Sentimen Investor


Pergerakan saham yang dramatis telah menjadi topik yang
diperdebatkan bagi para praktisi dan sarjana (Baker & Wurgler, 2004). Pada
tahun 1980-an studi mengenai perilaku keuangan mulai mendapatkan perhatian
yang dimana ketika teori klasik hipotesis pasar efisien (efficient market
hypothesis/EMH) gagal menjelaskan volatilitas berlebih di pasar (Shiller, 1984).
Tahun 1990-an para peneliti menganalisis peran sentimen investor terhadap
pergerakan pasar saham. Terdapat dua asumsi kesalahan pasar, pertama investor
memiliki sentimen dan bertindak berdasarkan kebisingan dalam berbagai
bentuk ketidakpastian Shleifer & Summers (1990) dan kedua batasan arbitrase
oleh pedagang rasional tidak dapat memperbaiki kesalahan harga yang berlaku
karena berbagai biaya (Sheilfer & Vishny, 1997).
Sejauh ini terdapat dua jenis pengukuran sentimen, pertama
pengukuran langsung dalam bentuk kuesioner sikap dan kedua pengukuran dari
indeks yang bertujuan untuk mengukur secara kuantitatif (Mehrani et al., 2016).
Baker & Wurgler (2004) meneliti efek sentimen investor pada data crosssectional return saham. Ketika sentimen tampak tinggi, saham yang cenderung
relatif menarik bagi optimis dan spekulan dan pada saat yang sama calon yang
tidak menarik untuk arbitrase – saham muda, saham kecil, saham tidak
menguntungkan, saham yang tidak membayar dividen, stok volatilitas tinggi ,
saham dengan pertumbuhan ekstrem, dan saham tertekan – mengalami
pengembalian yang rendah di masa depan dibandingkan dengan saham lainnya.
Sementara Long et al. (1990) menyatakan bahwa terdapat dua tipe investor,
investor yang rasional dan investor tidak rasional. Investor yang rasional
memiliki makna bebas sentimen sedangkan investor yang tidak rasional
cenderung mengalami sentimen, keduanya bersaing di pasar dan menentukan
8
harga serta return. Apabila salah satunya memiliki dominasi maka akan
mengarah pada terbentuknya pasar yang tidak efisien.