Menurut Rizzo, House & Lirtzman dalam Priatna (2013) indikator konflik
peran yaitu:
- Sumber daya manusia
Mengerjakan suatu tugas dengan cara yang berbeda-beda serta menerima
penugasan tanpa mempertimbangkan sumber daya manusia yang cukup untuk
menyelesaikan tugas tersebut. - Mengesampingkan aturan
Mengesampingkan suatu aturan yang ada agar dapat menyelesaikan
perintah/penugasan serta menerima permintaan dua pihak atau lebih yang
saling bertolak belakang. - Kegiatan yang menguntungkan satu pihak
Melakukan kegiatan atau pekerjaan yang cenderung hanya diterima oleh salah
satu pihak namun tidak diterima oleh pihak lainnya serta melakukan pekerjaan
yang tidak penting. - Arahan yang tidak jelas
Terdapat arahan dari atasan yang tidak pasti serta perintah yang tidak jelas.
Adapun menurut Greenhaus & Beutell dalam Fandi (2014:21) konflik
peran memiliki 3 indikator yaitu: - Time based conflict
Time based conflict adalah konflik yang muncul karena waktu yang dihabiskan
untuk melakukan satu peran sehinga tidak dapat memenuhi peran yang lain.
Artinya, seseorang yang mengalami konflik peran ganda tidak akan mampu
melakukan lebih dari satu peran dalam waktu yang bersamaan. - Strain based conflict
Strain based conflict adalah ketegangan yang dikarenakan adanya salah satu
peran membuat seseorang merasa sulit untuk dapat memenuhi tuntutan peran
lainnya. Ketegangan yang dirasakan akan mempengaruhi kualitas hidup secara
keseluruhan. Ketegangan peran ini dapat berupa stres, mudah emosi, tekanan
darah tinggi, kecemasan, dan sakit kepala. - Behaviour based conflict
Behaviour based conflict merupakan konflik yang terjadi ketika suatu perilaku
efektif untuk satu peran tetapi tidak efektif untuk peran yang lain.
Ketidakefektifan perilaku ini mungkin disebabkan oleh kurangnya kesadaran
individu akan dampak perilakunya terhadap orang lain
