Kepemimpinan Transformasional


Teori kepemimpinan transformasional pertama kali ditemukan oleh James
McGregor Burn pada tahun 1978. Kemudian penelitian mengenai kepemimpinan
transformasional dilanjutkan oleh Bernard M. Bass pada tahun 1985 yang mulai
mencetuskan Teori Kepemimpinan Full-Range dan dikembangkan lagi oleh Avolio
dan Bass pada tahun 1991. Ada 3 gaya kepemimpinan yang mereka gagaskan, yaitu
Kepemimpinan Laissez-Faire, Kepemimpinan Transaksional dan Kepemimpinan
Transformasional. Dari ketiga gaya kepemimpinan tersebut, kepemimpinan
transformasional lebih efektif dibandingkan 2 kepemimpinan lainnya, dipandang
dari sisi kontribusi pemimpin transformasional yang lebih banyak memotivasi para
karyawannya.
Burn mengidentifikasi kepemimpinan transformasional sebagai hubungan
di mana pemimpin dan staf saling memotivasi untuk tingkat yang lebih tinggi yang
mengakibatkan kesesuaian sistem nilai antara pemimpin dan staf. Mengikuti
perkembangan zaman, selalu ada pembaruan oleh peneliti lainnya mengenai
kepemimpinan transformasional, seperti penelitian yang dilakukan oleh Robin dan
Judge (2013) yang mengatakan bahwa kepemimpinan transformasional merupakan
proses mempengaruhi individu untuk mencapai tujuan organisasi dengan
mendahulukan kepentingan organisasi dan mengesampingkan kepentingan pribadi.
Kepemimpinan transformasional juga diteliti oleh Supartha (2016) menyatakan
kepemimpinan transformasional adalah kepemimpinan yang memotivasi karyawan
untuk memandang masa depan organisasi dengan optimis.
Kepemimpinan transformasional yang diteliti oleh Susana (2018)
mengungkapkan kepemimpinan transformasional mengintegrasikan ide-ide yang
dikembangkan dalam pendekatan watak, gaya dan kontingensi, esensi
kepemimpinan transformasional adalah sharing of power. Dalam konsep ini,
seorang pemimpin transformasional melibatkan bawahan secara bersama-sama
untuk melakukan perubahan, atau sering disebut wujud pemberdayaan. Melalui
kepemimpinan transformasional ada suatu keterikatan yang positif antara atasan
dan bawahan. Sedangkan menurut Permana et al., (2019) yang mengungkapkan
kepemimpinan transformasional merupakan suatu gaya kepemimpinan yang
menggunakan efektifitas inspirasi dari seorang pemimpin untuk merubah
pengikutnya melalui ide dan emosinya.
Menurut penelitian terbaru dari Priarso et al. (2019) mengatakan bahwa
gaya kepemimpinan transformasional mengacu pada kemampuan pemimpin
mengintegrasikan kreatifitas, ketekunan, energi positif, dan intuisinya, serta peka
terhadap karyawan agar tujuan organisasi dapat tercapaai dan berdampak bagi
karyawan.
Berdasarkan teori-teori yang telah dikemukakan di atas, dapat dirumuskan
bahwa kepemimpinan transformasional adalah kepemimpinan, dimana pemimpin
tersebut mampu mengembangkan komitmen pengikutnya, mampu menstimulasi
dan menginspirasi pengikutnya, mampu meningkatkan tujuan pengikutnya, serta
mampu memberikan kepercayaan pada pengikutnya untuk bekerja melebihi
harapan sehingga dapat mencapai tujuan organisasi