Supply Chain Management (SCM)


Manajemen Rantai Pasokan (Supply Chain Management) adalah integrasi
aktivitas pengadaan bahan dan pelayanan, pengubahan menjadi barang setengah jadi
dan produk akhir, serta pengiriman ke pelanggan. Seluruh aktivitas ini mencakup
aktivitas pembelian dan pengalihdayaan (outsorching), ditambah fungsi lain yang
penting bagi hubungan antara pemasok dengan distributor (Barry Render dan Jay
Heizer, 2010).
Supply Chain Management (SCM) adalah sebuah “proses paying” dimana
produk diciptakan dan disampaikan kepada konsumen dari sudut struktural. Sebuah
supply chain (rantai pasokan) merujuk pada jaringan yang rumit dari hubungan yang
mempertahankan organisasi dengan rekan bisnisnya untuk mendapatkan sumber
produksi dalam menyampaikan kepada konsumen (Kalaikota, 2000).
Supply Chain Management (SCM) merupakan suatu metode atau pendekatan
integrative untuk mengelola aliran produk, informasi dan uang secara terintegrasi
yang melibatkan pihak-pihak mulai dari hulu ke hilir yang terdiri dari supplier,
pabrik, jaringan distribusi maupun jasa-jasa logistik (I Nyoman Pujawan, 2005).
Christina Widya Utami (2006), menyatakan bahwa Supply Chain Management
(SCM), merupakan proses penyatuan bisnis dari pengguna akhir melalui para
penyalur asli yang menyediakan produk , jasa pelayanan, dan informasi untuk
menambah nilai pelanggan.
Supply Chain Management (SCM) adalah sebuah supply chain terdiri dari
perlibatan setiap mata rantai persediaan, baik itu secara langsung maupun tidak
langsung untuk memenuhi permintaan pelanggan (Copra dan Meidhl, 2004).
Yolanda M Siagian (2005) mengemukakan bahwa Supply Chain Management
(SCM) adalah interaksi antar fungsi pemasaran, produksi pada suatu perusahaan.
Memanfaatkan kesempatan untuk meningkatkan pelayanan dan penurunan biaya
dapat dilakukan melalui koordinasi dan kerjasama antara pengadaan bahan baku dan
pendistribusiannya.
Supply Chain Management (SCM) adalah koordinasi dari bahan, informasi dan
arus keuangan anatara perusahaan yang berpartisipasi. Supplay Chain Management
(SCM) bisa juga berarti seluruh jenis kegiatan komoditas dasar hingga penjualan
produk akhir ke konsumen untuk mendaur ulang produk yang sudah dipakai.

  1. Arus material melibatkan arus produk fisik dari pemasok sampai konsumen
    melalui rantai, sama halnya dengan arus balik dari retur produk, layanan, daur
    ulang dan pembuangan.
  2. Arus informasi meliputi ramalan permintaan, transmisi pesanan dan laporan status
    pesanan, arus ini berjalan dua arah antara konsumen akhir dan penyedia material
    mentah.
  3. Arus keuangan meliputi informasi kartu kredit, syarat-syarat kredit, jadwal
    pembayaran dalam penetapan kepemilikan dan pengiriman (Kalaikota, 2000).
    Supply Chain Management (SCM) dipopulerkan pertama kali pada tahun 1982
    sebagai pendekatan manajemen persediaan yang menekankan pada pasokan bahan
    baku. Pada tahun 1990-an, isu manajemen rantai pasok telah menjadi agenda para
    manajemen senior sebagai kebijakan strategis perusahaan. Para manajer senior
    menyadari bahwa keunggulan daya saing perlu didukung oleh aliran barang dari hulu
    dalam hal ini pemasok hingga hilir dalam hal ini pengguna akhir secara efisien dan
    efektif. Tentunya secara bersamaan akan mengalir pula informasi (Setiawan., 2009).