Dalam kehidupan berorganisasi, pemberian dorongan sebagai
bentuk motivasi kerja kepada bawahan penting dilakukan untuk
meningkatkan kinerja karyawan. Robbins dalam Hasibuan (1999)
mengemukakan motivasi sebagai suatu kerelaan berusaha seoptimal
mungkin dalam pencapaian tujuan organisasi yang dipengaruhi oleh
kemampuan usaha memuaskan beberapa kebutuhan. Motivasi seringkali
disamakan dengan dorongan. Dorongan atau tenaga tersebut merupakan
gerak jiwa dan jasmani untuk berbuat, sehingga motivasi tersebut
merupakan driving force yang menggerakkan manusia untuk bertingkah
laku dan perbuatan itu mempunyai tujuan tertentu.
Teori-Teori Motivasi
a) Teori Abraham Maslow
Teori motivasi Abraham maslow (Robins,2015) mengatakan
bahwa di dalam diri semua manusia bersemayam lima jenjang
kebutuhan, yaitu sebagai berikut:
- Fisiologis: antara lain rasa lapar, haus, perlindungan (pakaian
dan perumahan), seks, dan kebutuhan jasmani lain. - Keamanan: antaranya keselamatan dan perlindungan atas kerugian
fisik dan emosional. - Sosial: mencakup kasih saying, rasa memiliki, diterima -baik, dan
persahabatan. - Penghargaan: mencakup faktor penghormatan diri seperti harga
diri, otonomi, dan prestasi; serta faktor dari luar misalnya status,
pengakuan, dan perhatian. - Aktualisasi diri: dorongan untuk menjadi seseorang/sesuatu
sesuai ambisinya yang mencakup pertumbuhan, pencapaian
potensi, dan pemenuhan kebutuhan diri.
b) Teori David McClelland
Teori McClelland (Robins,2015) mengatakan 3 poin, yaitu: - Kebutuhan akan prestasi: Dorongan untuk mengungguli,
berprestasi sehubungan dengan seperangkat standar, bergulat
untuk sukses. - Kebutuhan akan kekuasaan: kebutuhan untuk membuat orang lain
berperilaku dalam suatu cara yang orang-orang itu [tanpa dipaksa]
tidak akan berperilaku demikian. - Kebutuhan akan afiliasi: hasrat untuk hubungan antar-pribadi yang
ramah dan akrab.
c) Teori X dan Y
a. Teori X berasumsi bahwa para pekerja tidak suka bekerja, malas,
tidak menyukai tanggung jawab, dan harus dipaksa untuk
mengerjakan.
b. Teori Y berasumsi bahwa para pekerja suka bekerja, kreatif,
mencari tanggung jawab, dan dapat menyodorkan diri sendiri
dalam melakukan pekerjaannya.
d) Teori Dua Faktor dari Herzberg
Teori dua factor adalah suatu teori yang mengaitkan faktor-faktor
intrinsik dengan kepuasan kerja dan menghubungkan factor ekstrinsik
dengan ketidakpuasan kerja. Menurut Hertzberg, factor-faktor yang
mengarahkan pada kepuasan pekerjaan adalah terpisah dan berbeda
dari factor-faktor yang mengarahkan pada ketidakpuasan pekerjaan.
e) Teori ERG Alderfer
Alderfer mengidentifikasi tiga kelompok kebutuhan : - Kebutuhan eksistensi : berhubungan dengan kelangsungan hidup
(kesejahteraan fisiologis). - Kebutuhan hubungan : menekankan pentingnya hubungan sosial
atau hubungan antar pribadi. - Kebutuhan perkembangan : berhubungan dengan keinginan
intrinsik individu terhadap perkembangan pribadi.
