Menurut Kadarsyah Suryadi dan Ali Ramdhani, 1998. Metode
Analytical Hierarchy Process dilakukan dengan langkah-langkah sebagai
berikut:
1. Mendefinisikan masalah dan menentukan solusi yang diinginkan.
Dalam tahap ini terlebih dahulu menentukan masalah yang akan
dipecahkan secara jelas, detail dan mudah dipahami. Dari masalah
yang ada kemudian tentukan solusi yang mungkin cocok bagi
masalah tersebut. Solusi dari masalah mungkin berjumlah lebih
dari satu. Solusi tersebut nantinya dikembangkan lebih lanjut
dalam tahap berikutnya.
2. Membuat struktur hierarki yang diawali dengan tujuan utama.
Setelah menyusun tujuan utama sebagai level teratas akan disusun
level hirarki yang berada dibawahnya yaitu kriteria-kriteria yang
cocok untuk menilai alternatif yang diberikan dan menentukan
alternatif tersebut. Tiap criteria mempunyai intensitas yang
berbeda-beda. Hirarki dilanjutkan dengan subkriteria (jika
mungkin diperlukan).
3. Membuat matrik perbandingan berpasangan yang
menggambarkan kontribusi relatif atau pengaruh setiap elemen
terhadap tujuan atau criteria yang setingkat di atasnya. Matriks
yang digunakan bersifat sederhana, memiliki kedudukan kuat
untuk kerangka konsistensi, mendapatkan informasi lain yang
mungkin dibutuhkan dengan semua perbandingan yang mungkin
dan mampu menganalisis kepekaan prioritas secara keseluruhan
untuk perubahan pertimbangan. Pendekatan dengan matriks
mencerminkan aspek ganda dalam prioritas yaitu mendominasi
dan didominasi. Perbandingan dilakukan berdasarkan judgment
dari pengambil keputusan dengan menilai tingkat kepentingan
suatu elemen dibandingkan elemen lainnya. Untuk memulai
proses perbandingan berpasangan dipilih sebuah criteria dari level
paling atas hirarki misalnya K dan kemudian dari level di
bawahnya diambil elemen yang akan dibandingkan misalnya A1,
A2, A3, A4, A5, An.
4. Melakukan perbandingan berpasangan sehingga diperoleh jumlah
penilaian seluruhnya sebanyak n x [(n-1)/2] buah, dengan n adalah
banyaknya elemen kriteria yang dibandingkan. Hasil
perbandingan dari masing-masing elemen berupa angka dari 1
sampai 9 yang mengartikan perbandingan tingkat kepentingan
suatu elemen. Apabila suatu elemen dalam matriks dibandingkan
dengan dirinya sendiri maka hasil perbandingan diberi nilai 1.
Skala 9 telah terbukti dapat diterima dan bisa membedakan
intensitas antar elemen. Hasil perbandingan tersebut diisikan pada
sel yang bersesuaian dengan elemen yang dibandingkan 5. Menghitung nilai eigen dan menguji konsistensinya. Jika tidak
konsisten maka pengambilan data diulangi.
6. Mengulangi langkah 3,4, dan 5 untuk seluruh tingkat hirarki.
7. Menghitung vektor eigen dari setiap matriks perbandingan
berpasangan yang merupakan bobot setiap elemen untuk
penentuan prioritas elemen elemen pada tingkat hirarki terendah
sampai mencapai tujuan. Penghitungan dilakukan lewat cara
menjumlahkan nilai setiap kolom dari matriks, membagi setiap
nilai dari kolom dengan total kolom yang bersangkutan untuk
memperoleh normalisasi matriks, dan menjumlahkan nilai-nilai
dari setiap baris dan membaginya dengan jumlah elemen untuk
mendapatkan rata-rata.
8. Memeriksa konsistensi hierarki.
Yang diukur dalam Metode Analytical Hierarchy Process adalah
rasio konsistensi dengan melihat index konsistensi. Konsistensi
yang diharapkan adalah yang mendekati sempurna agar
menghasilkan keputusan yang mendekati valid. Walaupun sulit
untuk mencapai yang sempurna, rasio konsistensi diharapkan
kurang dari atau sama dengan 10%
