Menurut Pujawan & Mahendrawathi (2010) dalam tantangan mengelola
supply chain ada dua, yakni :
- Kompleksitas struktur upply chain.
Suatu supply chain biasanya sangat kompleks, melibatkan banyak
pihak di dalam maupun di luar perusahaan. Pihak – pihak tersebut sering
kali memiliki kepentingan yang berbeda – beda, bahkan tidak jarang
bertentangan (conflicting) anatar satu dengan yang lainnya. Di dalam
perusahaan sendiri pun perbedaan kepentingan ini sering muncul.
Sebagai contoh, bagian pemasaran ingin memuaskan pelanggan sehingga
sering membuat kesepakatan dengan pelanggan tanpa mengecek secara
baik kemampuan bagian produksi. Perubahan jadwal produksi secara tiba
– tiba sering harus terjadi karena bagian pemasaran menyepakati
perubahan order (pesanan) dari pelanggan. Disisi lain, bagian produksi
biasanya cukup resistant terhadap perubahan – perubahan mendadak
seperti itu karena akan berakibat pada rendahnya utilitas mesin dan
seringnya pengadaan bahan baku harus dimajukan atau diubah. Ini akan
membuat kinerja bagian produksi kelihatan kurang bagus. Konflik antar
bagian ini merupakan satu tantangan besar dalam mengelola sebuah
supply chain.
Konflik kepentingan juga sangat jelas terjadi antar perusahaan yang
ada pada supply chain. Supplier menginginkan pembeli untuk memesan
produk jauh – jauh hari sebelum waktu pengiriman dan sedapat mungkin
pesanan tersebut tidak berubah. Supplier juga akan semakin senang bila
pengiriman bisa dilakukan segera setelah produksi selesai. Di sisi lain,
perusahaan pembeli menghendaki fleksibilitas yang tinggi. mereka akan
lebih mudah dalam kegiatan operasinya apabila supplier memberikan
keleluasan untuk mengubah jumlah, spesifikasi, maupun jadwal
pengiriman bahan baku yang dipesan. Pembeli juga menginginkan
supplier bisa mengirim tepat waktu dengan kuantitas pengiriman kecil
(mengikuti model just in time) sehingga pembeli tidak perlu menumpuk
persediaan dengan jumlah besar di gudang mereka. Konflik kepentingan
juga muncul dalam kaitannya dengan term pembayaran. Supplier
menginginkan agar pembeli cepat membayar, sementara pembeli
menginginkan term pembayaran yang panjang.
Kompleksitas suatu supply chain juga dipengaruhi oleh perbedaan
bahasa, zone waktu, dan budaya antar satu perusahaan dengan
perusahaan lain. Tentu akan sulit kalau sebuah perusahaan manufaktur di
Indonesia harus membeli bahan baku dari Eropa karena perbedaan
kepentingan antara mereka lebih sulit dicari titik temunya akibat
perbedaan tiga hal tadi. - Ketidakpastian
Ketidakpastian merupakan sumber kesulitan pengelolaan suatu supply
chain. Ketidakpastian menimbulkan ketidakpercayaan diri terhadap
rencana yang sudah dibuat. Sebagai akibatnya, perusahaan sering
menciptakan pengaman di sepanjang supply chain. Pengaman ini bisa
berupa persediaan (safety stock), waktu (safety time), ataupun kapasitas
produksi tidak bisa terpenuhi. Dengan kata lain, customer service level
akan lebih rendah pada situasi dimana ketidakpastian cukup tinggi.
berdasarkan sumbernya, ada tiga klasifikasi utama ketidakpastian pada
supply chain. Pertama adalah ketidakpastian permintaan. Sebuah toko
atau supermarket tidak akan pernah bisa memiliki informasi yang pasti
berapa suatu produk x akan terjual pada minggu atau hari tertentu.
Mereka hanya bisa meramalkan dan kita semua sadar bahwa ramalan
hampir selalu tidak benar. Pesanan dari sebuah supermarket ke
distributor juga tidak pernah pasti karena berbagai faktor, termasuk
adanya kesalahan administrasipersediaan, adanya syarat jumlah
pengiriman minimum dari pabrik, dan keharusan supermarket untuk
mengakomodasikan ketidakpastian pelanggan mereka. Demikian juga
halnya dengan distributor karena berbagai sebab – sebab tadi. Bahka
semakin ke hulu ketidakpastian permintaan ini biasanya semakin
meningkat. Peningkatan ketidakpastian atau variasi permintaan dari hilir
ke hulu pada suatu supply chain dinamakan bullwhip effect.
Ketidakpastian kedua berasal dari arah supplier. Ini bisa berupa
ketidakpastian pada lead time pengiriman, harga bahan baku atau
komponen, ketidakpastian kualitas, serta kuantitas material yang dikirim.
Sedangkan sumber yang ketiga adalah ketidakpastian internal yang bisa
diakibatkan oleh kerusakan mesin, kinerja mesinyang tidak sempurna,
ketidak hadiran tenaga kerja, serta ketidakpastian waktu maupun kualitas
produksi. Besarnya ketidakpastian yang dihadapi tiap – tiap supply chain
berbeda – beda. Pada kebanyakan kasus, permintaan pelanggan dianggap
mendominasi keidakpastian supply chain, namun tentu banyak juga kasus
dimana ketidakpastian pasokan bahan baku atau komponen menjadi isu
yang lebih dominan
