Definisi well-being menurut American Psychologial Association (APA)
merupakan keadaan dimana seorang individu digambarkan dengan rasa bahagia,
kepuasan, dan tingkat stres yang rendah, sehat secara fisik dan mental, serta kualitas
hidup yang lebih baik. Menurut Seligman 2011 (dalam Kolakowski et al., 2020)
ada model PERMA meliputi 5 komponen utama yang berarti positif emotion yang
berarti adanya rasa kebahagiaan dan kesenangan, engagement yang berarti terlibat
sepenuhnya dalam aktivitas, relationship yang berarti membangun hubungan yang
kuat dan positif dengan orang lain, meaning yang berarti memiliki rasa dan tujuan
dalam nilai kualitas hidup, accomplishment yang berarti mencapai tujuan dan
memiliki harapan bersama guna mewujudkan tujuan yang telah ditetapkan.
Rufeng et al. (2023) menyatakan well-being atau yang disebut sebagai
kesejahteraan yang berarti adanya titik harmonisasi antara sumber daya manusia
sebagai aset utama organisasi atau perusahaan untuk dapat menghadapi tantangan
atau penyelesaian suatu masalah seperti tekanan dalam pekerjaan atau masalah
pribadi. Seperti yang dikatakan “The balance point between an individual’s
recource pool and the challenges faced”. Definisi ini mencakup kesejahteraan tidak
hanya bergantung pada kebahagiaan namun melibatkan keadaan sumber daya
manusia atau karyawan yang sesungguhnya.
Terdapat dua pendekatan teori dalam konsep well-being, yaitu Bottom-up
Theories dan Top-down Theories. Bottom-up Theories menjelaskan bahwa tingkat
kebahagiaan dan kepuasan seseorang dalam hidup dipengaruhi oleh seberapa
banyak pengalaman positif yang ia alami. Pengalaman-pengalaman itu membawa
dampak seseorang menjadi semakin bahagia dan mencapai kepuasan serta
meningkatkan harapan di dalam hidupnya. Sedangkan Top-down Theories adalah
teori yang memandang bahwa sesuatu yang terjadi di dalam kehidupan seseorang
itu tergantung bagaimana cara individu itu menghadapi, mengevaluasi, dan
menginterpretasikan peristiwa tersebut. Hal itu yang menciptakan kesadaran bahwa
kondisi tersebut terbentuk dan dipengaruhi oleh pengaruh eksternal. Masing-
masing dari pendekatan ini melihat dari beberapa aspek di antaranya adalah:
a. Fokus
Bottom-up Theories : faktor eksternal pengalaman hidup.
Top-down Theories : faktor internal kepribadian pikir.
b. Sumber Kesejahteraan
Bottom-up Theories : akumulasi peristiwa positif dalam kehidupan
Top-down Theories : cara individu dalam menafsirkan pengalaman.
c. Pengaruh
Bottom-up Theories : pendapatan, kesehatan, hubungan sosial.
Top-down Theories : optimisme, rasa bersyukur, emosi negatif.
d. Cara Meningkatkan Well-being
Bottom-up Theories : memperbaiki kondisi eksternal seperti hubungan dan
pekerjaan.
Top-down Theories : mengembangkan pola pikir positif, mindfulness, dan
membuat kebiasaan baru
