Karena stres yang dialami pekerja di tempat kerja berdampak pada
seberapa bahagia mereka dalam pekerjaannya, maka pemimpin harus
melakukan perbaikan pada lingkungan kerja. Hal ini menunjukkan bahwa
kepuasan kerja pekerja menurun seiring dengan meningkatnya stres kerja,
atau sebaliknya dengan menurunnya stres kerja dan meningkatnya kepuasan
kerja pegawai (Bhastary, 2020).
Penelitian yang dilakukan oleh (Bhastary, 2020) dengan judul “Pengaruh
Etika Kerja dan Stres Kerja Terhadap Kepuasan Kerja Pegawai” mengatakan
bahwa stres kerja mempunyai pengaruh negatif dan signifikan terhadap
kepuasan kerja. Karena jika kondisi kerja membuat perasaan tidak nyaman
yang berkelanjutan pada gilirannya akan membuat pegawai menjadi stres.
Pegawai yang bekerja di lingkungan yang penuh tekanan menjadi tidak puas
dengan pekerjaannya, sehingga menurunkan kinerja dan produktivitasnya.
Penelitian yang dilakukan oleh Fadhilah (2010) dalam (Fitriantini et al.,
2020), diperoleh hasil bahwa stres kerja memiliki pengaruh negatif terhadap
kepuasan kerja.
Hubungan di tempat kerja mempunyai unsur-unsur dari teori pertukaran
sosial, pegawai percaya satu sama lain untuk melaksanakan kewajiban
bersama, di mana pegawai yang diperlakukan baik akan merasa berkewajiban
untuk membalas dengan cara yang sama (Serim et al., 2014) dalam
(Sandiartha & Suwandana, 2020). Hubungan antara stres kerja dan kepuasan
kerja menunjukkan bahwa jika sebuah organisasi mampu membuat pegawai
terhindar dari tekanan kerja yang berlebih dan merasa puas, maka pegawai
tersebut akan cenderung meningkatkan loyalitas dan berkarir jangka panjang
di perusahaan tersebut sebagai bentuk timbal balik
