Kinerja supply chain management adalah semua aktivitas pemenuhan
permintaan customer yang dinyatakan secara kuantitatif. Hasil yang akan
diperoleh dalam bentuk angka atau prosentase dari aktivitas pemenuhan
permintaan perusahaan kepada customer-nya.
Kriteria pengukuran kinerja suatu supply chain management, yaitu :
- Sumber daya. Tujuan dari kriteria ini adalah mencapai tingkat efisiensi
yang setinggi-tingginya. Bentuk nyata yang dapat diukur dalam kriteria ini
antara lain total biaya, biaya distribusi, biaya produksi, biaya inventory,
dan lain sebagainya. - Keluaran. Tujuan dari kriteria ini adalah mencapai tingkat kepuasan
pelanggan yang setinggi-tingginya. Bentuk nyata yang dapat diukur dalam
kriteria ini antara lain volume produksi, jumlah penjualan, jumlah pesanan
yang dapat dipenuhi tepat waktu, dan lain sebagainya. - Fleksibilitas. Tujuan dari kriteria ini adalah untuk menciptakan
kemampuan yang tinggi dalam merespon perubahan yang terjadi di
lingkungannya. Bentuk nyata yang dapat dukur dalam kriteria ini antara
lain pengurangan jumlah backorder, pengurangan jumlah lost sales,
kemampuan merespon variasi permintaan dan lain sebagainya.
Menurut Felix (2001), beberapa permasalahan yang terjadi dalam sistem
pengukuran kinerja supply chain management,antara lain : - Tidak adanya pendekatan yang seimbang dalam mengintegrasikan ukuran
non keuangan dan keuangan. - Tidak adanya berpikir sistem, dimana suatu supply chain harus dipandang
sebagai satu kesatuan pengukuran yang utuh dari keseluruhan sistem
supply chain tersebut. - Hilangnya konteks supply chain management.
F. Dimensi dan Ukuran Kinerja Supply Chain Management
Menurut Tucker dan Taylor (1990), ukuran kinerja terdiri dari empat
komponen yaitu satuan metrik yang digunakan (kesesuaian, efisiensi,
efektivitas, biaya, dan reaksi), suatu skala (rupiah, jam), suatu rumusan
(persentase a terhadap b dan rata-rata waktu antara kegagalan), dan suatu
kondisi saat pengukuran dilakukan.
Ukuran kinerja adalah suatu evaluasi kuantitatif dari suatu proses atau produk.
Suatu ukuran umumnya terdiri dari suatu angka dan satuannya. Angka
tersebut menunjukkan besarnya dan satuan menunjukkan suatu arti dan
maksud. Metrik (standar penilaian seperti frekuensi, persentase, dan lain
sebagainya) digunakan untuk merefleksikan perkembangan suatu produk dan
untuk menentukan apakah sesuai atau tidak dengan progres yang diharapkan.
Pengelolaan, analisis, dan perbaikan supply chain menjadi hal yang penting
saat ini. Model supply chain yang ada lebih menekankan pada dua ukuran
kinerja yang berbeda (Beamon, 1999) : - Biaya
- Kombinasi antara biaya dan kemampuan reaksi pelanggan
Biaya-biaya tersebut meliputi biaya persediaan dan biaya operasional.
Sedangkan kemampuan reaksi pelanggan meliputi lead time, kemungkinan
stock out, dan tingkat pemenuhan. Pada kenyataannya, masih banyak ukuran
kinerja lain yang berkaitan dengan analisis supply chain yang belum
digunakan dalam penelitian supply chain. Walaupun ukuran ini mungkin
merupakan karakteristik penting dalam suatu supply chain merupakan suatu
tantangan, karena aspek kualitatif dari masing-masing ukuran sulit untuk
digabungkan ke dalam model kuntitatif. Misalnya ukuran kepuasan konsumen
(Christopher, 1994), aliran informasi (Nicoll, 1994), kinerja pemasok (Davis,
1993), dan manajemen resiko (John dan Randolph, 1995).
