Budaya Kuat VS Budaya Lemah


Menurut Robbins (2003) budaya kuat mempunyai dampak yang
lebih besar pada perilaku karyawan dan lebih langsung terkait dengan
pengurangan tingkat keluar masuknya karyawan. Dalam budaya kuat, nilai
inti organisasi dipegang secara mendalam dan dianut bersama secara
meluas. Budaya kuat akan mempuyai pengaruh yang besar pada perilaku
anggota-anggotanya karena tingginya tingkat kebersamaan dan intensitas
akan menciptakan iklim internal atas pengendalian perilaku yang tinggi.
Thompson, Strickland dan Gamble (2010) yang dikutip oleh
Febriana, (2012) menyebutkan Tiga faktor yang mendorong terbentuknya
budaya kuat didalam perusahan, yaitu :

  1. Seorang pendiri atau pemimpin yang kuat yang menetapkan nilai-nilai,
    prinsip, dan praktek yang konsisten serta mengingat kebutuhan
    pelanggan, kondisi persaingan, dan kebutuhan strategis.
  2. Sebuah komitmen perusahan yang tulus untuk menjalankan usaha
    sesuai dengan tradisi-tradisi yang dibentuk, sehingga menciptakan
    lingkungan internal yang mendukung pengambilan keputusan dan
    strategi berdasarkan norma-norma budaya.
  3. Perhatian perusahaan terhadap kesejahteraan pelanggan, karyawan dan
    pemegang saham.
    Begitupula sebaliknya, kurangnya prinsip bersama yang konsisten
    didalam perusahaan, tentunya akan menjadikan budaya menjadi lemah, hal
    ini biasanya disebabkan oleh perbedaan nilai-nilai dan pandangan antara
    CEO dan anggota perusahaan yang lain tentang bagimana bisnis
    perusahaan seharusnya dilakukan, Thompson, Strickland dan Gamble,
    2010). yang dikutip Febriana (2012).
    Sebuah organisasi tidak hanya membutuhkan budaya yang kuat,
    namun juga membutuhkan budaya yang sehat. Budaya kuat mempunyai
    dampak positif ataupun negatif. Jika budaya kuat namun tidak sehat atau
    beracun (toxic) maka budaya akan membawa bencana. Tetapi jika
    budayanya sehat (healthy) maka budaya akan membawa kesejahteraan
    (Tjahjono, 2010). Karakteristik khas dari sebuah budaya perusahaan yang
    tidak sehat adalah memiliki ciri-ciri budaya kontraproduktif yang
    berdampak buruk pada iklim kerja dan kinerja.
    Empat sifat khusus berikut terdapat pada budaya yang tidak sehat
    Thompson, Strickland dan Gamble, (2010) yang dikutip Febriana (2012)
    adalah :
  4. Lingkungan internal yang sangat politis di mana banyak terjadi
    masalah yang diselesaikan dengan pengambilan keputusan yang dibuat
    berdasarkan individu atau kelompok yang memiliki kekuatan politik
    yang paling kuat.
  5. Terjadi permusuhan dan kewaspadaan terhadap orang yang
    memperjuangkan cara-cara baru dalam melalukan tindakan didalam
    perusahaan.
  6. Adanya pola pikir didalam perusahaan yang menolak untuk mencari
    dan mengikuti perkembangan yang terjadi diluar perusahaan terhadap
    cara-cara praktek bisnis terbaik, pendekatan manajerial baru dan ide-
    ide inovatif.
  7. ketidakpedulian terhadap standar etika yang tinggi dan terlalu
    bersemangat mengejar kekayaan dan status dibagian eksekutif kunci