbeda atau dapat memiliki banyak dimensi yang berbeda. 4. DMU dapat dibandingkan secara langsung pada peer atau kombinasi peer, sedangkan metode lain memerlikan rataan statistik unit lain. 5. Mampu memberikan penilaian tunggal berupa penilaian efisiensi relatif sejumlah DMU yang memiliki banyak input dan outputnya. Kekurangan DEA : 1. Karena DEA adalah teknik nilai ekstrem, error pengukuran dapat menyebabkan masalah yang signifikan. 2. Bersifat sample specific (DEA berasumsi bahwa setiap input atau output identik dengan unit lain dalam tipe yang sama). 3. DEA bagus untuk mengestimasi relatif efisiensi DMU, tetapi tidak absolut efisiensi. 4. Karena DEA adalah non-parametik, maka tes hipotesis statistik sulit dilakukan. 5. Karena Linier Programming harus dipecahkan untuk setiap DMU, masalah ini harus dilakukan secara komputerisasi.

Penggunaan DEA (skripsi dan tesis)

DEA dapat digunakan lebih dari sekedar menentukan efisiensi relatif unit yang dievaluasi, akan tetapi juga dapat digunakan untuk menentukan antara lain : 1. Peer Group 2. DEA mengidentifikasi sekelompok unit efisien yang digunakan sebagai benchmark untuk improvement. Sebuah peer group memiliki kombinasi yang sama dengan unit yang tidak efisien, sehingga bermanfaat dalm mengidentifikasi faktor yang menyebabkan ketidakefisienan. Peer Group juga akan memberikan contoh yang baik mengenai proses operasi untuk meningkatkan performansi unit yang tidak efisien. 3. Identifikasi operasi yang efisien 4. Identifikasi operasi yang efisien akan meningkatkan efisiensi unit yang relatif tidak efisien. Unit yang efisien merupakan contoh operasi yang baik, namu diantara unit yang efisien terdapat unit yang lebih baik. Membedakan antara  unit yang relatif efisien untuk menemukan praktek operasi yang baik dapat dilakukan, antara lain dengan adanya pembatasan bobot. Hal ini untuk menjamin agar unit yang dinilai relatif efisien karena sifatnya yang relatif efisien bukan dari kombinasi bobotnya. Metode yang dapat digunakan antara unit yang relatif efisien adalah cross efficiency matrix, distrubusi input dan output virtual dan pembatasan bobot. 5. Penentuan target. 6. Sebuah unit yang relatif tidak efisien harus menentukan target tertentu untuk meningkatkan performansinya. 7. Prioritas peningkatan salah satu input atau output dengan menjaga agar input atau output lain tidak terganggu. 8. Menentukan target ideal untuk unit tertentu. 9. Penentuan slack excess input dari inefficient DMU, yaitu menentukan berapa kelebihan atau kekurangan input dari DMU yang tidak efisien, didapatkan dari selisih antara target input dengan yang dimiliki oleh DMU inefficient. 10. Penentuan deficient surplus output dari inefficient DMU, yaitu untuk menentukan berapa kelebihan atau kekurangan output dari DMU yang tidak efisien, didapatkan dari selisih antara target output dengan output saat ini yang dihasilkan oleh DMU inefficient.

Pengertian DEA (skripsi dan tesis)

Data Envelopment Analysis adalah linier programming yang berbasis pada pengukuran tingkat performansi suatu efisien dari suatu organisasi dengan menggunakan Decision-making Units (DMUs). Unit-unit yang digunakan dalam DEA disebut sebagai DMU. Teknik ini dapat digunakan untuk mengetahui seberapa efisien sebuah DMUs digunakan dengan pemanfaatan peralatan yang ada untuk dapat menghasilkan output yang maksimum (Charnes et al.1978).Beberapa kegiatan yang dapat diukur performansinya seperti : · Kegiatan dalam sebuah universitas, yaitu dengan cara membanndingkan kegiatan-kegiatan yang ada dalam tiap jurusan sehingga dapat diketahui jurusan mana yang tingkat efisiensinya paling baik. Jurusan yang nilai efisiensinya tidak sama dengan 1 dapat melakukan proses belajar dengan mengacu pada jurusan yang nilai efisiensinya
1. · Kegiatan dalam sebuah bank, yaitu dengan cara membandingkan cara kerja antar anak cabang dalam suatu bank sehingga dapat diketahui anak cabang mana yang cara kerjanya paling baik (yang efisiensinya bernilai 1). Anak cabang lain yang efisiensinya dibawah 1 dapat melakukan benchmarking ke anak cabang perusahaan yang efisiensinya bernilai 1. Kebanyakan input dari suatu organisasi berupa data yang sulit untuk diukur performansi efisiensinya, akan tetapi akan lebih muda mengukurnya dari segi profit tahunan ataupun stok barang dalam organisasi tersebut. Suatu input dan output dari suatu organisasi dapat bervariasi jumlah dan jenisnya, hal ini dapat diatasi dengan cara menentukan rasio dari perbandingan total output dengan total input. Efisiensi yang ditentukan dengan metode DEA adalah suatu nilai yang relatif dan bukan merupakan suatu nilai mutlak yang dapat dicapaioleh suatu organisasi. DMUs yang memiliki performansi paling baik dapat diberi skor 100% dan DMUs lain yang performansinya berada dibawahnya memiliki skor bervariasi yaitu antara 0%-100% sesuai perbandingannya dengan DMUs yang terbaik.Istilah-istilah yang dipakai dalam DEA yaitu : · Input Sesuatu yang dibutuhkan untuk kemudian diolah menjadi suatu produk yang bernilai. · Output Sesuatu yang dapat dihasilkan dari sejumlah input yang tersedia · Unit Sesuatu yang dinilai dan dibandingkan antar input dan output sehingga diperoleh nilai efisiensi relatifnya. · Efisiensi relatif Efisiensi suatu unit bila dibandingkan dengan unit-unit lain yang memiliki input dan output dengan jenis yang sama dalam treatment tertentu. · Bobot Pemberian nilai untuk suatu faktor yang memberikan makna bahwa faktor tersebut mempengaruhi efisiensi sebesar nilai bobotnya.

Pengukuran Efisiensi (skripsi dan tesis)

Pengukuran efesiensi dapat dilakukan melalui tiga pendekatan yaitu :
1. Pendekatan Rasio
Pendekatan rasio dalam mengukur efisiensi dilakukan dengan cara menghitung perbandingan output dan input yang digunakan. Pendekatan ini akan dapat dinilai memiliki efisiensi yang tinggi apabila dapat menghasilkan output yang semaksimal mungkin dengan input yang seminimal mungkin. Pendekatan rasio ini mempunyai kelemahan apabila terdapat banyak input dan banyak output yang dihitung, jika diperhitungkan serempak maka akan menghasilkan banyak hasil perhitungan sehingga menghasilkan asumsi yang tidak tegas.
 2. Pendekatan Regresi
 Pendekatan ini dalam mengukur efisiensi menggunakan sebuah model dari tingkat output tertentu sebagai fungsi dari berbagai tingkat input tertentu. Fungsi regresi adalah sebagai berikut : Dimana : Y = Output X = Input Pendekatan regresi akan menghasilkan estimasi hubungan yang dapat digunakan untuk memproduksi tingkat output yang dihasilkan sebuah Unit Kegiatan Ekonomi (UKE) pada tingkat input tertentu. UKE dapat dikatakan efisien apabila menghasilkan output lebih banyak dari pada output hasil estimasi. Kelemahan dalam pendekatan ini adalah ketidakmampuannya dalam menampung banyak output, karena dalam sebuah persamaan regresi hanya dapat menampung satu indicator output. Apabila dilakukan penggabungan banyak output dalam satu indikator maka informasi yang dihasilkan menjadi tidak rinci lagi.
 3. Pendekatan Frontier
Pendekatan frontier dalam mengukur efisiensi dibedakan menjadi dua jenis yaitu pendekatan frontier parametrik dan non parametrik. Tes parametrik adalah tes yang modelnya menetapkan adanya syarat-syarat tertentu tentang parameter populasi yang merupakan sumber penelitiannya, sedangkan tes statistik non parametrik adalah tes yang modelnya tidak menetapkan syaratsyarat mengenai parameter populasi yang merupakan induk sampel penelitiannya. Pendekatan frontier parametrik dapat diukur dengan tes statistik parametrik seperti menggunakan metode Stochastic Frontier Analysis (SFA) dan Distribution Free Analysis (DFA). Sedangkan pendekatan frontier non parametrik dapat diukur dengan tes statistik non parametrik dengan menggunakan metode Data Envelopment Analysis (DEA). Dalam penelitian ini pengukuran yang digunakan adalah tes statistik non parametrik dengan menggunakan metode Data Envelopment Analysis (DEA). Dibawah ini adalah beberapa istilah dalam DEA beserta ilustrasinya yang perlu diketahui terlebih dahulu sebelum melangkah ke pembahasan DEA.
1. Input oriented measure (pengukuran berorientasi input) Yaitu pengidentifikasian ketidakefisienan melalui adanya kemungkinan untuk mengurangi input tanpa merubah output.
2. Output oriented measure (pengukuran berorientasi output) Yaitu pengidentifikasian ketidakefisienan melalui adanya kemungkinan untuk menambah output tanpa merubah input.

3. Constant Return to Scale (CRS) Yaitu terdaoatnya hubungan yang linier antara input dan output, setiap pertambahan sebuah input akan menghasilkan pertambahan output yang proposional dan konstan. Ini juga berarti efisiensinya tidak akan nerubah.
4. Variable Return to Scale (VRS) Merupkan kebalikan dari CRS, yaitu tidak terdapat hubungan linier antara input dan output. Setiap pertambahan input tidak menghasilkan output yang proposional, sehingga efisiensinya bisa saja naik ataupun turun.

Produktivitas dan Efisiensi (skripsi dan tesis)

Berdasarkan Sumanth (1985), produktivitas dan profitabilitas mempunyai
pengertian yang hampir sama, yaitu besarnya nilai keluaran dibandingkan
terhadap besarnya nilai masukan. Perbedaannya adalah bahwa pada profotabilitas,
pengaruh eksternal yang berupa perubahan harga satuan dan biaya satuan masih
dimasukkan dalam perhitungan, sedangkan pada produktivitas perubahan tersebut
dikeluarkan dan tidak dimasukan dalam perhitungan Produktivitas adalah kemampuan dalam memproduksikan barang atau jasa
secara efisien dan efektif. Naiknya produksi tidaklah selalu diikuti oleh naiknya
produktivitas, karena produksi sebagai aktivitas untuk menghasilkan barang atau
jasa memerlukan masukan yang berkenaan dengan efisiensi penggunaan sumbersumber dalam menghasilkan barang atau jasa. Oleh karena itu bertambah besarnya
produksi tidaklah selalu berarti bahwa produktivitasnya naik.
Pengertian Produktivitas dapat dikelompokkan menjadi tiga kelompok yaitu :
· Rumusan tradisional bagi keseluruhan produktivitas yaitu rasio daripada apa
yang dihasilkan (output) terhadap keseluruhan peralatan produksi yang
dipergunakan.
· Produktivitas pada dasarnya adalah suatu sikap mental yang selalu mempunyai
pandangan bahwa mutu kehidupan hari ini lebih baik daripada hari kemarin
dan hari esok lebih baik dari hari ini.
· Produktivitas merupakan interaksi terpadu secara serasi dari tiga faktor esensial
yaitu investasi manajemen dan tenaga kerja. Secara umum produktivitas diartikan sebagai hubungan antara hasil nyata
maupun fisik (barang-barang ataupun jasa) dengan masukkannya yang
sebenarnya. Kenaikan produksi tidaklah selalu diikuti oleh kenaikan produktivitas
dari suatu perusahaan.
Produktivitas juga diartikan sebagai tingkatan efisiensi dalam memproduksi
barang-barang dan jasa. Produktivitas juga dapat diartikan sebagai perbandingan
antara totalitas pengeluaran pada waktu tertentu dengan totalitas masukan selama
periode tersebut.
Dalam hal ini produktivitas dapat diartikan sebagai :
· Perbandingan ukuran harga bagi masukan dan hasil.
· Perbedaan antara kumpulan jumlah pengaluaran dan masukan yang dinyatakan
dalam satuan (unit).
Menurut Sumanth produktivitas adalah rasio dari keluaran yang dihasilkan
untuk penggunaan diluar organisasi yang membolehkan berbagai macam produk
dibagi oleh sumber-sumber yang digunakan. Kemudian semuanya ini dibagi dalam rasio yang sama dari periode dasar. Oleh Ricard E. Kopelman
mendefinisikan produktivitas adalah sebagai rasio yang merefleksikan bagaimana
cara memanfaatkan sumber daya-sumber daya yang ada secara efisien untuk
menghasilkan keluaran/ output.
Jadi definisi produktivitas bukanlah hanya satu masalah teknis maupun
manajerial, akan tetapi merupakan suatu masalah yang berkenaan dengan badanbadan pemerintahan, serikat buruh dan lembaga-lembaga sosial lainnya yang
semakin berbeda pula definisi produktivitasnya.
Konferensi Oslo 1984 menyatakan bahwa produktivitas adalah suatu konsep
yang bersifat universal yang bertujuan untuk menyediakan lebih banyak barang
dan jasa untuk lebih banyak manusia dengan menggunakan sumber-sumber riil
yang semakin sedikit.  Dari definisi ini juga dapat dilihat hubungan antara produktivitas dengan
efisiensi dan efektivitas, dimana efisiensi berkaitan dengan penggunaan sumber,
sedangkan efektivitas berkaitan dengan unjuk kerja. Produktivitas dapat dicapai
dengan hasil yang sebesar mungkin dengan memakai sumber-sumber sekecil
mungkin

Konsep Efisiensi (skripsi dan tesis)

Efisiensi diartikan sebagai kemampuan untuk menyelesaikan suatu
pekerjaan dengan benar atau dalam pandangan matematika didefinisikan sebagai
perhitungan rasio output dan atau input atau jumlah keluaran yang dihasilkan dari
suatu masukan yang digunakan.
Ada 3 faktor yang menyebabkan efisiensi yaitu :
1. Apabila dengan input yang sama dapat menghasilkan output yang lebih besar.
2. Input yang lebih kecil menghasilkan output yang sama.
3. Dengan input yang lebih besar dapat menghasilkan output yang lebih besar
lagi.
Menurut Fareel efisiensi suatu perusahaan terdiri dari dua komponen yaitu
efisiensi teknik dan efisiensi alokatif. Efisiensi teknik merupakan hubungan
operasional dalam aktivitas mengonversi input menjadi output. Suatu perusahaan
dikatakan efisien secara teknik apabila mampu menghasilkan output maksimal
dengan sumber daya (input) tertentu atau menghasilkan output tertentu dengan
sumber daya (input) minimal. Sedangkan efisiensi alokatif mencerminkan
kemampuan perusahaan menggunakan input yang proporsional dengan
memperhatikan biaya atas input dimana kombinasi input dengan biaya
terendahlah yang dipilih Hampir sama dengan perusahaan, efisiensi dalam perbankan juga diartikan
sebagai suatu tolak ukur dalam mengukur kinerja bank dimana efisiensi
merupakan jawaban atas kesulitan dalam menghitung ukuran-ukuran kinerja
seperti tingkat efisiensi alokasi, teknis maupun total efisiensi.
Ada dua tipe efisiensi, yaitu efisiensi teknis dan efisiensi ekonomi. Efisiensi
ekonomi dilihat dari sudut pandang makro ekonomi, sedangkan efisiensi teknis
dilihat dari sudut pandang mikro ekonomi. Efisiensi teknis pada dasarnya
menyatakan hubungan antara input dan output dalam suatu proses produksi. Suatu
proses produksi dikatakan efisien jika pada penggunaan input sejumlah tertentu
dapat dihasilkan output maksimal, atau untuk menghasilkan sejumlah output
tertentu digunakan input yang paling dibanding dengan efisiensi teknik. Dalam
efisiensi ekonomi perusahaan harus memilih tingkatan input atau output dan
kombinasinya untuk mengoptimalkan tujuan ekonomi, biasanya dengan
meminimalisasi biaya atau memaksimalisasi keuntungan. Dalam penelitian ini
konsep efisiensi yang digunakan adalah efisiensi teknis.

Efisiensi Dan Efektivitas (skripsi dan tesis)

Efisiensi adalah perbandingan atau rasio dari keluaran (output) dengan
masukan (input). Efisiensi mengacu pada bagaimana baiknya sumber daya
digunkan untuk menghasilkan output.
Efektivitas adalah derajat pencapaian tujuan dari system yang diukur dengan
perbandingan atau rasio dari keluaran (output aktual) yang dicapai dengan
keluaran (output) standard yang diharapkan.
Efisiensi dapat dikatakan sebagai penghematan penggunaan sumber daya
dalam kegiatan organisasi, dimana efisiensi pada ‘daya guna’. Dengan efisiensi
dimaksudkan pemakaian sumber daya yang lebih sedikit untuk mencapai hasil
yang sama. Efisiensi merupakan ‘ukuran’ yang membandingkan rencana
penggunaan masukan (input) dengan realisasi penggunaannya. Efisiensi 100%
sangat sulit dicapai, tetapi efisiensi yang mendekati 100% sangat diharapkan dan
konsep ini lebih berorientasi pada input daripada output.
Pencapaian suatu kumpulan hasil yang telah direncanakan merujuk kepada
efektivitas. Jadi pemakaian sumber daya disini tidak dipersoalkan. Dengan kata
lain, efektivitas berurusan dengan seberapa baik hasilnya tercapai, dimana
efektivitas merujuk pada ‘hasil guna’. Jadi efektivitas merupakan ukuran yang
menyatakan seberapa baik atau seberapa jauh sasaran (kualitas, kwantitas dan
waktu) telah tercapai. Nilai efektivitas dicerminkan oleh perbandingan nilai output
akhir dengan output yang direncanakan. Makin besar prosentasi sasaran yangdicapai, makin tinggi efektivitasnya. Konsep efektivitas yang tinggi belum tentu
menunjukan efisiensi yang tinggi pula. Suatu proses dikatakan lebih efektif bila
dengan masukan (input) yang sama diperoleh keluaran (output) yang lebih besar,
hasil yang lebih baik atau dalam waktu lebih singkat.

Metode Data Envelopment Analisis (DEA) (skripsi dan tesis)

Metode Data Envelopment Analisis (DEA) adalah membandingkan data input dan data output dari suatu organisasi data DMU (Decision Making Units) dengan data input dan output lainnya pada DMU yang sejenis. Perbandingan ini dilakukan untuk mendapatkan suatu nilai efisiensi (Efendi, 2011).Selain menghasilkan nilai efisiensi masing-masing DMU, DEA juga menunjukkan unitunit yang menjadi referensi bagi unit-unit yang tidak efisien (Yuli, 2009). Berikut merupakan beberapa asumsi yang terdapat dalam metode DEA beserta keunggulan dan kelemahan metode DEA. Pada penerapan model DEA, terdapat asumsi-asumsi yang mendasarinya menurut Ramanathan (2003), asumsi DEA tersebut yaitu: 1. DMU (Decision Making Unit) harus merupakan unit-unit yang homogenis, yaitu memiliki fungsi dan tujuan yang sama. 2. Data bernilai positif dan bobot dibatasi pada nilai positif 3. Input dan output bersifat variable Keunggulan dan kelemahan DEA adalah : – Keunggulan DEA : 1. Dapat menangani banyak input dan output 2. Tidak butuh asumsi hubungan fungsional antara variable input dan output 8 3. DMU dibandingkan secara langsung dengan sesamanya 4. Input dan output dapat memiliki satuan pengukuran yang berbeda – Keterbatasan DEA : 1. Rumus standar DEA menciptakan program linier yang terpisah untuk setiap DMU, berdasarkan hal tersebut maka masalah komputasi kerap terjadi. 2. DEA merupakan teknik nonparametrik maka uji hipotesis statistik sulit untuk dilakukan. 3. DEA adalah sebuah teknik titik ekstrim sehingga kesalahan pengukuran dapat menyebabkan masalah yang signifikan

Konsep Efisiensi (skripsi dan tesis)

Menurut Farrel (1957), Efisiensi dikatakan sebagai kemampuan untuk menyelesaikan suatu pekerjaan dengan benar, atau dalam pandangan matematika didefinisikan sebagai perhitungan rasio output dan input atau jumlah keluaran yang dihasilkan dari suatu masukan yang digunakan. Suatu hasil dikatakan efisien apabila nilai efisiensi sama dengan satu (nilai efisiensi (t) =1). Namun, jika nilai efisiensi (t) > 1 dapat diartikan bahwa penggunaan input belum efisien sehingga untuk mencapai nilai efisiensi perlu untuk menambah input. Jika nilai efisiensi (t) < 1 dapat diartikan bahwa penggunaan input tidak efisien 7 sehingga untuk mencapai nilai efisiensi perlu untuk mengurangi input. Ada tiga faktor yang menyebabkan efisiensi tinggi yaitu: 1. Apabila dengan input yang sama dapat menghasilkan output yang lebih besar. 2. Input yang lebih kecil menghasilkan output yang sama. 3. Dengan input yang lebih besar dapat menghasilkan output yang jauh lebih besar. Secara umum efisiensi merupakan perbandingan antara output dengan input, atau dalam rumus :

Efisiensi = Output

Input

Dimana : Input = sumber daya yang digunakan Output = hasil yang dicapa

Definisi Efisiensi (skripsi dan tesis)

Menurut S.P Hasibuan (1984) yang mengutip pernyataan H.Emerson adalah bahwa efisiensi merupakan hasil terbaik antara input (masukan) dan ouput (keluaran), efisiensi adalah sesuatu yang kita kerjakan berkaitan dengan menghasilkan hasil yang optimal dengan tidak membuang banyak waktu dalam proses pengerjaannya. Menurut Makmun (2002) dan Giatman (2006), Efisiensi berhubungan dengan seberapa baik kita menggunakan sumber daya yang ada untuk menyelesaikan suatu hasil.Sedangkan, menurut Agus Maulana (1997) Efisiensi diartikan sebagai kemampuan suatu unit usaha untuk mencapai tujuan yang diinginkan, efisiensi selalu dikaitkan dengan tujuan organisasi yang harus dicapai oleh perusahaan. Berdasarkan pengertian diatas, maka efisiensi dapat didefinisikan sebagai perbandingan antara masukan (input) dengan keluaran (output), atau jumlah keluaran yang dihasilkan dari satu input yang digunakan

Sturktur Organisasi dan Fungsi (skripsi dan tesis)

Seperti halnya organisasi yang lain, Toko Aktual Komputer Sumedang juga
mempunyai struktur organisasi beserta fungsinya, karena pengorganisasian itu sendiri
mempunyai arti adanya suatu penetapan struktur peran melalui penentuan aktivitasaktivitas yang dibutuhkan untuk mencapai tujuan-tujuan tertentu, pendelegasian
wewenang untuk menjalankannya, pengkoordinasian hubungan wewenang dan
informasi baik horizontal maupun vertikal serta bila ingin peran organisasi itu berarti
bagi orang lain, maka harus ada tujuan yang bisa dibuktikan, konsep yang jelas dari
batas kewajiban atau aktivitas yang terlibat, batas-batas untuk menentukan
kebijaksanaan yang dimengerti atau wewenang, dan harus disediakan informasi serta
alat lain sebagai sumber-sumber yang penting bagi hasil kerja dalam suatu peran.
Dengan adanya organisasi akan menunjukkan gambaran secara otomatis
hubungan kerjasama antara yang satu dengan yang lainnya di dalam satu organisasi.
Berikut ini adalah gambaran stuktur organisasi dan kewenangan di Toko Aktual
Komputer yaitu: Fungsi dari tiap-tiap bagian adalah sebagai berikut:
a. Pemilik adalah seseorang atau badan hukum yang secara sah memiliki perusahaan.
Para pemegang saham adalah pemilik dari perusahaan tersebut.
b. Operational adalah proses validasi yang digunakan untuk menentukan keberadaan,
kuantitas dan untuk menghindari masalah yang terkait untuk menentukan hal-hal
dalam esensi intrinsik.
c. Accounting adalah sistem akuntansi yang berkaitan dengan ketentuan dan
penggunaan informasi akuntansi untuk manajer atau manajemen dalam suatu
organisasi dan untuk memberikan dasar kepada manajemen untuk membuat
keputusan bisnis yang akan memungkinkan manajemen akan lebih siap dalam
pengelolaan dan melakukan fungsi kontrol.
d. Bagian Penjualan adalah bentuk pemberian yang diberikan oleh produsen baik
terhadap pelayanan barang yang diproduksi maupun terhadap jasa yang ditawarkan
guna memperoleh minat konsumen, dengan demikian pelayanan mempengaruhi
minat konsumen terhadap suatu barang atau jasa dari pihak perusahaan yang
menawarkan produk atau jasa.
e. Cashier adalah orang yang bertugas untuk menangani keuangan suatu organisasi
baik organisasi yang mempunyai tujuan komersial maupun yang non-komersial.
f. Staff Accounting
a. Membuat arsip
b. Melakukan tagihan kepada customer
c. Membuat laporan keuangan

Keuntungan Analytical Hierarchy Process (AHP) (skripsi dan tesis)

Keuntungan dari metode AHP dibandingkan yang lain, yaitu:
1. Struktur yang berhirarki, sebagai konsekuensi dari kriteria yang dipilih, sampai pada
sub-kriteria yang paling dalam.
2. Memperhitungkan validitas sampai dengan batas toleransi inkonsistensi berbagai
kriteria dan alternatif yang dipilih oleh para pengambil keputusan.
3. Memperhitungkan daya tahan atau ketahanan output analisis sensitivitas pengambil
keputusan.
4. AHP mempunyai kemampuan untuk memecahkan masalah yang multi objektif dan
multi objektif yang berdasar pada perbandingan preferensi dari setiap elemen dalam
hirarki.

Prosedur Analytical Hierarchy Process (AHP) (skripsi dan tesis)

Dalam pengambilan keputusan dengan metode AHP, prosedur atau langkahlangkah dalam metode AHP menurut kursini (2007:135), adalah:
1. Mengidentifikasi masalah dan menentukan solusi yang diinginkan, lalu menyusun
hiearki dari permaslahan yang dihadapi.
2. Menentukan prioritas elemen
a. Langkah pertama dalam menentukan prioritas elemen adalah membuat
perbandingan pasangan, yaitu membandingkan elemen berpasangan sesuai kriteria
yang diberikan.
b. Matriks perbandingan berpasangan diisi menggunakan bilangan untuk
mempresentasikan kepentingan relatif dari suatu elemen terhadap elemen yang
lainnya.
3. Sintesis
Pertimbangan-pertimbangan terhadap perbandngan berpasangan disintesis untuk
memperoleh keseluruhan prioritas. Hal-hal yang dilakukan dalam langkah ini
adalah:
a. Menjumlahkan nilai-nilai dari setiap kolom pada matriks.
b. Membagi setiap nilai dari kolom dengan total kolom yang bersangkutan untuk
memperoleh normalisasi matriks.
c. Menjumlahkan nilai-nilai dari setiap baris dan membaginya dengan jumlah
elemen untuk mendapatkan nilai rata-rata.
4. Mengukur Konsistensi
Hal-hal yang dilakukan dalam langkah ini adalah sebagai berikut:
a. Kalikan setiap nilai pada kolom pertama dengan prioritas relative elemen
pertama, nilai pada kolom keduadengan prioritas relative elemen kedua dan
seterusnya.
b. Jumlahkan setiap baris
c. Hasil dari penjumahan baris dibagi dengan elemen prioritas relative yang
bersangkutan.
d. Jumlahkan hsil bagi di atas dengan banyaknya elemen yang ada, hasilnya
disebut λ maks.
5. Hitung Consistency Index (CI) dengan rumus:
CI = (λmax – n)/n
Keterangan:
n = banyaknya elemen.
6. Hitung Rasio Konsistensi/Consistency Ratio (CR) dengan rumus:
CR = CI/RI
Keterangan:
CR = Consistency Ratio
CI = Consistency Index
RI = Index Random Consistency
7. Memeriksa konsistensi hierarki. Jika nilainya lebih dari 10%, maka penilaian data
judgment harus diperbaiki. Namun jika Rasio Konsistensi (CI/CR) kurang atau
sama dengan 0,1, maka hasil diperhitungkan bisa dinyatakan benar.

Prinsip Dasar Analytical Hierarchy Process (AHP) (skripsi dan tesis)

Menurut Sudaryono (2010:35), dalam menyelesaikan permasalahan dengan AHP
ada beberapa prinsip yang harus dipahami, diantaranya adalah:
1. Membuat hierarki sistem yang kompleks bisa dipahami dengan memecahnya
menjadi elemen-elemen pendukung, menyusun elemen secara hierarki, dan
menggabungkannya.
2. Penilaian kriteria dan alternatif kriteria dan alternatif dilakukan dengan
perbandingan berpasangan. Menurut Saaty (1988), untuk berbagai persoalan skala 1
sampai 9 adalah skala terbaik untuk mengekspresikan pendapat.
3. Menentukan prioritas untuk setiap kriteria dan alternatif, perlu dilakukan
perbandingan berpasangan. Nilai-nilai perbandingan relatif dari seluruh alternatif
kriteria bisa disesuaikan dengan judgement yang telah ditentukan untuk menghasilkan
bobot dan prioritas. Bobot dan prioritas dihitung dengan memanipulasi matriks atau
melalui penyelesaian persamaan matematika.
4. Konsistensi logis konsistensi memiliki dua makna. Pertama objek-objek yabg serupa
bisa dikelompokkan sesuai dengan keseragaman dan relevansi. Kedua, menyangkut
tingkat hubungan antar objek yang didasarkan pada kriteria tertentu.

Analytical Hierarchy Process (AHP) (skripsi dan tesis)

Menurut Nugeraha (2017:114) mengemukakaan bahwa, “AHP adalah sebuah konsep untuk pembuatan keputusan berbasis multicriteria (kriteria yang banyak). Beberapa kriteria yang dibandingkan satu dengan lainnya (tingkat kepentingannya) adalah penekanan utama pada konsep AHP ini.” AHP menjadi sebuah metode penentuan atau pembuatan keputusan, yang menggabungkan prinsip-prinsip subjektifitas dan objektifitas si pembuat sistem penunjang keputusan atau keputusannya. AHP juga merupakan salah satu metode untuk membantu menyusun suatu prioritas dari berbagai pilihan dengan menggunakan berbagai kriteria. Karena sifatnya yang multikriteria, AHP cukup banyak digunakan dalam penyusunan prioritas. Sebagai contoh untuk menyusun prioritas penelitian, pihak manajemen lembaga penelitian sering menggunakan beberapa kriteria seperti dampak penelitian, biaya, kemampuan SDM, dan waktu pelaksanaan. Di samping bersifat multikriteria, AHP juga didasarkan pada suatu proses yang terstruktur dan logis. Pemilihan atau penyusuna prioritas dilakukan dengan suatu prosedur yang logis dan terstruktur. Kegiatan tersebut dilakukan oleh ahli-ahli yang representatif berkaitan dengan alternatif-alternatif yang disusun prioritasnya. Metode AHP merupakan salah satu model untuk pengambilan keputusan yang dapat membantu kerangka berfikir manusia. Metode ini mula-mula dikembangkan oleh Thomas L. Saaty pada tahuan 70- an. Dasar berpikirnya metode AHP adalah proses membentuk skor secara numerik untuk menyusun rangking setiap alternatif keputusan berbasis pada bagaimana sebaiknya alternatif itu dicocokkan dengan kriteria pembuat keputusan

Langkah dan Prosedur Metode Analytical Hierarcy Process (skripsi dan tesis)

Untuk memecahkan suatu masalah dengan menggunakan metode
Analytical Hierarchy Process diperlukan langkah-langkah sebagai berikut:
a. Mendefinisikan permasalahan dan menentukan tujuan.
b. Menyusun masalah kedalam suatu struktur hierarki sehingga
permasalahan yang komplek dapat ditinjau dari sisi yang detail
dan terstruktur.
c. Menyusun prioritas untuk tiap elemen masalah.
d. Melakukan pengujian konsistensi terhadap perbandingan antar
elemen yang didapatkan pada tiap tingkat hierarki.
Perhitungan Metode Analytical Hierachy Process Saaty(1993)
menjelaskan bahwa elemen-elemen pada setiap baris dari matrik persegi
merupakan hasil perbandingan berpasangan. Setiap matrik pairwise
comparison dicari eigenvektornya untuk mendapat local priority

Tahapan Metode Analytical Hierarcy Process (skripsi dan tesis)

Menurut Kadarsyah Suryadi dan Ali Ramdhani, 1998. Metode
Analytical Hierarchy Process dilakukan dengan langkah-langkah sebagai
berikut:
1. Mendefinisikan masalah dan menentukan solusi yang diinginkan.
Dalam tahap ini terlebih dahulu menentukan masalah yang akan
dipecahkan secara jelas, detail dan mudah dipahami. Dari masalah
yang ada kemudian tentukan solusi yang mungkin cocok bagi
masalah tersebut. Solusi dari masalah mungkin berjumlah lebih
dari satu. Solusi tersebut nantinya dikembangkan lebih lanjut
dalam tahap berikutnya.
2. Membuat struktur hierarki yang diawali dengan tujuan utama.
Setelah menyusun tujuan utama sebagai level teratas akan disusun
level hirarki yang berada dibawahnya yaitu kriteria-kriteria yang
cocok untuk menilai alternatif yang diberikan dan menentukan
alternatif tersebut. Tiap criteria mempunyai intensitas yang
berbeda-beda. Hirarki dilanjutkan dengan subkriteria (jika
mungkin diperlukan).
3. Membuat matrik perbandingan berpasangan yang
menggambarkan kontribusi relatif atau pengaruh setiap elemen
terhadap tujuan atau criteria yang setingkat di atasnya. Matriks
yang digunakan bersifat sederhana, memiliki kedudukan kuat
untuk kerangka konsistensi, mendapatkan informasi lain yang
mungkin dibutuhkan dengan semua perbandingan yang mungkin
dan mampu menganalisis kepekaan prioritas secara keseluruhan
untuk perubahan pertimbangan. Pendekatan dengan matriks
mencerminkan aspek ganda dalam prioritas yaitu mendominasi
dan didominasi. Perbandingan dilakukan berdasarkan judgment
dari pengambil keputusan dengan menilai tingkat kepentingan
suatu elemen dibandingkan elemen lainnya. Untuk memulai
proses perbandingan berpasangan dipilih sebuah criteria dari level
paling atas hirarki misalnya K dan kemudian dari level di
bawahnya diambil elemen yang akan dibandingkan misalnya A1,
A2, A3, A4, A5, An.
4. Melakukan perbandingan berpasangan sehingga diperoleh jumlah
penilaian seluruhnya sebanyak n x [(n-1)/2] buah, dengan n adalah
banyaknya elemen kriteria yang dibandingkan. Hasil
perbandingan dari masing-masing elemen berupa angka dari 1
sampai 9 yang mengartikan perbandingan tingkat kepentingan
suatu elemen. Apabila suatu elemen dalam matriks dibandingkan
dengan dirinya sendiri maka hasil perbandingan diberi nilai 1.
Skala 9 telah terbukti dapat diterima dan bisa membedakan
intensitas antar elemen. Hasil perbandingan tersebut diisikan pada
sel yang bersesuaian dengan elemen yang dibandingkan 5. Menghitung nilai eigen dan menguji konsistensinya. Jika tidak
konsisten maka pengambilan data diulangi.
6. Mengulangi langkah 3,4, dan 5 untuk seluruh tingkat hirarki.
7. Menghitung vektor eigen dari setiap matriks perbandingan
berpasangan yang merupakan bobot setiap elemen untuk
penentuan prioritas elemen elemen pada tingkat hirarki terendah
sampai mencapai tujuan. Penghitungan dilakukan lewat cara
menjumlahkan nilai setiap kolom dari matriks, membagi setiap
nilai dari kolom dengan total kolom yang bersangkutan untuk
memperoleh normalisasi matriks, dan menjumlahkan nilai-nilai
dari setiap baris dan membaginya dengan jumlah elemen untuk
mendapatkan rata-rata.
8. Memeriksa konsistensi hierarki.
Yang diukur dalam Metode Analytical Hierarchy Process adalah
rasio konsistensi dengan melihat index konsistensi. Konsistensi
yang diharapkan adalah yang mendekati sempurna agar
menghasilkan keputusan yang mendekati valid. Walaupun sulit
untuk mencapai yang sempurna, rasio konsistensi diharapkan
kurang dari atau sama dengan 10%

Analytical Hierarcy Process (AHP) (skripsi dan tesis)

Analytical Hierarcy Proses merupakan salah satu metode untuk membantu
pengambil keputusan dalam mengambil keputusan sesuai dengan criteria
atau syarat yang telah ditentukan, dan criteria pengambilan keputusan
tersebut merupakan criteria yang bermacam-macam.
Metode Analytical Hierarcy Process (AHP) bersifat multi criteria karena
menggunakan banyak criteria dalam penyusunan suatu prioritas system
pendukung keputusan.
Disamping sifatnya yang multi criteria, metode AHP juga didasarkan pada
suatu proses yang logis dan terstruktur, karena penyusunan prioritasnya
dilakukan dengan menggunakan prosedur yang logis dan terstruktur.
Kegiatan tersebut dilakukan oleh ahli yang representative yang menyusun
prioritasnya.
Metode Analytical Hierarcy Process adalah salah satu metode pengambil
keputusan yang dapat membantu berfikir manusia. Metode ini
dikembangkan oleh Thomas L. Saaty pada awal tahun 1970-an. Proses
berfikir metode ini adalah membentuk score secara numeric untuk
menyusun cara alternative setiap pengambilan keputusan dimana keputusan
tersebut dicocokkan dengan criteria pembuat keputusan (Fariz, 2010).
Peralatan proses pengambilan keputusan pada metode Analytical Hierarcy
Process yang utama adalah sebuah hierarki fungsional dengan input
utamanya pendapat manusia. Dengan hierarki, masalah yang tidak
terstruktur dapat dipecahkan kedalam kelompok-kelompoknya yang
kemudian kelompok tersebut diatur kedalam suatu bentuk hierarki.
Dalam penjabaran hierarki tujuan, tidak ada pedoman pasti tentang
bagaimana pengambil keputusan menjabarkannnya menjadi tujuan yang
lebih rendah. Pengambil keputusan menentukan penjabaran tujuan itu
berhenti dan memperhatikan kelebihan dan kekurangan yang didapat jika
tujuan tersebut terperinci lebih lanjut. Berikut ini adalah beberapa hal yang
harus diperhatikan dalam penjabaran hierarki tujuan, yaitu:
a. Pada saat penjabaran tujuan kedalam subtujuan harus memperhatikan
setiap tujuan yang akan tercakup dalam subtujuan yang lebih rinci.
b. Meskipun hal pertama dapat terpenuhi, tapi juga perlu menghindari
terjadinya pembagian yang terlalu banyak.
c. Karena itu, sebelum menetapkan tujuan harus dapat menjabarkan
hierarki sampai ke tujuan yang paling rendah dengan cara
mengujinya.
Dalam menyelesaikan permasalahan dengan Analytical Hierarchy Process
(AHP) ada beberapa prinsip yang harus dipahami, di antaranya adalah
sebagai berikut:
1. Decomposition (membuat hierarki)
Dalam menyusun hirarki harus menentukan tujuan melalui kriteriakriteria yang dipakai untuk menilai alternatif-alternatif yang ada. Setiap
kriteria terkadang memiliki subkriteria dibawahnya yang memiliki nilai
intensitas masing-masing 2. Comparative judgment (penilaian kriteria dan alternatif)
Kriteria dan alternatif dilakukan dengan perbandingan berpasangan.
Menurut Saaty (1988), untuk berbagai persoalan, skala 1 sampai 9 adalah
skala yang dipakai dalam penilaiannya.
3. Synthesis of priority (menentukan prioritas)
Menentukan prioritas setiap kriteria digunakan sebagai bobot dari criteria
tersebut dalam pengambilan keputusan. Metode Analytical Hierarchy
Process (AHP) melakukan analisis prioritas setiap kriteria dengan metode
perbandingan berpasangan antara dua elemen sehingga semua elemen
yang ada akan tercakup dalam perbandingan.
4. Logical Consistency (konsistensi logis)
Konsistensi memiliki dua makna. Yang pertama yaitu objek-objek yang
serupa bisa dikelompokkan sesuai dengan jenisnya. Yang kedua yaitu
menyangkut tingkat hubungan antar objek yang didasarkan pada kriteria
tertentu. (Kosasi, Sandy. 2002).
Metode Analytical Hierarcy Process (AHP) sering digunakan sebagai
metode pemecah masalah dibanding dengan metode yang lain. Berikut ini
adalah beberapa kelebihan penggunaan metode AHP (menurut Suryadi dan
Ramdhani, 1998):  a. Berstruktur hierarki, sebagai dampak dari criteria yang dipilih, sampai
pada subkriteria yang paling dalam.
b. Memperhitungkan validitas sampai dengan batas toleransi inkonsistensi
berbagai criteria dan cara alternative yang dipilih oleh pengambil
keputusan.
c. Memperhitungkan daya tahan dan hasil analisis pengambil keputusan.
Karena Metode AHP memperhitungkan tingkat validitas sampai dengan
batas toleransi inkonsistensi dengan berbagai kriteria dan cara alternatif yang
dipilih oleh pengambil keputusan, metode AHP juga mempunyai kemampuan
untuk memecahkan masalah yang multi criteria yang didasarkan pada
perbandingan preferensi dari setiap elemen dalam hierarki, sehingga menjadi
model pengambil keputusan yang komprehensif.
Dengan demikian, terdapat empat aksioma-aksioma yang terkandung
dalam model AHP yaitu :
1. Reciprocal Comparison
Dalam pengambilan keputusan harus dapat membuat perbandingan dan
menyatakan pendapatnya. Pendapat tersebut harus memenuhi syarat yaitu
apabila A lebih penting daripada B dengan sekala x, maka B lebih penting
daripada A dengan sekala 1/x.
2. Homogeneity
Pendapat seseorang harus dapat dinyatakan dalam skala terbatas, elemenelemenya dapat dibandingkan satu dengan yang lainnya. Kalau aksioma
ini tidak dipenuhi maka elemen-elemen yang dibandingkan tersebut tidak
homogen dan harus dibentuk cluster (kelompok elemen) yang baru.
3. Independence
Pendapat seseorang dinyatakan dengan mengasumsikan bahwa kriteria
tidak dipengaruhi oleh alternatif-alternatif yang ada melainkan oleh
objektif keseluruhan. Hal ini menunjukkan bahwa model dalam metode
AHP adalah searah, maksudnya perbandingan antara elemen-elemen
dalam satu tingkat tergantung pada elemen-elemen pada tingkat diatasnya.
4. Expectation
Dalam pengambilan keputusan, struktur hirarki diasumsikan lengkap.
Apabila tidak terpenuhi maka pengambilan keputusan tidak memakai
seluruh kriteria yang tersedia sehingga keputusan yang diambil dianggap
tidak lengkap.
Metode Analytical Hierarcy Process juga dapat memberikan fasilitas
evaluasi pro dan kontra secara rasional. Karena itu, metode AHP dapat
memberikan solusi yang optimal melalui cara berikut:
a. Menganalisis keputusan secara kuantitatif dan kualitatif.
b. Mengevaluasi masalah kemudian memberikan solusi sederhana melalui
model hierarki.
c. Memberikan pendapat yang logis.
d. Melakukan Pengujian kualitas keputusan.
e. Waktu yang dibutuhkan relative singkat.

Kriteria Sistem Pendukung Keputusan (skripsi dan tesis)

System pendukung keputusan diciptakan untuk membantu seseorang
dalam mengambil keputusan tertentu dan dengan criteria tertentu. Berikut
ini beberapa criteria system pendukung keputusan.
a. Interaktif
System pendukung keputusan memiliki user interface yang
komunikatif, sehingga pemakai dapat memproses data secara cepat
untuk memperoleh informasi yang dibutuhkan.
b. Fleksibel
System pendukung keputusan memiliki banyak variabel masukan
yang mampu memproses dan memberikan hasil keluaran berupa
keputusan alternative dan efektif kepada para pengambil keputusan.
c. Data Kualitas
System pendukung keputusan mampu menerima data dengan
kualitas yang dikuantitaskan agar hasil yang diharapkan lebih
obyektif, sebagai data masukan untuk memproses atau mengolah
data.
d. Prosedur Pakar
Artinya suatu system pendukung keputusan mengandung suatu
prosedur yang berupa kepakaran seseorang yang nantinya digunakan
untuk menyelesaikan suatu masalah tertentu dari kejadian tertentu.
Berikut adalah macam-macam metode dalam system pendukung keputusan:
1. Metode Sistem pakar
2. Metode Regresi linier
3. Metode B/C Ratio
4. Metode AHP
5. Metode IRR
6. Metode NPV
7. Metode FMADM
8. Metode SAW

Sistem Pendukung Keputusan (SPK) (skripsi dan tesis)

System Pendukung Keputusan atau Decision Support System (DSS)
merupakan bagian dari system informasi yang biasa digunakan oleh
pengambil keputusan dalam mengambil keputusan. Decision Support
System diciptakan oleh G. Antony Gorry dan Michael. S. Scott Morton pada
tahun 1960-an. Akan tetapi, istilah Sistem Pendukung Keputusan (SPK) itu
baru ada pada tahun 1971. Mereka menciptakan system pendukung
keputusan dengan tujuan untuk menciptakan aplikasi computer, dimana
aplikasi tersebut merupakan suatu system berbasis computer yang nantinya
dapat membantu pengambil keputusan dalam mengambil keputusan dalam
memecahkan masalah yang tidak terstruktur dengan memanfaatkan data dan
model tertentu.
Decision Support System atau System Pendukung Keputusan adalah
system computer interaktif yang dapat membantu pengambil keputusan
dalam memecahkan masalah yang tidak terstruktur menggunakan data dan
model tertentu. Dalam mengambil keputusan tersebut pengambil keputusan
melakukan berbagai cara diantaranya yaitu: menggunakan kombinasi dari
model, teknik analisis, dan pengambilan informasi dari permasalahannya.
(Efrain Turban, 2005).
Decision Support System atau System Pendukung Keputusan adalah
system informasi yang membantu pengambil keputusan dengan
memberikan kesempatan kepadanya untuk mengidentifikasi masalah dan
mencari informasi dalam mengambil keputusan. System Pendukung
Keputusan (SPK) hampir sama dengan Sistem Informasi Manajemen (SIM),
karena sumber data dari SPK dan SIM adalah basis data. (Kusrini, 2007).
Decision Support System atau System Pendukung Keputusan adalah suatu
system computer berupa perangkat lunak yang dapat membantu suatu
instansi dalam mengambil keputusan secara efektif dan alternative sesuai
dengan criteria yang ditentukan.
SPK atau DSS dirancang untuk membantu seluruh proses pengambilan
keputusan mulai dari proses pengidentifikasian masalah, pemilihan data
yang relevan, penentuan model pendekatan yang digunakan dalam proses
pengambilan keputusan, sampai pada proses evaluasi pemilihan alternatif.
Menurut (Suryadi dan Ramdhani, 2002) model proses pengambilan
keputusan terdiri dari tiga tahap yaitu sebagai berikut:
1. Intelligence. Tahap ini merupakan proses pencarian dalam ruang
lingkup masalah serta proses pengenalan masalah. Data masukan
diperoleh, kemudian diproses, setelah itu diuji untuk mengidentifikasi
masalah tersebut.
2. Design. Tahap merupakan proses menemukan, mengembangkan, dan
menganalisis tindakan alternative apa yang bisa dilakukan. Tahap ini
meliputi proses memahami masalah, memberikan solusi, kemudian
menguji solusi tersebut apakah dapat menyelesaikan masalah dengan
baik atau tidak.
3. Choice. Tahap ini merupakan proses pemilihan dari berbagai tindakan
alternative yang dapat dipergunakan denga baik. Hasil dari pilihan
tersebut kemudian di implementasikan kedalam proses pengambilan
keputusan.
Sesuai dengan pendapat para pakar diatas, Keen (1980) menerapkan
istilah SPK ”untuk situasi dimana system dapat dikembangkan hanya
melalui suatu proses pembelajaran yang adaptif.” Jadi, ia mendefinisikan
SPK sebagai suatu proses dimana pemakai SPK, perancang SPK, dan SPK
itu sendiri mampu mempengaruhi satu dengan yang lainnya, dan
menghasilkan system pendukung keputusan yang dapat dipergunakan
dengan tepat. Sedangkan menurut Little (1970) yang mendefenisikan SPK
sebagai “sekumpulan prosedur berbasis model untuk pemrosesan dan
penilaian data dalam membantu pengambil keputusan”. Dia juga
menyatakan bahwa untuk berhasil, system tersebut haruslah sederhana,
mudah dipakai, obyektif dan lengkap dengan criteria penting yang
disyaratkan. Dan juga menurut Bonczek, dkk. (1980) mereka
mendefinisikan SPK sebagai sistem berbasis komputer yang terdiri dari tiga
komponen yang saling berinteraksi yaitu :
a. System bahasa merupakan mekanisme untuk memberikan komunikasi
antara pengguna dan komponen SPK lain.
b. System pengetahuan merupakan pengetahuan tentang masalah yang ada
pada SPK baik sebagai data atau sebagai prosedur.
c. System pemrosesan masalah merupakan hubungan antara dua
komponen, terdiri dari satu atau lebih kapabilitas manipulasi masalah
yang diperlukan untuk pengambilan keputusan.
Menurut (Turban, 2005) Sistem Pendukung Keputusan (SPK) terdiri dari
berbagai komponen sebagai berikut:
1. Subsistem Manajemen Data, berisi data yang relevan dan dapat diproses
software yang disebut DBMS (Data Base Management System).
2. Subsistem Manajemen Model, berupa sebuah software yang berisi
model-model financial yang menyediakan kemampuan analisa dan
software management yang sesuai.
3. Subsistem Manajemen Pengetahuan, merupakan subsistem yang
mendukung subsistem lain sebagai komponen yang berdiri sendiri.
4. Subsistem Antarmuka Pengguna, merupakan subsistem yang dipakai
oleh user dalam berkomunikasi.
Setiap sistem pasti memiliki kelebihan dan kekurangan, Menurut Kosasi
(2002), kelebihan SPK sebagai berikut:
a. Sistem pendukung keputusan (SPK) dapat menunjang pembuatan
keputusan manajemen dalam menangani masalah semi terstruktur dan
tidak terstruktur.
b. Sistem pendukung keputusan (SPK) dapat membantu manajer pada
berbagai tingkatan manajemen, mulai dari manajemen tingkat atas
sampai manajemen tingkat bawah.
c. Sistem pendukung keputusan (SPK) memiliki kemampuan pemodelan
dan analisis pembuatan keputusan.
d. Sistem pendukung keputusan (SPK) dapat menunjang pembuatan
keputusan yang saling berurutan baik secara kelompok maupun
perorangan.
e. Sistem pendukung keputusan (SPK) menunjang berbagai bentuk proses
pengambilan keputusan dan jenis keputusan.
f. Sistem pendukung keputusan (SPK) dapat melakukan adaptasi setiap
saat dan bersifat fleksibel.
g. Sistem pendukung keputusan (SPK) mudah berinteraksi dengan sistem
dan mudah dikembangkan oleh pengguna (user) terakhir.
h. Sistem pendukung keputusan (SPK) dapat meningkatkan efektivitas
dalam pengambilan keputusan.
i. Sistem pendukung keputusan (SPK) mudah melakukan pengaksesan
berbagai sumber dan format data.
Di samping berbagai kelebihan seperti yang telah disebutkan sebelumnya,
Sistem pendukung keputusan (SPK) juga memiliki beberapa kekurangan
atau keterbatasan, diantaranya adalah:
1. Ada beberapa kemampuan manajemen dan kemampuan manusia yang
tidak dapat dimodelkan, sehingga model yang ada dalam sistem tidak
semuanya mencerminkan persoalan sebenarnya.
2. Kemampuan suatu system pendukung keputusan (SPK) terbatas pada
pengetahuan yang dimilikinya (pengetahuan dasar serta model dasar).
3. Proses-proses yang dapat dilakukan oleh system pendukung keputusan
(SPK) biasanya tergantung pada kemampuan perangkat lunak yang
digunakan oleh pengambil keputusan.
4. Sistem pendukung keputusan (SPK) tidak memiliki kemampuan yang
dimiliki oleh manusia, karena itu bagaimana pun canggihnya suatu
Sistem pendukung keputusan (SPK), hanyalah suatu kumpulan
perangkat keras, perangkat lunak dan sistem operasi yang tidak
dilengkapi dengan kemampuan berpikir seperti manusia.

Sistem Pendukung Keputusan (skripsi dan tesis)

Sistem pendukung keputusan (SPK) adalah suatu sistem informasi berbasis komputer mengkombinasikan model dan data untuk menyediakan dukungan kepada pengambil keputusan dalam memecahakan masalah semi terstruktur atau masalah ketergantungan yang melibatkan user secara mendalam (Arbelia, 2014). Multiple Criteria Decision Making (MCDM) merupakan cara atau metode yang digunakan untuk mengambil keputusan dengan menetapkan alternatif atau pilihan terbaik dari beberapa alternatif berdasarkan kriteria-kriteria tertentu yang digunakan untuk batasan atau standar dalam mengambil keputusan. MCDM dibagi menjadi 2 berdasarkan tujuannya, yaitu MADM (Multi Attribute Decision Making) dan MODM (Multi Objective Decision Making). Perbedaan utama keduanya adalah pada MADM dipergunakan untuk menentukan keputusan atau pilihan dari alternatif dengan jumlah yang terbatas/diskret, sedangkan pada MODM dipergunakan pada permasalahan yang kontinyu/berkelanjutan, seperti pada masalah pemrograman matematis (Trianto, 2013).

Leasing (skripsi dan tesis)

Leasing adalah suatu perjanjian yang memberikan hak untuk menggunakan harta, pabrik atau alat-alat (tanah atau aktiva yang didepresiasi atau kedua-duanya) yang umumnya mempunyai jangka waktu tertentu. (Baridwan, 2004) Istilah leasing yang berarti sewa-menyewa. Dalam peraturan perundang– undangan yang berlaku di Indonesia, leasing diistilahkan “sewa guna” dalam Kepmenkeu No. 1169/KMK.01/1991 tentang kegitan Sewa guna usaha (leasing) disebutkan bahwa sewa guna usaha merupakan kegiatan pembiayaan dalam bentuk penyediaan barang modal (misal mobil atau mesin pabrik) selama jangka waktu tertentu berdasarkan pembayaran secara berkala. Secara umum leasing berarti equipment funding, yaitu pembiayaan peralatan/barang modal untuk digunakan pada proses produksi suatu perusahaan baik secara langsung maupun tidak langsung. Leasing juga berarti pembiayaan perusahaan dalam bentuk penyediaan barang modal dengan pembayaran secara berkala oleh perusahaan yang menggunakan barang modal tersebut, dan dapat membeli atau memperpanjang jangka waktu berdasarkan nilai sisa

Analytical Hierarchy Process (AHP) (skripsi dan tesis)

Analytical Hierarchy Process merupakan suatu metode yang dipergunakan untuk menyelesaikan masalah yang komplek di mana data dan informasi statistik dari masalah yang dihadapi sangat sedikit. AHP juga salah satu bentuk model pengambilan keputusan dengan multiple criteria sehingga, metode ini dapat melakukan analisis secara simultan dan terintegrasi antara parameter – parameter yang kualitatif atau bahkan kuantitatif. (Saaty, 2008) Dalam penelitian ini, metode AHP dipakai untuk menentukan pemohon sebagai nasabah yang hendak mengajukan kredit di PT Andalan Finance Yogyakarta. Jadi pada dasarnya, kriteria yang disayaratkan perusahaan kepada pemohon menjadi salah satu kriteria layak atau tidak nya nasabah untuk mendapatkan kredit. Sehingga, ketika pihak perusahaan sudah mengumpulkan data tentang nasabah mengenai kriteria yang dimiliki setiap debitur, maka secara kolektif kriteria tersebut akan dikonversikan dalam angka, kemudian diolah melalui proses komputasi oleh sistem. Dari hasil perhitungan yang dilakukan sistem, maka akan muncul bobot dari setiap pemohon. Perhitungan bobot yang paling berat menjadi hasil siapa pemohon yang layak menerima kredit. Di dalam metode AHP terkenal dengan namanya Indeks Random (IR). Indeks Random ini biasanya digunakan untuk membantu melakukan perhitungan dalam menyelesaikan keputusan yang hubungannya dengan kriteria suatu masalah. Jadi, IR ini akan digunakan tergantung kepada berapa banyak kriteria yang digunakan sehingga IR secara sistematis Kemudian di dalam metode AHP ada yang namanya Rasio Konsistensi (CR). Fungsi dari rasio konsistensi ini ada untuk mengetahui apakah hitungan yang dilakukan sudah konsisten atau belum. Bisa diketahui sudah konsisten atau tidak adalah apabila dalam perhitungan CR lebih dari 0,1 maka, perhituangan harus diulang kembali, akan tetapi apabila perhitungan dibawah 0,1 atau 0,00 maka perhitungan metode AHP adalah konsisten

Langkah- langkah dalam metode AHP (skripsi dan tesis)

AHP mempunyai kemampuan untuk memecahkan masalah yang multiobjektif dan multi-kriteria yang berdasar pada perbandingan preferensi dari setiap elemen dalam hirarki. Pada dasarnya langkah-langkah dalam metode AHP meliputi:   1. Mendefisinikan masalah dan menentukan solusi. 2. Membuat struktur hirarki yang diawali dengan tujuan umum, dilanjutkan dengan kriteria dan alternatif pada tingkatan kriteria paling bawah Penjelasan: a. Tujuan (goal) yang akan di capai atau penyelesaian masalah yang dikaji. b. Kriteria, kriteria apa saja yang harus dipenuhi oleh smua alternatif (penyelesaian) agar layak untuk menjadi pilihan ideal. c. Alternatif, pilihan penyelesaian masalah. 3. Membuat matriks perbandingan berpasangan yang menggambarkan kontribusi relatif atau pengaruh setiap elemen terhadap masing-masing tujuan. Perbandingan dilakukan berdasarkan ‘judgment” dari pengambil keputusan dengan menilai tingkat kepentingan suatu elemen dibandingkan elemen lainnya.  4. Melakukan perbandingan berpasangan sehingga di peroleh judgment seluruhnya sebanyak n x [(n-1)/2]buah, dengan n adalah banyaknya elemen yang dibandingkan. 5. Menghitung nilai eigen dan menguji konsistensinya, jika tidak konsisten maka pengambilan data diulangi. 6. Mengulangi langkah 3,4, dan 5 untuk seluruh tingkat hirarki. 7. Menghitung vektor eigen dari setiap matriks perbandingan berpasangan. Nilai vektor eigen merupakan bobot setiap elemen. Langkah ini untuk mensintesis judgment dalam penentuan prioritas elemen-elemen pada tingkat hirarki terendah sampai pencapaian tujuan. 8. Memeriksa konsisten hirarki. Jika nilainya lebih dari 10 persen maka penilaian data judgment harus diperbaiki. Pemilihan kriteria dan alternatif media televisi berbasis berita informasi. Dalam penelitian ini penulis mengambil 4 kriteria media televisi berbasis berita informasi, yaitu: 1. Penting Dapat dimaknai sebagai sesuatu yang utama, yang membutuhkan perhatian, dan harus diketahui masyarakat luas. Karena sesuatu, selain membutuhkan jalan keluar atau solusi, juga terkait erat dengan kepentingan masyarakat luas. 2. Menarik Tidak semua berita yang disiarkan di media televisi karena pentingnya, sebagian diangkat menjadi berita karena aspek menariknya sebuah peristiwa, kejadian, atau suatu gagasan. Sesuatu dikatakan menarik bila sesuatu itu unik, langka, aneh, atau sesuatu yang mengandung daya tarik insani (human interest). Di dalamnya bisa karena ada unsur ketegangan, kecemasan, kepopuleran, atau sisi daya tarik insani lainnya. Ini sebabnya peristiwa, atau kejadian yang menarik tetap layak diberitakan.   3. Aktual (baru) berita yang disampaikan harus yang terkini atau terbaru, jarak maupun waktu kejadian harus berdekatan dengan waktu penyampaian berita. 4. Faktual (nyata) Berita atau informasi yang disampaikan harus berdasarkan fakta atau kejadian yang sebenarnya. Dan harus menjadi pertimbangan mutlak dalam menentukan kelayakan suatu berita. Sumber: www.hukumonline.com

Analytical Hierrchy Process (AHP) (skripsi dan tesis)

AHP (Analytical HierarchyProcess) adalah salah satu metode dalam sistem pengambilan keputusan yang menggunakan beberapa variabel dengan proses analisis bertingkat. Analisis dilakukan dengan memberi nilai prioritas dari tiap-tiap variabel, kemudian melakukan perbandingan berpasangan dari variabelvariabel dan altematif-alternatif yang ada. AHP yang dikembangkan oleh Thomas L. Saaty, dapat memecahkan masalah yang kompleks dimana aspek atau kriteria yang diambil cukup banyak. Ini disebabkan oleh struktur masalah yang belum jelas ketidakpastian persepsi pengambil keputusan serta data statistik yang tidak ada sama sekali. Menurut Yahya (2014:131) kelebihan AHP dibandingkan dengan yang lainnya adalah: 1. Struktur yang berhirarki, sebagai konsekuensi dari kriteria yang dipilih. 2. Memperhitungkan validitas sampai dengan batas toleransi inkonsistensi berbagai kriteria dan alternatif yang dipilih oleh para pengambil keputusan. 3. Memperhitungkan daya tahan atau ketahanan output analisis sensitivitas pengambilan keputusan

Sistem Pendukung Keputusan (SPK) (skripsi dan tesis)

 

SPK (Sistem Pendukung Keputusan) adalah pengembangan dari sistem informasi manajemen terkomputerisasi, yang dirancang sedemikian rupa sehingga bersifat interaktif dengan pemakaiannya. Sifat interaktif ini untuk memudahkan integrasi antara berbagai komponen dalam proses pengambilan keputusan, seperti prosedur, kebijakan, teknik analisis, serta pengalaman dan wawasan manajerial guna membentuk suatu kerangka keputusan yang bersifat fleksibel. Sudirman dan Widjajani (2014:5) mengemukakan ciri-ciri SPK yang dirumuskan oleh Alters Keen, sebagai berikut : 1. SPK ditujukan untuk membantu keputusan-keputusan yang kurang terstruktur dan umumnya dihadapi oleh para manajer yang berada di tingkat puncak. 2. SPK merupakan gabungan antara kumpulan model kualitatif dan kumpulan data. 3. SPK memiliki fasilitas interaktif yang dapat mempermudah hubungan antara manusia dan komputer. 4. SPK bersifat luwes dan dapat menyesuaikan dengan perubahan-perubahan yang terjadi

Prinsip kerja AHP (skripsi dan tesis)

Prinsip kerja AHP penyerhanaan suatu persoalan kompleks yang tidak terstruktur, stratejik, dan dinamik menjadi bagian-bagianya, srta menata suatu hierarki. Ide dasar prinsip kerja AHP sebagai berikut: 1. Penyusunan hierarki persoalan diuraikan menajdi unsur-unsur yang memiliki kriteria dan alternative yang kemusia disusun menjadi sebuah diagram mempresentasikan keputusan memilih dengan menggunakan metode AHP. 2. Penilaian kriteria dan alternative dinilai melalui perbandingan berpasangan, kriteria tersebut menggunakan skala.   3. Penentuan prioritas, setiap kriteria dan alternative perlu dilakukan perbandingan berpasangan yang akan diolah untuk menentukan peringkat relatife dari seluruh alternatif. Kriteria kualitatif dan kuantitatif akan dibandingkan sesuai dengan judgement yang telah ditentukan berdasarkan bobot dan prioritas. 4. Konsistensi logis, semua elemen dikelompokkan secara logis dan diperingkatkan secara konsisten sesuai kriteria yang logis

Analisis AHP (Analytical Hierarchy Process) (skripsi dan tesis)

Proses Hirarki Analitik (PHA) atau yang biasa dikenal Analitycal Hierarchy process (AHP) merupakan teknik yang dikelompokkan oleh Dr. Thomas L. Saaty, pada awal tahun 1991. PHA telah banyak digunakan oleh para pengambil keputusan untuk membantu memecahkan masalah yang kompleks dan telah teruji efektif dalam mengidentifikasi dan menentukan prioritas dalam suatu pengambilan keputusan. Metode PHA ditunjukan untuk memodalkan problema-problema tidak terstruktur, baik dalam bidang ekonomi, social, maupun sains manajemen. Teuku Afriliansyah, (2018) analisis AHP merupakan suatu model pendukung keputusan. AHP memerlukan pemilihan nilai alternatif dalam perbandingan berpasangan karena dapat memiliki sifat ketidakpastian serta harus dipertimbangkan kembali agar terdapat banyak penilaian dan perbandingan pasangan. AHP merupakan sebuah metode pengambilan keputusan yang digunakan sebagai alternatif yang diperoleh berdasarkan kriteria tertentu. Metode AHP banyak digunakan pada saat mengambil keputusan agar dapat menyelesaikan masalah – 18 masalah dalam hal perencanaan, menentukan alternatif, menyusun prioritas, pemilihan kebijakan, penentuan kebutuhan, peramalan hasil, perencanaan hasil, perencanaan sistem, pengukuran performance, optimasi dan pemecahan suatu konflik tertentu. Menurut Saaty (1991), secara khusus metode AHP dapat digunakan untuk persoalan keputusan seperti: 1. Menetapkan prioritas 2. Menghasilkan seperangkat alternatif 3. Memilih alternatif kebijakan yang terbaik 4. Menetapkan berbagai persyaratan 5. Mengaplikasikan sumber daya 6. Meramalkan hasil dan menaksir resiko 7. Mengukur prestasi 8. Merancang sistem 9. Menjamin kemantapan sistem 10. Mengoptimumkan 11. Merencanakan 12. Memecahkan konflik Tiga prinsip dasar proses AHP (Saaty,1991) adalah: 1. Menggambarkan dan menguraikan secara hirarki, yang disebut dasar menyusun secara hirarki, yaitu memecah-mecah persoalan menjadi unsurunsur terpisah. 19 2. Perbedaan prioritas dan sintesis, yang kita sebut penetapan priorias, yaitu menentukan peringkat elemen-elemen menurut relatife penting. 3. Konsistensi silogis, yaitu menjamin bahwa semua elemen dikelompokkan secara logis dan konsisten sesuai dengan suatu kriteria yang logis. Langkah – langkah dalam metode Analitical Hierarcy Process adalah sebagai berikut: 1. Menentukkan jenis-jenis kriteria yang digunakan. 2. Menyusun kriteria-kriteria tersebut dalam bentuk matriks berpasangan. 3. Hasil dari penjumlahan baris dibagi dengan elemen prioritas relatif. 4. Jumlahkan hasil bagi tersebut dengan banyaknya elemen yang digunakan. 5. Selanjutnya hitung consistency index (CI) menggunakan rumus CI = (λmaks – n) / (n-1) 6. Menentukkan nilai lamda max (eigen value) dengan rumus: ƛ Max = ∑𝑎  n 7.Menghitung Konsistensi index (Ci) Perbandingan antara CI dan RI untuk satu matriks didefinisikan sebagai rasio konsistensi, CR= CI/RI Beberapa penyusunan AHP pada bagian Hirarki sebagai berikut: 1. Penyederhanaan masalah ke dalam bagian-bagian yang menjadi elemen – elemen pokok 21 2. Penentuan kriteria-kriteria yang relevan dari setiap elemen pokok, hingga identifikasi beberapa aternatif keputusan 3. Tidak ada batasan tentang jumlah tingkat dalam hirarki 4. Hirarki harus bersifat fleksibel (dapat diubah) untuk menampung adanya kriteria yang baru ditemukan. Menurut Saaty (1991), keuntungan penggunaan metode AHP antara lain: 1. Kesatuan, AHP bekerja pada model tunggal berupa hirarki dari suatu proses pemilihan alternatife terbaik yang bersifat mudah di mengerti dan luas untuk aneka ragam persoalan. 2. Penyusunan hirarki, AHP mempresentasikan permasalahan kompleks ke dalam model hirarki yang logis dan sederhana. Hal ini mencerminkan kecenderungan alami pikiran untuk memilah-milah elemen-elemen suatu sistem dalam berbagai tingkat berlainan dan mengelompokkan unsur yang serupa ke dalam setiap tingkat. 3. Kompleksitas, AHP memadukan analisis secara bagian-bagian (rancangan deduktif) dan rancangan sistem dalam memecahkan persoalan kompleks. 4. Saling ketergantungan, AHP dapat menangani saling ketergantungan elemen-elemen dalam suatu sistem dan tidak memaksakan pemikiran yang rumit atau sulit untuk dapat dimengerti. 5. Konsistensi, AHP dapat melacak konsistensi logis dari pemberian atau penetapan berbagai priotitas dari setiap kriteria ataupun alternative. 6. Sintesis, AHP menuntun ke suatu taksiran menyeluruh tentang kebaikan setiap alternative. 22 7. Pengukuran, AHP memberikan suatu skala pengukuran yang bersifat fleksibel, yaitu melakukan pembandingan kriteria dari berbagai alternative skala prioritas. 8. Pengulangan proses, AHP memungkinkan kita dapat memperluas definisi dari suatu persoalan dan memperbaiki pertimbangan dan pengertian melakukan pengulangan. 9. Tawar-menawar, AHP mempertimbangkan prioritas relative dari berbagai elemen-elemen dari sistem dan memungkinkan orang untuk memilih alternative terbaik berdasarkan tujuan-tujuan mereka. 10. Penilaian dan consensus, AHP tidak memaksakan sensus tetapi mensintesis suatu hasil yang representative dari berbagai penilaian yang berbeda-beda. Berikut ini Kelebihan dari penggunaan metode AHP yaitu: 1. Jika Rasio Indeks (RI) lebih besar dari 0,1, maka mutu informasi harus diperbaiki dengan revisi penggunaan pertanyaan maupun melakukan pengisian ulang kuesioner. Jika tindakan ini gagal memperbaiki konsisitensi, ada kemungkinan persoalan ini tidak terstruktur secara tepat. 2. Responden adalah orang-orang yang harus menikuti, menguasai, dan mempengaruhi pengambilan kebijakan atau mengetahui informasi yang dibutuhkan. AHP memiliki beberapa kekurangan, ialah sebagai berikut: 1. Ketergantungan model AHP pada input utamanya. Input utama ini berupa persepsi seorang ahli sehingga dalam hal ini melibatkan 23 subyektifitas sang ahli selain itu juga model menjadi tidak berarti jika ahli tersebut memberikan penilaian yang keliru. 2. Metode AHP ini hanya metode matematis tanpa ada pengujian secara statistik sehingga tidak ada batas kepercayaan dari kebenaran model yang terbentuk

Analycal hierarchy process ( AHP ) (skripsi dan tesis)

Salah satu jenis pemodelan yang diterapkan dalam sistem pendukung keputusan adalah Analytical Hierarchy Process(AHP). AHP dikembangkan oleh Thomas L.Saaty. Metode AHP merupakan metode hirarki fungsional dengan masukan utamanya nilai-nilai yang didapatkan berdasarkan persepsi manusia. Terdapat 4 prinsip pokok dalam AHP yaitu : a. Menyusun hirarki yaitu memecah persoalan menjadi kelompok-kelompok atau unsur-unsur yang terpisah. b. Penilaian kriteria dan alternatif dilakukan dengan perbandingan berpasangan dengan mangacu pada skala penilaian perbandingan berpasangan Saaty. Untuk memulai proses perbandingan berpasangan dipilih sebuah kriteria dari level paling atas hierarki. c. Penetapan prioritas dengan menentukan peringkat elemen (kriteria) menurut relative pentingnya. d. Konsistensi logis yaitu menjamin semua elemen dikelompokkan secara logis dan diperingkatkan secara konsisten sesuai dengan kriteria yang logis. Untuk   penilaiannya menggunakan  Skala Perbandigan 1-9 Saaty

Sistem Pendukung keputusan (skripsi dan tesis)

Sistem Pendukung Keputusan (SPK) adalah suatu bentuk computer base information system (CBIS) yang interaktif, fleksibel, dan secara khusus dikembangkan untuk mendukung penyelesaian dari manajemen yang tidak 10 terstruktur untuk memperbaiki pembuatan keputusan, sistem pendukung keputusan menggunakan data-data sebagai inputan dan dengan suatu proses menghasilkan output yang akan membantu pembuat keputusan (Turban, 1995). Pengambilan keputusan merupakan pemilihan diantaranya beberapa alternatif pemecahan masalah. Pada hakikatnya keputusan itu diambil jika pimpinan menghadapi masalah atau untuk mencegah timbulnya masalah dalam organisasi. Pimpinan harus mengambil keputusan untuk memilih cara mana yang dianggap paling tepat yang akan digunakan ( Ibnu Syamsi, 2000 ) Dalam sistem pengambilann keputusan terdapat tahapan – tahapan yang harus dilalui antara lain : 1. Tahap Pemahaman ( inteligence Phace ) Tahap ini merupakan proses penelusuran dan pendeteksian dari lingkup problematika serta proses pengenalan masalah. Data masukan diperoleh, diproses dan diuji dalam rangka mengidentifikasi masalah. 2. Tahap Perancangan ( Design Phace ) Tahap ini merupakan proses pengembangan dan pencarian alternatif tindakan / solusi yang dapat diambil. Tersebut merupakan representasi kejadian nyata yang disederhanakan, sehingga diperlukan proses validasi dan vertifikasi untuk mengetahui keakuratan model dalam meneliti masalah yang ada. 3. Tahap Pemilihan ( Choice Phace )  Tahap ini dilakukan pemilihan tahap diantaraberbagai alternatif solusi yang dimunculkan pada tahap perencanaan agar ditentukan / dengan memperhatikan kriteria – kriteria berdasarkan tujuan yang akan dicapai. 4. Tahap Implementasi ( Implementation Phace ) Tahap ini dilakukan penerapan terhadap rancangan sistem yang telah dibuat pada tahap perancangan serta pelaksanaan alternatif tindakan yang telah dipilih pada tahap pemilihan

Proses Penentuan Prioritas dengan Metode AHP (skripsi dan tesis)

Tahapan-tahapan pengambilan keputusan dalam metode AHP pada dasarnya meliputi: a. Mendefinisikan masalah dan menentukan solusi yang diinginkan b. Membuat struktur hirarki yang diawali dengan tujuan umum, dilanjutkan dengan kriteria-kriteria, sub kriteria dan alternatif-alternatif pilihan yang ingin diranking c. Membentuk matriks perbandingan berpasangan yang menggambarkan kontribusi relatif atau pengaruh setiap elemen terhadap masing-masing tujuan atau kriteria yang setingkat diatasnya. Perbandingan dilakukan berdasarkan pilihan atau “judgment” dari pembuat keputusan dengan menilai tingkat kepentingan suatu elemen dibandingkan elemen lainnya d. Menormalkan data yaitu dengan membagi nilai dari setiap elemen di dalam matriks yang berpasangan dengan nilai total dari setiap kolom e. Menghitung nilai eigen vector dan menguji konsistensinya, jika tidak konsisten pengambil data (preferensi) perlu diulangi. Nilai eigen vector yang dimaksud adalah nilai eigen vector maximum yang diperoleh dengan menggunakan matlab maupun manual f. Mengulangi langkah 3,4, dan 5 untuk seluruh tingkat hirarki g. Menghitung eigen vector dari setiap matriks perbandingan  berpasangan. Nilai eigen vector merupakan bobot setiap elemen. h. Langkah ini mensintesis pilihan dan penentuan prioritas elemenelemen pada tingkat hirarki terendah sampai pencapaian tujuan i. Menguji konsistensi hirarki. Jika tidak memenuhi dengan CR<0,100 maka penilaian harus diulang kembali

AHP (Analytic Hierarchy Process) (skripsi dan tesis)

Metode Analytic Hierarchy Process (AHP) dikembangkan oleh Prof. Thomas Lorie Saaty (1998) dari Wharston Business school untuk mencari ranking atau urutan prioritas dari berbagai alternatif dalam pemecahan suatu permasalahan. Dalam kehidupan sehari-hari, seseorang senantiasa dihadapkan untuk melakukan pilihan dari berbagai alternatif. Diperlukan penentuan prioritas dan uji konsistensi terhadap pilihan-pilihan yang telah dilakukan. Dalam situasi yang kompleks, pengambilan keputusan tidak dipengaruhi oleh satu faktor saja melainkan multi faktor dan mencakup berbagai jenjang maupun kepentingan. Pada dasarnya AHP adalah suatu teori umum tentang pengukuran yang digunakan untuk menemukan skala rasio baik dari perbandingan berpasangan yang diskrit maupun kontinu. Perbandingan-perbandingan ini dapat diambil dari ukuran aktual atau skala dasar yang mencerminkan kekuatan perasaan dan preferensi relatif. AHP memiliki perhatian khusus tentang penyimpangan dari konsistensi, pengukuran dan ketergantungan di dalam dan di luar kelompok elemen  strukturalnya. Analytic Hierrchy Process (AHP) mempunyai landasan aksiomatik yang terdiri dari: 1. Resiprocal Comparison, yang mengandung arti bahwa matriks perbandingan berpasangan yang terbentuk harus bersifat berkebalikan. Misalnya, jika A adalah k kali lebih penting dari pada B maka B adalah 1/ k kali lebih penting dari A. 2. Homogenity, yang mengandung arti kesamaan dalam melakukan perbandingan. Misalnya, tidak dimungkinkan membandingkan jeruk dengan bola tenis dalam hal rasa, akan tetapi lebih relevan jika membandingkan dalam hal berat. 3. Dependence, yang berarti setiap jenjang (level) mempunyai kaitan (complete hierarchy) walaupun mungkin saja terjadi hubungan yang tidak sempurna (incomplete hierarchy). 4. Expectation, yang artinya menonjolkan penilaian yang bersifat ekspektasi dan preferensi dari pengambilan keputusan. Penilaian dapat merupakan data kuantitatif maupun yang bersifat kualitatif. Dalam menyelesaikan persoalan dengan metode Analytic Hierarchy Process (AHP). Beberapa prinsip dasar yang harus dipahami antara lain: a. Decomposition; b. Comparative judgment; c. Synthesis of Priority; d. Logical Consistency. 15 a. Decomposition Pengertian decomposition adalah memecahkan atau membagi problema yang utuh menjadi unsur-unsurnya ke dalam bentuk hirarki proses pengambilan keputusan, dimana setiap unsur atau elemen saling berhubungan. Untuk mendapatkan hasil yang akurat, pemecahan dilakukan terhadap unsur-unsur sampai tidak mungkin dilakukan pemecahan lebih lanjut, sehingga didapatkan beberapa tingkatan dari persoalan yang hendak dipecahkan. Struktur hirarki keputusan tersebut dapat dikategorikan sebagai complete dan incomplete. Suatu hirarki keputusan disebut complete jika semua elemen pada suatu tingkat memiliki hubungan terhadap semua elemen yang ada pada tingkat berikutnya, sementara hirarki keputusan incomplete kebalikan dari hirarki yang complete. Bentuk struktur dekomposisi yakni : Tingkat pertama : Tujuan keputusan (Goal) Tingkat kedua : Kriteria – kriteria Tingkat ketiga : Alternatif – alternatif Hirarki masalah disusun untuk membantu proses pengambilan keputusan dengan memperhatikan seluruh elemen keputusan yang terlibat dalam sistem. Sebagian besar masalah menjadi sulit untuk diselesaikan karena proses pemecahannya dilakukan tanpa memandang masalah sebagai suatu sistem dengan suatu struktur tertentu. b. Comparative judgment Comparative Judgment dilakukan dengan membuat penilaian tentang kepentingan relatif dua elemen pada suatu tingkat tertentu dalam kaitannya dengan tingkatan diatasnya. Penilaian ini merupakan inti dari AHP karena akan berpengaruh terhadap urutan prioritas dari elemen-elemenya. Hasil dari penilaian ini lebih mudah disajikan dalam bentuk matriks pairwise comparisons yaitu matriks perbandingan berpasangan yang memuat tingkat preferensi beberapa alternatif untuk tiap kriteria. Skala preferensi yang digunakan yaitu skala 1 yang menunjukkan tingkat yang paling rendah (equal importance) sampai dengan skala 9 yang menunjukkan tingkatan yang paling tinggi (extreme importance). c. Synthesis of Priority Synthesis of Priority dilakukan dengan menggunakan eigen vector method untuk mendapatkan bobot relatif bagi unsur-unsur pengambilan keputusan. d. Logical Consistency Logical Consistency merupakan karakteristik penting AHP. Hal ini dicapai dengan mengagregasikan seluruh eigen vector yang diperoleh dari berbagai   tingkatan hirarki dan selanjutnya diperoleh suatu vector composite tertimbang yang menghasilkan urutan pengambilan keputusan

Tahapan Pembuatan Sistem Pendukung Keputusan (skripsi dan tesis)

Sebelum melakukan rancang bangun terhadap sistem pendukung keputusan, ada beberapa tahapan yang perlu dilalui, yang diharapkan akan menghasilkan alternatif informasi sebagai dasar pengambilan suatu keputusan. Alur/ proses pemilihan alternatif tindakan/keputusan biasanya terdiri dari langkahlangkah berikut : a. Tahap Penelusuran (Intelligence Phase) Suatu tahap penelusuran terhadap masalah yang dihadapi, terdiri dari aktivitas penelusuran, pendeteksian serta proses pengenalan masalah. Data masukan diperoleh, diuji dalam rangka mengidentifikasi masalah. b. Tahap Perancangan (Design Phase) Tahap proses pengambil keputusan setelah tahap intellegence meliputi proses untuk mengerti masalah, menurunkan solusi dan menguji kelayakan solusi. Aktivitas yang biasanya dilakukan seperti menemukan, mengembangkan dan menganalisa alternatif tindakan yang dapat dilakukan. c. Tahap Pilihan (Choice Phase) Pada tahap ini dilakukan proses pemilihan diantara berbagai alternatif tindakan yang mungkin dijalankan. Hasil pemilihan tersebut kemudian  diimplementasikan dalam proses pengambilan keputusan. d. Tahap Implementasi (Implementation Phase) Pada tahap ini merupakan tahap pelaksanaan dari keputusan yang telah diambil. Pada tahap ini perlu disusun serangkaian tindakan yang terencana, sehingga hasil keputusan dapat dipantau dan disesuaikan apabila diperlukan perbaikan-perbaikan

Tujuan Sistem Pendukung Keputusan (skripsi dan tesis)

Tujuan sistem pendukung keputusan yang dikemukakan (Mc Leod, 1995) mempunyai tiga tujuan yang akan dicapai adalah :   a. Membantu manajer dalam membuat keputusan untuk memecahkan masalah semiterstruktur. b. Mendukung penilaian manajer bukan mencoba menggantikannya. c. Meningkatkan efektifitas pengambilan keputusan manajer daripada efisiensinya

Definisi Sistem Pendukung Keputusan (skripsi dan tesis)

Pengertian sistem pendukung keputusan yang dikemukakan oleh Michael S Scott Morton dan Peter G W Keen, dalam buku Sistem Informasi Manajemen (McLeod, 1998) menyatakan bahwa sistem pendukung keputusan merupakan sistem penghasil informasi yang ditujukan pada suatu masalah yang harus dibuat oleh manajer. Raymond McLeod, Jr mendefinisikan sistem pendukung keputusan merupakan suatu sistem informasi yang ditujukan untuk membantu manajemen dalam memecahkan masalah yang dihadapinya (McLeod, 1998). Definisi selengkapnya adalah sistem penghasil informasi spesifik yang ditujukan untuk memecahkan suatu masalah tertentu yang harus dipecahkan oleh manajer pada berbagai tingkatan (McLeod, 1998). Menurut Litlle (1999) sistem pendukung keputusan adalah suatu sistem informasi berbasis komputer yang menghasilkan berbagai alternatif keputusan untuk membantu manajemen dalam menangani berbagai permasalahan yang terstruktur ataupun tidak terstruktur dengan menggunakan data atau model.

Tahapan-tahapan Implementasi AHP (skripsi dan tesis)

Menurut Syukron (2014:257) tahapan-tahapan dalam implementasi AHP untuk dapat membuat suatu keputusan dalam pemilihan strategi bisnis atau pada suatu kasus produksi adalah sebagai berikut : 1. Mendefinisikan masalah dan menentukan solusi yang diinginkan. 2. Membuat struktur hirarki yang diawali dengan tujuan umum dilanjutkan dengan sub-sub tujuan, kriteria, dan kemungkinan alternatif-alternatif pada tingkat kriteria yang bawah. 3. Membuat matrik perbandingan berpasangan yang menggambarkan konstribusi relatif atau pengaruh setiap elemen terhadap masing-masing tujuan atau kriteria yang setingkat biasanya perbandingan dilakukan berdasarkan judgement dari pengambil keputusan dengan menilai tingkat kepentingan suatu elemen dibandingkan elemen lainnya. 4. Melakukan perbandingan berpasangan sehingga diperoleh judgement seluruhnya sebanyak n x [(n-1)/2] buah. Dengan n adalah banyaknya jumlah elemen yang diperbandingkan. 5. Menghitung nilai eigen dan menguji konsistensinya, jika tidak konsisten maka pengambilan data diulangi. 6. Mengulangi langkah 3,4, dan 5 untuk seluruh tingkat hirarki. 7. Menghitung eigen vector untuk setiap matrik perbandingan berpasangan. Nilai eigen vector merupakan bobot setiap elemen. Langkah ini untuk mensintesiskan judgement dalam menentukan prioritas elemen-elemen pada tingkat hirarki terendah sampai pencapaian tujuan.  8. Memeriksa inkonsistensi hirarki. Jika nilainya > 10% maka penilaian data judgement harus diperbaiki. Penelitian yang dilakukan oleh Asamoah dkk. (2012) menggunakan pendekatan AHP untuk evaluasi dan seleksi pemasok bahan baku API dan excipients pada perusahaan manufaktur farmasi di Ghana. Kriteria pemilihan pemasok yang digunakan yaitu quality, reliability/capacity, dan cost. Hasil analisis menggunakan AHP menunjukkan kriteria quality menjadi prioritas utama dengan bobot 0,6334, kemudian diikuti dengan kriteria reliability/ capacity 0,2605, dan kriteria cost dengan bobot 0,1061. Pemasok bahan baku API yang dipilih yaitu S&D karena memiliki bobot tertinggi yaitu sebesar 0,481, sedangkan untuk pemasok bahan baku excipients yang terpilih yaitu Hellmuth Carroux dengan bobot tertinggi yaitu 0,4132 yang kemudian diikuti oleh Thosco dengan bobot 0,2771, Clonoose 0,2038, dan Lavina 0,0971. Berdasarkan temuan penelitian, AHP mempermudah dalam mengevaluasi, meranking, dan memilih pemasok yang tepat. Penelitian yang dilakukan oleh Ngatawi dan Setyaningsih (2011) pendekatan AHP digunakan untuk menganalisis pemilihan pemasok pada PT. XXX yang bergerak dalam bidang industri furniture. Dalam melakukan pemilihan pemasok, kriteria pengiriman menjadi prioritas utama dengan bobot 0,469, kriteria pelayanan memiliki bobot sebesar 0,172, kriteria produk memiliki bobot 0,164, kriteria kualitas memiliki bobot 0,110, dan kriteria biaya memiliki bobot sebesar 0,085. Berdasarkan pengolahan data dan analisis data menggunakan perhitungan AHP, maka kesimpulan yang dapat diambil adalah menetapkan pemasok A 32 sebagai pemasok terbaik. Hal tersebut diketahui dengan adanya nilai akhir tertinggi yaitu sebesar 0,240

Penyusunan Hirarki Dalam AHP (skripsi dan tesis)

Setiap analisis yang menggunakan AHP mula-mula harus mendefinisikan situasi dengan seksama, memasukkan sebanyak mungkin rincian yang relevan, lalu menyusun model secara hirarki yang terdiri atas beberapa tingkat rincian, yaitu fokus masalah, kriteria, dan alternatif. Hirarki tertinggi ialah fokus masalah. Hirarki ini hanya terdiri atas satu elemen yaitu sasaran/tujuan menyeluruh. Fokus masalah merupakan masalah utama yang perlu dicari solusi.  Tingkat kedua ialah kriteria. Kriteria merupakan aspek penting yang perlu dipertimbangkan dalam mengambil keputusan atas fokus masalah. Tingkat terendah ialah alternatif. Alternatif merupakan berbagai tindakan akhir, atau rencana-rencana alternatif. Alternatif merupakan pilihan keputusan dari penyelesaian masalah yang dihadapi (Herjanto, 2009:254-255)

Prinsip-prinsip Analytical Hierarchy Process (AHP) (skripsi dan tesis)

Dalam melakukan analisis menggunakan metode AHP, terdapat beberapa prinsip yang harus diperhatikan. Menurut Syukron (2014:256) ada tiga prinsip pokok AHP, yaitu :   1. Prinsip Penyusunan Hirarki Untuk memperoleh pengetahuan yang rinci, pikiran kita menyusun realitas yang kompleks ke dalam bagian yang menjadi elemen pokoknya, dan kemudian bagian kendala dan bagian-bagiannya lagi dan seterusnya secara hirarki. 2. Prinsip Menentukan Prioritas Prioritas ini ditentukan berdasarkan pandangan para pakar atau pihakpihak terkait yang berkompeten terhadap pengambilan keputusan. Baik secara langsung maupun tidak langsung. 3. Prinsip konsistensi logis Dalam mempergunakan prinsip ini, AHP memasukkan baik aspek kualitatif maupun kuantitatif untuk mengekspresikan penilaian dan preferensi secara ringkas dan padat sedangkan aspek kualitatif untuk mendefinisikan persoalan dan hirarkinya

Pengertian Analytical Hierarchy Process (AHP) (skripsi dan tesis)

Analytical Hierarchy Process (AHP) merupakan suatu metode pengambilan keputusan yang pertama kali dikembangkan oleh Prof. Thomas Lorie Saaty yang merupakan ahli matematika dari Wharton School of Business. Metode AHP pertama kali dikembangkan pada tahun 1970 dan dipublikasikan pada tahun 1980. Menurut Syukron (2014:255) Analytical Hirarchy Process (AHP) adalah sebuah hirarki fungsional dalam pengambilan keputusan dengan input utamanya adalah persepsi manusia.   Taylor (2014:449) menyatakan: “AHP adalah sebuah metode untuk memeringkat alternatif keputusan dan memilih yang terbaik dengan beberapa kriteria. AHP mengembangkan satu nilai numerik untuk memeringkat setiap alternatif keputusan, berdasarkan pada sejauh mana tiap-tiap alternatif memenuhi kriteria pengambil keputusan.” Menurut Herjanto (2009:253) AHP adalah suatu teknik pengambilan keputusan yang dikembangkan untuk kasus-kasus yang memiliki berbagai tingkat (hirarki) analisis. Menurut Wibisono (2006:167) Analytical Hierarchy Process (AHP) adalah alat bantu pengambilan keputusan yang sederhana, untuk menangani masalah yang kompleks, tidak terstruktur, bahkan multiatribut. Putri (2012) menyatakan: “ AHP merupakan analisis yang digunakan dalam pengambilan keputusan dengan pendekatan sistem, dimana pengambil keputusan berusaha memahami suatu kondisi sistem dan membantu melakukan prediksi dalam mengambil keputusan.” Berdasarkan pengertian-pengertian di atas, dapat disimpulkan bahwa AHP merupakan suatu metode pengambilan keputusan yang dikembangkan untuk menyusun suatu permasalahan ke dalam suatu hirarki yang selanjutnya dilakukan pembobotan (menentukan prioritas) berdasarkan persepsi para pengambil keputusan untuk memilih keputusan terbaik

Anthropometri (skripsi dan tesis)

Aspek–aspek ergonomi dalam suatu proses rancang bangun fasilitas kerja adalah merupakan suatu faktor penting dalam menunjang peningkatan pelayanaan jasa produksi. Terutama dalam hal perancangan ruang dan fasilitas akomodasi. Perlunya memperhatikan faktor ergonomi dalam proses rancang bangun fasilitas dalam dekade sekarang ini adalah merupakan sesuatu yang tidak dapat ditunda lagi. Hal tersebut tidak akan terlepas dari pembahasan mengenai ukurananthropometri tubuh operator maupun penerapan data–data anthropometrinya. Pengertian athropometri adalah studi yang berkaitan dengan pengukuran dimensi tubuh manusia (Wignjosoebroto, 2008). Pengertian Istilah antropometri berasal dari kata “anthro” = manusia dan “metri” = ukuran. Secara definitif dapat dinyatakan sebagai satu studi yang berkaitan dengan pengukuran dimensi tubuh manusia. Antropometri merupakan bidang ilmu yang berhubungan dengan dimensi tubuh manusia. Dimensi-dimensi ini dibagi menjadi kelompok statistika dan ukuran persentil. Jika seratus orang berdiri berjajar dari yang terkecil sampai terbesar dalam suatu urutan, hal ini akan dapat diklasifikasikan dari 1 percentile sampai 100 percentile. 18 Data dimensi manusia ini sangat berguna dalam perancangan produk dengan tujuan mencari keserasian produk dengan manusia yang memakainya. Pemakaian data antropometri mengusahakan semua alat disesuaikan dengan kemampuan manusia, bukan manusia disesuaikan dengan alat. Penyusunan data Anthropometri perlu memperhatikan variabilitas yang ada, sebab terdapat beberapa faktor yang mempengaruhi ukuran tubuh manusia. Faktor-faktor tersebut adalah : a. Keacakan (Random) Walau telah terdapat dalam suatu kelompok populasi yang sudah jelas sama jenis kelamin, suku/ bangsa, kelompok usia dan pekerjaannya, namun masih ada perbedaan yang cukup signifikan antara berbagai macam masyarakat. Distribusi frekuensi secara statistik dari dimensi kelompok anggota masyarakaat jelas dapat dioprokasikan dengan menggunakan distribusi normal, yaitu dengan menggunakan data persentil yang telah diduga, jika mean (rata-rata) dan standart deviasi (SD) nya telah dapat diestimasi. b. Jenis kelamin Dimensi ukuran tubuh laki-laki umumnya lebih besar dibandingkan dengan wanita, terkecuali untuk beberapa bagian tubuh tertentu seperti pinggul, dan sebagainya. c. Suku bangsa Setiap suku, bangsa, ataupun kelompok ethnic memiliki karakteristik fisik yang berbeda satu dengan yang lainnya. Dimensi tubuh suku bangsa Negara Barat pada umumnya mempunyai ukuran yang lebih besar daripada dimensi tubuh suku bangsa negara Timur. d. Jenis pekerjaan Beberapa jenis pekerjaan tertentu menurut adanya persyaratan dalam seleksi karyawan/ stafnya. Seperti misalnya : buruh dermaga/ pelabuhan adalah harusmempunyai postur tubuh yang 19 relatif lebih besar dibanding dengan karyawan perkantoran pada umumnya. Apalagi jika dibanding dengan jenis pekerjaan militer. e. Usia Ukuran tubuh manusia berkembang dari saat lahir sampai sekitar 20 tahun untuk pria dan 17 tahun untuk wanita. Setelah itu, tidak lagi akan terjadi pertumbuhan bahkan justru akan cenderung berubah menjadi pertumbuhan menurun ataupun penyusutan yang dimulai sekitar umur 40 tahun. f. Pakaian Hal ini juga merupakan sumber variabilitas yang disebabkan oleh bervariasinya iklim/ musim yang berbeda dari satu tempat ketempat yang lainnya terutama untuk daerah dengan empat musim. Misalnya pada waktu musim dingin manusia akan memakai pakaian yang relatif lebih tebal dan ukuran yang relatif lebih besar. g. Faktor kehamilan pada wanita Faktor ini sudah jelas akan mempunyai pengaruh perbedaan yang berarti dibanding dengan wanita yang tidak hamil. h. Cacat tubuh secara fisik Suatu perkembangan yang menggembirakan pada dekade terakhir yaitu dengan diberikanya skala prioritas pada rancangan bangun fasilitas akomodasi, untuk para penderita cacat tubuh secara fisik sehingga mereka dapat ikut serta merasakan “kesamaan” dalam penggunaan jasa dari ilmu ergonomi didalam pelayanaan untuk masyarakat. Masalah yang sering timbul misalnya: keterbatasan jarak jangkauan, dibutuhkan ruang kaki (knee space) untuk desain meja kerja, jalur khusus untuk keluar masuk perkantoran, kampus, hotel, restoran, super market dan lainlain. (Nurmianto, 2004) i. Posisi tubuh (posture) Sikap ataupun posisi tubuh berpengaruh terhadap ukuran 20 tubuh; oleh karena itu posisi tubuh standar harus diterapkan untuk survei pengukuran. Berkaitan dengan posisi tubuh manusia, anthropometri dibagi menjadi dua bagian, yaitu: 1. Anthropometri statis (structural body dimensions) Anthropometri statis adalah pengukuran manusia pada posisi diam dan linier pada permukaan tubuh. Anthropometri statis disebut juga pengukuran dimensi struktur tubuh dimana tubuh diukur dalam berbagai posisi standar dan tidak bergerak (tetap tegak sempurna). Dimensi tubuh yang diukur dalam anthropometri statis ini meliputi antara lain berat badan, tinggi tubuh dalam posisi berdiri maupun duduk, ukuran kepala, tinggi atau panjang lutut pada saat berdiri atau duduk, panjang lengan, dan sebagainya. Ukuran dalam hal ini diambil dengan percentile tertentu seperti 5-th percentile, 50-th percentile dan 95-th percentile. Untuk itu, dibutuhkan metode pengukuran tertentu agar hasil pengukuran cukup representatif. 2. Anthropometri dinamis (functional body dimension) Anthropometri dinamis adalah pengukuran keadaan dan ciri-ciri fisik manusia dalam keadaan bergerak atau memperhatikan gerakan-gerakan yang mungkin terjadi saat manusia melaksanakan kegiatannya. Hasil yang diperoleh merupakan ukuran tubuh yang berkaitan erat dengan gerakangerakan nyata yang diperlukan tubuh untuk melaksanakan kegiatan-kegiatan tertentu. Anthropometri dalam posisi tubuh melaksanakan fungsinya yang dinamis banyak diaplikasikan dalam proses perancangan fasilitas ataupun ruang kerja. Terdapat tiga kelas pengukuran anthropometri dinamis, yaitu: N( x ,sX). Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa data anthropometri akan menentukan bentuk, ukuran dan dimensi yang tepat yang berkaitan dengan produk yang dirancang dan manusia yang akan mengoperasikan atau menggunakan produk tersebut. 21 Agar rancangan suatu produk nantinya bisa sesuai dengan dengan ukuran tubuh manusia yang akan mengoperasikannya, maka prinsip–prinsip yang harus diambil didalam aplikasi data anthropometri tersebut harus ditetapkan terlebih dahulu antara lain : A. Prinsip perancangan produk bagi individu dengan ukuran yang ekstrim. Disini perancangan produk dibuat agar dapat memenuhi 2 sasaran produk yaitu :  Bisa sesuai dengan ukuran tubuh manusia yang mengikuti klasifikasi ekstrim  Tetap bisa digunakan untuk memenuhi ukuran tubuh yang lain (mayoritas dari populasi yang ada) B. Prinsip perancangan produk yang bisa dioperasikan diantara rentang tertentu. Disini rancangan bisa diubah–ubah ukurannya sehingga cukup fleksibel dioperasikan oleh setiap orang yang memiliki berbagai macam ukuran tubuh, contoh yang paling umum dijumpai adalah perancangan kursi mobil yang mana dalam hal ini letaknya bisa digeser maju mundur dan sudut sandarannya bisa diubah–ubah sesuai dengan yang diinginkan. Dalam kaitannya untuk mendapatkan rancangan yang fleksibel semacam ini, maka data anthropometri yang umum diaplikasikan adalah dalam rentang 5 – 95 persentil. C. Prinsip perancangan produk dengan ukuran rata–rata. Dalam hal ini rancangan produk didasarkan terhadap rata– rata ukuran manusia. Problem pokok yang dihadapi dalam hal ini justru sedikit sekali mereka yang berada dalam ukuran rata–rata. Disini produk dirancang dan dibuat untuk mereka yang berukuran sekitar rata–rata, sedangkan mereka yang memiliki ukuran ekstrim akan dibuatkan rancangan sendiri. (Ginting Rosnani, 2010). 22 Berkaitan dengan aplikasi data anthropometri yang diperlukan dalam proses perancangan produk ataupun fasilitas kerja, maka ada beberapa langkah dalam pembuatannya : a. Terlebih dahulu harus ditetapkan anggota tubuh mana yang nantinya akan difungsikan untuk mengoperasikan rancangan tersebut. b. Tentukan dimensi tubuh yang penting dalam proses perancangan tersebut. c. Tentukan populasi terbesar yang harus diantisipasi, diakomodasikan dan menjadi target utama pemakai produk tersebut. Hal ini lazim dikenal sebagai market segmentation seperti produk mainan untuk anak–anak, peralatan rumah tangga untuk wanita, dan lain–lain. d. Tetapkan prinsip ukuran yang harus diikuti semisal apakah rancangan tersebut untuk ukuran individu ekstrim, rentang ukuran yang fleksibel ataukah ukuran rata–rata. e. Pilih persentase populasi yang harus diikuti, 5, 50, 95, ataukah nilai persentil lain yang dikehendaki. f. Untuk setiap dimensi tubuh yang telah diidentifikasikan selanjutnya tetapkan nilai ukurannya dari tabel data anthropometri yang sesuai. Aplikasikan data tersebut dan tambahkan factor kelonggaran (allowance) bila diperlukan seperti halnya tambahan ukuran akibat factor tebalnya pakaian yang harus dikenakan operator, pemakaian sarung tangan (Glove), dan lain – lain. (Ginting Rosnani, 2010)

Tujuan dan Pentingnya Ergonomi (skripsi dan tesis)

Maksud dan tujuan dari disiplin ilmu ergonomi adalah meningkatkan kesejahteraan fisik dan mental melalui upaya pencegahan cidera dan penyakit akibat kerja, menurunkan beban kerja fisik dan mental, mengupayakan promosi dan kepuasan kerja. Human Engineering atau sering juga disebut sebagai ergonomi didefinisikan sebagai perancangan “man-machine interface’, sehingga pekerja dan mesin/produk lainnya bisa berfungsi lebih efektif dan efisien sebagai sistem manusia-mesin yang terpadu. (Wignjosoebroto, 2003) Dengan melakukan penilaian ergonomi di tempat kerja dapat diperoleh keuntungan yaitu (Wesley E Woodson, 2010) : 1. Mengoptimalkan pendayagunaan sumber daya manusia melalui peningkatan ketrampilan yang diperlukan. 2. Mengurangi waktu, biaya pelatihan dan pendidikan. 3. Mengurangi waktu yang terbuang sia-sia dan meminimalkan kerusakan peralatan yang disebabkan kesalahan manusia. 4. Meningkatkan kenyamanan karyawan dalam bekerja. Peran ergonomi sangat besar dalam menciptakan lingkungan kerja yang aman dan sehat. Pendekatan khusus yang ada pada disiplin ilmu ergonomi adalah aplikasi yang statis dari segala informasi yang relevan yang berkaitan dengan karakteristik dan perilaku manusia didalam perancangan peralatan, fasilitas, dan lingkungan kerja yang   dipakai. Untuk itu, analisis dan penelitian ergonomi akan meliputi halhal yang berkaitan dengan (Wignjosoebroto, 2003):  Anatomi (struktur), fisiologi (pekerjaan), dan antropometri (ukuran) tubuh manusia.  Psikologi dan fisiologis mengenai berfungsinya otak dan sistem syaraf yang berperan dalam tingkah laku manusia.  Kondisi-kondisi kerja yang dapat mencederai baik dalam waktu yang pendek maupun panjang, ataupun membuat celaka manusia. Dengan memperlihatkan hal-hal tersebut, maka penelitian dan pengembangan ergonomi akan memerlukan dukungan dari berbagai disiplin ilmu seperti psikologi, antropometri, faal/anatomi, dan teknologi (Wignjosoebroto, 2003).

Konsep Dasar Ergonomi (skripsi dan tesis)

Ergonomi berasal dari bahasa Yunani yang terdiri dari kata ergos yang
berarti kerja dan nomos yang artinya ilmu, sehingga secara harfiah ergonomi
dapat diartikan sebagai ilmu yang mempelajari mengenai hubungan antara
manusia dengan pekerjaannya. Secara umum ergonomi didefinisikan satu
cabang ilmu yang setatis untuk memanfaatkan informasi – informasi
mengenai sikap, kemampuan, dan keterbatasan manusia dalam merancang
suatu sistem kerja sehingga orang dapat hidup dan bekerja pada sistem itu
dengan baik, yaitu mencapai tujuan yang diinginkan melalui pekerjaan itu,
dengan efektif, sehat, nyaman, dan efesian. Disini di jelaskan bahwa fokus
ilmu ergonomi adalah manusia itu sendiri dalam arti dengan kaca mata
ergonomi, sistem kerja yang terdiri atas mesin, peralatan, lingkungan dan
bahan harus disesuaikan dengan sifat, kemampuan dan keterbatasan
manusia tetapi bukan manusia yang harus menyesuaikan dengan mesin, alat
dan lingkungan dan bahan. (Kohar Sulistiadi dan Sri Lisa Susanti, 2003).
Semboyan yang digunakan adalah “Sesuaikan pekerjaan dengan
pekerjanya dan sesuaikan pekerja dengan pekerjaannya” (Fitting the Task
to the Person. (Adnyana Manuaba, 2000) menyatakan bahawa fokus ilmu
ergonomi adalah ilmu, teknologi dan seni untuk menyerasikan peralatan,
mesin, pekerjaan, sistem, organisasi dan lingkungan dengan kemampuan,
keahlian dan manusia sehingga tercapai suatu kondisi dan lingkungan yang
sehat, aman, nyaman, efisien dan produktif, melalui pemanfaatan fungsional
tubuh manusia secara optimal dan maksimal. Dari beberapa pendapat di
atas, dapat ditarik tiga hal penting dalam mempelajari ilmu ergonomi, antara
lain :
 Ergonomi menitikberatkan manusia (human-centered). Fokus
ergonomi pada manusia merupakan hal yang utama bukan pada mesin
atau pada peralatan.
 Ergonomi membutuhkan bangunan sistem kerja yang terkait dengan
pengguna. Mesin dan peralatan yang merupakan fasilitas kerja harus
disesuaikan dengan performen manusia.
 Ergonomi menitikberatkan pada perbaikan sistem kerja. Suatu
perbaikan proses harus disesuaikan dengan perbedaan kemampuan
dan kelemahan setiap individu, hal ini harus dirumuskan dengan cara
diukur baik secara kualitatif maupun kauntitafif dalam jangka waktu
tertentu.
Sasaran dari ilmu ergonomi ini adalah untuk meningkatkan prestasi
kerja yang tinggi dalam kondisi aman, sehat, aman dan tenteram. Aplikasi
ilmu ergonomi digunakan untuk perancangan produk, meningkatkan
kesehatan dan keselamatan kerja serta meningkatkan produktivitas kerja.
Dengan mempelajari tentang ergonomi maka kita dapat mengurangi resiko
penyakit, meminimalkan biaya kesehatan, nyaman saat bekerja dan
meningkatkan produktivitas dan kinerja serta memperoleh banyak
keuntungan. Oleh karena itu penerapan prinsip ergonomi di tempat kerja
diharapkan dapat menghasilkan beberapa manfaat sebagai berikut
(Sulistiadi, 2003):
1. Mengerti tentang pengaruh dari suatu jenis pekerjaan pada diri pekerja
dan kinerja pekerja.
2. Memprediksi potensi pengaruh pekerjaan pada tubuh pekerja.
3. Mengevaluasi kesesuaian tempat kerja, peralatan kerja dengan pekerja
saat bekerja.
4. Meningkatkan produktivitas dan upaya untuk menciptakan kesesuaian
antara kemampuan pekerja dan persyaratan kerja.
5. Membangun pengetahuan dasar guna mendorong pekerja untuk
meningkatkan produktivitas.
6. Mencegah dan mengurangi resiko timbulnya penyakit akibat kerja.
7. Meningkatkan keselamatan kerja.
8. Meningkatkan keuntungan, pendapatan, kesehatan untuk individu dan
institusi.
Manusia dengan segala sifat dan tingkahlakunya merupakan makhluk
yang sangat kompleks. Untuk mempelajari manusia, tidak cukup ditinjau
dari satu disiplin ilmu saja. Oleh sebab itulah untuk mengembangkan
ergonomi diperlukan dukungan dari berbagai disiplin ilmu, antara lain
psikologi, antropologi, faal kerja atau fisiologi, biologi, sosiologi,
perencanaan kerja, fisika dan lain-lain. Masing-masing disiplin ilmu
tersebut berfungsi sebagai pemberi informasi. Pada gilirannya, para
perancang, dalam hal ini para ahli teknik, bertugas untuk meramu masingmasing informasi diatas, dan menggunakannya sebagai pengetahuan untuk
merancang fasilitas kerja sehingga mencapai kegunaan yang optimal

Aksioma-aksioma pada model AHP (skripsi dan tesis)

1. Resiprocal Comparison,artinya pengambil keputusan harus dapat membuat perbandingan dan menyatakan preferensinya. Preferensi tersebut harus memenuhi syarat resiprocal yaitu kalau A lebih disukai daripada B dengan skala x, maka B lebih disukai daripada A dengan skala 1/x. 2. Homogenity, artinya preferensi seseorang harus dapat dinyatakan dalam skala terbatas atau dengan kata lain elemen-elemennya dapat dibandingkan satu sama lain. Kalau aksioma ini tidak terpenuhi maka elemen-elemen yang dibandingkan tersebut tidak homogeneity dan harus dibentuk suatu „cluster‟ (kelompok elemen-elemen) yang baru. 3. Independence, artinya preferensi dinyatakan dengan mengasumsikan bahwa kriteria tidak dipengaruhi oleh alternatifalternatif yang ada melainkan oleh obyektif keseluruhan. Ini menunjukkan bahwa pola ketergantungan dalam AHP adalah searah ke atas, artinya perbandingan antara elemen-elemen pada tingkat di atasnya. 4. Expectation, artinya untuk tujuan pengambilan keputusan, struktur hirarki diasumsikan lengkap. Apabila asumsi ini tidak dipenuhi  maka pengambil keputusan. Memutuskan tidak memakai seluruh kriteria dan atau obyektif yang tersedia atau diperlukan sehingga keputusan yang diambil dianggap tidak lengkap. Prosedur atau langkah-langkah AHP.

Aplikasi AHP (skripsi dan tesis)

Beberapa contoh aplikasi AHP adalah sebagai berikut:
1. Membuat suatu set alternatif;
2. Perencanaan
3. Menentukan prioritas
4. Memilih kebijakan terbaik setelah menemukan satu set alternatif;
5. Alokasi sumber daya
6. Menentukan kebutuhan/persyaratan;
7. Memprediksi outcome
8. Merancang sistem
9. Mengukur performa
10. Memastikan stabilitas sistem
11. Optimasi
12. Penyelesaian konflik

Tahapan AHP (skripsi dan tesis)

Dalam metode AHP dilakukan langkah-langkah sebagai berikut
(Kadarsyah Suryadi dan Ali Ramdhani, 1998) :
1. Mendefinisikan masalah dan menentukan solusi yang diinginkan.
Dalam tahap ini kita berusaha menentukan masalah yang akan
kita pecahkan secara jelas, detail dan mudah dipahami. Dari
masalah yang ada kita coba tentukan solusi yang mungkin cocok
bagi masalah tersebut. Solusi dari masalah mungkin berjumlah
lebih dari satu. Solusi tersebut nantinya kita kembangkan lebih
lanjut dalam tahap berikutnya.
2. Membuat struktur hirarki yang diawali dengan tujuan utama.
Setelah menyusun tujuan utama sebagai level teratas akan
disusun level hirarki yang berada di bawahnya yaitu kriteriakriteria yang cocok untuk mempertimbangkan atau menilai
alternatif yang kita berikan dan menentukan alternatif tersebut.
Tiap kriteria mempunyai intensitas yang berbeda-beda. Hirarki
dilanjutkan dengan sub kriteria (jika mungkin diperlukan).
3. Membuat matrik perbandingan berpasangan yang menggambarkan
kontribusi relatif atau pengaruh setiap elemen terhadap tujuan atau
kriteria yang setingkat di atasnya
Matriks yang digunakan bersifat sederhana, memiliki
kedudukan kuat untuk kerangka konsistensi,mendapatkan informasi
lain yang mungkin dibutuhkan dengan semua perbandingan yang
mungkin dan mampu menganalisis kepekaan prioritas secara
keseluruhan untuk perubahan pertimbangan. Pendekatan dengan
matriks mencerminkan aspek ganda dalam prioritas yaitu
mendominasi dan didominasi. Perbandingan dilakukan berdasarkan
judgment dari pengambil keputusan dengan menilai tingkat
kepentingan suatu elemen dibandingkan elemen lainnya. Untuk
memulai proses perbandingan berpasangan dipilih sebuah kriteria
dari level paling atas hirarki misalnya K dan kemudian dari level di
bawahnya diambil elemen yang akan dibandingkan misalnya
E1,E2,E3,E4,E5.
4. Melakukan mendefinisikan perbandingan berpasangan sehingga
diperoleh jumlah penilaian seluruhnya sebanyak n x [(n-1)/2] buah,
dengan n adalah banyaknya elemen yang dibandingkan.
Hasil perbandingan dari masing-masing elemen akan
berupa angka dari 1 sampai 9 yang menunjukkan perbandingan
tingkat kepentingan suatu elemen. Apabila suatu elemen dalam
matriks dibandingkan dengan dirinya sendiri maka hasil
perbandingan diberi nilai 1. Skala 9 telah terbukti dapat diterima
dan bisa membedakan intensitas antar elemen. Hasil perbandingan
tersebut diisikan pada sel yang bersesuaian dengan elemen yang
dibandingkan. Skala perbandingan perbandingan berpasangan dan
maknanya yang diperkenalkan oleh Saaty bisa dilihat di bawah.
Intensitas Kepentingan
1 = Kedua elemen sama pentingnya, Dua elemen mempunyai
pengaruh yang sama besar.
3 = Elemen yang satu sedikit lebih penting daripada elemen yanga
lainnya, pengalaman dan penilaian sedikit menyokong satu
elemen dibandingkan elemen yang lainnya.
5 = Elemen yang satu lebih penting daripada yang lainnya,
Pengalaman dan penilaian sangat kuat menyokong satu
elemen dibandingkan elemen yang lainnya.
7 = Satu elemen jelas lebih mutlak penting daripada elemen
lainnya, Satu elemen yang kuat disokong dandominan terlihat
dalam praktek.
9 = Satu elemen mutlak penting daripada elemen lainnya, Bukti
yang mendukung elemen yang satu terhadap elemen lain
memeliki tingkat penegasan tertinggi yang mungkin
menguatkan.
2,4,6,8 = Nilai-nilai antara dua nilai pertimbangan-pertimbangan
yang berdekatan, Nilai ini diberikan bila ada dua kompromi di
antara 2 pilihan Kebalikan = Jika untuk aktivitas i mendapat satu
angka dibanding dengan aktivitas j , maka j mempunyai nilai
kebalikannya dibanding dengan i
5. Menghitung nilai eigen dan menguji konsistensinya.
Jika tidak konsisten maka pengambilan data diulangi.
6. Mengulangi langkah 3,4, dan 5 untuk seluruh tingkat hirarki.
7. Menghitung vektor eigen dari setiap matriks perbandingan
berpasangan yang merupakan bobot setiap elemen untuk penentuan
prioritas elemen-elemen pada tingkat hirarki terendah sampai
mencapai tujuan. Penghitungan dilakukan lewat cara
menjumlahkan nilai setiap kolom dari matriks,membagi setiap nilai
dari kolom dengan total kolom yang bersangkutan untuk
memperoleh normalisasi matriks, dan menjumlahkan nilai-nilai
dari setiap baris dan membaginya dengan jumlah elemen untuk
mendapatkan rata-rata.
8. Memeriksa konsistensi hirarki.
Tahapan ini diukur dalam AHP adalah rasio konsistensi dengan
melihat index konsistensi. Konsistensi yang diharapkan adalah
yang mendekati sempurna agar menghasilkan keputusan yang
mendekati valid. Walaupun sulit untuk mencapai yang sempurna,
rasio konsistensi diharapkan kurang dari atau sama dengan 10 %

Kelebihan dan kelemahan AHP (skripsi dan tesis)

Layaknya sebuah metode analisis, AHP pun memiliki kelebihan
dan kelemahan dalam system analisisnya. Kelebihan-kelebihan
analisis ini adalah :
1. Kesatuan (Unity)
AHP membuat permasalahan yang luas dan tidak terstruktur
menjadi suatu model yang fleksibel dan mudah dipahami.
2. Kompleksitas (Complexity)
AHP memecahkan permasalahan yang kompleks melalui
pendekatan sistem dan pengintegrasian secara deduktif.
3. Saling ketergantungan (Inter Dependence)
AHP dapat digunakan pada elemen-elemen sistem yang saling
bebas dan tidak memerlukan hubungan linier.
4. Struktur Hirarki (Hierarchy Structuring)
AHP mewakili pemikiran alamiah yang cenderung
mengelompokkan elemen sistem ke level-level yang berbeda dari
masing-masing level berisi elemen yang serupa.
5. Pengukuran (Measurement)
AHP menyediakan skala pengukuran dan metode untuk
mendapatkan prioritas.
6. Konsistensi (Consistency)
AHP mempertimbangkan konsistensi logis dalam penilaian
yang digunakan untuk menentukan prioritas.
7. Sintesis (Synthesis)
AHP mengarah pada perkiraan keseluruhan mengenai seberapa
diinginkannya masing-masing alternatif.
8. Trade Off
AHP mempertimbangkan prioritas relatif faktor-faktor pada
sistem sehingga orang mampu memilih altenatif terbaik
berdasarkan tujuan mereka.
9. Penilaian dan Konsensus (Judgement and Consensus)
AHP tidak mengharuskan adanya suatu konsensus, tapi
menggabungkan hasil penilaian yang berbeda.
10. Pengulangan Proses (Process Repetition)
AHP mampu membuat orang menyaring definisi dari suatu
permasalahan dan mengembangkan penilaian serta pengertian
mereka melalui proses pengulangan.
Sedangkan kelemahan metode AHP adalah sebagai berikut:
1. Ketergantungan model AHP pada input utamanya. Input utama
ini berupa persepsi seorang ahli sehingga dalam hal ini
melibatkan subyektifitas sang ahli selain itu juga model menjadi
tidak berarti jika ahli tersebut memberikan penilaian yang keliru.
2. Metode AHP ini hanya metode matematis tanpa ada pengujian
secara statistik sehingga tidak ada batas kepercayaan dari
kebenaran model yang terbentuk.

Prosedur AHP (skripsi dan tesis)

 

Terdapat tiga prinsip utama dalam pemecahan masalah dalam AHP menurut Saaty, yaitu: Decomposition, Comparative Judgement, dan Logical Concistency. Secara garis besar prosedur AHP meliputi tahapan sebagai berikut: 1. Dekomposisi masalah Dekomposisi masalah adalah langkah dimana suatu tujuan (Goal) yang telah ditetapkan selanjutnya diuraikan secara sistematis kedalam struktur yang menyusun rangkaian sistem hingga tujuan dapat dicapai secara rasional. Dengan kata lain, suatu tujuan yang utuh, didekomposisi (dipecahkan) kedalam unsur penyusunnya. 2. Penilaian/pembobotan untuk membandingkan elemen-elemen Apabila proses dekomposisi telah selasai dan hirarki telah tersusun dengan baik. Selanjutnya dilakukan penilaian perbandingan berpasangan (pembobotan) pada tiap-tiap hirarki berdasarkan tingkat kepentingan relatifnya. 3. Penyusunan matriks dan Uji Konsistensi Apabila proses pembobotan atau pengisian kuisioner telah selesai, langkah selanjutnya adalah penyusunan matriks berpasangan untuk melakukan normalisasi bobot tingkat kepentingan pada tiap-tiap elemen pada hirarkinya masingmasing. Pada tahapan ini analisis dapat dilakukan secara manual ataupun dengan menggunakan program komputer seperti Expert Choice. 8 4. Penetapan prioritas pada masing-masing hirarki Untuk setiap kriteria dan alternatif,perlu dilakukan perbandingan berpasangan (pairwise comparisons). Nilai-nilai perbandingan relatif kemudian diolah untuk menentukan peringkat alternatif dari seluruh alternatif. Baik kriteria kualitatif, maupun kriteria kuantitatif, dapat dibandingkan sesuai dengan penilaian yang telah ditentukan untuk menghasilkan bobot dan proritas. Bobot atau prioritas dihitung dengan manipulasi matriks atau melalui penyelesaian persamaan matematik. 5. Sistesis dari prioritas Sistesis dari prioritas didapat dari hasil perkalian prioritas lokal dengan prioritas dari kriteria bersangkutan yang ada pada level atasnya dan menambahkannya ke masing-masing elemen dalam level yang dipengaruhi oleh kriteria. Hasilnya berupa gabungan atau lebih dikenal dengan istilah prioritas global yang kemudian dapat digunakan untuk memberikan bobot prioritas lokal dari elemen yang ada pada level terendah dalam hirarki sesuai dengan kriterianya. 6. Pengambilan/penetapan keputusan. Pengambilan keputusan adalah suatu proses dimana alternatifalternatif yang dibuat dipilih yang terbaik berdasarkan kriterianya.

Konsep AHP (Analytical Hierarchy Process) (skripsi dan tesis)

AHP merupakan suatu model pendukung keputusan yang
dikembangkan oleh Thomas L. Saaty. Model pendukung keputusan ini akan
menguraikan masalah multi faktor atau multi kriteria yang kompleks
menjadi suatu hirarki, menurut Saaty (1993), hirarki didefinisikan sebagai
suatu representasi dari sebuah permasalahan yang kompleks dalam suatu
struktur multi level dimana level pertama adalah tujuan, yang diikuti level
faktor, kriteria, sub kriteria, dan seterusnya ke bawah hingga level terakhir
dari alternatif. Dengan hirarki, suatu masalah yang kompleks dapat
diuraikan ke dalam kelompok-kelompoknya yang kemudian diatur menjadi
suatu bentuk hirarki sehingga permasalahan akan tampak lebih terstruktur
dan sistematis. (Syaifullah:2010).
AHP sering digunakan sebagai metode pemecahan masalah dibanding
dengan metode yang lain karena alasan-alasan sebagai berikut :
1. Struktur yang berhirarki, sebagai konsekuesi dari kriteria yang dipilih,
sampai pada sub kriteria yang paling dalam.
2. Memperhitungkan validitas sampai dengan batas toleransi inkonsistensi
berbagai kriteria dan alternatif yang dipilih oleh pengambil keputusan.
3. Memperhitungkan daya tahan output analisis sensitivitas pengambilan
keputusan.
Penggunaan AHP bukan hanya untuk institusi pemerintahan atau
swasta namun juga dapat diaplikasikan untuk keperluan individu terutama
untuk penelitian-penelitian yang berkaitan dengan kebijakan atau
perumusan strategi prioritas. AHP dapat diandalkan karena dalam AHP
suatu prioritas disusun dari berbagai pilihan yang dapat berupa kriteria yang
sebelumnya telah didekomposisi (struktur) terlebih dahulu, sehingga
penetapan prioritas didasarkan pada suatu proses yang terstruktur (hirarki)
dan masuk akal. Jadi pada intinya AHP membantu memecahkan persoalan
yang kompleks dengan menyusun suatu hirarki kriteria, dinilai secara
subjektif oleh pihak yang berkepentingan lalu menarik berbagai
pertimbangan guna mengembangkan bobot atau prioritas (kesimpulan).
Peralatan utama AHP adalah sebuah hierarki fungsional dengan input
utamanya persepsi manusia. Keberadaan hierarki memungkinkan
dipecahnya masalah kompleks atau tidak terstruktur dalam sub – sub
masalah, lalu menyusunnya menjadi suatu bentuk hierarki (Kusrini, 2007).

Uji Bell-Doksum (skripsi dan tesis)

Metode pengujian pengaruh perlakuan tetap pada reancangan acak lengkap dapat juga dilakukan dengan uji Bel Doksum, yaitu uji Bell- Doksum untuk beberapa contoh saling bebas atau sering juga dinyatakan sebagai uji Bell-Doksum untuk k contoh saling bebas. Metode pengujian uji Bell-Doksum ini juga menggunakan prinsip pemeringkatan pada data pengamatan yang asli. Akan tetapi dalam proses perhitunganstatistik uji digunakan bantuan nilai deviasi normal baku. Seperti diketahui bahwa dengan menggunakan deviasi normal baku, dapat diperoleh distribusi pasti dari statistik uji. Dalam pengujian ini digunakan juga hubungan antara distribusi normal baku dan distribusi kai-kuadrat. Misalkan, data terdiri dari k contoh acak yang saling bebas dengan ukuran dapat berbeda. Misalkan juga, j j n j j X1 , X2 ,…X merupakan variabel-variabel acak contoh ke- j yang berukuran nj . Jika N merupakan total keseluruhan ukuran contoh, maka berikan peringkat semua pengamatan pada setiap contoh dengan peringkat dari 1 sampai N seperti pada pemeringkatan Kruskal-Wallis. Peringkat pengamatan Xij dilambangkan dengan ( ) R Xij . Ambil N bilangan dari deviasi normal baku dapat dilakukan dengan pembangkitan atau melihat tabel. Nilai deviasi normal baku ini juga diperingkatkan dari 1 sampai N . Gantikan data pengamatan dengan nilai deviasi normal baku yang memiliki peringkat yang sama. Jika data pengamatan ada yang kembar, maka peringk

Uji Kruskal-Wallis (skripsi dan tesis)

Uji Kruskal-Wallis merupakan perluasan dari uji Mann-Witney dengan contoh independen lebih dari dua. Misal, diketahui Xij adalah pengamatan ulangan ke-i contoh ke- j , k banyaknya contoh acak yang diamati, dengan i = 1,2..,r dan j = 1,2,…, k . Kemudian N adalah banyaknya keseluruhan pengamatan, merupakan penjumlahan dari banyaknya pengamatan masing-masing contoh nj , atau dapat dirumuskan menjadi: ∑= = k j j N n 1 (18) Peringkatkan semua pengamatan untuk seluruh contoh dari data terkecil sampai terbesar, sehingga peringkat data terkecil adalah 1 dan N adalah peringkat data terbesar. Peringkat masing-masing pengamatan dilambangkan dengan ( ) R Xij . Perlu diperhatikan bahwa dalam pemeringkatan, data yang sama atau kembar peringkatnya dirata-ratakan. Rata-rata peringkat ini merupakan peringkat untuk masing-masing pengamatan yang kembar. Keadaan ini yang membedakan uji Kruskall-Wallis terhadap uji Median sebelumnya. Uji Kruskall-Wallis mempertimbangkan pengamatan yang kembar, sedangkan uji Median tidak mempermhatikan informasi tersebut. Setelah data diperingkatkan, kemudian dihitung jumlah peringkat keseluruhan pengamatan pada masing-masing contoh. Jumlah peringkat keseluruhan pengamatan pada contoh ke- j dilambangkan dengan Rj , perhitungannya menggunakan ∑ ( ) = = k j Rj R Xij 1 (19) Kemudian hitung statistik uji Kruskal-Wallis dengan rumus (20) atau (21).

Conover (1971) menyatakan bahwa asumsi-asumsi yang diperlukan untuk melakukan pengujian dengan menggunakan uji Kruskal-Wallis adalah: 1. Semua contoh merupakan contoh acak dari populasinya. 2. Sebagai tambahan dari independensi dalam tiap contoh, juga ada independensi antar contoh. 3. Semua peubah acak Xij kontinu (sejumlah nilai kembar masih diperbolehkan). 4. Skala pengukurannya minimal skala ordinal. 5. Fungsi sebaran k populasi identik atau beberapa populasi cenderung memiliki nilai yang lebih besar dari populasi lainnya. Sedangkan, hipotesis uji Kruskal-Wallis dapat dinyatakan dengan : H0 Semua fungsi sebaran k populasi identik : H1 Sedikitnya ada satu populasi cendrung memiliki nilai yang lebih besar dari populasi lainnya. Uji Kruskal-Wallis sensitif terhadap perbedaan diantara rata-rata k populasinya, sehingga hipotesis alternatifnya dapat juga ditulis menjadi :

 H1 k populasi tidak memiliki rata-rata yang sama Kajian Uji Nonparametrik Pengaruh Perlakuan Tetap pada RAL
 Distribusi pasti dari H dapat ditentukan, tetapi untuk contoh dan pengulangan yang sedikit karena perhitungannya akan menjadi rumit untuk yang lebih besar. Kruskal-Wallis mengusulkan untuk menggunakan tabel Kruskal-Wallis untuk ukuran contoh kurang dari atau sama dengan lima dan dan banyaknya contoh sama dengan tiga. Jika tidak demikain, maka digunakan distribusi Kai-Kuadrat sebagai pendekatan. Adapun aturan pengambilan keputusan pengujian dengan menggunakan statistik uji Kruskal-Wallis adalah 1. Jika dalam pengujian digunakan k = 3 dan n j k j ≤ 5, =1,2,…, , maka daerah kritis pasti berukuran α dapat diperoleh dari tabel Kruskal-Wallis pada lampiran. Jika nilai H lebih besar dari H pada pada tabel Kruskal-Wallis yang bersesuaian, maka tolak hipotesis nol pada taraf pengujian tertentu. 2. Untuk k > 3 dan n j k j > 5, =1,2,…, , digunakan pendekatan dengan distribusi kai-kuadrat dengan derajat bebas k −1. Jika nilai H lebih besar atau sama dengan kai-kuadrat dengan derajat bebas k −1, maka tolak hipotesis nol pada taraf nyata α tertentu.

Uji Median (skripsi dan tesis)

Untuk melakukan pengujian dengan uji Median, diperlukan beberapa asumsi. Asumsi-asumsi tersebut adalah sebagai berikut (Conover,1971): 1. Setiap contoh adalah contoh acak. 2. Contoh-contoh acak tersebut saling bebas. 3. Skala pengukurannya minimal skala ordinal. 4. Jika setiap populasi memiliki median yang sama, semua populasi memiliki peluang yang sama p dari sebuah pengamatan lebih besar dari median keseluruhan yang sama pula. Hipotesis yang diuji pada uji Median adalah apakah semua contoh yang diambil berasal dari populasi-populasi yang memiliki median-median yang sama.. Hipotesis dapat dituliskan menjadi: H0 H1 : : Semua k populasi memiliki median yang sama Minimal ada satu median populasi yang berbeda

Uji Nonparametrik (skripsi dan tesis)

Uji nonparametrik perlakuan tetap menggunakan data tidak normal. Namun, data yang diproses dalam pengujian atau yang dihitung menggunakan masing-masing statistik ujinya bukan data asli hasil pengamatan, akan tetapi merupakan data ordinal. Data ordinal ini merupakan data baru yang diperoleh dari pemberian pringkat pada data pengamatan asli. Uji nonparametrik perlakuan tetap ini semuanya menggunakan distribusi kaikuadrat sebagai pendekatan, kecuali untuk uji Bell-Doksum. Pada uji Bell-Doksum distribusi kai-kuadrat bukan distribusi pendekatan tetapi merupakan distribusi pasti uji tersebut. Distribusi kai-kuadrat digunakan sebagai pendekatan untuk contoh besar karena kesulitan memperoleh distribusi pasti masing-masing uji. Distribusi kai-kuadrat yang digunakan dalam pembahasan ini menggunakan parameter yang sama yaitu derajat bebasnya k −1. Oleh karenanya, pemahaman mengenai distribusi kai-kuadrat merupakan hal mendasar yang perlu dikenal sebelum melakukan pengujian dengan menggunakan uji-uji nonparametrik ini

Uji Pengaruh Perlakuan Perlakuan Tetap pada RAL (skripsi dan tesis)

Model RAL merupakan model rancangan percobanan yang sederhana. Total variasi pada RAL dibagi menjadi dua, yaitu variasi perlakuan dan variasi galat. Atau dapat dituliskan menjadi Total variasi = variasi perlakuan + variasi galat (1) Dapat juga dituliskan dengan model linier menjadi Yij j ij = μ +τ + ε untuk n j i = 1,2,…, dan j = 1,2,…, k (2) dengan asumsi ( ) 2 ε ij ~ NID 0,σ dan ∑= = k j n j j 1 τ 0 . Banyaknya k perlakuan yang digunakan pada RAL didefinisikan sebagai sebuah himpunan dari k perlakuan populasi yang memiliki rata-rata μ μ μ k , , , 1 2 ” sering disebut rata-rata perlakuan. Dimana rata-rata inilah yang akan diuji pada rancangan acak pengaruh tetap. Apakah semua rata-rata perlakuan tersebut semuanya sama atau tidak. Uji pengaruh perlakuan tetap tetap pada RAL yaitu menguji serentak kesamaan rata-rata perlakuan atau menguji pengaruh perlakuan sama dengan nol. Hipotesis nol ditulis: H0 : μ1 = μ 2 = ” = μ k atau H0 : Semua rata-rata perlakuan sama atau H0 : 0 τ j = , untuk setiap j Jika hipotesis nol diterima, maka rata-rata perlakuan masing-masing populasi sama. Ini mengindikasikan bahwa pengaruh perlakuan tetap pada masing-masing populasi. Pengujian pengaruh perlakuan tetap pada RAL dapat dilakukan dengan metode parametrik maupun metode nonparametrik. Untuk metode parametrik dapat digunakan Analisis Varian (ANAVA) atau uji F , sedangkan untuk uji nonparametrik dapat digunakan uji Median, uji Kruskal-Wallis, dan uji Bell-Doksum.

Uji Kolmogorov-Smirnov Dua Sampel (skripsi dan tesis)

Fungsi Pengujian : Pengujian Satu Sisi adalah untuk menguji perbedaan nilai tengah (median), sedangkan pengujian Dua Sisi untuk menguji berbagai jenis/sembarang perbedaan {(nilai tengah (median), kemencengan (skewness), pemencaran (dispersi)} dua buah populasi yang tidak berpasangan. Persyaratan Data : Data setidak-tidaknya memiliki skala ordinal.
Prosedur Pengujian :
1. Tentukan sebaran frekuensi kumulatif Sn1(x) dan Sn2(x) dalam interval-interval. Jika memungkinkan interval dibuat sebanyak mungkin.
 2. Susun skor hasil pengamatan dalam sebaran frekuensi kumulatif Sn1(x) dan Sn2(x).
3. Untuk tiap interval, hitung selisih Sn1(x) dan Sn2(x).
4. Hitung harga D maksimum dengan memakai rumus (5.7).
 5. Bila n1 = n2 = N dan jika N ≤ 40, gunakan Tabel L (Siegel, 1997). Tentukan harga p untuk harga KD atau pembilang D maksimum bagi pengujian dua sisi atau satu sisi. Jika KD ≥ KDTabel L, maka tolak Ho.
 6. Seandainya n1 dan n2 > 40 dan perlu dilakukan Uji Dua Sisi (n1 dan n2 tidak harus berjumlah sama), gunakan rumus yang ada pada Tabel M (Siegel, 1997) untuk menghitung harga D bagi pengujian dua sisi gunakan rumus (5.8). Jika D ≥ DTabelM, tolak Ho.
 7. Seandainya n1 dan n2 > 40 dan perlu dilakukan Uji Satu Sisi, hitung harga χ 2 berdasarkan harga D maksimum, dengan memakai rumus (5.9). Selanjutnya gunakan Tabel C (Siegel, 1997) untuk harga χ 2 pada db = 2. Jika p yang diamati ≤ α , maka tolak Ho.

Uji U Mann-Whitney (skripsi dan tesis)

Fungsi Pengujian : Untuk menguji perbedaan nilai tengah (median) skor dua buah populasi berdasarkan dua sampel yang tidak berpasangan. Persyaratan Data : Data paling tidak memiliki sakala ordinal.

Prosedur Pengujian :

 1. Tentukan jumlah n1 dan n2. Dalam pengertian ini n1 adalah jumlah sampel yang berukur lebih kecil dari n2.

2. Gabungkan n1 dan n2, berikan rangking kepada skor-skornya dengan memperhatikan tanda + dan -. Skor disusun dari mulai 1 – k (=n1+n2). Untuk rangking kembar cari ratarata rangkingnya.

3. Untuk 3 ≤ n1 dan n2 ≤ 8. Perhatikan frekuensi skor n1 dan n2 dalam urutan skor gabungan. Hitung jumlah frekuensi skor n1 yang mendahului n2 atau sebaliknya. Jumlah seluruh frekuensi skor yang mendahului = U. Selanjutnya gunakan Tabel J (Siegel, 1997). Tentukan probabilitas (p) yang dikaitkan dengan terjadinya suatu harga sebesar U menurut n1 dan n2. Seandainya harga U tidak ditemukan dalam Tabel J, buat modifikasi dengan memakai rumus (5.4). Harga-harga p tersebut dipakai untuk pengujian satu sisi, sedangkan untuk melakukan pengujian dua sisi harga p = 2 x pTabel . Jika p ≤ α, maka tolak Ho.

 4. Untuk 9 ≤ n2 ≤ 20. Perhatikan frekuensi skor n1 dan n2 dalam urutan skor gabungan. Hitung jumlah frekuensi skor n1 yang mendahului n2 atau sebaliknya. Jumlah seluruh frekuensi skor yang mendahului = U. Selanjutnya gunakan Tabel K (Siegel, 1997). Tentukan probabilitas (p) yang dikaitkan dengan terjadinya suatu harga sebesar U menurut n1 dan n2. Seandainya harga U tidak ditemukan dalam Tabel K, buat modifikasi dengan memakai rumus (5.4). Harga-harga p tersebut dipakai untuk pengujian satu sisi, sedangkan untuk melakukan pengujian dua sisi harga p = 2 x pTabel . Jika p ≤ α, maka tolak Ho.

 5. Untuk n2 > 21. Perhatikan frekuensi skor n1 dan n2 dalam urutan skor gabungan. Hitung jumlah frekuensi skor n1 yang mendahului n2. Jumlah seluruh frekuensi skor n1 yang mendahului n2 = U. Hitung Harga z dengan memakai rumus (5.5). Selanjutnya gunakan Tabel A (Siegel, 1997). Tentukan probabilitas (p) yang dikaitkan dengan terjadinya suatu harga z. Hargaharga p tersebut dipakai untuk pengujian satu sisi, sedangkan untuk melakukan pengujian dua sisi harga p = 2 x pTabel . Jika p ≤ α, maka tolak Ho.