Menurut Rahmawati et al (2021), tugas utama kepemimpinan dapat
dijabarkan secara operasional ke dalam beberapa kategori, seperti berikut:
- Peran instruksi. Untuk menjamin bahwa pilihan dilaksanakan secara efektif,
pemimpin menggunakan komunikasi satu arah untuk memutuskan apa yang
harus dilakukan, Di mana, bagaimana, dan kapan arahan akan diikuti.
Kepemimpinan yang efektif membutuhkan kemampuan untuk memotivasi dan
menginspirasi orang lain agar mengikuti pedoman ini. - Fungsi konsultatif: Fungsi ini melibatkan komunikasi dua arah. Pemimpin
mengumpulkan masukan dari bawahannya untuk membantu dalam
pengambilan keputusan. Setelah keputusan diimplementasikan, pemimpin
melakukan konsultasi untuk mendapatkan umpan balik guna memperbaiki dan
menyempurnakan keputusan tersebut. Pendekatan konsultatif ini membantu
memastikan dukungan luas terhadap keputusan pemimpin dan mempermudah
implementasinya, sehingga kepemimpinan berjalan efektif. - Fungsi Partisipasi: Dalam peran ini, para pemimpin berupaya mendorong
pengikutnya untuk berpartisipasi dalam perumusan dan pelaksanaan keputusan.
Keterlibatan ini dilakukan secara terarah dan teratur, sebagai bentuk kolaborasi
tanpa melampaui batas atau mengambil alih tanggung jawab utama orang lain.
Posisi pemimpin tetap berada dalam fungsi kepemimpinan, bukan sebagai
pelaksana tugas operasional. - Fungsi Delegasi: Fungsi ini dijalankan dengan menyerahkan wewenang
pengambilan keputusan kepada orang lain tanpa persetujuan tegas dari
pemimpin. Delegasi hanyalah pemberian kepercayaan. Penerima delegasi ini
perlu dipercaya sebagai asisten pemimpin yang memiliki keyakinan, sudut
pandang, dan tujuan yang sama. - Fungsi pengendalian: Tujuan fungsi pengendalian adalah memastikan bahwa
kepemimpinan yang efektif dapat merencanakan tindakan anggota secara
metodis dan efektif untuk memaksimalkan pencapaian tujuan bersama.
Kegiatan-kegiatan seperti supervisi, koordinasi, bimbingan, dan pengarahan
digunakan untuk memenuhi peran ini.
