Pengertian Manajemen Kurikulum

 Istilah kurikulum dimulai sejak jaman kejayaan bidang olah raga di Athena yang menunjuk pada pengertian “Jarak yang harus ditempuh oleh seorang pelari dan garis start sampai finish”. Dengan penggunaan kata kurikulum tersebut didalam dunia pendidikan, berarti menyamakan peserta didik sebagai seorang  petani, yang menempuh jarak kegiatan belajar dari awal memasuki sekolah sampai tamat sekolah tersebut (Suharsimi Arikunto, 2000:8). Menurut Finch (1979:7), kurikulum didefinisikan sebagai penjumlahan dari aktivitas dan pengalaman siswa di bawah bantuan atau arahan sekolah. Dengan melihat uraian di atas dapat disimpulkan bahwa kurikulum adalah segala kesempatan untuk memperoleh pengalaman belajar yang dituangkan dalam bentuk yang sistematis yang digunakan sebagai pedoman penyelenggaraan kegiatan pembelajaran di sekolah untuk mencapai tujuan pendidikan tertentu. Dengan mengacu pada kesimpulan pengertian di atas maka yang dimaksud dengan kurikulum pada penelitian mi adalah segala kesempatan bagi siswa untuk memperoleh pengalaman yang dituangkan dalam bentuk rencana yang digunakan sebagai pedoman penyelenggaraan kegiatan pembelajaran di Program Keahlian Tata Boga untuk mencapai tujuan kegiatan tertentu. Pengertian tersebut memunculkan wujud kurikulum yang berupa kurikulum tertulis maupun kurikulum tidak tertulis (hidden curriculum) seperti sarana, metode, lingkungan pembelajaran, dan sebagainya

Pengertian Manajemen Pendidikan

Menurut Bush dalam Bush dan Coleman (2000:4) menyatakan “Manajemen pendidikan adalah suatu studi dan praktek yang dikaitkan atau diarahkan dalam operasional organisasi pendidikan”. Organisasi pendidikan membutuhkan suatu bentuk pengaturan kegiatan. Pengaturan kegiatan tersebut mengarah pada suatu sistem yang sistematis. Pengaturan kegiatan yang sistematis itu akan dijadikan sebagai patokan dalam pelaksanaan kegiatan operasional yang terwujud dalam suatu manajemen pendidikan. Seperti yang diungkap oleh Suharsimi (2008:4), menyatakan “Manajemen pendidikan adalah suatu kegiatan atau rangkaian kegiatan yang berupa proses pengelolaan usaha kerjasama sekelompok manusia yang tergabung dalam organisasi pendidikan, untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan sebelumnya, agar efektif dan efisien”. Dari pernyataan tersebut dapat ditarik kesimpulan awal, dalam suatu manajemen diperlukan adanya kerjasama, sekelompok orang, dan tujuan yang akan dicapai. Tentu dalam menjalani proses tersebut harus tepat sasaran dan tepat guna. Lebih lanjut, yang dikelola dalam manajemen adalah semua bentuk kegiatan yang dikelompokkan dalam komponen-komponen. Komponen-komponen manajemen pendidikan meliputi: (1) manajemen kesiswaan; (2) manajemen personil; (3) manajemen kurikulum; (4) manajemen sarana; (5) manajemen pembiayaan: (6) manajemen lembaga-lembaga pendidikan dan terakhir; (7) manajemen hubungan masyarakat (Suharsimi,2008:4). Sejalan hal di atas, menurut Hikmat (2009:21), “Manajemen pendidikan adalah keseluruhan proses penyelenggaraan dalam usaha kerja sama dua orang atau lebih clan atau usaha bersama untuk mendayagunakan semua sumber (non material maupun material) secara efektif, efisien dan rasional untuk menunjang tercapainya tujuan pendidikan”. Dari pernyataan tersebut selain kerjasama, sekelompok orang, dan tujuan ditambahkan sumber daya organisasi, baik personil maupun material. Beli au juga mengungkapkan manajemen pendidikan manajer kepala sekolah memiliki tugas untuk(1) mengelola seluruh program pendidikan; (2) mengelola aktivitas anak didik; (3) mengelola personil lembaga pendidikan; (4) mengelola pengadministrasian; (5) mengelola kebendaharaan lembaga pendidikan; (6) mengelola pelayanan bantuan tenaga kependidikan; (7) mengelola hubungan lembaga pendidikan dengan lingkungan masyarakat. Menurut Suryosubroto (2004:27), Manajemen pendidikan merupakan (1) berupa kerjasama personil pendidikan untuk mencapai tujuan pendidikan. Tujuan umum yang dicapai dalam kerjasama itu adalah pembentukan kepribadian murid sesuai dengan tujuan pendidikan nasional clan tingkat perkembangannya pada usia pendidikan; (2) suatu proses yang merupakan daur (siklus) penyelenggaraan pendidikan dimulai dari perencanaan, diikuti oleh pengorganisasian, pengerahan, pelaksanaan, pemantauan dan penilaian tentang usaha sekolah untuk mencapai tujuan; (3) usaha untuk melakukan pengelolaan sistem pendidikan; (4) kegiatan menghimpun, mengambil
  keputusan serta berkomunikasi dengan organisasi sekolah sebagai usaha untuk mencapai tujuan pendidikan. Pernyataan itu juga menyatakan hal yang sama dalam manajemen pendidikan. Bahwa manajemen pendidikan membutuhkan kerjasama, kelompok manusia, dan tujuan serta sumber daya yang akan dikelola rnelalui komponen yang ada dalam manajemen tersebut. Menurut Suharno (2008:19), sedikitnya terdapat tujuh komponen sekolah yang harus dikelola dengan balk dalam rangka Manajemen Berbasis Sekolah (MBS), yaitu: (1) kurikulum dan pengajaran; (2) tenaga kependidikan; (3) kesiswaan; (4) keuangan; (5) sarana dan prasarana; (6) pengelolaan hubungan sekolah dan masyarakat manajemen pelayanan khusus dan manajemen waktu.

Manajemen Berbasis Sekolah (MBS)

Istilah manajemen berbasis sekolah merupakan terjemahan dari “School-based manajement”. Istilah ini pertama kali muncul di Amerika Serikat pada saat masyarakat mempertanyakan relevansi pendidikan dengan tuntutan dan perkembangan masyarakat setempat (Mulyasa, 2009: 24). Manajemen Berbasis Sekolah (MBS) merupakan salah satu upaya pemerintah untuk mencapai keunggulan masyakarat bangsa dalam penguasaan ilmu dan teknologi. Dari segi bahasa, Manajemen Berbasis Sekolah (MBS) berasal dari kata manajemen, Berbasis dan Sekolah. Manajemen adalah proses penggunaan sumber daya secara efektik dan efisien untuk mencapai sasaran. Berbasis berasal dari kata dasar basis yang artinya dasar atau asas. Sekolah adalah tempat untuk belajar mengajar. Berdasarkan hal tersebut, maka MBS dapat diartikan sebagai pengguna sumberdaya yang berasaskan pada sekolah itu sendiri dalam proses pengajaran atau pembelajaran (Nurkolis, 2003: 1). Sedangkan menurut (Permadi, 2010: 26) Manajemen Berbasis Sekolah (MBS) adalah model pengelolaan yang memberikan otonomi atau kemandirian kepada sekolah dan mendorong pengambilan keputusan partisipatif yang melibatkan secara langsung semua warga sekolah sesuai dengan standar pelayanan yang ditetapkan oleh pemerintah pusat, provinsi, kabupaten dan kota.

 Tujuan utama MBS adalah meningkatkan efisiensi, mutu dan pemerataan pendidikan. Peningkatan efisiensi diperoleh melalui keleluasan pengelola sumber daya yang ada, partisipasi masyarakat, dan penyederhanaan birokrasi. Peningkatan mutu diperoleh melalui partisipasi orangtua, kelenturan pengelolah sekolah, peningkatan profesionalisme guru, adanya hadiah dan hukuman sebagai kontrol, serta hal lain yang dapat menumbuhkembangkan suasana yang kondusif. Pemerataan pendidikan ini tampak pada tumbuhnya partisipasi masyarakat, terutama masyarakat yang mampu dan peduli, terhadap pendidikan, sedangkan masyarakat yang kurang mampu akan menjadi tanggunjawab pemerintah (Mulyasa, 2009: 13)

Penilaian Kinerja

Menurut Larry D. Stout dalam Hessel Nogi (2005: 174) mengemukakan bahwa pengukuran atau penilaian kinerja organisasi merupakan proses mencatat dan mengukur pencapaian pelaksanaan kegiatan dalam arah pencapaian misi (mission accomplishment) Melalui hasil yang ditampilkan berupa produk jasa ataupun suatu proses. Berbeda dengan pernyataan yang dikemukakan oleh Bastian (2001: 330) dalam Hessel (2005: 173) bahwa pengukuran dan pemanfaatan penilaian kinerja akan mendorong pencapaian tujuan organisasi dan akan memberikan umpan balik untuk upaya perbaikan secara terus menerus. Secara rinci, Bastian mengemukakan peranan penilaian pengukuran kinerja organisasi sebagai berikut: a.Memastikan pemahaman para pelaksana dan ukuran yang digunakan untuk pencapaian prestasi, b.Memastikan tercapainya skema prestasi yang disepakati,

 c.Memonitor dan mengevaluasi kinerja dengan perbandingan antara skema kerja dan pelaksanaannya, d.Memberikan penghargaan maupun hukuman yang objektif atas prestasi pelaksanaan yang telah diukur, sesuai dengan sistem pengukuran yang telah disepakati, e.Menjadikannya sebagai alat komunikasi antara bawahan dan pimpinan dalam upaya memperbaiki kinerja organisasi, f.Mengidentifikasi apakah kepuasan pelanggan sudah terpenuhi, g.Membantu proses kegiatan organisasi,h.Memastikan bahwa pengambilan keputusan dilakukan secara objektif, i.Menunjukkan peningkatan yang perlu dilakukan, j.Mengungkapkan permasalahan yang terjadi.

Konsep Manajemen Pendidikan

 Konsep manajemen tentu kita harus tahu terlebih dahulu apa itu manajemen. Banyak teori yang menjelaskan tentang manajemen yang dinyatakan oleh para pakar dengan teori yang berbeda-beda tetapi pada hakekatnya mempunyai tujan yang sama. Kata Manajemen berasal dari bahasa Inggris to manage (kata kerja), management ( kata kerja), dan manageruntuk orang yang melakukan. Bila diterjemahkan ke Bahasa Indonesia menjadi manajemen (pengelolaan). Manajemen menurut Husaini Usman (2014: 6) juga menyatakan bahwa manajemen adalah serangkaian kegiatan yang diarahkan langsung untuk penggunaan sumber daya organisasi secara efektif dan efesien dalam rangka mencapai tujuan organisasi. Meskipun banyak definisi manajemen yang telah diungkapkan para ahli sesuai pandangan dan pendekatannya masing-masing, seperti Barnard (1938), Terry (1960), Gray ( 1982) dan lain-lain , namun tidak satupun yang memuaskan. Walaupun demikian, esensi manajemendapat dipan-dang, baik sebagai proses ( fungsi) yang meliputi POLC. Pengetian Manajemen dalam arti luas adalah perencanaan, pelaksanaan, dan pengawasan (P3) sumber daya organisasi untuk mencapai tujuan secara efektif dan efisien. Manajemen dalam arti sempit adalah manajemen sekolah/ madarasah yang meliputi: perencanaan sekolah/ madarasah yang meliputi perencanaan program sekolah/ madarasah, pelaksanaan program sekolah/ madarasah, kepemimpinan kepala sekolah/ madarasah, pegawai/evaluasi, dan sistem informasikan sekolah/ madrasah. Robin and Coulter (2009), menyatakan bahwa “management is universally needed in all organizations”. Manajemen diperlukan semua organisasi dan bersifat universal. Manajemen bisa diterapkan pada: 1. semua organisasi, kecil maupun besar, 2. Semua tipe organisasi, financial dan non financial, 3. Semua tingkatan organisasi, 4. Semua area organisasi (manufaktur, pemasaran, SDM, dan lain-lain). Fungsi manajemen menurut perencanaan, pengorganisasian, pelaksanaan, pengendalian. Robin and Coulter (2009), perencanaan, pengorganisasian, kepemimpinan, pengendalian. Kegiatan manajer secara deskriptif sebagai berikut: 1. Personal Activities, 2. Interactional Activities, 3. Administrative Activities, 4. Technical Activities. Manajemen adalah koordinasi dan pengawasan terhadap pekerjaan orang lain, sehingga tujuan pekerjaan betul-betul tercapai efektif dan efisien. (Stephen P Robbins, May Coulter, 2009). Manajemen dapat didefinisikan sebagai “proses perencanaan, pengorganisasian, pengisian staf, pemimpinan, dan pengontrolan untuk optimasi penggunaan sumber-sumber dan pelaksanaan tugas-tugas dalam mencapai tujuan organisasi secara efektif dan efisien”. Manajemen adalah suatu proses dalam rangka mencapai tujuan dengan bekerja bersama melalui orang-orang dan sumber daya organisasi lainnya. Menurut Ricky W. Griffin manajemen adalah sebagai sebuah proses perencanaan, pengorganisasian, pengkoordinasian, dan pengontrolan sumber daya untuk mencapai sasaran secara efektif dan efesien. Efektif
 berarti bahwa tujuan dapat dicapai sesuai dengan perencanaan, sementara efisien berarti bahwa tugas yang ada dilaksanakan secara benar, terorganisir, dan sesuai dengan jadwa

Sistem Pendidikan PAUD

a) Pendidikan Non Formal Di Keluarga.
Keluarga adalah lingkungan pertama dan utama dalam kehidupan anak
didalam keluagalah anak mendapat contoh pendidkan serta bimbingan awal dari
orang tua bagaiman seharus nya bersikap, berprilaku dan kerjasama dengan baik.
Penenaman dan pembetukan sikap, kebiasaan dan pola tingkah laku pada massa
kanak-kanak dapat dikatakan sepenuh nya terletak pada cara orang tua mengasuh
(Yusuf, 2007).

b) Pendidkan Formal Di PAUD
Paud adalah suatu lembaga yang di tunjukan kepada anak , sejak lahir sampai
pada usia 6 tahunyang di lakukan melalui pemberian pemualaan pendidikan untuk
membantu pertumbuhan dan perkembangan jasmani dan rohani supaya anak
memiliki kesiapan dalam rangka memsauki pendidikan lebih lanjut (Hidayah, 2009).
PAUD merupan suatu pendidkan yang di tunjukan pada anak usia 3 sampai 6 tahun,
akan tetapi menurut UU NO 20 tahun 2003 pasal 28 mengatakan bahwa pendidikan
anak di selenggarakan sebelum jenjang pendidikan dasar. Pendidikan anak usia dini
perlu dilalukan perlu di lakukan bagi anak sejak lahir sampai usia 6 tahun
(Rahman,2009).
Tujuan utama pendidikan anak usia dini adalah menfasilitasi pertumbuhan
dan perkembangan anak sejak awal yang mencakup aspek fisik, psisikis, dan sosial
secara menyeluruh. Diharapkan anak lebih siap untuk beljar lebih lanjut. Bukan hanya
belajar secara akademik di sekolah, melaikan juga sosial emosional,seta moral
disemua lingkungan (Hartani dkk, 2010).

Prinsip-Prinsip Pendidikan Anak Usia Dini

Usia dini merupakan periode penting bagi pembentukan kepribadian anak.
Oleh karena itu proses pendidikan yang baik dan ideal seharusnya dilakukan sejak
anak lahir bahkan semenjak anak dala kandungan. Simulasi dan asupan gizi yang
diberikan pada anak usia dini akan memerikan pengaruh bagi lajunya pertumbunhan
dan perkembangan anak serta sikap dan perilaku sepanjang rentang kehidupannya.
Dalam buku panduan Pedoman penyelenggaraan Pos PAUD disebutkan
bahwa prinsip-prisnipya penyelenggaraan PAUD didasarkan kepada hal-hal adalah
sebagai berikut :
a. Berorientasi pada kebutuhan anak. Kegiatan belajar harus selalu ditujukan pada
pemenuhan kebutuhan perkembangan masing-masing anak sebagai individu.
b. Kegiatan belajar dilakukan melalui bermain. Dengan bermain yang
menyenangkan dapat merangsang anak untuk melakukan esplorasi dengan
menggunakan benda benda Kegiatan belajar dilakukan melalui bermain. Dengan
bermain yang menyenangkan dapat merangsang anak untuk melakukan esplorasi
dengan menggunakan benda-benda.
c. Merangsang munculnya kreativitas dan inovasi. Kreativitas dan inovasi
tercermin melalui kegiatan yang membuat anak tertarik, fokus, serius dan
konsentrasi.

d. Menyediakan lingkungan yang mendukung proses belajar. Lingkungan harus
diciptakan menjadi lingkungan yang menarik dan menyenangkan bagi anak
selama mereka bermain.
e. Mengembangkan kecakapan hidup anak. Kecakapan hidup diarahkan untuk
membantu anak menjadi mandiri, displin, mampu bersosialisasi, dan memiliki
kereampilan dasar yang berguna bagi kehidupannya kelak.
f. Menggunakan berbgai sumber dan media belajar yang ada dilingkungan sekitar.
g. Dilaksanakan secara bertahap dengan mengacu pada prinsip-prinsip
perkembangan anak.
Rangsangan pendidikan mencakup semua aspek perkembangan. Rangsangan
pendidikan bersifat menyeluruh yang mencakup semua aspek perkembangan. Saat
anak melakukan sesautu sesungguhnya ia sedang mengembangkan berbagai aspek
perkembangan/kecerdasannya (Andryani, 2012)

Pengertian Pendikan anak usia dini

Anak usia dini adalah investasi yang amat besar bagi keluarga dan bagi
bangsa. Anak-anak kita adalah generasi penerus keluarga dan sekaligus penerus
bangsa. Menurut Direktorat PAUD pengertiannya adalah Pendidikan Anak Usia
Dini, adalah suatu upaya pembinaan yang ditujukan kepada anak sejak usia dini yang
dilakukan melalui pemberian rangsangan pendidikan untuk membantu pertumbuhan
dan perkembangan jasmani dan rohani, agar anak memiliki kesiapan dalam memasuki
pendidikan dasar dan kehidupan tahapan berikutnya (Andriani, 2012).
Anak usia dini merupakan individu yang berbeda, unik, dan memiliki
karakteristik tersendiri sesuai dengan tahapan usianya. Masa usia dini (0 – 6 tahun )
merupakan masa keemasan (golden age), yang pada masa ini stimulasi seluruh aspek
perkembangan berperan penting untuk tugas perkembangan selanjutnya. Perlu
disadari bahwa masa-masa awal kehidupan anak merupakan masa terpenting dalam
rentang kehidupan seseorang anak. Pada masa ini pertumbuhan otak sedang
mengalami perkembangan yang sangat pesat. Mengingat pentingnya masa ini, maka
peran stimulasi berupa penyediaan lingkungan yang kondusif harus disiapkan oleh
para pendidik, baik orang tua, guru, pengasuh ataupun orang dewasa lain yang ada di
sekitar anak, sehingga anak memilki kesempatan untuk mengembangkan potensinya.
Potensi yang dimaksud meliputi aspek moral dan nilai-nilai agama, sosial, emosional
dan kemandirian, kemampuan berbahasa, kognitif, fisik/motorik, dan seni. Pendidikan anak usia dini diberikan pada awal kehidupan anak untuk dapat
berkembang secara optimal (Lusi, 2014).
Dalam hal ini Kemampuan anak sangat penting penanamannya dalam
mengembangkan potensi yang ada pada diri anak. Idealnya kemampuannya
berbahasa munurut Aisyah, dkk (2007) menyatakan.”dari segi berpikir dan
berkomunikasi anak itu sudah bisa menjawab pertannyaan dengan jelas, dapat
bercerita menganai hal yang terjadi pada situasi nyata, dapat memberikan informasi
walaupun masih sulit dalam mencari atau menggunakan kata-kata yang tepat (Pipit,
2007).
Pendidikan usia dini merupakan periode yang penting dan perlu mendapat
penanganan sedini mungkin. Usia 3-6 tahun merupakan periode sensitif atau masa
peka pada anak, yaitu suatu periode dimana suatu fungsi tertentu perlu distimulus,
diarahkan sehingga tidak terhambat perkembangannya. Pemberian stimulus
merupakan hal yang sangat membantu anak untuk berkembang. Anak yang
terstimulus dengan baik dan sempurna maka tidak hanya satu perkembangan saja
yang akan berkembang tapi bisa bermacam-macam aspek perkembangan yang
berkembang dengan baik. Masa ini untuk melakukan dasar pertama dalam
mengembangkan kemampuan fisik, kognitif, bahasa, sosial, emosional, konsep diri,
disiplin, kemandirian dan lain-lain (Lolita, 2012).
PAUD merupakan salah satu bentuk penyelenggaraan pendidikan yang
menitikberatkan pada peletakan dasar ke arah pertumbuhan dan perkembangan
fisik (koordinasi motorik halus dan kasar), kecerdasan (daya pikir, daya cipta,
kecerdasan emosi, kecerdasan spiritual), sosio emosional (sikap dan perilaku serta agama) bahasa dan komunikasi, sesuai dengan keunikan dan tahaptahap
perkembangan yang dilalui oleh anak usia dini (Tejawati, 2011)

 Pengertian dan Karakteristik Laba (skripsi dan tesis)

Setiap perusahaan pasti menginginkan memproleh laba yang maksimal atas
usaha yang dikelolanya sehingga perusahaan dapat terus maju dan berkembang
serta kegiatan operasional perusahaan dapat berjalan dengan lancar.
Menurut Reev, Warren dkk (2005:3), “laba (Profit) atau keuntungan
merupakan selisih antara uang yang diterima dari pelanggan atas barang atau jasa
yang dihasilkan dan biaya yang dikeluarkan untuk input yang digunakan guna
menghasilkan barang dan jasa”.
Menurut Harahap (2008:113), “laba merupakan kelebihan penghasilan di
atas biaya selama satu periode akuntansi”.
Menurut Stice, Stice, Skousen (2009:240), “laba adalah pengambilan atas
investasi kepada pemilik. Hal ini mengukur nilai yang dapat diberikan oleh entitas
kepada investor dan entitas masih memiliki kekayaan yang sama dengan posisi
awalnya”.
Berdasarkan beberapa definisi di atas, dapat disimpulkan bahwa laba
merupakan kinerja perusahaan yang diukur dari pengurangan antara pendapatan
dan beban-beban perusahaan yang terjadi pada suatu periode tertentu.
Laba akuntansi memiliki lima karakteristik (Cahyaningrum, 2012) adalah
sebagai berikut:
1. Laba akuntansi didasarkan pada transaksi aktual terutama yang berasal
dari penjualan barang/jasa.
2. Laba akuntansi didasarkan pada postulat periodisasi dan mengacu pada
kinerja perusahaan selama satu periode tertentu.
3. Laba akuntansi didasarkan pada prinsip pendapatan yang memerlukan
pemahaman khusus tentang definisi pengukuran dan pengakuan
pendapatan.
4. Laba akuntansi memerlukan pengukuran tentang biaya (expenses) dalam
bentuk cost historis.
5. Laba akuntansi menghendaki adanya penandingan (matchin) antara
pendapatan dengan biaya yang relevan dan berkaitan dengan pendapatan
tersebut.
Salah satu pengukur kinerja perusahaan yaitu pertumbuhan laba.
Pertumbuhan laba dapat dihitung dengan cara mengurangkan laba perusahaan
periode sekarang dengan laba perusahaan periode sebelumnya selanjutnya dibagi
dengan laba perusahaan periode sebelumnya.

Model Pembelajaran Terpadu (skripsi dan tesis)

Dalam buku panduan pembelajaran tematik (Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan, 2016: 8) menyebutkan beberapa model tematik terpadu yang dikembangkan oleh Forgaty, yaitu (1) the fragmented model (model terpisah); (2) the connected model (model terhubung); (3) the nested model (model tersarang); (4) the sequenced model (model terurut); (5) the shared model (model terbagi); (6) the webbed model (model jaring laba-laba); (7) the threaded model (model disusupkan); (8) the integrated model (model terpadu); (9) the immersed model (model terbenam); (10) the networked model (model jaringan). Yang akan penulis jelaskan di sini ada dua macam contoh model pembelajaran terpadu dari Forgaty yang diterapkan pada pembelajaran tematik terpadu yaitu the webbed model (model jaring laba-laba) dan the integrated model (model terpadu). a) The Integrated Model (Model Terpadu) Model terpadu memadukan berbagai bidang studi berdasarkan keterampilan, konsep, dan sikap yang saling tumpang tindih. Pembelajaran model terpadu dirancang berdasarkan satu kegiatan yang dilakukan untuk mencapai berbagai 38 kompetensi dasar dari berbagai disipilin ilmu.

Manfaat Pembelajaran Tematik (skripsi dan tesis)

Dengan menerapkan pembelajaran tematik, peserta didik dan guru mendapatkan banyak manfaat. Diantara manfaat tersebut antara lain sebagai berikut (Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan. 2016: 10): 1) Pembelajaran mampu meningkatkan pemahaman konseptual peserta didik terhadap realitas sesuai dengan tingkat perkembangan intelektualitasnya. 2) Pembelajaran tematik memungkinkan peserta didik mampu mengeksporasi pengetahuan melalui serangkaian proses kegiatan pembelajaran. 3) Pembelajaran tematik mampu meningkatkan keeratan hubungan antarpeserta didik.  4) Pembelajaran tematik membantu guru dalam meningkatkan profesionalismenya. 5) Menyenangkan karena bertolak dari minat dan kebutuhan anak. 6) Hasil belajar akan bertahan lebih lama karena berkesan dan bermakna. 7) Mengembangkan keterampilan berfikir anak sesuai dengan permasalahan yang dihadapi. 8) Menumbuhkan keterampilan sosial dalam bekerja, toleransi, komunikasi, dan tanggap terhadap gagasan orang lain

Tujuan Pembelajaran Tematik (skripsi dan tesis)

Pembelajaran tematik dikembangkan selain untuk mencapai tujuan pembelajaran yang telah ditetapkan, diharapkan siswa juga dapat (Mohamad Muklis: 2012). 1) Meningkatkan pemahaman konsep yang dipelajarinya secara lebih bermakna. 2) Mengembangkan keterampilan menemukan, mengolah, dan memanfaatkan informasi. 3) Menumbuh kembangkan sikap positif, kebiasaan baik, dan nilai- nilai luhur yang diperlukan dalam kehidupan. 4) Menumbuh kembangkan keterampilan sosial seperti kerja sama, toleransi, komunikasi, serta menghargai pendapat orang lain. 5) Meningkatlkan gairah dalam belajar. 6) Memilih kegiatan yang sesuai dengan minat dan kebutuhannya Dalam buku panduan pembelajaran tematik (Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan. 2016: 10) adapun tujuan pembelajaran tematik yaitu sebagai berikut: 1) Mudah memusatkan perhatian pada satu tema atau topik tertentu. 2) Mempelajari pengetahuan dan mengembangkan berbagai kompetensi mata pelajaran dalam tema yang sama 36 3) Memiliki pemahaman terhadap materi pelajaran lebih mendalam dan berkesan. 4) Mengembangkan kompetensi berbahasa lebih baik dengan mengkaitkan berbagai mata pelajaran lain dengan pengalaman pribadi peserta didik. 5) Lebih bergairah belajar karena mereka dapat berkomunikasi dalam situasi nyata, seperti: bercerita, bertanya, menulis sekaligus mempelajari pelajaran yang lain. 6) Lebih merasakan manfaat dan makna belajar karena materi yang disajikan dalam konteks tema yang jelas 7) Guru dapat menghemat waktu, karena mata pelajaran yang disajikan secara terpadu dapat dipersiapkan sekaligus dan diberikan dalam 2 atau 3 pertemuan bahkan lebih dan atau pengayaan. 8) Budi pekerti dan moral peserta didik dapat ditumbuhkembangkan dengan mengangkat sejumlah nilai budi pekerti sesuai dengan situasi dan kondisi

Karakteristik Pembelajaran Tematik (skripsi dan tesis)

Sebagai suatu model proses, pembelajaran tematik memiliki karakteristikkarakteristik sebagai berikut (Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan. 2016: 10). 1) Berpusat pada siswa Pembelajaran tematik berpusat pada siswa (student centered), hal ini sesuai dengan pendekatan belajar modern yang lebih banyak menempatkan siswa sebagai subjek belajar sedangkan guru lebih banyak berperan sebagai fasilitator yaitu memberikan kemudahan-kemudahan kepada siswa untuk melakukan aktivitas belajar. 2) Memberikan pengalaman langsung Pembelajaran tematik dapat memberikan pengalaman langsung kepada siswa (direct experiences). Dengan pengalaman langsung ini, siswa dihadapkan pada sesuatu yang nyata (konkrit) sebagai dasar untuk memahami hal- hal yang lebih abstrak. 3) Pemisahan mata pelajaran tidak begitu jelas Dalam pembelajaran tematik pemisahan antar mata pelajaran menjadi tidak begitu jelas. Fokus pembelajaran diarahkan kepada pembahasan tema-tema yang paling dekat berkaitan dengan kehidupan siswa. 4) Menyajikan konsep dari berbagai mata pelajaran Pembelajaran tematik menyajikan konsep-konsep dari berbagai mata pelajaran dalam suatu proses pembelajaran. Dengan demikian, Siswa mampu memahami konsep-konsep tersebut secara utuh. Hal ini diperlukan untuk membantu siswa dalam memecahkan masalah-masalah yang dihadapi dalam kehidupan sehari-hari. 5) Bersifat fleksibel Pembelajaran tematik bersifat luwes (fleksibel) dimana guru dapat mengaitkan bahan ajar dari satu mata pelajaran dengan mata pelajaran yang lainnya,  bahkan mengaitkannya dengan kehidupan siswa dan keadaan lingkungan dimana sekolah dan siswa berada. 6) Hasil pembelajaran sesuai dengan minat dan kebutuhan siswa Siswa diberi kesempatan untuk mengoptimalkan potensi yang dimilikinya sesuai dengan minat dan kebutuhannya

Prinsip Dasar Pembelajaran Tematik (skripsi dan tesis)

Adapun prinsip yang mendasari pembelajaran tematik adalah sebagai berikut: 1) Terintegrasi dengan lingkungan atau bersifat kontekstual artinya dalam sebuah format keterkaitan antara kemampuan peserta didik dalam menemukan masalah dengan memecahkan masalah nyata yang dihadapi dalam kehidupan sehari-hari. 2) Memiliki tema sebagai alat pemersatu beberapa mata pelajaran atau bahan kajian. 3) Menggunakan prinsip belajar sambil bermain dan menyenangkan 4) Pembelajaran memberikan pengalaman langsung yang bermakna bagi peserta didik. 5) Menanamkan konsep dari berbagai mata pelajaran atau bahan kajian dalam suatu proses pembelajaran tertentu. 6) Pemisahan atau pembedaan antara satu mata pelajaran dengan mata pelajaran lain sulit dilakukan. 7) Pembelajaran dapat berkembang sesuai dengan kemampuan, kebutuhan, dan minat peserta didik. 8) Pembelajaran bersifat fleksibel. 9) Penggunaan variasi metode dalam pembelajaran

Pengertian Pembelajaran Tematik (skripsi dan tesis)

Ada beberapa pendapat yang menjelaskan tentang pembelajaran tematik yaitu sebagai berikut: yang pertama menurut (Mohamad Muklis, 2012: 66) pembelajaran tematik adalah suatu kegiatan pembelajaran dengan memadukan materi 32 beberapa pelajaran dalam satu tema, yang menekankan keterlibatan peserta didik dalam belajar dan pemberdayaan dalam memecahkan masalah, sehingga hal ini dapat menumbuhkan kreativitas sesuai dengan potensi dan kecenderungan mereka yang berbeda satu dengan yang lainnya. Menurut (Sun Haji, 2015: 60) Pembelajaran tematik adalah pembelajaran yang dirancang berdasarkan tema-tema tertentu, dalam pengertian lain pembelajaran tematik adalah pembelajaran terpadu yang menggunakan tema untuk mengaitkan beberapa mata pelajaran sehingga dapat memberikan pengalaman bermakna kepada peserta didik. Berdasarkan peraturan mentri pendidikan dan kebudayaan republik Indonesia nomor 24 tahun 2016 tentang kompetensi inti dan kompetensi dasar pelajaran pada kurikulum 2013 pada pendidikan dasar dan menengah BAB I Pasal 1 ayat 3 menjelaskan pelaksanaan pembelajaran pada Sekolah Dasar/Madrasah Ibtidaiyah (SD/MI) dilakukan dengan pendekatan pembelajaran tematik terpadu, kecuali untuk mata pelajaran Matematika dan Pendidikan Jasmani Olahraga dan Kesehatan (PJOK) sebagai mata pelajaran yang berdiri sendiri untuk kelas IV, V dan VI (B. Salinan Lampiran Permendikbud nomor 24: 2016).

Sasaran Gerakan Literasi Digital di Sekolah (skripsi dan tesis)

Dalam panduan literasi digital (Kemedikbud 2017:13) adapun sasaran penerapan dan pemanfaatan literasi digital di sekolah yaitu sebagai berikut: a) Basis Kelas 1) Meningkatnya jumlah pelatihan literasi digital yang diikuti kepala sekolah, guru, dan tenaga kependidikan. 2) Meningkatnya intensitas penerapan dan pemanfaatan literasi digital dalam kegiatan pembelajaran; dan 3) Meningkatnya pemahaman kepala sekolah, guru, tenaga kependidikan, dan siswa dalam menggunakan media digital dan internet. b) Basis Budaya Sekolah 1) Jumlah dan variasi bahan bacaan dan alat peraga berbasis digital; 2) Frekuensi peminjaman buku bertema digital; 3) Jumlah kegiatan di sekolah yang memanfaatkan teknologi dan informasi; 4) Jumlah penyajian informasi sekolah dengan menggunakan media digital atau situs laman; 5) Jumlah kebijakan sekolah tentang penggunaan dan pemanfaatan teknologi informasi dan komunikasi dan komunikasi di lingkungan sekolah; dan 6) Tingkat pemanfaatan dan penerapan teknologi informasi dan komunikasi dan komunikasi dalam hal layanan sekolah (misalnya, rapor-e, pengelolaan keuangan, dapodik, pemanfaatan data siswa, profil sekolah, dsb.)

Indikator Literasi Digital di Sekolah (skripsi dan tesis)

Dalam (Kemedikbud 2017:10-11) adapun indikator penerapan dan pemanfaatan literasi digital di sekolah yaitu akan di jelaskan sebagai berikut: 26 a) Basis Kelas 1) Jumlah pelatihan literasi digital yang diikuti oleh kepala sekolah, guru, dan tenaga kependidikan; 2) Intensitas penerapan dan pemanfaatan literasi digital dalam kegiatan pembelajaran; dan 3) Tingkat pemahaman kepala sekolah, guru, tenaga kependidikan, dan siswa dalam menggunakan media digital dan internet b) Basis Budaya Sekolah 1) Jumlah dan variasi bahan bacaan dan alat peraga berbasis digital; 2) Frekuensi peminjaman buku bertema digital; 3) Jumlah kegiatan di sekolah yang memanfaatkan teknologi dan informasi; 4) Jumlah penyajian informasi sekolah dengan menggunakan media digital atau situs laman; 5) Jumlah kebijakan sekolah tentang penggunaan dan pemanfaatan teknologi informasi dan komunikasi di lingkungan sekolah; dan 6) Tingkat pemanfaatan dan penerapan teknologi informasi dan komunikasi dan komunikasi dalam hal layanan sekolah (misalnya, rapor-e, pengelolaan keuangan, dapodik, pemanfaatan data siswa, profil sekolah, dsb.) 7) Basis Masyarakat Jumlah sarana dan prasarana yang mendukung literasi digital di sekolah; dan 8) Tingkat keterlibatan orang tua, komunitas, dan lembaga dalam pengembangan literasi digital.

Prinsip Dasar Pengembangan Literasi Digital (skripsi dan tesis)

Dalam buku materi pedukung literasi digital (Kemedikbud 2017: 8) UNESCO menjelaskan konsep literasi digital menaungi dan menjadi landasan penting bagi kemampuan memahami perangkat-perangkat teknologi, informasi, dan komunikasi. Misalnya, dalam Literasi TIK (ICT Literacy) yang merujuk pada kemampuan teknis yang memungkinkan keterlibatan aktif dari komponen  masyarakat sejalan dengan perkembangan budaya serta pelayanan publik berbasis digital. Konsep literasi digital, sejalan dengan terminologi yang dikembangkan oleh UNESCO pada tahun 2011, yaitu merujuk pada serta tidak bisa dilepaskan dari kegiatan literasi, seperti membaca dan menulis, serta matematika yang berkaitan dengan pendidikan. Oleh karena itu, literasi digital merupakan kecakapan (life skills) yang tidak hanya melibatkan kemampuan menggunakan perangkat teknologi, informasi, dan komunikasi, tetapi juga kemampuan bersosialisasi, kemampuan dalam pembelajaran, dan memiliki sikap, berpikir kritis, kreatif, serta inspiratif sebagai kompetensi digital. Dalam (Kemedikbud 2017: 9) adapun prinsip dasar pengembangan literasi digital, antara lain, sebagai berikut: a) Pemahaman yaitu yang meliputi kemampuan untuk mengekstrak ide secara implisit dan ekspilisit dari media. b) Saling ketergantungan yang dimaknai bagaimana suatu bentuk media berhubungan dengan yang lain secara potensi, metaforis, ideal, dan harfiah. Dahulu jumlah media yang sedikit dibuat dengan tujuan untuk mengisolasi dan penerbitan menjadi lebih mudah daripada sebelumnya. Sekarang ini dengan begitu banyaknya jumlah media, bentuk-bentuk media diharapkan tidak hanya sekadar berdampingan, tetapi juga saling melengkapi satu sama lain. c) Faktor sosial, berbagi tidak hanya sekadar sarana untuk menunjukkan identitas pribadi atau distribusi informasi, tetapi juga dapat membuat pesan tersendiri. Siapa yang membagikan informasi, kepada siapa informasi itu diberikan, dan melalui media apa informasi itu berikan tidak hanya dapat menentukan 25 keberhasilan jangka panjang media itu sendiri, tetapi juga dapat membentuk ekosistem organik untuk mencari informasi, berbagi informasi, menyimpan informasi, dan akhirnya membentuk ulang media itu sendiri. d) Kurasi, berbicara tentang penyimpanan informasi, seperti penyimpanan konten pada media sosial melalui metode “save to read later” merupakan salah satu jenis literasi yang dihubungkan dengan kemampuan untuk memahami nilai dari sebuah informasi dan menyimpannya agar lebih mudah diakses dan dapat bermanfaat jangka panjang. Kurasi tingkat lanjut harus berpotensi sebagai kurasi sosial, seperti bekerja sama untuk menemukan, mengumpulkan, serta mengorganisasi informasi yang bernilai. Pendekatan yang dapat dilakukan pada literasi digital mencakup dua aspek, yaitu pendekatan konseptual dan operasional. Pendekatan konseptual berfokus pada aspek perkembangan koginitif dan sosial emosional, sedangkan pendekatan operasional berfokus pada kemampuan teknis penggunaan media itu sendiri yang tidak dapat diabaikan. Prinsip pengembangan literasi digital menurut Mayes dan Fowler (2006) dalam (kemedikbud 2017: 9) bersifat berjenjang yaitu yang pertama, kompetensi digital yang meliputi keterampilan, konsep, pendekatan, dan perilaku. Kedua, penggunaan digital yang merujuk pada pengaplikasian kompetensi digital yang berhubungan dengan konteks tertentu. Ketiga, transformasi digital yang membutuhkan kreativitas dan inovasi pada dunia digital.

Manfaat Literasi Digital (skripsi dan tesis)

Menurut Brian Wright (2015) dalam infographics yang berjudul Top 10 Benefits of Digital Literacy: Why You Should Care About Technology, dalam (Vevy, Liansari dan Ermawati Z. Nuroh. 2018: 245) bahwa ada 10 manfaat penting dari literasi digital yaitu menghemat waktu, belajar lebih cepat, menghemat uang, membuat lebih aman, senantiasa memperoleh informasi terkini, selalu terhubung, membuat keputusan yang lebih baik, dapat membuat pengguna bekerja, membuat lebih bahagia, dan dapat mempengaruhi dunia. a) Menghemat waktu Peserta didik Menghemat waktu yang dimaksudkan di sini adalah jika peserta didik mendapatkan tugas dari guru, maka akan mengetahui sumber-sumber informasi terpercaya yang dapat dijadikan referensi untuk keperluan tugasnya. Waktu akan lebih berharga karena dalam usaha pencarian dan menemukan informasi itu menjadi lebih mudah. Dalam beberapa kasus pelayanan online peserta didik akan lebih memerlukan waktu yang lebih sedikit untuk mendapatkan referensi melalui internet dari pada mencari referensi di perpustakaan atau di tokoh buku. b) Belajar Lebih Cepat Pada kasus ini misalnya peserta didik yang harus mencari definisi atau istilah kata-kata penting misalnya di glosarium. Dibandingkan dengan mencari referensi yang berbentuk cetak, maka akan lebih cepat dengan memanfaatkan sebuah aplikasi khusus glosarium yang berisi istilah-istilah penting. c) Menghemat Biaya Menghemat biaya maksudnya di sini adalah misalnya peserta didik atau pun guru memerlukan buku-buku pelajaran atau media pembelajaran maka peserta  didik dan guru dapat mendownload buku ataupun media belajar lainnya di internet tanpa mengeluarkan biaya yang banyak. d) Membuat Lebih Aman Sumber informasi yang tersedia dan bernilai di internet jumlahnya sangat banyak. Dala hal ini misalnya saat peserta didik ingin mengunjungi suatu tempat misalnya museum atau tempat untuk keperluan belajar maka sebelum berangkat peserta didik apat mencaritahu informasi seputar tempat yang ingin dikunjungi. Dari informasi awal tersebut peserta didik dapat menyiapkan kemungkinankemungkinan yang akan dihadapi. e) Memperoleh Informasi Terkini Kehadiran apps semakin terpercaya akan membuat seseorang akan selalu memperoleh informasi baru. f) Selalu Terhubung Mampu menggunakan beberapa aplikasi yang dikhususkan untuk proses komunikasi, maka akan membuat orang akan selalu terhubung. Dalam hal-hal yang bersifat penting dan mendesak, maka ini akan memberikan manfaat tersendiri. g) Membuat Keputusan yang Lebih Baik Literasi digital membuat individu dapat membuat keputusan yang lebih baik karena ia memungkinkan mampu untuk mencari informasi, mempelajari, menganalisis dan membandingkannya kapan saja. Jika Individu mampu membuat keputusan hingga bertindak, maka sebenarnya ia telah memperoleh informasi yang bernilai.  h) Dapat Membuat Anda Bekerja Kebanyakan pekerjaan saat ini membutuhkan beberapa bentuk keterampilan komputer. Dengan literasi digital, maka ini dapat membantu pekerjaan sehari-hari terutama yang berkaitan dengan pemanfaatan komputer misalnya penggunaan Microsoft Word, Power Point atau bahkan aplikasi manajemen dokumen ilmiah seperti Mendelay dan Zetero. i) Membuat Lebih Bahagia Di internet banyak sekali berisi konten-konten seperti gambar atau video yang bersifat menghibur. Oleh karenanya, dengan mengaksesnya bisa berpengaruh terhadap kebahagiaan seseorang. j) Mempengaruhi dunia Di internet tersedia tulisan-tulisan yang dapat mempengaruhi pemikiran para pembacanya. Dengan penyebaran tulisan melalui media yang tepat akan memberikan kontribusi terhadap perkembangan dan perubahan dinamika kehidupan sosial. Dalam lingkup yang lebih makro, sumbangsih pemikiran seseorang yang tersebar melalui internet itu merupakan bentuk manifestasi yang dapat mempengaruhi kehidupan dunia yang lebih baik pada masa yang akan datang

Implementasi Literasi Digital dalam Pembelajaran Tematik (skripsi dan tesis)

Implementasi program literasi digital dalam pembelajaran tematik diharapkan dapat mendorong peserta didik dan warga sekolah lainnya dalam mendukung keterampilan abad 21. Adapun keterampilan abad 21 menurut (Danang Wahyu Puspito, 2017: 310) yaitu sebagai berikut: a) Critical thinker yaitu peserta didik didorong untuk berfikir kritis dan mampu memecahkan masalah dengan cara diberi permasalahan dalam pembelajaran, dipancing bertanya, dan berupaya mencari pemecahan masalah dengan mencari berbagai informasi melalui internet. b) Communicator yaitu peserta didik dilatih untuk memahami dan mengkomunikasikan ide. Setelah memahami apa yang dipelajari, peserta didik didorong untuk membagikan ide-ide yang telah menjadi gagasan-gagasan sebagaimana apa yang telah diperolehnya melalui proses pembelajaran. c) Collaborator yaitu kemampuan bekerjasama dalam melakukan pekerjaan bersama orang lain, oleh karena itu dengan literasi digital perserta didik dilatih untuk bekerja sama dengan orang lain, kelompok lain, bidang lain, dengan cara berbagi informasi dan pengalaman melalui media komputer. d) Creator yaitu kemampuan menjadi kreator sangat diperlukan untuk menghasilkan pekerjaan dengan kualitas tinggi. Kegiatan literasi sekolah sekarang sudah mulai bergeser dari literasi baca tulis konvensional dengan menggunakan media cetak ke media elektronik yang lazim disebut literasi digital. Sebagai contoh banyak guru mengajar di sekolah sudah 20 membiasakan peserta didiknya yang membawa smartphone dengan memberi tugas yang bisa dicari sumbernya dari digital yaitu dengan mengakses google. Soal yang diberikan dijawab dengan menggunakan aplikasi quiper atau menjawab di Grup WA (Whatsapp) yang telah dibuat sebelumnya. Pemberian tugas dan kegiatan literasi digital ini dilakukan selain untuk menghemat penggunaan kertas yang bisa mengganggu lingkungan hidup karena penggunaan kertas bisa diganti kebentuk digital, juga untuk mengalihkan perhatian anak yang membawa Smartphone dari kebiasaan bermain game di gadgetnya ke kegiatan browsing (mencari) jawaban dari persoalan yang yang diberikan guru yang disesuaikan dengan Jadwal pelajaran, Tema-Sub Tema-pembelajaran waktu itu. Tetapi hal ini tentunya memang belum bisa dilaksanakan disemua sekolah, dikarenakan tidak semua sekolah memperbolehkan siswanya membawa smarthphone. Oleh karena itu, literasi digital disini tidak hanya menggunakan smartphone tapi bisa memanfaatkan sarana prasarana seperti leptop/komputer di sekolah yang ada. Agar penggunaan leptop komputer ataupun smartphone disalahgunakan, tentunya guru lebih bijak dengan memberikan arahan situs apa saja yang bisa membantu pembelajaran. Selain itu, situs-situs yang tidak berhubungan dengan pembelajaran bisa di block terlebih dahulu. Kita mengubah baca tulis konvensional dengan menggunakan media elektronik yang ada sesuai dengan perkembangan zaman.

Kompetensi Literasi Digital (skripsi dan tesis)

Berdasar pada arti estimologi kompetensi diartikan sebagai kemampuan yang dibutuhkan untuk melakukan atau melaksanakan pekerjaan yang dilandasi oleh pengetahuan, keterampilan dan sikap kerja. Sehingga dapatlah dirumuskan bahwa kompetensi diartikan sebagai kemampuan seseorang yang dapat terobservasi mencakup atas pengetahuan, keterampilan dan sikap kerja menyelesaikan suatu 18 pekerjaan atau tugas sesuai dengan standar performa yang ditetapkan (Kemedikbud, 2010:9). Gilster (1997:3) mengelompokkannya ke dalam empat kompetensi inti yang perlu dimiliki seseorang sehingga dapat dikatakan berliterasi digital antara lain (Qory Qurratun A‟yuni, 2015:6-7) : a) Pencarian di internet (Internet Searching) yaitu suatu kemampuan untuk melakukan pencarian informasi diinternet dan melakukan berbagai aktivitas di dalamnya. b) Pandu arah hypertext (Hypertextual Navigation) yaitu suatu keterampilan untuk membaca serta memahami navigasi (pandu arah) suatu hypertext dalam web browser yang tentunya sangat berbeda dengan teks yang dijumpai dalam buku teks. Kompetensi ini mencakup pengetahuan tentang hypertext dan hyperlink beserta cara kerjanya, cara kerja web meliputi pengetahuan tentang bandwidth, http, html, dan url, serta kemampuan memahami karakteristik halaman web. c) Evaluasi konten informasi (Content Evaluation) yaitu kemampuan seseorang untuk berpikir kritis dan memberikan penilaian terhadap apa yang ditemukan secara online disertai dengan kemampuan untuk mengidentifikasi keabsahan dan kelengkapan informasi yang direferensikan oleh link hypertext. d) Penyusunan pengetahuan (Knowledge Assembly) yaitu sebagai suatu kemampuan untuk menyusun pengetahuan, membangun suatu kumpulan informasi yang diperoleh dari berbagai sumber dengan kemampuan untuk mengumpulkan dan mengevaluasi fakta dan opini dengan baik serta tanpa 19 prasangka. Hal ini dilakukan untuk kepentingan tertentu baik pendidikan maupun pekerjaan

Pengasuhan Digital (skripsi dan tesis)

Berdasarkan beberapa prinsip yang telah dipaparkan pada poin di atas orang
tua dan guru perlu mengembangkan pola pengasuhan atau pendampingan yang
melindungi sekaligus mengatur akses anak terhadap media digital. Perlindungan
teknis dan pengawasan saja tidak cukup, orang tua perlu membicarakan tentang
keamanan dan pengendalian diri, mendiskusikan prilaku bermedia digital dan
16
mendorong keingintahuan untuk hal positif. Kembangkan pengasuhan digital
sesuai dengan fase pertumbuhan anak. Ada beberapa tindakan yang perlu
dilakukan orang tua dalam mengasuh anak berhadapan dengan media digital (D.
Dyna Herlina, Benni Setiawan dan Gilang Jiwana Adikara, 2018:24-27).
1) Mendampingi Anak Mengakses Gawai
Orang tua seyogya selalu bersama anak ketika ia menggunakan media digital
untuk dua kepentingan utama yaitu menegosiasikan waktu akses dan memilih
media dan saluran.
2) Menyeleksi Konten yang Sesuai untuk Anak
Seleksi dapat dilakukan dengan piranti lunak dan pemahaman. Orang tua
dapat menggunakan kategorisasi atau rating yang digunakan penyedia konten.
Beberapa aplikasi seperti Play Store Youtube Kids misalnya, memiliki kategori
khusus keluarga yang berisi konten-konten ramah anak. Orang tua perlu
menekankan batasan kewajaran konten terkait dengan penampilan tubuh, adegan
kekerasan, nilai cerita.
3) Memahami Informasi yang disediakan Media digital
Pemahaman dilakukan dengan menggunakan kerangka moral dan rasional
masing-masing keluarga. Agar pola pengasuhan dapat berfungsi pendidikan yaitu
dengan mendiskusikan informasi yang diperoleh dari media digital.
4) Menganalisis Konten Digital untuk Menemukan Pola Positif dan Negatif
Pembicaraan ini bertujuan agar orang tua dan anak memiliki kesepahaman
tentang pandangan mereka terhadap fenomena di luar rumah. Diskusi juga
membuat anak terbuka terhadap berbagai perbedaan sudut pandang yang mungkin
ditemui di luar rumah sehingga ia tidak menjadi pribadi yang ekstrim. Pada saat
yang sama, orang tua dapat menggali sudut pandang anak-anak sesuai jamannya
agar mudah mengasuh mereka saat ini dan kemudian hari.
5) Memverifikasi Media Digital
Tidak setiap informasi yang beradar di media digital merupakan informasi
yang bersifat fakta. Verifikasi dilakukan untuk memastikan apakah informasi
yang diterima bersifat fiksi atau fakta, kabar benar, atau kabar bohong.
Kemampuan memverifikasi konten memerlukan kejelian dan kesabaran karena
orang tua dan anak harus dapat menelusuri sumber-sumber informasi yang
didapatkan dan memastikan kualitasnya.
6) Mengevaluasi Konten Media
Mengevaluasi konten media digital adalah keputusan akhir terhadap suatu
informasi yang sudah melalui proses seleksi, pemahaman, analisis, dan verifikasi.
Keputusan yang muncul misalnya apakah informasi ini layak dipercaya dan
disebarluaskan, hanya cukup untuk pengetahuan pribadi, atau justru cukup
diabaikan karena bukan merupakan informasi yang penting. Diskusi antara orang
tua dan anak bisa dilakukan untuk melatih anak mengambil keputusan atas
informasi yang diterimanya dan membiasakan diri untuk kritis terhadap informasi
yang diterimanya melalui media digital

Dampak Teknologi Digital (skripsi dan tesis)

Semua teknologi digital diciptakan untuk mendapatkan manfaatnya tetapi tidak bisa dipungkiri juga memiliki dampak negatifnya. Adapun beberapa dampak negatif bagi pengguna teknologi digital terutama bagi usia dini (C. Dyna Herlina, Benni Setiawan dan Gilang Jiwana Adikara, 2018:20). Yang pertama dapat merugikan kesehatan bayi dan balita adalah kelompok usia yang paling rentan karena kekuatan tubuhnya masih rendah. Paparan layar terlalu lama membuat mata lelah dan sakit. Kesalahan posisi tubuh ketika mengakses gawai dapat menciptakan postur tubuh yang buruk seperti tulang belakang bengkok ke samping atau ke depan. Semua orang termasuk anak-anak yang terlalu sering mengakses gawai jadi malas bergerak sehingga mengalami obesitas atau perlambatan pertumbuhan. Lebih parah, jika mereka terobsesi pada gim atau tontonan tertentu dapat mengalami kecanduan. Jika dilarang, mereka menjadi stress dan agresif terhadap orang tua. Dampak pesan digital akan memengaruhi pandangan dan pola berpikir penggunanya. Misalnya, jika seseorang sering menonton berita buruk maka ia akan berpikir dunia ini tanpa harapan. Maka konten kesedihan dan kekacauan sebaiknya tidak ditonton oleh anak-anak. Persoalan menjadi lebih rumit, kebiasaan mengakses konten tertentu ditangkap oleh penyedia layanan media digital sehingga pengguna akan diberi rekomendasi serupa terus menerus. Jika telah terjebak, maka sulit bagi pengguna untuk mengubah pola tersebut.

 Ada beberapa masalah sensitif terkait konten digital: keamanan privasi, keyakinan diri (self-esteem), kekerasan, pornografi dan penipuan. Orang tua bekerja sama dengan guru memberitahu peserta didik untuk tidak menyebarkan informasi pribadi seperti tempat tinggal, sekolah, bagian tubuh pribadi, jadwal harian dan sebagainya. Peserta didik harus terhindar dari konten kekerasan dan pornografi maka guru dan orang tua wajib menyeleksi konten yang dapat diakses peserta didik di sekolah. Selain itu, tanamkan nilai-nilai anti kekerasan dan pornografi sehingga mereka dapat menolak konten sejenis itu yang muncul tibatiba. Terpaan konten sensitif dapat menganggu pertumbuhan peserta didik secara psikologis dan prilaku. Guru merekomendasikan kepada orang tua untuk memeriksakan (bullying) melalui komentar dan ancaman di media sosial kerap terjadi, pastikan anak-anak terhindar dari hal itu dengan tidak membuat hubungan sosial dengan orang asing. Jika remaja sudah telah memiliki akun sosial, ajari mereka soal penghargaan diri dan orang lain agar terhindar menjadi pelaku dan korban. Guru mengarahkan siswa untuk mengakses informasi yang penting dan bermanfaat. Diskusi dengan siswa masalah-masalah buruk yang diakibatkan media digital sesuai kelas mereka

Media Digital (skripsi dan tesis)

Secara umum media dapat dikelompokan menjadi dua berdasarkan pola komunikasinya yaitu media konvensional dan media digital. Media konvensional meliputi media cetak (koran, majalah, tabloid), media penyiaran (radio dan televisi), dan media audio visual. Sedangkan contoh media digital seperti website berita, media sosial, toko daring, gim digital, aplikasi ponsel dll. Berikut ini merupakan perbandingan karakteristik media massa dan media digital (A. Dyna Herlina, Benni Setiawan dan Gilang Jiwana Adikara, 2018:18). Karakter media digital di atas membawa beberapa konsekuensi penting pada perilaku peserta didik dalam menggunakan media. Setidaknya ada empat masalah yang perlu diperhatikan guru: pembuat pesan, sifat pesan, cara pesan disebarkan dan dampak pesan. Keempat hal itu membuat lingkungan sosial dan sekolah yang dialami peserta didik saat ini berbeda dengan lingkungan sosial dulu (B. Dyna Herlina, Benni Setiawan dan Gilang Jiwana Adikara, 2018:19). 1) Pembuat pesan, semua orang dapat membuat pesan sehingga peserta didik usia sekolah dasar pun tertarik memiliki akun, menampilkan diri dan berinteraksi dengan orang lain yang tidak dikenal. Hal ini menimbulkan ancaman sekaligus kesempatan. 2) Sifat pesan, media digital sangat beragam karena bersumber dari seluruh penjuru dunia, terlebih sebagian besar tidak disaring oleh pekerja media profesional. Hal ini membuat peserta didik menerima aneka pesan yang sangat mungkin tidak sesuai dengan nilai-nilai agama dan budaya keluarga. 3) Penyebaran pesan, penyedia layanan media digital ingin mendapatkan keuntungan ekonomi maka mereka merancang medianya agar menarik. Mekanisme khusus diciptakan agar saluran media digital dapat memberi rekomendasi konten yang sesuai dengan kesukaan pengguna berdasarkan catatan penggunaan sebelumnya. 4) Dampak pesan, jika digunakan secara baik media digital adalah sumber pengetahuan tak terbatas. Pengguna dapat menggunakannya untuk belajar hal-hal praktis hingga rumit. Tetapi konten negatif berdampak buruk juga  banyak bertebaran di dunia maya seperi berita palsu, kekerasan, pornografi, konsumsi. Pengguna harus mampu memilih dan memilah konten yang baik dan bermanfaat

Pengertian Literasi Digital (skripsi dan tesis)

Istilah literasi digital bukan hal yang baru di dunia pendidikan, istilah literasi digital dikemukakan pertama kali oleh Paul Gilster (1997) sebagai kemampuan memahami dan menggunakan informasi dari berbagai sumber sehari-hari (Kemendikbud,2017:7). Bawden (2001) memperluas pemahaman baru mengenai literasi digital yang berakar pada literasi komputer dan literasi informasi. Literasi komputer berkembang pada dekade 1980-an ketika komputer mikro semakin luas  dipergunakan, tidak hanya di lingkungan bisnis, tetapi juga masyarakat. Sementara itu, literasi informasi menyebar luas pada dekade 1990-an manakala informasi semakin mudah disusun, diakses, dan disebarluaskan melalui teknologi informasi berjejaring digital. Bawden mengemukakan bahwa literasi digital merupakan kemampuan menggunakan teknologi dan informasi dari piranti digital secara efektif dan efisien dalam berbagai konteks, seperti akademik, karier, dan kehidupan. Dengan demikian, mengacu pada pendapat Bawden, literasi digital lebih banyak dikaitkan dengan keterampilan teknis mengakses, merangkai, memahami, dan menyebarluaskan informasi, (Kemendikbud, 2017:7). Menurut Douglas A.J. Belshaw dalam tesisnya What is „Digital Literacy„? (2011) mengatakan bahwa ada delapan elemen esensial untuk mengembangkan literasi digital, yaitu sebagai berikut: 1). Kultural, yaitu pemahaman ragam konteks pengguna dunia digital; 2). Kognitf, yaitu daya pikir dalam menilai konten; 3). Konstruktf, yaitu reka cipta sesuatu yang ahli dan aktual; 4). Komunikatf, yaitu memahami kinerja jejaring dan komunikasi di dunia digital; 5). Kepercayaan diri yang bertanggung jawab; 6). Kreatf, melakukan hal baru dengan cara baru; 7). Kritis dalam menyikapi konten; dan 8). Bertanggung jawab secara sosial. Aspek kultural, menurut Belshaw, menjadi elemen terpentng karena memahami konteks pengguna akan membantu aspek kognitf dalam menilai konten. Dari beberapa pendapat di atas dapat disimpulkan bahwa literasi digital adalah pengetahuan dan kecakapan untuk menggunakan media digital, alat-alat komunikasi, atau jaringan dalam menemukan, mengevaluasi, menggunakan, membuat informasi, dan memanfaatkannya secara sehat, bijak, cerdas, cermat,  tepat, dan patuh hukum dalam rangka membina komunikasi dan interaksi dalam kehidupan sehari-hari.

Pengertian Literasi (skripsi dan tesis)

Ada beberapa pendapat mengenai literasi seperti yang dijelaskan dalam buku Desain Induk Panduan Literasi oleh (Kemendikbud, 2018:7) menjelaskan dari sisi istilah, kata “literasi” berasal dari Bahasa Latin litteratus (littera), yang setara dengan kata letter dalam bahasa Inggris yang merujuk pada makna „kemampuan membaca dan menulis‟. Adapun literasi dimaknai „kemampuan membaca dan menulis‟ yang kemudian berkembang menjadi „kemampuan menguasai pengetahuan dibidang tertentu‟. 10 Di Indonesia, pada awalnya literasi dimaknai ‘keberaksaraan’ dan selanjutnya dimaknai ‘melek’ atau ‘keterpahaman’. Pada langkah awal, “melek baca dan tulis” ditekankan karena kedua keterampilan berbahasa ini merupakan dasar bagi pengembangan melek dalam berbagai hal. Pemahaman literasi pada akhirnya tidak hanya merambah pada masalah baca tulis saja, bahkan sampai pada tahap multiliterasi. Dalam Undang-Undang No 3 Tahun 2017 tentang Sistem Perbukuan literasi dimaknai sebagai “kemampuan untuk memaknai informasi secara kritis sehingga setiap orang dapat mengakses ilmu pengetahuan dan teknologi sebagai upaya dalam meningkatkan kualitas hidupnya (Kemendikbud,2018:7). Kemudian untuk merujuk pada orang yang mempunyai kemampuan tersebut digunakan istilah literet (dari literate) yang dapat dimaknai „berpendidikan, berpendidikan baik, membaca baik, sarjana, terpelajar, bersekolah, berpengetahuan, intelektual, intelijen, terpelajar, terdidik, berbudaya, kaya informasi, canggih‟. Dari beberapa pendapat di atas dapat disimpulkan bahwa literasi adalah kemampuan untuk membaca, menyimak, memahami, menulis dan berbicara dalam mencari dan mengolah informasi yang sangat dibutuhkan oleh dirinya sendiri dan membantu orang lain sehingga menjadikan siswa terampil.

Prinsip-Prinsip Pemilihan Media Pembelajaran (skripsi dan tesis)

Prinsip-prinsip yang perlu diperhatikan dengan seksama ialah sebuah prinsip yang menjadikan teori yang diterima saat kegiatan belajar sebagai pembanding dalam keadaan yang dihadapi saat ini. Disini aja dijelaskan beberapa hal yang harus dipertimbangkan terlebih dahulu yaitu: 1. Pemunculan keinginan serta motivasi untuk belajar 2. Memahami bahwa kegiatan dilakukan untuk proses belajar 3. Mempersiapkan segala kebutuhan sebelum dilakukannya kegiatan belajar 4. Memahami sikap dan emosi 5. Rasa untuk berpartisipasi yang tinggi

Sumber Media Pembelajaran (skripsi dan tesis)

Menurut Schramm penggolongan sebuah media dibagi atas rumit, mahal serta sederhana. Hal ini dibagi atas 3 bagian tersebut karena kemampuan serta hasil yang muncul dari liputannya yaitu: 1. Dikatakan sebagai liputan yang menyeluruh apabila dlakukan secara bersamaan di TV dan radio. 2. Dijelaskan sebagai liputan yang dibatasi jika hanya dilakukan pada ruangan tertentu. Ini dicontohkan sebagai pemutaran flim. 3. Dipergunakannya media untuk kepentingan sendiri yang dicontohkan dengan telephone, computer, ataupun buku (Daryanto, 2013: 17)

Manfaat Media Pembelajaran (skripsi dan tesis)

Media yang digunakan sebagai alat untuk kegiatan belajar memberikan beberapa manfaat yaitu: 1. Informasi yang disajikan melalui media ketika kegiatan belajar dilakukan akan lebih unik sehingga memunculkan stimulus tersendiri bagi anak untuk mengingat. 2. Dilakukannya pemakaian media sebagai penyampaian informasi saat mengajar akan memunculkan motivasi tersendiri bagi anak didik untuk pencapaiannya yang lebih baik. 3. Tanpa disadari anak didik yang berbeda dapat diatasi ketika dilaksanakannya kegiatan belajar melalui media yang dipakai sebagai penyampai informasi. 4. Secara tidak langsung diberitahukan pada anak didik bahwa hal yang disampaikan melalui media saat belajar merupakan sebuah kesamaan yang akan selalu terjadi diantara mereka. (Azhar Arsyad, 2013: 29-30). Hal ini juga diungkapkan oleh Sudjana dan Rivai yang menjelaskan bahwa media yang digunakan sebagai penyampai pesan akan sangat memberikan keuntungan dalam proses kegiatan belajar. Adapaun manfaatnya yaitu:

Fungsi Media (skripsi dan tesis)

Seorang tenaga pendidikan harus mampu mempergunakan sebuah media yang dipakai sebagai sarana penyampaian informasi pada saat dilaksanakannya kegiatan belajar bagi para muridnya untuk memberikan pemahaman bahwa perilaku dan cara fikir seseorang dalam mempengaruhi lingkunan tempat tinggalnya. Karena inilah diperlukan penyampaian informasi yang telah terbukti benar serta dapat dibagi agar menjadi pengalaman yang tidak merugikan orang lain. Lebih dari itu, pemberian informasi ini diharapkan dapat mengembangkan serta memberikan arahan serta motivasi tersediri bagi anak didik agar ia paham bahwa ia punya pemahaman yang baik jika ia percaya pada data yang ada(Azhar Arsyad, 2013: 20). Ada 3 hal yang dapat menjadikan medi sebagai hal yang utama dalam keseharian. Adapun itu jika dipergunakan bagi diri sendiri, kelompok, serta pelaksanaan kegiatan yang dihadiri lebih dari satu orang. Hal ini dianggap Kemp dan Dayton sebagai 1) pemicu berubahnya sebuah tindakan, 2) penyajian informasi yang lebih baik, 3) pemberian sebua instruksi Dalam Cecep Kustandi, 2013: 20). Selain hal itu, media visual punya keahlian khusus dalam pelaksanaan sebuah kegiatan belajar. Adapun itu disampaikan oleh Levied an Lenzt berikut: 1. Dimunculkannya sebuah gambar yang menarik akan memunculkan keteratrikan tersendiri bagi anak didik untuk memahami alasan mengapa gambar yang menarik itu ditayangkan. Akan lebih baik jika dibawah gambar menarik tersebut dituliskan beberapa penjelasan yang mungkin akan memunculkan minat anak (atensi). 2. Gambar yang dimunculkan sebagai topik utama akan dimunculkan, lalu diikuti oleh suara sebagai penjelasannya. Pada sebagian orang ini dianggap menarik karena memberikan kenikmatan tersendiri saat mengajar (afektif). 3. Digunakannya media yang telah dipilih harus sejalan dengan fungsi utama diadakannya dan dimunculkannya gambar utama. Hal ini agar memudahkan anak didik dalam mengingat pelajaran yang ditampilkan (kognitif).  4. Pemunculan kalimat yang dianggap sebagai kata yang muncul disebuah gambar yang ditampilkan agar adanya stimulus bagi otak anak didik untuk mengingat satu kata tersebut (kompesatoris) (Azhar Arsyad, 2013: 20). Dalam hal ini, media akan sangat membantu anak didik dalam menerima pelajaran yang akan telah disusun dengan baik. Ini akan lebih memudahkan anak didik bahwa hal yang diberikan melalui belajar teori sama dengan hal yang terjadi disekitarnya ia tinggal.

Aneka Ragam Media Pembelajaran (skripsi dan tesis)

Aneka ragam yang mempergunakan media sebagai alat penyamapian informasi dibagi atas beberapa cirri. Hal ini diungkapkan oleh Muhammad Ali dan dijelaskan kembali oleh Brest yaitu bunyi, tampilan fisik nyata, serta pergerakan. Karena inilah Brest akan membagi kelompok-kelompok tersebut yaitu: 1. Mempergunakan sebuah media yang dapat menimbulkan suara, lalu diikuti gerakan yang nyata dan disusul dengan pemunculan tampilan fisiknya secara nyata dikenal dengan nma media audio motion visual. Pada dasarnya, ini adalah media yang terlengkap dari semua media. Ini dicontohkan sebagai TV yang sering digunakan oleh masyarakat. 2. Digunakannya satu gambar yang dimunculkan diawal hingga akhir, lalu disusul oleh suara penjelas dari gambar. Akan tetapi, gambar yang digunakan hanya satu dan gambar tersebut tidak bergerak. Ini dikenal dengan media audio  still visual yang dicontohkan dengan slide yang diikuti oleh suara penjelasas dari auditornya. 3. Pemunculan suara sebagai awal pembuka, lalu disusul dengan gerakan-gerakan yang tidak beraturan. Ini biasa disebut sebagai media audio semi motion. Dalam penggambaran sehari-hari dicontohkan seperti teleboard. 4. Digunakannya gambar yang banyak dan dapat di slide satu persatu, namun tidak didukung oleh audionya. Ini sangat sering kita temui dan dicontohkan sebagai gambar. Ini disebut media motion visual. 5. Hal ini sama dengan penjelasan diatas yang hanya memunculkan gambar tanpa ada dukungan dari gerakan ataupun suara. Dicontohkan seperti penggabungan gambar dan disebut media still visual. 6. Mempergunakan tulisan yang berpidah-pindah (bergerak dari satu slide ke slide lain). Ini dikenal dengan nama media semi motion dan ditemui pada tele autograph. 7. Munculnya suara tanpa ada latar gambar atau gambar yang bergerak. Ini dapat dilihat dalam keseharian seperti radio dan dikenal dengan media audio. 8. Ditunjukkan sebagai media yang hanya memunculkan sebuah catatan dan didukung oleh symbol tertentu dikenal dengan media cetakan (A Muhammad Ali, 2002: 19).

Landasan Teoritis Penggunaan Media Pembelajaran (skripsi dan tesis)

Perilaku yang berubah dari kebiasaan sebelumnya merupakan sebuah ketrampilan yang diyakini akan berubah karena adanya penerimaan yang dianggap benar saat menerima sebuah informasi baru. Ini bisa didukung karena adanya pengalaman pribadi atau orang lain yang berkaitan dengan hal yang disampaikan dengan saat kegiatan belajar dilakukan. Dalam hal ini, Brunner menjelaskan bahwa tingkatan dari modus belajar dibagi atas 3 yaitu pengalaman yang didapatkan secara langsung, pengalaman yang didapatkan karena melihat gambargambar tertentu yang ditampilkan, dan pengalaman yang muncul karena pernah melihat secara langsung dilingkungannya. Dari 3 tingkatan pengalaman tersebutlah akan muncul pola pikir baru serta didukung oleh tingkah laku yang baru dari sebelumnya (Cecep Kustandi, 2013: 10). Kegiatan belajar dapat terlaksana dengan baik jika guru dapat memilih media yang tepat ketika hendak menyampaikan informasi yang ada. Hal ini dijadikan pemicu karena informasi yang diberikan bagi anak didik harus mampu merangsang dirinya agar dapat melihat lingkungan yang saat ini terjadi disekitarnya. Pengunaan kesadaran ini lebih banyak menggunakan indera yang ada ditubuh seseorang. Alat indera yang menerima rangsangan dari otak akan lebih besar jkemungkinan untuk menerima dan mau mengubah perilaku yang selama ini tidak diterimanya dengan baik. Kegiatan belajar yang dilaksanakan harus menimbulkan interaksi dan memunculkan rangsangan secara khusus bagi anak didik pada bagian tubuhnya. Hal ini dianggap membawa dampak yang positif karena ia akan lebih mudah dalam mengenali, merasakan, serta mengingat bahwa informasi yang diberikan sangat berhubungan dengan fakta yang terjadi dilingkungannya. Karena inilah dikatakan bahwa anak didik yang dapat mempergunakan dua indera (mata dan telinga) dengan baik akan memberikan anak didik tersebut kesempatan menerima materi lebih besar dibanding anak lainnya (Azhar Arsyad, 2013: 12)menerima dan mau mengubah perilaku yang selama ini tidak diterimanya dengan baik. Kegiatan belajar yang dilaksanakan harus menimbulkan interaksi dan memunculkan rangsangan secara khusus bagi anak didik pada bagian tubuhnya. Hal ini dianggap membawa dampak yang positif karena ia akan lebih mudah dalam mengenali, merasakan, serta mengingat bahwa informasi yang diberikan sangat berhubungan dengan fakta yang terjadi dilingkungannya. Karena inilah dikatakan bahwa anak didik yang dapat mempergunakan dua indera (mata dan telinga) dengan baik akan memberikan anak didik tersebut kesempatan menerima materi lebih besar dibanding anak lainnya (Azhar Arsyad, 2013: 12)

Jenis-Jenis Media Pembelajaran (skripsi dan tesis)

Media pembelajaran banyak sekalai jenis dan macamnya, mulai yang paling sederhana dan murah hingga media yang canggih dan mahal harganya. Ada media yang dapat dibuat sendiriada media yang diproduksi pabrik. Ada media yang sudah tersedia di lingkunganyang langsung dapat kita manfaatkan, ada pula mediayang secara khusussengaja dirancang untuk keperluan pembelajaran. Dalam hal tersebut sehingga media pembelajaran dapat dikelompokkan dalam beberapa klasifikasi media pembelajaran, diantaranya: a. Ditinjau dari sifatnya, seperti media audio (Radio dan Rekaman Suara), media visual (Film, Foto, Lukisan, Peta, Gambar, Dan sebagainya), dan media audio-visual (Rekaman Video, Film, Slide suara, dan sebagainya) b. Ditinjau dari kemampuan jangkuannya, dimana media pembelajaran ini dilihat dari julmlah audiens (peserta didik) dan ruang yang digunakan dalam proses pembelajarannya, sehingga media yang dipilih bisa cocok digunakan dalam proses pembelajaran. c. Ditinjau dari cara atau teknik pemakaiannya, seperti halnya media yang dapat diproyeksikan dengan bantuan alat yang khusus dan spesifik contohnya menggunakan LCD, dan media yang tidak dapat diproyeksikan tanpa menggunakan alat yang khusus.

Kriteria Memilih Media Pembelajaran (skripsi dan tesis)

Ditinjau dari kesiapan pengadaannya, media dikelompokkan dalam dua jenis, yaiu media jadi karena sudah merupakan komoditi perdagangan dan terdapat di pasaran luas dalam keadaan siap pakai (media by utilization), dan media rancangan karena perlu dirancang dan dipersiapkan secara khusus untuk maksud atau tujuan pembelajaran tertentu (media by design). Untuk jenis media rancangan (yang dibuat sendiri), pertanyaan yang dijadikan sebagai acuan diantaranya sebagai berikut: a. Apakah materi yang akan disampaikan itu untuk tujuan pengajaran atau hanya informasi tambahan atau hiburan? b. Apakah media yang dirancang itu untuk kepentingan pembelajaran atau alat bantu pengajaran (peraga)? c. Apakah dalam pengajarannya akan menggunakan strategi kognitif, afektif dan psikomotorik? d. Apakah materi pelajaran yang akan disampaikan itu masih asing bagi anak didik? e. Apakah perlu rangsangan gerak seperti untuk pengajaran bahasa? f. Apakah perlu rangsangan gerak seperti untuk pengajaran seni atau olahraga? g. Apakah perlu rangsangan warna? Setelah tujuh pertanyaan tersebut terjawab, maka guru dapat mengajukan alternatif media yang akan dirancang. Alternatif tersebut mungkin jenis media audio, media visual, atau media audiovisual. Lebih lanjut, Nana Sudjana & Ahmad Rivai mengemukakan rumusan pemilihan media dengan kriteria-kriteria sebagai berikut: 14 Bookchapters a. Ketepatannya dengan tujuan pengajaran, artinya media pengajaran dipilih atas dasar tujuan-tujuan instruksional yang telah ditetapkan. Tujuan-tujuan instruksional yang berisikan unsur-unsur pemahaman, aplikasi, analisis, sistesis, biasanya lebih mungkin menggunakan media pengajaran. b. Dukungan terhadap isi bahan pelajaran, artinya bahan pelajaran yang sifatnya fakta, prinsip, konsep dan generalisasi sangat memerlukan bantuan media agar lebih mudah dipahami siswa c. Kemudahan memperoleh media, artinya media yang diperlukan mudah diperoleh, setidak-tidaknya mudah dibuat oleh guru pada waktu mengajar. Media grafis umumnya mudah dibuat oleh guru tanpa biaya yang mahal, disamping sederhana dan praktis penggunaannya. d. Keterampilan guru dalam menggunakan apapun jenis media yang diperlukan syarat utama adalah guru dapat menggunakannya dalam proses pengajaran. Nilai dan manfaat yang diharapkan bukan pada medianya, tetapi dampak dari penggunaannya dalam interaksi bagi siswa selama pengajaran berlangsung. e. Tersedia waktu untuk menggunakannnya, sehingga media tersebut dapat bermanfaat bagi siswa selama pengajaran berlangsung. Sesuai dengan taraf berfikir siswa, memilih media untuk pendidikan dan pengajaran harus sesuai dengan taraf berfikir siswa. Menyajikan grafik yang berisi data atau angka atau proporsi dalam bentuk gambar atau poster. Demikian juga diagram yang menjelaskan alur hubungan suatu konsep atau prinsip hanya bisa dilakukan bagi siswa yang telah memilih kadar berfikir yang tinggi.

Pemilihan Media Pembelajaran (skripsi dan tesis)

Memilih pada hakikatnya adalah proses membuat keputusan dari berbagai pilihan. Guru bisa menentukan pilihan media mana yang akan digunakan apabila terdapat beberapa media yang dapat diperbandingkan. Sedangkan apabila media pengajaran itu hanya ada satu, maka guru tidak bisa memilih, tetapi menggunakan apa adanya. Dalam menggunakan media pengajaran, hendaknya guru memperhatikan sejumlah prinsipprinsip tertentu agar penggunaan media dapat mencapai hasil yang baik. Prinsip-prinsip yang dimaksud dikemukakan Nana Sudjana sebagai berikut: a. Menentukan jenis media dengan tepat. Artinya, sebaiknya guru memilih terlebih dahulu media manakah yang sesuai dengan tujuan dan bahan pelajaran yang diajarkan. b. Menetapkan atau mempertimbangkan subyek dengan tepat. Artinya, perlu diperhitungkan apakah penggunaan media itu sesuai dengan tingkat kematangan/ kemampuan anak didik. c. Menyajikan media dengan tepat. Artinya, teknik dan metode penggunaan media dalam pengajaran harus disesuaikan dengan tujuan, bahan, metode, waktu dan sarana yang ada. d. Menempatkan atau memperlihatkan media pada waktu, tempat dan situasi yang tepat. Artinya, kapan dan dalam situasi mana pada waktu mengajar media digunakan. Tentu tidak setiap saat atau selama proses belajar mengajar terus menerus memperlihatkan atau menjelaskan sesuatu dengan media pembelajaran

Manfaat dan Fungsi Media Pembelajaran (skripsi dan tesis)

Perkembangan teknologi dari waktu ke waktu mengalami perubahan dan peningkatan sering berkembanganya IPTEKS, apalahi didukung di era sekarang dimana Era revolusi industri 4.0 dimana perkembangan peradaban manusia semakin tinggi yang dimana teknologi menguasai kehidupan manusia. Kondisi peserta didik saat ini pun semakin kekinian mereka mampu  mengoprasikan teknologi-teknologi terkini, ilmu pengetahuan mudah didapatkan dan informasi mudah mereka terima, sehingga peran guru saat ini harus bisa memberikan sesuatu yang lebih untuk peserta didiknya. Sumber informasi dalam proses pembelajaran dalam proses pembelajaran saat ini sangat mudah diperoleh tidak hanya dari seorang guru, lingkungan, bahan bacaan, dan lain sebagainya. Sebuah computer atau gadget yang didukung dengan akses internet yang mudah didapatkan menjadi salah satu teknologi yang popular saat ini karena merupakan salah satu teknologi pembawa informasi. Dalam hal ini guru bisa melibatkan siswa dalam proses pembelajaraan yang menggunakan teknologi gadget ini dengan tujuan pembelajaran mencari informasi, mengumpulkan tugas, dan lain-lain. Hamalik (1986) mengemukakan bahwa pemakaian media pembelajaran dalam proses belajar mengajar dapat membangkitkan keinginan dan minat yang baru, membangkitkan motivasi dan rangsangan kegiatan belajar, dan bahkan membawa pengaruh-pengaruh psikologis terhadap siswa.Adapun manfaat media pembelajaran adalah a. Media pembelajaran dapat memperjelas penyajian pesan dan informasi sehingga dapat memperlancar dan meningkatkan proses dan hasil belajar. b. Media pembelajaran dapat meningkatkan dan mengarahkan perhatian anak sehingga dapat meninmbulkan motivasi belajar, interaksi yang lebih langsung antara siswa dan lingkungannya, dan kemungkinan siswa untuk belajar sendiri-sendiri sesuai dengan kemampuan dan minatnya. c. Media pembelajaran dapat mengatasi keterbatasan indera, ruang, dan waktu. 3. Media pembelajaran dapat memberikan kesamaan pengalaman kepada siswa tentang peristiwa-peristiwa di lingkungan mereka, serta memungkinkan terjadinya interaksi langsung dengan guru, Media pembelajaran dapat mempertinggi proses belajar siswa dalam pembelajaran yang pada gilirannya diharapkan dapat mempertinggi hasil belajar yang dicapainya. Ada beberapa alasan, mengapa media pembelajaran dapat mempertinggi proses belajar siswa. Alasan pertama berkenaan dengan manfaat media pengajaran dalam proses belajar siswa antara lain: a. menumbuhkan motivasi belajar. b. Bahan pengajaran akan lebih jelas meknanya sehingga dapat lebih dipahami oleh para siswa, dan memungkinkan siswa menguasai tujuan pengajaran lebih baik. c. Metode pengajaran akan lebih bervariasi, tidak sematamata komunikasi verbal melalui penuturan kata-kata oleh guru, sehingga siswa tidak bosan dan guru tidak kehabisan tenaga, apalagi bila guru mengajar untuk setiap jam pelajaran. d. Siswa lebih banyak melakukan kegiatan belajar, sebab tidak hanya mendengarkan uraian guru, tetapi juga aktivitas lain seperti mengamati, melakukan, mendemonstrasikan, dan lain-lain Menurut Kemp dan Dayton dalam Sani (2019) mengidentifikasi delapan manfaat media dalam pembelajaran yaitu: (1) menyeragamkan materi pembelajaran, (2) menjadikan proses pembelajaran menjadi lebih menarik, (3) menajdikan proses belajar siswa menjadi lebih interaktif, (4) mempersingkat waktu penyajian oleh guru, (5) meningkatkan kualitas belajar siswa, (6) melaksankan proses belajar dapat terjadi dimana dan kapan saja, (7) menajdikan sikap positif siswa terhadap bahan  pembelajaran maupun terhadap proses belajar itu sendiri dapat ditingkatkan, dan (8) mengubah peran guru kea rah yang lebih fositif dan produktif. Media pembelajaran memiliki sebagai pembawa informasi, informasi yang diberikan oleh guru sebagai sumbernya yang diberikan kepada penerimanya (peserta didik), sedangkan media adalah suatu perantara atau alat sebagai membantu peserta didik dalam menerima dan menolah informasi untuk mencapai tujuan pembelajaran melalui proses model atau metode pembelajaran yang diberikan kepada peserta didik. Untuk memahami pengertian tersebut, perhatikan
 Fungsi Media Pembelajaran Priansa (2008: 131) mengidentifikasi dari kelebihan yang dimiliki oleh media pembelajaran, ada tiga kelebihan media pembelajaran sebagai berikut: e. Kemampuan fiksatif, yaitu kemampuan media untuk menangkap, menyimpan, dan menampilkan kembali suatu objek atau kejadian. Dengan kemampuan ini objek atau kejadian dapat digambar, dipotret, direkam, difilmkan, kemudian dapat disimpan, dan pada saat yang dibutuhkan dapat digunakan kembali. f. Kemampuan manipulatif, yaitu kemampuan media untuk dimanipulasi sesuai dengan kebutuhan dan kepentingan pembelajaran. Misalnya ukurannya dapat diubah ataupun penyajiannya dapat dilakukan berulangulang. g. Kemampuan distributif, yaitu kemampuan media dalam menjangkau target audiens (peserta didik) yang besar jumlahnya salam satu kali penggunaan. Misalnya menfaatkan siaran televise atau radio Levie & Lentz, mengemukakan empat fungsi media pembelajaran, khususnya media visual, yaitu: a. Fungsi atensi, media visual meruapakan media inti, yaitu menarik dan mengarahkan perhatian siswa untuk berkonsentrasi kepada isi pelajaran yang berkaitan dengan makna visual yang ditampilkan atau menyertai teks materi pelajaran. Dengan demikian, kemungkinan untuk memperoleh dan mengingat isi pelajaran semakin besar. b. Fungsi afektif, media visual dapat terlihat dari tingkat kenikmatan siswa ketika belajar (atau membaca) teks yang bergambar. Gambar atau lambang visual dapat menggugah emosi dan sikap siswa, misalnya informasi yang menyangkut masalah sosial atau ras. c. Fungsi kognitif, media visual terlihat dari temuan-temuan penelitian yang mengungkapkan bahwa lambang visual atau gambar memperlancar pencapaian tujuan untuk memahami dan mengingat informasi atau pesan yang terkandung dalam gambar. d. Fungsi kompensatoris, media pengajaran terlihat dari hasil penelitian bahwa media visual yang memberikan konteks untuk memahami teks membantu siswa yang lemah dalam membaca untuk mengorganisasikan informasi dalam teks dan mengingatnya kembali. Dengan kata lain, media pengajaran berfungsi untuk mengakomodasi siswa yang lemah dan lambat menerima dan e. Memahami isi pelajaran yang disajikan dengan teks atau disajikan secara verbal.

Pengertian Media (skripsi dan tesis)

Kata media berasal dari bahasa latin medium yang secara harfiah berarti „tengah‟, „perantara‟, atau „pengantar‟. Atau dengan kata lain media adalah perantara atau pengantar pesan dari pengirim pesan kepada penerima pesan. Menurut Gearlach & Ely, mengatakan bahwa media apabila dipahami secara garis besar adalah manusia, materi atau kejadian yang membangun suatu kondisi yang membuat siswa mampu memperoleh pengetahuan, keterampilan atau sikap. Dalam pengertian ini, guru, buku teks, dan lingkungan sekolah merupakan media. Secara lebih khusus, pengertian media dalam proses belajar mengajar cenderung diartikan sebagai alat-alat grafis, photografis, atau elektronis untuk menangkap, memproses, dan menyusun kembali informasi visual atau verbal. Berdasarkan pendapat diatas, media dapat didefinisikan sebagai sesuatu yang dapat membawa informasi dan pengetahuan dalam interaksi yang berlangsung antara pendidik dengan pesera didik. Menurut Sani (2019) media adalah alat atau kejadian yang dapat digunakan untuk menyampaikan pesan dan rangsangan siswa belajar. Guru sebagai pendidik harus bisa memilih media pembelajaran untuk diberikan kepada peserta didik agar mudah dipahami dan dimengerti oleh siswa, serta bisa mampu meningkatkan minat belajar siswa untuk bisa menyerap ilmu pengetahuan yang diberikan oleh guru. Memilih media pembelajaran harus yang bisa digunakan secara efektif dan dapat melibatkan peserta didik yang aktif dalam belajar. Secara umum media pembelajaran ini meliputi dari orang, bahan, peralatan, atau kegiatan yang menciptakan kondisi yang dimana peserta didik memperoleh pengetahuan, keterampilan, dan sikap

Konsep Pembelajaran (skripsi dan tesis)

Pembelajaran adalah suatu proses interaksi antara peserta didik dengan pendidik (guru) dan sumber belajar pada lingkungan belajarnya, pembelajaran diberikan agar dapat terjadi proses pemperolehan ilmu dan pengetahuan, penguasaan kemahiran dan tabiat, serta pembentukan sikap dan keprcayaan pada peserta didik, yang dimana proses pembelajaran ini merupakan suatu kegiatan yang dilakukan untuk menginisiasi, memfasilitasi, dan meningkatkan intesitas dan kualitas belajar pada diri peserta didik. Oleh sebab itu pembelajaran sebagai upaya sistematis dan sistemik untuk meningkatkan kegiatan pembelajaran. Sehingga proses pembelajaran dialami sepanjang hayat serta belaku dimanapun dan kapanpun. Konsep pembelajaran menurut Corey (1986) dalam Sagala (2017:61) adalah suatu proses dimana lingkungan seseorang secara disengaja dikelola untuk memungkinkan ia turut serta dalam tingkah laku tertentu dalam kondisi-kondisi khusus atau menghasilkan respon terhadap situasi tertentu, pembelajaran merupakan subset khusus dari pendidikan. Mengajar menurut William H. Burton adalah upaya memebrikan stimulus, bimbingan pengarahan, dan dorongan kepada siswa agar terjadi proses belajar. Dalam hal ini kita maknai bahwa pembelajaran ialah suatu car acara atau proses atau suatu perbuatan yang dapat menjadikan seseorang belajar. Menurut Sadiman dkk pembelajaran diartikan sebagai usahausaha yang terencana dalam menstimulasi sumber-sumber belajar agar terjadi proses belajar dalam diri peserta didik, berikut beberapa pendapat lain terkait pengertian pembelajaran: 1. Menurut Miarso Pembelajaran adalah usaha mengelola lingkungan dengan sengaja agar seseorang membentuk diri secara positif dalam kondisi tertentu. Dengan demikian, inti pembelajaran adalah segala upaya yang dilakukan oleh pendidik agar proses belajar pada diri peserta didik. 2. Menurut Fontana, “Pemebelajaran merupakan upaya penataan lingkungan yang memberi nuansa agar program belajar tumbuh dan berkembang secara optimal. Dengan Media Pembelajaran Transformatif 5 demikian proses belajar bersifat internal dan unik dalam diri individu siswa, sedangkan proses pembelajaran bersifat eksternal dan bersifat rekayasa perilaku. 3. Menurut Dimyati dan Mudjiono (1999), Pembelajaran adalah kegiatan guru secara terprogram dalam desain instruksional, untuk membuat siswa belajar secara aktif yang menekankan pada penyedia sumber belajar. 4. Dalam UU No. 2 Tahun 2003 tentang Sisdiknas Pasal 1 ayat 20, Pembelajaran adalah proses interaksi peserta didik dengan pendidik dan sumber belajar pada suatu lingkungan belajar. Berdasarkan beberapa pendapat mengenai pengertian pembelajaran kita dapat menyimpulkan bahawa pembelajaran merupakan suatu kegiatan yang dirancang untuk menghasilkan atau mencipttakan keadaan proses belajar yang sesuai dengan peserta didik untuk mencapai suatu tujuan dari proses belajar tersebut. Kondisi proses pembelajaran ini harus ditunjang yakni peserta didik, proses belajar serta suasana belajar itu sendiri. Pembelajaran yang mengandung arti setiap kegiatan yang berproses yang dirancang untuk membantu peserta didik dalam mempelajari suatu kemampuan dan nilai yang baru. Sehingga guru harus bisa mampu memahami hakikat materi pelajaran yang diajarkannnya sebagai suatu pelajaran yang dapat mengembangkan kemampuan berpikir siswa, selain dari itu seorang guru harus mengetahui kemampuan dasar yang dimiliki oleh siswa, meliputi kemampuan dasarnya, motivasinya, latar belakang ekonominya, latar belakang akademisnya, dan lain sebagainya, sehingga kesiapan guru untuk mengenal karakteristik siswa dalam proses pembelajarannya merupakan suatu modal yang utama menyampaikan bahan belajar dan menjadikan salah satu indikator suksesnya pelaksanaan pembelajaran

Kepemimpinan (skripsi dan tesis)

Istilah kepemimpinan berasal dari bahasa Inggris “leader” yang berarti pemimpin dan leadership berarti kepemimpinan. Pemimpin adalah orang yang menempati posisi sebagai pimpinan, sedangkan kepemimpinan adalah kegiatan atau tugasnya sebagai pemimpin. Robbins1 mendefinisikan kepemimpinan sebagai kemampuan untuk mempengaruhi sekelompok orang dan mengarahkannya untuk mencapai tujuan tertentu. Sedangkan menurut Koehler, dkk.,  kepemimpinan adalah proses mempengaruhi kegiatan suatu kelompok orang dalam upaya pencapaian tujuan tertentu. Nanus dan Dobbs  mengutip beberapa definisi pemimpin atau kepemimpinan, yaitu: a. Seorang pimpinan adalah seorang penyalur harapan (Napoleon Bonaparte). b. Pemimpin adalah seseorang yang secara signifikan mempengaruhi pikiran, perilaku, dan atau perasaan orang lain (Howard Gardner). c. Pemimpin adalah orang yang mengetahui apa yang dibutuhkan, apa yang benar, bagaimana mengendalikan manusia dan sumber daya untuk mencapai tujuan (Thomas E. Croin). d. Pimpinan adalah orang yang bertanggungjawab membangun organisasi di mana orang-orang secara berkesinambungan

Indikator Disiplin Kerja Guru (skripsi dan tesis)

Pada dasarnya banyak indikator yang mempengaruhi tingkat kedisiplinan karyawan suatu organisasi. Namun, secara konkrit terdapat pengaruh dari dalam maupun luar diri pegawai maupun karyawan itu sendiri. Menurut Hasibuan (2017:195) terdapat delapan indikator yang mempengaruhi, diantaranya: 1) tujuan dan kemampuan, 2) teladan pimpinan, 3) balas jasa, 4) keadilan, 5) waskat, 6) sanski hukuman, 7) ketegasan, 8) hubungan kemanusiaan. Untuk lebih jelasnya diuraikan sebagai berikut: 1) Tujuan dan kemampuan Tujuan dan kemampuan ikut mempengaruhi tingkat kedisiplinan karyawan. Tujuan yang akan dicapai harus jelas dan ditetapkan secara ideal serta cukup menantang bagi kemampuan karyawan. 2) Teladan pimpinan Teladan pimpinan sangat berperan dalam menentukan kedisiplinan karyawan karena pimpinan dijadikan teladan dan panutan oleh para bawahannya. 3) Balas jasa Balas jasa (gaji dan kesejahteraan) ikut mempengaruhi kedisiplinan karyawan karena balas jasa akan memberikan kepuasan dan kecintaan karyawan terhadap perusahaan/pekerjaannya. 25 4) Keadilan Keadilan ikut mendorong terwujudnya kedisiplinan karyawan, karena ego dan sifat manusia selalu merasa dirinya penting dan minta diperlakukan sama dengan manusia lainnya. 5) Waskat Waskat (pengawasan melekat) adalah tindakan nyata dan paling efektif dalam mewujudkan kedisiplinan karyawan perusahaan. Dengan waskat berarti atasan harus aktif dan langsung mengawasi perilaku, moral, sikap, gairah, kerja, dan prestasi kerja bawahannya. 6) Sanksi hukuman Sanksi hukuman berperan penting dalam memelihara kedisiplinan karyawan. Dengan sanksi hukuman yang semakin berat, karyawan akan semakin takut melanggar peraturan peraturan perusahaan, sikap, dan perilaku indisipliner karyawan akan berkurang. 7) Ketegasan Ketegasan pimpinan dalam melakukan tindakan akan mempengaruhi kedisiplinan karyawan. 8) Hubungan kemanusiaan Hubungan kemanusiaan yang harmonis di antara sesama karyawan ikut menciptakan kedisiplinan yang baik pada suatu perusahaan. Menurut Soedjono dalam Pratama (2014:6), mengemukakan bahwa ada beberapa indikator disiplin kerja pegawai yaitu sebagai berikut: a. Tepat Waktu Para pegawai yang datang ke kantor tepat waktu, tertib dan teratur, dengan begitu dapat dikatakan disiplin kerja baik. b. Pelaksanaan Tugas (Kegiatan) Pegawai melaksanakan kegiatan yang diembankan kepadanya, membuat izin bila tidak masuk kantor, juga merupakan cerminan dan disiplin yang tinggi. c. Bertanggung Jawab Pegawai yang senantiasa menyelesaikan tugas yang dibebankan kepadanya sesuai dengan prosedur dan bertanggungjawab atas hasil kerja, dapat pula dikatakan memiliki disiplin kerja yang baik. d. Program tindak Lanjut Memberikan curahan perhatian lebih setelah tugas dan tanggung jawab selesai dilaksanakan. Melakukan hal positif dalam mendukung pelaksanaan tugas akan mempercepat pula terciptanya tujuan organisasi. Adapun prinsip disiplin kerja yang dikemukan oleh Husein dalam Bintoro dan Daryanto (2017:95) berpendapat bahwa seorang pegawai yang dianggap melaksankan prinsip-prinsip disiplin kerja apabila ia melaksanakan hal-hal sebagai berikut:  Hadir ditempat kerja sebelum waktu mulai bekerja.  Bekerja sesuai dengan prosedur maupun aturan kerja dan peraturan organisasi.  Patuh dan taat kepada saran maupun perintah atasan.  Ruang kerja dan perlengkapan selalu dijaga dengan bersih dan rapih.  Menggunakan peralatan kerja dengan efektif dan efisien.  Menggunakan jam istirahat tepat waktu dan meninggalkan tempat setelah lewat jam kerja.  Tidak pernah menunjukkan sikap malas.  Selama kerja tidak pernah absen/tidak kerja dengan alasan yang tidak tepat,dan hampir tidak pernah absen karena sakit. Berdasarkan pendapat di atas, maka disiplin kerja pegawai dalam organisasi perusahaan atapun intansi pendidikan dapat diukur melalui prinsip yang mencakup didalamnya terdapat ketaatan terhadap peraturan yang diberlakukan, baik secara lisan maupun tulisan sesuai dengan aturan organisasi atau instansi tersebut.

Konsep Dasar Disiplin Kerja Guru (skripsi dan tesis)

Menurut Sastrohadiwiryo, R Siswanto (2005:291) disiplin kerja merupakan: suatu sikap menghormati, menghargai, patuh, dan taat terhadap peraturanperaturan yang berlaku. baik yang tertulis maupun tidak tertulis serta sanggup menjalankannya dan tidak mengelak untuk menerima sanksi-sanksinya apabila ia melanggar tugas dan wewenang yang diberikan kepadanya. Hasibuan berpendapat (2017:193), “Disiplin adalah kesadaran dan kesediaan seseorang untuk mematuhi semua peraturan organisasi dan norma norma sosial yang berlaku.” Menurut Bintoro dan Daryanto (2017:95) menyatakan, “Disiplin kerja merupakan suatu proses perkembangan konstruktif bagi pegawai yang berkepentingan karena disiplin kerja ditunjukkan pada tindakan bukan orangnya.” Sedangkan menurut Keith Davis dalam Mangkunegara (2017:129) menyebutkan, “Dicipline is management action to enforce organization standars”. Berdasarkan pendapat Keith Davis, disiplin kerja dapat diartikan sebagai pelaksanaan manajemen untuk memperteguh pedoman organisasi. Sejalan dengan Veithzal Rivai (2014:599), Disiplin kerja adalah suatu alat yang digunakan para manajer untuk berkomunikasi dengan karyawannya agar mereka bersedia untuk mengubah suatu perilaku serta sebagai suatu upaya untuk meningkatkan kesadaran dan kesediaan seseorang mentaati semua peraturan perusahaan dan norma-norma sosial yang berlaku. Terkait mengenai pengertian disiplin kerja menurut pendapat para ahli diatas dapat disimpulkan bahwa disiplin kerja merupakan seperangkat norma-norma yang terikat, dimana terdapat nilai berupa etika dan tata krama yang harus dijunjung tinggi dan dipatuhi oleh setiap individu yang ada didalamnya. 23 Macam-macam disiplin kerja menurut Davis Keith dalam Mangkunegara (2017:129) yaitu disiplin kerja preventif, dan disiplin korektif. Kedua tipe tersebut dapat dijelaskan sebagai berikut: a. Disiplin Preventif Disiplin prevenif adalah suatu upaya untuk menggerakkan pegawai mengikuti dan mematuhi pedoman kerja, aturan aturan yang telah digariskan oleh perusahaan. Tujuan dasarnya adalah untuk menggerakkan pegawai untuk berdisiplin diri. Dengan cara preventif, pegawai dapat memelihara dirinya terhadap peraturan peraturan perusahaan. b. Disiplin Korektif Disiplin korektif adalah suatu upaya menggerakkan pegawai dalam menyatukan suatu peraturan dan menggerakkan untuk tetap mematuhi peraturan sesuai dengan pedoman yang berlaku pada perusahaan. Pada disiplin korektif, pegawai yang melanggar disiplin perlu diberikan sanski sesuai dengan peraturan yang berlaku.Tujuan pemberian sanski adalah untuk memperbaiki pegawai pelanggar, memelihara peraturan yang berlaku , dan memberikan pelajaran kepada pelanggar. Agar menjadikan orang dapat berperilaku disiplin, perlu dilakukan pendekatan. Menurut Mangkunegara (2017: 130) ada tiga pendekatan disiplin, yaitu: 1) Pendekatan disiplin modern yaitu mempertemukan sejumlah keperluan atau kebutuhan baru di luar hukuman. Pendekatan ini berasumsi:  Disiplin modern merupakan suatu cara menghindarkan bentuk hukuman secara fisik.  Melindungi tuduhan yang benar untuk diteruskan pada proses hukum yang berlaku.  Keputusan-keputusan yang semaunya terhadap kesalahan atau prasangka harus diperbaiki dengan mengadakan proses penyuluhan dengan mendapatkan fakta-faktanya.  Melakukan protes terhadap keputusan yang berat sebelah pihak terhadap kasus disiplin. 2) Pendekatan disiplin dengan tradisi, yaitu pendekatan disiplin dengan cara memberikan hukuman. Pendekatan ini berasumsi:  Disiplin dilakukan oleh atasan kepada bawahan, dan tidak pernah ada peninjauan kembali bila telah diputuskan.  Disiplin adalah hukuman untuk pelanggaran, pelaksanaannya harus disesuaikan dengan tingkat pelanggarannya.  Pengaruh hukuman untuk memberikan pelajaran kepada pelanggar maupun kepada pegawai lainnya.   Peningkatan perbuatan pelanggaran diperlukan hukuman yang lebih keras.  Pemberian hukuman terhadap pegawai yang melanggar kedua kalinya harus diberi hukuman yang lebih berat. 3) Sedangkan pendekatan disiplin bertujuan berasumsi bahwa:  Disiplin kerja harus diterima dan dipahami oleh semua pegawai  Disiplin bukanlah suatu hukuman, tetapi merupakan pembentukkan perilaku  Disiplin ditujukan untuk perubahan perilaku yang lebih baik  Disiplin pegawai bertujuan agar pegawai bwertanggung jawab terhadap perbuatannya. Berdasarkan pemaparan diatas mengenai konsep dasar disiplin kerja bahwasannya disiplin merupakan seperangkat aturan yang ditetapkan oleh setiap instansi, hal demikian dilakukan bukan tanpa tujuan melainkan untuk mentertibkan setiap lini yang ada didalamnya agar dapat menunjang keberhasilan dalam sebuah tujuan yang telah ditetapkan sebelumnya.

Pentingnya Kompetensi Pedagogik Guru dalam Pembelajaran (skripsi dan tesis)

Sebagaimana pendidikan merupakan sebuah keharusan bagi manusia untuk itu menjadi seorang guru merupakan profesi harus mampu mentransformasikan keahliannya melalui pengajaran, karena keberhasilan dalam proses pembelajaran merupakan salah satu faktor utama yang ditentukan oleh guru. Asmani dalam Nova (2010:23) mengatakan, “Kompetensi yang harus dimiliki seorang guru agar pembelajaran yang dilakukan efektif dan dinamis adalah kompetensi pedagogik.” Besar harapan dengan dimilikinya kemampuan pedagogik dalam diri seseorang yang berprofesi sebagai guru adalah dengan memiliki sejumlah pengetahuan dan keterampilan yang sangat diperlukan dalam pelaksanaan tugasnya. Sebagaimana telah dipaparkan sebelumnya bahwa kompetensi pedagogik guru merupakan suatu kemampuan seorang guru dalam mendidik peserta didik, dari awal pembelajaran hingga akhir pembelajaran. Dimana didalamnya terdapat kemampuan memahami siswa, menguasai prinsip dan teori belajar, menguasai kurikulum yang diterapkan hingga tahap evaluasi dan melakukan tindakan reflektif untuk meningkatkan potensi dalam diri siswa . Harus sudah menjadi kebiasaan ketika guru akan memasuki kelas dan melakukan kegiatan penyampaian materi, guru telah mempersiapkan perangkat pembelajaran agar pengelolaan didalam kelas terstruktur dengan baik. Salah satunya dengan menyiapkan administrasi seperti absensi kelas, darisana guru mengetahui karakter siswa yang akan diajar terlebih dahulu, menguasai materi yang akan disampaikan dan metode belajar yang kreatif agar mampu menarik rasa keingintahuan siswa hingga menimbulkan minat belajar terhadapnya hingga tahap evaluasi yang menjadi tahap pengujian sejauh mana pemahaman atau pengetahuan terhadap materi yang disampaikan, dan semua itu terangkum dalam kompetensi pedagogik

Indikator Kompetensi Pedagogik (skripsi dan tesis)Terdapat sebuah ukuran mengenai kondisi ketercapaian guru dalam kompetensi pedagogik seorang guru yang dapat diukur berdasarkan ketercapaian kemampuan yang dimiliki serorang guru. Mulyasa (2007:75) menyebutkan bahwa kompetensi pedagogik terangkum kedalam tujuh kompetensi inti, yang dijelaskan sebagai berikut: 1. Kemampuan mengelola pembelajaran Secara operasional, kemampuan mengelola pembelajaran menyangkut tiga fungsi manajerial, yaitu: a. perencanaan b. pelaksanaan c. pengendalian 2. Pehaman terhadap peserta didik Pemahaman terhadap pesrta didik merupakan salah satu kompetensi pedagogik yang harus dimiliki guru. Sedikitnya terdapat empat hal yang harus dipahami guru dari peserta didiknya, diantaranya: a. tingkat kecerdasan b. kreativitas c. cacat fisik d. perkembangan kognitif 3. Perancangan Pembelajaran Perancangan pembelajaran merupakan salah satu kompetensi pedagogis yang harus dimiliki guru, yang akan bermuara pada pelaksanaan pembelajaran. Perencanaan pembelajaran sedikitnya mencakup tiga kegiatan, yaitu : a. identifikasi kebutuhan b. perumusan kompetensi dasar c. penyusunan program pembelajaran 4. Pelaksanaan pembelajaran yang mendidik dan dialogis Pembelajaran yang mendidik dan dialogis merupakan respon terhadap praktek pendidikan anti realits, yang menurut Feire (2003) harus diarahkan pada proses hadap masalah. 5. Pemanfaatan teknologi pembelajaran Penggunaan teknologi dalam pendidikan dan pembelajaran (e learning) dimaksudkan untuk memudahkan atau mengefektifkan kegiatan pembelajaran. Dalam hal ini, guru dituntut untuk memliki kemampun menggunakan dan mempersiapkan materi pembelajaran dalam suatu sistem jaringan komputer yang dapat diakses oleh peserta didik. 6. Evaluasi hasil belajar Evaluasi hasil belajar dilakukan untuk mengetahui perubahan perilaku dan pembentukan kompetensi pesera didik, yang dapat dilakukan dengan 20 penilaian kelas, tes kemampuan dasar, penilaian akhir satuan pendidikan dan sertifikasi, banchmarking, serta penilaian program. 7. Pengembangan peserta didik Pengembangan peserta didik merupakan bagian dari kompetensi pedagogik yang harus dimiliki guru, untuk mengaktualisasikan berbagai potensi yang dimiliki oleh setiap peserta didik. Pengembangan peserta didik dapat dilakukan oleh guru melalui berbagai cara, antara lain melalui kegiatan ekstrakurikuler (ekskul), pengayaan dan remidial, serta bimbinga dan konseling (BK). Adapun Penilaian Kinerja Guru (PKG) beradasarkan Permendikbud Nomor 35 Tahun 2010 dalam Nur dan Yusuf (2016: 4), berikut ini disajikan tujuh kompetensi pedagogik, diantaranya sebagai berikut: a. Menguasai karakteristik peserta didik b. Menguasai teori belajar dan prinsip-prinsip pembelajaran yang mendidik c. Pengembangan kurikulum d. Kegiatan pembelajaran yang mendidik e. Pengembangan potensi peserta didik f. Komunikasi dengan peserta didik g. Penilaian dan evaluasi Berdasarkan dua pernyataan mengenai indikator kompetensi pedagogik yang harus dimiliki seorang pendidik adalah memiliki kemampuan yang komplit dari memulai pembelajaran hingga akhir pembelajaran, bahkan dari pernyataan diatas bahwa seorang guru adalah pendidik siswa dalam menentukan arah potensi yang dimilik siswanya.

Terdapat sebuah ukuran mengenai kondisi ketercapaian guru dalam kompetensi pedagogik seorang guru yang dapat diukur berdasarkan ketercapaian kemampuan yang dimiliki serorang guru. Mulyasa (2007:75) menyebutkan bahwa kompetensi pedagogik terangkum kedalam tujuh kompetensi inti, yang dijelaskan sebagai berikut: 1. Kemampuan mengelola pembelajaran Secara operasional, kemampuan mengelola pembelajaran menyangkut tiga fungsi manajerial, yaitu: a. perencanaan b. pelaksanaan c. pengendalian 2. Pehaman terhadap peserta didik Pemahaman terhadap pesrta didik merupakan salah satu kompetensi pedagogik yang harus dimiliki guru. Sedikitnya terdapat empat hal yang harus dipahami guru dari peserta didiknya, diantaranya: a. tingkat kecerdasan b. kreativitas c. cacat fisik d. perkembangan kognitif 3. Perancangan Pembelajaran Perancangan pembelajaran merupakan salah satu kompetensi pedagogis yang harus dimiliki guru, yang akan bermuara pada pelaksanaan pembelajaran. Perencanaan pembelajaran sedikitnya mencakup tiga kegiatan, yaitu : a. identifikasi kebutuhan b. perumusan kompetensi dasar c. penyusunan program pembelajaran 4. Pelaksanaan pembelajaran yang mendidik dan dialogis Pembelajaran yang mendidik dan dialogis merupakan respon terhadap praktek pendidikan anti realits, yang menurut Feire (2003) harus diarahkan pada proses hadap masalah. 5. Pemanfaatan teknologi pembelajaran Penggunaan teknologi dalam pendidikan dan pembelajaran (e learning) dimaksudkan untuk memudahkan atau mengefektifkan kegiatan pembelajaran. Dalam hal ini, guru dituntut untuk memliki kemampun menggunakan dan mempersiapkan materi pembelajaran dalam suatu sistem jaringan komputer yang dapat diakses oleh peserta didik. 6. Evaluasi hasil belajar Evaluasi hasil belajar dilakukan untuk mengetahui perubahan perilaku dan pembentukan kompetensi pesera didik, yang dapat dilakukan dengan 20 penilaian kelas, tes kemampuan dasar, penilaian akhir satuan pendidikan dan sertifikasi, banchmarking, serta penilaian program. 7. Pengembangan peserta didik Pengembangan peserta didik merupakan bagian dari kompetensi pedagogik yang harus dimiliki guru, untuk mengaktualisasikan berbagai potensi yang dimiliki oleh setiap peserta didik. Pengembangan peserta didik dapat dilakukan oleh guru melalui berbagai cara, antara lain melalui kegiatan ekstrakurikuler (ekskul), pengayaan dan remidial, serta bimbinga dan konseling (BK). Adapun Penilaian Kinerja Guru (PKG) beradasarkan Permendikbud Nomor 35 Tahun 2010 dalam Nur dan Yusuf (2016: 4), berikut ini disajikan tujuh kompetensi pedagogik, diantaranya sebagai berikut: a. Menguasai karakteristik peserta didik b. Menguasai teori belajar dan prinsip-prinsip pembelajaran yang mendidik c. Pengembangan kurikulum d. Kegiatan pembelajaran yang mendidik e. Pengembangan potensi peserta didik f. Komunikasi dengan peserta didik g. Penilaian dan evaluasi Berdasarkan dua pernyataan mengenai indikator kompetensi pedagogik yang harus dimiliki seorang pendidik adalah memiliki kemampuan yang komplit dari memulai pembelajaran hingga akhir pembelajaran, bahkan dari pernyataan diatas bahwa seorang guru adalah pendidik siswa dalam menentukan arah potensi yang dimilik siswanya.

Definisi Guru, Tugas dan Tanggung Jawab Guru. (skripsi dan tesis)

Secara sederhana guru adalah seseorang yang membantu agar anak didik bisa menuju kearah kedewasaan, dalam pelaksanaannya baik bentuk formal, maupun non formal. Menurut Sadulloh, dkk (2006:119) pendidik adalah: seorang yang bertanggung jawab terhadap terlaksananya pendidikan. Sejalan dengan itu ada juga yang mengatakan bahwa pendidikan adalah orang dewasa yang membantu terhadap anak didik agar menjadi dewasa. Dalam Undang Undang No.20 tahun 2003 pendidik adalah tenaga kependidikan yang berkualifikasi sebagai guru, dosen, konselor, pamong belajar, widyaswara, tutor, instruktur, fasilitator, dan sebutan lain yang sesuai dengan kekhususannya, serta berpartisipasi dalam menyelenggarakan penddidikan. Guru merupakan komponen utama dalam menentukan keberhasilan dalam pendidikan, maka dapat dipastikan apabila masalah dalam guru terselesaikan maka itulah pemecahan masalah dalam dunia pendidikan. Edi Suardi dalam Sadulloh (2006:120) mengemukakan bahwa terdapat syarat pendidik yang harus terpenuhi, diantaranya: 1. Pada pertama kali seorang pendidik harus mengetahui tujuan pendidikan. 2. Seorang pendidik harus mengenal peserta didiknya. 3. Seorang pendidik harus tahu prinsip dan pengembangan oleh peserta didik. 4. Seorang pendidik harus mempunyai sikap bersedia membanu peserta didik. 5. Seorang pendidik harus dapat beridentifikasi dengan peserta didiknya. 17 Guru adalah seseorang yang karena tanggungjawabnya harus mendidik seperti orang tua. Gary dan Margaret dalam Usman (2007:21) mengemukakan bahwa guru yang efektif dan kompeten secara profesional memilik karakteristik sebagai berikut: 1) memiliki kemampuan menciptakan iklim belajar yang kondusif; 2) kemampuan mengembangkan strategi dan manajemen pembelajaran; 3) memiliki kemampuan memberikan umpan balik (feedback) dan penguatan (reinforcement);dan 4) memiliki kemampuan untuk peningkatan diri. Wrightman dalam Usman (2008: 4), “Peranan guru adalah terciptanya serangkaian tingkah laku yang saling berkaitan yang dilakukan dalam suatu situasi tertentu serta berhubungan dengan kemajuan perubahan tingkah laku dan perkembangan siswa yang menjadi tujuannya.” Menjadi seorang guru merupakan suatu perbuatan yang memerlukan tanggungjawab moral yang cukup berat. Berhasilnya pendidikan pada siswa sangat bergantung pada pertanggungjawaban guru dalam melaksanakan tugasnya. Mulyasa (2007:18) menjabarkan tanggungjawab guru ke dalam sejumlah kompetensi yang lebih khusus, berikut ini: a. Tanggungjawab moral Guru harus mampu mengahayati perilaku dan etika yanag sesuai dengan moral Pancasila dan mengamalkannya dalam pergaulan hidup sehari-hari. b. Tanggungjawab dalam bidang pendidikan di sekolah Guru harus menguasai cara belajar mengajar yang efektif, mampu mengembangkan kurikulum (KTSP), silabus, dan rencana pelaksanaan pembelajaran (RPP), melaksanakan pembelajaran yang efektif, menjadi model bagi peserta didik, memberikan nasehat, melaksanakan evalusi hasil belajar, dan mengembangkan peserta didik. c. Tanggungjawab dalam bidang kemasyarakatan Guru harus turut serta mensukseskan pembangunan yang harus kompeten dalam membimbing, mengabdi dan melayani masyarakat. d. Tanggungjawab dalam bidang keilmuan Guru harus turut serta memajukan ilmu, terutama yang menjadi spesifikasinya, dengan melaksanakan penelitian dan pengembangan.

Definisi Kompetensi (skripsi dan tesis)

Menurut Undang Undang Republik Undonesia Nomor 14 Tahun 2005 Tentang Guru dan Dosen, kompetensi adalah seperangkat pengetahuan, keterampilan, dan perilaku yang harus dimiliki, dihayati, dan dikuasai oleh guru atau dosen dalam melaksanakan tugas keprofesionalan. Majid dalam Nova (2010:17) berpendapat, “Kompetensi adalah seperangkat tindakan intelejen penuh tanggung jawab yang harus dimiliki seorang sebagai syarat untuk dianggap mampu melaksanakan tugas-tugas dalam bidang pekerjaan tertentu.” Tindakan intelejen tersebut harus dibarengi dengan mahir, tepat dan berhasil dalam setiap tindakan. Sikap bertanggung jawab dalam tindakan harus dianggap benar jika dari berbagai sudut pandang baik ilmu pengetahuan maupun etika. Pada akhirnya setiap kompetensi yang dimiliki seorang guru akan menunjukkan sejauh mana kualitas guru tersebut dalam mengajar. Kemampuan tersebut akan terwujud dalam bentuk penguasaan pemahaman dan keprofesionalannya sebagai guru. Menurut Edy Sutrisno (2009:203) kompetensi adalah bagian kepribadian yang mendalam dan melekat kepada seseorang serta perilaku yang dapat diprediksi pada berbagai keadaan. Sementara menurut Gordon dalam Edy Sutrisno (2009:204) menjelaskan beberapa aspek yang terkandung dalam kompetensi sebagai berikut: 1. Pengetahuan (knowladge), yaitu kesadaran dalam bidang kognitif. 2. Pemahaman (understanding), yaitu kedalaman kognitif, dan afekif yang dimiliki oleh individu. 3. Kemampuan (skill), adalah sesuatu yang dimilki oleh individu untuk melaksanakam tugas atau pekerjaan yang dibebankan kepadanya. 4. Nilai (value), adalah suatu standar perilaku yang telah diyakinkan dan secara psikologi telah menyatu dalam diri seseorang. 5. Sikap (attitude), yaitu perasaan (senang tidak senang, suka tidak suka) atau reaksi terhadap suatu rangsangan yang datang dari luar. 6. Minat (interest), adalah kecenderungan seseorang untuk melakukan suatu perbuatan. Misalnya, melakukan suatu aktivitas kerja. Dalam Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Republik Indonesia Nomor 16 tahun 2007 tentang Standar Kualifiakasi Akademik dan Kompetensi Guru. Dalam peraturan tersebut disebutkan bahwa ada 4 kompetensi utama yang harus dimiliki oleh Guru, yaitu kompetensi pedagogik, kompetensi kepribadian, kompetensi sosial dan kompetensi profesional. Keempat kompetensi tersebut terintegrasi dalam kinerja guru. Dari keempat kompetensi tersebut dalam penelitian ini peneliti akan memfokuskan penelitian terhadap kompetensi pedagogik guru. Bukan berarti mengenyampingkan tiga kompetensi lainnya, hal demikian dilakukan dengan alasan bahwa kompetensi pedagogik merupakan kompetensi khas yang harus dikuasai guru dalam proses pembelajaran agar berjalan secara efektif dan efisien.

Indikator Minat Belajar (skripsi dan tesis)

Menurut Slameto (2010:180) siswa yang berminat dalam belajar mempunyai indikator sebagai berikut. 1. Mempunyai kecenderungan yang tetap untuk memperhatikan dan mengenang sesuatu yang dipelajari secara terus menerus. 2. Ada rasa suka dan senang pada sesuatu yang diminati. 3. Memperoleh suatu kebanggan dan kepuasan pada sesuatu yang diminati. 4. Ada rasa ketertarikan pada aktivitas yang diminati. 5. Lebih menyukai suatu hal yang menjadi minatnya pari pada yang lainnya. 6. Dimanifestasikan melalui partisipasi pada aktivitas dan kegiatan. Sebagai penguatan tehadap indikator minat belajar menurut Slameto diatas terdapat indikator minat belajar yang dikemukakan oleh Iskandarwassid dan Dadang Sunendar (2016) diantaranya sebagai berikut: a) Perasaan Senang Seseorang siswa yang memiiki perasaan senang atau sikap sua terhadap suatu mata pelajaran, maka siswa tersebut akan terus mempelajarai ilmu yang disenanginya. Tidak ada perasaan terpaksa pada siswa untuk mempelajari bidang tersebut. b) Ketertarikan Siswa Berhubungan dengan daya gerak yang mendorong untuk cenderun merasa tertarik pada orang, benda, kegiatan atau bisa berupa pengalaman afektif yang dirangsang oleh kegiatan itu sendiri. c) Perhatian Siswa Perhatian merupakan konsentrasi terhadap pengamatan dan pengertian, dengan mengesampingkan yang lain dari pada itu. Siswa yang memiliki mina pada objek tertentu, dengan sendirinya akan memperhatikan objek tersebut. d) Keterlibatan Siswa Ketertarikan seseorang akan suatu objek yang mengakibatkan orang tersebut senang dan tertarik untuk melakukan atau mengerjakan kegiatan dari objek tersebut. Berdasarkan ciri-ciri minat belajar yang dikemukakan oleh Slameto minat belajar siswa dapat ditinjau dari keseharian seseorang itu sendiri dalam melakukan proses belajar. Semakin siswa senang terhadap suatu kegiatan pembelajaran maka 14 akan timbul rasa ketertarikan untuk mengetahui lebih jauh terkait materi pembelajaran yang telah dilakukan sebelumnya, dan berdampak pada tingkat pemahaman siswa itu sendiri.

Konsep Minat Belajar (skripsi dan tesis)

Sebelum mengetahui apa yang dimaksud dengan minat belajar terlebih dahulu kita memahami apa yang dimaksud dengan minat dan belajar. Kata minat secara etimologi berasal dari bahasa inggris “interest” yang berarti kesukaan, perhatian (kecenderungan hati pada sesuatu). Dalam proses belajar siswa harus memiliki rasa ketertarikan atau minat karenanya dari perasaan tersebut akan mendorong siswa untuk meningkatkan perhatian serta antusiasnya dalam mengikuti proses belajar. Slameto (2003:57) menjelaskan, “Minat adalah kecenderungan yang tetap untuk memperhatikan dan mengenang beberapa kegiatan. Kegiatan yang diminati siswa, diperhatikan terus menerus yang disertai rasa senang dan diperoleh rasa kepuasan.” Menurut Tampubolon dalam Iskandarwassid (2016:113), “Minat adalah perpaduan antara keinginan dan kemauan yang dapat berkembang jika ada motivasi.” Begitu pula menurut Iskandarwassid dan Dadang Sunendar (2016:114), “Minat merupakan dasar pembentukan suatu kebiasaan.” Dari beberapa pendapat para ahli di atas dapat disimpulkan bahwa minat merupakan sebuah rasa ketertarikan terhadap suatu kegiatan yang sebelumnya telah dilakukan, sehingga menimbulkan perhatian serta rasa ingin tahu lebih tanpa adanya paksaan. Seseorang yang memiliki minat terhadap suatu objek, cenderung memberikan perhatian atau merasa senang yang lebih besar terhadap objek tersebut. 8 Namun apabila objek tersebut tidak menimbulkan rasa senang maka kegiatan atau kebiasaan akan dilakukan kurang efektif dan efisien. Belajar menurut Slavin dalam Chotimah dan Fathurrohman (2018:13) adalah, “Perubahan yang relatif permanen dalam perilaku atau potensi perilaku sebagai hasil dari pengalaman atau latihan yang diperkuat.” Pendapat Sudjana dalam Chotimah dan Fathurrohman (2018:15) yang menjelaskan, “Belajar bukanlah kegiatan menghafal dan bukan pula mengingat, belajar adalah suatu proses yang ditandai dengan adanya perubahan pada diri seseorang.” Sekait dengan hal tersebut, Slameto (2010:2) mengemukakan, “Belajar merupakan suatu proses perubahan tingkah laku sebagai hasil dari interaksi dengan lingkungannya dalam memenuhi kebutuhan hidupnya”. Berdasarkan pendapat para ahli dapat disimpulkan bahwa belajar adalah suatu perubahan berdasarkan pengalaman disertai perubahan dalam tingkah laku ditandai dengan adanya perubahan yang relatif tetap. Belajar merupakan adanya perubahan dalam kemampuan bereaksi dan diperkuat dengan adanya bentuk praktik dan latihan. Agar melengkapi pernyataan mengenai belajar terdapat prinsip belajar yang dikemukakan Saleh dan wahab dalam Shovia (2017: 211), antara lain: a. Belajar pada hakikatnya menyangkut potensi manusiawi, dan kelakuannya. b. Belajar memerlukan proses dan pemahaman serta kematangan diri para siswa. c. Belajar akan lebih mantap dan efektif, bila didorong dengan motivasi, terutama motivasi dari dalam/dasar keutuhan/kesadaran atau intrinsic motivation, lain halnya belajar dengan rasa takut atau dibarengi rasa tertekan dan menderita. d. Dalam banyak hal, belajar merupakan proses percobaan (dengan kemungkinan berbuat keliru) dan conditioning atau pembiasaan. e. Kemampuan belajar seorang siswa harus diperhitungkan dalam rangka menentukan isi pelajaran. f. Belajar dapat melakukan tiga cara yaitu: 1) Diajar secara langsung 2) Kontrol, kontak, penghayatan, pengalaman langsung (seperti anak belajar bicara, sopan santun, dan lainnya) g. Belajar melalui praktik atau mengalami secara langsung akan lebih efektif mampu membina sikap, keterampilan, cara berpikir kritis, dan lain-lain, bila dibandingkan dengan belajar hafalan saja. h. Perkembangan pengalaman anak didik akan banyak mempengaruhi kemampuan belajar yang bersangkutan. i. Bahan pelajaran yang bermakna/berarti, lebih mudah dan menarik unuk dipelajari, dari pada bahan yang kurang bermakna. j. Informasi tentang kelakuan baik, pengetahuan, kesalahan serta keberhasilan siswa, banyak membantu kelancaran dan gairh belajar. k. Belajar sedapat mungkin diubah ke dalam aneka ragam bentuk tugas, sehingga anak anak melakukan dialog dalam dirinya atau mengalami sendiri. Berdasarkan pendapat di atas dapat disimpulkan bahwa terdapat aspek psikologis yang muncul dari dalam diri peserta didik itu sendiri yang ditunjukkan dengan adanya rasa ketertarikan, rasa suka, dan keinginan untuk melakukan perubahan setelah melalui berbagi kegiatan dalam proses belajar untuk mendapat pengetahuan dan pengalaman, dengan kata lain hal tersebut disebut dengan minat. Minat belajar sebagai ekspresi dari rasa senang, ketertarikan dan ditunjukkan oleh peserta didik dalam proses perubahan tingkah laku melalui rasa antusias, keaktifan dan berpartisipasi dalam belajar. Minat merupakan pernyataan dimana peserta didik memilik ketertarikan lebih terhadap suatu hal dibanding lainnya, dan diaplikasikan melalui keikusertaan dalam sebuah aktivitas. Selain antusias, peserta didik akan mencurahkan perhatian lebih besar terhadap subjek tersebut. Minat belajar siswa dapat dinyatakan melalui pernyataan menyukai atau tidak terhadap suatu hal, dapat pula dilihat dari sejauh mana siswa berperan dalam suatu kegiatan. Siswa yang memiliki minat terhadap sebuah objek akan melakukan perhatian yang lebih besar terhadap objek tersebut. Terdapat beberapa faktor yang mempengaruhi minat siswa, salah satunya karena keinginan mendapat nilai pelajaran yang tinggi. Melalui minat belajar akan menimbulkan prestasi dan hasil belajar yang tinggi pula, sebaliknya minat belajar yang kurang akan mengakibatkan prestasi belajar dan hasil belajar yang rendah pula. Maka dari pernyataan tersebut diyakini bahwa minat mempengaruhi terhadap prestasi dan hasil belajar siswa. Untuk itu guru sebagai pendidik yang memilki kompetensi memahami siswa dan mampu melayani kebutuhan siswa adalah salah satu upaya meningkatkan minat belajar siswa.

Keuntungan Pembelajaran Aktif (skripsi dan tesis)

Secara umum dengan melakukan pembelajaran secara aktif, Umi Machmudah dan Abdul Wahab Rosyidi mengungkapkan beberapa hal yang dapat diperoleh setelah melaksanakan pembelajaran secara aktif. Dalam hal ini guru akan memperoleh hal-hal sebagai berikut: 1) Interaksi yang timbul selama proses pembelajaran akan menimbulkan saling ketergantungan dalam hal positif (positive interdependence) di mana konsolidasi pengetahuan yang dipelajari bersama-sama melalui eksplorasi aktif dalam belajar. 2) Setiap individu harus terlibat aktif dalam proses pembelajaran dan pengajar harus dapat mendapatkan penilaian untuk setiap siswa sehingga terdapat individu yang bertanggungjawab (individual accountability). 3) Proses pembelajaran aktif ini agar berjalan dengan efektif diperlukan tingkat kerjasama yang tinggi sehingga dapat memupuk keahlian sosial (social skill).  Dari semua pemaparan di atas mengenai pengertian keaktifan siswa, atau lebih jelas disebut dengan pembelajaran aktif. Pembelajaran aktif adalah proses pembelajaran yang menekankan siswa ikut aktif dalam kegiatan pembelajaran, bukan hanya guru yang aktif dan mendominasi kelas. Keaktifan siswa di kelas akan membuat siswa lebih mudah memahami materi, karena apabila siswa aktif dalam mengikuti proses pembelajaran, maka secara otomatis siswa akan sedikit demi sedikit lebih mudah memahami materi yang dijelaskan oleh guru.

Pentingnya Pembelajaran Aktif (skripsi dan tesis)

Pentingnya Pembelajaran Aktif Penelitian menunjukkan bahwa semakin banyak siswa terlibat dalam belajar, maka mereka lebih banyak mengerti dan mengingat pembelajaran dalam waktu yang lebih lama, karena kuncinya adalah keterlibatan. Apabila siswa terlibat aktif dalam kegiatan pembelajaran, maka siswa akan lebih mudah memahami setiap materi yang dijelaskan oleh guru dalam kegiatan pembelajaran.

Pengertian Keaktifan Siswa (skripsi dan tesis)

Kecenderungan psikologi dewasa ini menganggap bahwa anak adalah makhluk yang aktif. Anak mempunyai dorongan untuk berbuat sesuatu, mempunyai kemauan dan aspirasinya sendiri. Belajar tidak bisa dipaksakan oleh orang lain dan juga tidak bisa dilimpahkan kepada orang lain. Belajar hanya mungkin terjadi apabila anak aktif mengalami sendiri. Menurut John Dewey yang dikutip oleh Dimyati dan Mudjiono mengemukakan, bahwa belajar adalah menyangkut apa yang harus dikerjakan siswa untuk dirinya sendiri, maka inisiatif harus datang dari siswa sendiri. Guru sekedar pembimbing dan pengarah. Dalam setiap proses belajar, siswa selalu menampakkan keaktifan itu beraneka ragam bentuknya. Mulai dari kegiatan fisik yang mudah kita amati sampai kegiatan psikis yang susah diamati. Kegiatan fisik bisa berupa membaca, mendengar, menulis, berlatih keterampilanketerampilan, dan sebagainya. Dalam kegiatan pembelajaran maupun kegiatan belajar, siswa dituntut untuk selalu aktif memproses dan mengolah perolehan belajarnya. Dalam memproses dan mengolah perolehan belajarnya secara efektif, belajar dituntut untuk aktif secara fisik, intelektual, dan emosional. Menurut Thorndike yang dikutip oleh Jamal Ma‟mur Asmani mengemukakan bahwa keaktifan siswa dalam belajar memerlukan adanya latihan-latihan. Sementara itu Keachie berkenaan dengan prinsip keaktifan mengemukakan bahwa individu merupakan manusia belajar yang aktif selalu ingin tahu, serta termasuk makhluk sosial. Menjadikan belajar supaya aktif, siswa harus mengerjakan banyak sekali tugas. Mereka harus menggunakan otak, mengkaji gagasan, memecahkan masalah, dan menerapkan apa yang mereka pelajari. Belajar aktif harus gesit dan menyenangkan, bersemangat dan penuh gairah. Untuk bisa mempelajari sesuatu dengan baik, kita perlu mendengarkannya, melihatnya, mengajukan pertanyaan tentangnya, dan membahasnya dengan orang lain. Bukan cuma itu, siswa perlu mengerjakannya, yakni meggambarkan sesuatu dengan cara mereka sendiri, menunjukkan contohnya, mencoba mempraktikkan keterampilan, dan mengerjakan tugas yang menuntut pengetahuan yang telah atau harus mereka dapatkan. Jelas bahwa dalam kegiatan belajar, subyek belajar, subyek didik atau siswa harus aktif berbuat. Dengan kata lain, bahwa dalam belajar sangat diperlukan adanya aktivitas. Tanpa aktivitas, proses belajar tidak mungkin berlangsung dengan baik. Pembelajaran aktif mengkondisikan agar siswa selalu melakukan pengalaman belajar yang bermakna dan senantiasa berpikir tentang apa yang dilakukannya selama pembelajaran. Pembelajaran aktif melibatkan siswa untuk melakukan sesuatu dan berpikir tentang sesuatu yang sedang dilakukannya. Dalam rangka mewujudkan proses pembelajaran yang berpusat pada peserta didik, guru menggunakan strategi pembelajaran aktif. Strategi pembelajaran aktif ini merupakan teknik yang dapat digunakan oleh guru yang bertujuan untuk menjadikan peserta didik belajar secara aktif. Ketika peserta didik belajar aktif berarti merekalah yang mendominasi pembelajaran, alhasil pembelajaran pun menjadi berpusat pada peserta didik.31 Konsep pembelajaran aktif berkembang setelah sejumlah institusi melakukan riset tentang lamanya ingatan siswa terhadap materi pembelajaran terkait dengan metode pembelajaran yang dipergunakan. Pembelajaran aktif lebih menekankan pada pendekatan pembelajaran dengan esensi mengaktifkan siswa dalam pembelajaran yang dilaksanakan dengan strategi pembelajaran berbasis siswa (student centered learning). Jumlah siswa dalam pembelajaran aktif bebas, boleh perseorangan atau kelompok belajar, yang penting siswa harus aktif, sedangkan menifestasinya dalam pembelajaran berkelompok dapat diwujudkan  dengan metode pembelajaran kolaboratif, pembelajaran kooperatif, pembelajaran berbasis masalah, dan pembelajaran berbasis proyek. Oleh karena itu tidak ada sintaks khusus pembelajaran aktif, bergantung pada metode yang dipilih lebih lanjut. Mendefinisikan pembelajaran aktif sebagai semua hal yang terkait dengan pembelajaran di kelas yang memfasilitasi siswa untuk melakukan banyak kegiatan dan tidak sekedar melihat, mendengarkan dan membuat catatan. Siswa melakukan pembelajaran aktif jika semuanya terlibat aktif untuk menjawab pertanyaan yang diajukan oleh guru, tertantang menyelesaikan masalah yang disampaikan guru bekerja secara aktif sebagai individu maupun kelompok kecil dan saling bertukar pikiran, saling berbagi pengetahuan yang dimiliki pada situasi pembelajaran dalam kelas. Terkait pembelajaran aktif, pembelajaran aktif terdiri dari dua komponen utama, yakni komponen pengalaman (experience) dan komponen dialog. Lebih lanjut komponen pengalaman terdiri dari pengalaman melakukan (doing) dan pengalaman mengamati (observing) sedangkan komponen dialog terdiri dari dialog dengan diri sendiri (dialogue with self) dan dialog dengan orang lain (dialogue with others) Aktivitas belajar itu banyak sekali macamnya maka para ahli mengadakan klasifikasi atas macam-macam aktivitas tersebut. Salah satu ahli tersebut yaitu Paul D. Dierich, ia menyebutkan dalam buku yang dikutip oleh Oemar Hamalik, jenis-jenis aktivitas siswa dalam belajar adalah sebagai berikut: 1) Kegiatan-kegiatan visual, yaitu aktivitas visual seperti membaca, melihat gambar-gambar, mengamati eksperimen, demonstrasi, pameran, dan mengamati orang lain bekerja atau bermain. 2) Kegiatan-kegiatan lisan, seperti mengemukakan suatu fakta atau prinsip, menghubungkan suatu kejadian, bertanya, mengeluarkan pendapat, wawancara, diskusi, dan interupsi. 3) Kegiatan-kegiatan mendengarkan, seperti mendengarkan penyajian bahan, mendengarkan percakapan atau diskusi kelompok, mendengarkan suatu permainan, mendengarkan radio. Kegiatan-kegiatan menulis, misalnya menulis cerita, menulis laporan, memeriksa karangan, membuat rangkuman, mengerjakan tes, mengisi angket. 5) Kegiatan-kegiatan menggambar, seperti membuat grafik, diagram peta, dan pola. 6) Kegiatan-kegiatan metrik, seperti melakukan percobaan, memilih alatalat, melaksanakan pameran, membuat model, menyelenggarakan permainan. 7) Kegiatan-kegiatan mental, seperti merenungkan, mengingat, memecahkan masalah, menganalisis, membuat putusan. 8) Kegiatan-kegiatan emosional, seperti minat, membedakan, berani, tenang. Pembelajaran aktif memiliki beberapa karateristik. Menurut Bonwell dalam buku yang dikutip oleh Umi Machmudah dan Abdul Wahab Rosyidi, menjelaskan bahwa karateristik pembelajaran aktif tersebut di antaranya sebagai berikut: a) Penekanan proses pembelajaran bukan pada penyampaian informasi oleh pengajar melainkan pada pengembangan keterampialn pemikiran analitis dan kritis terhadap topik atau permasalahan yang dibahas. b) Siswa tidak hanya mendengarkan pelajaran secara pasif, tetapi mengerjakan sesuatu yang berkaitan dengan materi pelajaran. c) Penekanan pada eksplorasi nilai-nilai dan sikap-sikap berkanaan dengan materi pelajaran. d) Siswa lebih banyak dituntut berpikir kritis, meganalisa dan melakukan evaluasi. e) Umpan balik yang lebih cepat akan terjadi pada proses pembelajaran.

Pengertian Kepercayaan Diri Percaya diri (self confidence) (skripsi dan tesis)

adalah keyakinan bahwa orang mempunyai kemampuan untuk melakukan sesuatu untuk mencapai tujuan tertentu. Percaya diri juga merupakan keyakinan orang atas kemampuannya untuk menghasilkan level-level pelaksanaan yang mempengaruhi kejadian-kejadian yang mempengaruhi kehidupan mereka. Percaya diri adalah keyakinan bahwa orang mempunyai kemampuan untuk memutuskan jalannya suatu tindakan yang dituntut untuk mengurusi situasi-situasi yang dihadapi. Maksud kepercayaan diri adalah Anda mempercayai dan menyakini penambahan kualitas akal anda, bahwa Anda mampu menopang orientasi untuk menambah kemampuan akal Anda. Ini artinya bahwa rahasia dibalik memperoleh tambahan kekuatan dan kemampuan akal yang mengantarkan kepada kreativitas dan inovasi yaitu keyakinan terhadap akal dan kapabilitas Anda untuk mengontrolnya. Jika Anda mengatakan bahwa kemampuan Anda terbatas, namun tidaklah mustahil Anda akan menjadi lebih baik dari sekarang, maka saya katakan bahwa asumsi Anda itu tidaklah benar, sebab yang dituntut adalah agar Anda menopang kepercayaan diri dan kemampuan akal Anda sehingga dengan demikian Anda akan mendapatkan perubahan dalam hidup Anda. Hal ini juga dituntut agar Anda meyakini kemampuan untuk mengoptimalkan akal dan kapabilitas Anda berdasarkan pengawasan Anda terhadap kemampuan akal. Jika terealisasikan, maka saya tegaskan bahwa Anda memiliki kemampuan akal yang lebih kuat dan lebih tajam serta mampu mengubah orientasi hidup Anda. Hendaklah Anda mengubah orientasi hidup Anda ke arah yang lebih baik. Percayalah bahwa orientasi hidup adalah kunci pertama menuju kemampuan akal yang lebih kuat yang akan memberikan pemikiran yang lebih jelas, lebih tajam dan lebih layak.22 Dalam proses belajar mengajar di sekolah, anak didik harus dibangun agar mempunyai rasa percaya diri yang baik. Rasa percaya diri dapat dimunculkan dengan memberikan bantuan kepada anak didik untuk menemukan kelebihan atau potensi yang ia miliki. Sungguh, setiap anak manusia mendapatkan anugerah dari Tuhan berupa kelebihan, potensi atau kecerdasan yang sangat perlu untuk dikembangkan. Di sinilah dibutuhkan kedekatan, kejelian, dan kesabaran dari seorang guru untuk bisa menemukan sekaligus mengembangkan kelebihan atau potensi yang dimiliki oleh anak didiknya. Hanya memberikan kesempatan tampil kepada siswa yang hebat merupakan suatu kesalahan. Jika siswa yang berkemampuan biasa saja atau bahkan kurang cerdas tidak diberi kesempatan maka tindakan demikian menyalahi prinsip keadilan dan kesetaraan. Dalam hal ini, guru harus memberikan kesempatan dan tanggung jawab yang sama kepada semua siswa agar mereka bisa mengembangkan potensi serta bakat masing-masing. Terdapat perbedaan aktualisasi diri antara siswa dengan kemampuan tinggi, sedang, dan rendah. Siswa berkemampuan tinggi akan semakin bersemangat dalam mengaktualisasikan diri sehingga ia termotivasi untuk terus mengembangkan potensi setinggi mungkin, sementara itu, siswa yang kemampuannya sedang akan tersadar bahwa ia selama ini membiarkan harta karun luar biasa di dalam dirinya, yaitu bakat terpendam. Sehingga, dengan aktualisasi diri, ia akan lebih bersemangat dalam menggali bakatnya hingga berhasil. Pada siswa dengan kemampuan rendah, adanya aktualisasi diri akan membangun kepercayaan diri dan keyakinan bahwa ia mempunyai potensi besar. Apabila potensi itu digali maka akan menjadi kekuatan dahsyat dimasa depan. Hal itu sangat bermanfaat bagi dirinya sendiri, masyarakat, bangsa dan negara. Di sinilah pentingnya kearifan guru dan kebijaksanaan guru dalam melihat kegeniusan seluruh siswa sehingga mereka dapat meraih kebahagiaan dan kesuksesan bersama.24 Istilah kepercayaan diri akan lebih jelas lagi apabila dipaparkan secara mendetail mengenai pengertian diri atau self. Self (diri) merupakan salah satu aspek sekaligus inti kepribadian seseorang, yang di dalamnya meliputi segala kepercayaan, sikap, perasaan, dan cita-cita. Self (diri) terbagi dalam dua bagian, yaitu: 1) Self (diri) sebagai objek yang dapat diamati. 2) Self (diri) sebagai agen yang melakukan pengamatan, menggambarkan atau pelaku yang mengamati atau merasakan. Self (diri) merupakan eksekutif kepribadian untuk mengontrol tindakan dengan mengikuti prinsip kenyataan atau rasional, untuk membedakan antara hal-hal yang terdapat dalam batin seseorang dengan hal-hal yang terdapat dalam dunia luar. Self (diri) hanya bisa dimengerti melalui interaksi dengan lingkungan. Self (diri) dibangun berdasarkan pandangan orang yang bersangkutan dan pandangan orang lain. Unsur self (diri) terdiri dari tiga hal, yaitu: 1) Perceived self (bagaimana seseorang atau orang lain melihat tentang dirinya). 2) Real self (bagaimana kenyataan tentang dirinya). 3) Ideal self (apa yang dicita-citakan tentang dirinya). Telah dikemukakan di atas bahwa self (diri) meliputi kepercayaan, sikap, perasaan, dan cita-cita. Kepercayaan, sikap, perasaan, dan cita-cita yang tepat dan realistis memungkinkan seorang individu untuk memiliki kepribadian yang sehat. Namun sebaliknya jika tidak tepat dengan realistis, boleh jadi, ia akan menjadi pribadi yang bermasalah

Prinsip Strategi Pertanyaan yang disiapkan (Planted Questions) (skripsi dan tesis)

Anak didik aktif dan kreatif adalah yang diharapkan dari penerapan semua prinsip dalam kegiatan pembelajaran. Dalam penerapannya tidak boleh sembarangan, tetapi harus mempertimbangkan akibatnya bagi anak didik. Mengabaikannya berarti guru membuat masalah bagi dirinya, selain pengajarannya kurang kondusif, juga merugikan anak didik di lain pihak. Syaiful Bahri Djamarah menyebutkan beberapa prinsip dalam interaksi edukatif antara guru dan peserta didik. Semua prinsip yang akan diuraikan berikut ini sebaiknya guru kuasai dan pahami betul-betul agar kegiatan pembelajaran dalam penerapan strategi pembelajaran yang salah satunya yaitu strategi planted questions, dapat tercapai tujuannya secara efektif dan efesien. Prinsip-prinsip tersebut adalah: 1. Prinsip motivasi. Dalam interaksi edukatif tidak semua anak didik termotivasi untuk bidang studi tertentu. Motivasi anak didik untuk menerima pelajaran tertentu berbeda-beda, ada anak didik yang memiliki motivasi yang tinggi, ada yang sedang, ada juga yang sedikit sekali memiliki motivasi. 2. Prinsip berangkat dari persepsi yang dimiliki. Setiap anak didik yang hadir di kelas memiliki latar belakang pengalaman dan pengetahuan yang berbeda. Menyadari akan hal ini guru dapat memanfaatkannya guna kepentingan pengajaran. Kebingungan yang guru hadapi di antaranya disebabkan penjelasan guru yang sukar dipahami oleh sebagian besar anak didik. Hal ini terjadi karena penjelasan guru yang mengabaikan pengalaman dan pengetahuan yang bersifat apersepsi dari setiap anak didik. 3. Prinsip mengarah kepada titik pusat perhatian tertentu atau fokus tertentu. Pelajaran yang direncanakan dalam suatu bentuk atau pola tertentu akan mampu mengaitkan bagian-bagian yang terpisah dalam suatu pelajaran. Tanpa suatu pola, pelajaran dapat terpecah-pecah dan para anak didik akan sulit memutuskan perhatian. 4. Prinsip keterpaduan. Salah satu sumbangan guru untuk membantu anak didik dalam upaya mengorganisasikan perolehan belajar adalah penjelasan yang mengaitkan antara suatu pokok bahasan dengan pokok-pokok bahasan yang lain dalam mata pelajaran yang berbeda. Misalnya, dalam menjelaskan pokok bahasan moral dalam mata pelajaran pendidikan Pancasila, guru menghubungkannya dengan masalah akhlak dalam mata pelajaran Kkidah Akhlak. Keterpaduan dalam pembahasan dan peninjauan ini akan membantu anak didik dalam memadukan perolehan belajar dalam kegiatan interaksi edukatif. 5. Prinsip pemecahan masalah yang dihadapi. Guru perlu menciptakan suatu masalah untuk dipecahkan oleh anak didik di kelas. Salah satu indikator kepandaian anak didik banyak ditentukan oleh kemampuan untuk memecahkan masalah yang dihadapinya. Pemecahan masalah dapat mendorong anak didik untuk lebih tegar dalam menghadapi berbagai masalah belajar. Anak didik yang terbiasa dihadapkan pada masalah dan berusaha memecahkannya akan cepat tanggap dan kreatif. 6. Prinsip mencari, menemukan dan mengembangkan sendiri. Anak didik sebagai individu pada hakikatnya mempunyai potensi untuk mencari dan mengembangkan dirinya. Lingkunganlah yang harus diciptakan untuk menunjang potensi anak didik tersebut. Dalam rangka ini guru tidak perlu berdaya upaya menjejali anak didik dengan segudang informasi, sehingga membuat anak didik kurang kreatif dalam mencari dan menemukan informasi ilmu pengetahuan yang ada dalam buku-buku bacaan. 7. Prinsip belajar sambil bekerja. Belajar secara verbal terkadang kurang membawa hasil bagi anak didik. Karena itulah dikembangkan konsep belajar secara realistis, atau belajar sambil bekerja (learning by doing). Belajar sambil melakukan aktivitas lebih banyak mendatangkan hasil bagi anak didik, sebab kesan yang didapatkan oleh anak didik lebih tahan lama tersimpan di dalam benak anak didik. 8. Prinsip hubungan sosial. Dalam belajar tidak selamanya anak didik harus seorang diri, tetapi sewaktu-waktu anak didik harus juga belajar bersama dalam kelompok. Konsepsi belajar seperti ini dimaksudkan untuk mendidik anak didik terbiasa bekerja sama dalam kebaikan. Terlepas dari perbuatan “nyontek” ketika ulangan, dengan melakukan perbuatan kerjasama dalam keburukan. Kerjasama ini memberikan kesan bahwa kondisi sosialisasi juga diciptakan di kelas, yang akan mengakrabkan hubungan anak didik dengan anak didik lainnya dalam belajar. 9. Prinsip perbedaan individual. Ketika guru hadir di kelas, guru akan berhadapan dengan anak didik dengan segala perbedaannya. Perbedaan ini perlu guru sadari sehingga guru tidak akan terkejut melihat tingkah laku dan perbuatan anak didik yang berlainan antara yang satu dengan yang lainnya. Dari uraian di atas dapat disimpulkan bahwa prinsip-prinsip di atas amatlah penting, karena di dalamnya terdapat interaksi antara anak didik dan pendidik. Pada prinsip mengaktifkan peserta didik guru bersikap demokratis, guru memahami dan menghargai karakter peserta didiknya, guru memahami perbedaan-perbedaan antara mereka, baik dalam hal minat, bakat, kecerdasan, sikap, maupun kebiasaan. Sehingga dapat menyesuaikan dalam memberikan pelajaran sesuai dengan kemampuan peserta didiknya. Strategi pembelajaran planted questions akan dapat menumbuhkan pembelajaran yang efektif, apabila didukung dengan strategi pembelajaran yang lain seperti strategi learning starts with a question (pelajaran dimulai dengan pertanyaan). Penjelasan dari strategi ini adalah belajar sesuatu yang baru akan lebih efektif jika siswa itu aktif dan terus bertanya ketimbang hanya menerima apa yang disampaikan oleh guru. salah satu cara untuk membuat siswa belajar secara aktif adalah dengan cara membuat mereka bertanya tentang materi pelajaran sebelum ada penjelasan dari guru. Strategi ini dapat menggugah siswa untuk menggapai kunci belajar, yaitu bertanya. Jadi dapat disimpulkan bahwa strategi learning starts with a question (pelajaran dimulai dengan pertanyaan). Strategi ini juga termasuk strategi pembelajaran yang mendorong siswa untuk aktif di dalam kelas. Bukan hanya mendengarkan penjelasan dari guru, akan tetapi siswa dituntut untuk aktif dan kreatif dalam membuat pertanyaan sebelum guru menjelaskan materi.

Pengertian Strategi (skripsi dan tesis)

Pembelajaran Strategi pembelajaran merupakan pola umum dan prosedur umum dalam pelaksanaan aktivitas pembelajaran. Guru dapat memilih sebuah setrategi tertentu dalam membuat sebuah rancangan atau desain pembelajaran tertentu. Sebuah desain pembelajaran perlu memerhatikan karateristik peserta didik, kondisi lingkungan belajar, dan sumber daya yang tersedia untuk pelaksanaan proses belajar mengajar. Terdapat berbagai pendapat tentang strategi pembelajaran sebagaimana dikemukakan oleh para ahli pembelajaran, yang dikutip oleh Hamzah B. Uno, di antaranya akan dipaparkan sebagai berikut: 1) Kozna, secara umum menjelaskan bahwa strategi pembelajaran dapat diartikan sebagai setiap kegiatan yang dipilih, yaitu yang dapat memberikan fasilitas atau bantuan kepada peserta didik menuju tercapainya tujuan pembelajaran tertentu. 2) Gerlach dan Ely, menjelaskan bahwa strategi pembelajaran merupakan cara-cara yang dipilih untuk menyampaikan metode pembelajaran dalam lingkungan pembelajaran tertentu. Selanjutnya dijabarkan oleh mereka bahwa strategi pembelajaran dimaksud meliputi sifat lingkup dan urutan kegiatan pembelajaran yang dapat memberikan pengalaman belajar peserta didik. 3) Dick dan Carey, menjelaskan bahwa strategi pembelajaran terdiri atas seluruh komponen materi pembelajaran dan prosedur atau tahapan kegiatan belajar yang digunakan oleh guru dalam rangka membantu peserta didik mencapai tujuan pembelajaran tertentu. Menurut mereka strategi pembelajaran bukan hanya terbatas prosedur atau tahapan kegiatan belajar saja, melainkan termasuk juga pengaturan materi atau paket program pembelajaran yang akan disampaikan kepada peserta didik. Memerhatikan beberapa pengertian strategi pembelajaran di atas, dapat disimpulkan bahwa strategi pembelajaran merupakan cara-cara yang akan dipilih dan digunakan oleh seorang pengajar untuk menyampaikan materi pembelajaran sehingga akan memudahkan peserta didik menerima dan memahami materi pembelajaran, yang pada akhirnya tujuan pembelajaran dapat dikuasainya diakhir kegiatan belajar. Dalam kegiatan pembelajaran ada beberapa faktor pendukung yang bisa menjadikan pembelajaran tersebut berjalan lancar. E. Mulyasa dalam bukunya yang berjudul Pengembangan dan Implementasi Kurikulum 2013, menyebutkan faktor pendukung tersebut meliputi: a. Kondisi kelas. Lingkungan sekolah yang aman nyaman dan tertib, optimis dan harapan yang tinggi dari seluruh warga sekolah, kesehatan sekolah, serta kegiatan-kegiatan yang terpusat pada peserta didik. Belajar yang kondusif merupakan tulang penggung dan faktor pendorong yang dapat memberikan daya tarik tersendiri bagi proses belajar, sebaiknya proses belajar yang kurang menyenangkan akan menimbulkan kejenuhan dan rasa bosan. b. Siswa. Aktivitas peserta didik dalam rangka mendorong dan mengembangkan aktivitas peserta didik, guru harus mampu mendisiplinkan peserta didik, terutama disiplin diri. Guru harus mampu membantu peserta didik mengembangkan pola perilakunya meningkatkan standar perilakunya dan melaksanakan aturan sebagai alat untuk menegakkan disiplin dalam setiap aktivitasnya. Pembelajaran aktif proses pembelajaran lebih sering diartikan sebagai pengajaran menjelaskan materi dan peserta didik mendengarkan secara pasif. Oleh karena itu, pembelajaran harus sebanyak mungkin melibatkan peserta didik agar mereka mampu bereksplorasi untuk membentuk kompetensi dengan menggali berbagai potensi, dan kebenaran secara ilmiah. c. Bahan ajar atau sumber belajar yang memadai yang perlu dikembangkan antara lain pusat sumber belajar, serta tenaga pengelola dan peningkatan kemampuan pengelolaannya. Dalam pengembangan fasilitas dan sumber belajar guru di samping harus mampu membuat sendiri alat pembelajaran dan alat peraga, juga harus berinisiatif mendayagunakan lingkungan sekitar sekolah sebagai sumber belajar yang lebih konkret. Berdasarkan faktor pendukung dalam proses pembelajaran yang disebutkan oleh E. Mulyasa dalam bukunya yang berjudul Pengembangan dan Implementasi Kurikulum 2013. Daryanto dalam bukunya juga mendukung dengan menyebutkan beberapa faktor pendukung dalam proses pembelajaran, di antaranya: a. Fasilitas dan perangkat belajar ikut menentukan keberhasilan belajar seseorang. Orang yang belajar tanpa dibantu dengan fasilitas, tidak jarang mendapatkan hambatan dalam menyelesaikan kegiatan belajar. Dengan demikian fasilitas tidak bisa diabaikan dalam masalah belajar. Fasilitas dan perangkat yang dimaksud tentu saja berhubungan dengan maslah material berupa kertas, pensil, buku catatan, meja, dan kursi belajar, dan sebagainya. b. Peran guru. Guru tidak hanya sebagai fasilitas belajar, guru harus mampu membangun pengajaran yang interaktif, guru harus memberikan kesempatan kepada peserta didik untuk secara aktif pada proses belajar dirinya dan secara aktif membantu peserta didik dalam menafsirkan persoalan riil, guru tetap aktif mengaitkan kurikulum dengan dunia riil, baik fisik maupun sosial. Melalui pelaksanaan kegiatan belajar mengajar sangat diharapkan peserta dapat mengetahui, memahami mengaplikasikan dan terampil dalam memecahkan masalah yang terdapat dalam kehidupan sehari-hari. Dalam memahami peran guru sebagai faktor pendukung dalam proses kegiatan pembelajaran. Pendapat Daryanto tersebut didukung oleh Musthofa Rembangy dalam bukunya menyebutkan faktor pendukung tersebut di antaranya: a. Pendekatan metode pembelajaran. Pendekatan metode yang efektif tentu akan mendukung terhadap keberhasilan pembelajaran di kelas. Terkait dengan hal ini memiliki hubungan erat dengan beberapa aspek yang terlibat langsung di antaranya peran guru di kelas, siswa sebagai objek aktif, dan fasilitas pendukung. b. Masalah kurikulum. Kurikulum merupakan aspek pendidikan yang prinsipil, sebagai turunan dari tujuan, cita-cita, atau orientasi pendidikan nasional. Dari beberapa faktor pendukung dalam proses belajar mengajar di atas dapat disimpulkan bahwa kegiatan pembelajaran akan berjalan lancar apabila faktor-faktor pendukung tersebut berlajan sesuai fungsinya. Siswa ikut serta aktif dalam proses pembelajaran, fasilitas dan media pembelajaran yang memadai, sumber belajar yang mendukung sesuai kompetensi, kondisi kelas yang mendukung untuk proses pembelajaran, dan peran guru yang kreatif dalam memilih metode dan strategi pembelajaran yang bervariasi sesuai dengan keadaan peserta didik, demi tercapainya tujuan pendidikan.

Pengertian Pembelajaran (skripsi dan tesis)

Pembelajaran merupakan terjemahan dari kata “instruction” yang dalam bahasa Yunani disebut insturctus atau “intruere” yang berarti menyampaikan pikiran, dengan demikian arti instruksional adalah menyampaikan pikiran atau ide yang telah diolah secara bermakna melalui pembelajaran. Pengertian ini lebih mengarah kepada guru sebagai pelaku perubahan. Pembelajaran merupakan pusat kegiatan belajar mengajar, yang terdiri dari guru dan siswa, yang bermuara pada kematangan intelektual, kedewasaan emosional, ketinggian spiritual, kecakapan hidup, dan keagungan moral. Sebagian besar waktu anak dihabiskan untuk menjalani rutinitas pembelajaran setiap hari. Bahkan dalam ekstra kurikuler pun, pembelajaran masih terus berlangsung. Relasi guru dan siswa dalam proses pembelajaran ini sangat menentukan keberhasilan pembelajaran yang dilakukan. Dalam perencanaan pembelajaran, prinsip-prinsip belajar dapat mengungkap batas-batas kemungkinan dalam pembelajaran. Dalam melaksanakan pembelajaran, pengetahuan tentang teori dan prinsip-prinsip belajar dapat membantu guru dalam memilih tindakan yang tepat. Guru dapat terhindar dari tindakan-tindakan yang kelihatannya baik tetapi nyatanya tidak berhasil meningkatkan proses belajar siswa. Selain itu dengan teori dan prinsip-prinsip belajar ia memiliki dan mengembangkan sikap yang diperlukan untuk menunjang peningkatan belajar siswa. Memahami prinsip yang menjadi landasan mengenai pengertian pembelajaran yang harus diketahui oleh guru atau pendidik. Bambang Warsita menyebutkan ada lima prinsip yang menjadi landasan pengertian pembelajaran yaitu: 1) Pembelajaran sebagai usaha untuk memperoleh perubahan perilaku, prinsip ini mengandung makna ciri utama proses pembelajaran itu adalah adanya perubahan perilaku dalam diri peserta didik (walaupun tidak semua perubahan perilaku peserta didik merupakan hasil pembelajaran). 2) Hasil pembelajaran ditandai dengan perubahan perilaku secara keseluruhan. Prinsip ini mengandung makna bahwa perubahan perilaku sebagai hasil pembelajaran meliputi semua aspek perilaku dan bukan hanya satu atau dua aspek saja. Perubahan-perubahan itu meliputi aspek kognitif, afektif, dan psikomotorik. 3) Pembelajaran merupakan suatu proses. Prinsip ketiga ini mengandung makna bahwa pembelajaran itu merupakan suatu aktivitas yang berkesinambungan, di dalam aktivitas itu terjadi adanya tahapantahapan aktivitas yang sistematis dan terarah. Pembelajaran bukan sebagai suatu benda atau keadaan yang statis, melainkan merupakan suatu rangkaian aktivitas-aktivitas yang dinamis dan saling berkaitan. 4) Proses pembelajaran terjadi karena adanya sesuatu yang mendorong dan adanya suatu tujuan yang akan dicapai. Prinsip ini mengandung makna bahwa aktivitas pembelajaran itu terjadi karena adanya kebutuhan yang harus dipuaskan dan adanya tujuan yang ingin dicapai. Atas dasar prinsip itulah pembelajaran akan terjadi. Belajar tidak akan efektif tanpa adanya dorongan atau motivasi dan tujuan. 5) Pembelajaran merupakan bentuk pengalaman. Pengalaman pada dasarnya adalah kehidupan melalui situasi yang nyata dengan tujuan tertentu, pembelajaran merupakan bentuk interaksi individu dengan lingkungannya sehingga banyak memberikan pengalaman dari situasi nyata. Dari uraian di atas dapat disimpulkan bahwa pembelajaran adalah proses memperoleh perubahan perilaku secara menyeluruh dan harus disertai tujuan tertentu yang sistematis dan terarah. Dalam kegiatan pembelajaran perlu dipilih strategi yang tepat agar tujuan pembelajaran dapat dicapai.

Pengertian Strategi (skripsi dan tesis)

Secara umum, strategi dapat diartikan sebagai suatu upaya yang dilakukan oleh seseorang atau organisasi untuk sampai pada tujuan. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI). Strategi adalah rencana yang cermat mengenai kegiatan untuk mencapai sasaran khusus (yang diinginkan). Menurut Joni yang dikutip dalam bukunya Hamdani, berpendapat bahwa yang dimaksud strategi adalah suatu prosedur yang digunakan untuk memberikan suasana yang konduktif kepada siswa dalam rangka mencapai tujuan pembelajaran.1 Strategi mempunyai pengertian suatu garis-garis besar haluan untuk bertindak dalam usaha mencapai sasaran yang telah ditentukan. Apabila dihubungkan dengan proses belajar mengajar, strategi bisa diartikan sebagai pola-pola umum kegiatan guru dan anak didik dalam perwujudan kegiatan belajar mengajar untuk mencapai tujuan yang telah digariskan.  Strategi dapat diartikan sebagai suatu susunan, pendekatan, atau kaidah-kaidah untuk mencapai suatu tujuan dengan menggunakan tenaga, waktu, serta kemudahan secara optimal. Apabila dihubungkan dengan proses belajar-mengajar, strategi adalah cara yang dipilih untuk menyampaikan materi pelajaran dalam lingkungan pengajaran tertentu, yang meliputi sifat, lingkup, dan urutan kegiatan yang dapat memberikan pengalaman belajar kepada siswa. Strategi belajar mengajar tidak hanya terbatas pada prosedur kegiatan, tetapi juga termasuk di dalamnya materi atau paket pengajarannya. Dari pemaparan di atas dapat disimpulkan bahwa strategi belajar adalah suatu cara yang dipilih pendidik untuk menyampaikan materi pelajaran dalam lingkungan pengajaran tertentu, yang meliputi sifat, lingkup, dan urutan kegiatan pembelajaran yang dapat memberikan pengalaman belajar kepada siswa untuk memperoleh kesuksesan atau keberhasilan dalam mencapai tujuan pembelajaran. Di dalam memilih strategi pembelajaran juga harus disesuaikan dengan keadaan peserta didik, agar peserta didik lebih mudah memahami materi pembelajaran.

Dampak Pandemi Covid-19 terhadap Pendidikan. (skripsi dan tesis)

Dalam masa pandemi seperti ini banyak bidang yang merasakan dampaknya, termasuk bidang pendidikan juga mengalami dampaknya. Bidang pendidikan mengalami kesulitan dalam pembelajaran yang harus dilakukan dalam setiap harinya, pembelajaran tetap berlangsung dengan pemanfaatan internet yang ada pada saat sekarang ini. Beberapa dampak yang dirasakan dalam pendidikan ialah : a) Keterbatasan teknologi antara guru dan siswa. Kendala ini banyak dialami oleh guru yang kurang pemahaman dengan teknologi internet, guru akan merasa kesulitan dalam pembelajaran daring yang akan terus berlangsung dimasa pandemi ini. b) Sarana dan Prasarana Kurang Memadai. Sarana dan prasarana teknologi yang kurang memadai akan memperlambat adanya  pembelajaran daring tersebut. Perangkat teknologi yang mahal membuat sarana dan prasarana menjadi terhambat dan dengan adanya pandemi ini penghasilan ekonomi pun juga menurun. c) Akses Internet Yang Terbatas. Akses internet yang belum sepenuhnya merata ke daerah-daerah yang terpencil mengakibatkan terhambatnya proses pembelajaran daring yang terlaksana. Tidak semua orang dapat menikmati internet ini terkadang daerah yang terlihat mudah dalam akses internet pun sering merasakan lambatnya akses internet yang ada. d) Kurang siapnya penggadaan anggaran. Biaya juga menjadi penghambat akan terlaksananya pembelajaran atau tidak, karena anggaran juga perlu disiapkan untuk proses pembelajaran daring. Ketika pembelajaran harus terus berlangsung dilaksanakan dan anggaran tidak ada maka juga akan terjadi suatu hambatan pada pembelajaran.

Tujuan Pelaksanaan Pendidikan (skripsi dan tesis)

Pendidikan ialah suatu proses yang dibutuhkan untuk mendapatkan kesempurnaan dalam pengembangan individu maupun masyarakat Penekanan pendidikan dan pengajaran lebih ditekankan dalam pembentukan kepribadian dan kesadaran individu disamping dengan pembentukan keahlian. Pendidikan lebih dari sekedar pengajaran yang dapat membentuk kepribadian saja akan tetapi pendidikan adalah sebuah sarana untuk mentransfer ilmu, transformasi nilai dan pembentukan kepribadian peserta didik dalam segala aspek yang harus dicangkup. Aktifitas yang dilakukan yang bertujuan untuk mencapai suatu tujuan dalam mengembangkan potensi yang dimiliki seorang peserta didik termasuk suatu pendidikan yang sangat berarti yang dilakukan oleh seorang pendidik. Pendidikan memiliki tujuan yaitu untuk membentuk manusia menjadi manusia yang beriman dan taqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, memiliki rasa bertanggung jawab dalam masyarakat dan bangsa, mampu berkarya, mampu bermasyarakat dan berbudaya dengan baik. Dengan tujuan pendidikan tersebut maka akan terwujudnya pendidikan yang dapat mengembangkanpotensi peserta didik agar menjadi penerus bangsa yang bertanggung jawab dengan segala kewajibannya. Pembentukan karakter yang berakhlak mulia, bertaqwa dan berilmu dapat pembentuk kepribadian yang baik bagi para peserta didik dalam bermasyarakat dan berbangsa.

Defenisi Pandemi Covid-19 (skripsi dan tesis)

Pandemi adalah wabah penyakit yang menjangkit secara serempak dimana-mana, meliputi daerah geografis yang luas. Pandemi merupakan epidemi yang menyebar hampir ke seluruh negara atau pun benua dan biasanya mengenai banyak orang. Peningkatan angka penyakit diatas normal yang biasanya terjadi, penyakit ini pun terjadi secara tiba-tiba pada populasi suatu area geografis tertentu. Coronavirus Disease (Covid-19) adalah penyakit menular yang disebabkan oleh virus corona yang baru ditemukan dan dikenal sebagai sindrom pernafasan akut atau parah virus corona 2 (SARS-CoV-2).Coronavirus Disease ialah jenis penyakit yang belum teridentifikasi sebelumnya oleh manusia, virus ini dapat menular dari manusia ke manusia melalui kontak erat yang sering terjadi, orang yang memiliki resiko tinggi tertular penyakit ini ialah orang yang melakukan kontak erat dengan pesien Covid-19 yakni dokter dan perawat. Pandemi covid-19 yaitu wabah penyakit menular yang disebabkan oleh virus corona yang menerang pada saluran pernafasan manusia dan dapat menyebebkan kematian, penyakit tersebut dapat menyerang siapa saja dan sekarang sudah terjadi dimana-mana. Penyakit tersebut berasal dari daerah Wuhan China, dan penyakit tersebut sekarang sudah menyebar kebanyak Negara termasuk negara Indonesia.

Keunggulan dan Kekurangan Pembelajaran Daring (skripsi dan tesis)

1. Keunggulan pembelajaran daring a. Adanya fasilitas e-moderating yang dimana seorang guru dan siswa melakukan kegiatan komunikasi tanpa ada batas ruang dan waktu. b. Guru dan siswa dapat menggunakan bahan ajar yang tersusun dan terjadwal dengan baik. c. Siswa dapat melihat bahan ajar setiap saat dan dimana saja kalau mereka perlukan guna untuk meningkatkan pemahaman yang lebih pada siswa, karena materi yang telah disampaikan masih tetap tersimpan diponsel masing-masing siswa. d. Perubahan siswa yang pasif menjadi siswa yang aktif dalam kegiatan pembelajaran. 2. Kekurangan Pembelajaran Daring a. Kurangnya interaksi antar guru dan siswa, hal ini dapat memperlambat kegiatan pembelajaran. b. Proses pembelajaran lebih cenderung kearah pelatihan dari pada pendidikan. 19 c. Kurangnya tenaga mengetahui dan memiliki keterampilan internet. d. Siswa tidak mempunyai motivasi yang tinggi dalam pembelajaran daring, terkadang siswa malas ataupun bosan dalam proses pembelajaran daring. 17 Model pembelajaran secara daring ini merupakan suatu hal baru yang muncul dalam bidang pengajaran dan pembelajaran, dengan pembelajaran ini siswa dapat memanfaatkan jaringan internet dengan baik guna untuk meningkatkan kualitas dalam pendidikan.

Tujuan Pembelajaran Daring (skripsi dan tesis)

Tujuan dari adanya program daring menurut Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan RI adalah : 1. Meningkatkan ketersediaan layanan pendidikan 2. Meningkatkan keterjangkauan layanan pendidikan 3. Meningkatkan kualitas dan relevansi layanan pendidikan 4. Meningkatkan kesamaan dalam mendapatkan mutu layanan pendidikan 5. Meningkatkan keterjamininan mendapatkan mutu layanan pendidikan yang baik.16 Dengan pemanfaatan internet yang ada untuk pembelajaran yang akan tetap terus berjalan dengan semestinya, pembelajaran daring juga tetap dapat meningkatkan mutu pendidikan. Jaringan internet yang luas dan lancar akan tetap mendukung terjadinya pembelajaran yang efektif dan efisien.

Definisi Daring (skripsi dan tesis)

Daring merupakan singkatan dari komunikasi dalam jaringan, yaitu cara berkomunikasi yang cara penyampaian dan penerima pesan dilakukan dengan melalui internet. Komunikasi dilakukan dengan memanfaatkan jaringan internet yang ada pada saat ini, jaringan yang mudah akan mempercepat penyampaian dan penerimaan pesan.  Pembelajaran secara daring bertujuan untuk memberikan layanan yang baik dan bermutu dalam pembelajaran melalui jaringan yang bersifat terbuka untuk menjangkau pada orang yang lebih banyak dan luas. Pembelajaran secara daring ini dilakukan dengan keterlibatan langsung antara pendidik dan siswa dalam proses pelaksanaan pembelajaran, pembelajaran daring ini tidak dibatasi oleh ruang dan waktu. Perkembangan teknologi informasi dan komunikasi pada saat sekarang ini memiliki pengaruh yang besar terhadap proses pengajaran dan pembelajaran. Kemudahan yang didapat pada saat menggunakan teknologi membuat semua orang dapat dengan mudah mengakses apa saja yang diinginkan oleh mereka.

Definisi Pembelajaran (skripsi dan tesis)

Pembelajaran adalah proses interaksi siswa dengan pendidikan dan sumber belajar pada suatu lingkungan belajar, pembelajaran merupakan upaya yang dilakukan oleh pendidik agar dapat terjadi proses interaksi guna untuk mendapatkan pengetahuan dan keterampilan pada siswa. Pembelajaran merupakan kegiatan yang dilakukan oleh pendidik guna untuk memahamkan siswa dalam proses pembelajaran yang dilaksanakan, seorang pendidik. Pendidik pembelajaran agar siswa mampu menangkap pemahaman yang baik dalam proses pembelajaran. Pembelajaran yang berkualitas baik tergantung pada motivasi dan kreativitas seorang pendidik dalam proses pembelajaran yang berlangsung, pembelajaran yang memiliki motivasi yang tinggi maka itu akan menunjang pembelajaran yang berkualitas dalam pengajarannya. Dengan demikian maka akan mencapai target yang diinginkan oleh pendidik

Definisi Manajemen (skripsi dan tesis)

Manajemen ialah perencanaan, pelaksanaan dan pengawasan sumber daya organisasi untuk mencapai tujuan secara efektif dan efisien. Perencanaan tidak akan lepas dari pelaksanaan dan pengawasan termasuk pemantauan, penilaian dan pelaporan. Pengawasan pun dilakukan secara internal maupun eksternal agar tercapainya tujuan dalam suatu organisasi.5 Manajemen merupakan suatu proses yang berkaitan dengan seluruh usaha manusia dan sumber daya lainnya untuk mencapai tujuan tertentu dengan menggunakan metode yang efektif dan efisien. Manejemen juga termasuk kegiatan-kegiatan yang dilakukan untuk mencapai tujuan yang lebih baik dari kegiatan sebelumnya, pemanfaatan sumber daya yang dilakukan dengan kerjasama yang berjalan dengan baik akan terwujudnya tujuan yang telah direncanakan.  Manajemen merupakan proses yang terjadi dari tindakantindakan perencanaan, pengorganisasian, pergerakan dan pengawasan yang dilakukan untuk menentukan serta mencapai sasaran yang telah ditetapkan melalui pemanfaatan sumber daya manusia serta sumber daya yang lainnya. Manajemen merupakan suatu wadah ilmu pengetahuan sehingga dapat dibuktikan secara umum kebenarannya.  Manajemen memiliki beberapa fungsi yang harus kita ketahui diantara beberapa fungsi-fungsi manajemen ialah Planning, Organizing, Actuating dan Controling. 8 a. Planning (Perencanaan) Perencanaan ialah penetapan yang harus dilandaskan oleh suatu kelompok untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan. Perencanaan yang ditetapkan mencakup banyak hal seperti kegiatan-kegiatan yang dilakukan untuk mencapai suatu manajemen yang telah ditetapkan.9 Perencanaan merupakan kegiatan yang harus dilakukan dalam administrasi, perencanaan dilakukan sebagai pedoman yang akandilaksanakan dimasa sekarang maupun yang akan datang. Dengan adanya perencanaan maka kegiatan akan tersusun dengan rapi dan runtut. b. Organizing (Pengorganisasian) Pengorganisasian ialah pengelompokan dan penentuan kegiatan penting dan memberikan kekuasaan untuk melaksanakan suatu kegiatan. Pengelompokan kegiatan dilakukan agar dengan mudah mencapai tujuan kegiatan yang akan dilaksanakan dalam mencapai tujuan.10 c. Actuating (Pergerakan) Pergerakan ialah tindakan yang dilakukan oleh seluruh anggota organisasi untuk mencapai tujuan yang sesuai dengan perencanaan yang telah ditetapkan. Pelaksanaan dilakukan untuk meningkatkan kualitas pendidikan yang terdapat pada sistem informasi untuk pendataan data pokok pendidikan dalam skala nasional.11 Pelaksanaan dalam sebuah manajemen harus dilakukan guna untuk meningkatkan kualitas yang ada pada organisasi yang kegiatannya telah direncanakan dengan baik untuk mencapai suatu tujuan managemen pendidikan yang baik. d. Controling (Pengawasan) Pengawasan adalah proses yang dilakukan dalam menentukan ukuran kinerja dan pengambilan suatu tindakan yang dapat mendukung pencapaian yang diharapkan. Pengawasan sangat penting dilakukan dalam upaya meningkatkan mutu pendidikan dalam sebuah manajemen, tanpa adanya pengawasan maka fungsi yang lainnya tidak akan berjalan secara efektif dan efisien dalam pengembangannya. Dalam sebuah pengawasan maka tidak akan lepas dari adanya pengevaluasian yang dilakukan agar kegiatan yang telah direncanakan terlaksana seperti apa yang diinginkan.

Pengertian Motivasi Belajar (skripsi dan tesis)

Pada dasarnya, motivasi merupakan alasan-alasan atau dorongandorongan
dalam diri manusia untuk berbuat sesuatu. Pernyataan ini diperkuat oleh pendapat Annurahman, (2009: 114) yang menyatakan
memiliki energi atau kekuatan melakukan sesuatu dengan penuh
Pendapat lain tentang motivasi menurut Sardiman (2004: 75)
dapat juga dikatakan sebagai serangkaian usaha untuk mengaktifkan
keseluruhan daya penggerak di dalam diri seseorang sehingga mau dan
ingin melakukan sesuatu dengan meniadakan atau mengelakkan perasaan
tidak suka. Usaha menggerakkan diri untuk melakukan sesuatu menurut
Handoko (1992) dipengaruhi oleh unsur dorongan atau kebutuhan dan
unsur tujuan (Sobur, 2011: 269). Berdasarkan pendapat di atas dapat
disimpulkan bahwa motivasi merupakan suatu daya penggerak yang
tumbuh dalam diri seseorang untuk melakukan suatu pekerjaan yang
dipengaruhi oleh kebutuhan dalam rangka mencapai suatu kepuasan atau
tujuan tertentu.
Motivasi dalam kegiatan belajar berperan sebagai penumbuh
gairah, merasa senang dan semangat untuk belajar. Oleh karena itu, dalam
kegiatan belajar, motivasi sangat berperan terhadap peningkatan hasil
belajar. Sehubungan dengan hal tersebut, motivasi menurut Sardiman
(2004: 85) memiliki tiga fungsi: (1) mendorong manusia untuk berbuat,
(2) menentukan arah perbuatan yang hendak dicapai, (3) menyeleksi
perbuatan untuk menentukan perbuatan yang yang harus dikerjakan untuk
mencapai tujuan. Selain ketiga fungsi tersebut, motivasi dapat berfungsi
sebagai pendorong usaha dan pencapaian prestasi. Dengan demikian,
intensitas motivasi seseorang akan sangat menentukan tingkat pencapaian
prestasi belajar siswa.
Secara umum, upaya dalam memotivasi seseorang dapat
dirangsang oleh faktor dari dalam maupun dari luar individu. Motivasi
yang dipengaruhi oleh faktor dari dalam maupun dari luar individu
dijelaskan oleh Daryanto & Rahardjo (2012: 10) sebagai motivasi intrinsik
dan motivasi ekstinsik 1) Motivasi intrinsik, merupakan jenis motivasi yang timbul atas
kemauan sendiri tanpa ada paksaan atau dorongan dari orang lain.
2) Motivasi ekstrinsik, merupakan jenis motivasi yang timbul akibat
pengaruh dari luar individu, diantaranya melalui ajakan, suruhan atau
paksaan dari orang lain sehingga dengan kondisi yang demikian
akhirnya seseorang mau melakukan sesuatu atau belajar.
Berdasarkan uraian di atas, motivasi intrinsik maupun ekstrinsik
sangat diperlukan dalam kegiatan belajar mengajar di sekolah. Adapun
upaya untuk menumbuhkan motivasi dalam kegiatan belajar mengajar
menurut Sardiman (2004, 92 95) dapat dirangkum sebagai berikut:
1) Memberi Angka
Angka dalam hal ini diartikan sebagai simbol dari nilai kegiatan
belajar yang dicapai siswa untuk mencapai angka/ nilai yang baik.
2) Hadiah
Hadiah diberikan sebagai wujud motivasi agar siswa aktif dalam
kegiatan belajar dan menjawab pertanyaan dengan benar.
3) Saingan/ kompetisi
Saingan atau kompetisi dapat digunakan sebagai alat motivasi
pendorong belajar siswa agar tidak tertinggal dengan teman yang lain.
4) Ego – involvement
Menumbuhkan kesadaran kepada siswa agar merasakan pentingnya
tugas dan menerimanya sebagai tantangan sehingga mau bekerja keras
dan mempertaruhkan harga diri.
5) Memberi ulangan
Siswa akan belajar dengan giat apabila mengetahui aka nada ulangan.
6) Mengetahui hasil
Siswa akan lebih giat belajar dengan mengetahui grafik hasil belajar
yang meningkat.
7) Pujian
Pujian dalam hal ini merupakan bentuk reinforcement yang positif dan
sekaligus merupakan motivasi yang baik.8) Hukuman
Hukuman yang diberikan secara tepat dan bijak dapat menjadi alat
motivasi.
9) Hasrat untuk belajar
Dengan adanya hasrat untuk belajar, berarti dalam diri siswa sudah
terdapat motivasi belajar, sehingga dengan demikian hasil belajar akan
lebih baik.
10) Minat
Proses belajar akan berjalan lancar apabila disertai dengan minat yang
besar.
11) Tujuan yang diakui
Dengan memahami tujuan yang harus dicapai, akan menimbulkan
gairah untuk terus belajar karena dirasa sangat berguna dan
menguntungkan.
Berbagai upaya dalam memotivasi siswa sangat diperlukan untuk
memperoleh hasil belajar yang baik. Dengan adanya bentuk-bentuk
motivasi yang diuraikan di atas, perlu adanya pengembangan dan arahan
agar dapat melahirkan hasil belajar yang bermakna.

Aspek Kognitif Dalam Pembelajaran (skripsi dan tesis)

Aspek kognitif menunjukkan pendidikan yang terarah kepada
kemampuan-kemampuan intelektual, kemampuan berpikir maupun
kecerdasan yang akan dicapai. Menurut Bloom (1966) aspek kemampuan
kognitif secara garis besar dibedakan menjadi enam tingkatan yang
dirangkum dari Sudjana, (1991: 23 29) sebagai berikut:
1) Pengetahuan ( Knowledge )
Pengetahuan atau ingatan merupakan aspek terendah dalam ranah
kognitif. Aspek ini mencakup kemampuan siswa dalam menghafal
atau mengingat berbagai informasi yang telah diterima sebelumnya.
2) Pemahaman ( Comprehension )
Pemahaman merupakan aspek yang mencakup kemampuan siswa
dalam memahami atau menangkap makna tentang hal yang dipelajari.
Pada umumnya aspek pemahaman ini menyangkut kemampuan
menangkap makna suatu konsep, yang ditandai dengan kemampuan
menjelaskan informasi yang diterima dengan susunan kalimat sendiri.
Pemahaman dibedakan menjadi tiga kategori, yaitu: (1) pemahaman
terjemahan, mulai dari arti yang sebenarnya (2) pemahaman
penafsiran yaitu menghubungkan bagian-bagian terdahulu dengan
yang diketahui berikutnya, dan (3) ekstrapolasi, diharapkan seseorang
dapat membuat ramalan tentang konsekuensi atau memperluas
persepsi.
3) Penerapan ( Application )
Aplikasi mencakup kemampuan siswa untuk menerapkan atau
menggunakan abstraksi pada situasi konkret atau situasi khusus. Aspek ini mengacu pada kemampuan menggunakan atau menerapkan
pengetahuan yang sudah dimiliki pada situasi yang baru, yang
menyangkut penggunaan aturan dan prinsip dalam memecahkan
persoalan.
4) Analisis ( Analysis )
Aspek analisis merupakan usaha memilah suatu integritas menjadi
unsur-unsur atau bagian-bagian sehingga jelas hirarkinya dan atau
susunannya. Aspek ini merupakan akumulasi atau kumpulan
pengetahuan, pemahaman, dan aplikasi, sehingga dapat diaplikasikan
pada situasi baru yang lebih kreatif.
5) Sintesis
Sintesis merupakan penyatuan unsur-unsur atau bagian-bagian ke
dalam bentuk menyeluruh. Aspek ini mencakup kemampuan siswa
untuk membentuk suatu kesatuan atau pola baru meliputi
menggabungkan berbagai informasi menjadi suatu kesimpulan atau
konsep atau penyatuan unsur-unsur atau bagian-bagian ke dalam
bentuk yang menyeluruh.
6) Evaluasi ( Evaluation )
Aspek ini mencakup kemampuan siswa untuk membentuk pendapat
tentang beberapa hal berdasarkan kriteria tertentu. Pemberian
keputusan tentang nilai sesuatu dapat dilihat dari segi tujuan, gagasan,
cara bekerja, pemecahan, metode, materiil, dan sebagainya.
Aspek kemampuan kognitif tersebut memiliki enam tingkatan,
yang disesuaikan berdasarkan jenjang perkembangan usia dan kedewasaan
anak didik (Sudjana, 1991: 29). Pada penelitian ini, aspek kognitif yang
digunakan pada jenjang SMA mencakup aspek pengetahuan, pemahaman,
aplikasi, analisis, dan sintesis.

Pengertian Kemampuan Kognitif (skripsi dan tesis)

Istilah cognitive berasal dari kata cognition yang memiliki
padanan kata knowing, berarti mengetahui. Neisser (1976) mengartikansecara luas, cognition (kognisi) ialah perolehan, penataan, dan penggunaan
pengetahuan, (Syah, 2009: 22). Chaplin (1972) menyatakan bahwa seiring
berjalannya waktu, istilah kognitif dikenal sebagai salah satu ranah
psikologis manusia yang meliputi setiap perilaku mental dalam proses
berpikir (Syah, 2009: 22). Kemampuan kognitif merupakan salah satu
aspek penting dari perkembangan peserta didik yang berkenaan dengan
hasil belajar intelektual. Desmita, (2011, 96) menyatakan aspek ini
memiliki hubungan langsung dengan proses kegiatan belajar mengajar dan
sangat menentukan keberhasilan siswa di sekolah. Secara sederhana,
kemampuan kognitif dapat dipahami sebagai kemampuan anak untuk
berpikir lebih kompleks dalam pemecahan berbagai masalah dengan
menggunakan pengetahuan yang dimilikinya.
Menurut Desmita (2011, 97) sejumlah ahli psikologi sering
menggunakan istilah thinking atau pikiran sebagai bentuk persamaankata
dengan cognition (kognisi), yang terdiri dari berbagai aktivitas mental,
seperti penalaran, pemecahan masalah, pembentukan konsep-konsep, dan
sebagainya. Pendapat lain tentang kognitif juga dipaparkan oleh Mayers
cognition refers to all the mental activities associated eith
thinking, knowing, and remembering
kognisi berkenaan pada semua aktivitas mental yang terkait tiap berpikir,
mengetahui, dan menghafal.
Menurut Desmita (2011, 97 – 98) kemampuan kognitif atau
pemikiran merupakan istilah yang sering digunakan oleh ahli psikologi
untuk menjelaskan semua aktivitas mental yang memungkinkan seseorang
memperoleh pengetahuan, memecahkan masalah, dan merencanakan masa
depan. Aktivitas mental tersebut antara lain adalah persepsi, pikiran,
ingatan, dan pengolahan informasi. Aktivitas mental atau kognitif seorang
individu terhadap suatu objek selalu berbeda dengan orang lain. Artinya
suatu objek penalaran yang sama memungkinkan untuk mendapat
penalaran yang berbeda dari masing-masing individu, oleh karena itu dapat dikatakan penalaran atau proses berpikir seseorang berbeda-beda, sehingga
terjadilah perbedaan individu.
Berdasarkan beberapa pengertian di atas dapat dipahami bahwa
kemampuan kognitif adalah kemampuan yang mengatur cara belajar atau
aktivitas seorang individu yang berbeda-beda untuk berpikir lebih
kompleks dalam memecahkan suatu masalah

Metode Eksperimen-Diskusi (skripsi dan tesis)

Metode eksperimen-diskusi merupakan penggabungan dari metode
eksperimen dan metode diskusi. Menurut Hamid (2012, 212) Metode
eksperimen adalah metode pembelajaran yang memberikan kesempatan
kepada siswa, baik secara individu maupun kelompok, untuk melakukan
suatu proses percobaan. Tujuan penggunaan metode eksperimen ini adalah
untuk sepenuhnya melibatkan siswa dalam merencanakan dan melakukan
percobaan, menemukan fakta, mengumpulkan data, mengendalikan
variabel, serta memecahkan persoalan yang dihadapi secara konkrit.
Sedangkan metode diskusi menurut Hamid (2011, 215-216) diartikan sebagai proses membahas suatu permasalahan dengan melibatkan banyak
orang, yang hasilnya digunakan sebagai alternatif jawaban dari persoalan.
Dalam kegiatan diskusi, setiap orang berhak mengemukakan pendapat
masing-masing terhadap persoalan yang dibahas, untuk selanjutnya
dianalisis dan dicari pendapat yang paling ideal dan mewakili semua
pendapat peserta diskusi. Hasil analisis inilah yang menjadi alternatif
jawaban dari persoalan yang dibahas. Sehingga metode eksperimendiskusi
adalah metode pembelajaran yang memberikan kesempatan kepada
siswa untuk melakukan suatu percobaan dan kemudian mendiskusikan
secara bersama-sama untuk mencapai tujuan pembelajaran. Adapun
tahapan dalam penggunaan metode eksperimen-diskusi adalah sebagai
berikut:
1) Menyiapkan metode eksperimen-diskusi, diawali dengan memeriksa
ketersediaan alat, bahan, kesiapan ruang/ tempat, serta semua
perangkat pembelajaran yang digunakan dalam menunjang kegiatan
eksperimen.
2) Melaksanakan metode eksperimen-diskusi, dengan langkah-langkah:
a) menata ruang dan alat,
b) mengorganisasi siswa (kelompok) untuk melakukan eksperimen,
c) menginformasikan langkah-langkah eksperimen-diskusi,
d) melakukan eksperimen sesuai prosedur LKS,
e) melakukan diskusi kecil untuk menjawab pertanyaan di LKS,
f) mempresentasikan hasil eksperimen,
g) mendiskusikan hasil eksperimen melalui diskusi sehingga
mendapatkan jawaban yang paling ideal,
h) menyimpulkan hasil eksperimen.
3) Memberikan evaluasi dengan mengerjakan soal-soal

Pengertian Metode Pembelajaran (skripsi dan tesis)

Metode pengajaran merupakan salah satu komponen-komponen
yang saling berinteraksi dalam proses pembelajaran untuk mencapai suatu
tujuan. Adapun pengertian metode menurut Majid (2013, 193) adalah cara
yang digunakan untuk mengimplementasikan strategi yang telah disusun
agar dapat mencapai tujuan secara optimal. Keberhasilan
mengimplementasikan strategi pembelajaran sangat tergantung pada
penggunaan metode pembelajaran. Hal ini dikarenakan suatu strategi
pembelajaran hanya mungkin dapat diimplementasikan melalui
penggunaan metode pembelajaran.
Jalan yang dimaksud adalah cara atau
langkah yang digunakan seperti yang diungkapkan oleh Suryani & Agung
(2012: 7) metode pembelajaran dapat diartikan sebagai langkah-langkah
yang digunakan untuk melaksanakan rencana yang disusun dalam kegiatan
konkrit untuk mencapai tujuan pembelajaran.
Berdasarkan pendapat tersebut, dapat disimpulkan pengertian
metode pembelajaran sebagai cara yang digunakan untuk
mengimplementasikan strategi pembelajaran yang disusun secara konkrit
untuk mencapai tujuan pembelajaran secara optimal.

Pendekatan Konstruktivisme (skripsi dan tesis)

Pada prinsipnya, pandangan konstruktivisme dalam
pembelajaran lebih menekankan pada proses belajar daripada hasil
pembelajaran (Wardoyo, 2013: 25). Hal ini memiliki arti bahwa di dalam
pembelajaran yang menggunakan pendekatan konstruktivisme lebih
difokuskan pada proses belajar yang melibatkan secara aktif antara
peserta didik dengan materi pelajaran melalui interaksi sosial di dalam kelas. Belajar dalam pandangan konstruktivisme menurut Warsita (2008,
pembelajaran konstruktivisme menurut Schunk (2012) dapat dilakukan
dengan kegiatan mengamati fenomena-fenomena, mengumpulkan datadata,
merumuskan, dan menguji hipotesis-hipotesis, dan bekerjasama
dengan orang lain (Wardoyo, 2013: 28 29).
Menurut Akbar (2013, 46), pendekatan konstruktivistik
berkembang untuk membangun persepsi berdasarkan kekuatan schemata
(seperangkat nilai, pengetahuan, dan pengalaman masa lalu) yang ada
pada diri seseorang, dan kekuatan lingkungan (pengalaman belajar).
Pandangan konstruktivisme berimplikasi bahwa siswa belajar dengan
menggunakan lingkungan di sekitarnya. Pembelajaran menggunakan
pendekatan konstruktivisme diharuskan siswa membangun
pengetahuannya sendiri berdasarkan schemata dan pengalaman belajar
terhadap alam di sekitarnya secara mandiri.
Sehingga dari beberapa pendapat tentang pengertian pendekatan
konstruktivisme tersebut dapat disimpulkan bahwa pendekatan
konstruktivisme adalah proses pembelajaran yang melibatkan siswa
secara aktif untuk membangun pengetahuannya sendiri berdasarkan
schemata dan pengalaman belajar terhadap lingkungan nyata.

Teori Konstruktivisme Dalam Pembelajaran  (skripsi dan tesis)

Piaget (1929) mengartikan teori konstruktivisme sebagai teori
pembelajaran yang menggambarkan cara memperoleh suatu
pengetahuan. Teori konstruktivisme ini lebih menekankan cara siswa
memperoleh ilmu dan pengetahuan secara aktif melalui pengalamanpengalamannya
(Basleman & Mappa, 2011: 128).
Prinsip-prinsip teori Piaget (1929) ini melalui proses: (1) skema,
(2) asimilasi, (3) akomodasi, dan (4) equilibrium. Adapun definisi dari
proses tersebut, menurut Wardoyo (2013, 35 38) dapat dirangkum
sebagai berikut.
1) Skema: representasi kognitif dari suatu kegiatan
2) Asimilasi: pengumpulan atau pengelompokan informasi baru
3) Akomodasi: modifikasi dari stuktur kognitif untuk menerjemahkan
informasi baru
4) Equilibrium: pengaturan diri untuk mengatur keseimbangan proses
asimilasi dan akomodasi. Berdasarkan teori konstruktivisme, pembelajaran lebih
ditekankan pada peserta didik, dimana peran peserta didik dalam
pembelajaran konstruktivisme menurut Basleman & Mappa (2011, 129)
anatar lain:
1) Peserta didik aktif dalam proses pembelajaran
2) Peserta didik membangun pengetahuan melalui interaksi dengan
lingkungan yang ditemukan mereka sendiri
3) Belajar secara aktif melalui berpikir kritis dan pemecahan masalah
4) Peserta didik menemukan isi pelajaran bermakna pada proses
pembelajaran.
Sedangkan peran fasilitator dalam pembelajaran konstruktivisme
antara lain sebagai berikut:
1) Menciptakan lingkungan yang inovatif.
2) Menyediakan bahan-bahan sebagai sumber belajar.
3) Membantu siswa mendapatkan pengalaman atau
mengeksplorasi pengalaman.
4) Membantu siswa dalm membentuk konsep.
5) Membantu siswa dalam mengemukakan pikirannya.
6) Membantu siswa dalam menyelesaikan masalah.
(Basleman & Mappa, 2011: 129)
Berdasarkan Tatang Sutarno (2008: 10), menyatakan bahwa
peran guru dalam teori konstruktivisme adalah menghubungkan (linking),
memonitor (monitoring), dan mengarahkan (directing) proses
membangun pengetahuan, dan sedangkan peran siswa adalah mengenali
(recognise), memadukan (integrate), memperluas (extend), mengevaluasi
(evaluate) dan merekonstruksi konsepsinya

Pengertian Pendekatan Pembelajaran (skripsi dan tesis)

Menurut Gulö (2004, 4), untuk menyelesaikan persoalan
memilih rencana kegiatan pembelajaran diperlukan adanya suatu
pendekatan. Di mana pendekatan tersebut dianggap sebagai sudut
pandang atau cara berpikir dalam menghadapi seluruh permasalahan
yang ada dalam program belajar mengajar. Pendekatan menurut Wardoyo
(2013, 27) juga diartikan sebagai seperangkat asumsi yang dapat
dipertanggungjawabkan berdasarkan hakikat bahasa, dan hakikat
pembelajaran yang dapat digunakan untuk mencapai tujuan pedagogis Definisi lain tentang pendekatan pembelajaran menurut Majid (2013, 21)
dapat diuraikan sebagai cara umum yang dilakukan oleh guru dalam
proses membelajarkan peserta didik.
Akbar (2013, 45) mengartikan pendekatan pembelajaran sebagai
untuk membelajarkan peserta didik melalui pusat
Adapun pendekatan-pendekatan pembelajaran yang
berkembang berdasarkan filsafat pendidikan menurut Akbar (2013, 45)
terdiri atas: (1) pendekatan behavioristik; (2) pendekatan kognitivistik,
dan (3) pendekatan konstruktivistik.
Jadi dari berbagai pendapat mengenai pendekatan pembelajaran
di atas, diperoleh kesimpulan bahwa pendekatan pembelajaran adalah
suatu sudut pandang atau asumsi yang dapat dipertanggungjawabkan
dalam menghadapi permasalahan pembelajaran untuk mencapai tujuan
pedagogis.

Alur Model Pembelajaran Transformatif (skripsi dan tesis)

Alur pembelajaran transformatif menurut Gonigal (2005)
meliputi:
1) Mengaktifasi kejadian (Activating event)
Dipahami sebagai kondisi di mana cara pandang/perspektif yang
dimiliki seseorang selama ini ternyata mengandung keterbatasan,
kelemahan, dan kekurang-akuratan (Pada tahapan ini seseorang
memiliki disorienting dilemma atau merasa adanya kelemahan pada
perspektif yang dia miliki selama ini)
2) Tahap mengidentifikasi asumsi terkini (fase identifying current
assumption)
pada tahap ini seseorang mulai memahami secara mendalam tentang
perspektif yang dia miliki, mencoba untuk mengetahui dan memahamilebih jauh terhadap perspektif orang lain, serta berusaha mencari tahu
asumsi dasar atau keyakinan yang mendasari perspektif tersebut.
3) Mengharapkan refleksi diri secara kritis (Encouraging critical selfreflection)
Tahapan ini merupakan suatu fase di mana seseorang mulai ragu
terhadap keabsahan dari kebenaran asumsi dasar atau keyakinan yang
mendasari cara pandangnya selama ini.
4) Mengharapkan komunikasi secara kritis (Encouraging critical
discourse)
Pada tahap ini bertujuan untuk memperoleh penguatan atau
pemantapan dalam proses refleksi diri, dan sekaligus memperoleh
pemahaman lebih komprehensif terhadap perspektif lain beserta
asumsi dasar yang mendasarinya. Sebagai contoh seseorang
melakukan dialog secara intensif dengan orang lain, terutama mereka
yang memiliki perspektif lain.
5) Kesempatan untuk menguji paradikma/ prespektif baru
(Opportunity to test new paradigm/perspective)
Fase ini seseorang mulai tertarik untuk mecoba menggunakan cara
untuk memandang, memahami, atau memaknai terhadap kenyataan
atau pengalaman.

Model Pembelajaran Transformatif (skripsi dan tesis)

bentuk atau kerangka konseptual yang digunakan sebagai contoh maupun
pedoman dalam melakukan suatu kegiatan. Dengan demikian, yang
adalah kerangka konseptual
dalam mengorganisasikan pengalaman belajar yang tersusun secara
sistematis untuk mencapai tujuan belajar. Adapun fungsi dari model
belajar mengajar tersebut adalah sebagai pedoman bagi perancang
pengajar, serta dalam perencanaan dan pelaksanaan aktivitas belajar
mengajar (Majid, 2013: 13). Menurut Aunurrahman (2009, 146), model pembelajaran juga
dapat dimaknai sebagai perangkat pembelajaran yang digunakan untuk
merancang, serta membimbing aktivitas pembelajaran baik di dalam kelas
maupun di tempat lain yang melakukan aktivitas pembelajaran. Dalam
pembelajaran, pemodelan sangat penting untuk diaplikasikan, agar pola
pembelajaran dapat tersusun secara sistematis sehingga dapat
mempermudah pendidik dalam melaksanakan kegiatan belajar mengajar.
Pengembangan model-model pembelajaran yang efektif sangat
menentukan keberhasilan proses pembelajaran. Hal ini didasari oleh
pendapat Aunurrahman (2009, 140) yang menyatakan bahwa pada
menciptakan kondisi pembelajaran yang memungkinkan siswa dapat
belajar secara aktif dan menyenangkan sehingga dapat meraih hasil belajar
dapat disesuaikan berdasarkan fasilitas, kondisi kelas, karakteristik siswa,
maupun faktor-faktor lain yang terkait dalam pembelajaran, sehingga
dapat menciptakan pembelajaran yang efektif.
Berdasarkan pendapat di atas, dapat disimpulkan bahwa model
pembelajaran adalah perangkat pembelajaran yang disusun secara
sistematis yang digunakan untuk merancang serta membimbing aktivitas
pembelajaran untuk mencapai tujuan belajar. Adapun tujuan
pengembangan model pembelajaran adalah untuk menciptakan proses
pembelajaran efektif sehingga mendapatkan hasil belajar yang optimal.
Pembelajaran transformatif (transformatif learning) merupakan
model pembelajaran yang dikembangkan dari perspektif transformasi yang
pada awalnya digagas dan dikembangkan oleh Mezirow (1978). Patria
Cranton (2002) memahami pembelajaran transformatif sebagai kegiatan
pembelajaran yang ditujukan untuk proses penyadaran peserta didik
terhadap kesalahan atau kelemahan perspektif beserta asumsi dasar yang
dimiliki, untuk kemudian beralih pada perspektif baru yang dinilai tepat.
Melalui pembelajaran transformatif, para peserta didik dikondisikan untuk secara terus-menerus melakukan refleksi, mempertanyakan atau bahkan
menggugat terhadap perspektif yang telah dimiliki selama ini (Rhamadani,
2013).
Adapun strategi implementasi model pembelajaran transformatif
yang dikutip dari Rhamadani (2013) meliputi:
1) Persiapan Pembelajaran
a) Melakukan prakondisi kepada peserta didik
b) Penyiapan perangkat dan media pembelajaran
c) Pengaturan latar belajar
d) Penyiapan strategi monitoring dan evaluasi belajar
e) Peningkatan pemahaman pendidik tentang pembelajaran
f) Transformatif
2) Pelaksanaan Pembelajaran Transformatif
a) Mengubah peran pendidik menjadi fasilitator belajar
b) Memperlakukan peserta didik sebagai subjek belajar
c) Mendayagunakan pengalaman peserta didik dan potensi
lingkungan sebagai penunjang sumber belajar
d) Membangun interaksi pembelajaran berbasis interaksi
konsultatif-dialogik
e) Rambu-rambu pola interaksi edukatif dalam pembelajaran
transformatif
f) Memilih dan menerapkan kata-kata persuasif dalam
pembelajaran
g) Persyaratan pendidik dalam pembelajaran fasilitatif
h) Suasana kreatif dalam proses pembelajaran transformatif
3) Evaluasi Pembelajaran

Pengertian Pembelajaran Transformatif (skripsi dan tesis)

Pembelajaran transformatif pada dasarnya merupakan suatu
pembelajaran yang menghasilkan perubahan mendasar pada diri peserta
didik. Adapun pengertian transformasi yang dikutip dari Webster
Dictionary dapat disimpulkan bahwa transformasi memiliki makna: (a)
merubah bentuk, penampilan atau struktur; (b) mengubah kondisi, hakikat
atau karakteristik; (c) mengganti substansi (Moedzakir, 2010).
Pembelajaran transformatif menurut Mezirow (2000)
didefinisikan sebagai suatu proses yaitu dengan mentransformasikan
kerangka acuan (pola pikir, kebiasaan pikiran, prespektif makna)
kumpulan asumsi dan harapan yang problematis dan membuatnya lebih
inklusif, memilah, terbuka, reflektif dan secara emosional bisa berubah.
Kerangka tersebut menjadi lebih baik karena berpeluang lebih besar untuk
menumbuhkan keyakinan dan opini yang akan terbukti lebih benar atau
bisa dijustifikasikan guna menuntun tindakan (Illeris, 2011: 116)
Adapun proses pembelajaran transformatif menurut Illeris (2011,
117 118) meliputi: (1) Merenungkan secara kritis sumber, karakteristik
dan konsekuen dari asumsi-asumsi yang relevan baik milik kita sendiri
maupun orang lain, (2) Di dalam pembelajaran instrumental, menetapkan
kebenaran bahwa sesuatu adalah benar (sesuai dengan apa yang dikatakan
tentangnya) dengan menggunakan metode riset empiris, (3) Di dalam
pembelajaran komunikatif, tiba pada keyakinan yang lebih bisa
dijustifikasi dengan cara berperan serta secara penuh dan bebas dalam
wacana yang berwawasan dan berkesinambungan. (4) Menjalankan
prespektif yang telah tertransformasikan yaitu dengan mengambil
keputusan dan menempuh apa yang telah kita yakini sampai kemudian
menjumpai fakta, argumen atau prespektif baru yang menyebabkan
orientasi tersebut bermasalah dan menghendaki pertimbangan ulang. (5)
Menghasilkan kecenderungan alamiah sehingga menjadi lebih reflektif dan
kritis terhadap asumsi sendiri dan pihak lain, mengusahakan pengesahan atas wawasan transformatif kita dengan berpartisipasi secara lebih leluasa
dan penuh dalam wacana dan meninjaklanjuti keputusan dengan
menjalankan wawasan yang sudah tertransformasikan.
Teori pembelajaran transformative merupakan epistemologis
metakognitif tentang penalaran evidensial (instrumental) dan dialogikal
(kominikatif). Penalaran evidensial biasanya menggunakan pembelajaran
yang berorientasi tugas. Sedangkan dialogikal biasanya menggunakan
refleksi diri secara kritis. Sehingga pembelajaran instrumental dan dan
pembelajaran komunikatif merupakan ciri khas dari pembelajaran
transformatif.
Tujuan pembelajaran transformatif yang dirangkum menurut
Soenarwan (2008, 167) adalah untuk mentransformasi pembelajar ke
dalam suatu keadaan, sehingga pembelajar dapat mencapai pembelajaran,
mengembangkan seluruh potensi yang diinginkan, dan untuk memperkuat
serta memotivasi pembelajar dalam usaha pengalaman pembelajaran. Hal
ini dapat diartikan bahwa pembelajaran transformatif dapat meningkatkan
potensi akademik atau kemampuan kognitif dengan cara memotivasi siswa
melalui pengalaman belajar. Sama halnya dengan yang diungkapkan oleh
Farias (2012-2013: 67) yaitu pembelajaran transformatif juga dapat
meningkatkan psikomotor dan kognitif siswa

Pengertian Pembelajaran (skripsi dan tesis)

Pada prinsipnya, pembelajaran menurut Jihad & Haris (2009)
merupakan suatu proses yang terdiri dari kombinasi dua aspek, yaitu
belajar dan mengajar (Wardoyo, 2013: 21). Oleh karena itu, kegiatan
pembelajaran bermuara pada apa yang harus dilakukan oleh siswa sebagai
aspek belajar, dan apa yang harus dilakukan oleh guru dalam pemberi
pelajaran sebagai orientasi dari aspek mengajar. Istilah lain tentang pembelajaran menurut Damyati dan Mudjiono (2002: 113 114)
didefinisikan sebagai kegiatan yang ditujukan untuk membelajarkan siswa.
Pendapat yang sama tentang pembelajaran juga dikemukakan oleh Majid
untuk membelajarkan seseorang atau kelompok
orang melalui berbagai upaya (effort) dan berbagai strategi, metode, dan
pendekatan demikian, makna pembelajaran dapat dipandang sebagai kegiatan guru
yang disusun dan didesain secara instruksional yang diaplikasikan kepada
siswa sehingga siswa dapat belajar secara aktif dan terarah. Dengan kata
lain, menurut Wardoyo (2013, 21) pembelajaran dapat diartikan sebagai
suatu proses komunikasi yang memiliki tujuan tercapainya perubahan
perilaku melalui interaksi antara peserta didik dengan guru, maupun antar
peserta didik.

Pengertian Mengajar (skripsi dan tesis)

Secara umum, mengajar merupakan suatu kegiatan memberi
pengetahuan dan melatih keterampilan yang dilakukan oleh guru. Dengan
satu komponen dari kompetensi- Oleh karena itu, setiap
guru diharuskan untuk menguasai serta terampil dalam mengajar.
Mengajar menurut Gulö (2004, 8) merupakan usaha untuk
menciptakan sistem lingkungan yang dapat mengoptimalkan proses
belajar. Usaha mengoptimalkan proses belajar tersebut terdiri dari
komponen-komponen yang saling berinteraksi dalam proses belajar yang
terarah pada tujuan tertentu. Adapun komponen-komponen tersebut
menurut Gulö (2004, 8 9) antara lain: (1) tujuan pengajaran, (2) guru, (3)
peserta didik, (4) materi pelajaran, (5) metode pengajaran, (6) media
pengajaran, serta (7) faktor administrasi dan finansial.
Berdasarkan definisi mengajar yang telah dikemukakan di atas,
dapat disimpulkan bahwa mengajar adalah upaya menciptakan suasana
belajar secara optimal melalui interaksi dalam proses belajar yang terarah
pada tujuan. Mengajar bukan hanya sekedar suatu kegiatan
mendiseminasikan informasi kepada siswa, tetapi lebih dari itu, mengajar
juga merupakan kegiatan membantu peserta didik dalam membangun
konsep diri

Tujuan Belajar (skripsi dan tesis)

Pada prinsipnya setiap aktivitas termasuk belajar berorientasi
pada tercapainya suatu tujuan. Akan tetapi, tujuan yang diharapkan dalam
kegiatan belajar sangat banyak dan bervariasi, tergantung dari sistem
lingkungan yang dibentuk.
Menurut Sardiman (2004, 26) tujuan belajar dibedakan menjadi
(1) instructional effects yang dicapai dengan tindakan instruksional dalam
bentuk pengetahuan dan keterampilan, (2) nurturant effects yang tercapai
karena siswa menghadapi sistem lingkungan belajar tertentu, seperti
berpikir kritis, kreatif, sikap terbuka, demokratis, serta menerima pendapat
orang lain. Dengan demikian tujuan belajar secara umum menurut
Sardiman (2004, 26 29) dapat dirangkum sebagai berikut.
1) Untuk mendapatkan pengetahuan
Dalam mendapatkan pengetahuan, peran guru sangat dibutuhkan
sebagai pengajar. Melalui informasi dan pemberian tugas, dapat
menambah pengetahuan sekaligus mencari sendiri untuk
mengembangkan cara berpikir dalam memperkaya pengetahuan.
2) Penanaman konsep dan keterampilan
Penanaman konsep memerlukan suatu keterampilan yang dapat dididik
dengan memperbanyak melatih kemampuan. Interaksi yang mengarah
pada pencapaian keterampilan tidak sekedar menghafal atau meniru.
3) Pembentukan sikap
Pembentukan sikap mental dan perilaku peserta didik, tidak terlepas
dari penanaman nilai-nilai. Oleh karena itu, dalam pembelajaran guru tidak hanya sekedar mengajar, melainkan juga mendidik siswa dengan
menanamkan nilai-nilai agar dalam diri siswa tumbuh kesadaran dan
kemauan untuk mempraktikkan segala sesuatu yang telah dipelajari.

Pengertian Belajar (skripsi dan tesis)

Pada umumnya, belajar merupakan suatu kegiatan yang kompleks
sebagai upaya atau proses perubahan perilaku seseorang. Hal ini sesuai
dengan pendapat Pidarta (2000, 197) yang mengartikan belajar sebagai
perubahan perilaku yang bersifat permanen sebagai hasil dari pengalaman
yang dapat dilaksanakan pada pengetahuan lain serta mampu
mengkomunikasikan kepada orang lain. Slameto (2010, 2) juga
seseorang untuk memperoleh suatu perubahan tingkah laku yang baru
secara keseluruhan, sebagai hasil pengalamannya sendiri dalam interaksi
dengan
meliputi perubahan pengetahuan (kognitif), keterampilan
(psikomotor), dan nilai sikap (afektif).
Menurut Aunurrahman (2009, 38) belajar merupakan aktivitas
untuk memperoleh berbagai pengetahuan, kecakapan, keterampilan, dan
proses kognitif yang mengubah sifat stimulasi lingkungan, melewati
tersebut berasal dari lingkungan, dan proses kognitif yang dilakukan oleh
pembelajar (Damyati & Mudjiono, 2009: 10).
Belajar menurut Daryanto & Rahardjo (2012, 16) juga dapat
dipandang sebagai proses berbuat melalui pengalaman yang diarahkan
pada pencapaian tujuan. Adapun proses yang dialami saat belajar meliputi
proses melihat, mengamati, dan memahami sesuatu yang bertujuan untuk
mengalami perubahan tingkah laku sebagai hasil dari pengalaman. Berdasarkan pendapat di atas, dapat disimpulkan bahwa belajar
adalah suatu aktivitas atau proses perubahan tingkah laku seseorang yang
diperoleh berdasarkan hasil pengalaman dan interaksi terhadap lingkungan
sekitar. Pada konteks ini, tingkah laku yang dimaksud adalah
keterampilan, kebiasaan, sikap, pengatahuan, dan apresiasi. Sedangkan
pengalaman yang dimaksud adalah interaksi individu dengan
lingkungannya.

Strategi Pengembangan Model Pembelajaran Transformatif (skripsi dan tesis)

Hal paling mendasar untuk dijadikan titik tolak dalam desain dan pengembangan model pembelajaran transformatif adalah mengidentifikasi proses-proses kunci dan determinannya. Berkenaan dengan hal tersebut, Mezirow (1995) sendiri menekankan bahwa proses yang paling signifikan dalam pembelajaran transformatif terjadi pada domain komunikatif, yakni bermula dari identifikasi masalah, nilai-nilai, atau perspektif awal, pengujian asumsi, dialog dengan diskursus kritis, hingga pada pengambilan kesimpulan berdasarkan hasil diskursus. Pun demikian, masih menurut Mezirow (1997) terdapat empat rangkaian proses yang disyaratkan agar transformasi terwujud, yaitu (1) mengelaborasi atau memperbaiki skema makna/nilai, (2) mempelajari skema makna baru, (3) merubah skema makna, dan (4) merubah perspektif makna. Pada tataran selanjutnya, McGonigal (2005) mengemukakan lima langkah implementatif agar transformasi peserta didik dapat terwujud, yaitu: 1. Activating event, yaitu peristiwa atau kejadian yang membuat peserta didik menyadari keterbatasan pengetahuan/pemahaman yang dimilikinya; 2. Ketersediaan ruang atau kesempatan untuk mengidentifikasi dan mengartikulasikan asumsi-asumsi yang mendasari pengetahuan awalnya tersebut; 3. Refleksi kritis; 4. Diskursus kritis, dengan dialog dan diskusi; 5. Kesempatan untuk menguji dan mengaplikasikan perspektif baru

Ragam pendekatan pembelajaran transformatif (skripsi dan tesis)

Sebagaimana sekilas disinggung pada bagian sebelumnya bahwa pembelajaran transformatif membawa ragam pandangan terkait dimensi pembelajaran yang bertransformasi. Hal ini berkaitan erat dengan latar pendekatan yang digunakan untuk mengkonsepsikan teori pembelajaran transformatif. Ditinjau dari pendekatannya, menurut Dirkx (1998) dan Hoggan (2015), pembelajaran transformatif dapat dikelompokkan menjadi empat, yaitu: (1) learning for consciousness-raising, (2) learning for critical reflection, (3) learning for development, dan (4) learning for individuation. Pembelajaran (atau pendidikan) transformatif sebagai peningkatan kesadaran (consciousness-raising) dikemukakan oleh Paulo Freire (1970).5 Kesadaran kritis yang dimaksudkan Freire merujuk pada proses dimana pembelajar meningkatkan kemampuan analisis, menghadapi persoalan, dan melakukan tindakan dalam konteks sosial, politik, kultural, dan ekonomi yang mempengaruhi dan membentuk kehidupannya. Kepekaan ini diperlukan untuk memahami strktur sosial yang berlaku di lingkungannya sehingga bisa terbebas dari resiko dan tindak penindasan dan kesewenang-wenangan. Selanjutnya, pembelajaran transformatif yang diorientasikan pada refleksi kritis (critical reflection) digagas dan dikembangkan oleh Jack Mezirow. Dalam pandangannya peserta didik perlu dikondisikan untuk membangun refleksi kritis atas asumsi awal yang telah dimiliki dengan cara mengkronfrontasikannya dengan asumsi-asumsi lain yang berbeda secara substansial atau dengan kenyataan yang “menggoyahkan” asumsi awalnya tersebut. Melalui proses kritis-reflektif tersebut, perspektif baru dapat terbentuk dan kemudian menjadi dasar tindakan peserta didik. Perubahan pada sisi perspektif dengan pendekatan rasionalkognitif inilah yang menjadi penekanan dalam pembelajaran transformatif Mezirow. Pada sisi lain, perspektif perkembangan peserta didik (developmental perspective) juga digunakan sebagai basis dalam memahami pembelajaran transformatif, seperti yang diartikulasikan pertama kali oleh Larry Daloz (1986). Ia memandang bahwa kebutuhan untuk menemukan dan membangun kebermaknaan hidup (meaning) sebagai faktor kunci yang mendorong orang dewasa untuk terlibat dalam sebuah pembelajaran formal. Dan ini, masih menurut Daloz, berkaitan erat dengan perkembangan kehidupan kita sendiri. Tingkat “kematangan” dan kondisi lingkungan yang berubah akan menuntut seseorang bergerak dari fase perkembangan saat itu ke fase berikutnya – melalui pelibatkan diri dalam proses pembelajaran. Dari sini, sangatlah jelas perspektif ‘perkembangan dan perubahan’ (growth and transformation) yang mendasari pandangan Daloz dalam pembelajaran transformatif – walaupun masih dipengaruhi oleh konteks sosio-kultural yang melatarbelakanginya (Dirkx, 1998). Aliran pendekatan yang keempat tentang pembelajaran transformatif pertama kali direpresentasikan oleh Robert Boyd (1991; Boyd & Myers, 1988). Walaupun pandangannya memiliki irisan dengan Daloz, Mezirow, dan Freire, Boyd meletakkan perkembangan kesadaran, perubahan, dan perkembangan pada makna yang berbeda. Perhatian Boyd lebih pada dimensi ekspresif atau emosional-spiritual dan mengintegrasikannya secara menyeluruh dan holistik dalam kehidupan sehari-hari. Pembelajaran transformatif, lanjut Boyd, melibatkan proses identifikasi ‘simbol-simbol’ dan dialog intrapersonal untuk memahaminya. Dialog ini merupakan bagian dari proses lebih luas yang – dalam istilah Carl Jung – disebut individuasi, yaitu proses untuk ‘menyelami’ dan memahami diri sendiri lebih jauh, sehingga dapat terhindar dari obsesi, keserakahan, dan bagian gelap lain yang mungkin muncul dari ‘ketidaksadaran’ (Dirkx, 1998). Selain pandangan-pandangan di atas, terdapat pula pandangan lain yang berusaha mengakomodasi semua dimensi transformasi tersebut, salah satunya adalah Knud Illeris (2014). Ia mengajukan pandangan bahwa target pembelajaran transformatif dapat tercakup dalam terma ‘identitas’. Identitas yang dimaksud yaitu kombinasi dari pengalaman personal yang khas dalam situasi apapun dan bagaimana seseorang ‘menampilkan’ dirinya terhadap lingkungannya. Jadi, identitas merujuk pada kompleksitas jati diri personal dan sosial seseorang.

Perspektif Transformatif Dalam Pembelajaran (skripsi dan tesis)

Perspektif transformatif adalah konsep pembelajaran yang menghasilkan perubahan pada individu tentang bagaimana individu tersebut mengerti dan memaknai kenyataan dan pengalaman hidupnya. Ini mencakup proses seseorang dalam melihat dan memahami proses belajar yang dialaminya saat ini dan menghubungkannya dengan keadaan hidupnya. Seseorang yang berhasil mengubah asumsi dasar yang dimiliki dan sadar atas kelemahan perspektif yang dianutnya untuk kemudian beralih pada perspektif baru adalah orang yang telah mengalami proses pembelajaran transformatif. Pembelajaran transformative (transformative learning) merupakan model pembelajaran yang dikembangkan dari perspektif transformatif. Transformasi dalam diri manusia adalah proses perubahan yang mendasar, baik dari segi bentuk, penampilan, kondisi, karakteristik dan substansi. Teori pembelajaran transformative muncul pada tahun 70-an yang didasari pada hasil penelitian besar yang dilakukan oleh Mezirow

Faktor-faktor yang Mempengaruhi Kapasitas Working Memory (skripsi dan tesis)

Ada beberapa faktor yang mempengaruhi kapasitas working memory,
yaitu:
1. Faktor usia.
Hal ini dapat dikarenakan perbedaan perkembangan psikologis
individu pada tahap-tahap :
a. Menerima informasi
Penelitian awal menemukan bahwa anak-anak dengan usia yang
rendah kurang mampu mengambil banyak informasi ke dalam sensory
memory (atau mempertahankannya) seperti yang mampu dilakukan anakanak dengan usia yang lebih tinggi. Kemudian ditemukan bahwa anak usia
lima tahun tidak berbeda dengan orang dewasa dalam hal jumlah informasi
yang mereka terima ke dalam sensory register. Apa yang telah ditemukan
oleh penelitian awal tentang informasi yang dapat diproses anak-anak
yang lebih tua disebabkan karena mereka lebih banyak menggunakan
strategi dalam pengulangan (rehearsal) (Sprinthall & Sprinthall, 1990).
Dalam hal menerima informasi, terdapat perbedaan dalam hal
kecepatan dalam mengolah informasi, proses perhatian (atensi), dan
pengkodean. Dalam hal kecepatan proses, penelitian awal menemukan
bahwa kecepatan proses adalah fungsi langsung dari usia, juga
menimbulkan keraguan. Mungkin penemuan itu disebabkan karena anakanak yang lebih tua lebih dapat menebak stimulus apa yang akan terjadi,
karena mereka telah memiliki dasar pengetahuan. Itulah sebabnya
mengenai kecepatan proses ini masih belum jelas. Kemampuan untuk
fokus pada stimulus yang relevan adalah kunci utama dalam mentransfer
informasi dari sensory register menuju ke STM, penelitian mengenai
proses perhatian ini sangat signifikan. Banyak penelitian yang mengatakan
bahwa anak-anak yang lebih tua dapat lebih mampu dalam memfokuskan
dan mengontrol proses perhatian daripada yang lebih muda. Kemampuan
anak dalam memperhatikan stimulus yang penting dan mengabaikan
stimulus yang tidak penting merupakan fungsi langsung dari pertumbuhan
dan perkembangan. Kemampuan untuk pengkodean juga dipengaruhi oleh
komponen perkembangan.
b. Penyimpanan Informasi
Perbedaan perkembangan psikologis menyebabkan perbedaan
kemampuan menyimpan informasi. Hal ini disebabkan salah satunya oleh
strategi pengulangan (Rehearsal). Perbedaan usia mengakibatkan
perbedaan dalam strategi pengulangan yang merupakan faktor penting
agar informasi dapat ditransfer dari STM ke LTM. Semakin bertambah usia
anak, semakin terorganisir strategi pengulangan yang digunakan,
menyebabkan semakin banyak informasi yang masuk ke LTM.
c. Kemampuan Pemanggilan Kembali
Semakin berkembangnya anak, akan semakin meningkatkan
spontanitas dalam menggunakan strategi pemanggilan kembali.
2. Faktor kebudayaan juga berpengaruh terhadap kapasitas working memory.
Kebudayaan membuat anggotanya sensitif terhadap objek, kejadian dan
strategi tertentu yang dapat mempengaruhi kapasitas working memory terhadap
hal tersebut (Misty & Rogoff dalam Santrock, 2004).
3. Faktor pendidikan.
Kesalahan dalam penggunaan strategi mengingat informasi sering
berhubungan dengan kurangnya pendidikan di sekolah yang tepat (Cole &
Scribner dalam Santrock, 2004).

Perkembangan Kapasitas Working Memory Anak Usia 4-6 Tahun (skripsi dan tesis)

Working memory berkaitan dengan banyak aspek dari perkembangan anak.
Kapasitas working memory yang baik berkaitan dengan kemampuan membaca,
keterampilan matematika, dan keterampilan pemecahan masalah yang lebih
efektif (Santrock, 2011). Penelitian menyebutkan bahwa working memory
mengalami perkembangan yang pesat pada tahap usia anak (Matlin, 2005), yakni
usia anak awal dan tengah (Baddeley, Kopelman, & Wilson, 2002). Kapasitas
151
working memory untuk dapat menyimpan informasi terus berkembang terutama
pada usia anak dan remaja. Diperkirakan terjadi peningkatan 7% pada kapasitas
working memory setiap tahunnya dan mencapai puncaknya saat mencapai usia
dewasa awal. Menurut Goshwami (2011), perbedaan perkembangan kemampuan
individu dalam kapasitas working memory merupakan hasil interaksi yang
dinamis antara faktor biologis (kematangan dan genetik) dan pengalaman
(pengetahuan dan latihan).
Kapasitas working memory dapat diukur dengan menghitung memory
span, yakni jumlah items maksimal yang mampu diingat kembali dengan benar
segera setelah items selesai diberikan. Pengukuan kapasitas working memory
memiliki fungsi prediksi terhadap keterampilan kognitif dalam kehidupan sehari –
hari. Kapasitas working memory anak usia 4-6 tahun adalah sebanyak 4 items
untuk tugas – tugas phonological dan visuospatial (Baddeley, Kopelman, &
Wilson, 2002). Kapasitas working memory mempengaruhi kemampuan anak
dalam menerima instruksi yang panjang dan mengerjakan tugas yang
membutuhkan beberapa urutan langkah, baik di sekolah maupun saat
menyelesaikan pekerjaan rumah. Tingginya kapasitas working memory individu
diasosiasikan dengan semakin banyaknya informasi yang dapat disimpan.
Penelitian menyebutkan bahwa kapasitas working memory berkorelasi positif
dengan tugas-tugas penalaran pada pengukuran intelegensi (Pickering, 2006).

  Mekanisme Working Memory (skripsi dan tesis)

di dalam Otak Area otak yang berperan dalam aktivitas working memory adalah lobus frontal dan lobus parietal. Tingginya tingkat aktivitas pada area dorsolateral prefrontal dan korteks parietal diasosiasikan dengan kapasitas working memory yang lebih baik. Penelitian menunjukkan bahwa terdapat hubungan antara perkembangan working memory dengan proses penebalan myelin yang menghubungkan lobus parietal dan lobus frontal. Otak manusia bersifat plastis, latihan yang berulang dan bertahap dapat meningkatkan kapasitas working memory. Kuatnya hubungan antar sel saraf lebih berperan dalam perkembangan working memory daripada kecepatan transmisi impuls pada aktivitas otak. Latihan yang berulang dengan menggunakan tugas-tugas verbal dan visuo-spatial dapat meningkatkan kapasitas working memory dalam menyimpan informasi (Klingberg, 2009).

Pengertian Kapasitas Working Memory (skripsi dan tesis)

Memori memiliki keterbatasan pada durasi dan kapasitasnya pada saat
mengingat informasi baru, hal itu terjadi setelah adanya penundaan selama kurang
dari 1 menit (Cowan, 2005; Paas & Kester, 2006; Rose, 2004 dalam Matlin,
2009). Keterbatasan ini terjadi pada mental arithmetic, membaca kalimat yang
kompleks, bekerja dalam tugas reasoning, atau penyelesaian masalah yang
kompleks (Gathercole et al., 2006; Morisson, 2005 dalam Matlin, 2009).
Kapasitas working memory adalah kemampuan untuk menyimpan dan
mengolah informasi yang baru saja diterima (Baddeley, 2000). Kemampuan
mengingat berkaitan dengan kapasitas working memory. Working memory
berperan terutama pada tahap awal mempelajari sesuatu. Semakin tinggi kapasitas
working memory yang ditandai dengan rentang jumlah items yang dapat diingat
oleh seorang anak maka diprediksikan semakin baik prestasinya di sekolah (Stern,
2011). Anak yang memiliki masalah pada working memory mudah melupakan
informasi yang baru saja ia lihat atau dengar.
Berdasarkan pendekatan klasik pada working memory yang dilakukan oleh
Miller (1956) dalam buku Matlin (2009) tentang “Magical number seven” yang
menyebutkan adanya keterbatasan seseorang di dalam kapasitas pemrosesan
informasi, dia menambahkan bahwa seseorang dapat mengingat sebanyak 7 item )
kurang atau lebih 2 item) yaitu antara 5 dan 9 item. Selain itu, terdapat faktor
yang berpengaruh terhadap kapasitas working memory, yaitu pronounciation time
(waktu pelafalan) dan semantic similarity of the items (suara pada saat item itu
diterima).

Bagian Spesifik Otak Terkait Working Memory (skripsi dan tesis)

Ketika working memory sedang aktif, hampir keseluruhan bagian
otak manusia bekerja. Namun terdapat bagian-bagian spesifik yang lebih
aktif bekerja, adapun bagian-bagian otak tersebut yaitu:
1. Phonological loop (berlokasi di hemisfer kiri)
Posterior parietal, inferior parietal, brodmann’s area 40,
supramarginal gyrus, broca’s area, anterior temporal frontal.
2. Visuospatial sketchpad (berlokasi di hemisfer kanan)
Premotor cortex, occipital, inferior frontal, parietal.
3. Central executive (berlokasi di dorsolateral prefrontal cortex)
Dorsolateral prefrontal, anterior cingulated.
4. Episodic buffer (berlokasi di hemisfer kiri/ kanan) (Dehn,
2008).
Berdasarkan hasil riset disebutkan bahwa otak bukanlah lemari
arsip untuk fakta dan kemampuan, melainkan terlibat ke dalam proses
pengorganisasian informasi untuk membuatknya dapat diakses dan
digunakan lebih mudah (Slavin, 2011).

Pendekatan Working Memory dari Alan Baddeley (skripsi dan tesis)

Menurut Baddeley (2000) dalam buku Matlin (2009), working memory
merupakan immadiate memory yang terdiri atas sistem-sistem multipart yang
bersifat sementara dan dapat memanipulasi informasi sebagai tugas dari kognitif
yang ditunjukkan. Pendekatan ini menekankan bahwa working memory tidak
hanya gudang penyimpanan pasif yang terdiri atas angka pada rak-rak terhadap
informasi yang diproses secara parsial sampai pada perpindahan ke lokasi yang
lainnya yakni long term memory. Oleh karenanya, Baddeley menekankan pada
manipulasi informasi kata bahwa working memory banyak memiliki meja kerja
dimana material informasi secara konstan ditangani, dikombinasikan, dan
ditransformasikan. Meja kerja ini terdiri dari material baru dan material lama yang
dipanggil dari penyimpanan long term memory. Komponen yang terdapat pada
pendekatan working memory Baddeley ini terdiri dari: Phonological loop,
visuospatial sketchpad, central executive dan episodic buffer.
 Phonological Loop
Phonological loop memproses nomor yang dibatasi pada suarasuara untuk periode waktu yang singkat. Pelafalan untuk nama-nama yang
pendek, proses rehearsal (pemanggilan kembali) dapat dilakukan dengan
cepat. Sedangkan untuk nama-nama yang panjang selalu akan
melemahkan phonological loop. Beberapa peneliti melaporkan hubungan
antara waktu pelafalan dan ketepatan recall, pelafalan kata dengan suara
keras atau menggunakan subvocalization dan pelafalan kata dengan suara
hening.
Penelitian Acoustic confusions, mengatakan bahwa penyaian
phonological loop merupakan informasi di dalam tema-tema suara atau
bunyi. Memori pada manusia dapat saja meninggalkan jejak eror untuk
acoustic confusion ini, sehingga manusia seringkali keliru menstimulus
suara yang umum (Baddeley, 2003; Wikelgren, 1965 dalam Matlin, 2009).
Kegunaan lain phonological loop ini memainkan peran yang
krusial di dalam kehidupan sehari-hari, bahkan sampai melampaui
perannya di dalam working memory (Baddeley, 2003, 2006; Morisson,
2005 dalam Matlin, 2009). Phonological loop dapat digunakan pada
kalkulasi matematika dan tugas-tugas problem solving untuk menjaga
jejak angka-angka dan informasi yang lain (Bull & Espy, 2006 dalam
Matlin, 2009). Faktanya phonological loop ini penting pada saat seseorang
sewaktu-waktu mengerjakan pekerjaan dalam tugas yang kompleks untuk
mengingat informasi dari tugas-tugas yang mengalami perpanjangan
periode waktunya (Gathercole et al, 2006; dalam Matlin, 2009).
Pada penelitian neuroscience, studi menunjukkan bahwa tugastugas phonological loop ini aktif pada bagian lobus frontal dan temporal di
dalam hemisfer otak kiri (Baddeley, 2006; Gazzaniga et al., 2002; Lustig
et al., 2005 dalam Matlin, 2009)
 Visuospatial Sketchpad
Visuospatial Sketchpad menggunakan sajian gambar yang koheren
pada tampilan visual dari suatu objek dan posisi yang relative terhadap
situasinya (Cornoldi & Vecchi, 2003; Holliworth, 2006; Logie & Della
Salla, 2005 dalam Matlin, 2009). Kemudian visuospatial sketchpad juga
menyajikan informasi visual yang diencoding dari stimulus verbal
(Baddeley, 2006; Pickering, 2006a dalam Matlin, 2009). Contoh proses
yang terjadi pada visuospatial sketchpad ini yaitu ketika seseorang
bercerita tentang sejarah, kemungkinan akan terjadi visualisasi pada situasi
yang terjadi pada apa yang diceritakan. Oleh karenanya, manusia dapat
bekerja secara simultan di dalam suatu tugas verbal dan tugas spatial dan
kapasitas visuospatial sketchpad ini bersifat terbatas (Alvarez &
Cavanagh, 2004; Baddeley, 2006; Hollingworth, 2004; Wheeler &
Treisman, 2002 dalam Matlin, 2009).
Dalam buku Matlin (2009), lan Baddeley (1996, 2006)
menggambarkan pengalaman personal yang dia buat untuk mengapresiasi
bagaimana satu tugas visuospatial dapat bercampur dengan yang lainnya.
Dia menciptakan kemungkinan untuk menunjukkan tugas yang
memerlukan mental image dengan diaktifkan ketika mencoba menemukan
jalan dari suatu lokasi lainnya (Logie, 2003 dalam Matlin, 2009).
Penelitian neuroscience mendukung bahwa tugas-tugas visual dan
spatial biasanya secara khusus aktif pada korteks di bagian hemisfer kanan
dibandingkan dengan di bagian kiri (Gazzaniga et al., 2002’ Logie, 2003;
Thompson & Madigan, 2005 dalam Matlin 2009). Lokasi yang spesifik
pada tugas otak terikat pada karakteristik yag spesifik, seperti pada tugas
yang sulit (Logie & Della Salla, 2005 dalam Matlin, 2009).
Central Executive
Central executive mengintegrasikan informasi dari phonological
loop, visuospatial sketchpad, episodic buffer, dan long term memory.
Central executive juga berperan besar dalam memfokuskan atensi, strategi
perencanaan, mentransfer informasi, dan mengkoordinasi perilaku
(Baddeley, 2001; Reuter-Lorenz & Jonides, 2007 dalam Matlin, 2009).
Oleh karena itu central executive merupakan komponen yang paling
sedikit dipahami di dalam working memory (Baddeley, 2006; Bull & Espy,
2006 dalam Matlin, 2009). Dalam kehidupan sehari-hari central executive
dapat membantu menentukan apa yang dilakukan selanjutnya serta
memiliki karakteristik merencanakan dan mengkoordinasikan, bukan
menyajikan informasi (Baddeley, 2000b, 2006; Logie, 2003: Richardson,
1996a, 1996b dalam Matlin, 2009).
Dalam buku Matlin (2009), Baddeley (1999, 2006) menjelaskan
bahwa central executive mengerjakan supervisor executive di dalam
organisasi, dan central executive memainkan peran penting ketika
menyelesaikan masalah matematika (Bull & Espy, 2006 daerbataslam
Matlin, 2009). Selain itu central executive memiliki kemampuan yang
terbatas untuk menampilkan tugas-tugas yang simultan. Cognitive
executive kita tidak bisa memakai penyelesaian angka pada waktu yang
sama, dan tidak bisa bekerja secara efektif pada dua projek secara
simultan.
Episodic Buffer
Baddeley menjelaskan episodic buffer sebagai komponen working
memory dimana informasi auditori, visual, dan spatial dapat
dikombinasikan dengan informasi dari long term memory. Susunan ini
membantu meyelesaikan permasalahan teoritis tentang bagaimana working
memory mengintegrasikan informasi dari modalities yang berbeda
(Morrison, 2005 dalam Matlin, 2009). Kemudian episodic buffer ini secara
aktif memanipulasi informasi agar dapat diintegrasi dari awal pengalaman,
menyelesaikan masalah, dan merencanakan aktifitas selanjutnya.
Episodic buffer hanya sistem memori sederhana, tidak memiliki
relatifitas yang permanen di dalam system long term memory. Beberapa
material dalam episodic buffer ini merupakan unsur verbal seperti kata
yang digunakan dan beberapa visuospatial seperti ekspresi wajah dan
bagaimana kedudukan suatu benda.

Pendekatan Klasik pada Working Memory (Short Term Memory) (skripsi dan tesis)

Memori jangka pendek atau yang sekarang disebut dengan memori kerja
(working memory) menurut Atkinson dan Shiffrin adalah informasi yang akan di
transfer dari memori sensorik ke penyimpanan memoriselanjutnya. Short term
memory sangat meningkat terjadi pada early childhood. Memori mempunyai tiga
tahapan yaitu encoding, storage dan retrieval.
1. Encoding
Untuk menulis informasi dalam kode lalu disimpan ke memori kerja,
individu akan selektif dengan apa yang ingin diingat. Jika individu tersebut tidak
memperhatikan informasi terebut maka informasi tidak dapat diingat kembali
bukan karena kegagalan fungsi memori tapi karena atensi individu tersebut.
1) Phonological coding
Ketika informasi di bentuk menjadi suatu kode, kode terebut akan
masuk dalam bentuk kode tertentu. Bentuk phonological sendiri berarti
bentuk suara/nama informasi tersebut.
2) Visual coding
Ketika informasi dibentuk menjadi suatu kode, dan kode itu dalam bentuk
gambar. Sering disebut dengan memori fotografis. Konsep memori jangka
pendek adalah satu sistem untuk menyimpan data dan menyimpan data
tersebut dalam bentuk akustik (phonological loop). Informasi tersebut bisa
hilang atau bisa tersimpan tergantung pengulangannya. Bentuk sistemyang
lain yaitu visual-spasial sketchpad yaitu seperti ingatan fotografis yang
mengingat bentuk dari informasi tersebut.
2. Storage
Hal yang khas pada memori jangka pendek adalah kapasitasnya yang
terbatas. Untuk bentuk akustik, kapasitas terbatas hingga 7±2 item. Beberapa
orang bisa menyimpan hingga 5 samapai 9 item, tetapi memang janggal untuk
menyebutkan angka pasti untuk kapasitas memori jangka pendek namun hal itu
dipengaruhi oleh memori jangka panjang. Memori sendiri mempunyai kapasitas
terbanyak yang disebut sebagai Memory span. Memori jangka pendek merupakan
penyimpanan sementara peristiwa atau item yang diterima dalam waktu sekejap,
yakni kurang dari beberapa menit, biasanya malah lebih pendek (beberapa detik).
Memori jangka pendek tidak permanen, penyimpanannya akan terhapus dalam
waktu pendek, kecuali kalau diupayakan secara khusus, seperti diulang terus
menerus.
3. Retrieval
Penelitian menunjukkan bahwa semakin banyak item yang disimpan,
semakin lama data yang disimpan untuk diingat kembali. Memori jangka pendek
dicirikan oleh ingatan mengenai 5 sampai 9 item (7±2 item) selama beberapa
detik sampai beberapa menit. Dalam kepustakaan lain disebutkan bahwa memori
jangka pendek menyimpan informasi selama 15 hingga 30 detik, dengan asumsi
tidak ada latihan atau pengulangan. Memori jangka pendek selain memiliki dua
fungsi penting yaitu menyimpan material yang diperlukan untuk periode waktu
yang pendek dan berperan sebagai ruang kerja untuk perhitungan mental,
kemungkinan fungsi lain adalah bahwa memori jangka pendek merupakan stasiun
perhentian ke memori jangka panjang. Artinya, informasi mungkin berada di
memori jangka pendek sementara ia sedang disandikan menjadi memori jangka
panjang. Salah satu teori yang membahas transfer dari memori jangka pendek
menjadi memori jangka panjang dinamakan dual memory model. Model ini
berpendat bahwa jika informasi memasuki memori jangka pendek, ia dapat
dipertahankan dengan pengulangan atau hilang karena penggeseran atau
peluruhan.
Pada tahun 1956, George Miller menulis artikel yang berjudul “The
Magical Number Seven plus/ minus: Keterbatasan di dalam kapasitas pemrosesan
informasi”. Artinya, seseorang dapat mengingat informasi sebayak 7 item
(kurang/lebih dari sua item) yaitu beradam pada anata 5 item sampai dengan 9
item.
Miller menggunakan tema chunk untuk menggambarkan unit-unit dasar di
dalam short term memory. Chunk ini merupakan unit memori yang terdiri dari
beberapa komponen yang secara kuat diasosiasi satu sama lain (Cowan et al.,
2004, Matlin, 2009). Sehingga Miller mendukung bahwa short term memory ini
kira-kira memuat 7 chunk atau 7 kumpulan item-item.

Working Memory (skripsi dan tesis)

Working memory merupakan suatu sistem memori jangka pendek dan
sejumlah proses mental yang mengendalikan pemanggilan kembali suatu
informasi yang berasal dari memori jangka panjang dan kemudian
menginterpretasikan memori tersebut sesuai kebutuhan (Carole dan Carole,
2009:71). Baddeley dalam jurnal Watanabe (2011) menjelaskan bahwa working
memory dapat didefinisikan sebagai suatu sistem ingatan yang mampu
memproses penerimaan informasi untuk kemudian dikemukakan kembali. Dapat
disimpulkan bahwa working memory merupakan suatu sistem dalam memori yang
memproses suatu informasi yang diterima dalam waktu yang singkat dan cepat
139
serta proses pemanggilan kembali suatu informasi yang sudah tersimpan dalam
memori jangka panjang (Septian, 2015).
Informasi yang dipahami dan diberi perhatian oleh seseorang dipindahkan
ke komponen kedua sistem memori; memori jangka pendek (Solso, 2001; Slavin,
2011). Ini adalah bagian memori yang menjadi tempat penyimpanan informasi
yang pada saat iu sedang dipikirkan. Pemikiran yang kita sadari dan dimiliki pada
saat tertentu disimpan ke dalam memori jangka pendek. Istilah lain dari memori
jangka pendek ini ialah memori kerja atau working memory (Anderson, 1995;
Ashcraft, 2006; Slavin, 2011). Working memory adalah tempat pikiran
mengoperasikan informasi, mengorganisasikannya untuk disimpan atau dibuang,
dan menghubungkannya dengan informasi lain.
Informasi dapat masuk ke dalam memori kerja dari rekaman indera atau
dari komponen dasar ketiga sistem memori: memori jangka panjang (long-term
memory). Ketika anak melihat luapan air, rekaman indera anak memindahkan
citra luapan air ke memori kerja anak. Sementara itu, anak mungkin (tanpa sadar)
mencari dari memori jangka panjang informasi mengenai luapan air yang
meninggi sehingga anak dapat mengidentifikasi luapan air tertentu ini sebagai
banjir. Bersama pengenalan itu mungkin muncul banyak informasi lain tentang
luapan air atau banjir, ingatan pengalaman masa lalu dengan luapan air atau banjir
atau perasaan tentang banjir yang semuanya didimpan dalam memori jangka
panjang tetapi dibawa ke dalam kesadaran (memori kerja) oleh pengolahan
pikiran anak terhadap penglihatan luapan air.
140
Memori kerja diyakini memiliki kapasitas lima hingga sembilan potongan
informasi (Miller, 1956; Slavin, 2011). Maksudnya, kita dapat memikirkan hanya
lima hingga sembilan hal yang berbeda setiap saat. Namun, setiap potongan
tertentu dapat berisi sangat banyak informasi. Misalnya berbagai informasi dan
istilah mengenai bencana alam banjir. Anak dapat dengan mudah menghafal
berbagai istilah dan informasi tersebut dengan mengorganisasikannya menurut
pola yang sudah tidak asing lagi bagi anak-anak misalnya dengan cerita. Dengan
cara ini, anak dapat mengingat kembali apa yang harus dilakukan ketika melihat
situasi serupa dan anak hanya perlu mempertahankan beberapa potongan
informasi dalam memori kerjanya. Ketika berbagai istilah dan informasi tersebut
diorganisasikan secara logis, hal itu menjadi bermakna sehingga mudah dipelajari
dan diingat. Karena bahan yang diorganisasikan dengan baik jauh lebih mudah
dipelajari dan diingat daripada bahan yang diorganisasikan dengan buruk (Durson
& Coggins, 1991; Slavin, 2011). Selain itu, teori kode ganda mengusulkan
pentingnya menggunakan pengkodean visual maupun verbal untuk mempelajari
potongan-potongan informasi. Kita tidak dapat menyajikan kepada siswa banyak
gagasan sekaligus kecuali gagasan itu diorganisasikan dengan begitu baik dan
dikaitkan dengan baik dengan informasi yang telah terdapat dalam memori jangka
panjang siswa sehingga memori kerja mereka (dengan bantuan memori jangka
panjang mereka) dapat menampungnya (Slavin, 2011).
Kemudian istilah working memory sendiri yaitu laporan pada immediate
memory terhadap materi yang sedang diproses sehingga prosesnya akan secara
aktif mengkoordinasi aktifitas mental secara terus menerus. Dengan kata lain,
working memory merupakan informasi yang tetap aktif dan mudah diakses, bisa
digunakan pada tugas-tugas kognitif di dalam kecerdasan yang bervariasi (Cowan,
2003, 2005; Hassin, 2005; Pickering, 2005b dalam Matlin, 2009).

Kelebihan dan Kekurangan Storytelling (skripsi dan tesis)

Terdapat kelebihan dan kekurangan dari metode storytelling ini diantanranya adalah sebagai berikut: a. Kelebihan Metode Storytelling 1. Cerita dapat mengaktifkan dan membangkitkan semangat anak. Karena anak akan senatiasa merenungkan makna dan mengikuti berbagai situasi cerita, sehingga anak didik terpengaruh oleh tokoh dan topik cerita tersebut. 2. Mengarahkan semua emosi sehingga menyatu pada satu kesimpulan yang terjadi pada akhir cerita. 3. Cerita selalu memikat, karena mengundang untuk mengikuti peristiwanya dan merenungkan maknanya. 4 Dapat mempengaruhi emosi. Seperti takut, perasaan diawasi, rela, senang, sungkan, atau benci sehingga bergelora dalam lipatan story. 135 5 Dapat menumbuh kembangkan gaya bicara yang baik. Apabila dibumbui dengan cerita akan dapat meningkatkan daya hafalannya, dimana di dalamnya terdapat penggambaran hidup yang baru, lebih-lebih ditambah nilai seni dalam pembawaannya, sehingga seorang pendengar merasa menikmati dan menghayatinya. b. Kekurangan Metode Storytelling 1 Pemahaman anak akan menjadi sulit ketika cerita itu telah terakumulasi oleh masalah lain. 2 Bersifat monolong dan dapat menjenuhkan anak didik. 3 Sering terjadi ketidakselarasan isi cerita dengan konteks yang dimaksud sehingga pencapaian tujuan sulit diwujudkan. Pendapat Horn (Ahyani 2010) yang menyatakan bahwa cerita mempunyai kemampuan untuk menciptakan lingkungan belajar yang benar untuk siswa anak usia dini. Hamilton dan Weiss (2005) juga menjelaskan bahwa storytelling merupakan proses membangun cerita dalam pikiran, ialah pada cara yang paling mendasar untuk membuat makna dan meliputi aspek pembelajaran. Dari uraian di atas dapat disimpulkan bahwa storytelling merupakan penyampaian materi pelajaran dengan cara menceritakan kronologis.

Pihak yang Terkait Saat Storytelling (skripsi dan tesis)

1. Storyteller
Storyteller adalah orang yang menyampaikan cerita. Kriteria storyteller
yang baik:
a. Memiliki berbagai kepribadian sebagai orang-orang atau peran-peran
orang lain di bidang lain.
b. Memiliki beberapa sifat yang bisa dibagikan sebagai suatu kemampuan
untuk tampil
c. Memiliki kemampuan berbicara dengan otoritas dan animasi.
d. Memiliki rasa peduli terhadap audience dan apa yang mereka butuhkan
e. Disiplin untuk bekerja pada storytelling sebagai suatu seni
f. Memiliki kekuatan emosi untuk mengatasi penolakan
g. Memiliki kepercayaan dalam talenta dan bakat mereka sendiri
h. Menyukai dan menikmati cerita maupun proses penyampaiannya.
i. Menjadikan diri sebagai bagian dari audience.
2. Audience/ Pendengar
Audience atau pendengar adalah anak atau orang yang mendengarkan
cerita yang dibawakan oleh storyteller. Macam-macam tipe gaya belajar audience
adalah:
a. Audio
Anak yang memiliki gaya belajar audio, belajar dengan mengandalkan
pendengaran untuk bisa memahami sekaligus mengingatnya.
b. Visual
Anak yang memiliki gaya belajar visual, belajar dengan menitikberatkan
ketajaman penglihatan.
c. Kinestetik
Anak yang memiliki gaya belajar kinestetik mengharuskan anak tersebut
menyentuh sesuatu yang memberikan informasi tertentu agar ia bisa
mengingatnya.
Dalam membawakan cerita, storyteller dapat memulainya dengan
mengajak anak membayangkan tempat kejadiannya, misalnya di tengah hutan
yang lebat, di tepi sungai yang airnya jernih dan kemudian dapat dilanjutkan
dengan pengantar mengenai suasana ceritanya.
Storyteller dapat membuat cerita sendiri yang akan di ceritakan sehingga
tidak hanya terpaku pada teks atau cerita dari buku saja. Apalagi jika pada saat
storytelling didukung dengan sound system yang memadai sehingga suara
storyteller dapat terdengar jelas serta lebih dapat merangsang indera auditori
untuk dapat menangkap informasi secara efektif. Storytelling ini dapat
menggunakan alat peraga lainnya seperti boneka, gambar, kain, maupun
storytelling dengan diiringi music seperti yang dilakukan storyteller PM Toh.
Jika storyteller dapat melakukan aksi pertunjukan simulasi bencana atau
eksperimen suatu kejadian bencana dengan menggunakan alat peraga, anak akan
merasa tertarik karena membuat dan memperhatikan langsung bagaimana
prosesnya. Misalnya, pada simulasi bencana gunung meletus. Dengan teknik ini
dapat menjawab dan meyakinkan pengetahuan yang dimiliki oleh anak karena
tampak bagaimana prosesnya terkait dengan pola berpikir anak yang intuitif

Proses Storytelling (skripsi dan tesis)

Hal terpenting dalam kegiatan storytelling adalah proses. Dalam proses
storytelling inilah terjadi interaksi antara storyteller dengan audiencenya. Melalui
proses storytelling inilah dapat terjalin komunikasi antara storyteller dengan
audiencenya. Karena kegiatan storytelling ini penting bagi anak, maka kegiatan
tersebut harus dikemas sedemikian rupa supaya menarik. Agar kegiatan
storytelling yang disampaikan menarik, maka dibutuhkan adanya tahapan-tahapan
dalam storytelling, teknik yang digunakan dalam storytelling serta siapa saja
pihak yang terlibat dalam kegiatan storytelling turut menentukan lancar atau
tidaknya proses storytelling ini berjalan. Maka berikut ini akan diuraikan hal-hal
tersebut.

Pengertian Storytelling dari Geisler (skripsi dan tesis)

Komisi Nasional Dewan Guru Bahasa Inggris dalam (Geisler, 1997)
sepakat bahwa definisi storytelling yang lengkap adalah definisi Geisler (1997)
yang mendefinisikan bahwa storytelling adalah kegiatan mendongeng.
Storytelling merupakan kegiatan yang berkaitan dengan menceritakan sebuah
cerita untuk satu atau lebih pendengar. Dalam storytelling, storyteller melakukan
interaksi dua arah dengan pendengar, lalu menuturkan kisah. Storyteller bercerita
dengan menggunakan kata-kata, permainan suara dan gerakan. Storyteller
mengatur ritme suara untuk menimbulkan respon pendengar. Baik pendengar
maupun storyteller, sebenarnya sedang menyusun rangkaian gambar cerita dalam
pikiran yang berasal dari makna yang terkait melalui kata-kata, gerak tubuh, dan
suara daristoryteller. Pengalaman inilah dalam storytelling yang bisa memberi
kesempatan kepada pendengar untuk mengekspresikan imaginasi dan ide
kreatifnya.

Pengertian Storytelling dari Beberapa Sumber (skripsi dan tesis)

 

Storytelling berasal dari Bahasa Inggris, jika dilihat dari susunan katanya, memiliki dua kata yaitu story dan telling. Story artinya cerita dan telling artinya menceritakan. Jadi padanan kata tersebut menghasilkan sebuah pengertian baru yaitu menceritakan sebuah cerita. Pengertian tersebut senada dengan arti dari Kamus Lengkap Bahasa Inggris (Echols, 1975) yang menerangkan tentang arti kata storytelling. Menurut Echols (1975), storytelling terdiri atas dua kata yaitu story berarti cerita dan telling berarti penceritaan. Penggabungan dua kata storytelling berarti penceritaan cerita atau menceritakan cerita. Storytelling juga disebut bercerita atau storytelling seperti yang dikemukakan oleh Malan (1991). Storytelling merupakan usaha yang dilakukan oleh storyteller dalam menyampaikan isi perasaan, buah pikiran atau sebuah story kepada anak-anak secara lisan. Storytelling telah didefinisikan dalam banyak arti. Di Indonesia, storytelling sering disebut juga dengan istilah storytelling. Storytelling adalah kegiatan aktif, bercerita secara terstruktur dan utuh. Maka dari kata storytelling kita peroleh kata story, yang berarti cerita atau kisah. Di masa dahulu kegiatan storytelling ditujukan untuk menghibur atau mengajarkan sesuatu kepada generasi muda. Dalam bentuk story, inti pengajaran menjadi lebih mudah diterima oleh segala usia. 126 Collin (Isbell dkk., 2004) menegaskan storytelling mempunyai banyak kegunaan di dalam pendidikan utama anak. Dia menyimpulkan bahwa story menyediakan suatu kerangka konseptual untuk berpikir, yang menyebabkan anak dapat membentuk pengalaman menjadi keseluruhan yang dapat mereka pahami. Story menyebabkan mereka dapat memetakan secara mental pengalaman dan melihat gambaran di dalam kepala mereka. Joseph Campbell, seorang akademisi yang meneliti tentang story dari seluruh dunia dalam kompilasi kuliahnya ditahun 80-an “Transformation of Myth Throught Time” menyampaikan bahwa story menjadi sangat kaya dan sarat pesan serta pelajaran hidup yang dapat dimodifikasi sesuai dengan kebutuhan. (The Golden Surprise, 2014). Dari beberapa pendapat yang telah disebutkan, dapat disimpulkan bahwa story mempunyai banyak fungsi antara lain: sebagai hiburan atau pelipur lara, pendidik, sarana mewariskan nilai-nilai, protes sosial, dan juga proyeksi. Hal terpenting dalam kegiatan storytelling adalah proses. Dalam proses storytelling inilah terjadi interaksi antara storyteller dan audiencenya (dalam hal ini anak-anak). Melalui proses storytelling ini dapat terjalin komunikasi antara storyteller dengan audiencenya. Karena kegiatan storytelling ini penting bagi anak, maka kegiatan tersebut harus dikemas sedemikian rupa supaya menarik, maka dibutuhkan tahapan-tahapan dalam storytelling. Teknik yang digunakan dalam storytelling serta siapa saja pihak yang terlibat dalam kegiatan storytelling turut menentukan lancar atau tidaknya proses storytelling.

Mengembangkan Kecerdasan Adversitas (skripsi dan tesis)

Menurut Stoltz, cara mengembangkan dan menerapkan kecerdasan adversitas dapat diringkas dalam kata LEAD (Stoltz, 2000), yaitu:
 a. Listened (dengar)
 Mendengarkan respon terhadap kesulitan merupakan langkah yang penting dalam mengubah kecerdasan adversitas individu. Individu berusaha menyadari dan menemukan jika terjadi kesulitan, kemudian menanyakan pada diri sendiri apakah itu respon kecerdasan adversitas yang tinggi atau rendah, serta menyadari dimensi kecerdasan adversitas mana yang paling tinggi.
b. Explored (gali)
Pada tahap ini, individu didorong untuk menjajaki asal-usul atau mencari penyebab dari masalah. Setelah itu menemukan mana yang merupakan kesalahannya, lalu mengeksplorasi alternatif tindakan yang tepat.
 c. Analized (analisa)
Pada tahap ini, individu diharapkan mampu menganalisa bukti apa yang menyebabkan individu tidak dapat mengendalikan masalah, bukti bahwa kesulitan itu harus menjangkau wilayah lain dalam kehidupan, serta bukti mengapa kesulitan itu harus berlangsung lebih lama dari semestinya. Fakta-fakta ini perlu dianalisa untuk menemukan beberapa faktor yang mendukung kecerdasan adversitas individu.
d. Do (lakukan)
Terakhir, individu diharapkan dapat mengambil tindakan nyata setelah melewati tahapan-tahapan sebelumnya. Sebelumnya diharapkan individu dapat mendapatkan informasi tambahan guna melakukan pengendalian situasi yang sulit, kemudian membatasi jangkauan keberlangsungan masalah saat kesulitan itu terjadi

Peranan Kecerdasan Adversitas dalam Kehidupan (skripsi dan tesis)

 Faktor-faktor kesuksesan berikut ini dipengaruhi oleh kemampuan pengendalian individu serta cara individu tersebut merespon kesulitan, diantaranya (Stoltz, 2000):
a. Daya Saing
 Jason Sattefield dan Martin Seligman (Stoltz, 2000), dalam penelitiannya menemukan bahwa individu yang merespon kesulitan secara lebih optimis dapat diramalkan akan bersifat lebih agresif dan mengambil lebih banyak resiko, sedangkan reaksi yang lebih pesimis terhadap kesulitan menimbulkan lebih banyak sikap pasif dan hatihati. Individu yang bereaksi secara konstruktif terhadap kesulitan lebih tangkas dalam memelihara energi, fokus, dan tenaga yang diperlukan supaya berhasil dalam persaingan. Persaingan sebagian besar berkaitan dengan harapan, kegesitan, dan keuletan yang sangat ditentukan oleh cara seseorang menghadapi tantangan dan kegagalan dalam kehidupan.
b. Produktivitas
 Penelitian yang dilakukan Stoltz, menemukan korelasi yang kuat antara kinerja dan cara-cara pegawai merespon kesulitan. Seligman (2006) membukitkan bahwa orang yang tidak merespon kesulitan dengan baik kurang berproduksi, dan kinerjanya lebih buruk daripada mereka yang merespon kesulitan dengan baik.
c. Kreativitas
Joel Barker (dalam Stoltz, 2005. h. 94), kreativitas muncul dalam keputusasaan, kreativitas menuntut kemampuan untuk mengatasi kesulitan yang ditimbulkan oleh hal-hal yang tidak pasti. Joel Barker menemukan orang-orang yang tidak mampu menghadapi kesulitan menjadi tidak mampu bertindak kreatif. Oleh karena itu, kreativitas menuntut kemampuan untuk mengatasi kesulitan yang oleh hal-hal yang tidak pasti.
d. Motivasi
Dari penelitian Stoltz (2005) ditemukan orang-orang yang kecerdasan adversitasnya tinggi dianggap sebagi orang-orang yang paling memiliki motivasi.
 e. Mengambil Resiko
Satterfield dan Seligman (dalam Stoltz, 2005) menemukan bahwa individu yang merespon kesulitan secara lebih konstruktif bersedia mengambil banyak resiko. Resiko merupakan aspek esensial pendakian.
f. Perbaikan
Perbaikan terus-menerus perlu dilakukan supaya individu bisa bertahan hidup dikarenakan individu yang memiliki kecerdasan adversitas yang lebih tinggi menjadi lebih baik, sedangkan individu yang kecerdasan adversitasnya lebih rendah menjadi lebih buruk. g. Ketekunan Ketekunan merupakan inti untuk maju (pendakian) dan kecerdasan adversitas individu. Ketekunan adalah kemampuan untuk terus menerus walaupun dihadapkan pada kemunduran-kemunduran atau kegagalan.
h. Belajar
Carol Dweck (dalam Stoltz, 2005), membuktikan bahwa anak-anak dengan respon-respon yang pesimistis terhadap kesulitan tidak akan banyak belajar dan berprestasi jika dibandingkan dengan anak-anak yang memiliki pola-pola yang lebih optimis.
 i. Merangkul Perubahan
 Perubahan adalah bagian dari hidup sehingga setiap individu harus menentukan sikap untuk menghadapinya. Stoltz (2005), menemukan individu yang memeluk perubahan cendrung merespon kesulitan secara lebih konstruktif. Dengan memanfaatkannya untuk memperkuat niat, individu merespon dengan merubah kesulitan menjadi peluang. Orang-orang yang hancur dalam perubahan akan hancur oleh kesulitan

Tingkatan dalam Kecerdasan Adversitas (skripsi dan tesis)

Stoltz mengelompokkan individu berdasarkan daya juangnya menjadi tiga: quitter, camper, dan climber. Penggunaan istilah ini dari kisah pendaki Everest, ada pendaki yang menyerah sebelum pendakian, merasa puas sampai pada ketinggian tertentu, dan mendaki terus hingga puncak tertinggi. Kemudian Stoltz menyatakan bahwa orang yang menyerah disebut quitter, orang yang merasa puas pada pencapaian tertentu sebagai camper, dan seseorang yang terus ingin meraih kesuksesan disebut sebagai climber Dalam bukunya, Stoltz menyatakan terdapat tiga tingkatan daya tahan seseorang dalam menghadapi masalah, antara lain (Stoltz, 2000):
a. Quitters
 Quitters yaitu orang yang memilih keluar, menghindari kewajiban, mundur, dan berhenti. Individu dengan tipe ini memilih untuk berhenti berusaha, mereka mengabaikan menutupi dan meninggalkan dorongan inti yang manusiawi untuk terus berusaha. Dengan demikian, individu dengan tipe ini biasanya meninggalkan banyak hal yang ditawarkan oleh kehidupan.
 b. Campers
Campers atau orang-orang yang berkemah adalah orangorang yang telah berusaha sedikit kemudian mudah merasa puas atas apa yang dicapainya. Tipe ini biasanya bosan dalam melakukan pendakian kemudian mencari posisi yang nyaman dan bersembunyi pada situasi yang bersahabat. Kebanyakan para campers menganggap hidupnya telah sukses sehingga tidak perlu lagi melakukan perbaikan dan usaha.
c. Climbers
Climbers atau si pendaki adalah individu yang melakukan usaha sepanjang hidupnya. Tanpa menghiraukan latar belakang, keuntungan kerugian, nasib baik maupun buruk, individu dengan tipe ini akan terus berusaha

Aspek-aspek Kecerdasan Adversitas (skripsi dan tesis)

Menurut Stoltz (2000: 140-148) Adversty Intelligence atau Adversity quotient (AQ) dari seseorang terdiri dari empat dimensi yang dikenal dengan istilah CO2RE (Control, Origin Ownership, Reach, Endurance).
1) Kendali (control)
 Dimensi ini ditunjukan untuk mengetahui seberapa banyak kendali yang dapat kita rasakan terhadap suatu peristiwa yang menimbulkan kesulitan. Hal yang terpenting dari dimensi ini adalah sejauh mana individu dapat merasakan bahwa kendali tersebut berperan dalam peristiwa yang menimbulkan kesulitan seperti mampu mengendalikan situasi tertentu dan sebagainya. Kemampuan individu dalam mempengaruhi secara positif suatu situasi, serta mampu mengendalikan respon terhadap situasi, dengan pemahaman awal bahwa sesuatu apapun dalam situasi apapun individu dapat melakukannya dimensi ini memiliki dua fase yaitu pertama, sejauh mana seseorang mampu mempengaruhi secara positif suatu situasi? Kedua, yaitu sejauh mana seseorang mampu mengendalikan respon terhadap suatu situasi? Kendali diawali dengan pemahaman bahwa sesuatu, apapun itu, dapat dilakukan
2) Asal-usul dan Pengakuan (Origin & Ownership)
 Dimensi ini mempertanyakan siapa atau apa yang menimbulkan kesulitan dan sejauh mana seseorang menganggap dirinya mempengaruhi dirinya sebagai penyebab dan asal usul kesulitan seperti penyesalan, pengalaman dan sebagainya. Kemampuan individu dalam menempatkan perasaan dirinya dengan berani menanggung akibat dari situasi yang ada, sehingga dapat melakukan perbaikan atas masalah yang terjadi. Dimensi ini mengukur sejauh mana seseorang menanggung akibat dari situasi saat itu, tanpa mempermasalahkan penyebabnya. Dimensi ini mempunyai keterkaitan dengan rasa bersalah. Suatu kadar rasa bersalah yang adil dan tepat diperlukan untuk menciptakan pembelajaran yang kritis atau lingkaran umpan balik yang dibutuhkan untuk melakukan perbaikan secara terus menerus. Kemampuan untuk menilai apa yang dilakukan dengan benar atau salah dan bagaimana memperbaikinya merupakan hal yang mendasar untuk mengembangkan pribadi.
3) Jangkauan (Reach)
Dimensi ini merupakan bagian dari AQ yang mengajukan pertanyaan sejauh mana kesulitan yang dihadapi akan menjangkau bagian-bagian lain dari kehidupan individu seperti hambatan akibat panik, hambatan akibat malas dan sebagainya. Kemampuan individu dalam menjangkau dan membatasi masalah agar tidak menjangkau bidang-bidang yang lain dari kehidupan individu, dimensi ini melihat sejauh mana individu membiarkan kesulitan menjangkau bidang lain pekerjaan dan kehidupan individu. 4) Daya Tahan (Endurance)
Dimensi keempat ini dapat diartikan ketahanan yaitu dimensi yang mempertanyakan dua hal yang berkaitan dengan berapa lama penyebab kesulitan itu akan terus berlangsung dan tanggapan indivudu terhadap waktu dalam menyelesaikan masalah seperti waktu bukan masalah, kemampuan menyelesaikan pekerjaan dengan cepat dan sebagainya. Kemampuan individu dalam mempersepsi kesulitan, dan kekuatan dalam menghadapi kesulitan tersebut dengan menciptakan ide dalam pengatasan masalah sehingga ketegaran hati dan keberanian dalam penyeleasaian masalah dapat terwujud dimensi ini berupaya melihat berapa lama seseorang mempersepsi kesulitan tersebut akan berlangsung. Dari dimensi-dimensi tersebut membentuk dorongan bagi individu dalam menghadapi masalah. Kendali atau control merupakan tingkat optimisme individu mengenai situasi yang dihadapi, apabila situasi berada dalam kendali individu maka dalam diri individu akan membentuk intensi menyelesaikan masalah. Individu yang memiliki kendali yang tinggi akan berinisiatif menangkap peluang yang ada. Asal-usul dan Pengakuan (origin & ownership) merupakan faktor yang menjadi awal tindakan individu. Apabila individu memandang penyebab atau asal-usul kesalahan bukan berasal dari diri individu melainkan berasal dari luar atau masalah itu sendiri maka akan timbul intensi untuk melakukan sesuatu yang mampu menyelesaikan masalah tersebut. Jangkauan (reach) merupakan faktor sejauh mana kesulitan yang dihadapi individu, semakin besar kesulitan-kesulitan yang dihadapi individu maka semakin rendah intensi individu dalam menyelesaikan masalah yang dihadapi. Daya tahan (endurance) merupakan jangka waktu masalah yang dihadapi, apabila lama masalah yang dihadapi maka intensi yang ada dalam diri individu menjadi rendah

Definisi Kecerdasan Adversitas (skripsi dan tesis)

Kecerdasan Adversitas (Adversity Intelligence) adalah suatu konsep mengenai kualitas pribadi yang dimiliki seseorang untuk menghadapi berbagai kesulitan dan dalam usaha mencapai kesuksesan di berbagai bidang hidupnya (Paul G Stoltz, 2000: 9). Dalam kamus bahasa Inggris, kata “adversity” diartikan dengan kesengsaraan dan kemalangan, sedangkan “Intelligence” diartikan dengan kecerdasan. Stoltz (2000:9) menekankan pada unsur kesulitan (adversity) sebagai faktor penentu terhadap kesuksesan seseorang. Adversity Intelligence menginformasikan pada individu mengenai kemampuannya dalam menghadapi sebuah keadaan atau situasi yang sulit (adversity) dan kemampuan untuk mengatasinya, meramalkan individu yang mampu dan tidak mampu menghadapi kesulitan, meramalkan mereka yang akan melampaui dan mereka yang akan gagal melampaui harapan-harapan atas kinerja dan potensi yang dimiliki, dan meramalkan individu yang akan menyerah dan yang akan bertahan dalam menghadapi kesulitan. Stoltz (2000: 9) secara ringkas menjelaskan kecerdasan adversitas sebagai kapasitas manusia dalam bentuk pola-pola respon yang dimiliki seseorang dalam mengendalikan dan mengarahkan situasi yang sulit, mengakui dan memperbaiki situasi yang sulit, mempersepsikan jangkauan situasi yang sulit dan mempersepsikan jangka waktu terjadinya kesulitan di berbagai aspek dalam hidupnya. Konsep ini merupakan satu kerangka kerja yang dapat diukur karena memiliki alat yang dikembangkan dengan dasar ilmiah yang bertujuan untuk mengetahui kecenderungan dan memahami aspek-aspek dari kesuksesan seseorang dalam merespon keadaan sulit. Definisi kesuksesan yang dikemukakan oleh Stolz (2000: 38) adalah tingkat dimana seseorang bergerak maju untuk mencapai misinya, meskipun banyak hambatan atau kesulitan yang dihadapi. Faktor tersebut adalah kecerdasan adversitas. Apakah yang dimaksud kecerdasan adversitas (AI) ? Kecerdasan adversitas merupakan kecerdasan yang dimiliki seseorang ketika menghadapi permasalahan, atau bisa dikatakan merupakan kecerdasan daya juang seseorang. Stolz (2000:9) mengatakan bahwa AI: 1) AI menjelaskan kepada kita bagaimana sebaiknya tetap bertahan pada masa-masa kesulitan dan meningkatkan kemampuan kita untuk mengatasinya. 2) AI memprediksi siapa saja yang akan dapat mengatasi kesulitan dan siapa saja yang tidak akan dapat mengatasinya. 3) AI memprediksi siapa saja yang akan memiliki harapan yang tinggi terhadap kinerjanya dan siapa yang tidak. 4) AI memprediksi siapa yang menyerah dan yang tidak. Dengan kata lain adversity intelligence merupakan suatu kemampuan untuk dapat bertahan dalam menghadapi segala masalah ataupun kesulitan hidup

Fungsi dan Tujuan Pembelajaran Matematika (skripsi dan tesis)

a. Fungsi Pembelajaran Matematika Matematika berfungsi mengembangkan kemampuan menghitung, mengukur, menurunkan dan menggunakan rumus Matematika yang diperlukan dalam kehidupan sehari-hari. Matematika juga berfungsi mengembangkan kemampuan mengkomunikasikan gagasan dengan bahasa melalui model Matematika yang dapat berupa kalimat dan persamaan Matematika, diagram, grafik atau tabel. b. Tujuan Pembelajaran Matematika Pembelajaran Matematika sangatlah penting dalam kehidupan sehari-hari, karena dapat membantu ketajaman berfikir secara logis (masuk akal) serta membantu memperjelas dalam menyelesaikan permasalahan. Menurut Michael (2000: 1) tujuan pembelajaran Matematika antara lain adalah sebagai berikut : 1) Melatih cara berfikir dan bernalar dalam menarik kesimpulan. Misalnya melalui kegiatan penyelidikan, eksplorasi, eksperimen, menunjukkan kesamaan, perbedaan, konsisten dan inkonsisten. 2) Mengembangkan aktivitas kreatif yang melibatkan imajinasi, intuisi, dan penemuan dengan mengembangkan pemikiran divergen, orisinil, rasa ingin tahu, membuat prediksi dan dugaan, serta mencoba-coba. 3) Mengembangkan kemampuan memecahkan masalah. 4) Mengembangkan kemampuan menyampaikan informasi atau mengkomunikasikan gagasan antara lain melalui pembicaraan lisan, catatan, grafik, peta, diagram, dalam menjelaskan gagasan.