Cyberbullying yaitu tindakan mengintimidasi menggunakan media atau perangkat
elektronik, tindakan perundungan di media sosial adalah tindakan yang disengaja
oleh pelaku dengan maksud atau tujuan yang menyebabkan timbulnya kerugian,
tindakan yang selalu dilakukan secara konsisten atau berulang- ulang,
Cyberbullying selalu melibatkan suatu unsur hubungan yang ditandai dengan
adanya ketidakseimbangan kekuatan (Hellsten, 2017). Cyberbullying merupakan
perilaku individu atau kelompok secara sengaja dan berulang kali melakukan
tindakan yang menyakiti orang lain melalui penggunaan media komputer, telepon
seluler dan alat elektronik lainnya. Cyberbullying melibatkan pelecehan atau
penganiayaan yang dilakukan oleh pelaku terhadap korbannya tidak dengan kontak
fisik atau tidak saling berdekatan satu sama lain, melainkan secara psikologis yang
kemudian akan merusak emosional baik korban maupun pelakunya
sendiri.Berdasarkan uraian para ahli diatas peneliti mengambil kesimpulan bahwa
cyberbullying adalah salah satu kategorisasi dari bullying yang menggunakan sosial
media sebagai alat untuk mengganggu atau mengintimidasi teman atau orang lain
(Hinduja, 2007).
Hasil penelitian Sting (2019) dengan judul Hubungan Antara Kecerdasan
Emosional Dengan Perilaku Cyberbullying Pada Remaja di Salatiga. Pada
penelitian ini, peneliti menggunakan jenis penelitian kuantitatif korelasional.
Partisipan dalam penelitian ini adalah siswa-siswi Sekolah Menengah Atas di
Salatiga. Hasil penelitian menyebutkan terdapat hubungan negatif yang signifikan
antara kecerdasan emosional dan perilaku cyberbullying pada remaja di Salatiga.
Hasil penelitian didapati bahwa sebagian besar partisipan memiliki kecerdasan
emosional yang tinggi yaitu,sebanyak 228 orang (56.5 %). Pada kategori sangat
tinggi menduduki peringkat kedua dengan jumlah partisipan sebanyak 168 (41,5
%). Disisi lain kategori rendah berada pada tingkat 3 dengan jumlah partisipan
sebanyak 7 orang (1.7%). Diperingkat terakhir ada pada kategori sangat rendah
dengan partisipan hanya 1 orang (0.2%). Jadi dapat disimpulkan bahwa kecerdasan
emosional partisipan tergolong tinggi. Pada hasil analisa deksriptif variabel
cyberbullying, hasil yang ditemui ialah sebagian besar partisipan tidak pernah
melakukan perilaku cyberbullying dengan jumlah 394 orang (0.5%). Di sisi lain
partisipan yang kadang-kadangmelakukanperilaku cyberbullying sebanyak 9 orang
(2.2 %). Peringkat terakhir jatuh pada kategori sering, dimana partisipan yang sering
melakukan perilaku cyberbullying hanya sejumlah 2 orang (0.5 %). Jadi dapat
disimpulkan bahwa perilaku cyberbullying partisipan berada pada kategori tidak
pernah. Maka dapat disimpulkan bahwa semakin tinggi kecerdasan emosional
remaja di Salatiga, semakin rendah pula perilaku cyberbullying timbul pada remaja
di Salatiga, begitu pula sebaliknya. Temuan ini membuktikan bahwa kecerdasan
emosional memiliki peranan penting dalam mengendalikan perilaku cyberbullying.
Apabila individu memiliki kecerdasan emosional yang tinggi maka perilaku agresif
remaja dapat dikontrol sehingga hal tersebut meningkatkan kepekaan individu
terhadap perilaku cyberbullying. Peningkatan kepekaan cyberbullying terhadap
individu merupakan komponen yang penting dalam mencegah terjadinya
cyberbullying. Individu yang memiliki kecerdasan emosional yang tinggi juga
memiliki empati yang tinggi.
Hasil penelitian lainya oleh Maulana (2022) dengan judul ”Hubungan Antara
Kecerdasan Emosional Dan Interaksi Sosial Dengan Perilaku Cyberbullying Di
Kalangan Peserta Didik” Penelitian ini menggunakan metode kuantitatif dengan
Populasi penelitian menggunakan tiga sekolah, yaitu: UPT SMP Negeri 1 Gresik,
UPT SMP Negeri 3 Gresik, dan UPT SMP Negeri 5 Gresik dengan total keseluruhan
populasi peserta didik kelas VIII sebanyak 1.020 peserta didik. Sampel penelitian
sebanyak 288 peserta didik kelas VIII yang dipilih menggunakan teknik simple
random sampling yang ditentukan dengan rumus slovin. Nilai signifikansi
0.004 < 0.05 menunjukkan bahwa adanya hubungan signifikan antara kecerdasan
emosional dengan perilaku cyberbullying di kalangan peserta didik (Ha) diterima
dan (Ho) ditolak. Koefisien korelasi sebesar -0.118 menunjukkan bahwa kekuatan
hubungan antara kecerdasan emosional dengan perilaku cyberbullying adalah
sangat lemah dengan arah hubungan negatif yang menunjukkan bahwa hubungan
12
kecerdasan emosional dengan perilaku cyberbullying berlawanan sehingga dapat
disimpulkan bahwa jika kecerdasan emosional tinggi maka perilaku cyberbullying
rendah. Hasil penelitian ini mendukung teori Goleman yang digunakan peneliti
yakni lima aspek kecerdasan emosional pada peserta didik dapat mempengaruhi
perilaku suatu individu, yaitu kemampuan mengenali emosi diri, mengelola emosi
diri, memotivasi diri, mengenali emosi orang lain (empati) dan membina hubungan
dengan orang lain yang diperlukan dalam diri suatu individu. Kecerdasan emosional
dan interkasi sosial merupakan faktor yang berkaitan dengan perilaku
cyberbullying. Oleh sebab itu perlu adanya kewaspadaan peserta didik pada fase
remaja awal dalam menghadapi timbulnya perilaku cyberbullying di fase peralihan
dan perkembangan ini.
Sejalan dengan penelitian Rachmawati (2022) dengan judul Hubungan Kecerdasan
Emosional Dengan Kecenderungan Cyberbullying Pada Remaja Di SMP
Muhammadiyah 1 Surakarta. Sampel penelitian sebanyak 109 siswa yang
ditentukan dengan teknik proportional stratified sampling. Pengumpulan data
penelitian menggunakan kuesioner. Analisis data penelitian adalah univariat dan
bivariate yang menggunakan Chi Square. Nilai signifikasi uji menunjukkan lebih
rendah dari 0,05 (0,000 <0,05) sehingga keputusan uji adalah H0 ditolak yang
bermakna bahwa terdapat hubungan yang signifikan kecerdasan emosional dengan
perilaku Cyberbullying pada siswa kelas 6 SMP Muhammadiyah I Surakarta,
dimana semakin tinggi tingkat kecerdasan emosional remaja maka perilaku
cyberbullying nya semakin rendah. Penelitian ini menunjukkan bahwa sebagian
besar responden memiliki kecerdasan emosional yang tinggi (47%). Kecerdasan
emosional merupakan kemampuan emosi yang dimiliki oleh remaja untuk
mengendalikan diri, memiliki daya tahan dalam menghadapi suatu masalah, mampu
mengendalikan impuls, memotivasi dan mampu mengatur suasana hati,
kemampuan berempati dan membina hubungan dengan orang lain. Sehingga, orang
yang dikatakan cerdas secara emosional adalah orang yang mampu mengenali
emosi diri maupun orang lain, mengelola emosi diri sendiri, memotivasi diri sendiri,
yang kemudian aspek-aspek tersebut akan dijalankan atau dilaksanakan dalam
berhubungan secara sosial dengan orang lain. Kecerdasan emosional merupakan
salah satu faktor yang mempengaruhi munculnya perilaku cyberbullying pada
remaja. Remaja yang memiliki kecerdasan emosional yang rendah cenderung
mengalami kesulitan dalam mengontrol emosi untuk tidak melakukan perilaku
cyberbullying, begitu sebaliknya remaja yang memiliki kecerdasan emosional yang
tinggi mampu mengontrol emosinya untuk menginternalisasi pola-pola perilaku,
nilai-nilai dalam masyarakat akan mengembangkan sikap menerima interaksi yang
diterimanya dalam lingkungannya baik lingkungan keluarga, sekolah maupun
masyarakat.
Penelitian lainnya oleh Khairunnisa & Alfaruqy (2022) dengan judul Hubungan
Antara Kecerdasan Emosional Dengan Cyberbullying Di Media Sosial Twitter Pada
Siswa SMAN 16 Jakarta Penelitian ini menggunakan metode penelitian kuantitatif.
Populasi penelitian ini adalah 172 siswa SMAN 26 Jakarta yang merupakan
pengguna aktif Twitter. Hasil penelitian tersebut signifikan dan terdapat hubungan
dengan arah negatif antara variabel dependen dan variabel independen. Hasil
tersebut mendukung hipotesis yang telah ditetapkan di awal penelitian bahwa
semakin tinggi kecerdasan emosional siswa makan akan semakin rendah
cyberbullying, begitupun sebaliknya. Pada hasil penelitian menunjukkan besarnya
sumbangan efektif kecerdasan emosional terhadap cyberbullying siswa SMAN 26
Jakarta adalah 19,4%. Hasil kategorisasi yang telah dilakukan menunjukkan bahwa
sebanyak 86,67% dari 120 subjek berada pada kategori kecerdasan emosional tinggi
dan 52,5% dari 120 subjek berada pada kategori cyberbullying yang sangat rendah.
Oleh karena itu, dapat diambil kesimpulan bahwa mayoritas subjek memiliki
kecerdasan emosional yang tinggi disertai dengan cyberbullying yang sangat
rendah. Hal tersebut dikarenakan pada usia remaja, keterampilan dalam mengontrol
dan memanajemen emosi berperan besar dalam mengendalikan perilaku
cyberbullying kepada teman sebaya. Individu dengan tingkat kecerdasan emosional
tinggi akan memiliki tingkat kepekaan terhadap cyberbullying yang tinggi pula
