Pembentukan Budaya Organisasi


Bisa dikatakan bahwa budaya sebuah organisasi akan
segera terbentuk segera setelah organisasi tersebut didirikan. Hal
ini misalnya ditegaskan Schein dalam Sobirin (2017:854) bahwa
“pembetukan budaya organisasi tidak bias dipisahkan dari peran
para pendiri organisasi”. prosesnya mengikuti alur sebagai berikut:
1) Para pendiri dan pemimpin lainnya membawa serta satu set
asumsi dasar, nilai – nilai, prespektif, artefak kedalam organisasi
dan menanamkannya kepada para karyawan.
2) Budaya muncul ketika para anggota organisasi berinteraksi satu
sama lain untuk memecahkan masalah – masalah pokok
organisasi yakni masalah integrasi internal dan adaptasi internal.
3) Secara perorangan, masing – masing anggota organisasi boleh
jadi menjadi seorang pencipta budaya baru dengan
mengembangkan berbagai cara untuk menyelesaikan persoalan –
persoalan individual, seperti persoalan identitas diri, control, dan
pemenuhan kebutuhan, serta bagaimana agar bias diterima oleh
lingkungan organisasi yang diajarkan kepada generasi penerus.
Alur diatas menegaskan bahwa para pendiri disamping
menuangkan ide untuk membentuk organisasi , menyediakan dana,
serta semua sarana dan prasarana yang dibutuhkan juga bertindak
sebagai peletak dasar ideologi organisasi.
Budaya organisasi pada dasarnya akan mewakili norma – norma
perilaku yang diikuti oleh para anggota organisasi, termasuk mereka
yang berada dalam hirarki organisasi. Organisasi yang masih di
dominasi oleh pendiri misalnya, maka budaya akan menjadi wadah
untuk memfasilitasi harapan – harapan pendiri pada pekerja lainnya.
Demikian halnya jika organisasi dikelola oleh seorang senior yang
bersifat otokratis yang menerapkan gaya kepemimpinan yang otokratis
yang menerapkan gaya kepemimpinan “top down” maka budaya juga
akan berperan mengkomunikasikan harapan – harapan mereka.
Untuk mencapai dan memenuhi kebutuhan juga tujuannya manusia
mendirikan dan menciptakan organisasi sebagai alat bantu. Namun
harus diakui juga bahwa manusia bukan sekedar menjadi penggerak
(subjek) yang menjalankan organisasi, tetapi juga objek yang harus
dikelola agar organisasi bisa berfungsi sebagaimana mestinya.
Sementara itu, manusia bagi alat bantu yang lain (teknologi misalnya)
melulu sebagai subjek yang menjalankan dan mengendalikan alat bantu
tersebut. Itulah sebabnya organisasi jauh lebih kompleks. Utamanya
sekali lagi karena setiap individu bisa menjadi subjek atau objek.
Disamping itu, setiap individu yang terlibat dalam organisasi memiliki
kebutuhan masing – masing yang terkadang berbeda di antara mereka,
namun dalam batas – batas tertentu semuanya harus dipenuhi, oleh
karena alasan itu pulalah mengelola organisasi dengan baik bukan
merupakan pilihan, melainkan keharusan.
Pembentukan budaya tidak dapat dilakukan dalam waktu yang
sekejap, tetapi memerlukan waktu dan bahkan biaya yang tidak sedikit
untuk dapat menerima nilai – nilai baru dalam organisasi