Pengukuran Kepuasan Kerja.
Berdasarkan menurut Wibowo (2011: 511) Tingkat kepuasan kerja karyawan
dapat diketahui dengan cara melalui pengukuran kepuasan kerja karyawan tersebut.
Pengukuran kepuasan kerja dapat berguna sebagai penentuan kebijakan
organisasi.ada tiga cara dalam melakukan pengukuran kepuasan kerja, yaitu sebagai
berikut:
1) Rating scales dan kuesioner pengukuran kepuasan kerja yang paling umum dipakai
dengan menggunakan kuesioner dimana rating scales secara khusus disiapkan.
2) Critical incidents, seseorang karyawan yang mengjelaskan kejadian dimana
menghubungkan pekerjaan mereka merasa memuaskan atau tidak memuaskan
3) Interview merupakan prosedur pengukuran kepuasan kerja dengan melakukan
wawancara tatap muka dengan pekerja. Hal ini dilakukan dengan cara mengajukan
pertanyaan secara berhati-hati kepada pekerja dan mencatat jawabannya secara
sistematis.
Pengukuran faktor kepuasan kerja dapat digunakan Job Descriptive Index (JDI),
menurut Luthans (Husein Umar 2010: 38) ada lima, yaitu:
1) Pembayaran, seperti gaji dan upah.
2) Pekerjaan itu sendiri
3) Promosi Pekerjaan.
4) Kepenyeliaan (supervisi).
5) Rekan kerja
Pengukuran kepuasan kerja seseorang bisa dilihat dari besarnya gaji atau upah
yang diterima, tetapi gaji bukan satu-satunya yang menjadi ukuran kepuasan kerja
seseorang. Hal lain yang dapat dijadikan sebagai ukuran kepuasan kerja dengan
memiliki hubungan baik antara atasan atau rekan kerja, pengembangan karier, dan
pekerjaan yang sesuai dengan minat dan kemampuannya.
Sementara itu, untuk mengukur kepuasan kerja seorang karyawan menurut
Veithzal Rivai (2010: 860) adalah menggunakan:
1) Isi pekerjaan, penampilan tugas pekerjaan yang actual dan sebagai kontrol terhadap
pekerjaan
2) Supervisi
3) Organisasi dan manajemen
4) Kesempatan untuk maju
5) Gaji dan keuntungan dalam bidang financial lainnya seperti adanya insentif
6) Rekan kerja
7) Kondisi pekerjaan
Berdasarkan pendapat di atas, dapat disimpulkan pengukuran terhadap
kepuasan kerja pegawai dalam organisasi dapat memberikan manfaat, khususnya
untuk pimpinan organisasi. Pimpinan dapat memperoleh informasi berupa
kumpulan perasaan, harapan, dan kepuasan kerja pegawai yang bersifat dinamik
(cepat berubah) sebagai langkah awal pimpinan untuk mengambil keputusan dalam
menangani berbagai masalah kepegawaian yang ada dalam organisasi
