Kepuasan atau ketidakpuasan dengan sejumlah aspek pekerjaan
tergantung pada selisih (discrepancy), antara apa yang seharusnya ada (harapan,
kebutuhan, atau nilai-nilai) dengan apa yang menurut perasaan atau persepsinya
telah diperoleh atau dicapai melalui pekerjaanya (Manullang dalam Sudaryo,
Aribowo dan Sofiati 2018). Seorang akan terpuaskan jika tidak ada selisih antara
kondisi-kondisi yang diinginkan dengan kondisi-kondisi aktual. Semakin besar
kekurangan dan semakin banyak hal-hal penting yang diinginkan, maka semakin
besar ketidakpuasannya. Jika jumlah faktor pekerjaan lebih banyak yang
diterima (secara minimal) dan kelebihannya menguntungkan (misalnya upah
ekstra, jam kerja yang lebih lama), maka orang yang bersangkutan akan sama
puasnya dengan kondisi terdapat selisih dari jumlah yang diinginkan.
Berdasarkan pandangan tersebut, maka dapat dikatakan bahwa seseorang
akan merasa puas apabila tidak ada perbedaan antara yang diinginkan dengan
persepsinya terhadap kenyataan yang ada, karena batas minimum yang
diinginkan telah terpenuhi. Apabila yang didapat ternyata lebih besar daripada
yang diinginkan, maka orang akan menjadi lebih puas lagi walaupun terdapat
(discrepancy). Perbedaan yang terjadi disini adalah perbedaan yang positif.
Sebaliknya, makin jauh kenyataan yang dirasakannya itu dibawah standar
minimum (negative discrepancy), maka makin besar pula ketidakpuasan
seseorang terhadap pekerjaannya
