Turnover Intention (skripsi dan tesis)

Pergantian karyawan atau keluar masuknya karyawan dari organisasi merupakan suatu fenomena yang penting. Sebelum karyawan melakukan tindakan turnover, mereka mempunyai keinginan atau intensi untuk keluar
dari perusahaan. Turnover intention (keinginan berpindah) dapat mengarah langsung pada turnover nyata. Good et.al menyatakan bahwa turnover intention adalah intensi seseorang untuk melakukan pemisahan aktual (turnover) dari suatu organisasi (Sunjoyo, 2002). Umi manyatakan bahwa
Turnover intention refers to the intention of an employee looking for
alternative work in other places and has not been implemented in a actual
behavior (Umi N, 552:2007). Pernyataan ini menunjukkan bahwa
Keinginan berpindah mengacu pada maksud seorang karyawan mencari
tempat pekerjaan alternatif lainnya dan belum diimplementasikan dalam
perilaku aktual. Anggaryono menyatakan bahwa turnover intention adalah tingkat kekuatan niat karyawan untuk keluar dari perusahaan atas prakarsa
karyawan itu sendiri baik disertai imbalan dari perusahaan atau tidak
(Joko Nugroho, 2008).
Wayne et.al dalam Fransiskus (2006) menyatakan bahwa, Intensi
turnover merupakan keinginan untuk keluar dari tempat kerja sekarang dan
mencari alternatif pekerjaan yang lebih baik di tempat lain.
Dengan demikian dapat dikatakan bahwa turnover intention atau keinginan berpindah merupakan suatu niat dari hasil berpikir karyawan
untuk keluar atau meninggalkan perusahaannya untuk mencari alternatif pekerjaan yang lebih baik. Jadi faktor penentu adanya niat
pindah dari perusahaan atau turnover intention antara lain kurangnya
kepuasan kerja, kurangnya ketertarikan pada pekerjaan yang
sekarang dan ketertarikan yang diharapkan pada alternatif pekerjaan.
Heneman et. all (2006) menyatakan bahwa The employee’s
intention to quit depend on three general factors: the perceived
desirability of leaving, the perceived ease of leaving, and alternatives
available to the employee. Keinginan untuk keluar karyawan tergantung
pada tiga faktor umum: mengamati sifat menginginkan meninggalkan,
mengamati mudahnya meninggalkan, dan penggunaan alternatif untuk
karyawan. Dapat dianalisa bahwa keinginan karyawan untuk keluar dari
perusahaan dengan mengamati atau melihat faktor sifat keinginannya
seperti pengaruh ketidakpuasan, konflik kerja-keluarga, dan alasan
pribadi lainnya, apakah mudah menemukan pekerjaan baru setelah
meninggalkan perusahaan; dan pekerjaaan alternatif lainnya di
tempat lain jika karyawan sudah meninggalkan perusahaan.
Menurut Abelson dalam Yayuk (2006) menyatakan bahwa sebagian
besar karyawan yang meninggalkan organisasi dan belum diwujudkan
dalam tindakan pasti meninggalkan organisasi karena alasan sukarela dapat dikategorikan atas perpindahan kerja