Supply Chain Management


Supply Chain Management adalah koordinasi dan pengelolaan dari
awal hingga akhir dalam proses produksi dan distribusi, dimulai dari bahan
mentah hingga produk jadi yang disampaikan kepada konsumen. Ini
melibatkan kerjasama antara pemasok, produsen, dan pengecer untuk
memastikan kelancaran dan efisiensi dalam operasi bisnis. Supply Chain
memiliki tujuan yaitu memaksimalkan nilai konsumen serta dapat unggul
dalam persaingan pasar.
Dalam penggunaan Supply Chain Management, terdapat beberapa
tujuan antara lain yaitu penyelarasan permintaan dengan pasok yang ada.
Namun, berbagai tantangan muncul dalam mengoperasikan alur pasokan,
termasuk pengelolaan pembelian barang, hubungan dengan pemasok,
interaksi dengan pelanggan, pengenalan dan penanganan masalah,
pengaturan risiko, dan aspek lainnya. (Maret Wijaya et al., 2021)
Rencana dalam Supply Chain Management terdiri dari enam aspek.
Yang pertama adalah tahap perencanaan. Tujuan dari perencanaan dalam
manajemen rantai pasok adalah untuk menjawab pertanyaan tentang apa,
kapan, dan bagaimana. Ini terbagi menjadi tiga tahap: strategis, taktis, dan
operasional. Perbedaan utama antara tingkatan tersebut ditentukan oleh waktu
perencanaan. Perencanaan strategis termasuk dalam kategori rencana logistik
jangka panjang yang memerlukan waktu lebih dari satu tahun. Rencana ini
seringkali terkait dengan kebijakan perusahaan dalam operasionalnya.
Perencanaan taktis adalah strategi logistik yang terfokus pada periode
menengah, umumnya berlaku untuk kurun waktu yang singkat, yaitu kurang
dari satu tahun. Perencanaan operasional fokus pada aktivitas logistik yang
terjadi setiap hari, dengan jangka waktu yang sangat singkat, bahkan bisa
direncanakan setiap hari atau setiap jam. Topik berikutnya membahas tentang
seberapa besar wilayah yang tercakup dalam perencanaan. Dalam kegiatan
logistik, ada empat keputusan utama yang harus dipertimbangkan, termasuk
tingkat pelayanan kepada pelanggan dan penentuan lokasi fasilitas logistik.
Hal ini penting untuk memastikan strategi logistik berjalan lancar dan
memastikan ketersediaan stok yang memadai; Keputusan mengenai
pengelolaan persediaan termasuk penilaian atas jumlah barang yang tersedia
dan kecukupan stoknya, serta keputusan terkait transportasi yang mencakup
pemilihan jenis transportasi yang akan digunakan. Pada topik ketiga, yaitu
tujuan pelayanan konsumen, faktor-faktor yang memengaruhinya sangat
beragam dibandingkan dengan faktor-faktor lainnya. Oleh karena itu, upaya
untuk memenuhi kebutuhan pelayanan konsumen memerlukan strategi yang
cermat dan tepat.
Dalam situasi di mana layanan jasa rendah, pengelolaan persediaan
bisa terpusat di beberapa lokasi, yang pada akhirnya meningkatkan biaya.
Namun, pada bisnis dengan layanan jasa yang tinggi, hal tersebut akan
berbalik arah. Topik keempat membahas strategi fasilitas lokasi, yang sangat
bergantung pada letak geografis dari tempat penyimpanan dan sumber daya.
Menentukan jumlah, lokasi, ukuran fasilitas, serta pasar yang akan dituju
adalah langkah penting dalam menetapkan produk yang cocok untuk
dipasarkan. Sementara itu, tujuan dari perencanaan strategi fasilitas lokasi
adalah untuk mencapai biaya yang rendah atau memperoleh keuntungan
maksimal. Topik keempat membahas strategi fasilitas lokasi, yang sangat
bergantung pada letak geografis dari tempat penyimpanan dan sumber daya.
Menentukan jumlah, lokasi, ukuran fasilitas, serta pasar yang akan dituju
adalah langkah penting dalam menetapkan produk yang cocok untuk
dipasarkan. Sementara itu, tujuan dari perencanaan strategi fasilitas lokasi
adalah untuk mencapai biaya yang rendah atau memperoleh keuntungan
maksimal. (Wulandari et al., 2016)
Ada beberapa macam komponen yang harus dipahami oleh
perusahaan jika ingin merancang metode Supply Chain Management yang
baik antara lain (Adhairani Nasution & Aslami, 2022):
a) Upstream Supply Chain: merujuk pada interaksi perusahaan dengan
entitas di luar organisasi dalam proses distribusi barang. Produk yang
dihasilkan tidak langsung disalurkan kepada konsumen akhir, melainkan
dialirkan melalui pihak luar atau perantara sebelum mencapai tangan
konsumen.
b) Downstream Supply Chain: merujuk pada koneksi antara perusahaan
dengan entitas lain di luar perusahaan tersebut. Ini mencakup proses
pengiriman barang langsung dari perusahaan kepada konsumen tanpa
melibatkan pihak tambahan. Perusahaan yang menggunakan
Downstream Supply Chain biasanya membuat produk secara langsung
sesuai dengan kebutuhan spesifik konsumen.
c) Internal Supply Chain: merujuk pada proses masuknya barang di dalam
perusahaan. Ini mencakup berbagai kegiatan seperti pengelolaan
produksi, kontrol kualitas, dan pengaturan ketersediaan bahan baku.