Proses Keputusan Pembelian


Menurut Kotler dan Keller (2018:145) dikutip oleh Priscilla Hartanti
(2022) terdapat lima tahap yang dilewati oleh seorang pelanggan dalam
menentukan keputusan pembelian, yaitu sebagai berikut:

  1. Pengenalan Kebutuhan (Need Recognition)
    Proses pembelian dimulai saat pembeli menyadari terdapat
    masalah atau kebutuhan. Kebutuhan didapat oleh rangsangan dari dalam
    diri pelanggan (internal), misalnya rasa lapar, atau haus yang muncul
    sampai pada suatu tingkat tertentu dan menjadi sebuah dorongan.
    Kebutuhan juga dapat dipicu oleh rangsangan dari luar diri pelanggan
    (eksternal), misalnya seseorang yang mungkin mengagumi mobil atau
    rumah baru teman atau melihat iklan di telivisi yang menginspirasi
    pemikiran untuk melakukan pembelian.
  2. Pencarian Informasi (Information Search)
    Pelanggan yang terangsang kebutuhannya akan mulai terdorong
    untuk mencari lebih banyak informasi. Pencarian informasi dapat
    dibedakan berdasarkan dua tingkatan. Pertama adalah perhatian yang
    memuncak (heightened attention), yaitu keadaan pencarian informasi
    yang lebih ringan. Pada tingkat ini, seseorang hanya sekadar bersikap
    lebih menerima terhadap informasi tentang suatu produk. Kedua adalah
    pencarian informasi aktif (active information search). Pada tingkat ini,
    seseorang akan lebih aktif untuk mencari informasi dari segala sumber
    seperti melalui bahan bacaan, menelepon teman, atau mengunjungi toko
    untuk mempelajari tentang suatu produk.
  3. Evaluasi Alternatif (Evaluation of Alternatives)
    Setelah pencarian informasi, pelanggan akan menghadapi
    sejumlah pilihan mengenai merek dengan produk yang sejenis. Tidak ada
    proses evaluasi tunggal dan sederhana yang digunakan oleh semua
    pelanggan atau oleh seorang pelanggan dalam semua situasi pembelian.
    Sejumlah konsep dasar akan dapat membantu pemahaman terhadap
    proses evaluasi pelanggan. Pertama, pelanggan berusaha memenuhi suatu
    kebutuhan. Kedua, pelanggan mencari manfaat tertentu dari solusi
    produk. Ketiga, pelanggan memandang setiap produk sebagai
    sekumpulan atribut dengan kemampuan yang berbeda-beda dalam
    memberikan manfaat yang dicari. Pelanggan bersikap berbeda-beda
    dalam menilai atribut produk yang dianggap relevan atau menonjol,
    mereka akan memberikan perhatian paling besar pada atribut yang
    memberikan manfaat yang dicari.
  4. Keputusan Pembelian (Purchase Decision)
    Dalam tahap evaluasi, pelanggan membentuk preferensi antar
    merekmerek dalam kumpulan pilihan dan mungkin juga membentuk
    minat pembelian pada merek yang disukai. Umumnya, pelanggan akan
    memutuskan pembelian pada merek tersebut. Namun, ada dua faktor
    yang berintervensi di antara minat pembelian dan keputusan pembelian.
    Faktor yang pertama adalah sikap orang lain dan faktor yang kedua adalah
    faktor situasional yang tidak terduga. Oleh karena itu, minat pembelian
    tidak selalu menghasilkan pembelian yang aktual.
  5. Perilaku Pasca Pembelian (Postpurchase Behavior)
    Setelah membeli suatu produk, pelanggan akan merasakan
    kepuasan atau ketidakpuasan. Apabila kinerja produk tidak sesuai dengan
    harapan pelanggan, maka pelanggan akan tidak puas. Jika memenuhi
    harapan, maka pelanggan akan puas, dan jika melebihi harapan, maka
    pelanggan akan sangat puas. Semakin besar kesenjangan antara harapan
    dan kinerja produk yang dirasakan, semakin besar ketidakpuasan
    pelanggan. Pelanggan yang merasa puas akan membeli produk tersebut
    kembali, membicarakan hal yang positif terhadap produk tersebut kepada
    orang lain, kebal dari daya tarik produk pesaing, dan membeli produk lain
    dari perusahaan tersebut. Sedangkan pelanggan yang tidak puas akan
    membicarakan hal yang negatif terhadap produk tersebut kepada orang
    lain