Menurut R.Hatta (2013:319) pendokumentasian rekam medis yang
lengkap dan akurat menjadi landasan yang efektif dalam manajemen
risiko. Hal ini disebabkan karena rekam medis merupakan sumber
informasi yang paling baik untuk menunjukan apakah pelayanan yang
diberikan sudah sesuai dengan standar pelayanan klinis / kesehatan. Para
manajer informasi kesehatan harus memperhatikan teknik manajemen
risiko. Misalnya, penyaringa terhadap berbagai kejadian (occurence
screening) dengan cara menelaah rekam medis saat ini dan data pasien
pulang untuk mengidentifikasi kemungkinan adanya kejadian yang
memerlukan ganti rugi. Untuk itu bagian manajemen informasi
kesehatan perlu menegakkan pedoman pendokumentasian yang
mencakup unsur kerahasiaan dan keamanan serta lengkap, akurat dan
bisa dibaca. Dokumentasi ini akan berguna sebagai alat untuk
memperoleh keluaran pelayanan kesehatan yang positif, oleh karena
pendokumentasian yang tidak lengkapdapat menghasilkan kesalahan
medis (medical eror), keterlambatan pengobatan dan kerugian pasien.
Menurut Siswati (2017:112) kesehatan dan keselamatan kerja tidak
hanya penting bagi petugas rekam medis tetapi juga dapat menunjang
produktivitas kerja. Kesehatan dan keselamatan kerja petugas rekam
medis yang baik akan berdampak positif terhadap produktivitas kerja
petugas rekam medis sehingga akan meningkatkan pelayanan kesehatan
dan menguntungkan bagi rumah sakit. Risiko kecelakaan kerja dapat
menimbulkan turunnya produktivitas kerja, sehingga perlu dilakukan
usaha untuk meminimalisasi terjadinya dampak risiko kecelakaan kerja.
Kesehatan dan keselamatan kerja dimaksudkan untuk mencegah,
mengurangi, melindungi bahkan menghilangkan risiko kecelakaan kerja
(zero accident). Perilaku petugas rekam medis bagian filing dalam
bekerja merupakan salah satu penyebab risiko terjadinya kecelakaan
kerja, yaitu unsafe action dan unsafe condition.
Menurut Keiger dalam Skurka (2003:212) manajemen risiko adalah
proses mengidentifikasi, mengevaluasi, dan mengeliminasi atau
mengelola risiko yang menunjukkan ancaman keamanan kepada pasien
atau ancaman finansial pada fasilitas kesehatan. Program manajemen
risiko pada faskes harus berhubungan dekat pada program manajemen
kualitas (quality management/ QM). Beberapa faskes membuat
departemen manajemen risiko secara terpisah; sisanya memasukkan
kegiatan manajemen risiko ke tugas pihak lain, seperti departemen
manajemen informasi kesehatan. Di manajemen risiko, pendekatan
finansial dan statistik digunakan untuk memfokuskan pada pasien,
perawat, dokter, profesional pelayanan kesehatan lainnya, serta pegawai
tambahan. Faskes sering mempekerjakan seorang manajer manajemen
risiko yang mengevaluasi interaksi komponen risiko dan mengasesmen
risiko pada faskes.
Menurut Keiger dalam Skurka (2003:212) program manajemen
risiko yang sukses bergantung pada komitmen dengan administrasi
faskes. Hanya dengan dukungan administrasi tingkat tinggi manajer MR
bisa terlibat pada seluruh area faskes yang mungkin mengandung atau
menghasilkan risiko. Manajer MR juga harus punya akses ke laporan
insiden, data insiden pegawai, dan seterusnya.
Menurut Keiger dalam Skurka (2003:212) profesional manajemen
informasi kesehatan membantu manajer MR dalam mengidentifikasi,
mengevaluasi, dan mengeliminasi atau mengelola risiko. Rekam
kesehatan merupakan alat skrining yang penting untuk mengidentifikasi
informasi yang berhubungan dengan risiko pada faskes. Faskes bisa
memilih antara skrining secara umum/ generic screening atau skrining
saat kejadian/occurrence screening untuk mengidentifikasi risiko.
Skirining saat kejadian melibatkan identifikasi konkuren atau
retrospektif pada dokter serta adanya kerugian pasien yang berhubungan
dengan faskes. Istilah skirining secara umum/ generic screening kadang
digunakan karena kriteria yang digunakan diterapkan pada seluruh
pasien dan tidak terikat pada satu diagnosa/ prosedur. Contohnya,
ketidakcocokan reaksi saat pengobatan, transfusi, dan anestesi dapat
direview.
Tiap-tiap rumah sakit mengharuskan untuk menetapkan standar
kode diagnosis, kode prosedur/tindakan, simbol, singkatan, dan artinya
yang telah ditetapkan di SNARS edisi satu di bagian MIRM 12. Maksud
dan Tujuan MIRM 12 adalah dengan menggolongkan terminologi, arti,
kamus, serta nomenklatur memudahkan untuk membandingkan data dan
informasi di dalam rumah sakit dan membandingkan antar rumah sakit.
Standardisasi berguna untuk mencegah terjadi salah komunikasi dan
potensi kesalahan. Penggunaan singkatan yang digunakan rumah sakit
secara seragam kode diagnosis dan prosedur memudahkan
pengumpulan data serta analisisnya sesuai dengan peraturan perundangundangan.
Singkatan dapat menjadi masalah dan mungkin berbahaya, terutama
berkaitan dengan penulisan resep obat. Sebagai tambahan, jika satu
singkatan dipakai untuk bermacam- macam istilah medik akan terjadi
kebingungan dan dapat menghasilkan kesalahan medik. Singkatan dan
simbol juga digunakan termasuk daftar “jangan digunakan” (do-notuse). Ketentuan ini harus sesuai dengan standar lokal dan nasional yang
diakui.
Elemen Penilaian MIRM 12 adalah terdapat regulasi standardisasi
kode diagnosis, kode prosedur/tindakan, definisi, simbol yang
digunakan dan yang tidak boleh digunakan, singkatan yang digunakan
dan yang tidak boleh digunakan, serta dimonitor pelaksanaannya.
Ketentuan tersebut dilaksanakan dan dievaluasi agar mutu manajemen
informasi rekam medis terlaksana khususnya dalam mengkode
diagnosis penyakit di berkas rekam medis.
Rekam Medis (skripsi dan tesis)
Menurut Permenkes RI No. 269/MENKES/PER/III/2008 rekam
medis adalah berkas yang berisikan catatan dan dokumen tentang
identitas pasien, pemeriksaan, pengobatan, tindakan, dan pelayanan lain
yang telah diberikan kepada pasien.
Menurut Huffman (1994) rekam medis adalah rekaman atau catatan
mengenai siapa, apa, mengapa, bilamana dan bagaimana pelayanan
yang diberikan kepada pasien selama perawatan, yang memuat
pengetahuan mengenai pasien dan pelayanan yang diperoleh serta
memuat informasi yang cukup untuk mengidentifikasi pasien,
membenarkan diagnosis dan pengobatan serta merekam hasilnya.
Menurut Wijono (1999) rekam medis diartikan sebagai keterangan
baik yang tertulis maupun yang terekam tentang identitas, anamnese,
penentuan fisik laboratorium, diagnosis segala pelayanan dan tindakan
medis yang diberikan kepada pasien, dan pengobatan baik yang rawat
inap, rawat jalan, maupun yang didapatkan di rawat darurat.
Menurut Budi (2011) rekam medis memiliki arti yang cukup luas,
tidak hanya sebatas berkas yang digunakan untuk menuliskan data
pasien tetapi juga dapat berupa rekaman dalam bentuk sistem informasi
(pemanfaatan sistem rekam medis elektronik) yang dapat digunakan
untuk segala informasi pasien terkait pelayanan yang diberikan di
fasilitas pelayanan kesehatan sehingga dapat digunakan untuk berbagai
kepentingan, seperti pengambilan keputusan pengobatan kepada pasien,
bukti legal pelayanan yang diberikan, dan dapat juga sebagai bukti
tentang kinerja sumber daya manusia di fasilitas pelayanan kesehatan.
Tujuan dari rekam medis dapat dilihat dari berbagai aspek, antara
lain :
1) Aspek Administrasi
Rekam medis memiliki nilai administrasi karena isinya
menyangkut tindakan berdasarkan wewenang dan tanggung
jawab dari tenaga kesehatan dalam mencapai tujuan pelayanan
kesehatan di rumah sakit.
2) Aspek Medis
Rekam medis memiliki nilai medis karena isi yang terkandung
didalamnya dapat dipergunakan sebagai dasar atas untuk
merencanakan pengobatan atau perawatan seorang pasien.
3) Aspek Hukum
Rekam medis memiliki nilai hukum karena berisi jaminan
kepastian hukum atas dasar keadilan dan sebagai bahan bukti
untuk menegakkan keadilan.
4) Aspek Keuangan
Suatu dokumen rekam medis mempunyai nilai uang, karena
isinya menyangkut data/informasi yang dapat dipergunakan
sebagai aspek keuangan.
5) Aspek Penelitian
Suatu dokumen .rekam medis mempunyai nilai penelitian,
karena isinya menyangkut data/informasi yang dapat
dipergunakan sebagai aspek penelitian dan pengembangan ilmu
pengetahuan dibidang kesehatan.
6) Aspek Pendidikan
Suatu dokumen rekam medis mempunyai nilai pendidikan,
karena isinya menyangkut data/informasi tentang
perkembangan kronologis dan kegiatan pelayanan medis yang
diberikan kepada pasien, informasi tersebut dipergunakan
sebagai bahan referensi pengajaran bidang profesi pemakai.
7) Aspek Dokumentasi
Suatu dokumen rekam medis mempunyai nilai dokumentasi,
karena isinya menyangkut sumber ingatan yang harus
didokumentasikan dan dipakai sebagai bahan
pertanggungjawaban dan laporan rumah sakit.
Buku Saku (skripsi dan tesis)
Buku saku adalah buku berukuran kecil yang mudah dibawa dan
dapat dimasukkan ke dalam saku (Kamus Besar Bahasa Indonesia,
2018). Pengertian lainnya menurut Imas Kurniasih (2014:90) adalah
suatu buku yang ukurannya 18 cm x 10 cm yang bisa dimasukkan
kedalam saku yang berisi informasi mengenai satu tema tertentu.
Menurut Sulistyani (Dalam Asyhari, 2016) mengatakan beberapa
hal yang harus diperhatikan dalam penyusunan buku saku, antara lain:
1) Konsistensi penggunaan simbol dan istilah pada buku saku,
2) Penulisan materi secara singkat dan jelas pada buku saku,
3) Penyusunan teks materi pada buku saku sedemikian rupa
sehingga mudah dipahami,
4) Memberikan kotak atau label khusus pada rumus,
penekanan materi dan contoh soal,
5) Memberikan warna dan desain yang menarik pada pocket
book,
6) Ukuran font standar isi adalah 9-10 point, jenis font
menyesuaikan isinya
7) Jumlah halamannya kelipatan dari 4 misalnya 12 halaman,
16 halaman, 20 halaman, 24 halaman, dan seterusnya. Hal
ini dikarenakan untuk menghindari kelebihan atau
kekurangan beberapa halaman kosong.
Manfaat dari buku saku antara lain :
1) Media panduan singkat
2) Informasi mengenai suatu hal tertentu
3) Mudah dibawa
4) Tidak dalam kemasan yang besar
Buku saku biasanya dibuat untuk memenuhi kebutuhan informasi
secara ringkas, cepat, fleksibel dan tidak memakan banyak tempat.
Dalam menentukan ukuran halaman, yang penting adalah
prinsip proporsionalitas. Proporsionalitas adalah perbandingan
panjang dan lebar seimbang (kecuali untuk tujuan tertentu kita bisa
menggunakan ukuran yang tidak umum). Prinsip kedua adalah
kemudahan, bagaimana agar buku itu mudah dibawa. Ketiga,
hubungannya dengan tebal buku atau panjang naskah. Jika naskah
kita tebal, mungkin ukuran halaman bisa menggunakan format
standart. Tapi jika naskah kita terlalu tipis, kita bisa pilih ukuran
buku yang lebih kecil agar tebal buku masih memadai untuk
kebutuhan penjilidan (binding).
Browne dan Wildavsky (dalam Haryati, 2015) mengemukakan
bahwa implementasi buku saku adalah perluasan aktivitas yang
saling menyesuaikan. Pengertian implementasi sebagai aktivitas
yang saling menyesuaikan. Setelah buku saku yang telah dibuat,
buku saku tersebut harus diimplementasikan sebagai sumber
pembelajaran dalam penerapan kerja, dan pelihara agar dapat
dipelajari dengan baik. Proses implementasi dalam bagian ini adalah
kelanjutan dari tahap observasi, analisa pretest, dan desain siklus
pengembangan buku saku yang dibahas. Implementasi adalah
langkah yang vital dalam pengembangan buku saku untuk
mendukung petugas dan pihak pihak yang berkepentingan lainnya.
Ranah Kognitif dalam Taksonomi Bloom (skripsi dan tesis)
Menurut Pusat Pengembangan Pendidikan dan Aktivitas
Instruksional Politeknik Negeri Sriwijaya (2018) ranah ini meliputi
kemampuan menyatakan kembali konsep atau prinsip yang telah
dipelajari, yang berkenaan dengan kemampuan berpikir, kompetensi
memperoleh pengetahuan, pengenalan, pemahaman, konseptualisasi,
penentuan dan penalaran. Tujuan pembelajaran dalam ranah kognitif
(intelektual) atau yang menurut Bloom merupakan segala aktivitas yang
menyangkut otak dibagi menjadi 6 tingkatan sesuai dengan jenjang
terendah sampai tertinggi yang dilambangkan dengan C (Cognitive)
(Dalam buku yang berjudul Taxonomy of Educational Objectives.
Handbook 1 : Cognitive Domain yang diterbitkan oleh McKey New
York. Benyamin Bloom pada tahun 1956) yaitu:
a. C1 (Pengetahuan/Knowledge)
Pada jenjang ini menekankan pada kemampuan dalam
mengingat kembali materi yang telah dipelajari, seperti
pengetahuan tentang istilah, fakta khusus, konvensi,
kecenderungan dan urutan, klasifikasi dan kategori, kriteria
serta metodologi. Tingkatan atau jenjang ini merupakan
tingkatan terendah namun menjadi prasyarat bagi tingkatan
selanjutnya. Di jenjang ini, peserta didik menjawab pertanyaan
berdasarkan dengan hapalan saja.
Kata kerja operasional yang dapat dipakai dalam jenjang ini
adalah : mengutip, menyebutkan, menjelaskan,
menggambarkan, membilang, mengidentifikasi, mendaftar,
menunjukkan, memberi label, memberi indeks, memasangkan,
menamai, menandai, membaca, menyadari, menghafal, meniru,
mencatat, mengulang, mereproduksi, meninjau, memilih,
menyatakan, mempelajari, mentabulasi, memberi kode,
menelusuri, dam menulis.
b. C2 (Pemahaman/Comprehension)
Pada jenjang ini, pemahaman diartikan sebagai kemampuan
dalam memahami materi tertentu yang dipelajari. Kemampuankemampuan tersebut yaitu :
1) Translasi (kemampuan mengubah simbol dari satu
bentuk ke bentuk lain)
2) Interpretasi (kemampuan menjelaskan materi)
3) Ekstrapolasi (kemampuan memperluas arti).
Di jenjang ini, peserta didik menjawab pertanyaan dengan
kata-katanya sendiri dan dengan memberikan contoh baik
prinsip maupun konsep.
Kata kerja operasional yang dapat dipakai dalam jenjang ini
adalah : memperkirakan, menjelaskan, mengkategorikan,
mencirikan, merinci, mengasosiasikan, membandingkan,
menghitung, mengkontraskan, mengubah, mempertahankan,
menguraikan, menjalin, membedakan, mendiskusikan,
menggali, mencontohkan, menerangkan, mengemukakan,
mempolakan, memperluas, menyimpulkan, meramalkan,
merangkum, dan menjabarkan.
c. C3 (Penerapan/Application)
Pada jenjang ini, aplikasi diartikan sebagai kemampuan
menerapkan informasi pada situasi nyata, dimana peserta didik
mampu menerapkan pemahamannya dengan cara
menggunakannya secara nyata. Di jenjang ini, peserta didik
dituntut untuk dapat menerapkan konsep dan prinsip yang ia
miliki pada situasi baru yang belum pernah diberikan
sebelumnya.
Kata kerja operasional yang dapat dipakai dalam jenjang ini
adalah : menugaskan, mengurutkan, menentukan, menerapakan,
menyesuaikan, mengkalkulasi, memodifikasi, mengklasifikasi,
menghitung, membangun, membiasakan, mencegah,
menggunakan, menilai, melatih, menggali, mengemukakan,
mengadaptasi, menyelidiki, mengoperasikan, mempersoalkan,
mengkonsepkan, melaksanakan, meramalkan, memproduksi,
memproses, mengaitkan, menyusun, mensimulasikan,
memecahkan, melakukan, dan mentabulasi.
d. C4 (Analisis/Analysis)
Pada jenjang ini, dapat dikatakan bahwa analisis adalah
kemampuan menguraikan suatu materi menjadi komponenkomponen yang lebih jelas. Kemampuan ini dapat berupa :
1) Analisis elemen/unsur (analisis bagian-bagian materi)
2) Analisis hubungan ( identifikasi hubungan)
3) Analisis pengorganisasian prinsip/prinsip-prinsip
organisasi (identifikasi organisasi)
Di jenjang ini, peserta didik diminta untuk menguraikan
informasi ke dalam beberapa bagian menemukan asumsi, dan
membedakan pendapat dan fakta serta menemukan hubungan
sebab akibat.
Kata kerja operasional yang dapat dipakai dalam jenjang ini
adalah : menganalisis, mengaudit, memecahkan, menegaskan,
mendeteksi, mendiagnosis, menyeleksi, memerinci,
menominasikan, mendiagramkan, mengkorelasikan,
merasionalkan, menguji, mencerahkan, menjelajah,
membagankan, menyimpulkan, menemukan, menelaah,
memaksimalkan, memerintahkan, mengedit, mengaitkan,
memilih, mengukur, melatih, dan mentransfer.
e. C5 (Sintesis/Synthesis)
Pada jenjang ini, sintesis dimaknai sebagai kemampuan
memproduksi dan mengkombinasikan elemen-elemen untuk
membentuk sebuah struktur yang unik. Kemampuan ini dapat
berupa memproduksi komunikasi yang unik, rencana atau
kegiatan yang utuh, dan seperangkat hubungan abstrak. Di
jenjang ini, peserta didik dituntut menghasilkan hipotesis atau
teorinya sendiri dengan memadukan berbagai ilmu dan
pengetahuan.
Kata kerja operasional yang dapat dipakai dalam jenjang ini
adalah : mengabstraksi, mengatur, menganimasi,
mengumpulkan, mengkategorikan, mengkode,
mengkombinasikan, menyusun, mengarang, membangun,
menanggulangi, menghubungkan, menciptakan,
mengkreasikan, mengoreksi, merancang, merencanakan,
mendikte, meningkatkan, memperjelas, memfasilitasi,
membentuk, merumuskan, menggeneralisasi, menggabungkan,
memadukan, membatas, mereparasi, menampilkan,
menyiapkan, memproduksi, merangkum, dan merekonstruksi.
f. C6 (Evaluasi/Evaluation)
Pada jenjang ini, evaluasi diartikan sebagai kemampuan
menilai manfaat suatu hal untuk tujuan tertentu berdasarkan
kriteria yang jelas. Kegiatan ini berkenaan dengan nilai suatu
ide, kreasi, cara atau metode. Pada jenjang ini seseorang
dipandu untuk mendapatkan pengetahuan baru, pemahaman
yang lebih baik, penerapan baru serta cara baru yang unik dalam
analisis dan sintesis. Menurut Bloom paling tidak ada 2 jenis
evaluasi yaitu :
1) Evaluasi berdasarkan bukti internal
2) Evaluasi berdasarkan bukti eksternal
Di jenjang ini, peserta didik mengevaluasi informasi
termasuk di dalamnya melakukan pembuatan keputusan dan
kebijakan.
Kata kerja operasional yang dapat dipakai dalam jenjang ini
adalah : membandingkan,menyimpulkan, menilai,
mengarahkan, mengkritik, menimbang, memutuskan,
memisahkan,memprediksi, memperjelas, menugaskan,
menafsirkan, mempertahankan, memerinci, mengukur,
merangkum, membuktikan, memvalidasi, mengetes,
mendukung, memilih, dan memproyeksikan.
Manajemen Risiko (skripsi dan tesis)
Menurut KBBI risiko adalah akibat yang tidak menyenangkan dimana dapat
memberi kerugian atau membahayakan. Risiko berasal dari kata Italia “risicare”
yang mana artinya suatu pilihan dalam kondisi yang tidak pasti atau risiko
merupakan suatu ketidakpastian yang dapat mempengaruhi organisasi. Risiko dapat
mempengaruhi secara negatif dalam mencapai tujuan suatu organisasi. Manajemen
risiko dianggap sebagai lapisan tengah pada struktur sebuah tata kelola. Tujuan dari
manajemen risiko ialah untuk melakukan identifikasi dan meminimalisir sebuah
risiko yang dapat memberi pengaruh dalam mencapai keberhasilan organisasi
(Anderson dkk, 2017).
Pengertian manajemen risiko berdasarkan dari Institute Risk Management
(IRM) yaitu proses yang memberikan bantuan kepada organisasi agar dapat
memahami, melakukan evaluasi dan juga melakukan pengambilan tindakan dari
risiko yang muncul. Organisasi melakukan hal ini agar dapat menaikkan
kemungkinan keberhasilan dan mengurangi kemungkinan dari kegagalan
organisasi (Hopkin, 2010).
Pengertian manajemen risiko berdasarkan dari Business Cotinuity Insitute
yaitu budaya, proses dan struktur yang diimplementasikan oleh organisasi secara
efektif untuk mengelola pelung dan menghindari kegagalan yang mungkin dapat
terjadi pada organisasi (Hopkin, 2010)
Aset Informasi (skripsi dan tesis)
Aset ialah suatu sumber daya yang berperan penting dan dimiliki oleh sebuah
perusahaan atau organisasi. Aset memberikan dukungan pada organisasi dalam
mencapai tujuannya ( Dewi, dkk., 2016). Aset informasi merupakan kumpulan dari
informasi-informasi yang didefinisikan dan dikelola menjadi satu sehingga dapat
dengan mudah untuk dipahami, dibagikan, dilindungi dan dimanfaatkan secara
efektif. aset informasi memiliki nilai, risiko, konten dan siklus hidup yang dapat
dengan mudah diatur dan dikenali (Digital Continuity Project, 2011).
Pada penelitian ini aset informasi mengarah pada penjelasan mengenai
elemen suatu sistem informasi. Elemen sistem informasi disusun dari elemenelemen pendukung yaitu perangkat keras (hardware), perangkat lunak (software),
manusia (people), data, dan jaringan (network). Elemen tersebut memiliki
keterikatan satu dengan yang lain untuk mencapai suatu tujuan yang telah
ditetapkan. Setiap komponen akan dijelaskan sebagai berikut (Rachmawan, 2017).
1. Perangkat Keras (Hardware)
Perangkat keras (hardware) ialah sebuah alat yang memiliki peranan penting
sebagai tempat sistem operasi digunakan untuk mengolah atau memproses
suatu informasi. Hardware bekerja berdasarkan dari perintah yang telah
ditentukan. Hardware misalnya komputer, server, printer, dan monitor.
2. Perangkat Lunak (Software)
Perangkat lunak (software ) ialah beberapa perintah yang telah ditentukan dan
dijalankan oleh mesin komputer dalam melaksanakan tugasnya. Tujuan dari
software adalah untuk pengolahan data agar menghasilkan informasi yang
dapat digunakan.
3. Manusia (People)
Manusia (people) merupakan suatu faktor penting yang tidak dapat
dilepaskan dari bagian suatu organisasi. Manusia memiliki peran dalam
menentukan perkembangan suatu organisasi karena manusia juga merupakan
aset yang dimiliki oleh organisasi. Adapun yang harus diperhatikan dalam
aset manusia yaitu keahlian teknis, pengetahuan bisnis, dan orientasi dalam
memecahkan permasalahanan.
4. Data
Data merupakan kumpulan dari kejadian nyata atau fakta yang memberi
sebuah gambaran yang luas tentang suatu keadaan. Dalam teknologi
informasi data berada pada database. Pada database inilah data disimpan
dengan tujuan sebagai informasi yang dapat digunakan dalam mendukung
organisasi untuk kegiatan operasional.
5. Jaringan (network)
Jaringan komputer merupakan hubungan antara beberapa komputer satu
dengan yang lainnya agar dapat saling berbagi data dan informasi,
mempermudah komunikasi dan membantu dalam memberikan akses
informasi dengan cepat.
Tugas Pokok dan Fungsi Dinas Komunikasi dan Informatika (skripsi dan tesis)
Dinas Komunikasi dan Informatika memiliki tugas yaitu melaksanakan
kegiatan di pemerintahan bidang komunikasi dan informatika. Tugas pokok dan
DISKOMINFO dibagi menjadi tugas pokok dan fungsi kepala dinas, dan masing-
masing bidang yang ada di Dinas Komunikasi dan Informatika Penajam Paser Utara
(Perbud, 2017).
1. Tugas Pokok dan Fungsi Kepala Dinas
Dinas Komunikasi dan informatika dipimpin oleh seorang Kepala Dinas yang
mempunyai tugas pokok yaitu untuk dapat memimpin, mengatur,
mengkoordinasikan dan bertanggung jawab dalam melaksaakan tugas di
pemerintahan daerah. Kepala Dinas dalam melaksanakan tugasnya untuk
menyelenggarakan fungsi :
– Perumusan dan penetapan Rencana Strategis Organisasi berdasarkan RPJMD
pemerintah Daerah, tugas, permasalahan dan kebijakan
– Perumusahan upaya dalam meningkatkan dan mengembangkan
kebijaksanaan pada DISKOMINFO
– Perumusan pedoman kerja sebagai arah dalam melaksanakan tugas
– Pendistribusian tugas kepada sekretariat dan kepala di masing-masing bidang
2. Tugas Pokok dan Fungsi Bidang Aplikasi Informasi dan Persandian
Bidang aplikasi informasi dan persandian memiliki tugas pokok yaitu
mengadakan pengkajian terkait material kebijakan teknis dan fasilitias aplikasi
informasi dan persandian. Adapun fungsi dalam melaksanakan tugas Bidang
Aplikasi Informatika dan Persandian dibawah ini :
– Menjadi pengarah dalam menyusun rencana kegiatan di bidang aplikasi
informasi dan persandian
– Penyusunan rencana program perumusan renstra organisasi pada
DISKOMINFO
– Perumusan peningkatan dan pengembangan program bidang aplikasi
informasi dan persandian
– Pendistribusian tugas ke kepala seksi pada bidang aplikasi informasi dan
persandian
3. Tugas Pokok dan Fungsi Bidang Informasi, Komunikasi Publik dan
Kehumasan
Bidang informasi, komunikasi pubik dan kehumasan memiliki tugas
melaksanakan penyusunan kebijakan teknis dan fasilitasi informasi, komunikasi
dan kehumasan. Dalam menjalankan tugasnya bidang ini pengadakan fungsi:
– Sebagai arahan dalam penyusunan rencana kegiatan yang berdasarkan
penugasan, permasalahan, dan kebijakan
– Penyusunan rencana berdasarkan usulan sebagai bahan perumusan Renstra
Organisasi Perangkat Daerah
– Pendistribusian tugas ke masing-masing kepala seksi berdasarkan peraturan
Bupati
– Sebagai pengendali dalam pelaksanaan tugas admistratif dan teknis
operasional
4. Tugas Pokok dan Fungsi Bidang Sumberdaya TIK dan Statistik
Bidang Sumberdaya TIK dan Statistik memiliki tugas pokok sebagai
pengendali dalam perencanaan program pembangunan pengembangan sumber daya
dan ekosistim TIK serta monitoring,evaluasi dan statistik. Bidang ini
menyelenggarakan fungsi :
– Memberi arahan dalam Menyusun rencana kegiatan yang didasarkan oleh
tugas, permasalahan dan kebijakan
– Penyusunan rencana program untuk perumusan Renstra Organisasi Perangkat
Daerah Dinas Komunikasi dan Informatika
– Melakuakan perumusan sebagai upaya dalam peningkatan dan
pengembangan program bidang sumberdaya TIK dan statistic
Dinas Komunikasi dan Informatika (DISKOMINFO) Kabupaten Penajam Paser Utara (skripsi dan tesis)
Dinas Komunikasi dan Informatika (DISKOMINFO) Kabupaten Penajam
Paser Utara dibentuk berdasarkan Peraturan Bupati Penajam Paser Utara nomor 43
Tahun 2017 Tanggal 30 Oktober 2017 tentang Susunan Organisasi, Tata Kerja,
Tugas Pokok dan Fungsi Dinas Komunikasi dan Informatika Penajam Paser Utara
(Perbud, 2017).
Adapun visi dan misi dari Diskominfo Penajam Paser Utara yaitu (Dinas
Komunikasi dan Informatika ) :
A. Visi
Mewujudkan Pelayanan Prima dengan Berbasis Pada Teknologi Informasi.
B. Misi
1. Meningkatkan Pelayanan Berbasis E-Gov
2. Meningkatkan Sistem Informasi Daerah
3. Meningkatkan Sistem Keamanan Informasi Daerah
4. Meningkatkan Kualitas Pelayanan Data dan Statistik
5. Mewujudkan Media Layanan Publik di Kecamatan
Tipe-Tipe Kelompok Sosial (skripsi dan tesis)
Tipe-tipe kelompok sosial dapat diklasifikasikan menjadi beberapa bagian atas dasar berbagai ukuran atau kriteria. Menurut Simmel dalam buku Soekanto (2017: 104), klasifikasi tipe-tipe kelompok sosial berdasarkan ukuran besar kecilnya jumlah anggota kelompok, bagaimana individu mempengaruhi kelompoknya serta interaksi sosial dalam kelompok tersebut. Ukuran lain yang diambil untuk menentukan tipe-tipe kelompok sosial adalah derajat interaksi sosial dalam kelompok tersebut. Unsur kepentingan dan juga wilayah, serta berlangsungnya suatu kepentingan yang ada didalam masyarakat.
Tipe-tipe kelompok sosial yang ada di masyarakat antara lain:
- In-group dan Out-group
W.G. Sumner dalam buku Soekanto (2017: 108), membagi kelompok sosial menjadi dua yaitu In-group dan out-group. Ingroup adalah kelompok sosial dimana individu mengidentifikasikan dirinya didalam suatu kelompok atau golongan, sedangkan out-group adalah kelompok sosial yang diartikan individu sebagai lawan dari ingroupnya. Sikap out-group selalu ditandai oleh kelainan yang berwujud antagonisme dan antipati. Perasaan in-group dan out-group atau perasaan dalam serta luar suatu kelompok dapat merupakan dasar suatu sikap yang dinamakan etnosentrisme.
- Kelompok Primer dan Kelompok Sekunder
Menurut Charles Horton Cooley dalam buku Soekanto (2017: 109) kelompok sosial terbagi atas kelompok sosial primer (primary group) dan kelompok sekunder (secondary group). Kelompok primer atau face to face group adalah kelompok sosial yang paling sederhana dimana anggotanya saling mengenal dekat satu sama lain, saling bekerjasama dan juga mempunyai hubungan pribadi yang sangat erat. Contoh dari kelompok primer adalah keluarga, teman sepermainan, sahabat karib, dan lain sebagainya. Kelompok sekunder adalah kelompok yang terdiri dari banyak orang, sifat hubunganya tidak berdasarkan pengenalan secara pribadi dan juga tidak berlansung dengan langgeng, kelompok ini hanya berdasarkan kepada kepentingan sesaat dan juga tidak mempunyai hubungan secara pribadi atau personal satu sama lain. Contoh hubungan sekunder adalah kontrak jual beli.
- Paguyuban (Gemeinshcaft) dan Patembayan (Gesselschaft)
Menurut Ferdinand Tonnies dalam buku Soekanto (2017: 116), kelompok sosial dibagi menjadi dua tipe yaitu paguyuban (gemeinshcaft) dan patembayan (gesselschaft). Paguyuban merupakan bentuk kehidupan bersama dimana anggota-anggotanya mempunyai hubungan batin yang murni dan bersifat alamiah, serta bersifat kekal.
Dasar hubungan tersebut adalah rasa cinta dan rasa kesatuan batin yang memang telah di kodratkan. Paguyuban terbagi dalam tiga tipe yaitu: paguyuban karena ikatan darah (gemeinshcaft of blood), yaitu paguyuban yang didasarkan pada adanya ikatan darah atau ikatan keturunan diantara kelompok tersebut, misalnya keluarga, kelompok kekerabatan (trah). Kedua adalah paguyuban karena tempat (gemeinshcaft of place), yaitu paguyuban yang didasarkan pada orang-orang yang mempunyai tempat tinggal yang berdekatan sehingga bisa selalu menghasilkan kerjasama atau gotong royong, misalnya adalah rukun tetangga, rukun warga, dan lain-lain.
Jenis paguyuban yang ketiga adalah peguyuban karena persamaan jiwa, pemikiran, dan juga ideologi (gemeinshcaft of mind), yaitu paguyuban yang terdiri dari orang-orang yang walaupun tidak mempunyai hubungan darah atau tempat tinggal yang berdekatan tetapi mempunyai jiwa, pemikiran, idealisme, dan juga ideologi yang sama, misalnya adalah organisasi garis keras, dan lain-lain. Patembayan (gesselschaft) adalah ikatan lahir yang bersifat pokok dan biasanya berjalan dengan jangka waktu yang relatif pendek, dia bersifat sebagai suatu bentuk dalam pikiran belaka. Contoh patembayan antara lain ikatan pedagang, ikatan guru, organisasi buruh pabrik, dan sebagainya.
- Kelompok Formal dan Kelompok Informal
Jenis pembagian kelompok sosial juga terdapat jenis kelompok sosial formal dan kelompok sosial informal. Kelompok sosial formal (formal group) adalah kelompok yang mempunyai peraturan yang tegas dan sengaja diciptakan oleh anggota-anggotanya untuk mengatur hubungan antar sesama, contohnya adalah organisasi. Kelompok informal (informal group) adalah kelompok sosial yang tidak mempunyai struktur dan organisasi yang pasti, kelompok tersebut biasanya terbentuk karena adanya pertemuan yang berulang kali yang didasari oleh keinginan dan juga kepentingan yang sama, contoh dari informal group adalah clique (Soekanto, 2017: 120).
- Membership Group dan Reference Group.
Robert K. Merton dalam buku Soekanto (2017: 123), membagi kelompok sosial menjadi membership group dan reference group. Membership group merupakan kelompok dimana orang secara fisik menjadi anggota kelompok tersebut. Reference group adalah kelompok-kelompok sosial yang menjadi acuan bagi seseorang (bukan anggota kelompok tersebut) untuk membentuk pribadi dan perilakunya.
- Kelompok Okupasional dan Kelompok Volunter.
Tipe kelompok sosial juga terbagi atas kelompok sosial okupasional dan kelompok sosial volunter. Kelompok okupasional adalah kelompok yang muncul karena semakin memudarnya kelompok kekerabatan, seperti yang kita tahu bahwa di jaman sekarang ini hubungan kekeluargaan seseorang tidak lagi erat seperti pada jaman dahulu, jadi pada jaman sekarang ini banyak timbul kelompok yang anggotanya didasarkan pada persamaan profesi atau perkerjaan mereka, misalnya saja ikatan dokter Indonesia, ikatan pengusaha, ikatan pengacara, dan lain sebagainya. Kelompok sosial volunter adalah kelompok yang memiliki kepentingan yang sama, namun tidak mendapatkan perhatian dari masyarakat. Melalui kelompok ini diharapkan akan dapat memenuhi kepentingan anggotanya secara individual tanpa mengganggu kepentingan masyarakat secara umum (Soekanto, 2017: 126).
Implementasi Manajemen Risiko Pembiayaan (skripsi dan tesis)
Salah satu aspek penting dalam perbankan syariah adalah proses
pembiayaan yang sehat. Menurut Suhardjono, operasional pembiayaan
meliputi pemasaran pembiayaan, prosedur pemberian pembiayaan,
dokumentasi dan administrasi pembiayaan, pengawasan dan pembinaan
pembiayaan, pengelolaan pembiayaan bermasalah dan penyelesaian
pembiayaan bermasalah.
Kelompok Sosial (skripsi dan tesis)
(skripsi dan tesis)
Manusia pada dasarnya adalah makhluk sosial, memiliki naluri untuk hidup dengan orang lain. Naluri manusia untuk hidup dengan orang lain disebut gregariuosness sehingga manusia juga juga disebut sebagai social animal. Sejak dilahirkan manusia mempunyai dua hasrat pokok yaitu: a. Keinginan untuk menjadi satu dengan manusia lain di sekelilingnya yaitu masyarakat. b. Keinginan untuk menjadi satu dengan alam di sekelilingnya (Soekanto, 2017: 101). Kelompok sosial merupakan salah satu perwujudan dari interaksi sosial atau kehidupan bersama, atau dengan kata lain bahwa pergaulan hidup atau interaksi manusia itu perwujudanya ada di dalam kelompok-kelompok sosial.
Kelompok sosial merupakan himpunan atau kesatuan-kesatuan manusia yang hidup bersama. Hubungan tersebut antara lain menyangkut kaitan timbal balik yang saling mempengaruhi dan juga suatu kesadaran untuk saling tolong-menolong. Syarat terbentuknya kelompok sosial adalah:
- Adanya kesadaran setiap anggota kelompok bahwa dia merupakan bagian dari kelompok yang bersangkutan .
- Ada hubungan timbal balik antara anggota yang satu dengan anggota lainya.
- Ada suatu faktor yang dimiliki bersama sehingga hubungan antara mereka menjadi erat, yang dapat merupakan nasib yang sama, kepentingan yang sama, tujuan yang sama, ideologi politik yang sama, dan lain-lain. Faktor mempunyai musuh yang sama juga dapat pula menjadi faktor pengikat atau pemersatu.
- Berstruktur, berkaidah, dan mempunyai pola perilaku.
- Bersistem dan berproses (Soekanto, 2017: 101)
Suatu kelompok sosial cenderung mempunyai sifat yang tidak statis atau berkembang dan mengalami perubahan-perubahan, baik dalam aktivitas maupun bentuknya. Suatu aspek yang menarik dari kelompok sosial tersebut adalah bagaimana cara mengendalikan anggota-anggotanya. Para sosiolog akan tertarik oleh cara-cara kelompok sosial tersebut dalam mengatur tindakan anggotaanggotanya agar tercapai tata tertib di dalam kelompok. Hal yang agaknya penting adalah kelompok sosial tersebut merupakan kekuatan-kekuatan sosial berhubungan, berkembang, mengalami disorganisasi, memegang peranan, dan sebagainya (Soekanto, 2017: 102-103).
Risiko Pembiayaan (skripsi dan tesis)
Risiko pembiayaan adalah risiko yang disebabkan oleh adanya
kegagalan counterparty dalam memenuhi kewajibannya.
Risiko kredit merupakan suatu risiko akibat kegagalan atau
ketidakmampuan nasabah mengembalikan jumlah pinjaman yang
diterima dari bank beserta bunganya sesuai dengan jangka waktu yang
telah ditentukan atau dijadwalkan.8
Setiap pemberian pembiayaan mengandung risiko sebagai akibat
ketidakpastian dalam pengembaliannya.Oleh karena itu, bank perlu
mencegah atau memperhitungkan kemungkinan timbulnya risiko
tersebut. Risiko-risiko yang mungkin timbul adalah:
a. Analisa kredit yang tidak sempurna.
b. Monitoring proyek-proyek yang dibiayai.
c. Penilaian dan peninjauan agunan.
d. Penyelesaian kredit bermasalah.
e. Penilaian pembelian surat-surat berharga.
f. Penetapan limit untuk seluruh eksposure kepada setiap
individu.9
Pengertian Manajemen Risiko (skripsi dan tesis)
Risiko bisa didefinisikan sebagai kejadian yang merugikan.
Definisi lain yang sering dipakai untuk analisis investasi, adalah
kemungkinan hasil yang sering dipakai untuk analisis investasi, adalah
kemampuan hasil yang diperoleh menyimpang dari yang diharapkan.1
Manajemen risiko menurut bank Indonesia adalah serangkaian
prosedur dan metode yang digunakan untuk mengidentifikasi,
mengukur, memantau dan mengendalikan risiko yang timbul dari
kegiatan usaha bank.2
Widigdo Sukarman mengidentiffikasi manajemen risiko sebagai
keseluruhan system pengelolaan dan pengendalian risiko yang dihadapi
oleh bank yang terdiri dari seperangkat alat, teknik, proses manajemen
dan organisasi yang ditujukan untuk memelihara tingkat profitabilitas
dan tingkat kesehatan bank yang ditetapkan dalam corporate
plan.3Berdasarkan pengertian tersebut, dapat disimpulkan bahwa
manajemen risiko merupakan system yang digunakan untuk mengelola
risiko yang dihadapi dan mengendalikan risiko tersebut agar tidak
merugikan.
Jenis-jenis risiko bank syariah diantaranya adalah sebagai
berikut:
a. Risiko modal
Risiko modal berkaitan dengan kualitas asset.Bank yang
menggunakan sebagian besar dananya untuk mendanai asset
yang berisiko perlu memiliki modal penyangga yang besar
untuk sandaran bila kinerja asset-aset itu tidak baik.4
b. Risiko likuiditas
Risiko antara lain disebabkan bank tidak mampu memenuhi
kewajiban yang telah jatuh tempo. Bank memiliki dua
sumber utama bagi likuiditasnya, yaitu asset dan liabilitas.5
c. Risiko kredit/pembiayaan
Risiko kredit muncul jika bank tidak bisa memperoleh
kembali cicilan pokok dan atau bunga dari pinjaman yang
diberikannya atau investasi yang sedang dilakukannya. Hal
ini terjadi sebagai akibat terlalu mudahnya bank memberikan
pinjaman atau melakukan investasi karena dituntut untuk
memanfaatkan kelebihan likuiditasnya sehingga penilaian
kredit menjadi kurang cermat dalam mengantisipasi berbagai
kemungkinan resiko untuk usaha yang dibiayainya.
d. Risiko pasar
Risiko pasar adalah resiko kerugian yang dapat dialami
bank melalui portofolio yang dimilikinya sebagai akibat
pergerakan variabel pasar yang tidak menguntungkan.
e. Risiko operasional
Resiko operasional adalah resiko akibat kurangnya system
informasi atau system pengawasan internal yang akan
mengahsilkan kerugian yang tidak diharapkan. Resiko ini
mencakup kesalahan manusia (human error), kegagalan
system, dan ketidakcukupan prosedur dan kontrol yang akan
berpengaruh pada operasional bank.
f. Risiko hukum
Risiko hukum adalah terkait dengan resiko bank yang
menanggung kerugian sebagai akibat adanya tuntutan
hokum, kelemahan dalam aspek legal atau yuridis.6
g. Resiko reputasi
Resiko reputasi adalah resiko yang timbul akibat adanya
publikasi negatif yang terkait dengan kegiatan usaha bank
atau karena adanya persepsi negatif terhadap bank.7
Unsur Pembentuk Solidaritas Sosial (skripsi dan tesis)
Unsur-unsur Pembentuk Solidaritas
- Kesatauan Genealogis atau Faktor Keturunan
Kesatuan Genealogis merupakan salah satu yang yang menjadi unsurdalam membangun solidaritas suatu kelompok. Solidaritas yang dibangun berdasarkan kesamaan keturunan mampu membuat suasana kelompok sosial lebihmengarah pada arah persaudaraan. Karena kesamaan keturunan mampu memberikan komitmen yang kuat dalam kelompok sosial agar tidak terputus tali persaudaraannya.
- Kesatuan Religius
Setiap agama sudah pasti memiliki atauran-atauran dalam hidupbermasyarakat ataupun berkelompok. Aturan-aturan tersebut tertuang dalamsebuah nilai dan norma. Nilai dan norma inilah yang kemudian mengatur setiapgerak-gerik tingkah laku manusia. Tentu hal yang sangat ide menjadikan kesamaan agama sebagai pemersatu dalam membentuk suatau kelopok sosialdalam membangun solidaritas sosial
- Kesatuan Teritorial (Community)
Terbentuknya suatu kelompok sosial dalam membangun solidaritas yangkuat tentu pula didasari karena adanya kesamaan suatau wilayah atau sering kitasebut dengan persamaan primordial (kedaeraan). Di dalam kesamaan primordialsudah pasti nilai-nilai serta norma-norma yang dianut akan sama. Hal ini akanlebih mudah dalam membangun pola interaksi dalam sebuah kelompok sosial.
- Kesatuan Kepentingan (Asosiasi)
Tentu persamaan kepentingan dapat mempermudah tercapainya cita-cita bersama. Karena pada dasarnya individu-individu memiliki keinginan yang ingin dicapai. Oleh karena itu bergabung bersama dengan orang-orang yang memiliki persamaan kepentingan, akan jauh lebih mudah untuk mencapainya.
Solidaritas Sosial (Emile Durkheim ) (skripsi dan tesis)
Pengertian solidaritas sosial berasal dari dua pemaknaan kata yaitu solidaritas dan sosial. Solidaritas sosial merupakan perasaan atau ungkapan dalam sebuah kelompok yang dibentuk oleh kepentingan bersama. Durkheim membagi dua tipe solidaritas mekanik dan organik. Masyarakat yang ditandai oleh solidaritas mekanis menjadi satu dan padu karena seluruh orang adalah generalis. Ikatan dalam masyarakat ini terjadi karena mereka terlibat aktivitas dan juga tipe pekerjaan yang sama dan memiliki tanggung jawab yang sama. Sebaliknya, masyarakat yang ditandai oleh solidaritas organik bertahan bersama justru karena adanya perbedaan yang ada didalamnya, dengan fakta bahwa semua orang memilki pekerjaan dan tanggung jawab yang berbeda-beda (George Ritzer dan Douglas J. Goodman, 2018: 90-91).
Teori solidaritas (dalam Ritzer, 2012:145) dari Emile Durkheim menekankan pada keadaan individu atau kelompok yang mendasari keterikatan bersama dalam kehidupan dengan didukung nilai-nilai moral dan kepercayaan yang hidup di masyarakat. Penulis melihat tingkat kebersamaan dalam anggota masyarakat yang berperan dalam meningkatkan solidaritas. Pembagian kerja memiliki imlikasi yang sangat besar terhadap struktur masyarakat. Durkheim sangat tertarik dengan perubahan cara dimana solidaritas sosial terbentuk, dengan kata lain perubahan cara- cara masyarakat bertahan dan bagaimana anggotanya melihat diri mereka sebagai bagian yang utuh. Untuk menyimpulkan perbedaan ini, Durkheim membagi solidaritas menjad solidaritas mekanik dan organik. Masyarakat yang ditandai oleh solidaritas mekanik menjadi satu dan padu karena seluruh orang adalah generalis. Ikatan masyarakat ini terjadi karena mereka terlibat aktifitas dan juga tipe pekerjaan yang sama dn memiliki tanggung jawab yang sama. Sebaliknya, masyarakat yang dittandai oleh solidaritas organik bertahan bersama justru karena adanya perbedaan yang aa didalamnya, dengan fakta bahwa semua orang memiliki pekerjaan dan tanggung jawab yang berbeda – beda
Menurut Durkheim dalam (Ritzer, 2012:90), solidaritas sosial masyarakat terdiri dari dua bentuk yakni solidaritas sosial mekanik dan solidaritas sosial organik. Pandangan Durkheim mengenai masyarakat yang dicirikan oleh solidaritas mekanik adalah suatu yang hidup. Masyarakat berpikir dan bertingkah laku dihadapan kepada gejala-gejala sosial atau fakta-fakta sosial yang seolah-olah berada diluar individu. pada masyarakat, manusia hidup bersama dan berinteraksi sehingga timbul rasa kebersamaan diantar anggota masyarakat. Solidaritas mekanik pada umumnya terdapat pada masyarakat pedesaan, solidaritas mekanik ini terbentuk karena setiap anggota terlibat dalam aktifitas yang sama dan memiliki tanggung jawab yang sama dan memerlukan keterlibatan secara fisik.
Solidaritas mekanik tersebut mempunyai kekuatan yang sangat besar dalam membangun kehidupan harmonis antara sesama, sehingga solidaritas tersebut lebih bersifat lama dan tidak tempore(sementara). Solidaritas mekanik juga didasarkan pada tingkat homogenitas yang sangat tinggi. Tingkat homogenitas individu yang tinggi dengan tingkat ketergantungan antara individu yang sangat rendah. Tingkat homogenitas tersebut dapat dilihat misalnya dalam pembagian kerja dalam masyarakat. Solidaritas mekanik dapat menjadikan individu memiliki tingkat kemampuan dan keahlian dalam suatu pekerjaan yang sama sehingga setiap individu dapat mecapai keinginannya tanpa ada ketergantungan kepada orang lain. Berbeda dengan tipikal solidaritas sosial mekanik, solidaritas organik adalah tipe solidaritas yang didasarkan pada tingkat saling ketergantungan yang tinggi dari adanya spesialis dalam pembagian kerja (Ritzer, 2012:145).
Solidaritas organik merupakan bentuk solidaritas yang mengikat masyarakat kompleks, yaitu masyarakat yang mengenal pembagian kerja yang rinci dan dipersatukan oleh saling ketergantungan antar bagian. Setiap anggota menjalankan peran yang berbeda, dan saling ketergantungan seperti pada hubungan antara organisme biologis. Solidaritas organik ini menyebabkan masyarakat yang ketergantungan antara yang satu dengan yang lainnya, karena adanya saling ketergantungan ini maka ketidakhadiran pemegang peran tertentu akan mengakibatkan gangguan pada sistem kerja dan kelangsungan hidup masyarakat. Keadaan masyarakat dengan solidaritas organik ini, ikatan utama yang mempersatukan masyarakat bukan lagi kesadaran kolektif melainkan kesepakatan yang terjalin diantara berbagai kelompok profesi. Ciri dari masyarakat solidaritas mekanik ini ditandai dengan adanya kesadaran kolektif yang sangat kuat, yang menunjuk pada totalitas kepercayaan-kepercayaan dan sentimen-sentimen bersama. Ikatan kebersamaan tersebut terbentuk karena adanya kepedulian diantara sesama.
Menurut Emile Durkheim dalam (Ritzer, 2012:145) indikator yang paling jelas untuk solidaritas mekanik ini adalah ruang lingkungan dan kerasnya hukum-hukum yang bersifat represif (menekan). Anggota masyarakat ini memiliki kesamaan satu sama lainnya. Semuanya cenderung sangat percaya pada moralitas bersama, apapun pelanggaran terhadap sistem nilai bersama tidak akan dinilai main-main oleh setiap individu, apalagi oleh masyarakat yang menjadi tempat penelitian kali ini. Hukuman yang dikenakan terhadap pelanggaran tehadap aturan-aturan represif tersebut pada hakekatnya adalah merupakan manifestasi dari kesadaran kolektif yang tujuannya untuk menjamin masyarakat berjalan dengan teratur dengan baik.
Ikatan yang mempersatukan anggota-anggota masyarakat disini adalah homogenya dan masyarakat terikat satu sama lainnya secara mekanik, jadi perilaku yang disebut melawan hukum jika dipandang mengancam atau melanggar kesadaran kolektif. Jenis dan beratnya hukuman tidak selalu harus mempertimbangkan kerugian atau kerusakan yang diakibatkan oleh pelanggarannya, akan tetapi lebih didasarkan pada kemarahan bersama akibat terganggunya kesadaran kolektif seperti penghinaan, menfitnah, pembunuhan dan lain sebagainya, untuk menjamin supaya masyarakat yang bersangkutan berjalan dengan baik dan teratur. Pembahasan mengenai kedua solidaritas akan digunakan manjadi satu saja, yaitu solidaritas mekanik yang mengambarkan akan keadaan dalam masyarakat pedesaan.
Solidaritas mekanik yang telah diungkapkan oleh Emile Durkheim dalam teorinya; yakni dengan melihat kembali keberadaan masyarakat setempat yang dicirikan dengan kegiatankegiatan yang seragam antar masyarakat setempat. Durkeim dalam (Ritzer, 2012:90) menuturkan bahwa dalam solidaritas mekaniknya maka anggota dalam kelompok tersebut cenderung memiliki kesadaran kolektif yang lebih kuat; pemahaman, norma dan kepercayaan bersama.
Jembatan (skripsi dan tesis)
Jembatan adalah sebuah bangunan yang memungkinkan suatu jalan
menyilang sungai/saluran air, lembah atau menyilangi jalan lain yang tinggi
permukaanya tidak sebidang. Dalam perencanaan dan perancangan jembatan
sebaiknya mempertimbangkan fungsi kebutuhan transportasi, persyaratan teknis
dan estetikaarsitektural yang meliputi: aspek teknis, aspek lalu lintas dan aspek
estetika (Supriyadi dan Muntohar, 2007)
Menurut Supriyadi dan Muntohar (2009), jembatan terbagi menjadi 3
bagian, yaitu:
1. Balok lantai jembatan, berfungsi sebagai lantai untuk lalu lintas, merupakan
balok yang disusun sedemikian sehingga mampu mendukung beban.
Biasanya dipasang dalam arah melintang jembatan, di atas gelagar (rasuk).
2. Gelagar (rasuk), berfungsi sebagai pendukung semua beban yang bekerja
pada jembatan. Bahan gelagar berupa bahan kayu dan atau profil baja berupa
profil kalan, profil H atau I. Bila menggunakan bahan baja, gelagar akan
memberikan kekuatan struktur yang lebih baik dibandingkan bahan kayu
yang berupa balok tunggal dan atau balok susun.
3. Tiang sandaran dan trotoar, berfungsi untuk keselamatan sekaligus untuk
membuat struktur lebih kaku. Sedangkan struktur dapat berdiri sendiri tanpa
bantuan sokongan lain
Keterlambatan Proyek (skripsi dan tesis)
Menurut Niazai (dalam Aziz dkk, 2016) keterlambatan proyek merupakan
waktu pengerjaan proyek yang tidak sesuai dengan schedule yang direncanakan
dan faktor yang dapat menyebabkan keterlambatan proyek yaitu manajemen situs
yang kurang baik.
Keterlambatan proyek kontruksi merupakan bertambahnya waktu untuk
menyelesaikan pekerjaan yang sudah direncanakan. Pekerjaan yang tidak dapat
selesai dalam waktu yang direncanakan akan mengalami tambahan biaya
overhead selama proyek masih berlangsung. Sehingga keterlambatan proyek akan
membawa dampak kerugian karena penundaan pengoperasian fasilitas (Hassan
dkk., 2016)
Faktor-faktor yang dapat mempengaruhi waktu pelaksanaan konstruksi
terdiri dari 9 kategori adalah:
1. Bahan (Materials)
a. Pengiriman barang
b. Ketersediaan bahan
c. Kerusakan bahan
d. Kualitas bahan
e. Waktu pemesanan yang tidak tepat
2. Tenaga Kerja (Labors)
a. Keahlian tenaga kerja
b. Ketersediaan tenaga kerja
c. Kedisiplinan tenaga kerja
d. Komunikasi antara tenaga kerja dan badan pembimbing
3. Peralatan (Equipment)
a. Kualitas peralatan
b. Kekurangan peralatan
c. Manajaman peralatan yang salah
d. Ketersediaan peralatan
e. Operator yang kurang berpengalaman
4. Keuangan (financial)
a. Fluktuasi nilai rupiah
b. Pembayaran oleh pemilik
c. Ketersediaan keuangan selama proyek beroperasi
d. Harga material
5. Lingkungan (Environment)
a. Cuaca
b. Lokasi proyek
c. Akses ke lokasi proyek
d. Kebutuhan ruang kerja
e. Keamanan lingkungan
6. Perubahan (Change)
a. Perubahan Desain
b. Keadaan geologi
7. Hubungan dengan pemerintah (Geoverment Reletion)
a. Perijinan
b. Birokrasi
8. Kontrak (Contractual)
a. Kurangnya komunikasi
b. Jadwal penyelesaian proyek yang berbeda
c. Kurangnya kerja sama antara Owner dan kontraktor
9. Waktu dan kontrol (Schedulling and controlling)
a. Tenaga kerja yang kurang terlatih
b. Melanggar perencanaan awal proyek
c. Revisi jadwal kerja yang mendadak
Pengertian Usaha Angkringan (skripsi dan tesis)
Kata Angkringan berasal dari kata pergaulan jawa, angkring atau nangkring yang memiliki arti duduk santai yang lebih bebas. Para pembeli yang duduk di bangku kayu memanjang di sekitar gerobak dapat mengangkat atau melipat kaki naik ke atas kursi. Angkringan merupakan suatu bentuk variasi dari kaki lima. Penjual kaki lima yang menggunakan pikulan juga dapat di temui di daerah-daerah lain. Kaki lima pikulan yang menjual makanan dengan harga murah seperti angkringan dapat pula di temui di Solo dan klaten. Menurut Klara, “masyarakat setempat menyebut kaki lima tersebut dengan nama HIK (Hidangan Istimewa Kampung). Istilah ini gunakan di Solo, tetapi istilah ini populer di Yogyakarta adalah angkringan (Azizah Risyda, 2015).
Pada awalnya penjual angkringan tidak menggunakan gerobak dorong beroda dua, melainkan pikulan yang terbuat dari belahan batang bambu. Di kedua ujungnya digantung dua set perangkat, serta di lengkapi sebuah bangku untuk penjual. Satu set angkringan dilengkapi dengan alat dan bahan minuman yang akan di olah, termasuk anglo atau tungku berbahan bakar arang. Sementara, set-set yang lain memuat bahan makanan siap saji yang hanya perlu di bakar kembali diatas tungku. Perlengkapan kios berjalan ini masih sangat sederhana mengingatfrekuensi perpindahanya cukup tinggi.Konsep angkringanadalah gerobak dorong dari kayu dan tungku dari arang.Di atasnya ceret besar berjumlah tiga buah sebagai alat untuk menghidangkanbahan minuman. Tak lupa yang menambah suasana remang-remang eksotis adalahlampu minyak yang di sebut teplok yang menerangi di tengah gerobak. Tempat duduk yang menggunakan kursi kayu panjang mengelilingi gerobak yang dinaungi terpal plastik gulung sebagai tenda. Perpaduan yang bersahaja ini menjadiestetika angkringan yang terbentuk melawan waktu dan perkembangan zaman (Nita, 2017).
Meski begitu, inilah yang menjadi daya tarik luar biasa dari warung angkringan.Makanan yang dijual meliputi nasi kucing, gorengan, sate usus (ayam), sate telurpuyuh, dan keripik. Minuman yang dijualpun beraneka macam seperti teh, jeruk,kopi, tape, wedang jahe dan susu. Semua dijual dengan harga yang sangatterjangkau, mulai dari minuman Rp. 2000 – Rp. 6000, nasi kucing Rp. 3000, Rica-rica ayam Rp. 4000 dan macam-macam sate Rp. 3000. Meski harganya murah,namun konsumen warung ini sangat bervariasi. Mulai dari tukang bangunan,pegawai kantor, mahasiswa, seniman, bahkan hingga pejabat dan eksekutif. Antarpembeli dan penjual sering terlihat mengobrol dengan santai dalam suasana penuh kekeluargaan.
Angkringan juga terkenal sebagai tempat yang egaliter karenabervariasinya pembeli yang datang tanpa membeda-bedakan strata sosial atau sara. Mereka menikmati makanan sambil bebas mengobrol hingga larut malammeskipun tak saling kenal tentang berbagai hal atau kadang berdiskusi tentangtopik-topik yang serius. Harganya yang murah dan tempatnya yang santaimembuat angkringan sangat populer di tengah kota sebagai tempat persinggahanuntuk mengusir lapar atau sekadar melepas lelah. Akrabnya suasana dalamangkringan membuat nama angkringan tak hanya merujuk ke dalam tempat tetapikesuasana, beberapa acara mengadopsi kata angkringan untuk menggambarkansuasana yang akrab saling berbagi dan menjembatani perbedaan
Keberlangsungan Usaha (skripsi dan tesis)
Keberlangsungan (Sustainability) diartikan sebagai suatu bentuk kata kerja yang menerangkan suatu keadaan atau kondisi yang sedang berlangsung terusmenerus dan berlanjut, merupakan suatu proses yang terjadi dan nantinya bermuara pada suatu eksistensi atau ketahanan suatu keadaan (disarikan dari Kamus Lengkap Bahasa Indonesia). Berdasar definisi ini keberlangsungan usaha (Business Sustainibility) merupakan suatu bentuk konsistensi dari kondisi suatu usaha, dimana keberlangsungan ini merupakan suatu proses berlangsungnya usaha baik mencakup pertumbuhan, perkembangan, strategi untuk menjaga kelangsungan usaha dan pengembangan usaha dimana semua ini bermuara pada keberlangsungan dan eksistensi (ketahanan) usaha.
Dalam sumber lain keberlangsungan diartikan sebagai : Sustainability is “using, developing and protecting resources in a manner that enables people to meet current needs and provides that future generationscan also meet future needs, from the joint perspective of environmental, economic and community objectives.” (www.oregon.gov). Ini diartikan bahwa keberlangsungan adalah sesuatu yang dipergunakan untuk mengembangkan dan melindungi sumber daya yang berada didalamnya, dimana memungkinkan orang-orang untuk mendapatkan suatu cara untuk memenuhi kebutuhan saat ini dan akan datang, dari pandangan gabungan lingkungan, ekonomi dan pandangan masyarakat. Pernyataan-pernyataan ini dapat dianolagkan dan dipakai sebagai definisi konsep dalam penelitian ini, bahwa keberlangsungan usaha merupakan suatu keadaan atau kondisi usaha, dimana didalamnya terdapat cara-cara untuk mempertahankan, mengembangkan dan melindungi sumber daya serta memenuhi kebutuhan yang ada didalam suatu usaha (industri). Cara-cara yang dipergunakan ini bersumber dari pengalaman sendiri, orang lain, serta berlandaskan pada kondisi atau keadaan ekonomi yang sedang terjadi di dalam dunia usaha (Business).
Komponen Dalam Modal Sosial (skripsi dan tesis)
Putnam (2000) menyatakan komponen modal sosial terdiri dari kepercayaan (trust), aturan-aturan (norms) dan jaringan-jaringan kerja (networks) yang dapat memperbaiki efisiensi dalam suatu masyarakat melalui fasilitas tindakan-tindakan yang terkordinasi. Lebih lanjut dikatakan Putman bahwa kerjasama lebih mudah terjadi di dalam suatu komunitas yang telah mewarisi sejumlah modal sosial dalam bentuk aturan-aturan, pertukaran timbal balik dan jaringan-jaringan kesepakatan antar warga. Hal ini diperjelas dengan adanya pernyataan Ridell dalam Suharto, E. & Yuliani. (2005) menyebutkan beberapa parameter modal sosial, antara lain kepercayaan, norma, dan jaringan. Berikut penjelasan lebih lanjut mengenai ketiga parameter modal sosial tersebut.
- Jaringan: Granovetter mengungkapkan bahwa jaringan hubungan sosial adalah suatu rangkaian hubungan yang teratur atau hubungan sosial yang sama di antara individu-individu atau kelompok-kelompok (Santoso: 2010). Jaringan ini akan menjadi media komunikasi dan interaksi yang menghasilkan kepercayaan dan kekuatan suatu kerja sama. Putnam berargumen bahwa jaringan sosial yang erat akan memperkuat perasaan kerja sama para anggotanya serta manfaaat-manfaat dari partisipasinya itu. Kapasitas yang ada dalam kelompok masyarakat untuk membangun sejumlah asosiasi sekaligus membangun jaringan merupakan salah satu sumber kekuatan modal sosial. Sumber lain adalah pada kemampuan sekelompok orang dalam suatu asosiasi atau perkumpulan dalam melibatkan diri dalam suatu jaringan hubungan sosial.
Pertukaran ekonomi untuk mendapatkan modal dan kepentingan ekonomi juga dapat dilakukan melalui perolehan reputasi lewat pengakuan dalam jaringan atau kelompok. Tahapan tersebut dapat mengoptimasi keuntungan relasional (menjaga hubungan sosial) serta analisis biaya dan keuntungan Hendry juga mengungkapkan bahwa jaringan-jaringan telah lama dilihat sangat penting bagi keberhasilan bisnis.
Terutama pada tingkat permulaan, bahwa fungsi jaringan-jaringan diterima dengan luas sebagai suatu sumber informasi penting, yang sangat menentukan dalam mengidentifikasi dan mengeksploitasi peluang-peluang bisnis (Field, 2010). Ben-Porath menambahkan mengenai konsep ‘F-connection’. Konsep ini terdiri dari families (keluarga), friends (teman), dan firms (perusahaan) Bentuk-bentuk koneksi tersebut dalam organisasi sosial dapat mempengaruhi pertukaran ekonomi. Jika dikembangkan secara lebih jauh, hubungan keluarga dan pertemanan bisa bermanfaat bagi seseorang untuk mendapatkan pekerjaan atau karir yang lebih bagus.
- Norma: Norma merupakan pemahaman, nilai, harapan, dan tujuan yang diyakini dan dijalankan bersama oleh sekelompok orang dilengkapi sanksi yang bertujuan mencegah individu melakukan perbuatan menyimpang dalam masyarakat. Sebagian besar norma hanya dipahami tanpa ditulis, sehingga menentukan tingkah laku masyarakat dalam berhubungan sosial. Yustika menyatakan bahwa kerja sama yang dilengkapi dengan sanksi sosial dapat berfungsi sebagai komplementer untuk merangsang mekanisme efek modal sosial terhadap kinerja ekonomi. Dari kegiatan ekonomi tersebut, pelaku dapat mengakumulasi laba, upah, dan pengembalian modal sehingga terdapat insentif untuk berproduksi. Norma yang kuat memungkinkan setiap anggota kelompok atau komunitas saling mengawasi sehingga tidak ada celah bagi individu untuk berbuat ‘menyimpang’ Menurut Putnam dan Fukuyama, norma dibangun dan berkembang berdasarkan sejarah kerja sama di masa lalu dan diterapkan untuk mendukung iklim kerja sama. North mengungkapkan bahwa norma merupakan sebuah ‘institusi’ yang mengatur interaksi sosial antar manusia. Norma terbentuk oleh interaksi nilai-nilai yang dipatuhi oleh setiap anggota masyarakat di dalamnya dan sifatnya selalu harus memberikan manfaat positf bagi setiap anggota masyarakat itu. Saat norma tidak bermanfaat atau bahkan merugikan, norma akan hilang dan mati (Leksono, 2009).
- Kepercayaan: Menurut Fukuyama, kepercayaan merupakan harapan yang tumbuh di dalam sebuah masyarakat yang ditunjukkan oleh adanya perilaku jujur, teratur, dan kerja sama berdasarkan norma-norma yang dianut bersama. Fukuyama juga mengklaim bahwa kepercayaan merupakan dasar paling dalam dari tatanan sosial: ”komunitas-komunitas tergantung pada kepercayaan timbal balik dan tidak akan muncul secara spontan tanpanya ( Field, 2010). Sedangkan menurut Putnam (2000), rasa percaya adalah suatu bentuk keinginan untuk mengambil resiko dalam hubungan-hubungan sosial yang didasari oleh perasaan yakin bahwa yang lain akan melakukan sesuatu seperti yang diharapkan dan akan senantiasa bertindak dalam suatu pola tindakan yang saling mendukung, paling tidak yang lain tidak akan bertindak merugikan diri dan kelompoknya). Yustika menyatakan bahwa modal sosial tergantung dari dua elemen kunci, yaitu kepercayaan dari lingkungan sosial dan perluasan aktual dari kewajiban yang sudah dipenuhi (obligation held). Dari perspektif ini, individu yang bermukim dalam struktur sosial dengan saling kepercayaan tinggi memiliki modal sosial yang lebih baik daripada situsi sebaliknya. Menurut Francois, kepercayaan merupakan komponen ekonomi yang relevan melekat pada kultur masyarakat yang akan membentuk kekayaan modal sosial. Hal ini akan menciptakan suatu siklus sosial yang membuat kepercayaan yang tinggi (diwujudkan dalam tindakan untuk mencapai kepentingan bersama) berpengaruh terhadap partisipasi masyarakat
Adapun lingkup modal sosial menurut Carrier R Leana dan Van Burren, terdiri dari tiga komponen utama yaitu associability, shared trust, dan shared responsibility. Dalam konteks associability penekanannya adalah sociability, kemampuan melakukan interaksi sosial diikuti dengan kemampuan memacu aksi kolektif yang memadai dalam usaha-usaha bersama. Selain itu dibutuhkan shared trust(kepercayaan timbal balik) dan juga shared responsibility (tanggung jawab timbal balik) dalam usaha kolektif. Dalam perspektif serupa Don Cohen Laurens mengungkapkan bahwa modal sosial dapat terlihat dalam aspek trust, mutual understanding (saling memahami), shared knowledge (pengetahuan bersama), dan cooperative action (aksi bersama). Modal sosial terjelma dari persenyawaaan tiga unsur yaitu pertama, ikatan tradisi dalam wujudnya sebagai keluarga, kekerabatan dan kewilayahan, kedua ketersediaan untuk bekerja keras di bawah pemahaman bahwa mereka yang tidak bekerja tidak berhak memperoleh makanan, ketiga suatu konteks yang disediakan oleh pemegang tampuk kekuasaan berupa ketentraman politik, terbukanya kesempatan ekonomi dan finansial serta jaminan keamanan masa depan yang meyakinkan. Dua faktor pertama bersama-sama dalam bingkai konteks faktor ketiga membentuk apa yang disebut modal sosial. Maka terjadi saling taut fungsional dari persekutuan antar manusia, karya dan modal.
Pendapat lain yaitu Woolcock, M. D. Narayan (2000) yang membedakan tiga tipe modal sosial sebagai berikut:
- Sosial bounding, berupa kultur nilai, kultur, persepsi dan tradisi atau adat-istiadat. Modal sosial dengan karakteristik ikatan yang kuat dalam suatu sistem kemasyarakatan dimana masih berlakunya sistem kekerabatan dengan sistem klen yang mewujudkan rasa simpati berkewajiban, percaya resiprositas dan pengakuan timbal balik nilai kebudayaan yang dipercaya. Tradisi merupakan tata kelakuan yang kekal serta memiliki integrasi kuat dengan pola perilaku masyarakat mempunyai kekuatan mengikat dengan beban sangsi bagi pelanggarnya.
- Sosial bridging, berupa institusi maupun mekanisme yang merupakan ikatan sosial yang timbul sebagai reaksi atas berbagai macam karakteristik kelompoknya. Stephen Aldidgre menggambarkannya sebagai pelumas sosial yaitu pelancar roda-roda penghambat jalannya modal sosial dalam sebuah komunitas dengan wilayah kerja lebih luas dari pada poin 1, bisa bekerja lintas kelompok etnis maupun kelompok kepentingan. Dapat dilihat pula adanya keterlibatan umum sebagai warga negara, asosiasi, dan jaringan.
- Sosial linking, berupa hubungan/jaringan sosial dengan adanya hubungan diantara beberapa level dari kekuatan sosial maupun status sosial yang ada dalam masyarakat.
Pengertian Modal Sosial (skripsi dan tesis)
Pada awalnya, modal sosial berangkat dari hasil penelitian Robert Putnam (2000) di Italia yang menemukan bagaimana modal sosial berpengaruh terhadap perkembangan suatu wilayah. Bagi Robert Putnam modal sosial sebagai “connections among individuals social networks and the norms of reciprocity and trustworthiness that arise from them’. Hasil penelitian ini berkembang dengan hasil penelitian senada sehingga meberikan sudut pandang yang berbeda mengenai pengertian modal sosial. Ahli sosiologi Prancis Pierre Bourdieu (1985) mendefinisikan modal sosial atau social capital sebagai ‘the aggregate of the actual or potential resources which are linked to possession of a durable network of more or less institutionalised relationships of mutual acquaintance and recognition’. Sedangkan James Coleman (2000), ahli sosiologi Amerika, mengatakan bahwa modal sosial‘is not a single entity, but a variety of different entities, having two characteristics in common: they all consist of some aspect of a social structure,and they facilitate certain actions of individuals who are within the structure’.
Sedangkan menurut Fukuyama (2005) bahwa modal sosial secara sederhana yaitu serangkaian nilai-nilai atau norma-norma informal yang dimiliki bersama di antara para anggota suatu kelompok masyarakat yang memungkinkan terjalinnya kerjasama di antara mereka. Norma-norma yang menghasilkan sosial capital harus secara substantive memasukkan nilai-nilai seperti kejujuran, pemenuhan tugas dan kesediaan untuk saling menolong, dan komitmen bersama. Norma kooperatif di atas bisa dibagi di antara kelompok masyarakat terbatas dan bukan dengan yang lainnya dalam masyarakat yang sama. Menurut Cohen dan Prusak berpendapat bahwa modal sosial adalah kumpulan dari hubungan yang aktif di antara manusia, rasa percaya, saling mengerti dan kesamaan nilai dan perilaku yang mengikat anggota dalam sebuah jaringan kerja dan komunitas yang memungkinkan adanya kerjasama (Cohen, Don dan Prusak, Laurence, 2001)
Konsep Budaya Berlalu Lintas (skripsi dan tesis)
Istilah budaya lalu lintas terdiri dari dua kata yaitu budaya dan lalu lintas. Pengertian budaya sendiri adalah “nilai sosial, norma sosial, ilmu pengetahuan serta keseluruhan struktur-struktur sosial, religius, dan lain-lain, tambahan lagi segala pernyataan intelektual dan artistik yang menjadi ciri khas suatu masyarakat”. Budaya atau kebudayaan berasal dari bahasa Sanskerta yaitu buddhayah, yang merupakan bentuk jamak dari buddhi (budi atau akal) diartikan sebagai hal-hal yang berkaitan dengan budi dan akal manusia (Tagel, 2013).
Sedangkan kata lalu lintas dalam UU No. 22 Tahun 2009 didefenisikan sebagai: “ gerak kendaraan dan orang di ruang lalu lintas jalan, sedangkan yang dimaksud dengan ruang lalu lintas adalah prasarana yang diperuntukkan bagi gerak pindah kendaraan, orang, atau barang yang berupa jalan dan fasilitas pendukung.” Adapun definisi mengenai lalu lintas lain menyebutkan bahwa menurut adalah “berjalan bolak balik, hilir mudik dan perihal perjalanan di jalan dan sebagainya serta berhubungan antara sebuah tempat dengan tempat lainnya. Secara keseluruhan budaya berlalu lintas adalah nilai sosial dan norma sosial yang ditumbuhkan dalam kehidupan masyarakat berkaitan dengan pengaturan mengenai gerak kendaraan dan orang di ruang lalu lintas jalan” (Rachma, 2013).
Lalu lintas berarti berbicara mengenai manusia, kendaraan, dan jalan yang masing-masing mempunyai masalah tersendiri dan berkaitan dengan keselamatan hidup orang banyak khususnya para pemakai jalan raya. Dalam kamus Umum Bahasa Indonesia, lalu lintas diartikan sebagai : “Berjalan bolak-balik, hilir mudik, perihal perjalanan di jalan dan sebagainya, perhubungan antara sebuah tempat dengan tempat lain”. Sementara. Djajusman dalam bukunya, “Polisi Dan Lalu Lintas”, mengartikan lalu lintas sebagai : “Gerak-gerik pindah manusia dengan atau tanpa alat penggerak dari satu tempat ke tempat lain” (Djajoesman HS, 2006). Sementara UU No. 14 Tahun 1992 Tentang Lalu Lintas Dan Angkutan Jalan, memberikan pengertian lalu lintas sebagai gerak kendaraan, orang, dan hewan di jalan. Sedangkan jalan diartikan sebagai jalan yang diperuntukan bagi lalu lintas umum, dan kendaraan adalah alat yang dapat bergerak di jalan, terdiri dari kendaraan bermotor dan kendaraan tidak bermotor.
Konsep budaya berlalu lintas sebenarnya merupakan penggabungan dari berbagai konsep lainnya. Diantaranya adalah safety driving adalah (Ikhsan, 2009):
perilaku mengemudi yang aman yang bisa membantu untuk menghindari masalah lalu lintas. Safety driving merupakan kegiatan untuk keselamatan berkendara. Kegiatan ini mencakup pada kegiatan pendidikan dan pelatihan ketrampilan mengendarai kendaraan bermotor, kiat-kiat aman berkendara. Ketrampilan dan keahlian berkendara yang dilatihkan dan diselenggarakan oleh polisi yang bekerjasama dengan sektor bisnis, media dan LSM yang ditujukan baik dari tingkat pelajar, mahasiswa, pengemudi angkutan umum, club otomotif, masyarakat umum atau siapa saja yang perduli terhadap masalah keselamatan berkendara dengan tujuan meningkatkan kemampuan serta kesadaran berlalu lintas untuk keselamatan para pengguna jalan.
Konsep lain yang lekat dengan budaya berlalu lintas adalah safety riding adalah yang mengandung pengertian adalah: “suatu usaha yang dilakukan dalam meminimalisir tingkat bahaya dan memaksimalkan keamanan dalam berkendara, demi menciptakan suatu kondisi, yang mana kita berada pada titik tidak membahayakan pengendara lain dan menyadari kemungkinan bahaya yang dapat terjadi di sekitar kita serta pemahaman akan pencegahan dan penanggulangan” (Mohamad 2009).
Menurut Canada Safety Council, dalam hal lain budaya berlalu lintas juga berkiatan dengan menyatakan defensiver driving yaitu (Ervina 2012) :
ketrampilan pengemudi bertahan dari kejadian berbahaya selama di jalan raya. Dimana terdapat 3 (tiga) hal rumusan yang diperlukan untuk melakukan pencegahan terjadinya tabrakan yaitu; mengenali bahaya (recognize the hazard), memahami cara bertahan (understand the defence), dan beraksi pada waktunya (act in time).
Pengertian Peran (skripsi dan tesis)
Peran adalah kelengkapan dari hubungan – hubungan berdasarkan peran yang di miliki oleh orang karena menduduki status-status sosial khusus. Selanjutnya dikatakan bahwa dalam peranan terdapat dua macam harapan, yaitu : harapan – harapan dari masyarakat terhadap pemegang peran atau kewajiban – kewajiban dari pemegang peran, dan harapan – harapan yang dimiliki oleh pemegang peran terhadap masyarakat atau terhadap orang – orang yang berhubungan dengan dalam menjalankan peranannya atau kewajiban-kewajibannya (Abdussalam. 2017)
Identitas peran, terdapat sikap tertentu dan perilaku aktual yang konsisten dengan sebuah peran dan menimbulkan identitas peran (role identify). Orang memiliki kemampuan untuk berganti peran dengan cepat ketika mereka mengenali terjadinya situasi dan tuntutan yang secara jelas membutuhkan perubahan besar. Peran merupakan aspek dinamis dari kedudukan ( status ) yang dimiliki oleh seseorang, sedangkan status merupakan sekumpulan hak dan kewajiban yang dimiliki seseorang apabila seseorang melakukan. Dalam pernyataan lain disebutkan bahwa peran adalah proses dinamis kedudukan (status). Apabila seorang melaksanakan hak dan kewajibannya sesuai dengan kedudukannya, dia menjalankan suatu peranan. Perbedaan antara kedudukan dengan peranan adalah untuk kepentingan ilmu pengetahuan. Keduanya tidak dapat dipisahkan karena yang satu tergantung pada yang lain dan sebaliknya (Soekanto . 2019)
Menurut Merton (dalam Soekanto, 2019) bahwa peranan didefiniskanm sebagai pola tingkah laku yang diharapkan masyarakat dari orang yang menduduki status tertentu. Sejumlah peran disebut sebagai perangkat peran adalah kelengkapan dari hubungan – hubungan berdasarkan peran yang dimiliki oleh orang karena menduduki status-status sosial khusus. Menurut Abu Ahmadi (2019) bahwa peran adalah suatu kompleks pengharapan manusia terhadap caranya individu harus bersikap dan berbuat dalam situasi tertentu yang berdasarkan status dan fungsi sosial
Teori Pertukaran Sosial (skripsi dan tesis)
Blau bermaksud menganalisis struktur sosial yang lebih kompleks, melebihi Homans yang memusatkan perhatian kepada bentuk-bentuk sosial yang mendasar. Homans sudah puas bekerja di tingkat prilaku, tetapi menurut Blau pekerjaan seperti itu hanyalah sebagai alat saja untuk mencapai tujuan lebih besar: “Tujuan utama sosiologi yang memperlajari interaksi tatap muka adalah untuk meletakkan landasan guna memahami struktur sosial yang mengembangkan dan menimbulkan kekuatan sosial yang menandai perkembangannya itu” (Ritzer dan Goodman, 2014:368). Blau memusatkan perhatian pada proses pertukaran yang menurutnya mengatur kebanyakan prilaku manusia dan melandasi hubungan antar individu maupun antar kelompok. Blau membayangkan empat langkah berurutan, mulai dari pertukaran antara pribadi ke struktur sosial hingga keperubahan sosial:
Langkah 1: pertukaran atau transaksi antar individu yang meningkat ke …
Langkah 2: Diferensiasi status dan kekuasaan yang mengarah ke …
Langkah 3: Legitimasi dan pengorganisasian yang menyebarkan bibit dari …
Langkah 4: Oposisi dan perubahan. Mikro ke Makro.
Di tingkat individual, Blau dan Homans tertarik pada proses yang sama. Tetapi, konsep pertukaran sosial Blau terbatas pada tindakan yang bergantung pada reaksi pemberian hadiah dari orang lain. Tindakan yang 15 segera berhenti bila reaksi yang diharapkan tidak kunjung datang. Orang saling tertarik karena berbagai alasan yang membujuk untuk membangun kelompok sosial. Setelah kelompok sosial itu dibentuk , hadiah yang saling mereka berikan akan membnatu mempertahankan dan meningkatkan ikatan. Hadiah yang dipertukarkan dapat berupa sesuatu yang bersifat intrinsik seperti cinta, kasih sayang, dan rasa hormat, atau yang bernilai ekstrinsik seperti uang dan tenaga dan tenaga kerja fisik. Orang yang terlibat dalam ikatan kelompok tidak selalu mendapatkan hadiah yang setara oleh karena itu akan menimbulkan perbedaan kekuasaan dalam kelompok (Ritzer dan Goodman, 2014:369)
Disampaikan lebih lanjut bahwa bila satu orang tidak dapat sesuatu dari orang lain, maka akan tersedia empat kemungkinan. Pertama, orang itu akan memaksas orang lain untuk membantunya. Kedua, orang itu akan mencari sumber lain untuk memenuhi kebutuhannya. Ketiga, orang itu akan mencoba terus bergaul dengan baik tanpa mengharapkan apapun dari orang lain. Keempat, orang itu akan menundukkan diri terhadap orang lain dengan demikian memberikan orang lain it dengan penghargaan yang sama (Ritzer dan Goodman, 2014:369).
Pendapat Blau sama dengan Homans, tetapi Blau teorinya meluas sampai ketingkat fakta sosial. Contoh ia mengatakan bahwa kita tak bisa menganalisis interaksi sosial terpisah dari struktur sosial yang melingkunginya. Struktur sosial ini muncul dari interaksi sosial, tetapi setelah muncul struktur sosial terpisah keberadaannya dan mempengaruhi proses interaksi (Ritzer dan Goodman, 2014:369-370). Interaksi sosial mula-mula terjadi di dalam kelompok sosial. Individu tertarik pada satu kelompok tertentu karena merasa bahwa saling berhubungan menawarkan hadiah lebih bnayak daripada ditawarkan kelompok lain. Karena tertarik dalam satu kelompok tertentu, mereka ingin diterima, mereka harus menawarkan hadiah kepada anggota kelompok yang lain. Upaya pendatang baru untuk mengesankan anggota kelompok umumnya menimbulkan persatuan kelompok, tetapi persaingan, dan akhirnya diferensiasi sosial akan terjadi jika terlalu banyak orang memberikan kesan. Orang yang memberikan hadiah terbaik, paling besar peluangnya untuk menempati posisi pemimpin. Diferensiasi tak terelakan dalam kehidupan kelompok sehingga menjadi pemimpin dan pengikut menimbulkan kebutuhan baru sebagai intergrasi . segera setelah mereka mengakui status pemimpin, kebutuhan pengikut akan integrasi semakin besar. (Ritzer dan Goodman, 2014:370).
Semua uraian tersebut mengingatkan kepada bahasan Homans tentang teori pertukaran. Namun, Blau bergerak pada tingkat kemasyarkatan dan membedakan antara dua jenis organisasi sosial. Organisasi jenis pertama proses dari pertukaran dan persaingan. Organisasi kedua tak muncul begitu saja tetapi dengan sengaja didirikan untuk mendapatkan keuntungan. Dalam mengamati organisasi sosial ini, Blau memusatkan perhatian kepada sub kelompok yang terdapat di dalamnya. Ia menyatakan bahwa kelompok pemimpin dan oposisi ada di dalam kedua jenis organisasi tersebut. kedua kelompok itu lahir dari proses interaksi. Pada jenis organisasi kedua, kelompok pemimpin dan oposisi di bangun di dalma struktur organisasi (Ritzer dan Goodman, 2014).
Dengan bergerak melampaui bentuk prilaku mendasar seperti Homans dan masuk dalam struktur sosial yang kompleks, Blau harus menyadari bahwa ia harus menyesesuaikan teori pertukaran ke tingkat kemasyarkatan. Ia mengakui perbedaan enensial antara kelompok kecil dengan kehidupan kolektif luas (Ritzer dan Goodman, 2014 ). Norma dan Nilai. Menrut Blau, mekanisme yang menengahi antara struktur sosial yang kompleks itu adalah norma dan nilai yang ada di dalam masyarakat. Kesepakatan bersama atas nilai dan norma digunakan sebagai media kehidupan sosial dan sebagai mata rantai yang menghubungkan transaksi sosial. Norma dan nilai memungkinkan pertukaran sosial dalam struktur sosial yang kompleks dan menentukan perkembangan organisasi dan reorganisasi sosial di dalamnya (Ritzer dan Goodman, 2014:372). Ada mekanisme lain yang menegahi antara struktur sosial, tetapi Blau memusatkan perhatiannya pada konsesus dan nilai. Konsesus dan nilai ini mengganti pertukaran yang tak langsung menjadi langsung. Seorang anggota harus menyesusaikan diri dengan norma kelompok dan mendapatkan persetujuan karena penyesuaian itu karena kenyataan bahwa penyesuaian diri memberikan kontribusi atas pemeliharaan dan stabilitas (Ritzer dan Goodman, 2014).
Konsep norma menurut Blau ini mengalihkan perhatian ketingkat pertukaran antara individu dengan kolektivitas, tetapi konsep nilai mengalihkan perhatiannya ketingkat hidup kemasyarakatan pada skala terluas. Blau mengatakan: Nilai bersama yang terdiri dari berbagai jenis dapat dibayangkan sebagai media transaksi sosial yang meluas batas interaksi sosial dan struktur hubungan sosial melalui waktu dan ruang sosial. Konsesus dalam nilai sosial menyediakan basis untuk memperluas jarak transaksi sosial melampaui batas-batas kontak sosial langsung dan mengekalkan struktur sosial melampaui bata umur manusia (Ritzer dan Goodman, 2014:373).
Menurut Blau, nilai ini dipandang sebagai media atau alat sosial yang berfungsi untuk memperluas transaksi-transaksi sosial. Dalam hal ini ada empat nilai. Pertama, nilai-nilai yang bersifat khusus atau partikular. nilai khusus (particularistic values) berfungsi sebagai media integrasi dan solidaritas. Nilai ini membantu mempersatukan anggota dengan sebuah kelompok berkenaan dengan suatu hal seperti patriotism atau mengenai kualitas sekolah atau perusahaan Kedua, nilai-nilai yang bersifat universal. Ketiga, nilai-nilai yang bersifat melegitimasi otoritas. Keempat, nilai-nilai oposisi. (Raho, 2017:180-181)
Dengan demikian melalui teori pertukaran sosial, Blau mengganti peran individu ini dengan berbagai jenis fakta sosial sebagai contoh, Blau membahas tentang kelompok, organisasi, koletivitas, masyarakat, norma dan nilai.
Faktor-faktor yang Mempengaruhi Expressive Writing (skripsi dan tesis)
Faktor yang mempengaruhi expressive writing dibagi menjadi dua, yaitu
faktor internal dan faktor eksternal. Faktor eksternal yang sangat mempengaruhi
individu seperti pola asuh dan lingkungan karena pemberian konseling expressive
writing dapat dipengaruhi oleh faktor eksternal yang sulit untuk dikendalikan.
Kemudian dengan memberikan pujian kepada para subyek penelitian agar mereka
terus fokus dalam mengikuti instruksi, serta mempertimbangkan tingkat
keparahan masalah subyek.
Faktor internal yang mempengaruhi yaitu motivasi. Semakin besar
motivasi seseorang dalam melakukan suatu hal, dalam hal ini adalah kemampuan
menulis maka diharapkan hal tersebut dapat meningkatkan pula kemauannya
dalam mencari pekerjaan. Dengan menulis, mahasiswa fresh graduate akan
menuangkan segala perasaan, pikiran, dan emosinya yang kurang mampu ia
utarakan.
Tahapan Terapi (skripsi dan tesis)
Hynes dan Thompson (dalam Purnamarini, Setiawan, & Hidayat, 2016)
membagi terapi menulis ke dalam tahapan yakni:
a. Recognation/Initial writing
Tahapan ini merupakan tahapan awal untuk menuju sesi menulis. Tahap
ini bertujuan untuk memfokuskan pikiran, membuka imajinasi, merelaksasi
dan menghilangkan pikiran negatif yang mungkin muncul pada diri klien,
serta mengevaluasi kondisi mood atau konsentrasi klien. Pertama, klien
diberikan kesempatan untuk menulis secara bebas kata-kata, frase, atau
mengungkapkan hal lain yang muncul dalam pikiran tanpa sebuah
perencanaan dan arahan. Selain menulis, sesi ini juga dapat dimulai dengan
pemanasan, menggambar bentuk sederhana, gerakan sederhana, atau
mendengarkan instrumen. Tahap ini berlangsung 6 menit.
b. Examination/writing exercise
Tujuan tahap ini yaitu untuk mengetahui lebih dalam reaksi klien terhadap
suatu situasi tertentu. Proses terapi menulis dilakukan pada tahap ini. Tidak
ada instruksi yang baku pada tahap ini, sehingga instruksi yang diberikan
dapat disesuaikan dengan usia dan pemahaman klien. Tahap ini memakan
waktu sekitar 10-20 menit dalam satu sesi dan dapat dilakukan dalam 3-5 sesi.
Pada sesi ini, menulis yang dilakukan klien sudah terarah. Diawali dengan
peristiwa emosional yang umum sampai dengan peristiwa spesifik yang
mengganggu klien, seperti ketika didiagnosis mengalami suatu penyakit,
kehilangan pekerjaan, atau kecemasan ketika menghadapi suatu peristiwa.
Dalam sesi ini bukan hanya penggalian tentang masa lalu klien, tetapi juga
untuk menghadapi situasi yang sedang maupun yang akan dihadapi di masa
depan.
c. Juxtaposition/Feedback
Pada tahap ini, klien didorong agar memperoleh persepsi baru dalam
memandang suatu permasalahan, sehingga dapat memberikan inspirasi baru
terhadap perilaku, sikap, penilaian dan pemahaman yang lebih pada dirinya.
Hal pokok pada tahap ini yaitu mengetahui bagaimana persaan klien pada saat
menulis ekspresif, setelah menulis dan pada saat membacanya kembali.
d. Application to the self
Pada tahap terakhir ini klien didorong untuk mengaplikasikan pengetahuan
barunya ke dalam dunia nyata. Konselor atau terapis membantu klien
mengintegrasikan apa yang telah dipelajari selama sesi menulis dengan
merefleksikan kembali apa saja yang mesti diubah atau diperbaiki dan mana
yang perlu dipertahankan.
Selain itu juga dilakukan refleksi tentang manfaat menulis bagi klien.
Konselor juga perlu menanyakan apakah klien mengalami ketidaknyamanan
atau bantuan tambahan untuk mengatasi masalah sebagai akibat dari proses
menulis yang mereka ikuti.
Pengertian Expressive Writing (skripsi dan tesis)
Dalam kegiatan sehari-hari, kita tidak diharuskan menceritakan
permasalahan yang kita hadapi kepada orang lain. Meski demikian, perasaan dan
pikiran yang tidak mampu kita ungkapkan harus disalurkan. Salah satu cara
penyaluran emosi dengan menggunakan tulisan. Menerjemahkan perasaan dan
pikiran kedalam kata-kata yang ditulis pada sebuah kertas ataupun media lain
dapat menguntungkan secara fisik maupun psikologis.
Seseorang yang menyimpan traumanya sendiri akan merugikan kesehatan
baik fisik maupun psikologisnya. Menurut Pannebaker, seseorang yang memiliki
trauma dalam hidupnya sebaiknya mempunyai seseorang yang dapat
membantunya melepaskan trauma-trauma yang dialaminya, namun apabila
seseorang tidak mampu mengutarakan perasaan yang dialaminya maka dapat
melakukan pelepasan perasaan melalui menulis sehingga dapat terhindar dari
stress (Pennebaker, 2017).
Menurut Pennebaker, expressive writing adalah kegiatan menuliskan
perasaan dan pikiran terdalam terhadap suatu peristiwa traumatis atau pengalaman
emosi yang pernah dimiliki. Salah satu keunggulan dari terapi expressive writing
ialah membebaskan para konseli menuangkan segala bentuk rasa kecemasaannya
dalam tulisan mereka tanpa harus memperhatikan susunan kata baku atau
penulisan bahasa yang baik dan benar (Purnamawini, Setiawan, & Hidayat, 2016).
Menulis ekspresif adalah suatu proses yang melibatkan pikiran, afeksi dan
motorik. Ketika seseorang menulis ekspresif, maka ia akan kembali merasakan
peristiwa yang terjadi, membuat suatu penilaian pada kejadian tersebut sehingga
memunculkan persepsi baru terhadap peristiwa tersebut (Ida, et al., 2016).
Expressive writing melibatkan perasaan dan pikiran terdalam dalam diri
seseorang tentang suatu peristiwa tertentu, intervensi ini termasuk sederhana,
tetapi dapat mengungkapkan emosi-emosi yang terpendam dalam diri seseorang
seperti dapat menurunkan stress, menurunkan migraine, menurunkan kecemasan,
dll (Schroder, Moran, & Moser, 2017).
Menulis ekspresif adalah sebuah proses terapi yang menggunakan metode
menulis ekspresif tentang bagaimana pengalaman perasaan yang pernah dialami
klien. Klien diberi waktu tertentu untuk menuangkan segala ekspresi tersebut ke
dalam sebuah tulisan. Terapi ini berfokus pada proses yang terapi tersebut
dilaksanakan, bukan pada hasil yang dihasilkan. Hal ini dikarenakan menulis
merupakan aktivitas yang personal, artinya menulis tersebut membebaskan
seseorang dalam menuangkan gagasan, saran maupun kritiknya dengan bentuk
tulisan.
Expressive Writing bertujuan untuk pencerahan jiwa melalui pelepasan
atau kegiatan menulis. Siapa saja berhak melakukannya tanpa pandang bulu.
Menulis ekspresif merupakan bentuk tulisan untuk melepaskan dan
mengeksplorasi emosi dan pikiran yang terdalam paling traumatis yang membuat
penderitanya merasa luka batin (Pranoto, 2015).
Konsep dasar dalam expressive writing adalah ketika orang mengubah
perasaan dan pikiran mereka mengenai hal yang bersifat pribadi dan pengalaman
menjengkelkan yang dituangmelalui tulisan. Expressive writing bertujuan untuk
meningkatkan pemahaman diri sendiri, oranglain mapupun lingkungan,
meningkatkan kreatifitas, mengekspresikan emosi, dll. Expressive writing juga
membantu individu untuk memahami dirinya dengan lebih baik, dan menghadapi
depresi, distress, kecemasan, adiksi, ketakutan terhadap penyakit, kehilangan dan
perubahan dalam kehidupannya (Susanti & Supriyantini, 2013).
Beberapa keuntungan menulis, seperti mengklarifikasi pikiran-pikiran dan
perasaan-perasaan mengetahui diri sendiri dengan lebih baik, menurunkan
tekanan karena menulis mengenai kemarahan, kesedihan dan emosi lain yang
menyakitkan, serta membantu melepaskan intensitas perasaan-perasaan tersebut,
memecahkan masalah dengan lebih efektif karena umumnya masalah dapat
dipecahkan melalui otak kiri, tetapi kadang-kadang hanya dapat ditemukan
dengan menggunakan otak kanan yang bersifat kreatif dan intuitif (Saifudin &
Kholidin, 2015).
Faktor-faktor yang Mempengaruhi Kecemasan (skripsi dan tesis)
Blacburn & Davidson (dalam Annisa dan Ifdil, 2016) menyebutkan
beberapa faktor yang mempengaruhi kecemasan, seperti pengetahuan yang
dimiliki dalam menyikapi suatu situasi yang mengancam serta mampu
mengetahui kemampuan mengendalikan diri dalam menghadapi kecemasan
tersebut.
Kemudian Adler dan Rodman (dalam Annisa & Ifdil, 2016) menyatakan
terdapat dua faktor yang dapat menimbulkan kecemasan, yaitu:
a. Pengalaman negatif pada masa lalu
Penyebab utama munculnya kecemasan yaitu adanya pengalaman
traumatis yang terjadi pada masa kanak-kanak. Peristiwa tersebut mempunyai
pengaruh pada masa yang akan datang. Ketika individu menghadapi peristiwa
yang sama, maka ia akan merasakan ketegangan sehingga menimbulkan
ketidaknyamanan. Sebagai contoh yaitu ketika individu pernah gagal dalam
menghadapi suatu tes, maka pada tes berikutnya ia akan merasa tidak nyaman
sehingga muncul rasa cemas pada dirinya.
b. Pikiran yang tidak rasional
Pikiran yang tidak rasional terbagi dalam empat bentuk, yaitu.
1) Kegagalan ketastropik, individu beranggapan bahwa sesuatu yang buruk
akan terjadi dan menimpa dirinya sehingga individu tidak mampu
mengatasi permasalahannya.
2) Kesempurnaan, individu mempunyai standar tertentu yang harus dicapai
pada dirinya sendiri sehingga menuntut kesempurnaan dan tidak ada
kecacatan dalam berperilaku.
3) Persetujuan
4) Generalisasi yang tidak tepat, yaitu generalisasi yang berlebihan, ini
terjadi pada orang yang memiliki sedikit pengalaman.
Terdapat beberapa hal yang dapat menyebabkan kecemasan. Menurut Iyus
(dalam Saifudin & Kholidin, 2015) menyebutkan beberapa faktor yang
mempengaruhi kecemasan seseorang meliputi
a. Usia dan tahap perkembangan, faktor ini memegang peran yang penting pada
setiap individu karena berbeda usia maka berbeda pula tahap
perkembangannya, hal tersebut dapat mempengaruhi dinamika kecemasan
pada seseorang.
b. Lingkungan, yaitu kondisi yang ada disekitar manusia. Faktor lingkungan
dapat mempengaruhi perilaku baik dari faktor internal maupun eksternal.
Terciptanya lingkungan yang cukup kondusif akan menurunkan resiko
kecemasan pada seseorang.
c. Pengetahuan dan pengalaman, dengan pengetahuan dan pengalaman seorang
individu dapat membantu menyelesaikan masalah-masalah psikis, termasuk
kecemasan.
d. Peran keluarga, keluarga yang memberikan tekanan berlebih pada anaknya
yang belum mendapat pekerjaan menjadikan individu tersebut tertekan dan
mengalami kecemasan selama masa pencarian pekerjaan.
Jenis Kecemasan (skripsi dan tesis)
Kecemasan dibagi menjadi beberapa jenis. Menurut Spilberger (dalam
Triantoro Safaria & Nofrans Eka Saputra, 2012) menjelaskan kecemasan dalam dua bentuk, yaitu:
a. Trait anxiety
Setiap individu mempunyai intensitas rasa cemas tersendiri. Trait anxiety
adalah suatu respon terhadap situasi yang mempengaruhi tingkat
kecemasannya. Individu yang memiliki trait anxiety tinggi, maka ia akan lebih
cemas dibandingkan dengan individu yang trait anxietynya rendah.
b. State anxiety
Kondisi emosional setiap dalam merespon suatu peristiwa berbeda. State
anxiety adalah respon individu terhadap suatu situasi yang secara sadar
menimbulkan efek tegang dan khawatir yang bersifat subjektif.
Menurut Freud (dalam Nida, 2014), kecemasan mempunyai tiga bentuk:
a. Kecemasan neurosis
Kecemasan neurosis dipengaruhi oleh tekanan id. Kecemasan ini muncul
karena pengalaman pada suatu objek yang menurutnya berbahaya sehingga
menimbulkan bayangan-bayangan yang membuatnya merasa terancam.
b. Kecemasan moral
Moral anxiety adalah kecemasan yang disebabkan adanya konflik antara
ego dan superego. Moral anxiety mucul ketika individu merasa bersalah, yaitu
ketika ia melanggar norma moral ataupun tidak sesuai dengan nilai moral
yang ada sehingga ia mendaptkan hukuman dari superego.
c. Kecemasan realistik
Kecemasan ini dikenal sebagai kecemasan yang objektif sebagai reaksi
dari ego yang terjadi setelah ia mengalami situasi yang membahayakan.
Kecemasan realistik merupakan rasa takut akan adanya bahaya-bahaya nyata
yang berasal dari dunia luar
Ciri-ciri Kecemasan (skripsi dan tesis)
Menurut Jeffrey S. Nevid, dkk kecemasan mempunyai ciri-ciri tersendiri,
diantaranya:
a. Ciri fisik dari kecemasan meliputi kegelisahan, kegugupan, tangan atau
anggota tubuh lain yang bergetar atau gemetar, sensasi dari pita ketat yang
mengikat disekitar dahi, banyak berkeringat, pening atau pingsan, sulit
berbicara, sulit bernapas, jari-jari atau anggota tubuh lain jadi dingin, panas
dingin, dll
b. Ciri behavioral dari kecemasan meliputi perilaku menghindar, perilaku
melekat dan dependen dan perilaku terguncang.
c. Ciri kognitif dari kecemasan meliputi khawatir tentang sesuatu, perasaan
terganggu akan ketakutan atau apprehensi terhadap sesuatu yang terjadi di
masa depan, keyakinan bahwa sesuatu yang mengerikan akan terjadi tanpa ada
penjelasan yang jelas, merasa terancam oleh orang ayau peristiwa yang
normalnya haya sedikit atau tidak mendapat perhatian, ketakutan akan
ketidakmampuan untuk mengatasi masalah.
Aspek-aspek dalam Kecemasan (skripsi dan tesis)
Gail W. Stuart (dalam Annisa & Ifdil, 2016) membagi kecemasan
(anxiety) dalam respon perilaku, kognitif, dan afektif, diantaranya.
a. Perilaku, berupa gelisah, tremor, berbicara cepat, kurang koordinasi,
menghindar, lari dari masalah, waspada, ketegangan fisik, dll.
b. Kognitif, berupa konsentrasi terganggu, kurang perhatian, mudah lupa,
kreativitas menurun, produktivitas menurun, bingung, sangat waspada, takut
kehilangan kendali, mengalami mumpi buruk, dll.
c. Afektif, berupa tidak sabar, tegang, gelisah, tidak nyaman, gugup, waspada,
ketakutan, waspada, kekhawatiran, mati rasa, merassa bersalah, malu, dll.
Menurut Vye (dalam Purnamarini, Setiawan, & Hidayat, 2016)
mengungkapkan bahwa gejala kecemasan dapat diidentifikasikan melalui dalam
tiga komponen yaitu:
a. Komponen koginitif:
Cara individu memandang keadaan yaitu mereka berfikir bahwa terdapat
kemungkinan-kemungkinan buruk yang siap mengintainya sehingga
menimbulan rasa ragu, khawatir dan ketakutan yang berlebih ketika hal
tersebut terjadi. Mereka juga menganggap dirinya tidak mampu, sehingga
mereka tidak percaya diri dan menganggap situasi tersebut sebagai suatu
ancaman yang sulit dan kurangmampu untuk diatasi.
b. Komponen Fisik:
Pada komponen fisik berupa gejala yang dapat dirasakan langsung oleh
fisik atau biasa disebut dengan sensasi fisioligis. Gejala yang dapat terjadu
seperti sesak napas, detak jantung yang lebih cepat, sakit kepada, sakit perut
dan ketegangan otot. Gejala ini merupakan respon alami yang terjadi pada
tubuh saat individu merasa terancam atau mengalami situasi yang berbahaya.
Terkadang juga menimbulkan rasa takut pada saat sensasi fisologis tersebut
terjadi.
c. Komponen Perilaku:
Pada komponen perilaku melibatkan perilaku atau tindakan seseorang
yang overcontrolling.
Greenberger dan Padesky (dalam Fenn & Byrne, 2013) menjabarkan
bahwa ada empat aspek kecemasan yaitu:
a. Physical symptoms atau reaksi fisik yang terjadi pada orang yang cemas,
seperti telapak tangan yang berkeringat, otot tegang, jantung berdebar, sulit
bernafas, pusing ketika individu menghadapi kecemasan.
b. Thought, yaitu pemikiran negatif dan irasional individu berupa perasaan tidak
mampu, tidak siap, dan merasa tidak memiliki keahlian, seperti tidak siap
dalam menghadapi wawancara kerja, tidak yakin dengan kemampuannya
sendiri. Pemikiran ini cenderung akan menetap pada individu, jika individu
tidak merubah pemikiran menjadi sesuatu yang lebih positif.
c. Behavior, individu dengan kecemasan akan cenderung menghindari situasi
penyebab kecemasan tersebut dikarenakan individu merasa dirinya terganggu
dan tidak nyaman seperti keringat dingin, mual, sakit kepala, leher kaku, dan
juga gangguan tidur saat memikirkan dunia kerja kelak. Perilaku yang muncul
seperti kesulitan tidur saat memikirkan pekerjaan.
d. Feelings, yaitu susana hati individu dengan kecemasan cenderung meliputi
perasaan marah, panik, gugup yang dapat memunculkan kesulitan untuk
memutuskan sesuatu seperti perasaan gugup saat ada perbincangan dunia
kerja.
Jadi aspek-aspek dari kecemasan yaitu respon reaksi fisik, pemikiran,
perilaku dan suasana hati.
Pengertian Kecemasan (skripsi dan tesis)
Setiap individu mempunyai kecemasannya sendiri. Banyak hal yang
dicemaskan oleh setiap individu, misalnya pada kesehatan, relasi sosial, ujian,
karir, kondisi lingkungan adalah beberapa hal yang dapat menjadi sumber
kecemasan seseorang. Hal tersebut dianggap normal apabila seorang individu
sedikit cemas dengan aspek-aspek hidup tersebut. Kecemasan tersebut dapat
bermanfaat apabila mendorong individu agar melakukan pemeriksaan medis
ataupun memotivasi diri untuk melakukan hal yang positif (Nevid, Rathus, &
Greene, 2006).
Kecemasan adalah suatu kejadian yang mudah terjadi pada seseorang
karena suatu faktor tertentu tidak spesifik (Sari & Batubara, 2017).
Anxietas/kecemasan adalah suatu keadaan aprehensi atau keadaan khawatir yang
mengeluhkan bahwa sesuatu yang buruk akan terjadi. Kecemasan merupakan
respon yang tepat terhadap ancaman, tetapi kecemasan dapat menjadi abnormal
apabila tingkatannya tidak sesuai dengan porsi ancamannya ataupun datang tanpa
adanya sebab tertentu (Nevid, Rathus, & Greene, 2006).
Syamsu Yusuf menyatakan anxiety (cemas) yaitu ketidakmampuan
neurotic, merasa terganggu, tidak matang dan ketidakberdayaan dalam
menghadapi kenyataan yang ada (lingkungan), kesulitan dan tekanan kehidupan
sehari-hari. Sependapat dengan pernyataan tersebut, Kartini Kartono menjelaskan
bahwa kecemasan adalah suatu bentuk ketakutan dan kerisauan dengan hal-hal
tertentu tanpa kejelasan yang pasti. Dikuatkan oleh Sarlito Wirawan bahwa
kecemasan merupakan ketakutan yang tidak jelas pada suatu objek dan tidak
memiliki suatu alasan tertentu (Annisa & Ifdil, 2016).
Spielberger (1971) mendefinisikan kecemasan sebagai suatu bentuk emosi
yang berdasarkan oleh simbol-simbol, kewaspadaan, dan unsur-unsur yang tidak
pasti. Selanjutnya dijelaskan bahwa konsep ancaman yaitu penilaian dari orang
lain yang bersifat negatif sehingga mengancam diri individu tersebut. Kecemasan
juga merupakan keadaan yang mana pola tingkah laku direpresentasikan dengan
keadaan emosional yang dihasilkan dari pikiran-pikiran dan perasaan yang tidak
menyenangkan (Purnamarini, Setiawan & Hidayat, 2016)
Setelah dipaparkan definisi kecemasan tersebut, dapat disimpulkan bahwa
kecemasan adalah suatu bentuk emosi yang tidak dapat dikontrol oleh diri
individu sehingga membuat individu tersebut tidak nyaman, meruakan
pengalaman yang samar dan merasa memiliki ketidakmampuan yang irasional
Kelebihan dan kekurangan general anestesi (skripsi dan tesis)
Menurut Press (2013) seorang penyedia anestesi bertanggungjawab
untuk menilai semua faktor yang mempengaruhi kondisi medis pasien
dan memilih teknik anestesi yang optimal sesuai atribut general anestesi,
meliputi:
1) Kelebihan
a) Mengurangi kesadaran dan ingatan intra operatif pasien
b) Memungkinkan relaksasi otot yang diperlukan untuk jangka
waktu yang lama
c) Memfasilitasi kontrol penuh terhadap jalan nafas, pernafasan dan
sirkulasi
d) Dapat digunakan dalam kasus – kasus kepekaan terhadap agen
anestesi lokal
e) Dapat diberikan tanpa memindahkan pasien dari posisi terlentang
f) Dapat disesuaikan dengan mudah dengan durasi prosedur yang tak
terduga
g) Dapat diberikan dengan cepat dan bersifat reversible
2) Kekurangan
a) Membutuhkan peningkatan kompleksitas perawatan dan biaya
terkait
b) Membutuhkan beberapa derajat persiapan pasien sebelum operasi
c) Dapat menyebabkan fluktuasi fisiologis yang memerlukan
intervensi aktif
Poltekkes Kemenkes Yogyakarta
d) Terkait dengan komplikasi yang kurang serius seperti mual,
muntah, sakit tenggorokan, sakit kepala, mengigil (hipotermi) dan
tertunda kembali ke fungsi mental yang normal
Fase anestesi (skripsi dan tesis)
Menurut Mangku & Senapathi (2010), ada 3 fase anestesi, meliputi:
1) Fase pre anestesi
Pada tahap pre anestesi, seorang perawat akan menyiapkan hal – hal
yang dibutukan selama operasi. Contoh: pre visite pasien yang akan
melakukan operasi, persiapan pasien, pasien mencukur area yang
akan dilakukan operasi, persiapan catatan rekam medik, persiapan
obat premedikasi yang harus diberikan kepada pasien.
2) Fase intra anestesi
Pada fase intra anestesi, seorang perawat anestesi akan melakukan
monitoring keadaan pasien. Perawat anestesi akan melihat
hemodinamik dan keadaan klinis pasien yang menjalani operasi.
3) Fase pasca anestesi
Pada tahap ini, perawat anestesi membantu pasien dalam menangani
respon – respon yang muncul setelah tindakan anestesi. Respon
tersebut berupa nyeri, mual muntah, hipotermi bahkan sampai
menggigil
Definisi General anestesi (skripsi dan tesis)
Salah satu konsep pelayanan kesehatan modern yang berkembang
saat ini adalah bentuk pelayanan di bidang medis, yang mempunyai
kaitan erat dengan penggunaan peralatan dan pemanfaatan teknologi
dalam pelaksanaannya, seperti misalnya anestesi, akan mengalami
perkembangan teknologi peralatan yang digunakan (Soenarjo & Jatmiko,
2013). Anestesi merupakan suatu tindakan untuk menghilangkan rasa
sakit ketika dilakukan pembedahan dan berbagai prosedur lain yang
menimbulkan rasa sakit pada tubuh dan salah satu yang sangat penting
dalam anestesi adalah penentuan klasifikasi ASA (Majid, Judha &
Istianah, 2011). General anestesi adalah keadaan fisiologis yang berubah
ditandai dengan hilangnya kesadaran reversible, analgesia dari seluruh
tubuh, amnesia, dan beberapa derajat relaksasi otot (Morgan & Mikhail,
2013). Ketidaksadaran tersebut yang memungkinkan pasien untuk
mentolerir prosedur bedah yang akan menimbulkan rasa sakit tak
tertahankan. Selama anestesi, pasien tidak sadar tetapi tidak dalam
keadaan tidur yang alami (Press, 2013).
Pre anestesi (skripsi dan tesis)
Anestesi adalah cabang ilmu kedokteran yang mempelajari
tatalaksana untuk menghilangkan rasa, baik rasa nyeri, takut dan rasa tidak
nyaman sehingga pasien merasa lebih nyaman. Untuk mendapatkan hasil
yang optimal selama operasi dan anestesi maka diperlukan tindakan pre
anestesi yang baik. Tindakan pre anestesi tersebut merupakan langkah lanjut
dari hasil evaluasi pre operasi khususnya anestesi untuk mempersiapkan
kondisi pasien, baik psikis maupun fisik pasien agar pasien siap dan optimal
untuk menjalani prosedur anestesi dan diagnostik atau pembedahan yang
akan direncanakan (Mangku, 2010).
Tujuan dari pre anestesi menurut Mangku (2010) adalah :
a. Mengetahui status fisik klien pre operatif
b. Mengetahui dan menganalisa jenis operasi
c. Memilih jenis / teknik anestesi yang sesuai
d. Mengetahui kemungkinan penyulit yang mungkin akan terjadi selama
pembedahan dan atau pasca bedah
e. Mempersiapkan obat / alat guna menanggulangi penyulit yang
dimungkinkan
Pada kasus bedah elektif, evaluasi pre anestesi dilakukan sehari
sebelum pembedahan. Kemudian evaluasi ulang dilakukan di kamar
persiapan instalasi bedah sentral (IBS) untuk menentukan status fisik
berdasarkan ASA (American Society of Anesthesiologist). Pada kasus bedah
darurat, evaluasi dilakukan pada saat itu juga di ruang persiapan operasi
instalasi rawat darurat (IRD), karena waktu yang tersedia untuk evaluasi
sangat terbatas, sehingga sering kali informasi tentang penyakit yang di
derita kurang akurat. Menurut Mangku (2010) persiapan pre anestesi di
rumah sakit meliputi :
a. Persiapan psikologis
1) Berikan penjelasan kepada klien dan keluarganya agar mengerti
perihal rencana anestesi dan pembedahan yang dijalankan, sehingga
dengan demikian diharapkan pasien dan keluarga bisa tenang.
2) Berikan obat sedatif pada klien yang mengalami kecemasan
berlebihan atau klien tidak kooperatif misalnya pada klien pediatrik
(kolaborasi).
3) Pemberian obat sedatif dapat dilakukan secara oral pada malam hari
menjelang tidur dan pada pagi hari 60 – 90 menit sebelum operasi,
rektal khusus untuk klien pediatrik pada pagi hari sebelum masuk
IBS (kolaborasi).
b. Persiapan fisik
1) Hentikan kebiasaan seperti merokok, minum – minuman keras dan
obat – obatan tertentu minimal dua minggu sebelum anestesi.
2) Tidak memakai protesis atau aksesoris.
3) Tidak mempergunakan cat kuku atau cat bibir.
4) Program puasa untuk pengosongan lambung, dapat dilakukan sesuai
dengan aturan.
5) Klien dimandikan pagi hari menjelang ke kamar bedah, pakaian
diganti dengan pakaian khusus kamar bedah dan kalau perlu klien
diberi label.
c. Pemeriksaan fisik
Pemeriksaan fisik pasien yang akan dilakukan operasi dan anestesi
adalah sebagai berikut :
1) Pemeriksaan atau pengukuran status present : kesadaran, frekuensi
napas, tekanan darah, nadi, suhu tubuh, berat badan dan tinggi badan
untuk menilai status gizi pasien.
2) Pemeriksaan fisik umum meliputi pemeriksaan status :
(a) Psikologis : gelisah, cemas, takut, atau kesakitan
(b) Syaraf (otak, medulla spinalis, dan syaraf tepi)
(c) Respirasi
(d) Hemodinamik
(e) Penyakit darah
(f) Gastrointestinal
(g) Hepato – billier
(h) Urogenital dan saluran kencing
(i) Metabolik dan endokrin
(j) Otot rangka
(k) Integumen
d. Membuat surat persetujuan tindakan medik
Pada klien dewasa dan sadar bisa dibuat sendiri dengan
menandatangani lembaran formulir yang sudah tersedia pada catatan
medik dan disaksikan kepala ruangan tempat klien dirawat, sedangkan
pada klien bayi / anak – anak / orangtua atau klien tidak sadar
ditandatangani oleh salah satu keluarganya yang bertanggung jawab dan
juga disaksikan oleh kepala ruangan.
e. Persiapan lain yang bersifat khusus pre anestesi
Apabila dipandang perlu dapat dilakukan koreksi terhadap kelainan
sistemik yang dijumpai pada saat evaluasi pre anestesi misalnya :
transfusi, dialisa, fisioterapi, dan lainnya sesuai dengan prosedur tetap
tatalaksana masing – masing penyakit yang diderita klien
Hal – hal yang dapat mengurangi / menurunkan kecemasan (skripsi dan tesis)
1) Penatalaksanaan farmakologi
Pengobatan untuk anti kecemasan terutama benzodiazepine, obat ini
digunakan untuk jangka pendek, dan tidak dianjurkan untuk jangka
panjang karena pengobatan ini menyebabkan toleransi dan
ketergantungan. Obat anti kecemasan nonbenzodiazepine, seperti
buspiron (Busppar) dan berbagai antidepresan juga digunakan
(Isaacs, 2005).
2) Penatalaksanaan non farmakologi
Banyak pilihan terapi non farmakologi yang merupakan tindakan
mandiri perawat dengan berbagai keuntungan diantaranya tidak
menimbulkan efek samping, simple dan tidak berbiaya mahal
(Roasdalh & Kawalski, 2015). Perawat dapat melakukan terapi –
terapi seperti terapi relaksasi, distraksi, meditasi, imajinasi. Terapi
relaksasi adalah tehnik yang didasarkan kepada keyakinan bahwa
tubuh berespon pada ansietas yang merangsang pikiran karena nyeri
atau kondisi penyakitnya. Teknik relaksasi dapat menurunkan
ketegangan fisiologis (Asmadi, 2009). Terapi relaksasi memiliki
berbagai macam yaitu latihan nafas dalam, masase, relaksasi
progresif, imajinasi, biofeedback, yoga, meditasi, sentuhan
terapeutik, terapi musik, serta humor dan tawa (Kozier, Erb,
Berman, & Snyder, 2010)
Alat ukur kecemasan (skripsi dan tesis)
Untuk mengetahui sejauh mana derajat kecemasan seseorang
apakah ringan, sedang, berat atau berat sekali menggunakan alat ukur
(instrument) yang dikenal dengan :
1) Hamilton Rating Scale for Anxiety (HRS – A).
Alat ukur ini terdiri dari 14 kelompok, dengan gejala masing masing
kelompok dirinci lagi dengan gejala – gejala yang lebih spesifik.
Petunjuk penggunaan alat ukur HRS – A adalah : penilaian 0 = tidak
ada (tidak ada gejala sama sekali); 1 = ringan (satu gejala dari pilihan
yang ada); 2 = sedang (separuh dari gejala yang ada); 3 = berat (lebih
dari separuh dari gejala yang ada); 4 = sangat berat (semua gejala yang
ada). Penilaian kecemasan skor < 6 = tidak ada kecemasan, skor 7 –
14 = kecemasan ringan, skor 15 – 27 = kecemasan sedang, skor > 27
= kecemasan berat (Hawari, 2008).
2) The Amsterdam Preoperative Anxiety and Information Scale
(APAIS).
Menurut Firdaus (2014) The Amsterdam Preoperative Anxiety and
Information Scale (APAIS) merupakan salah satu instrument yang
digunakan untuk mengukur kecemasan pre operatif yang telah
divalidasi, diterima dan diterjemahkan ke dalam berbagai bahasa di
dunia. Instrument APAIS dibuat pertama kali oleh Moerman pada
tahun 1995 di Belanda. Uji validitas dan reliabilitas instrument APAIS
versi Indonesia didapatkan hasil yang valid dan reliabel untuk
mengukur kecemasan pre operatif pada populasi Indonesia dengan
hasil 70,79% dan nilai Cronbach Alpha komponen kecemasan adalah
0,825 dan 0,863. Isi pertanyaan dari Skala APAIS tersebut terdiri dari
enam item pertanyaan, yaitu :
1) Saya cemas di bius (1, 2, 3, 4, 5)
2) Saya terus menerus memikirkan tentang pembiusan (1, 2, 3, 4,
5)
3) Saya ingin tahu sebanyak mungkin tentang pembiusan (1, 2, 3,
4, 5)
4) Saya cemas di operasi (1, 2, 3, 4, 5)
5) Saya terus menerus memikirkan tentang operasi (1, 2, 3, 4, 5)
6) Saya ingin tahu sebanyak mungkin tentang operasi (1, 2, 3, 4, 5)
Dari kuesioner tersebut, untuk setiap item mempunyai nilai 1 – 5
dari setiap jawaban yaitu : 1 = sama sekali tidak; 2 = tidak terlalu; 3
= sedikit; 4 = agak; 5 = sangat. Jadi dapat diklasifikasikan sebagai
berikut :
a) 6 : tidak ada kecemasan
b) 7 – 12 : kecemasan ringan
c) 13 – 18 : kecemasan sedang
d) 19 – 24 : kecemasan berat
e) 25 – 30 : kecemasan berat sekali/panik
Pada penelitian ini peneliti lebih memilih menggunakan alat ukur
APAIS karena alat ukur APAIS dirancang khusus untuk mengukur
kecemasan pasien pre anestesi dan pre operasi.
Rentang respon kecemasan (skripsi dan tesis)
1) Respon adaptif
Komunikasi terapeutik (skripsi dan tesis)
Komunikasi sangat dibutuhkan baik bagi perawat maupun pasien. Terlebih bagi pasien yang akan menjalani proses anestesi. Hampir sebagian besar pasien yang menjalani anestesi mengalami kecemasan. Pasien sangat membutuhkan penjelasan yang baik dari perawat. Komunikasi yang baik diantara mereka akan menentukan tahap anestesi selanjutnya. Pasien yang cemas saat akan menjalani tindakan anestesi kemungkinan mengalami efek yang tidak menyenangkan bahkan akan membahayakan.
Faktor – faktor yang mempengaruhi kecemasan (skripsi dan tesis)
Menurut Muttaqin dan Sari (2009) faktor – faktor yang dapat
menyebabkan kecemasan pasien pre operasi adalah takut terhadap nyeri,
kematian, ketidaktahuan, takut tentang deformitas dan ancaman lain
terhadap citra tubuh. Sedangkan faktor – faktor yang mempengaruhi
kecemasan menurut Kaplan dan Sadock (2010) adalah :
1) Faktor – faktor intrinsik antara lain :
a) Usia pasien
Gangguan kecemasan dapat terjadi pada semua usia, lebih
sering pada usia dewasa dan lebih banyak pada wanita. Sebagian
besar kecemasan terjadi pada usia 21 – 45 tahun. Feist (2009)
mengungkapkan bahwa semakin bertambahnya usia, kematangan
psikologi individu semakin baik, artinya semakin matang
psikologi seseorang maka akan semakin baik pula adaptasi
terhadap kecemasan.
b) Pengalaman pasien menjalani pengobatan (operasi)
Pengalaman awal pasien dalam pengobatan merupakan
pengalaman – pengalaman yang sangat berharga yang terjadi
pada individu terutama untuk masa – masa yang akan datang.
Pengalaman awal ini sebagai bagian penting dan bahkan sangat
menentukan bagi kondisi mental individu di kemudian hari.
Apabila pengalaman individu tentang anestesi kurang, maka
cenderung mempengaruhi peningkatan kecemasan saat
menghadapi tindakan anestesi.
c) Konsep diri dan peran
Konsep diri adalah semua ide, pikiran, kepercayaan dan
pendirian yang diketahui individu terhadap dirinya dan
mempengaruhi individu berhubungan dengan orang lain.
2) Faktor – faktor ekstrinsik antara lain :
a) Kondisi medis (diagnosis penyakit)
Terjadinya gejala kecemasan yang berhubungan dengan
kondisi medis sering ditemukan walaupun insidensi gangguan
bervariasi untuk masing – masing kondisi medis, misalnya : pada
pasien sesuai hasil pemeriksaan akan mendapatkan diagnosa
pembedahan, hal ini akan mempengaruhi tingkat kecemasan
pasien. Sebaliknya pada pasien dengan diagnosa baik tidak terlalu
mempengaruhi tingkat kecemasan.
b) Tingkat pendidikan
Pendidikan bagi setiap orang memiliki arti masing – masing.
Pendidikan pada umumnya berguna dalam merubah pola pikir,
pola bertingkah laku dan pola pengambilan keputusan. Tingkat
pendidikan yang cukup akan lebih mudah dalam mengidentifikasi
stresor dalam diri sendiri maupun dari luar dirinya. Tingkat
pendidikan juga mempengaruhi kesadaran dan pemahaman
terhadap stimulus.
c) Akses informasi
Akses informasi adalah pemberitahuan tentang sesuatu agar
orang membentuk pendapatnya berdasarkan sesuatu yang
diketahuinya. Informasi adalah segala penjelasan yang
didapatkan pasien sebelum pelaksanaan tindakan anestesi terdiri
dari tujuan anestesi, proses anestesi, resiko dan komplikasi serta
alternatif tindakan yang tersedia, serta proses administrasi.
d) Proses adaptasi
Tingkat adaptasi manusia dipengaruhi oleh stimulus internal
dan eksternal yang dihadapi individu dan membutuhkan respon
perilaku yang terus menerus. Proses adaptasi sering menstimulasi
individu untuk mendapatkan bantuan dari sumber – sumber di
lingkungan dimana dia berada. Perawat merupakan sumber daya
yang tersedia di lingkungan rumah sakit yang mempunyai
pengetahuan dan keterampilan untuk membantu pasien
mengembalikan atau mencapai keseimbangan diri dalam
menghadapi lingkungan yang baru.
e) Tingkat sosial ekonomi
Status sosial ekonomi juga berkaitan dengan pola gangguan
psikiatrik.
Masalah dalam Persediaan (skripsi dan tesis)
Mengelola persediaan tidak lepas dari berbagai permasalahan yang muncul baik dari internal perusahaan maupun eksternal perusahaan. Permasalahan tersebut menyebebabkan sistem persediaan pada seluruh jaringan rantai pasok tidak efektif. Perusaahaan sering kali dihadapi dengan permasahan yang bervariasi terkait dengan perilaku individu maupun organisasi. Beberapa hambatan dalam mengelola persediaan diseluruh jaringan rantai pasok dan memiliki peluang besar untuk meningkatkan pengaturan serta pengawasan yaitu sebagai berikut (Lee & Billington, 1992) :
Fungsi dan Tujuan Persediaan (skripsi dan tesis)
Adanya persediaan disebabkan karena tidak samanya jumlah permintaan dengan persediaan dan waktu yang dibutuhkan untuk memproses bahan baku menjadi produk. Perencanaan dan pengendalian persediaan berguna untuk menjadikan proses produksi dan pemasaran tetap stabil saat permintaan meningkat ataupun menurun. Persediaan bahan baku digunakan untuk mengurangi ketidakpastian produksi akibat fluktuasi pasokan bahan baku, persediaan penyangga dan komponen digunakan untuk mengurangi ketidakpastian produksi akibat kerusakan mesin, dan persediaan produk digunakan untuk memenuhi fluktuasi permintaan yang tidak segera dipenuhi oleh produksi mengingat produksi membutuhkan bahan baku (Kusuma, 2001). Pesediaan dibutuhkan karena adanya lead time antar operasi, pembelian bahan baku dan pendistribusian bahan baku ke setiap titik pemasaran. Lead time adalah waktu yang dibutuhkan untuk memperoleh suatu produk atau dengan kata lain lead time adalah waktu tunggu. Terdapat empat faktor yang dijadikan sebagai fungsi perlunya persediaan, diantaranya sebagai berikut (Yamit, 2003) :
Definisi dan Jenis Persediaan (skripsi dan tesis)
Pengendalian persediaan merupakan salah satu aspek utama dan kritis untuk mencapai kesuksesan sebuah perusahaan. Persediaan adalah sumberdaya menganggur (idle resource) yang menunggu proses lebih lanjut berupa kegiatan produksi pada sistem manufaktur, kegiatan pemasaran pada sistem distribusi ataupun kegiatan konsumsi pangan pada sistem rumah tangga (Nasution, 2003). Persediaan didefinisikan sebagai barang yang disimpan untuk digunakan atau dijual pada periode mendatang. Persediaan dapat berbentuk bahan baku yang disimpan untuk diproses, komponen yang diproses, bahan dalam proses (work in process) pada proses manufaktur, dan barang jadi yang disimpan untuk dijual (Kusuma, 2001). 6 Inventory adalah persediaan barang fisik yang berada pada lokasi tertentu pada waktu tertentu. Persediaan dibutuhkan karena permintaan penawaran terkadang tidak sesuai disebabkan alasan fisik dan ekonomi (Narasimhan, W, & Billington, 1995). Permintaan sebuah produk tinggi atau rendah dipengaruhi oleh berbagai macam kondisi misalnya inflasi-deflasi, musim ataupun dari pihak produsen sendiri karena pemberian diskon besar-besaran. permintaan akan menurun ketika terjadinya inflasi yang mengakibatkan produk-produk di pasaran mengalami kenaikan harga. Sebaliknya, permintaan meningkat ketika produk di pasaran mengalami penurunan harga. Contoh lainnya permintaan kebutuhan sekolah seperti tas, seragam dan buku tulis akan meningkat ketika memasuki tahun ajaran baru. Dari beberapa definisi diatas dapat disimpulkan bahwa persediaan adalah barang yang disimpan baik berupa bahan baku, work in process, maupun produk jadi dengan tujuan untuk mengantisipasi melonjaknya permintaan sehingga tidak bisa memenuhi kepuasan pelanggan. Namun disisi lain, persediaan yang berlebihan juga tidak diharapkan terjadi karena akan meningkatkan biaya operasional perusahaan akibat biaya simpan yang terus bertambah dari waktu ke waktu. Keberadaan persediaan disatu sisi di anggap sebagai pemborosan (waste) sehingga dapat dikatakan sebagai beban (liability) yang harus dihilangkan, tetapi disisi lain juga dianggap sebagai kekayaan atau aset yang sangat diperlukan untuk menjamin kelancaran pemenuhan permintaan (Prasetyo, Nugroho, & Pujiarti, 2006).
