Desain Penelitian (skripsi dan tesis)

Desain penelitian merupakan rancangan penelitian yang disusun sedemikian rupa sehingga dapat menuntun peneliti untuk dapat memeperoleh jawaban terhadap pertanyaan penelitian. Dalam pengertian yang lebih luas desain penelitian mencakup pelbagai hal yanga dilakukan peneliti, mulai dari identifikasi masalah, rumusan hipotesis, operasionalisasi hipotesis, cara pengumpulan data, samapai akhirnya analisis data. Dalam pengertian sempit desain penelitian mengacu pada jenis penelitian yang digunakan untuk mencapai tujuan peneltian.

Dengan demikian maka pada hakekatnya desain penelitian merupakan suatu wahana untuk mencapai tujuan penelitian,yang juga berperan sebagai rambu-rambu yang akan menentukan peneliti dalam seluruh proses penelitian. Dalam garis besar, desain penelitian mempunyai 2 kegunaan yang amat penting dalam keseluruhan proses penelitian, yakni:

  • Merupakan sarana bagi peneliti untuk memperoleh jawaban terhadap pertanyaan penelitian.
  • Merupakan alat bagi peneliti untuk dapat mengendalikan atau mengontrol pelbagai variabel yang berpengaruh atau berperan dalam suatu penelitian

Eksperimen Dalam Studi Medis (skripsi dan tesis)

 Dengan studi eksperimental, peneliti meneliti efek intervensi dengan cara memberikan berbagai level intervensi kepada subjek penelitian dan membandingkan efek dari berbagai level intervensi itu. Kelompok subjek yang mendapatkan intervensi disebut kelompok eksperimental (kelompok intervensi). Kelompok subjek yang tidak mendapatkan intervensi atau mendapatkan intervensi lain disebut kelompok kontrol. Kelompok kontrol mendapatkan intervensi kosong (plasebo, sham treatment), intervensi lama (standar), atau intervensi dengan level/ dosis yang berbeda.Dalam eksperimen, peneliti mengontrol kondisi penelitian untuk meningkatkan validitas internal, yaitu agar kesimpulan yang ditarik tentang efek intervensi memang merupakan efek yang sesungguhnya dari intervensi tersebut. Terdapat lima cara mengontrol kondisi penelitian: (1) Memberikan gradasi intervensi yang berbeda; (2) Melakukan randomisasi; (3) Melakukan restriksi; (4) Melakukan “pembutaan” (blinding); dan (5) Melakukan “intention-to-treat analysis”. Pertama, peneliti memberikan berbagai level intervensi kepada subjek penelitian agar dapat mempelajari efek dari pemberian berbagai level intervensi itu. Pendekatan ini merupakan implementasi metodologis inferensi kausal dalam kriteria kausasi Hill yang disebut “dose-response relationship” (hubungan dosisrespons). Jika perubahan level intervensi/ paparan faktor diikuti oleh perubahan efek intervensi secara proporsional menurut level intervensi, maka temuan itu menguatkan kesimpulan hubungan kausal (Ibrahim et al., 2001; Last, 2001). Kedua, peneliti menerapkan prosedur randomisasi dalam mengalokasikan (menempatkan) subjek penelitian ke dalam kelompok eksperimental dan kelompok kontrol. Dengan prosedur random maka hanya faktor peluang (chance) yang menentukan subjek penelitian akan terpilih ke dalam kelompok eksperimental atau kelompok kontrol, bukan kemauan subjektif peneliti. Randomisasi menyebarkan faktor-faktor perancu yang diketahui maupun tidak diketahui oleh peneliti secara ekuivalen ke dalam kelompok-kelompok studi. Dengan demikian randomisasi mengeliminasi atau mengurangi pengaruh faktor perancu. Kondisi itu merupakan karakteristik randomized controlled trial (RCT). Karena distribusi faktor perancu telah dibuat sebanding antara kelompok eksperimental dan kelompok kontrol pada posisi awal (baseline) sebelum dilakukan intervensi, maka peneliti tidak perlu mengukur variabel hasil sebelum intervensi, melainkan cukup mengukur variabel hasil setelah intervensi. Jika subjek penelitian dialokasikan ke dalam kelompok eksperimen atau kelompok kontrol tidak dengan prosedur randomisasi, maka desain studi eksperimental ini disebut eksperimen kuasi (eksperimen non-randomisasi) (Last, 2001).
 Pada eksperimen kuasi, distribusi fakktor perancu pada awal studi (sebelum intervensi) tidak sebanding. Karena itu agar mendapatkan hasil analisis efek intervensi yang benar, peneliti harus mengukur variabel hasil sebelum dan sesudah intervensi, lalu memperhitungkan posisi awal variabel hasil tersebut pada analisis data ketika membandingkan efek intervensi antara kelompok intervensi dan kontrol setelah intervensi. Ketiga, sebagai alternatif randomisasi, pengaruh faktor perancu dapat dikendalikan dengan restriksi. Dengan restriksi peneliti menerapkan kriteria inklusi dan eksklusi dalam memilih subjek penelitian, sehingga semua subjek penelitian pada kelompok eksperimen dan kelompok kontrol memiliki level atau kategori faktor perancu yang sama. Karena level atau kategori faktor perancu sama antara kelompok eksperimental dan kelompok kontrol, maka sampai pada tingkat tertentu restriksi dapat mengontrol pengaruh faktor perancu. Meskipun demikian, satu hal perlu dicamkan. Peneliti harus paham bahwa metode restriksi untuk mengendalikan faktor perancu sesungguhnya bersifat dilematis dan kontraproduktif. Mengapa? Karena restriksi memangkas sampel potensial.

Kandidat subjek penelitian tidak jadi diteliti karena termasuk dalam kriteria eksklusi. Alasan lainnya yang lebih serius, restriksi membuat sampel yang diteliti menjadi spesifik, sehingga mempersempit kemampuan generalisasi (generalizability) kesimpulan penelitian. Dengan kata lain, restriksi mencederai validitas eksternal (external validity). Makin banyak restriksi, makin terbatas kemampuan generalisasi temuan penelitian. Di sisi lain, restriksi yang tidak cukup sempit akan meninggalkan kerancuan sisa (residual confounding) (Kleinbaum et al., 1982; Hennekens dan Buring, 1987; Rothman, 2002). Keempat, peneliti studi eksperimental perlu menerapkan “pembutaan” (blinding). Dengan pembutaan, subjek penelitian, pengamat, dan penganalisis data dibuat tidak mengetahui status intervensi subjek yang diteliti, atau status intervensi yang diberikan kepada subjek penelitian (apakah intervensi yang sesungguhnya atau plasebo/ obat standar). Pembutaan bertujuan untuk mencegah bias informasi (bias pengukuran, “information/measurement bias”). Jika subjek penelitian mengetahui bahwa dia mendapatkan intervensi yang sesungguhnya atau hanya plasebo, maka sadar atau tidak, respons subjek penelitian dapat dipengaruhi oleh pengetahuan tersebut. Demikian pula jika pengamat mengetahui hipotesis penelitian dan status intervensi subjek penelitian, maka ada kemungkinan proses pengukuran variabel, wawancara, pencatatan, dan pemasukan data, akan terpengaruh oleh hipotesis penelitian, disebut “interviewer bias” (bias pewawancara) (Hennekens dan Buring, 1987). Demikian juga jika penganalisis data mengetahui hipotesis penelitian, maka ada kemungkinan proses pemasukan data, analisis data, dan penarikan kesimpulan hasil analisis akan dipengaruhi oleh hipotesis penelitian. Kelima, untuk mempertahankan efek randomisasi dalam mengontrol kerancuan, data dari RCT hendaknya dianalisis dengan “intention-to-treat analysis” (ITT). Dengan ITT, semua subjek hasil randomisasi, baik yang mematuhi protokol penelitian maupun tidak (misalnya, ketidakpatuhan minum obat), baik yang menyelesaikan intervensi maupun drop out, dilakukan analisis. Jadi hasil ITT mencerminkan hasil randomisasi dan menunjukkan efektivitas (effectiveness) intervensi ketika diterapkan pada populasi yang sesungguhnya. Pada realitas sehari-hari, karena suatu alasan tidak semua pasien minum obat dengan teratur dan tidak semua menyelesaikan waktu pengobatan sesuai dengan yang diinginkan. Jika analisis data pada keadaan seperti itu tetap menunjukkan efektivitas terapi, maka bisa disimpulkan bahwa terapi tersebut benar-benar efektif ketika digunakan pada populasi pasien yang sesungguhnya. Dalam epidemiologi dikenal eksperimen alamiah (“natural experiment”). Dengan eksperimen alamiah peneliti hanya mengamati efek intervensi yang telah diberikan oleh pihak lain, bukan oleh peneliti sendiri. Penyelidikan wabah kolera yang dilakukan John Snow di London merupakan contoh “natural experiment”. Karena peran peneliti bersifat observasional, maka “natural experiment” hakikatnya identik dengan studi kohor prospektif (Rothman, 2002).

Studi obervasional Dalam Studi Epidemiologi (skripsi dan tesis)

Dengan studi observasional peneliti tidak sengaja memberikan intervensi, melainkan hanya mengamati (mengukur), mencatat, mengklasifikasi, menghitung, dan menganalisis (membandingkan) perubahan pada variabel-variabel pada kondisi yang alami. Studi observasional mencakup studi kohor, studi kasus kontrol, dan studi potong-lintang. Agar diperoleh kesimpulan yang benar secara internal (validitas internal) tentang hubungan/ pengaruh variabel, maka peneliti harus mengontrol bias dan kerancuan (confounding). Peneliti harus menghindari bias dalam memilih subjek penelitian (bias seleksi) dan bias dalam mengukur variabel (bias informasi, bias pengukuran). Kerancuan dapat dicegah pada tahap desain penelitian, yaitu (1) restriksi; (2) pencocokan, atau dikontrol pada tahap analisis data, yaitu (1) analisis berstrata, dan (2) analisis multivariat.

Desain memilih sampel Dalam Studi Epidemiologi (Skripsi dan tesis)

Desain pemilihan sampel (desain pencuplikan, sampling design) berguna untuk memperoleh sampel yang representatif tentang karakteristik populasi, atau sampel yang memungkinkan perbandingan valid kelompok-kelompok studi. Desain pemilihan sampel merupakan bagian penting dari desain studi. Kesalahan dalam memilih sampel menyebabkan bias seleksi, sehingga mengakibatkan kesimpulan yang tidak benar (tidak valid) tentang hubungan/ pengaruh variabel. Desain pemilihan sampel dibedakan menurut kriteria (1) randomness (kerandoman), dan (2) restriksi pemilihan subjek. Kriteria random membedakan dua pendekatan pemilihan sampel: (1) pemilihan sampel random (probabilitas) dan (2) pemilihan sampel non-random (non-probabilitas). Kriteria restriksi membedakan dua cara pemilihan sampel: (1) pemilihan sampel dengan restriksi; (2) pemilihan sampel tanpa restriksi. Teknik pemilihan sampel random memilih subjek penelitian dari populasi sumber berdasarkan peluang (probabilitas), bebas dari pengaruh subjektif peneliti. Setiap elemen populasi dipilih secara independen; masing-masing elemen memiliki probabilitas yang diketahui untuk terpilih ke dalam sampel. Pada pemilihan sampel random sederhana (simple random sampling, SRS), setiap elemen dari populasi memiliki peluang sama untuk terpilih ke dalam sampel. Sesuai hukum regularitas statistik, pemilihan sampel random menghasilkan sampel yang secara statistik representatif terhadap populasi (Kothari, 1990). Sebagai contoh, studi potong lintang yang bertujuan untuk mendeskripsikan karakteristik populasi (misalnya, meneliti prevalensi ko-infeksi TB-HIV) sebaiknya menggunakan pemilihan sampel random. Dalam studi epidemiologi analitik, lazimnya peneliti memilih sampel sesuai dengan arah pengusutan. Contoh, “fixed-exposure sampling” memilih sampel berdasarkan status paparan, sedang status penyakit bervariasi mengikuti status paparan yang “fixed” (Gerstman, 1998). Karena arah pengusutan studi kohor bersifat prospektif dari paparan ke penyakit, maka “fixed-exposure sampling” umumnya dilakukan pada studi kohor. Di pihak lain, “fixed-disease sampling” memilih sampel berdasarkan status penyakit, sedang status paparan bervariasi mengikuti status penyakit yang “fixed” (Gerstman, 1998). Karena arah pengusutan studi kasus kontrol bersifat retrospektif, maka “fixed-disease sampling” umumnya dilakukan pada studi kasus-kontrol

Data campuran Dalam Studi Epidemiologi (skripsi dan tesis)

Data campuran adalah data yang dikumpulkan sebagian berasal dari masa lalu dan sebagian berasal dari waktu yang sama dengan waktu penelitian. “Nested case control study” merupakan contoh sebuah desain studi yang menggunakan data campuran. Pada nested case-control study diidentifikasi kasus yang terjadi dari sebuah kohor. Untuk masing-masing kasus kemudian dipilihkan dan dibandingkan dengan anggota kohor yang tidak mengalami penyakit sebagai kontrol, dan memiliki tingkat faktor perancu yang sama dengan kasus (disebut matched control) (Wikipedia, 2011). Data perlu dibedakan menurut kronologi pengumpulan data. Mengapa? Pertama, jenis data menurut kronologi pengumpulan menentukan kualitas data. Pada umumnya data sewaktu lebih reliabel daripada data historis, karena validasi data bisa dilakukan langsung oleh peneliti (Gerstman, 1998). Kedua, jenis data menurut kronologi berguna untuk mengelaborasi lebih lanjut jenis desain studi. Jenis data tidak tergantung arah pengusutan. Implikasinya, desain studi yang arah pengusutannya prospektif dapat saja menggunakan data historis. Studi kohor yang menggunakan data historis disebut studi kohor historis (studi kohor retrospektif). Studi kohor yang menggunakan data sewaktu disebut studi kohor (prospektif) (Bosma et al., 1997; Okasha et al., 2002; Rothman, 2002). Sebaliknya, desain studi yang arah pengusutannya retrospektif dapat menggunakan data sewaktu. Studi kasus kontrol yang menggunakan data sewaktu disebut studi kasus kontrol prospektif. Studi kasus kontrol yang menggunakan data historis disebut studi kasus kontrol (retrospektif) (Rothman, 2002). Studi kasus kontrol yang menggunakan data historis dan data sewaktu, yakni data primer yang berasal dari studi kohor sebagai penelitian induk, disebut “nested case control study” atau “ambidirectional staudy”. Desain “nested casecontrol study” membutuhkan biaya dan upaya pengumpulan data yang lebih rendah daripada studi yang sepenuhnya menggunakan pendekatan kohor

Jenis data (skripsi dan tesis)

Berdasarkan kronologi pengumpulan data, data studi epidemiologi dapat dibedakan menjadi 3 jenis (Gerstman, 1998): (1) data sewaktu; (2) data historis; dan (3) data campuran (Gambar 3). Data sewaktu. Data sewaktu (concurrent data, contemporary data) adalah data tentang status paparan, status penyakit, dan variabel lainnya, yang dikumpulkan bersamaan dengan waktu penelitian. Karena umumnya dikumpulkan sendiri oleh peneliti maka data sewaktu sering kali merupakan data primer. Data historis. Data historis (historical data) adalah data tentang status paparan, status penyakit, dan variabel lainnya, yang dikumpulkan pada waktu sebelum dimulainya penelitian. Data historis dapat berasal dari sumber sekunder, yaitu catatan yang sudah tersedia, misalnya catatan kelahiran dan kematian, rekam medis, data sensus, survei kesehatan rumah tangga (SKRT), riwayat pekerjaan. Tetapi data historis dapat juga berasal dari sumber primer, diperoleh dari wawancara dengan subjek penelitian, keluarga, atau teman (disebut “surrogates”), untuk mengingat kembali (recall) peristiwa masa lalu.

Studi Epidemiologi Prospektif (skripsi dan tesis)

Arah pengusutan dikatakan prospektif (forward direction) jika peneliti menentukan dulu status paparan atau intervensi lalu mengikuti ke depan efek yang diharapkan. Studi epidemiologi yang bersifat prospektif adalah studi kohor dan eksperimen. Terdapat sejumlah alasan mengapa perlu membedakan arah pengusutan. Pertama, arah pengusutan suatu desain studi menunjukkan logika inferensi kausal. Sebagai contoh, salah satu kriteria Hill yang harus dipenuhi untuk menarik kesimpulan kausal tentang hubungan/ pengaruh variabel adalah sekuensi temporal. Kriteria ini menegaskan, agar dapat dikatakan kausa, maka paparan harus mendahului penyakit, atau intervensi harus mendahului variabel hasil (Ibrahim et al., 2001; Last, 2001). Sifat non-directional dari studi potonglintang menyebabkan desain studi itu kurang baik untuk digunakan memastikan hubungan kausal. Sebaliknya sifat prospektif studi kohor dan eksperimen membuat desain studi itu tepat untuk membantu memastikan hubungan kausal. Sedang sifat retrospektif dan “antilogis” dari studi kasus kontrol membuat desain studi tersebut kurang kuat dibandingkan dengan studi kohor untuk memberikan bukti kausal, meskipun lebih baik dibandingkan dengan studi potong lintang.

Kedua, arah pengusutan berimplikasi kepada kemampuan desain studi dalam menggunakan ukuran frekuensi penyakit (menunjukkan risiko terjadinya penyakit), maupun ukuran asosiasi paparan-penyakit (menunjukkan risiko relatif terjadinya penyakit). Pada studi prospektif, yaitu studi kohor dan eksperimen, peneliti mengikuti sekelompok subjek (disebut kohor) dan mengamati terjadinya penyakit atau variabel hasil yang diteliti. Dengan studi kohor dan eksperimen peneliti dapat menghitung risiko (insidensi), sehingga dapat menghitung RR (studi kohor dan eksperimen), maupun RRR, ARR, dan NNT (eksperimen). Pada studi potong lintang, karena bersifat “non-directional”, peneliti tidak bisa menghitung insidensi (kasus baru), yang menunjukkan risiko terjadinya penyakit dalam suatu periode waktu. Jadi pada studi potong lintang, peneliti tidak bisa menghitung risiko dan risiko relatif (RR). Data yang diperoleh studi potong lintang adalah prevalensi, terdiri atas kasus baru dan lama. Prevalensi adalah jumlah kasus yang ada di suatu saat dibagi dengan jumlah populasi studi. Jika prevalensi penyakit pada kelompok terpapar dibagi dengan prevalensi penyakit pada kelompok tak terpapar, maka diperoleh Prevalence Ratio (PR). Demikian pula jika odd penyakit pada kelompok terpapar dibagi dengan odd penyakit pada kelompok tak terpapar, diperoleh Prevalence Odds Ratio (POR). Berbeda dengan studi kohor, pada studi kasus kontrol, peneliti tidak mengikuti suatu kohor subjek penelitian yang belum sakit ke depan, tidak mengamati terjadinya penyakit, tidak dapat menghitung insidensi (kasus baru) dalam suatu periode waktu. Pada studi kasus kontrol, peneliti menggunakan kasus-kasus yang sudah ada dan memilih kontrol (non-kasus) yang sebanding. Lalu peneliti mencari informasi status (riwayat) paparan masing-masing subjek kasus dan kontrol. Jadi pada studi kasus kontrol peneliti tidak bisa menghitung risiko dan risiko relatif (RR). Sebagai ganti risiko, pada studi kasus kontrol peneliti menggunakan odd. What is odd? Odd adalah probabilitas dua peristiwa yang berkebalikan, misalnya sakit verus sehat, mati versus hidup, terpapar versus tak terpapar. Pada studi kasus kontrol, odd pada kasus adalah rasio antara jumlah kasus yang terpapar dibagi tidak terpapar. Odd pada kontrol adalah rasio antara jumlah kontrol terpapar dibagi tidak terpapar. Jika odd pada kasus dibagi dengan odd pada kontrol, diperoleh Odds ratio (OR). OR digunakan pada studi kasus kontrol sebagai pengganti RR.

STUDI EPIDEMIOLOGI Retrospektif (skripsi dan tesis)

Arah pengusutan dikatakan retrospektif (backward direction) jika peneliti menentukan status penyakit dulu, lalu mengusut riwayat paparan ke belakang. Arah pengusutan seperti itu bisa dikatakan “anti-logis”, sebab peneliti mengamati akibatnya dulu lalu meneliti penyebabnya, sementara yang terjadi sesungguhnya penyebab selalu mendahului akibat. Studi epidemiologi yang bersifat retrospektif adalah studi kasus kontrol.

Studi Epidemiologi Non-directional (skripsi dan tesis)

Arah pengusutan disebut non-directional jika peneliti mengamati paparan dan penyakit pada waktu yang sama. Studi potong lintang (cross sectional) bersifat non-directional sebab hubungan antara paparan dan penyakit pada populasi diteliti pada satu waktu yang sama. Cara studi potong lintang meneliti hubungan antara paparan dan penyakit: (1) membandingkan prevalensi penyakit pada berbagai subpopulasi yang berbeda status paparannya; (2) membandingkan status paparan pada berbagai subpopulasi yang berbeda status penyakitnya. Frekuensi penyakit dan paparan pada populasi diukur pada saat yang sama, maka data yang diperoleh merupakan prevalensi (kasus baru dan lama), bukan insidensi (kasus baru saja), sehingga studi potong lintang disebut juga studi prevalensi, atau survei.

ASPEK KUNCI DESAIN STUDI EPIDEMIOLOGI (skripsi dan tesis)

Desain studi epidemiologi dapat dibedakan berdasarkan beberapa aspek kunci berikut (Kleinbaum et al, 1982; Kramer dan Baivin, 1987; Kothari, 1990; Gerstman, 1998): (1) Arah pengusutan; (2) Jenis data; (3) Desain pemilihan sampel; (4) Peran peneliti dalam memberikan intervensi.
Arah pengusutan Berdasarkan arah pengusutan (direction of inquiry) status paparan dan penyakit, studi epidemiologi dibedakan menjadi 3 kategori (Gerstman, 1998): (1) Non-directional; (2) Prospektif; (3) Retrospektif (Gambar 2). Non-directional.

Epidemiologi analitik (skripsi dan tesis)

Epidemiologi analitik menguji hipotesis dan menaksir (mengestimasi) besarnya hubungan/ pengaruh paparan terhadap penyakit. Tujuan epidemiologi analitik: (1) Menentukan faktor risiko/ faktor pencegah/ kausa/ determinan penyakit, (2) Menentukan faktor yang mempengaruhi prognosis kasus; (3) Menentukan efektivitas intervensi untuk mencegah dan mengendalikan penyakit pada populasi. Dua asumsi melatari epidemiologi analitik. Pertama, keadaan kesehatan dan penyakit pada populasi tidak terjadi secara random melainkan secara sistematis yang dipengaruhi oleh faktor risiko/ kausa/ faktor pencegah/ faktor protektif (Hennekens dan Buring, 1987; Gordis, 2000). Kedua, faktor risiko atau kausa tersebut dapat diubah sehingga dapat dilakukan upaya pencegahan penyakit pada level individu dan populasi (Risser dan Risser, 2002).

Epidemiologi deskriptif (skripsi dan tesis)

Epidemiologi deskriptif mendeskripsikan distribusi penyakit pada populasi, berdasarkan karakteristik dasar individu, seperti umur, jenis kelamin, pekerjaan, kelas sosial, status perkawinan, tempat tinggal dan sebagainya, serta waktu. Epidemiologi deskriptif juga dapat digunakan untuk mempelajari perjalanan alamiah penyakit. Tujuan epidemiologi deskriptif: (1) Memberikan informasi tentang distribusi penyakit, besarnya beban penyakit (disease burden), dan kecenderungan (trend) penyakit pada populasi, yang berguna dalam perencanaan dan alokasi sumber daya untuk intervensi kesehatan; (2) Memberikan pengetahuan tentang riwayat alamiah penyakit; (3) Merumuskan hipotesis tentang paparan sebagai faktor risiko/ kausa penyakit Contoh, case series merupakan studi epidemiologi deskriptif tentang serangkaian kasus, yang berguna untuk mendeskripsikan spektrum penyakit, manifestasi klinis, perjalanan klinis, dan prognosis kasus. Case series banyak dijumpai dalam literatur kedokteran klinik. Tetapi desain studi ini lemah untuk memberikan bukti kausal, sebab pada case series tidak dilakukan perbandingan kasus dengan non-kasus. Case series dapat digunakan untuk merumuskan hipotesis yang akan diuji dengan desain studi analitik. Case report (laporan kasus) merupakan studi kasus yang bertujuan mendeskripsikan manifestasi klinis, perjalanan klinis, dan prognosis kasus. Case report mendeskripsikan cara klinisi mendiagnosis dan memberi terapi kepada kasus, dan hasil klinis yang diperoleh. Selain tidak terdapat kasus pembanding, hasil klinis yang diperoleh mencerminkan variasi biologis yang lebar dari sebuah kasus, sehingga case report kurang andal (reliabel) untuk memberikan bukti empiris tentang gambaran klinis penyakit. Studi potong-lintang (cross-sectional study, studi prevalensi, survei) berguna untuk mendeskripsikan penyakit dan paparan pada populasi pada satu titik waktu tertentu. Data yang dihasilkan dari studi potong-lintang adalah data prevalensi. Tetapi studi potong-lintang dapat juga digunakan untuk meneliti hubungan paparan-penyakit, meskipun bukti yang dihasilkan tidak kuat untuk menarik kesimpulan kausal antara paparan dan penyakit, karena tidak dengan desain studi ini tidak dapat dipastikan bahwa paparan mendahului penyakit.

Penelitian eksperimental Dalam Medis (skripsi dan tesis)

 Studi eksperimental, sering pula disebut studi intervensional, adalah salah satu rancangan penelitian yang dipergunakan untuk mencari hubungan sebab-akibat. Dibandingkan dengan studi observasional, studi eksperimental ini mempunyai kapasitas asosiasi yang lebih tinggi. Simpulan adanya hubungan sebab akibat pada studi observasional, baik studi cross sectional, studi kasus-kontrol, maupun kohort hanya sampai pada tingkatan dugaan atau dugaan kuat dengan landasan teori atau telaah logis. Pada penelitian eksperimental asosiasi sebab-akibat yang diperoleh lebih tegas dan lebih nyata, sehingga simpulan yang diperoleh pun lebih definitif daripada yang diperoleh dari studi observasional. Namun studi eksprimental ini pada umumnya mahal dan pelaksanaannya rumit, sehingga penggunaannya lebih terbatas. Di klinik, studi eksperimental sering dilakukan, yang didominasi oleh uji klinis untuk menilai efek terapeutik obat atau prosedur pengobatan. Di lapangan, studi eksperimental dilakukan dalam bentuk intervensi komunitas, misalnya penelitian tentang pengaruh penyuluhan pembersihan air tergenang di sekitar rumah terhadap insidens demam berdarah dengue di suatu daerah.
Di laboratorium studi eksperimental juga sering dilakukan, termasuk penelitian dengan hewan coba. Di antara ketiganya, kondisi yang ideal dapat dibuat di laboratorium, di klinik sampai batas tertentu lingkungan penelitian dapat dibuat mendekati ideal, sedangkan di lapangan studi intervensi dilakukan atas dasar keadaan faktual di masyarakat. Perbedaan tersebut tentu membawa pengaruh terhadap tingkat kepercayaan kita terhadap hasil masing-masing studi. Studi eksperimental juga mempunyai tingkatan atau gradasi, mulai dari studi pra eksperimental (pre-experimental), studi kuasi – eksperimental (quasi experimental), dan studi eksperimental benar (true experimental). Pembaca yang  berminat dapat mempelajarinya dalam buku Campbell & Stanley yang kini menjadi rujukan klasik.

Studi Kohort (skripsi dan tesis)

Berlawanan dengan studi kasus kontrol yang mulai dengan identifikasi efek, pada penelitian kohort yang diidentifikasi dulu adalah kausa atau faktor resikonya, kemudian subyek diikuti secara prospektif selama periode tertentu untuk mencari terjadi efek atau tidaknya efek. Pada penelitian kohort murni, yang diamati adalah subyek yang belum mengalami pajanan faktor resiko serta belum mengalami efek. Sebagian subyek tersebut secara alamiah akan mengalami pajanan terhadap faktor resiko tertentu, sebagian lainnya tidak. Subyek yang terpajan faktor resiko menjadi kelompok yang diteliti, sedang subyek yang tidak terpajan menjadi kelompok kontrol. Dalam keadaan ini, karena kedua kelompok berangkat dari populasi yang sama, maka biasanya keduanya sebanding (comparable) kecuali dalam hal adanya pajanan terhadap faktor resiko. Kedua kelompok tersebut kemudian diikuti selama periode tertentu, untuk kemudian ditentukan apakah telah terjadi efek atau penyakit yang diteliti.

Studi kasus-kontrol Dalam Medis (skripsi dan tesis)

Berbeda dengan studi cross-sectional, pada studi kasus-kontrol observasi atau pengukuran variabel bebas dan tergantung tidak dilakukan pada saat yang sama. Peneliti melakukan pengukuran variabel tergantung yakni efek, sedangkan variabel bebasnya dicari secara retrospektif; karena itu studi kasus kontrol disebut studi longitudinal, artinya subyek tidak hanya diobservasi pada satu saat tetapi diikuti selama periode yang ditentukan. Seperti telah disebut, pada studi kasus kontrol dilakukan identifikasi subyek (kasus) yang telah terkena penyakit (efek), kemudian ditelusur secara retrospektif ada atau tidak adanya faktor resiko yang diduga berperan. Untuk kontrol dipilih subyek yang berasal dari populasi dengan karakteristik yang sama dengan kasus; bedanya kelompok kontrol ini tidak menderita penyakit atau kelainan yang akan diteliti. Pemilihan subyek sebagai kontrol ini dapat dilakukan dengan 2 cara, yakni dengan cara serasi (matching) atau tanpa matching. Seperti pada studi cross-sectional, hasil pengukuran pada studi kasus kontrol disusun dalam tabel 2×2. Hubungan sebab akibat antara faktor resiko dan efek diperoleh secara tidak langsung, yakni dengan menghitung resiko relatif, yang dalam studi kasus kontrol dinyatakan sebagai rasio odds (odds ratio). Odds adalah perbandingan antara peluang (probabilitas) untuk terjadinya efek dengan peluang untuk tidak terjadinya efek; bila peluang terjadinya efek dinyatakan dengan P, maka odds adalah P/(1-P). Sebagai contoh, bila peluang atau kemungkinan Muhammad Ali untuk menang melawan Joe Frazier adalah 75%, maka odds Ali untuk menang adalah = 75% : 25% = 3.

Rasio odds menunjukkan berapa besar peran faktor resiko yang diteliti terhadap terjadinya penyakit (efek), jadi serupa dengan rasio prevalens pada studi cross-sectional atau resiko relatif pada studi kohort. Nilai rasio odds = 1 menunjukkan bahwa faktor yang diteliti ternyata bukan merupakan resiko untuk terjadinya efek. Rasio yang lebih besar dari 1 menunjukkan bahwa benar faktor yang diteliti merupakan faktor resiko, sedangkan rasio yang kurang dari 1 menunjukkan bahwa faktor tersebut merupakan faktor protektif untuk terjadinya efek. Nilai rasio odds ini harus disertai interval kepercayaannya.

Penelitian cross-sectional Dalam Medis (skrispi dan tesis)

 Dalam penelitian cross-sectional peneliti melakukan observasi atau pengukuran variabel pada satu saat tertentu. Kata suatu saat bukan berarti semua subyek Pe diamati tepat pada saat yang sama, tetapi artinya tiap subyek hanya diobservasi satu kali dan pengukuran variabel subyek dilakukan pada saat pemeriksaan tersebut. Jadi pada studi cross-sectional peneliti tidak melakukan tindak lanjut terhadap pengukuran yang dilakukan. Desain cross-sectional merupakan desain yang sering digunakan baik dalam studi klinis maupun lapangan;desain ini dapat digunakan untuk penelitian deskriptif, namun juga dapat untuk penelitian analitik. Contoh penelitian cross-sectional deskriptif:
 Penelitian persentase bayi yang mendapat ASI eksklusif di suatu komunitas
 Penelitian prevalens asma pada anak sekolah di Jakarta
  Penelitian indeks tuberkulin pada anak sehat. (Studi ini, meskipun memerlukan follow-up 48-72 jam untuk penilaian hasil uji tuberkulin, tetap disebut sebagai studi cross-sectional karena penyuntikan dan penilaian hasil merupakan satu kesatuan).
Contoh penelitian cross-sectional analitik:
 Beda proporsi pemberian ASI eksklusif pada berbagai tingkat pendidikan ibu
  Beda kadar kolesterol siswa SMP daerah kota dan desa
 Beda prevalens penyakit jantung reumatik antara siswa lelaki dan perempuan
 Peran berbagai faktor resiko dalam terjadinya penyakit tertentu.
Dalam studi analitik cross-sectional yang mempelajari hubungan antara faktor resiko dengan penyakit (efek), observasi atau pengukuran terhadap variabel bebas (faktor resiko) dan variabel tergantung (efek) dilakukan sekali dan dalam waktu yang bersamaan. Dari pengukuran tersebut maka dapt diketahui jumlah subyek yang mengalami efek, baik pada kelompok subyek yang faktor resiko, maupun pada kelompok tanpa faktor resiko. Hasil pengukuran biasanya disusun dalam tabel 2 x 2. Dari tabel tersebut dapat dilihat prevalens penyakit (efek) pada kelompok dengan atau tanpa faktor resiko, dapat dihitung rasio prevalens, yakni perbandingan antara prevalens efek Pedoman Pemulisan Skripsi FKIK 35 pada kelompok subyek yang memiliki faktor resiko dengan prevalens efek pada kelompok subyek tanpa faktor resiko. Rasio prevalens memberikan gambaran peran faktor resiko terhadap terjadinya efek atau penyakit. Bila rasio prevalens sama dengan 1, artinya prevalens penyakit pada subyek dengan faktor A sama dengan prevalens pada subyek tanpa faktor A, maka faktor tersebut bukan merupakan faktor resiko. Bila nilai rasio prevalens lebih kecil dari 1 menunjukkan bahwa faktor tersebut merupakan faktor protektif (mencegah terjadinya efek). Namun dalam menilai rasio prevalens harus diperhatikan interval kepercayaan. Karena studi cross-sectional hanya mengukur prevalens, maka studi tersebut pula sebagai studi prevalens

Desain Intact-Group Comparison (skripsi dan tesis)

Pada desain ini, populasi dibagi atas dua kelompok, tidak secara random. Kelompok
pertama merupakan unit percobaan untuk perlakuan dan kelompok kedua merupakan
kelompok untuk suatu kontrol. Kemudian dicari perbedaan antara rerata pengukuran dari
keduanya, dan perbedaan ini dianggap disebabkan oleh perlakuan
Prosedur dalam melaksanakan percobaan dengan desain ini, adalah sebagai berikut:
1. pilihlah unit percobaan secara dengan membagi dua kelompok dari suatu populasi.
2. gunakan perlakuan terhadap kelompok percobaan dan tanpa perlakuan pada
kelompok kontrol (kelompok kedua)
3. ukurlah hasil perlakuan, misalnya dengan melakukan posttest
4. hitunglah rerata dari masing-masing ukuran kelompok, dan bandingkan dengan
menggunakan statistik yang cocok.
Desan ini mempunyai validitas internal yang lemah, karena tidak dilakukan randomisasi.
Pengaruh counfonding antara pengukuran pertama dan pengukuran kedua tidak ada,
karena pengukuran pertama (pretest) tidak dilakukan.
Beberapa pengaruh luar belum tentu dihilangkan, antara lain error history, instrumentasi,
dan error testing.

Desain satu kelompok pretest- posttest (skripsi dan tesis)

Desain penelitian ini terdapat dua kali pengukuran dengan satu kali perlakuan.
Pengukuran pertama dilakukan sebelum perlakuan diberikan, dan pengukuran data kedua dilakukan sesudah perlakuan dilaksanakan. Desain ini merupakan perbaikan terhadap desain sebelumnya. Misalnya, percobaan
dilakukan pada kelompok-kelompok ibu hamil untuk melihat kebaikan sistem
pengelolaan ibu hamil melalui pendampingan. Pemberian tablet Fe merupakan suatu perlakuan X. Pertama-tama diukur rerata kadar Hb Ibu hamil melalui pemeriksaan darah sebelum diberi perlakuan. Sesudah perlakuan (pemberian tablet Fe) dilaksanakan, kemudian diukur lagi kadar Hbnya. Kemudian dibuat perbandingan antara rerata Hb sebelum dan sesudah perlakuan untuk melihat pengaruh pemberian kadar Fe.
Kelemahan:
Validitas internal masih dirasakan relatif kurang. Tidak ada jaminan yang menyatakan bahwa perbedaan rerata kadar Hb ibu hamil sebelum dan sesudah perlakuan selalu disebabkan oleh pemberian tablet Fe.
Desain ini menghasilkan banyak error, antara lain error yang disebabkan oleh: efek testing, pengaruh instrumen (alat tes Hb), error history, bias pemilihan, dan error regresi.
Efek testing adalah error yang disebabkan karena berubahnya motivasi ibu hamil setelah dites pertama kali sebelum perlakuan sehingga pola makan dapat berubah sebelum atau selama perlakuan. Pengaruh instrumen, artinya error yang disebabkan karena jenis keakuratan dan presisi dari alat tes Hb. Error history dapat terjadi karena subjek berubah misalnya menjadi lebih mampu secara ekonomi atau akses gizi. Bias pemilihan terjadi karena ada subjek penelitian yang drop out sehingga tidak dapat mengikuti tes.
Keuntungan:
Karena adanya pretest sebelum dikenakan perlakuan, dan adanya post-test sesudah perlakuan diberikan, maka dapat dibuat perbandingan terhadap kadar Hb Ibu hamil dari kelompok percobaan yang sama. Bias variabel pemilihan subjek penelitian, dapat dihilangkan dengan menjamin bahwa kedua tes tersebut adalah semua anggota unit percobaan.

Desain one shot case study (skripsi dan tesis)

Pada one shot case study, perlakuan dikenakan pada kelompok unit percobaan tertentu, dan kemudian diadakan pengukuran terhadap variabel terikatDesain percobaan ini, digunakan hanya satu kelompok percobaan tanpa kontrol. Misalnya
menyajikan suatu pelajaran dengan sistem ceramah. Kemudian diukur pengaruh pemberian
ceramah tersebut dengan mengadakan ujian setelah ceramah diberikan. Prestasi belajar
kelompok tersebut diukur berdasarkan hasil posttest di atas dengan mencari meannya.
Keuntungan:
Desain ini berguna untuk mengembangkan suatu prakarsa atau sebagai suatu desain untuk penelitian eksplorasi atau penelitian pendahuluan.
Kelemahan:
1. Desain ini tidak mempunyai kontrol, oleh karena itu validitas internal tidak ada sama sekali. Validitas eksternal juga tidak ada, karena kesimpulan yang diperoleh tidak mempunyai jaminan ketepatan.
2. Desain ini tidak mempunyai dasar untuk membuat perbandingan, kecuali secara subjektif dan intuitif

Kelebihan dan kelemahan Desain Percobaan (skripsi dan tesis)

Kelebihan:
1. Dengan adanya desain percobaan, maka telah terjalin kerjasama antara ahli statistik dengan peneliti dalam menganalisis dan memberikan interpretasi terhadap data.
2. Pada percobaan, peneliti dapat membuat preplanning yang sistematik terlebih dahulu.
3. Perhatian dapat ditujukan terhadap hubungan-hubungan tertentu dalam mengukur dan mengenal sumber-sumber variasi.
4. Jumlah uji yang digunakan dapat ditentukan lebih dahulu dengan tingkat
kepercayaan yang tinggi.
5. Dengan adanya pengelompokan, maka pengaruh yang dapat diukur secara lebih tepat.
6. Kesimpulan yang diperoleh dapat diketahui secara pasti dengan kepastian
matematika.
Kelemahan:
1. Desain dan analisa percobaan selalu dinyatakan dalam “bahasa” ahli-ahli statistik.
2. Desain percobaan relatif membutuhkan biaya yang besar dan juga memakan waktu yang lama

Perlakuan dan Faktorial (skripsi dan tesis)

Perlakuan atau treatment adalah suatu set khusus yang dikenakan atau yang dilakukan terhadap sebuah unit percobaan dalam batas-batas desain yang digunakan. Contoh perlakuan; jenis obat dengan dosis tertentu, motivasi, jenis media pendidikan, dan lainlain. Jika di dalam suatu percobaan dijumpai lebih dari satu perlakuan, maka perlakuan itu disebut perlakuan kombinasi. Contohnya jika kita akan meningkatkan pengetahuan siswa sekolah tentang penyakit HIV&AIDS maka kita teliti 3 media sebagai perlakuannya, yaitu leaflet, kaset, dan film dokumenter. Dalam percobaan tersebut terdapat 3 buah perlakuan, yaitu 3 jenis media. Kemudian ada penelitian lagi tentang
efektifitas metode penyampaian informasi, misalnya dicoba 2 metode yaitu ceramah, dan diskusi. Jika kedua percobaan di atas digabung menjadi suatu percobaan, yang meneliti pengaruh media dan metode penyampaian informasi terhadap pengetahuan siswa tentang HIV&AIDS, maka yang dilakukan adalah suatu perlakuan kombinasi.
Banyak penelitian percobaan yang meneliti dengan lebih dari satu perlakuan atau lebih dari satu variabel bebas. Pada bahasa desain percobaan, variabel bebas demikian sering juga disebut faktor. Faktor ini sering dijabarkan dalam huruf kecil. Harga atau nilai dari faktor dinamakan level dari faktor. Jika ada suatu percobaan dengan 3 faktor, maka percobaan tersebut dinamakan percobaan 3 faktorial. Penelitian faktorial mempunyai jumlah perlakuan kombinasi sebanyak perkalian antar jumlah level dari masing-masing
faktor. Contoh ada percobaan dengan 3 faktor:
Faktor 1 dengan 2 level; a dan b
Faktor 2 dengan 2 level; c dan d
Faktor 3 dengan 3 level; e, f, dan g
Maka jumlah perlakuan kombinas sebanyak 2 x 2 x 3 = 12 kombinasi

Kontrol internal (skripsi dan tesis)

Kontrol internal adalah banyaknya perimbangan, bloking, dan pengelompokan
dari unit-unit percobaan yang digunakan dalam percobaan. Kontrol internal ini
berguna untuk membuat prosedur uji lebih kuat, lebih efisien, dan efektif. Desain percobaan harus menentukan kontrol internal yang cocok.
Pengelompokan atau grouping adalah membagi unit-unit percobaan dalam
kelompok yang homogen. Tiap unit percobaan dalam suatu kelompok harus
memperoleh perlakuan yang sama. Misalnya, jika seorang peneliti mengadakan penelitian tentang pengaruh sejenis obat dengan 3 macam dosis, terhadap manusia, maka ia akan mengelompokkan unit percobaan atas 3 kelompok. Tiap kelompok disuntikkan obat di atas, yaitu kelompok 1 dengan dosis A, kelompok 2 dengan dosis B, dan kelompok 3 dengan dosis C. Kita lihat bahwa, unit percobaan tiap kelompok harus homogen, dan tiap kelompok hanya memperoleh satu perlakuan saja.
Bloking adalah membagi unit-unit percobaan dalam kelompok yang homogen,
tetapi tipa kelompok dibagi lagi dalam beberapa kelompok lain. Pengelompokan pertama dinamakan bloking, dan dari masing-masing blok dibuat perlakuan yang berbeda. Bloking dilakukan jika unit-unit percobaan yang digunakan tidak homogen Jumlah perlakuan pada tiap blok sama dengan jumlah jenis perlakuan yang ingin dicoba, tetapi jumlah unit percobaan dalam tiap blok tidak perlu sama. Balancing adalah cara seorang peneliti membagi unit percobaan dalam kelompok, dalam blok dan dalam menentukan jumlah unit percobaan pada satu perlakuan, sehingga terdapat suatu keseimbangan yang akan membawa kepada kelebihbaikan hasil percobaan. Dengan adanya kontrol internal ini, maka penelitian percobaan yang dilakukan terkurangi pengaruh dari confounding.

Tiga prinsip dasar desain percobaan (skripsi dan tesis)

a. Replikasi
Replikasi adalah pengulangan dari percobaan dasar. Replikasi berguna untuk:
(1) Memberkan suatu error estimasi. Error estimasi diperlukan sebagai unit dasar untuk mengukur signifikan tidaknya beda yang diperoleh dan juga untuk
mengukur jarak interval kepercayaan (confidence interval).
(2) Memberikan estimasi yang lebih tepat terhadap error percobaan.
Dengasumsi tertentu, error percobaan dapat juga dicari tanpa replikasi, tetapi
estimasi error percobaan yang diperoleh dengan cara ini kurang tepat.
(3) Memperoleh estimasi yang lebih baik terhadap pengaruh mean (mean effect) dari tiap faktor karena:
Sx = ∂2 / n
∂ = error percobaan dan n = banyaknya replikasi.
Unit percobaan adalah sebuah unit dimana percobaan dikaksanakan. Misalnya
20 plot jagung atau 30 murid adalah unit percobaan. Dalam melakukan
percobaan, maka akan terlihat adanya kegagalan untuk memberikan hasil yang
serupa walaupun kedua percobaan tersebut memperoleh perlakuan yang sama.
Kegagalan ini disebut error percobaan. Error percobaan disebabkan antara lain:
(1) Kesalahan dari percobaan yang sedang dilaksanakan.
(2) Kesalahan pengamatan.
(3) Kesalahan pengukuran.
(4) Variasi dari bahan yang digunakan dalam percobaan.
(5) Pengaruh kombinasi dan faktor-faktor luar biasa.
Error percobaan dapat dikurangi dengan cara:
(1) Menggunakan bahan atau material percobaan yang lebih homogen
(2) Mengadakan stratifikasi yang lebih hati-hati terhadap material percobaan
(3) Melakukan percobaan dengan lebih hati-hati
(4) Menggunakan desain percobaan yang lebih cocok
Jumlah replikasai yang perlu diadakan bergantung pada banyak hal. Faktor-faktor yang terpenting yang mempengaruhi banyaknya replikasi suatu percobaan adalah:
(1) Luas serta jenis unit percobaan
(2) Bentuk unit percobaan
(3) Variabilitas material percobaan
(4) Derajat ketelitian yang diinginkan
(5) Tersedianya material percobaan
Secara praktis, jumlah replikasi yang digunakan adalah sedemikian rupa
sehingga degree of freedom dalam analisa varians nantinya tidak lebih dari 10-
15.
Contoh lain:
Untuk menghindari kesalahan sekecil mungkin maka banyaknya ulangan
(replikasi) dalam eksperimen di hitung dengan rumus sebagai berikut:
( t – 1 ) ( r – 1 ) > 15
t = Jumlah perlakuan 9 macam konsentrasi
r = Jumlah pengulangan
(t-1)(r-1) ≥15
(9-1)(r-1) ≥15
8(r-1) ≥15
8r-8 ≥15
8r ≥15+8
8r ≥ 23
r ≥ 23:8
r ≥ 2,87 = 3

Ciri-ciri desain percobaan (skripsi dan tesis)

a. variabel-variabel serta kondisi yang diperlukan diatur secara ketat dan dikontrol.
Manipulasi terhadap variabel baik secara langsung atau tidak langsung
dilakukan.
b. Variabel-variabel yang ingin diteliti selalu dibandingkan dengan variabel kontrol.
c. Analisa varian selalu digunakan, dimana analisa ini berusaha untuk:
(1) Meminimumkan varian dari error
(2) Meminimumkan varian variabel yang tidak termasuk dalam variabel-variabel
yang diteliti.
(3) Memaksimumkan varian dari variabel-variabel yang diteliti dan yang berkaitan
dengan hipotesis yang dibangun.

Definisi, Manfaat, dan Klasifikasi Penelitian eksperimen (skripsi dan tesis)

Penelitian eksperimen atau percobaan adalah rancangan penelitian dimana peneliti dengan sengaja memberikan suatu perlakuan atau intervensi (variabel bebas) kepada subjek penelitian dengan tujuan untuk mengetahui pengaruh perlakuan tersebut terhadap variabel terikat (variabel yang diteliti). Faktor penelitian dalam eksperimen lazim disebut perlakuan (treatment), atau intervensi. Unit eksperimen, unit pengamatan, dan unit analisis dalam
eksperimen dapat merupakan individu atau agregat individu (kelompok).
Pada kasus tertentu, misalnya bidang eksakta, penelitian-penelitian yang paling mampu mengetahui pengaruh faktor penelitian dapat diakomodir melalui penelitian eksperimen. Hal ini disebabkan variabel-variabel dalam proses eksperimen itu dapat dikontrol secara ketat

Kelemahan dan Kekuatan Kuasi Eksperimental (skripsi dan tesis)

Kuasi eksperimental mempunyai kekuatan lebih mungkin diterapkan dan lebih murah dibandingkan eksperimen randomisasi, terutama pada penelitian yang ukuran sampel sangat besar atau sangat kecil. Sedangkan kelemahan dari kuasi eksperimental antara lain; karena pada desain ini tidak dilakukan randomisasi maka peneliti kurang mampu mengendalikan factor-faktor penganggu. Alokasi non random ini bahkan dapat mengakibatkan bias yang sulit dikontrol pada analisis data.

Jenis Desain Eksperimen Kuasi (skripsi dan tesis)

Kuasi eksperimental dapat dibedakan menjadi beberapa jenis yaitu:
1. One group pre and post test design
Merupakan kuasi eksperimental dimana masing-masing subjek menjadi kontrol bagi dirinya sendiri dan pengamatan variabel hasil dilakukan sebelum dan sesudah perlakuan. Kelompok kontrol untuk dirinya sendiri disebut dengan kontrol internal

2. After only with control design
Mengamati variable hasil pada saat yang sama terhadap kelompok perlakuan dan kelompok control, setelah perlakuan diberikan kepada kelompok perlakuan (subjek). Dengan cara non random peneliti memilih kelompok control yang memiliki karakteristik atau variable variable perancu potensial yang sebanding dengan kelompok perlakuan.

3. After and Before with control design
Desain ini mirip dengan RCT kecuali penunjukan kelompok subjek tidak dilakukan dengan random. Pengaruh perlakuan ditentukan dengan membandingkan perubahan nilai-nilai variable hasil pada kelompok perlakukan dengan perubahan nilai-nilai pada kelompok control. Desain ini lebih baik dari dua desain eksperimen kuasi yang terdahulu, karena mengatasi kemungkinan variasi eksternal yang diakibatkan perubahan waktu serta menggunakan kelompok pembanding eksternal

4 Desain campuran
Desain campuran mengkombinasikan elemen-elemen pembanding internal dan eksternal. Kombinasi tersebut meningkatkan kemampuan mengatasi ancaman validitas selanjutnya meningkatkan kemampuan untuk manrik inferensi kausal

Penelitian Kuasi Eksperimental (skripsi dan tesis)

Kuasi eksperimental adalah sebuah studi eksperimental yang dalam mengontrol situasi penelitian menggunakan cara non random. Desain ini berasal dari riset ilmu sosial yang kemudian diadopsi oleh epidemiologi untuk mengevaluasi dampak intervensi kesehatan masyarakat. Untuk memperoleh taksiran dampak perlakuan yang sebenarnya maka peneliti harus memilih kelompok kontrol yang memiliki karakteristik variable perancu yang sebanding dengan kelompok perlakuan.
Kuasi eksperimental ini dilakukan sebagai alternatif eksperimen randomisasi, tatkala pengalokasian faktor penelitian pada subjek penelitian tidak mungkin, tidak etis atau tidak praktis dilaksanakan dengan randomisasi, misalnya ketika ukuran sampel terlalu kecil

Penilaian respons (skripsi dan tesis)

Penilaian respons pasien terhadap proses terapetik yang diberikan harus bersifat objektif, akurat, dan konsisten. Empat kategori utama yang sering digunakan adalah:
a) Penilaian awal sebelum perlakuan: sesaat sebelum uji dilakukan, keadaan klinis hendaknya dicatat secara seksama berdasarkan parameter yang telah disepakatidimulai.
b) Kriteria utama respons pasien: indikasi utama pengobatan merupakan kriteria utama yang harus dinilai. Jika yang diuji obat analgetik-antipiretika, maka kriteria utama penilaian adalah penurunan panas, ada tidaknya kejang atau gejala lain sebagai manifestasi demam dan yang lainnya.
c) Kriteria tambahan: dari segi keamanan pemakaiannya. Misalnya efek samping baik yang berbahaya maupun yang tidak.
d) Pemantauan pasien: faktor-faktor yang mempengaruhi ketaatan pasien untuk berpartisipasi dalam penelitian hendaknya dapat dikontrol sebaik mungkin

Pembutaan (blinding) (skripsi dan tesis)

Yang dimaksud dengan pembutaan adalah merahasiakan bentuk terapi yang diberikan. Dengan pembutaan, maka pasien dan/atau pemeriksa tidak mengetahui yang mana obat yang diuji dan yang mana pembandingnya. Biasanya bentuk obat yang diuji dan pembandingnya dibuat sama. Tujuan utama pembutaan ini adalah untuk menghindari bias pada penilaian respons terhadap obat yang diujikan. Pembutaan dapat dilakukan secara:
single blind (jika identitas obat tidak diberitahukan kepada pasien), double-blind (jika baik pasien maupun dokter pemeriksa tidak diberitahu obat yang diuji maupun pembandingnya), atau triple blind (jika pasien, dokter pemeriksa ataupun individu yang melakukan analisis tidak mengetahui identitas obat yang diuji dan pembandingnya)

Definisi, klasifikasi, dan diagnosis stroke (skripsi dan tesis)

WHO menyatakan stroke merupakan penurunan pasokan nutrisi dan oksigen ke otak akibat terputusnya aliran darah yang umumnya disebabkan oleh pecahnya atau tersumbatnya pembuluh darah ke otak (Trulsen, 2000). Secara umum, penyebab stroke ada empat yaitu trombosis, embolisme serebral, iskemia, atau hemoragi serebral (Goldszmidt, 2013). WHO mengklasifikasikan stroke dalam stroke iskemik (non hemoragi) dan stroke perdarahan (hemoragi) dengan proporsi stroke iskemik kurang lebih 80% dari total kejadian stroke sedangkan 20% yaitu stroke perdarahan (Truelsen, 2000). Pada stroke hemoragik, perdarahan yang tidak terkontrol di otak dapat menyebabkan hipoksia dan kematian sel otak. Pada stroke iskemik, gangguan ketersediaan darah di otak disebabkan bukan oleh perdarahan (Gofir, 2009). 10 Diagnosis stroke dibidang Ilmu Penyakit Saraf mencakup diagnosis klinis, topis, dan etiologi dengan pemeriksaan CT scan kepala sebagai baku standar diagnosis stroke (Gofir, 2009)

Penelitian Cohort (skripsi dan tesis)

Penelitian cohort merupakan penelitian epidemiologis non eksperimental yang mengkaji antara variable independen (faktor resiko) dan fariabel dependen (efek kejadian atau penyakit). Pendekatan yang digunakan pada rancangan penelitian ini adalah pendekatan waktu secara longitudinal. Oleh karena itu, penelitian kohort ini disebut juga sebagai penelitian prospektif. Peneliti yang menggunkan rancangan ini mengobservasi variable independen (faktor resiko ) terlebih dahulu, kemudian subjek diikutii hingga priode waktu tertentu untuk melihat pengaruh variable independen terhadap variable dependen (kejaidan atau penykit yang diteliti) (Nursalam, 2003).

 

Pre Experimental Design (skripsi dan tesis)

Rancangan ini merupakan rancangan penelitian eksperimen yang  paling lemah dan tidak digunakan untuk membuktikan kausalitas. Pre experimental design terdiri atas one shot case study, pretest-pretest design dan static group comparison.

One shot case study

Penelitian ini dilakukan dengn memberikan intervensi/perlakuan untuk kemudian dilihat dampaknya atau pengaruhnya /hasil pengamatan seperti penelitian berikut : “Pengaruh PKMRS terhadap Tingkat Kepatuhan Kontrol
.” Kegiatan yang dilakukan peneliti dalam penelitian ini adalah, subjek diberikan penyuluhan tentang kesehatan masyarakat, kemudian dilihat dampaknya terhadap tingkat kepatuhan control.

Pre test-post test design

Penelitian ini dilakukan dengan cara memberikan pretest (pengamatan awal) terlebih dahulu sebelum diberikan intervensi, Setelah diberikan intervensi, kemudian dilakukan kembali posttest (pengamatan akhir).

Static group comparison

Rancangan ini merupakan rancangan preeksperimental dengan cara menmbah kelompok control. Caranya adalah pada kelompok perlakuan setelah diberikan perlakuan, lalu dilakukan pengamatan, sedangkan pada kelompok control hanya dilakukan pengamatan saja.

Kelemahan desain preexperimental ini adlah akan terdapat bnyak variable-variabel luar yang berpengaruh dan sulit dikontrol sehingga tingkat validitas akan berkurang atau akan menyebabkan hasil intervensi yang di dapat kurang akurat.

True Experimental Design (Desain Eksperimen Murni) (skripsi dan tesis)

True experimental design merupakan jenis rancangan penelitin yang mempunyai ketelitian tinggi karena sampelnya dipilih secara acak dan ada kelompok kontrolnya. Pada penelitian ini semua variable luar dapat dikontrol sehingga rancangan ini dapat dikenal dengan experiment yang betul-betul experiment.

Ada tiga jenis true experimental design, yakni 1) randomized pretest-posstest control group design, 2) randomized posstest only control design, 3) solomom four group design.

Randomized Pretest-Posstest Control Group Design

Model rancangan ini adalah ada dua kelompok yang dipilih secara acak, lalu diberi pretest untuk mencari perbedaan dengan kelompok control terhadap eksperimen yang digunakan.

Randomized Posstest Only Control Design

Cara yang digunakan untuk model rancangan ini adalah ada dua kelompok yang dipilih secara acak, kemudian satu kelompk diberi perlakuan, sedangkan yang lainnya tidak diberi perlakuan dan kemudian langsung diamati atau diukur.

Solomom Four Group Design

Cara yang digunakan dalam rancangan ini adalah mengambil sampel yang telah diacak sebelumnya, kemudian dibagi dalam empat kelompok, kelompok pertama dilakukan observasi/pengamatan, kemudian diberikan perlakuan lalu diukur/diobservasi. Pada kelompok kedua dilakukan observasi awal tanpa perlakuan kemudian diukur/diamati. Untuk kelompok ketiga langsung diberi perlakuan dan sesudahnya dilakukan pengamatan, sedangkan pada kelompok keempat langsung dilakukan pengamatan.

Quasy Experimental Design (Desain Eksperimen Semu) (skripsi dan tesis)

Rancangan ini merupakan bentuk desain eksperimen yang lebih baik validitas internalnya daripada rancangan preeksperimental dan lebih lemah dari true experimental. Desain ini terdiri atas time series design, nonequivalent control group design, equivalent time sampel design, dll.

Time Series Design

Dalam rancangan ini, pada sampel penelitian, sebelum dilaksanakannya perlakuan dilakukan observasi beberapa kali dan sesudah perlakuan juga dilakukan beberapa kali observasi.

 Nonequivalent Control Group Design

Sampel pada penelitian ini diobservasi terlebih dahulu sebelum diberi perlakuan, kemudian setelah diberikan perlakuan sampel tersebut diobservasi kembali.

Equivalent Time Sampel Design

Sampel penelitian dipilih dalam rancangan ini adalah dua sampel yang ekivalen waktunya. Sampel A diberikan perlakuan X dan sampel B tidak diberikan perlakuan, keduanya kemudian diobservasi dan dilakuak secara berulang-ulang.

Macam penelitian deskriptif (skripsi dan tesis)

Macam penelitian deskriptif antara lain adalah :

    • Survey

Adalah suatu cara penelitian deskriptif yang dilakukan terhadap sekumpulan obyek yang biasanya cukup banyak dalam jangka waktu tertentu. Keuntungan dari survey adalah dapat menjaring responden secara luas dan dapat mendapatkan informasi yang bermacam-macam serta hasil informasi dapat dipergunakan untuk tujuan lainnya.

  •       Case Studi/studi kasusDilaksanakan dengan cara meneliti suatu permasalahan melalui suatu kasus yang terdiri ari unit tunggal. Unit tunggal disini dapat berarti satu orang, kelompok penduduk yang terkena suatu masalah misalnya keracunan atau suatu kelompok masyarakat disuatu daerah. Tujuannya adalah untuk mempelajari secara intensif tentang latar belakang keadaan sekarang dan interaksi lingkungan suatu unit sosial, individu, kelompok, lembaga ataupun masyarakat.Cirri-ciri studi kasus

1)      Cenderung untuk meneliti sejumlah unit yang kecil, tetapi mengenai variable dan kondisi yang besar jumlahnya.

2)      Penelitian kasus sangat berguna untuk informasi latar belakang guna merencanakan yang lebih besar dalam ilmu kesehatan dan sosial.

3)      Penelitian kasus memberikan contoh yang berguna berdasarkan data yang diperoleh untuk member gambaran mengenai penemuan yang disimpulkan dengan statistic.

Kelemahan studi kasus

1)      Tidak memungkinkan generalisasi yang objektif pada populasi sebab perincian kasus memang sangat terbatas representatifnya.

2)      Hasilnya kurang obyektif

Ciri-ciri penelitian deskriptif (skripsi dan tesis)

Ciri-ciri penelitian deskriptif adalah :

  • Pada umumnya bersifat menyajikan potret keadaan yang bisa mengajukan hipotesis atau tidak
  • Merancang cara pendekatan, hal yang mmeliputi mecam datanya, penentuan sampelnya, penentuan metode pengumpulan datanya dan penyajian hasilnya.
  • Tidak perlu kelompok pembanding.
  • Tidak mencari penyebab suatu masalah.
  •   Mengumpulkan data.
  • Penyusunan laporan.

Penelitian Observasional Deskriptif (skripsi dan tesis)

Metode penelitian deskritif adalah suatu metode penelitian yang dilakukan dengan tujuan utama untuk membuat gambaran tentang suatu keadaan secara obyektif. Metode penelitian deskriptif digunakan untuk memecahkan atau menjawab permasalhan yang sedang dihadapi pada situasi sekarang. Penelitian ini dilakukan dengan menempuh langkah-langkah pengumpulan data, klasifikasi, pengolahan, membuat kesimpulan dan laporan.

Metode penelitian deskriptif juga diharapkan seorang eneliti berusaha untuk memaprkan pemecahan masalah yang ada sekarang berdaasarkan data, jadi ia juga menyajikan data, menganalisis dan menginterpretasikan data. Penelitian ini juga bisa bersifat komparatif, korelatif, ataupun analitik.

Masalah yang layak diteliti dalam penelitian ini adalah masalah yang sedang banyak dihadapi saat ini, khususnya dibidang pelayanan kesehatan. Masalah ini baik yang berkaitan dengan aspek yang cukup banyak, menelaah satu kasus tunggal, mengadakan perbandingan  antara satu hal dengan hal yang lain, melihat pengaruh sesuatu terhadap faktor yang lain atau melihat hubungan suatu gejala dengan faktor yang lain.

Definisi Desain Penelitian Klinik (Skripsi dan tesis)

Agar suatu peneliti dapat mencapai tujuan sebagaimana yang diharapkan maka perlu ditetapkan dahulu desain penelitiannya. Adapun yang dimaksud dengan desain penelitian disini adalah macam atau jenis penelitian tertentu yang terpilih untuk dilaksanakan dalam rangka mencaapai tujuan penelitian yang telah ditetapkan.

Jika ditinjau dari kehendak untuk mencapai tujuan penelitian, maka peranan desain penelitian adalah amat penting. Peranan tersebut setidak-tidaknya dapat dibedakan atas dua macam yaitu :

  1. Sebagai alat untuk mencapai tujuan penelitian. Memilih suatu desaain penelitian berarti menetapkan macam atau jenis penelitian yang akan dilaksaanakan. Peranan desain penelitian disini adalah sama dengan peranan penelitian itu sendiri yakni sebagai alat untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan.
  2. Sebagai pedoman dalam melaksankan penelitian. Karena setiap macam atau jenis penelitian meneliti tata laksana tersendiri, maka pemilihan terhadap suatu desain penelitian berarti sekaligus memilih pula tatalaksananya. Tatalaksana ini pada dasaarnya adalah suatu pedoman yang harus dipakai sebagai pegangan dalam melakukan penelitian.

 

Dengan perkataan lain peranan suatu desain penelitian dapat diibaratkan sebagai kendaraan bagi para penumpang, yang akan mengantarkannya sampai ke tujuan, serta juga sebagai rambu-rambu lalu lintas yang akan menuntun keselamatan dalam perjalanan.

Desain penelitian merupakan bentuk rancangan yang digunakan dalam melakukan prosedur penelitian. Desain penelitian yang umumnya digunakan di bidang keperawatan adlah rancangan penelitian deskriptif (korelasi, cross sectional), rancangan observasional (case control, cohort), dan rancangan intervensi atau eksperimen (preexperimental, true experimental, dan quasy experimental). (Aziz Alimul Hidayat. 2007)

Desain penelitian merupakan rencana penelitian yang disusun sedemikian rupa sehingga peneliti dapat memperoleh jawaban terhadap pertanyaan penelitian. Desain penelitian mengacu pada jenis atau macam penelitian yang dipilih untuk mencapai tujuan penelitian, serta berperan sebagai alat dan pedoman untuk mencapai tujuan tersebut. Desain penelitian membantu peneliti untuk mendapatkan jawaban dari pertanyaan penelitian dengan sahih, objektif, akurat serta hemat.

Desain harus disusun dan dilaksanakan dengan penuh perhitungan agar dapat menghasilkan petunjuk empiris yang kuat relevansinya dengan pertanyaan penelitian. Terdapat hal penting yang perlu dinilai sebelum kita menentukan jenis penelitian yaitu :

Pertama, sejak awal peneliti harus menentukan apakah akan dilakukan intervensi dalam penelitian tersebut, yaitu dengan melakukan penelitian intervensional (eksperimental) atau apakah hanya melakukan pengamatan saja tanpa intervensi yaitu dengan melakukan observasional.

Kedua, bila peneliti memilih studi observasional, perlu ditentukan apakah akan mengadakan pengamatan sewaktu (croosectional) atau melakukan follow up dalam jangka waktu tertentu (longitudinal). Ketiga, apakah akan dilakukan studi retrospektif yaitu meneliti peristiwa yang sudah berlangsung atau prospektif yaitu dengan mengikuti subyek untuk meneliti peristiwa yang belum terjadi.

Kekuatan Dan Kelemahan Studi Kohort (skripsi dan tesis)

Kekuatan studi kohort, meliputi:
1. Pada awal penelitian, sudah ditetapkan bahwa subjek harus bebas dari penyakit, kemudian diikuti sepanjang periode waktu tertentu sampai timbulnya penyakit yang diteliti, sehingga sekuens waktu antara faktor risiko dan penyakit atau efek dapat diketahui secara pasti.
2. Dapat menghitung dengan akurat jumlah paparan yang dialami populasi.
3. Dapat menghitung laju insidensi atau kecepatan terjadinya penyakit, karena penelitian dimulai dari faktor risiko sampai terjadinya penyakit.
4. Dapat meneliti paparan yang langka.
5. Memungkinkan peneliti mempelajari sejumlah efek atau penyakit secara serentak sebuah paparan. Misalnya, apabila kita telah mengidentifikasi kohort berdasarkan pemakaian kontrasepsi oral (pil KB), maka dengan studi kohort dapat diketahui sejumlah kemungkinan efek kontrasepsi oral pada sejumlah penyakit, seperti infark miokardium, kanker payudara, dan kanker ovarium.
6. Dapat memeriksa dan mendiagnosa dengan teliti penyakit yang terjadi.
7. Bias dalam menyeleksi subjek dan menentukan status paparan kecil
8. Hubungan sebab akibat lebih jelas dan lebih meyakinkan.

Kelemahan studi kohort, meliputi:
1. Tidak efisien dan praktis untuk mempelajari kasus yang langka
2. Pada studi prospektif, akan memerlukan biaya banyak (mahal), dan membutuhkan banyak waktu.
3. Pada studi retrospektif, membutuhkan ketersediaan catatan yang lengkap dan akurat.
4. Validitas hasil penelitian dapat terancam, karena adanya subjek subjek yang hilang pada saat follow-up.
5. Dapat menimbulkan masalah etika, karena peneliti membiarkan subjek terkena pajanan yang merugikan.

Langkah-Langkah Dalam Studi Kohort (skripsi dan tesis)

  

            Dalam melakukan studi kohort, peneliti sebaiknya melakukan tahapan sebagai berikut:

  1. Merumuskan pertanyaan penelitian dan hipotesis

            Langkah pertama yang harus dilakukan oleh peneliti, adalah merumuskan masalah atau pertanyaan penelitian, menentukan apa yang menjadi variabel dalam penelitian, baik variabel dependen, maupun variabel independen, dan yang selanjutnya peneliti akan merumuskan hipotesa penelitian.

  1. Menentukan kelompok terpapar dan tidak terpapar

     Pada studi kohort, harus diperhatikan mengenai penentuan kelompok yang akan mendapat paparan dengan kelompok yang tidak akan mendapat paparan. Pemilihan kelompok terpapar yang berasal dari populasi umum memungkinkan peneliti mendapatkan informasi yang lengkap dan akurat dari subjek penelitian.

Populasi umum merupakan pilihan yang tepat pada beberapa keadaan, seperti:

  1. Prevalensi paparan pada populasi cukup tinggi
  2. Batas geografik jelas, dan secara demografik stabil
  3. Ketersediaan catatan demografi yang lengkap dan up to date

            Selain populasi umum, kita dapat menggunakan populasi khusus. Populasi khusus merupakan alternatif pada keadaan apabila prevalensi paparan dan kejadian penyakit pada populasi umum rendah, dan adanya kemudahan untuk memperoleh informasi yang akurat.

            Kelompok tidak terpapar atau kelompok kontrol dalam penelitian kohort adalah kumpulan subjek yang tidak mengalami pemaparan, atau pemaparannya berbeda dengan kelompok target. Penentuan kelompok tidak terpapar dapat dipilih dari populasi yang sama dengan populasi kelompok terpapar, dan dapat dipilih dari populasi yang bukan asal kelompok terpapar, tetapi harus dipastikan kedua populasi harus sama dalam hal faktor faktor yang merancukan penilaian hubungan antara paparan dan penyakit yang sedang diteliti.

            Kelemahan dalam menggunakan populasi umum adalah derajat kesehatan berbeda, data kependudukan, kesehatan, dan catatan medik pada populasi umum tidak seakurat pada populasi khusus.

  1. Menentukan Sampel

            Hitung perkiraan besarnya sampel yang dibutuhkan. Untuk menentukan perkiraan besarnya sampel satu kohort dapat digunakan rumus dari Sndecor and Cochran. Untuk dua kohort, terutama untuk pengujian hipotesis, harus diperhatikan kekuatan uji yaitu 1-β.4.

  1. Pengambilan data dan pencatatan

            Kedua kelompok yang telah ditetapkan, yaitu kelompok terpapar dan kelompok tidak terpapar, kemudian diikuti selama jangka waktu tertentu sesuai dengan waktu yang telah ditetapkan dalam penelitian. Selanjutnya peneliti melakukan pencatatan semua keterangan yang telah diperoleh sesuai tujuan penelitian.

  1. Pengolahan dan analisis data hasil penelitian

            Semua data yang telah diperoleh, meliputi data kejadian penyakit yang dialami oleh kelompok terpapar dan kelompok tidak terpapar, dilakukan pengolahan data agar dapat ditangani dengan mudah, meliputi kegiatan editing, coding, processing, dan cleaning.

Setelah data diolah, dilakukan analisis data secara univariat dan bivariat, atau multivariat. Untuk menilai apakah paparan (faktor risiko) yang dialami subjek sebagai penyebab timbulnya penyakit, dilakukan uji kemaknaan dengan uji statistik yang sesuai. Keputusan uji statistik dapat dicari dengan pendekatan klasik ataupun probabilistik.

            Pada penelitian kohort, peneliti menghitung besarnya risiko yang dihadapi kelompok terpapar untuk terkena penyakit menggunakan perhitungan Relative risk/ RR (risiko relatif) dan Atribute risk/ AR (risiko atribut). RR adalah perbandingan antara insidensi penyakit yang muncul dalam kelompok terpapar dan insidensi penyakit yang muncul dalam kelompok tidak terpapar.

Analisis

  1. Insiden Risk ( IR ) = a/ (a+b)
  2. Relative Risk ( RR ) = IR kelompok terpapar : IR kelompok tidak terpapar = (a/a + b) : (c/c + d)
  3. Attributable Risk = IR kelompok terpapar – IR kelompok tidak terpapar

            RR harus selalu disertai nilai interval kepercayaan yang dikehendaki, misalnya 95%. Interpretasi hasil RR adalah:

  1. Jika nilai RR = 1, berarti variabel yang diduga sebagai faktor risiko tidak ada pengaruh dalam terjadinya efek.
  2. Jika nilai RR > 1 dan rentang interval kepercayaan tidak mencakup angka 1, berarti variabel tersebut faktor risiko dari penyakit.
  3. Jika nilai RR < 1 dan rentang nilai interval kepercayaan tidak mencakup angka 1, berarti faktor risiko yang kita teliti merupakan faktor protektif untuk terjadinya efek.
  4. Jika nilai interval kepercayaan RR mencakup nilai 1, berarti mungkin nilai RR = 1 sehingga belum dapat disimpulkan bahwa faktor yang kita teliti sebagai faktor risiko atau faktor protektif.

 Karakteristik Studi Kohort (skripsi dan tesis)

Pada studi kohort, pemilihan subjek dilakukan berdasarkan status paparannya, kemudian dilakukan pengamatan dan pencatatan apakah subyek mengalami outcome yang diamati  atau tidak. Studi kohort memiliki karakteristik:

  1. Studi kohort bersifat observasional
  2. Pengamatan dilakukan dari sebab ke akibat
  3.      Studi kohort sering disebut sebagai studi insidens
  4. Terdapat kelompok kontrol
  5. Terdapat hipotesis spesifik
  6. Dapat bersifat prospektif ataupun retrospektif
  7. Untuk kohort retrospektif, sumber datanya menggunakan data sekunder

Pengertian Kohort Retrospektif (skripsi dan tesis)

Studi Kohort adalah studi yang mempelajari hubungan antara faktor risiko dan efek (penyakit atau masalah kesehatan), dengan memilih kelompok studi berdasarkan perbedaan faktor risiko. Kemudian mengikuti sepanjang periode waktu tertentu untuk melihat berapa banyak subjek dalam masing-masing kelompok yang mengalami efek penyakit atau masalah kesehatan.

Studi kohort dibedakan menjadi dua, yaitu: kohort prospektif dan kohort retrospektif. Studi kohort disebut prospektif apabila faktor risiko, atau faktor penelitian diukur pada awal penelitian, kemudian dilakukan follow up untuk melihat kejadian penyakit dimasa yang akan datang. Lamanya follow up dapat ditentukan berdasarkan lamanya waktu terjadinya penyakit.

 Pada studi kohort retrospektif, faktor risiko dan efek atau penyakit sudah terjadi dimasa lampau sebelum dimulainya penelitian. Dengan demikian variabel tersebut diukur melalui catatan historis.

Prinsip studi kohort retrospektif tetap sama dengan kohort prospektif, namun pada studi ini,pengamatan dimulai pada saat akibat (efek) sudah terjadi.

Prinsip studi kohort retrospektif tetap sama dengan kohort prospektif, namun pada studi ini, pengamatan dimulai pada saat akibat (efek) sudah terjadi. Yang terpenting dalam studi retrospektif adalah populasi yang diamati tetap memenuhi syarat populasi kohort, dan yang diamati adalah faktor risiko masa lalu yang diperoleh melalui pencatatan data yang lengkap. Dengan demikian, bentuk penelitian kohort retrospektif hanya dapat dilakukan, apabila data tentang faktor risiko tercatat dengan baik sejak terjadinya paparan pada populasi yang sama dengan efek yang ditemukan pada awal pengamatan.

Studi Kohort Penyakit Tidak Menular (PTM) (skripsi dan tesis)

 

Di Badan Litbangkes telah dilakukan penelitian studi kohort faktor risiko Penyakit Tidak Menular (PTM) termasuk faktor risiko perilaku serta sindrom metabolik, direncanakan dilaksanakan  minimal 10 tahun. Tahun 2011 telah dilakukan survey baseline data faktor risiko PTM utama, dan selanjutnya akan dilakukan follow-up  setiap individu yang diteliti untuk mengetahui perubahan faktor risiko dan kejadian PTM utama.  Pengumpulan data dilakukan secara prospektif, dengan followup secara periodik beberapa bulan untuk memantau faktor risiko perilaku dan fisik, dan setiap tahun/beberapa tahun untuk memantau faktor risiko biologik dan kejadian PTM. Penelitian ini membandingkan kecepatan perubahan faktor risiko menjadi PTM dari kelompok individu  yang memiliki  faktor risiko PTM  seperti diet tidak sehat (kurang serat, tinggi garam, tinggi lemak), konsumsi alkohol, kurang aktivitas fisik, merokok, sindrom metabolik (hipertensi, hiperglikemia/TGT, dislipidemia, obesitas) dan kombinasinya, dengan kecepatan perubahan faktor risiko menjadi PTM pada kelompok individu yang tidak mempunyai faktor risiko tersebut.
Adapun manfaat studi kohor PTM antara lain:
1)    Informasi insidens dan kecepatan terjadinya sindrom metabolik, jantung koroner, diabetes melitus, kanker, PPOK dan strok merupakan evidenve based penting yang diperlukan bagi pelaksana program dalam rangka penyusunan rencana dan penentuan prioritas program pengendalian faktor risiko PTM
2)    Informasi prediktor utama PTM utama, dan risiko relatif faktor bermanfaat untuk pengembangan model pencegahan dan pengendalian PTM, serta pengobatannya secara efektif.
3)    Informasi prediktor PTM utama dan sindrom metabolik serta kecepatan perubahan faktor risiko menjadi PTM merupakan tambahan ilmu pengetahuan bagi ilmuwan untuk melakukan penelitian etiologi lebih lanjut,
4)    Data dan laporan longitudinal dari studi ini dapat menggambarkan riwayat alamiah penyakit. Hal ini merupakan sumber data yang berpotensi untuk dianalisis lebih lanjut
5)    Bagi masyarakat khususnya responden, penelitian ini akan memberikan informasi faktor risiko dan PTM yang diderita. Dengan demikian masalah kesehatan yang diderita  dapat diketahu

Kelebihan dan Kekurangan dari Penelitian Case Control (skripsi dan tesis)

Kelebihan :

  1. Cocok untuk mempelajari penyakit yang jarang ditemukan
  2. Hasil cepat, ekonomis
  3. Subjek penelitian bisa lebih sedikit
  4. Memungkinkan mengetahui sejumlah faktor risiko yang mungkin berhubungan dengan penyakit
  5. Kesimpulan korelasi kurang baik, karena ada pembatasan dan pengendalian faktor risiko
  6. Tidak menghadapi kendala etik seperti pada penelitian eksperimen atau cohort
  7. Tidak memerlukan waktu lama (lebih ekonomis)

Kekurangan :

  1. Pengukuran variable yang retrospektif, objektifitas dan reliabilitasnya kurang karena subjek penelitian harus mengingat kembali factor-faktor risikonya,
  2. Tidak dapat diketahui efek variable luar karena secara teknis tidak dapat dikendalikan
  3. Kadang-kadang sulit memilih control yang benar-benar sesuai dengan kelompok kasus karena banyaknya factor resiko yang harus dikendalikan. 

Ciri-Ciri Penelitian Case Control (skripsi dan tesis)

Pemilihan subyek berdasarkan status penyakitnya, untuk kemudian dilakukan amatan apakah subyek mempunyai riwayat terpapar atau tidak. Subyek yang didiagnosis menderita penyakit disebut: Kasus berupa insidensi yang muncul dan populasi, sedangkan subyek yang tidak menderita disebut Kontrol.Jenis penelitian ini dapat saja berupa penelitian restrospektif bila peneliti melihat ke belakang dengan menggunakan data yang berasal dari masa lalu atau bersifat prospektif bila pengumpulan data berlangsung secara berkesinambungan sering dengan berjalannya waktu. Idealnya penelitian kasus kontrol itu menggunakan kasus (insiden) baru untuk mencegah adanya kesulitan dalam menguraikan faktor yang berhubungan dengan penyebab dan kelangsungan hidup

Pengertian Penelitian Case Control (skripsi dan tesis)

Penelitian Case Control adalah rancangan epidemiologis yang mempelajari hubungan antara paparan (amatan penelitian) dan penyakit, dengan cara membandingkan kelompok kasus dan kelompok kontrol berdasarkan status paparannya. Mempelajari seberapa jauh faktor risiko mempengaruhi terjadinya efek.

Kelebihan Dan Kekurangan Dari Penelitian Kohort (skripsi dan tesis)

Kelebihan :

  1. Kesesuaian dengan logika normal dalam membuat inferensi kausal
  2. Dapat menghitung laju insidensi
  3. Untuk meneliti paparan langkah
  4. Dapat mempelajari beberapa akibat dari suatu paparan

Kekurangan :

  1. Lebih mahal dan butuh waktu lama
  2. Pada kohort retrospektif, butuh data sekunder yang lengkap dan handal
  3. Tidak efisien dan tidak praktis untuk kasus penyakit langka
  4. Risiko untuk hilangnya subyek selama penelitian, karena migrasi, partisipasi rendah atau meninggal
  5. rawan terhadap bias

Karakteristik Penelitian Kohort (skripsi dan tesis)

  1. Bersifat observasional
  2. Pengamatan dilakukan dari sebab ke akibat
  3. Disebut sebagai studi insidens
  4. Terdapat kelompok control
  5. Terdapat hipotesis spesifik
  6. Dapat bersifat prospektif ataupun retrospektif
  7. Untuk kohor retrospektif, sumber datanya menggunakan data sekunder

 Langkah-Langkah Penelitian Kohort (skripsi dan tesis)

 

  1. Merumuskan pertanyaan penelitian dan hipotesis

Langkah pertama yang harus dilakukan oleh peneliti, adalah merumuskan masalah atau pertanyaan penelitian, menentukan apa yang menjadi variabel dalam penelitian, baik variabel dependen, maupun variabel independen, dan yang selanjutnya peneliti akan merumuskan hipotesa penelitian.

  1. Menentukan kelompok terpapar dan tidak terpapar

Pada studi kohort, harus diperhatikan mengenai penentuan kelompok yang akan mendapat paparan dengan kelompok yang tidak akan mendapat paparan. Pemilihan kelompok terpapar yang berasal dari populasi umum memungkinkan peneliti mendapatkan informasi yang lengkap dan akurat dari subjek penelitian. Populasi umum merupakan pilihan yang tepat pada beberapa keadaan, seperti:

  1. Prevalensi paparan pada populasi cukup tinggi
  2. Batas geografik jelas, dan secara demografik stabil
  3. Ketersediaan catatan demografi yang lengkap dan up to date

Selain populasi umum, kita dapat menggunakan populasi khusus. Populasi khusus merupakan alternatif pada keadaan apabila prevalensi paparan dan kejadian penyakit pada populasi umum rendah, dan adanya kemudahan untuk memperoleh informasi yang akurat.

                        Kelompok tidak terpapar atau kelompok kontrol dalam penelitian kohort adalah kumpulan subjek yang tidak mengalami pemaparan, atau pemaparannya berbeda dengan kelompok target. Penentuan kelompok tidak terpapar dapat dipilih dari populasi yang sama dengan populasi kelompok terpapar, dan dapat dipilih dari populasi yang bukan asal kelompok terpapar, tetapi harus dipastikan kedua populasi harus sama dalam hal faktor faktor yang merancukan penilaian hubungan antara paparan dan penyakit yang sedang diteliti.

                        Kelemahan dalam menggunakan populasi umum adalah derajat kesehatan berbeda, data kependudukan, kesehatan, dan catatan medik pada populasi umum tidak seakurat pada populasi khusus.

  1. Menentukan Sampel

Langkah selanjutnya dalam studi kohort adalah menetapkan besarnya sampel yang akan digunakan dalam penelitian.

  1. Pengambilan data dan pencatatan

Kedua kelompok yang telah ditetapkan, yaitu kelompok terpapar dan kelompok tidak terpapar, kemudian diikuti selama jangka waktu tertentu sesuai dengan waktu yang telah ditetapkan dalam penelitian. Selanjutnya peneliti melakukan pencatatan semua keterangan yang telah diperoleh sesuai tujuan penelitian.

  1. Pengolahan dan analisi data hasil penelitian

Semua data yang telah diperoleh, meliputi data kejadian penyakit yang dialami oleh kelompok terpapar dan kelompok tidak terpapar, dilakukan pengolahan data agar dapat ditangani dengan mudah, meliputi kegiatan editing, coding, processing, dan cleaning. Selanjutnya data yang diperoleh disajikan dalam tabel.

Pengertian Kohort (skripsi dan tesis)

Rancangan penelitian kohort adalah sebuah rancangan penelitian dimana peneliti mengelompokkan atau mengklasifikasikan kelompok terpapar dan tidak terpapar, kemudian diamati sampai waktu tertentu untuk melihat ada tidak efek atau penyakit yang timbul.

Pada awal subjek penelitian harus bebas dari penyakit/masalah kesehatan, dari hasil pengamatan setelah rentang waktu yang ditentukan, dianalisis dengan teknik tertentu sehingga dapat disimpulkan apakah ada hubungan paparan dengan penyakit atau efek yang terjadi.

Rancangan penelitian kohort dibedakan menjadi kohort prospektif dan kohort retrosfektif :

  1. Kohort Prospektif :  Rancangan penelitian kohort prospektif apa bila paparan atau faktor risiko diukur pada wal penelitian, kemudian di follow up untuk mengetahui efek dari paparan dimasa datang. Lamanya follow up berdasarkan perkiraan lamanya efek akan terjadi. Biasanya penelitian ini dilakukan bertahun-tahun.
  2. Kohort Retrosfektif : Pada rancangan penelitian kohort retrospektif faktor risiko dan efek/penyakit sudah terjadi dimasa lampau sebelum dilakukan penelitian. Dengan demikian, variabel-variabel tersebut.

Studi Epidemiologi (skripsi dan tesis)

Epidemiologi merupakan suatu studi yang mengamati penyebaran (distribusi) dan penyebab (determinan) dalam kaitanya dengan masalah kesehatan pada skelompok populasi. Oleh karena itu dalam studi epidemiologi dibutuhkan rancangan yang baik dan jelas sehingga dapat memperoleh data yang diharapkan.

Ada dua studi yang dalam epidemiologi, yaitu (1) studi deskriptif dan (2) studi analitik. Studi deskriptif, telah dipelajari pada pertemuan sebelumnya, dimana studi deskriptif untuk memperoleh gambaran kasus/kejadian/isu kesehatan masyarakat berdasar pada distribusi orang (who), tempat (where) dan waktu (when). Dalam studi ini merupakan support data untuk perumusan masalah dan hipotesis.

Yang dipelajari saat ini adalah epidemiologi analitik untuk membuktikan kebenaran hipotesis, sebagai studi lanjutan dari epidemiologi deskriptif. Studi lanjutan yang dilakukan oleh sebab dalam studi ini dalam studi ini dilengkapi dengan kelompok pembanding. Epidemiologi analitik adalah studi epidemiologi yang bertujuan untuk menganalisis faktor penyebab (determinan) dari masalah kesehatan, sehingga dalam hal ini adalah menjawab pertanyaan mengapa (why) sebagai penyebab masalah kesehatan.  Untuk kemidian adalah dapat memberikan saran strategi intervensi yang efektif untuk tindakan pengendalian. Dalam studi analitik ada observasional  dan eksperimental.  Desaing epidemiologi analitik adalah (1) crossectional study (studi potong lintang), (2) case control study (studi kasus kontrol), yang merupakan studi retrospektif sedangkan (3) cohort study (studi kohort), dan experimental study (studi perlakuan) merupakan studi prospektif

Studi kohort (skripsi dan tesis)

Cohort merupakan istilah yang berasal dari bahasa romawi kuno yang artinya “sekelompok tentara yang maju bersama-sama ke medan pertempuran”  studi cohort sebagai studi prospektif  dengan 2 tujuan utama (1) mendeskripsikan insidens suatu kejadian penyakit/masalah kesehatan selama periode waktu tertentu, (2) meneliti hubungan antara faktor risiko dengan efek.

Walaupun studi ini pada dasarnya merupakan studi prospektif, tetapi kohort dapat dibagi menjadi 2 yaitu (1) Studi kohort prospektif apabila faktor risiko, atau faktor penelitian diukur pada awal penelitian, kemudian dilakukan follow up untuk melihat kejadian penyakit dimasa yang akan datang. Lamanya follow up dapat ditentukan berdasarkan lamanya waktu terjadinya penyakit. Sedangkan (2) studi kohort retrospektif dimana faktor risiko dan efek atau penyakit sudah terjadi dimasa lampau sebelum dimulainya penelitian. Dengan demikian variabel tersebut diukur melalui catatan historis. Prinsip studi kohort retrospektif tetap sama dengan kohort prospektif, namun pada studi ini, pengamatan dimulai pada saat akibat (efek) sudah terjadi. Yang terpenting dalam studi retrospektif adalah populasi yang diamati tetap memenuhi syarat populasi kohort, dan yang diamati adalah faktor risiko masa lalu yang diperoleh melalui pencatatan data yang lengkap. Dengan demikian, bentuk penelitian kohort retrospektif hanya dapat dilakukan, apabila data tentang faktor risiko tercatat dengan baik sejak terjadinya paparan pada populasi yang sama dengan efek yang ditemukan pada awal pengamatan. Berikan komentarnya!

Meta-analisis (skripsi dan tesis)

Meta-analisis mengandung pengertian suatu analisis pada sekumpulan hasil-hasil penelitian individual yang telah dianalisis, yang bertujuan untuk mengintegrasi hasil temuan dalam penelitian individual tersebut. Metaanalisis termasuk dalam studi observasional retrospektif; subyek penelitiannya adalah artikel atau laporan penelitian original baik yang dipublikasi ataupun tidak. Meta-analisis merupakan suatu cara untuk mengombinasikan secara kuantitatif beberapa hasil studi yang relevan, yang diperoleh dengan cara systematic review; atau singkatnya meta-analisis adalah suatu systematic review yang dilakukan analisis statistika untuk mendapatkan satu hasil gabungan. Sampai saat ini meta-analisis paling banyak digunakan untuk uji klinis

Uji klinis pragmatis dan eksplanatori (skirpsi dan tesis)

Uji klinis selalu dilakukan pada manusia atau pasien. Terdapat dua jenis uji klinis, yakni uji klinis pragmatis (pragmatic trial), dan uji klinis eksplanatori (explanatory trial). Hasil penelitian uji klinis yang relevan langsung dengan praktik adalah uji klinis pragmatis, yang direncanakan diterapkan dalam praktik klinis. Berikut beberapa karakteristik uji klinis pragmatis:
 Spektrum pasien sama dengan spektrum pasien dalam praktik sehari-hari. Ini ditandai dengan kriteria inklusi yang tidak amat ketat. Misalnya uji klinis untuk obat antidiabetes baru, kriteria inklusinya sama dengan kebanyakan pasien diabetes melitus pada umumnya di klinik (ada yang obes, malnutrisi, hipertensi, hiperkolesterolemia, dan seterusnya). Bila kriteria inklusi terlalu ketat (pasien diabetes yang tidak obes, tidak hipertensi, tidak hiperlipidemia, tidak ada riwayat penyakit jantung koroner dst), maka validitas interna studi tersebut (sangat) baik, akan tetapi  validitas eksternanya kurang baik (penerapan hasil penelitian tersebut dalam praktik menjadi terbatas).
 Yang diutamakan dalam uji klinis pragmatis adalah luaran uji klinis, tidak dipermasalahkan mekanisme bagaimana luaran itu terjadi. Misalnya uji klinis untuk menilai apakah obat tradisional tertentu dapat merangsang nafsu makan pada anak, maka yang dipentingkan adalah luarannya (berupa meningkatnya nafsu makan yang secara obyektif dinilai dengan peningkatan berat badan subyek penelitian), bukan mekanisme bagaimana terjadinya peningkatan nafsu makan.
 Bila luaran berskala binomial (sembuh atau tidak, berhasil atau tidak), maka analisis sebaiknya juga dilakukan secara intention-totreat analysis. Inti dari analisis ini adalah semua subyek yang telah dirandomisasi harus disertakan dalam analisis, tanpa melihat subyek tersebut telah mengikuti penelitian sampai selesai atau tidak. (Lihat bawah). Di lain sisi ada jenis uji klinis yang lain yang disebut uji klinis eksplanatori (explanatory trial) yang bertujuan mempelajari mekanisme mengapa terdapat perbedaan outcome pada kedua kelompok. Uji klinis seperti ini amat bermanfaat untuk pemahaman ilmiah, akan tetapi tidak secara langsung relevan dengan praktik sehari-hari. Pada uji klinis eksplanatori ini analisis akhir biasanya hanya melibatkan para peserta yang mengikuti penelitian sampai selesai (per protocol analysis atau on treatment analysis).

Tiga kesetaraan dalam uji klinis (skripsi dan tesis)

 Dalam praktik sehari-hari kita mengobati pasien dengan penyakit A dengan memberikan obat B, dan memintanya kembali kontrol 1 minggu kemudian. Bila semua gejala dan tanda yang semula ada menjadi hilang, maka pasien dinyatakan sembuh. Pertanyaan apakah kesembuhan tersebut semata-mata disebabkan oleh penggunaan obat B? Jawabnya adalah tidak. Karena selain obat B, ada 3 hal lain yang dapat menyebabkan pasien sembuh atau dinyatakan sembuh, yakni:
  Pertama adalah memang perjalanan penyakitnya seperti itu, dengan atau tanpa obat ia memang akan sembuh dalam waktu 1 minggu (natural history of the disease atau prognostic factors);
 Kedua, pasien minum obat lain, minum jamu, atau melakukan diet, atau istirahat cukup dan seterusnya (faktor-faktor ekstra atau extraneous factors);
  Ketiga adalah kriteria sembuh atau luaran yang dipergunakan (pengukuran outcome, measurement).  Dalam membandingkan hasil intervensi di antara dua kelompok yakni kelompok eksperimental (E) dan kelompok kontrol (C), maka ketiga hal yang disebut di atas harus setara atau sebanding.
 Setara dalam faktor prognostik. Kedua kelompok harus benarbenar sebanding dalam hal faktor prognostik; tidak boleh salah satu kelompok memiliki derajat penyakit yang lebih berat, atau kadar kolesterol yang lebih tinggi, usia lebih tua, atau status gizi lebih buruk, dan seterusnya dibanding kelompok lainnya.
Untuk dapat memperoleh 2 kelompok yang sebanding, proses yang diperlukan adalah randomisasi. Randomisasi apabila dilakukan dengan benar dan melibatkan cukup banyak subyek cenderung untuk membagi sama rata faktor prognostik dan sekaligus juga pelbagai faktor perancu (confounding variables) kedua kelompok.
 Setara dalam perlakuan. Semua subyek pada kedua kelompok harus diperlakukan sama, kecuali untuk pemberian obat atau prosedur yang diteliti. Tidak boleh misalnya subyek kelompok E memperoleh perhatian yang lebih baik, diberi tempat perawatan lebih nyaman, atau ditambah dengan diet atau obat tambahan, sedang kelompok kontrol tidak. Perlakuan yang sama ini dapat dijamin dengan penyamaran (masking, blinding). Pada cara ini satu atau lebih pihak yang terkait dalam uji klinis (peneliti, subyek, evaluator, petugas laboratorium, dll) dibuat tidak tahu jenis terapi yang diberikan. Bila dapat dilakukan penyamaran ganda (peneliti dan subyek tidak tahu obat / prosedur yang diberikan kepada subyek) maka kesahihan uji klinis amat baik.
 Setara dalam pengukuran luaran / outcome. Bila luaran uji klinis adalah “data keras” seperti meninggal atau hidup, atau hasil laboratorium yang dilakukan dengan mesin automatis yang terstandar, maka proses penyamaran tidak (terlalu) diperlukan. Namun apabila luarannya bersifat subyektif (nyeri, cemas, dan sebagainya) atau pemeriksaan yang memerlukan interpretasi (USG, foto Rontgen), maka sangat dianjurkan untuk dilakukan blinding atau penyamaran.  Bila pada uji klinis kesetaraan dalam ketiga hal tersebut dapat dilakukan (yakni dengan randomisasi dan penyamaran), maka apabila terdapat perbedaan luaran antara kelompok eksperimental dan kelompok kontrol, satusatunya penyebab adalah perbedaan intervensi. Dengan demikian maka desain terbaik untuk uji klinis adalah uji klinis dengan randomisasi dan penyamaran ganda (randomized double blind clinical trial). Bila jumlah subyek cukup banyak, maka randomisasi dapat dilakukan pada semua uji klinis, namun penyamaran tidak selalu dapat dilakukan, misalnya uji klinis yang membandingkan efektivitas obat dibandingkan dengan operasi untuk penyakit atau kondisi kesehatan tertentu. Validitas suatu uji klinis ditentukan juga oleh kelengkapan subyek yang mengikuti sampai akhir penelitian (completeness of follow-up); umumnya bila jumlah subyek yang mengikuti sampai akhir penelitian kurang dari 80%, maka uji klinis dianggap tidak valid. Luaran uji klinis terbanyak adalah variabel berskala numerik (misal kadar kolesterol, berat badan, tekanan darah) atau variabel nominal dikotom misalnya meninggal atau hidup, sembuh atau tidak sembuh, kenaikan / penurunan berat badan.

Penelitian eksperimental (skripsi dan tesis)

Studi eksperimental atau studi intervensional dapat dianggap sebagai penelitian kohort yang penelitinya melakukan “manipulasi” pada variabel prediktor atau faktor risiko dengan melakukan intervensi tertentu dan kemudian melakukan analisis terhadap varibel efek atau luaran yang timbul sebagai akibat intervensi tersebut. Dibandingkan dengan pelbagai studi observasional, studi eksperimental lebih kuat untuk menunjukkan adanya hubungan sebab akibat antara variabel prediktor dan variabel efek, dan merupakan desain penelitian yang paling baik untuk mengendalikan pengaruh variabel perancu (confounding). Penelitian eksperimental dapat dibagi menjadi 3 kelompok:
 Eksperimen benar (true-experiment) memiliki syarat pokok yaitu terdapat proses randomisasi.
 Eksperimen semu (quasi experiment), biasanya dimaksudkan uji klinis tanpa randomisasi
  Pra-eksperimen (pre-experiment design), pada umumnya tanpa kelompok kontrol

Analisis uji diagnostik (skripsi dan tesis)

Analisis uji diagnostik meliputi:

  Sensitivitas yaitu proporsi subyek yang sakit dengan hasil uji diagnostik positif (positif benar = PB). Sensitivitas menunjukkan kemampuan suatu alat diagnostik untuk mendeteksi penyakit. Sensitivitas = PB/(PB+PS)
  Spesifisitas yaitu proporsi subyek yang tidak sakit dengan hasil uji yang negatif (negatif benar = NB). Spesifisitas menunjukkan kemampuan alat diagnostik untuk menentukan bahwa subyek tidak sakit. Spesifisitas = NB/(NS+NB)
 Prevalens penyakit, atau prior probability, yaitu probabilitas seseorang (berdasar karakteristik demografis dan klinis) untuk menderita penyakit, sebelum subyek menjalani uji diagnostik. Prevalens = (PB+PS)/(PB+PS+NS+NB)
 Nilai duga positif (positive predictive value) adalah probabilitas seorang dengan hasil uji diagnostik positif memang menderita penyakit yang ditentukan menurut baku emas. Nilai duga positif = PB/(PB+PS).
 Nilai duga negatif (negative predictive value) adalah probabilitas seorang dengan hasil uji diagnostik negatif tidak menderita penyakit. Nilai duga negatif = NB/(NS+NB).
 Likelihood ratio (rasio kemungkinan) menunjukkan besarnya kemungkinan subyek yang sakit akan mendapat suatu hasil uji diagnostik tertentu dibagi dengan kemungkinan subyek yang tidak sakit mendapatkan hasil uji diagnostik yang sama. Positive likelihood ratio (rasio kemungkinan positif) adalah perbandingan antara proporsi subyek yang sakit dengan hasil uji diagnostik yang positif dengan proporsi subyek yang tidak sakit dengan hasil uji yang positif pula, dengan formula: sensitivitas / (1-spesifitas). Di lain sisi terdapat negative likelihood ratio (rasio kemungkinan negatif) yang menunjukkan perbandingan antara proporsi subyek yang sakit dengan hasil uji diagnostik negatif dan proporsi subyek yang tidak sakit dengan hasil yang negatif, dengan formula (1-sensitivitas) / spesifisitas.

Uji diagnostik (skripsi dan tesis)

Sebagian besar penelitian diagnostik termasuk dalam desain cross sectional. Pada uji diagnostik tidak dilakukan intervensi kemudian dilihat pengaruh intervensi tersebut. Pada uji diagnostik sekelompok subyek dilakukan 2 jenis pemeriksaan, pemeriksaan pertama adalah jenis uji diagnostik yang diteliti, sedangkan pemeriksaan kedua adalah pemeriksaan terbaik untuk diagnosis penyakit / keadaan klinis tertentu (disebut sebagai baku emas atau gold standard). Hasil kedua pemeriksaan tersebut dianalisis. Sifat-sifat uji diagnostik mempunyai kemiripan dengan uji prognostik. Perbedaan antara kedua uji ini hanya pada variabel luarannya. Sebagai contoh: uji diagnostik yang bertujuan melihat apakah benturan keras pada kepala dapat merupakan prediktor terjadinya perdarahan intrakranial dan uji prognostik untuk mengetahui apakah benturan keras pada kepala akan dapat memprediksi mortalitas akibat perdarahan intrakranial. Pada contoh ini tampak perbedaan antara kedua desain. Bedanya terletak pada variabel outcome, uji diagnostik berupaya untuk memprediksi ada atau tidaknya penyakit, sedang uji prognostik bermaksud untuk memprediksi kejadian luaran / outcome penyakit.
Penyakit + + Penyakit – a b Risiko (-) c d (+) Risiko (+) a+b c+d 47 Uji diagnostik yang ideal akan selalu memberikan jawaban yang benar (atau hasil positif) pada semua subyek yang sakit dan memberikan hasil negatif pada semua subyek yang tidak sakit. Namun uji diagnostik yang ideal seperti itu jarang ditemukan; hampir pada semua jenis uji diagnostik terdapat kemungkinan untuk diperoleh hasil uji positif pada subyek yang tidak sakit (positif semu), dan sebaliknya mungkin ditemukan hasil negatif pada subyek yang sakit (negatif semu). Selain itu, uji diagnostik yang baik seyogianya mempunyai sifat-sifat hasilnya cepat diperoleh, aman, sederhana, tidak menyakiti/invasif, sahih, reliabel, dan relatif murah. Struktur uji diagnostik secara garis besar sama dengan studi observasional, yaitu memiliki variabel prediktor (hasil uji) dan variabel efek/outcome (ada tidaknya penyakit). Variabel prediktor dapat dalam skala nominal dikotom (positif, negatif), kategorikal (+++, ++, +, -), atau numerik (miligram per desiliter). Bila hasil suatu uji diagnostik berskala kategorikal atau numerik, maka perlu ditentukan titik potong (cut-off point) untuk dapat membedakan subyek yang menjadi sakit atau tidak sakit. Variabel outcome pada uji diagnostik adalah ada atau tidaknya penyakit yang ditentukan dengan baku emas (gold standard). Meskipun struktur uji diagnostik sama dengan studi observasional, namun analisis uji diagnostik sangat berbeda. Apabila pada studi observasional umumnya ditujukan untuk mencari informasi tentang etiologi atau faktor risiko, uji diagnostik dimaksudkan apakah satu uji dapat membedakan subyek dengan penyakit dari subyek yang tidak sakit. Hasil uji diagnostik diringkas dalam tabel 2 x 2, yang terdiri atas sel a, b, c, d. Sel a berisi subyek yang sakit (menurut baku emas) dan didiagnosis sakit oleh uji (positif benar, PB). Sel b berisi subyek yang tidak sakit menurut baku emas namun didiagnosis sakit oleh uji (positif semu, PS). Sel c berisi subyek yang sakit namun didiagnosis sehat oleh uji (negatif semu, NS). Sel d, berisi subyek yang tidak sakit dan didiagnosis sehat oleh uji (negatif benar, NB).

Studi kohort (skripsi dan tesis)

Penelitian kohort merupakan desain penelitian yang amat penting untuk menguji hipotesis tentang faktor risiko atau penyebab suatu penyakit atau keadaan. Dua hal yang menjadi karakteristik studi kohort adalah: Seleksi individu dalam pembentukan kelompok dilakukan dari populasi yang sama. Hal ini dapat dilakukan dengan dua cara:
 Desain kohort dengan pembanding internal: direkrut sejumlah subyek tanpa faktor risiko, kemudian diikuti dan secara alamiah sebagian akan terpajan pada faktor risiko, sebagian tidak.
 Desain kohort dengan pembanding eksternal (double cohort study) yakni dari populasi yang sama direkrut subyek dengan faktor risiko, dan sekelompok subyek tanpa faktor risiko. Kedua kelompok subyek (yang terpajan dan tidak) diikuti sampai timbul efek atau penyakit. Studi kohort merupakan satu-satunya desain untuk memperlihatkan insidens suatu penyakit atau kelainan tertentu. Studi kohort dapat dilakukan secara prospektif atau retrospektif.

Pada studi kohort dapat diperoleh data deskriptif yakni berupa insidens terjadinya penyakit atau kelainan, dan dapat pula diperoleh risiko relatif, yakni berapa besar subyek dengan faktor risiko mengalami efek ketimbang subyek yang tidak memiliki faktor risiko mengalami efek. Penelitian kohort retrospektif mempunyai prinsip dasar yang tidak berbeda dengan penelitian kohort prospektif, yaitu pada kelompok subyek tertentu diikuti atau dipantau, kemudian dilakukan pengukuran variabel prediktor/risiko, masa tindak lanjut (follow-up), dan pengukuran variabel efek, semuanya dilakukan di masa lampau. 46 Agar validitas studi kohort retrospektif baik, harus diyakinkan bahwa data dan semua catatan pada masa lalu baik dan lengkap

Studi kasus-kontrol (skripsi dan tesis)

Studi kasus-kontrol bertujuan menilai peran faktor risiko dalam timbulnya penyakit. Studi diawali dengan merekrut kelompok subyek dengan penyakit tertentu (kasus) dan kelompok subyek tanpa penyakit tersebut (kontrol). \Pada kedua kelompok secara retrospektif diteliti faktor risiko yang diduga berperan dalam kejadian penyakit. Kekerapan pajanan faktor risiko pada kelompok kasus dibandingkan dengan pada kontrol. C

 Rasio odds adalah perbandingan 2 odds. Sebagai contoh peneliti melakukan suatu penelitian kasus-kontrol untuk mengetahui peran faktor risiko X terhadap kejadian gagal ginjal kronik (GGK). Lihat Gambar I-2. Peneliti mencari 50 pasien GGK (kelompok kasus) di suatu rumah sakit besar, dan 50 subyek lainnya tanpa GGK (kontrol) dari populasi yang sama. Pada kelompok kasus dan kelompok kontrol ditelusur berapa yang memiliki faktor risiko X. Misalnya pada akhir penelitian ternyata dari 50 subyek pada kelompok kasus ada 20 yang memiliki faktor X, (odds untuk terjadinya GGK = 20/30), sedangkan pada kelompok kontrol dari 50 subyek hanya 5 yang memiliki faktor X (odds untuk terjadinya GGK pada kelompok kontrol = 5/45). Rasio odds adalah perbandingan antara kedua odds, yakni odds pada kelompok kasus dibagi dengan odds pada 44 kelompok kontrol; dalam contoh ini RO = 20/30: 5/45 = 6 (interval kepercayaan 95% 2,3 sampai 12,7). Artinya pada sampel ditemukan subyek yang memiliki faktor X ternyata 6 kali lebih besar kemungkinan untuk menderita GGK daripada subyek yang tidak memiliki faktor X, sedangkan di populasi yang diwakili oleh sampel tersebut 95% terletak antara 2,3 dan 12,7 kali.

Studi cross sectional Pada Penelitian Klinik (skripsi dan tesis)

Pada studi cross sectional pengukuran variabel dilakukan hanya satu kali, pada satu saat; jadi pada studi ini tidak ada tindak lanjut atau follow-up. Studi cross sectional dapat bersifat deskriptif ataupun analitik. Studi cross sectional deskriptif dikenal sebagai studi prevalens. Pada studi cross sectional analitik yang mencari hubungan antar-variabel, variabel bebas dan luaran dinilai simultan pada satu saat.
 Analisis statistika pada studi cross sectional analitik bergantung pada jenis data yang ada. Untuk data numerik (misal perbandingan kadar kolesterol antara dua kelompok) digunakan uji-t untuk data independen atau untuk data berpasangan. Untuk data nominal analisis dilakukan dengan uji kaikuadrat (data independen) atau uji McNemar untuk data berpasangan. Bila yang diteliti adalah faktor risiko dan luarannya nominal 2 nilai (sakit atau tidak) maka dapat dihitung rasio prevalens yang perhitungan dan interpretasinya sama dengan risiko relatif pada studi kohort). Studi cross sectional juga tidak jarang digunakan untuk menilai beberapa faktor risiko sekaligus untuk terjadinya luaran. Untuk tujuan ini digunakan analisis multivariat; bila semua faktor risiko dan luaran variabel berskala numerik   digunakan regresi multipel, sedangkan bila luarannya nominal dan faktor risikonya berbagai jenis variabel digunakan regresi logistik. Bentuk khusus studi cross sectional yang sering dicari pada PTK adalah uji diagnostik.

Jenis desain penelitian klinis (skripsi dan tesis)

Desain penelitian dapat diklasifikasikan berdasarkan ada atau tidaknya intervensi menjadi dua kelompok, yakni studi observasional dan studi eksperimental. Pada studi observasional peneliti tidak mengintervensi subyek penelitian mana yang mendapat perlakuan apa; peneliti hanya mengamati, mengukur variabel, mengelompokkan dan menganalisis data. Termasuk dalam studi observasional adalah laporan kasus dan seri kasus, studi cross sectional (termasuk uji diagnostik), studi kohort (termasuk di dalamnya analisis kesintasan), studi kasus-kontrol, dan meta-analisis. Berbeda dengan studi observasional, pada studi eksperimental atau disebut juga sebagai studi intervensional, peneliti melakukan intervensi dengan cara menentukan subyek mana yang mendapat perlakuan apa (meski sebaiknya caranya adalah dengan randomisasi). Studi eksperimental dapat dilakukan di laboratorium, di lingkungan klinik, dan dapat juga di komunitas. Studi eksperimental yang dilakukan di klinik disebut sebagai uji klinis (clinical 42 trial). Baku emas uji klinis adalah uji klinis randomisasi (UKR) atau randomized controlled trial (RCT).

Meta-analisis (skripsi dan tesis)

Meta-analisis adalah metode analisis statistik yang menggabungkan data dari dua atau lebih penelitian dengan topik serupa yang bertujuan untuk memberikan satu kesimpulan penelitian. Subjek penelitian merupakan laporan penelitian orisinal baik yang sudah dipublikasi maupun yang belum. Desain penelitian ini adalah metode analisis gabungan yang memiliki level validitas paling tinggi. \ Meta-analisis memiliki keterbatasan yang terletak pada masalah metodologi yaitu kesesuaian penggunaan teknik statistika untuk penggabungan data berbagai penelitian. Meta-analisis harus dihindari jika kualitas penelitian sebelumnya tidak baik karena akan memberikan hasil yang tidak valid. Meta-analisis tidak dianjurkan dilakukan pada penelitian yang terlalu heterogen. Meta-analisis potensial terhadap bias publikasi.

 Meta-analisis terdiri dari empat langkah yaitu identifikasi penelitian yang disertakan dalam meta-analisis. Langkah kedua adalah seleksi atau penilaian kualitas laporan penelitian. Langkah ketiga meta-analisis berupa abstraksi atau kuantifikasi hasil penelitian untuk digabungkan. Langkah terakhir adalah analisis, yakni penggabungan dan pelaporan hasil meta-analisis

Uji Klinis (skripsi dan tesis)

 Uji klinis merupakan bentuk penelitian eksperimental untuk meneliti efek dari intervensi tertentu, biasanya berupa terapi untuk satu penyakit. Subjek penelitian dalam populasi penelitian secara acak dialokasikan menjadi kelompok intervensi dan kelompok kontrol. Hasil penelitian diperoleh dengan membandingkan status penyakit subjek penelitian. Desain penelitian terkuat adalah uji klinis acak terkontrol (randomized controlled trial). Keunggulan utama dari uji klinis adalah kontrol atas confounding factor, berbagai jenis bias dapat ditiadakan atau dikurangi dengan efektif. Uji klinis merupakan desain penelitian terbaik untuk meneliti hubungan kausalitas. Kekurangan uji klinis yaitu memerlukan banyak partisipan, biaya yang mahal dan pelaksanaan yang rumit. Uji klinis tidak tepat digunakan untuk meneliti penyakit yang jarang terjadi. Uji klinis memiliki resiko intervensi pada manusia.

Tahapan uji klinis dalam pengembangan obat terdiri dari empat fase. Fase pertama yaitu penerapan pertama suatu obat baru pada manusia yang melibatkan 20-80 relawan subjek sehat untuk di monitor secara ketat. Tujuan utama fase ini untuk menentukan mekanisme aksi farmakologik dari obat dan mendapatkan bukti awal efektivitas obat. Fase kedua adalah pengambilan data awal dari efektivitas 10 obat baru pada pasien dengan penyakit target atau kondisi tertentu. Fase kedua melibatkan sekitar 100 sampai 300 pasien yang dimonitor secara ketat untuk dilihat efek samping jangka pendek. Fase ketiga melibatkan ribuan pasien dengan penyakit target yang secara acak diberikan obat baru dan plasebo atau pengobatan yang ada (terapi standar) kemudian dibandingkan efek dari tiap kelompok intervensi tersebut. Fase ini menambahkan informasi mengenai efektivitas dan keamanan yang dibutuhkan untuk evaluasi seluruh risiko dan keunggulan obat tersebut. Fase keempat atau disebut juga sebagai uji pasca-pemasaran (postmarketing trial) bertujuan untuk mengevaluasi obat baru dalam jangka waktu yang relatif lama (5 tahun atau lebih). Fase terakhir penting untuk mendeteksi efek samping yang timbul dari pemakaian obat tersebu

Penelitian Eksperimental (skripsi dan tesis)

Penelitian eksperimental atau intervensional adalah penelitian dengan pemberian perlakuan atau intervensi terhadap subjek penelitian, peneliti akan mempelajari efek dari intervensi tersebut. Penelitian eksperimental memiliki kapasitas asosiasi yang lebih tinggi dari penelitian observasional sehingga simpulan yang diperoleh lebih definitif. Penelitian eksperimental memerlukan biaya yang tinggi dan pelaksanaannya rumit sehingga penggunaannya lebih terbatas. Penelitian eksperimental bersifat prospektif dan secara khusus dirancang untuk mengevaluasi dampak langsung dari pengobatan atau tindakan pencegahan terhadap penyakit.

Kohort (skripsi dan tesis)

 Kohort adalah bentuk penelitian prospektif untuk menyelidiki hubungan antara paparan atau faktor risiko potensial dengan status penyakit pasien. Kohort mengidentifikasi subjek yang bebas dari penyakit dan mengklasifikasikan subjek berdasarkan ada atau tidaknya paparan atau faktor risiko. Peneliti akan mengikuti subjek dalam jangka waktu tertentu untuk meneliti perkembangan penyakit dan mengevaluasi perbedaan status penyakit antara kelompok subjek dengan faktor risiko dengan kelompok subjek tanpa faktor risiko.

Penelitian kohort merupakan desain penelitian yang dapat digunakan untuk menghitung angka insidensi. Insidensi adalah jumlah dari kasus baru suatu penyakit dalam populasi risiko selama periode waktu tertentu. Analisis dari penelitian kohort melibatkan penghitungan baik dari cumulative incidence atau incidence rate. Perbandingan antara insidens terjadinya efek pada kelompok dengan faktor risiko dengan insidens terjadinya efek pada kelompok tanpa faktor risiko menghasilkan Relative Risk (RR). Relative risk dihitung dengan formula RR=a/(a+b):c/(c+d). Interpretasi hasil dari relative risk yaitu jika bernilai sama dengan satu berarti tidak ada hubungan antara faktor risiko 8 dengan penyakit. Nilai relative risk kurang dari satu berarti faktor risiko tersebut memiliki asosiasi negatif atau penurunan risiko terjadinya penyakit. Nilai relative risk lebih dari satu berarti faktor risiko tersebut merupakan faktor risiko yang berbahaya atau berhubungan positif dengan terjadinya penyakit.
Kelebihan penelitian kohort yaitu paparan atau faktor risiko diukur sebelum terjadinya penyakit sehingga dapat dipastikan paparan mendahului terjadinya penyakit. Kohort berguna untuk meneliti paparan atau faktor risiko yang jarang terjadi dan dapat meneliti berbagai efek hasil atau penyakit. Kelemahan utama dalam desain penelitian ini adalah membutuhkan biaya yang lebih mahal dan waktu penelitian yang lama. Kohort memiliki risiko kehilangan subjek penelitian untuk diikuti perkembangan penyakitnya. Kohort tidak tepat untuk meneliti penyakit atau hasil yang jarang terjadi

Kasus kontrol (skripsi dan tesis)

Penelitian kasus kontrol merupakan bentuk penelitian retrospektif yang menelaah hubungan antara penyakit dengan faktor risiko tertentu dengan membandingkan dua kelompok yang berbeda status penyakit berdasarkan faktor risiko yang diteliti. Kasus kontrol memilih sebuah grup partisipan dengan penyakit tertentu (kasus) dan sebuah grup dari individu sebanding yang bebas dari penyakit (kontrol). Pemilihan subjek penelitian dimulai dari efek atau penyakit, lalu ditelusuri ke masa lalu untuk mengidentifikasi adanya faktor risiko.  Penelitian membandingkan karakteristik dari grup kasus dan kontrol, menyimpulkan bahwa karakteristik yang berbeda berhubungan dengan terjadinya penyakit. Peneliti mendapatkan riwayat pajanan melalui survei pasien atau ulasan rekam medis. Kasus kontrol bersifat retrospektif yaitu pengumpulan data terjadi sebelum hipotesis terbentuk.   Penelitian kasus kontrol berguna untuk meneliti penyakit yang langka atau ketika hasil yang dievaluasi jarang terjadi. Keunggulan lainnya yaitu dapat meneliti berbagai paparan atau faktor risiko sekaligus dalam satu penelitian. Kasus kontrol memiliki waktu penelitian yang lebih singkat dan biaya yang lebih rendah  dibandingkan dengan penelitian kohort atau uji klinis.

Kekurangan penelitian kasus kontrol yaitu potensial terhadap bias seleksi jika tidak memiliki grup kontrol yang tepat. Penelitian kasus kontrol potensial terhadap recall bias. Kasus kontrol memiliki keterbatasan hanya dapat meneliti satu efek hasil atau penyakit.
Mengetahui hubungan antara paparan dengan penyakit diukur dengan Odds Ratio (OR) yang merupakan perbandingan peluang paparan pada kasus dengan peluang paparan pada kontrol. Tabel 2.3 menyajikan data penelitian kasus kontrol. Odds ratio dikalkulasikan dengan rumus OR= (a/b):(c/d)=ad/bc. Interpretasi hasil dari odds ratio yaitu bila bernilai sama dengan satu berarti tidak ada hubungan antara paparan atau faktor risiko dengan penyakit. Nilai odds ratio lebih dari satu berarti paparan atau faktor risiko tersebut berhubungan dengan terjadinya penyakit. Nilai odds ratio kurang dari satu berarti paparan atau faktor risiko tersebut merupakan faktor protektif atau ada penurunan risiko terjadinya penyakit.

Potong Lintang (skripsi dan tesis)

 Penelitian potong lintang adalah penelitian yang mengevaluasi pajanan dan hasil penyakit pada satu waktu tertentu secara bersamaan. Potong lintang menghubungkan status pajanan atau faktor risiko dengan terjadinya penyakit tanpa meneliti urutan waktu dari perkembangan penyakit. Pemilihan subjek penelitian dilakukan secara acak dari populasi yang ada, kemudian dilakukan pemeriksaan terhadap status penyakit dan faktor risiko yang dimiliki oleh subjek penelitian
Potong lintang merupakan desain penelitian yang dapat digunakan untuk menghitung angka prevalensi. Prevalensi adalah proporsi dari individu yang memiliki penyakit pada suatu populasi dalam waktu tertentu. Prevalensi berguna untuk mengukur beban penyakit dalam populasi.
 Perbandingan antara prevalensi kasus atau efek pada kelompok dengan faktor risiko dengan prevalensi kasus pada kelompok tanpa faktor risiko dinyatakan dengan Prevalence Ratio (PR). Prevalence ratio dikalkulasikan dengan rumus PR=a/(a+b):c/(c/d). Interpretasi hasil dari prevalence ratio jika bernilai sama dengan satu berarti tidak ada hubungan antara faktor risiko dengan penyakit. Nilai prevalence ratio kurang dari satu berarti faktor risiko memiliki asosiasi negatif dengan terjadinya penyakit. Nilai prevalence ratio lebih dari satu berarti faktor risiko tersebut memiliki asosiasi positif dengan terjadinya penyakit

Serial Kasus (skripsi dan tesis)

Serial kasus adalah penelitian pada sekelompok pasien dengan diagnosis yang sama, pasien diikuti untuk ditelaah perjalanan alami penyakit baik dari presentasi klinis, riwayat dan prognosisnya. Serial kasus membantu untuk memahami distribusi penyakit dalam populasi dan mempelajari variasi penyakit dari waktu ke waktu. Serial kasus bisa mencakup penyakit yang sering ditemukan namun terdapat hal-hal khusus yang layak untuk dipublikasi misalnya terdapatnya perubahan manifestasi klinis, laboratorium, ataupun perjalanan penyakit yang tidak lazim. Serial kasus yang seringkali dilakukan adalah pengaruh tindakan pengobatan pada sejumlah kasus. Kelemahan dari serial kasus terletak pada kualitas data karena tidak ada standarisasi pengumpulan informasi pasien, pengukuran, tes, dan evaluasi lainnya. Kelebihan serial kasus yaitu berguna dalam memberikan data awal untuk uji klinis. Serial kasus berperan penting dalam penelitian epidemiologi untuk mempelajari gejala penyakit dan membentuk definisi kasus

Laporan Kasus (skripsi dan tesis)

Laporan kasus adalah penelitian yang mendeskripsikan kelainan, penyakit, sindrom yang jarang ditemukan atau penyakit yang biasa ditemukan namun memiliki presentasi yang tidak lazim. Respon yang tidak lazim terhadap pengobatan penyakit juga sering dilaporkan dalam laporan kasus. Pengembangan prosedur atau teknik baru sering diawali dengan laporan atau serial kasus.3,6,11 Laporan kasus biasanya dimulai dengan deskripsi kasus yang disajikan secara kronologis sejak kasus pertama kali diperiksa, riwayat penyakit, pemeriksaan fisik, pemeriksaan penunjang sampai penegakan diagnosis dan penentuan tata laksana. Laporan kasus dilengkapi dengan diskusi membandingkan penemuan tersebut dengan kasus serupa yang pernah dilaporkan dalam kepustakaan dunia. Laporan kasus hanya dapat menyimpulkan penemuan atau mekanisme yang tidak terduga dari suatu penyakit

Penelitian Observasional (skripsi dan tesis)

Penelitian observasional adalah pengamatan atau pengukuran terhadap berbagai jenis subjek penelitian yang dilakukan menurut keadaan alamiah, tanpa ada manipulasi atau intervensi dari peneliti. Penelitian bertujuan untuk mengevaluasi karakteristik, perilaku dan paparan pada subjek dengan penyakit, kondisi atau komplikasi tertentu. Peneliti sebagai investigator tidak melakukan tindakan 3 terhadap subjek penelitian, tetapi mengamati secara alami hubungan antara faktor risiko dengan hasil observasi.

Non Probalitiy sampling (skripsi dan tesis)

Tiap subyek dalam populasi (terjangkau) tidak memiliki kesempatan yang sama untuk terpilih maupun tidak terpilih sebagai sampel penelitian. a. Consecutive sampling : semuaa subyek yang datangberurutan dan memenuhi criteria pemilihan dimasukkan dalam penelitian sampai jumlah subyek yang diperlukan terpenuhi. b. Convenient sampling : merupakan cara termudah sekaligus terlemah untuk menarik sampel. Sampel diambil tanpa sistematika tertentu, sehingga jarang dianggap mewakili populasi terjangkau. c. Judgmental samling/ purposive sampling : peneliti memilih responden berdasarkan pada pertimbangan subyektif dan praktis, bahwa responden tersebut dapat memberikan informasi yang memasai untuk menjawab pertanyaan penelitian

Probability sampling (skripsi dan tesis)

Tiap subyek dalam populasi (terjangkau) memiliki kesempatan yang sama untuk terpilih maupun tidak terpilih sebagai sampel penelitian. a. Simple random sampling : dari seluruh subyek dalam populasi ditentukan besaran sampel sesuai perhitungan, kemudian tiap subyek diberi nomor dan dipilih sebagian dari mereka (sesuai besar sample yang dibutuhkan) dengan bantuan tabel angka random atau dengan ramdomisasi menggunakan program computer. b. Systematic sampling : setelah dilakukan penomoran subyek, kemudian ditentukan tiap subyek dengan nomor ke-sekian yang dipilih menjadi sampel. c. Stratified random sampling : sampel dipilih secara acak untuk tiap strata, kemudian hasilnya digabungkan menjadi satu sample yang terbebas dari variasi untuk setiap strata. Variabel yang sering digunakan untuk stratifikasi adalah: gender, usia, ras, kondisi social-ekonomi. Status gizi, lokasi penelitian. d. Cluster sampling : sample dipilih secara acak pada kelompok individu dalam populasi yang terjadi secara alamah, misalnya : kelurahan, kecamatan, kodya, kabupaten, dsb.Cara ini efektif untuk populasi yang tersebar luas.

Penelitian Cohort (skripsi dan tesis)

 

Pada penelitian cohort yang diidentifikasi lebih dahulu adalah kausa atau factor risikonya, kemudian sekelompok subyek (disebut sebagai kohort) diikuti secara prospektif selama periode tertentu untuk menentukan terjadi atau tidaknya efek. Hal ini berlawanan denga penelitian case-control. Subyek yang terpapar fakror risiko menjadi kelompok yang diteliti, sedangkan subyek yang tidak terpapar menjadi kelompok control, kemudian kedua kelompok tersebut diamati selama periode waktu tertentu untuk kemudian ditentukan apakah telah terjadi efek atau penyakit yang diteliti (prospektif) Pada penelitian cohort, hasil pengukuran yang diperoleh dapat dihitung sebagai risiko insidens atau risiko relatif, yaitu perbandingan antara insidens efek pada kelompok dengan factor risiko dengan insidens efek pada kelompok tanpa factor risiko.. Selain cohort prospektif dikenal juga cohort retrospektif, yaitu peneliti mengidentifikasi factor risiko dan efek pada subyek yang terjadi di masa lalu, atau dengan kalimat lain, saat penelitian dilakukan, outcome/ efek yang diteliti sudah terjadi

Penelitian case-control (skripsi dan tesis)

Peneliti melakukan observasi/ pengukuran variabel bebas dan variabel tergantung pada waktu yang berbeda. Peneliti melakukanpengukuran variabel tergantung (efek), sedangkan variabel bebasnya dicari secara retrospektif. Maka dari itu studi ini disebut juga sebagai studi longitudinal, yaitu subyek tidak hanya diobservasi pada satu saat tetapi diikuti selama periode yang ditentukan. Pada studi ini dilakukan identifikasi subyek (kasus) yang telah terkena penyakit (efek), kemudian ditelusur secara retrospektif ada atau tidaknya faktor risiko yang diduga berperan. Pada penelitian case-control, hasil pengukuran yang diperoleh dapat dihitung sebagai odds ratio. Odds ratio menunjukkan berapa besar peran faktor risiko yang diteliti terhadap terjadinya penyakit (efek)

Penelitian cross-sectional (skripsi dan tesis)

Peneliti melakukan pengamatan/ observasi/ pengukuran pada satu waktu tertentu (semua subyek tidak harus dimamati/diukur tepat dalam waktu yang sama), tiap subyek hanya diamati satu kali dan pengukuran variabel subyek dilakukan pada saat pemeriksaan tersebut. Pada studi ini peneliti tidak melakukan tindak lanjut terhadap pengukuran yang dilakukan. Pada penelitian cross-sectional, hasil pengukuran yang diperoleh dapat dihitung sebagai rasio prevalens, yaitu perbandingan antara prevalens efek pada kelompok subyek yang memiliki faktor risiko dengan prevalens efek pada kelompok subyek tanpa faktor risiko.

Penelitian Observasional (skripsi dan tesis)

Pada penelitian observasional peneliti melakukan pengamatan atau pengukuran terhadap satu atau lebih variabel subyek penelitian. Penelitian ini memiliki kapasitas asosiasi yang hanya sampai pada tingkatan dugaan atau dugaan kuat dengan landasan teori atau telaah logis. Pada studi observasioanl asosiasi sebab-akibat lebih lemah dibandingkan dengan studi eksperimental. Penelitian ini dapat dibagi menjadi 2 yaitu penelitian deskriptif dan penelitian analitik. 1. Penelitian Deskriptif Pada penelitian ini peneliti hanya melakukan deskripsi mengenai fenomena yang ditemukan, dan tidak menganalisis mengenai mengapa fenomena tersebut terjadi. Pada studi ini tidak diperlukan rumusan hipotesis sehingga terhadap data yang dikumpulkan tidak dilakukan uji hipotesis/ uji statistika. Contohnya antara lain : insidensi, prevalensi, survey, gambaran klinis. Data pada penelitian deskriptif dapat digunakan untuk penelitian analitik pada tahapan berikutnya. 2. Penelitian Analitik Peneltian ini memiliki tujuan utama mencari hubungan antara variabel satu dengan yang lain. Pada penelitian ini dilakukan analisis terhadap data yang diperoleh, sehingga pada penelitian ini selalu diperlukan hipotesis. Hubungan antar variabel dapat dilakukan dengan berbagai jenis uji hipotesis (uji statistika). Laporan penelitian analitik selalu diawali dengan deskripsi subyek penelitian terlebih dahulu sebelum dilakukan analisis. Penelitian analitik obserbvasional umumnya dibagi menjadi 3 jenis, yaitu : cross-sectional, case-cotrol, dan cohort. Akhir-akhir ini meta-analysis, suatu desain khusus yang menghubungkan banyak studi, digolongkan dalam studi observasional analitik

Penelitian Eksperimental (skripsi dan tesis)

Studi eksperimental sering disebut pula studi intervensional adalah salah satu rancangan penelitian yang dipergunakan untuk mencari hubungan sebab-akibat. Pada studi eksperimental peneliti melakukan manipulasi terhadap satu atau lebih variabel penelitian kemudian mempelajari efek perlakukan tersebut. Pada penelitian ini asosiasi sebab-akibat yang diperoleh lebih tegas dan nyata sehingga simpulan yang dapat diperolehpun lebih definitive disbanding penelitian observasional. Namun studi ini umumnya memerlukan biaya yang mahal dan pelaksanaannya rumit. Di klinik studi ini sering dilakukan dan didominasi oleh uji klinis untuk menilai efek terapi obat atau prosedur pengobatan/ perawatan/ tindakan. Di lapangan studi eksperimental dilakukan dalam bentuk intervensi komunitas, misalnya penelitian tentang pengaruh penyuluhan cara menggosok gigi terhadap indeks kebersihan mulut. Di laboratorium studi ini dilakukan dengan bakteri atau hewan coba. Diantara ketiga lokasi ini, kondisi yang ideal dapat dibuat di laboratorium, di klinik sampai batas tertentu dapat dibuat mendekati ideal, sedangkan di lapangan studi eksperimental/ intervensi dilakukan atas dasar keadaan factual yang ada di masyarakat. Studi eksperimental memiliki tingkatan (gradasi), yaitu mulai dari : o studi pra-eksperimental/ pre-experimental study  studi kuasi eksperimental/ quasi experimental study (tidak ada randomisasi)  studi eksperimental murni/ true experimental study (desain terkuat, ditandai adanya randomisasi)

 Kohort (skripsi dan tesis)

Penelitian kohort atau sering disebut penelitian prospektif adalah suatu penelitian survey (non eksperimen) yang paling baik dalam mengkaji hubungan antara factor resiko dengan efek (penyakit). Faktor resiko yang akan dipelajari diidentifikasi dulu kemudian diikuti ke depan secara prospektif timbulnya efek yaitu penyakit atau salah satu indicator status kesehatan. Contoh klasik studi kohort adalah Framingham Heart Study.
Rancangan penelitian kohort disebut juga sebagai survey prospektif meskipun sesungguhnya kurang tepat. Rancangan penelitian ini merupakan rancangan penelitian epidemiologis noneksperimental yang paling kuat mengkaji hubungan antara faktor risiko dengan dampak atau efek suatu penyakit.
Rancangan penelitian ini menggunakan pendekatan longitudinal ke depan, dengan mengkaji dinamika hubungan antara faktor risiko dengan efek suatu penyakit. Pendekatan yang dilakukan adalah mengidentifikasi faktor risiko, kemudian dinamikanya diikuti atau diamati sehingga timbul suatu efek atau penyakit.
Kesimpulan hasil penelitian diketahui dengan membandingkan subyek yang mempunyai efek positif (sakit) antara kelompok subyek dengan faktor risiko positif dan faktor risiko negative (kelompok kontrol).
 
Kelebihan penelitian Kohort :
a.    Dapat membandingkan dua kelompok, yaitu kelompok subyek dengan faktor risiko positif dan subyek dari kelompok control sejak awal penelitian.
b.    Secara langsung menetapkan besarnya angka risiko dari waktu ke waktu.
c.    Keseragaman observasi terhadap faktor risiko maupun efek dari waktu ke waktu.
 
Kekurangan penelitian Kohort :
a.    Memerlukan waktu penelitian yang relative cukup lama.
b.    Memerlukan sarana dan prasarana serta pengolahan data yang lebih rumit.
c.    Kemungkinan adanya subyek penelitian yang drop out sehingga mengurangi ketepatan dan kecukupan data untuk dianalisis.
d.    Menyangkut etika sebab faktor risiko dari subyek yang diamati sampai terjadinya efek, menimbulkan ketidaknyamanan bagi subyek.

Case Control (skripsi dan tesis)

Rancangan penelitian ini ada yang menyebutnya sebagai studi retrospektif, meskipun istilah ini kurang tepat. Penelitian ini berusaha melihat ke belakang, yaitu data digali dari dampak (efeknya) atau akibat yang terjadi. Kemudian dari dampak tersebut ditelusuri variable-variabel penyebabnya atau variable yang mempengaruhi.
Penelitian epidemiologi kasus-kontrol ini hasil korelasinya lebih tajam dan mendalam bila dibandingkan dengan rancangan penelitian potong-lintang, sebab menggunakan subyek kontrol atau subyek dengan dampak positif dicarikan kontrolnya dan subyek dengan dampak negatif juga dicari kontrolnya. Kemudian variable penyebab atau yang berpengaruh ditelusuri lebih dulu, baru kemudian faktor risiko atau variable yang berpengaruh diamati secara retrospektif.
 
Kelebihan penelitian case control :
a.    Tidak menghadapi kendala etik, seperti halnya penelitian kohort dan eksperimental.
b.    Pengambilan kasus dan kontrol pada kurun waktu yang bersamaan.
c.    Adanya pengendalian faktor risiko sehingga hasil penelitian lebih tajam.
d.    Tidak perlu intervensi waktu, lebih ekonomis sebab subyek bias dibatasi.
 
Kekurangan penelitian case control :
a.    Tidak diketahuinya efek variable luar oleh karena keterbatasan teknis yaitu variable yang tidak ikut dikenakan waktu matching.
b.    Bias penelitian akibat tidak dilakukan pengukuran oleh peneliti dengan tanpa mengetahui yang harus diukur (blind measurement).
c.    Kelemahan pengukuran variable secara retrospektif adalah obyektivitas dan reliabilitasnya sehingga untuk faktor-faktor risiko yang tidak jelas informasinya dari anamnesis maupun data rancangan sekunder sangat berisiko bila menggunakan rancangan mengatasinya, anamnesis sebaiknya dilengkapi data penunjang yang diperlukan untuk menegakkan diagnosis, misalnya pemeriksaan laboratorium klinis, roentgenologi, mikrobiologis, dan imunologis. Apabila data tersebut adalah data sekunder, perlu dilengkapi dengan uraian mengenai cara memperopleh data secara lengkap.
d.    Kadang-kadang untuk memilih kontrol dengan matching kita mengalami kesulitan oleh karena banyaknya faktor risiko dan/atau sedikitnya subyek penelitian.

Cross Sectional (skripsi dan tesis)

Jenis penelitian ini berusaha mempelajari dinamika hubungan hubungan atau korelasi antara faktor-faktor risiko dengan dampak atau efeknya. Faktor risiko dan dampak atau efeknya diobservasi pada saat yang sama, artinya setiap subyek penelitian diobservasi hanya satu kali saja dan faktor risiko serta dampak diukur menurut keadaan atau status pada saat observasi.
Angka rasio prevalensi memberi gambaran tentang prevalensi suatu penyakit di dalam populasi yang berkaitan dengan faktor risiko yang dipelajari atau yang timbul akibat faktor-faktor risiko tertentu.
 
·      Kelebihan studi cross-sectional:
Kelebihan rancangan studi potong lintang adalah kemudahannya untuk untuk dilakukan dan murah, sebab tidak memerlukan follow-up. Jika tujuan penelitian “sekedar“ mendeskripsikan distribusi penyakit dhubungkan dengan paparan faktor-faktor penelitian, maka studi potong lintang merupakan rancangan studi yang cocok, efisien dan cukup kuat disegi metodologik. Selain itu seperti penelitian observasional lainnya, studi potong lintang tidak “memaksa” subjek untuk mengalami factor yang diperkirakan bersifat merugikan kesehatan (factor resiko). Demikian pula, tidak ada subjek yang kehilangan kesempatan memperoleh terapi yang diperkirakan bermanfaat, bagi subjek yang kebetulan menjadi control.
 
Kekurangan penelitian cross sectional :
a.    Dibutuhkan subyek penelitian yang relatif besar atau banyak, dengan asumsi variable bebas yang berpengaruh cukup banyak.
b.    Kurang dapat menggambarkan proses perkembangan penyakit secara tepat.
c.    Faktor-faktor risiko tidak dapat diukur secara akurat dan akan mempengaruhi hasil penelitian.
d.    Nilai prognosanya atau prekdisinya (daya ramal) lemah atau kurang tepat.
e.    Korelasi faktor risiko dengan dampaknya adalah paling lemah bila dibandingkan dengan rancangan penelitian analitik yang lainnya.
f.     Kesimpulan hasil penelitian berkaitan dengan kekuatan rancangan yang disusun sangat berpengaruh, umumnya kekuatan rancangan yang baik adalah sekitar 40%, artinya hanya sebesar 40% variable bebas atau faktor risiko mampu menjelaskan variable terikat atau dampak, sisanya yaitu 60% tidak mampu dijelaskan dengan model yang dibua

Penelitian “Cross-Sectional” (skripsi dan tesis)

Kalau pada penelitian kohor dan kasus kelola ada pendekatan periode waktu tertentu (period time approach) baik secara prospektif (ke depan) maupun retrospektif (ke belakang), pada penelitian cross-sectional waktunya hanya pada saat observasi saja (point time approach). Oleh karenanya, metode ini sering pula disebut sebagai penelitian prevalensi atau kadang-kadang disebut sebagai survai. Disebut sebagai penelitian prevalensi karena hasil penelitian hanya dapat menghitung angka prevalensi yaitu angka yang menggambarkan banyaknya kasus (baru dan lama) pada periode tertentu saja. Penelitian ini yang merupakan penelitian yang paling lemah diantara penelitian epidemiologik lainnya, dapat dipakai sebagai tahap pertama dalam penelitian kohor atau dapat pula digunakan untuk rnencari kelompok kasus dan kelompok kontrol dalam penelitian kasus kelola. Akan tetapi, biasanya penelitian inilah yang paling sering dilakukan, umpamanya dalam Survai Kesehatan Rumah Tangga dan Survai Demografi Kesehatan Indonesia. Dari survai-survei tersebut, dapat diketahui umpamanya data tekanan darah ibu hamil, proporsi akseptor KB dan prevalensi penyakit kencing manis. Keunggulan metode penelitian ini antara lain mudah dilaksanakan, relatif murah, menghasilkan angka prevalensi dan dapat mengamati banyak variabel. Sedangkan keterbatasannya tidak dapat meneliti kondisi atau kasus penyakit yang sedikit (rare)

banyak “bias” yang timbul, kurang baik untuk meramalkan kecenderungan, memerlukan sampel besar, kurang akurat untuk menggambarkan suatu penyakit dan faktor risiko serta tidak dapat menghitung angka insidensi

Penelitian Kasus Kelola (skripsi dan tesis)

Sebenaraya, informasi yang diharapkan dari penelitian kasus kelola hampir sama dengan yang dihasilkan dari penelitian kohor, tetapi waktunya lebih pendek dan jauh lebih efisien. Penelitian ini yang juga sering disebut sebagai penelitian retrospektif merupakan bagian dari epidemiologi modern. Berbeda dari penelitian kohor yang subjek penelitiannya diambil berdasarkan status keterpaparan (exposure status), penelitian kasus kelola memilih kelompok kasus dan kelompok kelola berdasar status penyakit (disease status), sehingga secara umum harus terbebas dari status keterpaparan. Disamping itu, kelompok kelola harus berasal dari populasi yang sama dengan kelompok kasus, sehingga bila kelompok kelola tersebut mempunyai penyakit yang diamati, maka kelompok kelola tersebut seharusnya menjadi kelompok kasus.
 Sebagai catatan, status penyakit yang dimaksud di sini tidak melulu mengidap atau tidak mengidapnya seseorang terhadap suatu penyakit, tetapi dapat juga umpamanya sudah meninggal atau masih hidupnya seorang bayi. Pada penelitian ini, setelah 2 kelompok subyek dipilih, ditanyakan atau diamati faktor faktor yang mempengaruhi status penyakit tersebut secara retrospektif, entah 1 tahun yang lalu ataupun beberapa waktu yang lalu. Untuk melihat faktor faktor yang mempengaruhi kematian perinatal umpamanya, ditanyakan tentang ada tidaknya pemeriksaan kehamilan, komplikasi hamil, komplikasi bersalin, penolong persalinan, faktor lingkungan, status sosial ekonomi dan pendidikan ibu. Keunggulan metode ini terutama dapat digunakan dengan kasus penyakit yang sedikit, umpamanya terhadap ADDS, kematian perinatal dan maternal. Disamping itu, relatif murah, waktunya relatif singkat dan penelitiannya merupakan penelitian yang relatif kecil. Sebaliknya kritik terhadap metode penelitian ini, karena adanya banyak “bias”.
Masalah “selection bias” terjadi karena sulitnya memilih kelompok kasus dan kelompok kelola. Bias yang lain adalah “information bias” atau “recall bias”. Contohnya, seorang ibu yang kehilangan anaknya akan selalu lebih ingat kejadian-kejadian terdahulu daripada seorang ibu yang anaknya masih segar bugar pada saat wawancara. Atau seorang ibu yang bayinya cacad (kelompok kasus) akan selalu lebih ingat obat yang dimakan pada trimester pertama kehamilannya dibanding dengan ibu yang bayinya normal. Sementara itu, dalam penelitian ini hanya dapat diamati satu variabel tidak bebas saja. Keterbatasan yang lain adalah tidak dapat dihitungnya angka insidensi.

Penelitian Kohor (skripsi dan tesis)

Penelitian kohor dikenal juga sebagai longitudinal studies, prospective studies ataupun follow-up studies. Pada penelitian ini, sampel yang semula bebas dari suatu penyakit tetapi berbeda status paparan (exposure) nya, diikuti sampai waktu tertentu. Keunggulan metodf ini terutama karena dapat menghitung angka insidensi (incidence rate), yaitu angka yang mencerminkan kasus baru suatu penyakit. Pisamping itu juga dapat mengeksplorasi lebih dari satu variabel tergantung (outcome), nyaris tanpa “bias” dan dapat menetapkan angka risiko secara langsung dari satu saat ke saat yang lain. Sebaliknya, karena waktu yang diperlukan untuk penelitian ini relatif lebih lama dan memerlukan jumlah sampel yang cukup besar, maka penelitian ini sangat mahal dantidak efisien. Keterbatasan lainnya, kadang-kadang hasil penelitian ini berlakunya tidak cukup lama. Sementara itu, subyek yang dipakai sebagai sampel ada saja yang tidak dapat diikuti sampai selesai (drop out).

Dasar Pengetahuan kesehatan Reproduksi pada Remaja (skripsi dan tesis)

Menurut BKKBN (2008), dasar pengetahuan kesehatan reproduksi yang perlu diketahui remaja yaitu : 1) Pengetahuan tentang perubahan fisik, kejiwaan, dan kematangan seksual. Misalnya informasi tentang haid dan mimpi basah, tentang alat reproduksi remaja laki-laki dan perempuan. 2) Proses reproduksi yang bertanggung jawab sebagai bekal pemahaman seks bagi kebutuhan manusia secara biologis, menyalurkan dan mengendalikan naluri seksual yang menjadi kegiatan positif seperti olahraga atau hobi yang bermanfaat. Sementara penyaluran berupa hubungan seksual hanya untuk melanjutkan keturunan yaitu dengan cara menikah terlebih dahulu. 3) Pergaulan yang sehat antara remaja laki-laki dan perempuan, serta kewaspadaan terhadap masalah remaja yang banyak ditemukan. Remaja juga memerlukan pembekalan tentang kiat untuk mempertahankan diri secara fisik maupun psikis dan mental dalam menghadapi berbagai godaan, seperti ajakan untuk melakukan hubungan seksual diluar nikah dan penggunaan NAPZA. 4) Persiapan pranikah. Informasi ini diperlukan agar calon pengantin lebih siap secara mental dan emosional dalam memasuki kehidupan berkeluarga. 5) Kehamilan dan persalinan, serta cara pencegahannya. Remaja perlu mengetahui tentang hal ini, sebagai persiapan remaja laki-laki dan perempuan dalam memasuki kehidupan berkeluarga masa depan.

Pengertian Kesehatan Reproduksi Remaja (skripsi dan tesis)

Kesehatan reproduksi remaja adalah suatu kondisi sehat yang menyangkut sistem, fungsi, komponen, dan proses reproduksi yang dimiliki oleh remaja. Pengertian sehat disini tidak hanya bebas dari penyakit atau bebas dari kecacatan, namun juga sehat secara mental dan sosial budaya (BKKBN, 2008)

Pengertian Kesehatan Reproduksi (skripsi dan tesis)

Menurut WHO (1992), sehat adalah suatu keadaan yang lengkap meliputi kesejahteraan fisik, mental, dan sosial bukan semata-mata bebas dari penyakit atau kelemahan. Hal ini diharapkan agar adanya keseimbangan yang serasi dalam interaksi antara individu dengan masyarakat dan makhluk hidup lain serta lingkungannya (Mubarak, 2009). Menurut WHO (1994), kesehatan reproduksi adalah suatu keadaan kesejahteraan fisik, emosional, mental dan sosial yang utuhberhubungan dengan reproduksi, bukan hanya bebas dari penyakit atau kecacatan namun dalam segala aspek yang berhubungan dengan sistem reproduksi, fungsi serta prosesnya. Individu yang sehat secara reproduksi memiliki cara pendekatan yang positif dan penuh rasa hormat terhadap seksualitas dan hubungan seksual, mereka juga berpotensi untuk merasakan kesenangan dan pengalaman seksual yang aman, bebas dari paksaan, diskriminasi dan kekerasan (Potter & Perry, 2009). Menurut Kementrian Kesehatan Republik Indonesia (2000), kesehatan reproduksi adalah suatu keadaan sehat secara menyeluruh mencakup fisik, mental dan kehidupan sosial yang berkaitan dengan alat, fungsi, serta proses reproduksi yang pemikiran kesehatan reproduksi 10 bukan hanya kondisi yang bebas dari penyakit melainkan bagaimana seseorang dapat memiliki kehidupan seksual yang aman (Triwibowo & Pusphandani, 2015)

Hubungan Media dengan Kesehatan Reproduksi (skripsi dan tesis)

Penggunaan media terkait dengan kesehatan reproduksi menjadi hal yang dilematis. Di satu sisi, media dapat memberikan informasi yang tepat mengenai kesehatan reproduksi. Namun tidak sedikit remaja yang menggunakan media secara tidak tepat, misalnya melihat gambar dan video porno. Berdasarkan penelitian Andriani, dkk. (2016) yang dilakukan pada siswa SMK Negeri 1 Kendari didapatkan hasil bahwa akses media informasi yang negatif menjadi faktor yang membuat perilaku seksual remaja menjadi berisiko (p value= 0,001). Peran media menjadi penting dalam membentuk pengetahuan seorang remaja dalam memahami masalah kesehatan reproduksi. Informasi yang kurang tepat, akan sangat mempengaruhi pengetahuan yang menjadi kurang tepat juga. Sumber informasi itu dapat diperoleh dengan bebas mulai dari teman sebaya, bukubuku, film, video, sosial media, bahkan dengan mudah membuka situs-situs lewat internet. Berdasarkan hasil penelitian pada santri di Pondok Pesantren Darut Taqwa Bulusan Semarang keragaman jenis media informasi pada kategori banyak terpapar ≥5 jenis media informasi berhubungan dengan kesehatan reproduksi dengan p value= 0,001 (Sidik, 2015). Hasil penelitian yang telah dilakukan oleh Nurmasnyah, dkk. (2013) pada mahasiswa Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan UIN Syarif Hidayatullah Jakarta didapatkan hasil bahwa media, baik cetak maupun elektronik, telah menyumbangkan informasi terkait dengan kesehatan reproduksi. Materi yang ada dalam kesehatan reproduksi pada media seperti penundaan usia kawin, HIV-AIDS, 28 infeksi menular seksual (IMS), iklan kondom, narkoba, minuman keras dan mencegah kehamilan. Hasil penelitian Putri (2015) pada remaja di SMP 3 Muhammadiyah Wirobrajan didapatkan hasil p value= 0,000. Artinya, terdapat hubungan secara signifikan antara pemanfaatan media massa dengan tingkat pengetahuan kesehatan reproduksi pada remaja. Dengan pemanfaatan media massa yang tinggi akan menambah pengetahuan seseorang menjadi lebih baik sehingga membantu seorang dalam pemahaman tentang pentingnya mengetahui kesehatan reproduksi pada remaja.

Hubungan Peran Keluarga dengan Kesehatan Reproduksi (skripsid an tesis)

Keluarga merupakan pendidik pertama dan utama bagi anaknya. Keluarga merupakan benih akal penyusunan kematangan individu dan struktur kepribadian. Anak-anak mengikuti orang tua dan berbagai kebiasaan dan perilaku dengan demikian keluarga adalah elemen pendidikan lain yang paling nyata, tepat dan amat besar (Putri dalam Andriani, dkk., 2016). Pengetahuan dan persepsi yang salah tentang seksualitas dan kesehatan reproduksi dapat menyebabkan remaja berperilaku berisiko terhadap kesehatan reproduksinya. Oleh karena itu, peran orang tua dan guru menjadi penting dalam mendampingi remaja mencari dan menemukan informasi kesehatan reproduksi yang tepat (Kemenkes RI, 2018). Hasil penelitian Andriani, dkk. (2016) diketahui bahwa peran kelurga berhubungan secara signifikan dengan perilaku seksual remaja (p value= 0,004). Dimana semakin negatif peran keluarga maka semakin besar kemungkinan mereka untuk melakukan perilaku seksual yang berisiko. Perilaku seksual yang berisiko tersebut dapat memperburuk kesehatan reproduksi remaja. Orang tua diharapkan  memiliki pengetahuan yang cukup mendalam tentang seksual, menyediakan waktu yang cukup, komunikasi yang baik antara orang tua dan anak sehingga remaja akan lebih yakin dan tidak merasa canggung untuk membicarakan topik yang berhubungan dengan kesehatan reproduksi.
Menurut Uyun (2013) orang tua diharapkan mampu mendidik anak dengan 5 fungsi, diantaranya fungsi yang pertama yaitu fungsi religius dengan mendidik dan mengajak anak pada kehidupan yang beragama. Kedua, fungsi edukatif dengan mengajar dan memberi informasi tentang kesehatan reproduksi pada anak. Ketiga, fungsi protektif dengan melarang atau menghindarkan anak dari perbuatanperbuatan yang tidak diharapkan, mengawasi atau membatasi perbuatan anak dalam hal-hal tertentu, menganjurkan untuk melakukan perbuatan yang diharapkan mengajak bekerja sama dan saling membantu, memberi contoh yang tauladan. Fungsi keempat yaitu fungsi sosialis dengan mempersiapkan anak menjadi anggota masyarakat yang baik. Sehingga diperlukan fungsi sosialisasi dari orangtua sebagai penghubung dengan kehidupan sosial dan norma-norma sosial. Kelima, fungsi ekonomi dengan memberi nafkah dan menyediakan barang yang dibutuhkan anak untuk kebersihan diri guna mendukung kesehatan reproduksi (Uyun, 2013). Hasil penelitian Nurmasnyah Nurmasnyah, dkk. (2013) diketahui bahwa peran orang tua sebagai sumber informasi kesehatan reproduksi lebih rendah dibandingkan teman sebaya. Responden lebih suka membicarakan atau menanyakan tentang kesehatan reproduksi kepada temannya dibandingkan orang tuanya. Hal tersebut menunjukkan kurangnya peran keluarga dalam kesehatan reproduksi.

Hubungan Sikap dengan Kesehatan Reproduksi (skripsi dan tesis)

 Manusia dilahirkan dengan sikap pandangan atau sikap perasaan tertentu, tetapi sikap terbentuk sepanjang perkembangan. Peranan sikap dalam kehidupan manusia sangat besar. Bila sudah terbentuk pada diri manusia, maka sikap itu akan turut menentukan cara tingkah lakunya terhadap objek–objek sikapnya. Adanya sikap akan menyebabkan manusia bertindak secara khas terhadap objeknya (Gerungan, 2012). Menurut Nurhakim, dkk. (2018) berdasarkan hasil penelitiannya terhadap siswa SMAN 4 Garut diketahui bahwa masih banyak sikap remaja yang tidak mendukung kesehatan reproduksi karena mereka menganggap bahwa masalah seks masih tabu atau kurang sopan untuk dibicarakan, terutama pada pada orang tua. Padahal setiap remaja bisa membicarakan hal ini dengan guru disekolah dan orangtua selama dirumah agar informasi yang didapatkan benar. Sikap yang baik (positif) akan suatu hal akan membuat seseorang tidak melakukan tindakan yang negatif yang berhubungan dengan kesehatan reproduksi.
Sebagaimana hasil penelitian yang dilakukan oleh Aritonang (2015) didapatkan hasil  bahwa seseorang yang memiliki sikap positif (baik) maka semakin negatif untuk melakukan hubungan seksual pra nikah dengan p value= 0,001, yang mana hubungan seksual pra nikah ini dapat mempengaruhi kesehatan reproduksi. Hasil penelitian Fitri dan Masyudi (2017) pada remaja putri di SMA Negeri 2 Takengon didapatkan hasil p value= 0,05. Artinya, terdapat hubungan yang bermakna antara sikap dengan kesehatan reproduksi pada remaja putri. Semakin negatif sikap remaja putri maka semakin tinggi masalah kesehatan reproduksi.

Hubungan Pengetahuan dengan Kesehatan Reproduksi (skripsi dan tesis)

Pengetahuan diawali dari rasa ingin tahu yang ada dalam diri manusia. Pengetahuan selama ini diperoleh dari proses bertanya dan selalu ditujukan untuk menemukan kebenaran (Hendra, 2008). Pengetahuan dasar tentang kesehatan reprosuksi pada remaja menurut Kemenkes RI salah satunya yaitu pengenalan dan mengetahui tentang proses, fungsi, dan sistem alat reproduksi. Pengetahuan dan persepsi yang salah tentang seksualitas dan kesehatan reproduksi dapat menyebabkan remaja berperilaku berisiko terhadap kesehatan reproduksinya sehingga sangat penting untuk melihat pengetahuan remaja tentang kesehatan reproduksi (Kemenkes RI, 2018). Remaja yang mempunyai pengetahuan yang benar mengenai kesehatan reproduksi dapat berhati-hati dalam melangkah. Remaja akan dapat memberikan penilaian mengenai patut tidaknya melakukan melakukan hubungan seksual dengan pasangannya sebelum menikah. Penilaian yang dibuat remaja tersebut dilakukan secara sadar bukan keterpaksaan (Imron, 2012). Pengetahuan mengenai kesehatan reproduksi sangat diperlukan oleh remaja. Hal ini dikarenakan dengan memiliki informasi dan pengetahuan yang benar maka remaja akan banyak mengambil manfaat. Dampak positif dari pengetahuan yang benar mengenai kesehatan reproduksi yaitu dapat mencegah perilaku seks pranikah serta dampaknya termasuk kehamilan tidak di inginkan, HIV/AIDS, dan IMS dapat dicegah (Oie, 2014). Pengetahuan yang baik tentang kesehatan reproduksi dapat berpengaruh dengan ada atau tidaknya masalah kesehatan reproduksi terutama pada remaja. Hal tersebut sejalan dengan hasil penelitian Fitri dan Masyudi (2017) pada remaja putri di SMA Negeri 2 Takengon didapatkan hasil p value= 0,05. Artinya, terdapat hubungan yang bermakna antara pengetahuan dengan kesehatan reproduksi pada remaja putri.
Hasil penelitian Winerungan, dkk. (2013) pada remaja di SMP negeri 8 Manado didapatkan hasil bahwa pengetahuan berpengaruh dengan kejadian iritasi vagina yang merupakan masalah kesehatan reproduksi dengan p value= 0,000. 24 Artinya, semakin kurang tingkat pengetahuan yang dimiliki remaja maka semakin tinggi kejadian iritasi vagina yang merupakan masalah kesehatan reproduksi. Hasil penelitian Sugiarto (2012) juga menunjukkan bahwa pengetahuan yang kurang tentang kesehatan reproduksi dapat menimbulkan masalah kesehatan reproduksi (kurangnya perilaku pencegaha keputihan). Dari penelitian tersebut didapatkan hasil bahwa terdapat hubungan yang signifikan antara pengetahuan kesehatan reproduksi dengan perilaku pencegaha keputihan (p value= 0,008

Organ Reproduksi Wanita (skripsi dan tesis)

Organ reproduksi wanita dibagi menjadi dua yaitu organ reroduksi dalam dan luar (Widyastuti, 2012).
 1) Organ reproduksi luar
 a. Mons veneris (Rambut Kemaluan) Merupakan suatu bangunan yang terdiri atas kulit yang di bawahnya terdapat jaringan lemak menutupi tulang kemaluan/simphisis. Mons veneris ditutupi rambut kemaluan. Fungsi Mons veneris adalah sebagai pelindung terhadap benturan-benturan dari luar dan dapat menghindari infeksi dari luar dan berfungsi untuk melindungi alat genetalia dari masuknya kotoran selain itu untuk estetika (Irianto, 2014). b. Labia Mayora (bibir besar) Terdiri atas bagian kanan dan kiri lonjong mengecil ke bawah dan bersatu di bagian bawah. Bagian luar labia mayora terdiri dari kulit berambut, kelenjar lamak, dan kelenjar keringat. Bagian dalamnya tidak berambut dan mengandung kelenjar lemak, bagian ini mengandung banyak ujung syaraf sehingga sensitif terhadap hubungan seks. Berfungsi untuk menutupi organorgan genetalia di dalamnya dan mengeluarkan cairan pelumas pada saat menerima rangsangan seksual (Irianto, 2014). c. Labia Minora (bibir kecil) Merupakan lipatan kecil di bagian dalam labia mayora. Bagian depannya mengelilingi klitoris. Kedua labia ini mempunyai pembuluh darah, sehingga dapat menjadi besar saat keinginan seks bertambah. Labia ini analog dengan kulit skrotum pada pria. Berfungsi untuk menutupi organ-organ genetalia di dalamnya serta merupakan daerah erotik yang mengandung pambuluh darah dan syaraf (Irianto, 2014).  d. Klitoris Merupakan bagian yang erektil, seperti penis pada wanita. Mengandung banyak pembuluh darah dan serat saraf sehingga sangat sensitif saat hubungan seks (Irianto, 2014). e. Vestibulum (Vestibula) Bagian kelamin ini dibatasi oleh kedua labia kanan-kiri dan bagian atas oleh klitoris serta bagian belakang pertemuan labia minora. Pada bagian vestibulum terdapat muara vagina (liang senggama), saluran kencing, kelenjar Bartholini dan kelenjar Skene. Berfungsi untuk mengeluarkan cairan apabila ada rangsangan seksual yang berguna untuk melumasi vagina pada saat bersenggama (Irianto, 2014). f. Himen (selaput dara) Merupakan selaput tipis yang menutupi sebagian lubang vagina luar. Pada umumnya himen berlubang sehingga menjadi saluran aliran darah menstruasi atau cairan yang dikeluarkan oleh kelenjar rahim dan kelenjar endometrium (lapisan dalam rahim) (Widyastuti, 2012).
 2) Organ Reproduksi dalam a. Vagina (Liang Kemaluan) Merupakan saluran muskulo-membranasea (otot-selaput) yang menghubungkan rahim dengan dunia luar. Bagian ototnya berasal dari otot levator ani dan otot sfingter ani (otot dubur) sehingga dapat dikendalikan dan dilatih. Dinding vagina mempunyai lipatan sirkuler (berkerut) yang disebut “rugae”. Berfungsi sebagai sebagai jalan lahir bagian lunak, sebagai sarana hubungan seksual, saluran untuk mengalirkan lendir dan darah menstruasi (Irianto, 2014). b. Rahim (Uterus) Bentuk rahim seperti buah pir atau alpukat, dengan berat sekitar 30 gram. Terletak di panggul kecil diantara rektum (bagian usus sebelum dubur) dan di depannya terletak kandung kemih. Hanya bagian bawahnya disangga oleh ligamen yang kuat, sehingga bebas untuk tumbuh dan berkembang saat kehamilan. Berfungsi sebagai alat tempat terjadinya menstruasi, sebagai alat tumbuh dan berkembangnya hasil konsepsi, tempat pembuatan hormon misal HCG (Irianto, 2014). c. Tuba Fallopii (Saluran telur) Tuba Fallopii berasal dari ujung ligamentum latum berjalan ke arah lateral, dengan panjang sekitar 12 cm. Tuba Fallopii bukan merupakan saluran lurus, tetapi mempunyai bagian yang lebar sehingga membedakannya menjadi empat bagian. Tuba fallopii merupakan bagian yang paling sensitif terhadap infeksi dan menjadi penyebab utama terjadinya kemandulan (infertilitas). Fungsi tuba fallopii sangat vital dalam proses kehamilan, yaitu menjadi saluran tempat bertemunya spermatozoa dan ovum, mempunyai fungsi penangkap ovum, tempat terjadinya pembuahan (fertilitas), menjadi saluran dan tempat pertumbuhan hasil pembuahan sebelum mampu menanamkan diri pada lapisan dalam Rahim (Irianto, 2014). d. Indung Telur (Ovarium) Indung telur terletak antara rahim dan dinding panggul, dan digantung ke rahim oleh ligamentum ovarii proprium dan ke dinding panggul oleh ligamentum infundibulo-pelvikum. Indung telur merupakan sumber hormonal perempuan yang paling utama, sehingga mempunyai dampak keperempuanan dalam pengatur proses menstruasi. Indung telur mengeluarkan telur (ovum) setiap bulan silih berganti kanan dan kiri. Pada saat telur (ovum) dikeluarkan perempuan di sebut “dalam masa subur”. Fungsi ovarium adalah sebagai penghasil sel telur/ovum, sebagai organ yang menghasilkan hormon (estrogen dan progesteron) (Irianto, 2014). e. Parametrium (Penyangga rahim) Merupakan lipatan peritonium dengan berbagai penebalan, yang menghubungkan rahim dengan tulang panggul. Lipatan atasnya mengandung tuba fallopii dan ikut serta menyangga indumg telur. Bagian ini sensitif terhadap infeksi sehingga mengganggu fungsinya (Widyastuti, 2012). 2.2 Hubungan Pengetahuan dengan Kesehatan Reproduksi

Unsur-unsur Kesehatan Reproduksi Remaja (skripsi dan tesis)

Remaja merupakan fase kehidupan manusia yang spesifik, pada saat usia remaja terjadi peningkatan hormon-hormon seksual. Peristiwa ini berdampak macam-macam pada fisik dan jiwa remaja. Secara fisik akan muncul apa yang disebut sebagai tanda-tanda seks sekunder seperti payudara membesar, bulu-bulu kemaluan tumbuh, haid pada perempuan, dan mimpi basah pada laki-laki. Secara 16 psikologis muncul dorongan birahi yang besar tetapi juga secara psikologis mereka masih dalam peralihan dari anak-anak kedewasa. Secara biologis aktivitas organ dan fungsi reproduksi mereka meningkat pesat tetapi secara psikoloogis aktivitas organ dan fungsi reproduksi mereka meningkat pesat tetapi secara psikologis dan sosiologis mereka dianggap belum siap menjadi dewasa. Konflik yang terjadi antara berbagai perkembangan tersebut membuat mereka juga beresiko mengalami masalah kesehatan seksual dan kesehatan reproduksi tersendiri (Widyastuti, 2012). Oleh karena itu kesehatan seksual dan kesehatan reproduksi remaja perlu ditangani secara khusus dengan cara-cara yang ditunjukkan untuk menyiapkan mereka menjadi remaja (yang kelak menjadi orang tua) yang bertanggung jawab. Mereka bukan saja memerlukan informasi dan pendidikan, tetapi juga pelayanan kesehatan seksual dan reproduksi mereka. Pemberian informasi dan pendidikan tersebut harus dilakukan dengan menghormati kerahasiaan dan hak-hak privasi lain mereka. Masalah kesehatan seksual dan reproduksi adalah isu-isu seksual remaja, termasuk kehamilan yang tidak diinginkan, aborsi tidak aman, penyakit menular melalui seks, dan HIV/AIDS, dilakukan pendekatan melalui promosi perilaku seksual yang bertanggung jawab dan reproduksi yang sehat, termasuk disiplin pribadi yang mandiri serta dukungan pelayanan yang layak dan konseling yang sesuai secara spesifik untuk umur mereka. Hal-hal yang ada seputar kesehatan reproduksi remaja antara lain.
 1. Kesehatan Alat-Alat Reproduksi
 Masalah-masalah yang berkaitan dengan kondisi kesehatan alat-alat reproduksi ini menyentuh remaja perempuan juga remaja laki-laki. Masalah-  masalah yang dihadapi remaja perempuan antara lain adalah payudara mengeluarkan cairan, benjolan pada payudara, masalah seputar haid (nyeri haid yang tidak teratur), keputihan, dan infeksi saluran reproduksi. Selain itu juga diajukan pertanyaan-pertanyaan, seputar siklus haid, waktu terjadinya masa subur, masalah keperawanan dan masalah jerawat (Widyastuti, 2012).
 2. Hubungan dengan Pacar
 Persoalan-persoalan yang mewarnai hubungan dengan pacar adalah masalah kekerasan oleh pacar, tekanan untuk melakukan hubungan seksual, pacar cemburuan, pacar berselingkuh dan bagai mana menghadapi pacar yang pemarah. Tindakan seseorang dapat digolongkan sebagai tindak kekerasan dalam percintaan bila salah satu pihak merasa terpaksa, tersinggung dan disakiti dengan apa yang telah di lakukan pasangannya (Irianto, 2014).
3. Masturbasi
 Masturbasi atau onani adalah salah satu cara yang dilakukan jika seseorang tidak mampu mengendalikan dorongan seksual yang dirasakannya. Jika dibandingkan dengan melakukan hubungan seksual, maka onani dapat dikatakan mengandung resiko yang lebih kecil bagi pelakunya untuk menghadapi kehamilan yang tidak dikehendaki dan penularan penyakit menular seksual. Bahaya onani adalah apabila dilakukan dengan cara tidak sehat misalnya menggunakan alat yang bisa menyebabkan luka atau infeksi. Onani juga bisa menimbulkan masalah bila terjadi ketergantungan/ketagihan, bisa juga menimbulkan perasaan bersalah (Irianto, 2014).
 4. Hubungan Seksual Sebelum Nikah
Para remaja berpacaran dewasa ini berkisar dari melakukan ciuman bibir, raba-raba daerah sensitif, saling menggesekkan alat kelamin (petting) sampai ada pula yang melakukan senggama. Perkembangan zaman juga mmpengaruhi perilaku seksual dalam berpacaran para remaja. Hal ini dapat dilihat bahwa hal-hal yang ditabukan remaja pada beberapa tahun yang lalu seperti berciuman dan bercumbu, kini sudah dianggap biasa. Bahkan, ada sebagian kecil dari mereka setuju dengan free sex. Perubahan dalam nilai ini, misalnya terjadi dengan pandangan mereka terhadap hubungan seksual sebelum menikah (Irianto, 2014).
5. Penyakit Menular Seksual
Hubungan seksual sebelum menikah juga berisiko terkena penyakit menular seksual seperti sifilis, gonorhoe (kencing nanah), herps sampai terinfeksi HIV.
6. Aborsi
Salah satu cara menghadapi kehamilan yang tidak di inginkan adalah dengan melakukan tindakan aborsi. Aborsi masih merupakan tindakan yang ilegal di Indonesia. Upaya sendiri untuk melakukan aborsi banyak dilakukan dengan mengkonsumsi obat-obatan tertentu, jamu, dan lain-lain (Irianto, 2014).

Hak-Hak Reproduksi (skripsi dan tesis)

Hak-hak reproduksi menurut kesepakatan dalam Konferensi Internasional Kependudukan dan Pembangunan bertujuan untuk mewujudkan kesehatan bagi individu secara utuh, baik kesehatan jasmani maupun rohani, meliputi : 1. Hak mendapatkan informasi dan pendidikan kesehatan reproduksi 2. Hak mendapatkan pelayanan dan perlindungan kesehatan reproduksi 3. Hak kebebasan berfikir tentang pelayanan kesehatan reproduksi 4. Hak untuk dilindungi dari kematian karena kehamilan 5. Hak untuk menentukan jumlah dan jarak kelahiran anak 6. Hak atas kebebasan dan keamanan berkaitan dengan kehidupan reproduksinya 7. Hak untuk bebas dari penganiayaan dan perlakuan buruk termasuk perlindungan dari perkosaan, kekerasan, penyiksaan, dan pelecehan seksual 8. Hak mendapatkan manfaat kemajuan ilmu pengetahuan yang berkaitan dengan kesehatan reproduksinya 9. Hak atas pelayanan dan kehidupan reproduksinya 10. Hak untuk membangun dan merencanakan keluarga  11. Hak untuk bebas dari segala bentuk diskriminasi dalam kehidupan berkeluarga dan kehidupan reproduksi 12. Hak atas kebebasan berkumpul dan berpartisipasi dalam politik yang berkaitan dengan kesehatan reproduksi (Widyastuti, 2012).
Menurut BKKBN 2016, kebijakan teknis operasional di Indonesia, untuk mewujudkan pemenuhan hak-hak reproduksi: 1. Promosi hak-hak reproduksi Dilaksanakan dengan menganalisis perundang-undangan, peraturan, dan kebijakan saat ini berlaku apakah sudah seiring dan mendukung hak-hak reproduksi dengan tidak melupakan kondisi lokal sosial budaya masyarakat. 2. Advokasi hak-hak reproduksi Advokasi dimaksudkan agar mendapat dukungan komitmen dari para tokoh politik tokoh agama, tokoh masyarakat, LSM/LSOM, dan swasta. 3. KIE hak-hak reproduksi Dengan KIE diharapkan masyarakat semakin mengerti hak-hak reproduksi sehingga dapat bersama-sama mewujudkannya. 4. Sistem pelayanan hak-hak reproduksi

Perkembangan Kesehatan Reproduksi Remaja (skripsi dan tesis)

Masa remaja juga dicirikan dengan banyaknya rasa ingin tahu pada diri seseorang dalam berbagai hal, tidak terkecuali bidang seks. Seiring dengan bertambahnya usia seseorang, organ reproduksi pun mengalami perkembangan dan pada akhirnya akan mengalami kematangan. Pada masa pubertas, hormon-hormon yang mulai berfungsi selain menyebabkan perubahan fisik/tubuh juga mempengaruhi dorongan seks remaja (BKKBN, 2011). Remaja mulai merasakan dengan jelas meningkatnya dorongan seks dalam dirinya, misalnya muncul ketertarikan dengan orang lain dan keinginan untuk mendapatkan kepuasan seksual. Kematangan organ reproduksi dan perkembangan psikologis remaja yang mulai menyukai lawan jenisnya serta arus media informasi baik elektronik maupun non elektronik akan sangat berpengaruh terhadap perilaku seksual individu remaja tersebut (Mappiare, 2012). Sebagai akibat proses kematangan sistem reproduksi ini, seorang remaja sudah dapat menjalankan fungsi prokreasinya, artinya sudah dapat mempunyai keturunan. Meskipun demikian, hal ini tidak berarti bahwa remaja sudah mampu bereproduksi dengan aman secara fisik. Usia reproduksi sehat untuk wanita adalah antara 20 – 30 tahun. Faktor yang mempengaruhinya ada bermacam-macam. Misalnya, sebelum wanita berusia 20 tahun secara fisik kondisi organ reproduksi seperti rahim belum cukup siap untuk memelihara hasil pembuahan dan pengembangan janin. Selain itu, secara mental pada umur ini wanita belum cukup matang dan dewasa. Ibu muda biasanya kemampuan perawatan pra-natal kurang  baik karena rendahnya pengetahuan dan rasa malu untuk datang memeriksakan diri ke pusat pelayanan kesehatan (BKKBN, 2011). Salah satu masalah yang sering timbul pada remaja terkait dengan masa awal kematangan organ reproduksi pada remaja adalah perilaku seks bebas (free sex) masalah kehamilan yang terjadi pada remaja usia sekolah diluar pernikahan, dan terjangkitnya penyakit menular seksual termasuk HIV/AIDS (BKKBN, 2011)

Ruang Lingkup Kesehatan Repoduksi (skripsi dan tesis)

Secara garis besar, ruang lingkup kesehatan reproduksi (BKKBN, 2011) meliputi: 1. Kesehatan ibu dan bayi baru lahir 2. Kesehatan reproduksi remaja 3. Pencegahan dan penanggulangan pada penyimpangan seksual dan napza yang dapat berakibat pada HIV/AIDS 4. Kesehatan reproduksi pada usia lanjut Uraian ruang lingkup kesehatan reproduksi remaja berdasarkan pada pendekatan siklus kehidupan, yakni memperhatikan kekhususan kebutuhan penanganan sistem reproduksi pada setiap fase kehidupan, serta kesinambungan antar fase kehidupan tersebut. Ini dikarenakan masalah kesehatan reproduksi pada setiap fase kehidupan dapat diperkirakan, maka apabila tidak ditangani dengan baik maka akan berakibat buruk bagi masa kehidupan selanjutnya Salah satu ruang lingkup kesehatan reproduksi dalam siklus kehidupan adalah kesehatan reproduksi remaja. Tujuan dari program kesehatan reproduksi remaja adalah untuk membantu remaja agar memahami kesehatan reproduksi, sehingga remaja memiliki sikap dan perilaku sehat serta bertanggung jawab kaitannya dengan masalah kehidupan reproduksi (Widyastuti dkk., 2012).

Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Kesehatan Reproduksi (skripsi dan tesis)

Secara garis besar dapat dikelompokkan empat golongan faktor yang dapat berdampak buruk bagi kesehatan reproduksi (Taufan, 2010) yaitu: 1. Faktor sosial-ekonomi dan demografi (terutama kemiskinan, tingkat pendidikan yang rendah dan kurangnya pengetahuan tentang perkembangan seksual dan proses reproduksi, serta lokasi tempat tinggal yang terpencil). 2. Faktor budaya dan lingkungan (misalnya, praktek tradisional yang berdampak buruk pada kesehatan reproduksi, kepercayaan banyak anak banyak rejeki, informasi tentang fungsi reproduksi yang membingungkan anak dan remaja karena saling berlawanan satu dengan yang lain, kurangnya peran orang tua dalam mendidik dan menawasi anak, dsb).  3. Faktor psikologis (dampak pada keretakan orang tua dan remaja, depresi karena ketidak seimbangan hormonal, rasa tidak berharga wanita terhadap pria yang memberi kebebasan secara materi). 4. Faktor biologis (cacat sejak lahir, cacat pada saluran reproduksi pasca penyakit menular seksual)