Analytical Hierarcy Proses merupakan salah satu metode untuk membantu
pengambil keputusan dalam mengambil keputusan sesuai dengan criteria
atau syarat yang telah ditentukan, dan criteria pengambilan keputusan
tersebut merupakan criteria yang bermacam-macam.
Metode Analytical Hierarcy Process (AHP) bersifat multi criteria karena
menggunakan banyak criteria dalam penyusunan suatu prioritas system
pendukung keputusan.
Disamping sifatnya yang multi criteria, metode AHP juga didasarkan pada
suatu proses yang logis dan terstruktur, karena penyusunan prioritasnya
dilakukan dengan menggunakan prosedur yang logis dan terstruktur.
Kegiatan tersebut dilakukan oleh ahli yang representative yang menyusun
prioritasnya.
Metode Analytical Hierarcy Process adalah salah satu metode pengambil
keputusan yang dapat membantu berfikir manusia. Metode ini
dikembangkan oleh Thomas L. Saaty pada awal tahun 1970-an. Proses
berfikir metode ini adalah membentuk score secara numeric untuk
menyusun cara alternative setiap pengambilan keputusan dimana keputusan
tersebut dicocokkan dengan criteria pembuat keputusan (Fariz, 2010).
Peralatan proses pengambilan keputusan pada metode Analytical Hierarcy
Process yang utama adalah sebuah hierarki fungsional dengan input
utamanya pendapat manusia. Dengan hierarki, masalah yang tidak
terstruktur dapat dipecahkan kedalam kelompok-kelompoknya yang
kemudian kelompok tersebut diatur kedalam suatu bentuk hierarki.
Dalam penjabaran hierarki tujuan, tidak ada pedoman pasti tentang
bagaimana pengambil keputusan menjabarkannnya menjadi tujuan yang
lebih rendah. Pengambil keputusan menentukan penjabaran tujuan itu
berhenti dan memperhatikan kelebihan dan kekurangan yang didapat jika
tujuan tersebut terperinci lebih lanjut. Berikut ini adalah beberapa hal yang
harus diperhatikan dalam penjabaran hierarki tujuan, yaitu:
a. Pada saat penjabaran tujuan kedalam subtujuan harus memperhatikan
setiap tujuan yang akan tercakup dalam subtujuan yang lebih rinci.
b. Meskipun hal pertama dapat terpenuhi, tapi juga perlu menghindari
terjadinya pembagian yang terlalu banyak.
c. Karena itu, sebelum menetapkan tujuan harus dapat menjabarkan
hierarki sampai ke tujuan yang paling rendah dengan cara
mengujinya.
Dalam menyelesaikan permasalahan dengan Analytical Hierarchy Process
(AHP) ada beberapa prinsip yang harus dipahami, di antaranya adalah
sebagai berikut:
1. Decomposition (membuat hierarki)
Dalam menyusun hirarki harus menentukan tujuan melalui kriteriakriteria yang dipakai untuk menilai alternatif-alternatif yang ada. Setiap
kriteria terkadang memiliki subkriteria dibawahnya yang memiliki nilai
intensitas masing-masing 2. Comparative judgment (penilaian kriteria dan alternatif)
Kriteria dan alternatif dilakukan dengan perbandingan berpasangan.
Menurut Saaty (1988), untuk berbagai persoalan, skala 1 sampai 9 adalah
skala yang dipakai dalam penilaiannya.
3. Synthesis of priority (menentukan prioritas)
Menentukan prioritas setiap kriteria digunakan sebagai bobot dari criteria
tersebut dalam pengambilan keputusan. Metode Analytical Hierarchy
Process (AHP) melakukan analisis prioritas setiap kriteria dengan metode
perbandingan berpasangan antara dua elemen sehingga semua elemen
yang ada akan tercakup dalam perbandingan.
4. Logical Consistency (konsistensi logis)
Konsistensi memiliki dua makna. Yang pertama yaitu objek-objek yang
serupa bisa dikelompokkan sesuai dengan jenisnya. Yang kedua yaitu
menyangkut tingkat hubungan antar objek yang didasarkan pada kriteria
tertentu. (Kosasi, Sandy. 2002).
Metode Analytical Hierarcy Process (AHP) sering digunakan sebagai
metode pemecah masalah dibanding dengan metode yang lain. Berikut ini
adalah beberapa kelebihan penggunaan metode AHP (menurut Suryadi dan
Ramdhani, 1998): a. Berstruktur hierarki, sebagai dampak dari criteria yang dipilih, sampai
pada subkriteria yang paling dalam.
b. Memperhitungkan validitas sampai dengan batas toleransi inkonsistensi
berbagai criteria dan cara alternative yang dipilih oleh pengambil
keputusan.
c. Memperhitungkan daya tahan dan hasil analisis pengambil keputusan.
Karena Metode AHP memperhitungkan tingkat validitas sampai dengan
batas toleransi inkonsistensi dengan berbagai kriteria dan cara alternatif yang
dipilih oleh pengambil keputusan, metode AHP juga mempunyai kemampuan
untuk memecahkan masalah yang multi criteria yang didasarkan pada
perbandingan preferensi dari setiap elemen dalam hierarki, sehingga menjadi
model pengambil keputusan yang komprehensif.
Dengan demikian, terdapat empat aksioma-aksioma yang terkandung
dalam model AHP yaitu :
1. Reciprocal Comparison
Dalam pengambilan keputusan harus dapat membuat perbandingan dan
menyatakan pendapatnya. Pendapat tersebut harus memenuhi syarat yaitu
apabila A lebih penting daripada B dengan sekala x, maka B lebih penting
daripada A dengan sekala 1/x.
2. Homogeneity
Pendapat seseorang harus dapat dinyatakan dalam skala terbatas, elemenelemenya dapat dibandingkan satu dengan yang lainnya. Kalau aksioma
ini tidak dipenuhi maka elemen-elemen yang dibandingkan tersebut tidak
homogen dan harus dibentuk cluster (kelompok elemen) yang baru.
3. Independence
Pendapat seseorang dinyatakan dengan mengasumsikan bahwa kriteria
tidak dipengaruhi oleh alternatif-alternatif yang ada melainkan oleh
objektif keseluruhan. Hal ini menunjukkan bahwa model dalam metode
AHP adalah searah, maksudnya perbandingan antara elemen-elemen
dalam satu tingkat tergantung pada elemen-elemen pada tingkat diatasnya.
4. Expectation
Dalam pengambilan keputusan, struktur hirarki diasumsikan lengkap.
Apabila tidak terpenuhi maka pengambilan keputusan tidak memakai
seluruh kriteria yang tersedia sehingga keputusan yang diambil dianggap
tidak lengkap.
Metode Analytical Hierarcy Process juga dapat memberikan fasilitas
evaluasi pro dan kontra secara rasional. Karena itu, metode AHP dapat
memberikan solusi yang optimal melalui cara berikut:
a. Menganalisis keputusan secara kuantitatif dan kualitatif.
b. Mengevaluasi masalah kemudian memberikan solusi sederhana melalui
model hierarki.
c. Memberikan pendapat yang logis.
d. Melakukan Pengujian kualitas keputusan.
e. Waktu yang dibutuhkan relative singkat.
