Budaya organisasi yang sangat kuat memiliki dampak yang lebih besar
terhadap perilaku karyawan secara langsung terkait dengan turnover itention
karyawan, karena didalam budaya yang kuat terdapat nilai inti organisasi
dipegang secara mendalam dan dianut bersama secara meluas. Semakin banyak
anggota yang menerima nilai-nilai inti dan makin besarnya komitmen mereka
pada nilai-nilai tersebut, maka hal ini akan menguatkan budaya organisasi
tersebut. Budaya yang kuat juga memperlihatkan kesepakatan yang tinggi antar
anggota mengenai apa yang harus dipertahankan di organisasi. Budaya organisasi
dibedakan empat macam, (Robbins & Judge, 2013) yaitu:
- Caring Culture
Budaya organisasi pada tipe ini mempunyai ciri rendahnya perhatian pada
kinerja dan tingginya perhatian terhadap antar manusia. Penghargaan lebih
didasarkan kepaduan tim dan harmon, dan bukan didasarkan atas kinerja
pelaksanaan tugas. - Exating Culture
Ciri utama tipe adalah perhatian perhatian terhadap orang sangat rendah,
tetapi perhatian terhadap kinerja sangat tinggi. Disini secara ekonomis,
penghargaan sangat memuaskan namun hukuman atas kegagalan yang
dilakukan juga sangat berat. Dengan demikian tingkat keamanan pekerjaan
menjadi sangat rendah. - Apathetic Culture
Dalam tipe ini perhatian anggota organsasi terhadap hubungan antara
individu atau perhatian terhadap kinerja pelaksaan tugas, dua-duanya
rendah. Disini penghargaan hanya diberikan berdasarkan permainan politik
dan pemanipulasian orang lain. - Intergrative Culture
Dengan organisasi yang memiliki budaya yang utuh, maka perhatian
terhadap orang atau perhatian terhadap kinerja keduanya sangat tinggi.
Dalam melaksanakan tugas yang diberikan setiap organisasi memiliki
peran masing-masing berdasarkan wewenang dan tanggung jawab. Tindakan kerja
tersebut yang dilakukan secara bersama akan membentuk budaya organisasi yang
memiliki beberapa bagian (Wibowo, 2013).
