Menurut pemaparan dari (Brown et al, dalam penelitian Jessline Gunawan
dan Roy Setiawan, 2022:6) mengatakan bahwa setiap karakter pemimpin
memengaruhi kinerja etikanya, namun hanya karakter tidak baik yang tidak
sepenuhnya memaparkan penyimpangan etis didalam perusahaan. Tetapi, memang
betul bahwa setiap karakter yang kuat melaksanakan peran penting dalam self-
effective kepemimpinan dan dalam proses memimpin individu lain. Karena itu
seorang pemimpin harus memiliki kunci dari suara batin mereka, kompas batin dari
seorang pemimpin itu mengarahkan para pemimpin ke arah etika.
Menurut pandangan ahli lainnya ethical leadership adalah pemimpin yang
memiliki prinsip dan keyakinan akan perilaku organisai yang dianggap benar, serta
memberikan pengaruh bagi pegawai untuk melaksanakan hal yang benar dan sesuai
nilai moral (Stephen P, dalam penelitian Rafika Fatani, et al, 2021:4). Dalam
penelitiannya, (Harrison, dalam penelitian Rafika Fatani, et al, 2021:7) menyatakan
ethical leadership merupakan demonstrasi perilaku yang sesuai dengan norma etika
oleh pimpinan organisasi, baik melalui tindakan pribadi maupun dalam interaksi
interpersonal didalam maupun diluar organiasi. Definisi ini didukung oleh
(Stephen P, dalam Rafika Fatani, et al, 2021:7) yang mendeskripsikan ethical
leadership sebagai proses mempengaruhi pegawai yang dilaksanakan dengan
menunjukan perilaku dengan prinsip, nilai, dan kepercayaan yang sejalan dengan
norma-norma yang dianggap baik dan diterima di organisasi.
Dalam bukunya, Covey membahas masalah ethical leadership dengan
istilah “Etika karakter”, yang dia pahami bukan sebagai karakter individu, tetapi
tentang “prinsip yang mengatur keefektifan manusia” adalah memvalidasi sendiri
hukum alam. Mode di mana standar etika dan akibatnya perilaku yang diabaikan
atau diterapkan adalah fungsi dari karakteristik individu. Pandangan Covey tentang
kepemimpinan efektif dengan komponen etis yang kuat dijelaskan yakni
menghargai diri sendiri dan pada saat yang sama, menundukkan diri untuk tujuan
dan prinsip yang lebih tinggi adalah esensi paradox kemanusiaan tertinggi dan
pondasi kepemimpinan yang efektif.
Pengaruh ethical leadership juga dapat diberikan melalui pembelajaran
perwakilan seperti pengikut mempelajari perilaku mana yang diinginkan dan yang
harus dihindari dengan mengamati cara-cara di mana anggota organisasi lainnya
dihargai atau “diperingatkan” oleh pemimpin itu sendiri. Pemimpin yang
memperhatikan integritas, dan menunjukkan minat dan keadilan terhadap
kolaborator mereka menjadi model peran yang menarik, diperkuat oleh status dan
kekuasaan yang biasanya dinikmati para pemimpin yang penting melihat
pemimpin etis sebagai panutan yang lebih mungkin untuk mengembangkan tingkat
job satisfaction yang tinggi, hal tersebut terjadi karena adanya kepercayaan dan rasa
hormat yang mereka miliki terhadap pemimpin.
Secara keseluruhan, Neubert dan rekan menemukan bahwa individu
cenderung lebih puas dengan pekerjaan yang mereka lakukan dan lebih
berkomitmen pada organisasi mereka ketika bekerja di lingkungan yang ditandai
dengan perilaku etis, kejujuran, kepedulian terhadap orang lain, dan keadilan
antarpribadi; dengan kata lain, organisasi yang berbudi luhur dianggap etis (Neubert
et al, dalam penelitian Kim. W.G & Brymer R.A, 2017:7).
Pemimpin yang jujur tentang dirinya sendiri dan dengan individu lain
menginspirasi kepercayaan yang mendorong pengikut untuk bertanggung jawab.
Selama lebih dari satu dekade, Kouzes dan Posner telah meneliti pada di seluruh
dunia, apa yang paling mereka hargai atau inginkan dari seorang pemimpin dan apa
yang diperlukan untuk mereka ikuti dengan senang hati. Dan tanpa kecuali
kejujuran (integritas, kepercayaan). Dan bagaimana tahu bahwa para pemimpin itu
jujur. Mereka mengamati perilaku dan konsistensi perilaku dalam kondisi serupa.
Jika seorang pemimpin terus-menerus mengubah perilakunya, pengikut
menganggapnya tidak dapat diprediksi, tidak dapat diandalkan, dan karena itu tidak
layak dipercaya.
Berdasarkan definisi menurut para ahli seperti yang diuraikan diatas
karakteristik ethical leadership dapat kelompokan sebagai berikut:
- Keadilan
Seorang pemimpin didalam organisasi harus memiliki sikap yang adil tidak
memihak kepada suatu individu tertetntu dan semua orang diperlakukan secara
merata, mendengarkan pendapat dari bawahannya sebagai bentuk apresiasi
pegawai dalam berpendapat. - Menghormati orang lain
Seorang pemimpin menunjukkan rasa hormat untuk semua pegawai dengan
mendengarkan dengan penuh kasih, menghargai kontribusi yang beragam, dan
mempertimbangkan sudut pandang yang berlawanan. - Transparansi
Para pemimpin dalam suatu organisasi diharuskan untuk memahami bahwa
transparansi melahirkan kepercayaan, memberdayakan orang lain untuk
membuat keputusan sendiri dengan informasi yang mereka butuhkan. - Perilaku manusiawi
Menjadi pemimpin bertindak manusiawi adalah salah satu sifat yang paling
mengungkapkan seorang pemimpin itu bermoral. Pemimpin yang beretika
mengutamakan kebaikan dan bertindak dengan cara yang selalu bermanfaat
untuk kebaikan didalam organisasi. - Fokus pada membangun pada tim
Pemimpin harus menumbuhkan rasa komunitas dan semangat tim dalam
organisasi. Ketika seorang pemimpin berusaha untuk mencapai tujuan, itu
bukan hanya tentang misi pribadi. Mereka melakukan upaya tulus untuk
mencapai tujuan yang bermanfaat bagi seluruh pegawai didalam organisasi
bukan hanya diri mereka sendiri. - Keputusan Berbasis Nilai
Dalam kepemimpinan etis, keputusan pertama divalidasi untuk keselarasan
dengan nilai-nilai organisasi secara keseluruhan. Hanya keputusan yang
memenuhi kriteria ini yang diimplementasikan. - Mendorong inisiatif
Pemimpin dapat mengerakan anggota tim nya untuk berkembang dalam suatu
organisasi, dihargai karena menghasilkan ide-ide inovatif dan didorong untuk
melakukan apa yang diperlukan untuk meningkatkan cara kerja. - Kepemimpinan dengan teladan
Pemimpin etis memiliki harapan yang tinggi untuk diri mereka sendiri dan
pegawai. Mereka menunjukkan komitmen yang tak tergoyahkan terhadap cita-
cita mereka dengan tidak hanya berbicara, tetapi berjalan sesuai dengan misi
organisasi. - Kesadaran nilai
Seorang pemimpin etis secara teratur mempromosikan nilai dan harapan tinggi
yang mereka pegang. Dengan mengomunikasikan dan mendiskusikan nilai
secara teratur, mereka memastikan adanya pemahaman dan kepatuhan yang
konsisten di seluruh perusahaan. - Tidak ada toleransi terhadap pelanggaran etika
Seorang pemimpin yang beretika mengharapkan pegawai untuk melakukan hal
yang benar setiap saat. Mereka tidak akan mengabaikan atau mentolerir
pelanggaran etika
