Menurut Robbins & Judge (Kaswan, 2015:126) komitmen organisasi terdiri
atas tiga dimensi:
1) Komitmen afektif
Komitmen afektif menunjukkan kuatnya keinginan emosional karyawan untuk
beradaptasi dengan nilai-nilai yang ada agar tujuan dan keinginannya untuk tetap
di organisasi dapat terwujud. Komitmen afektif dapat timbul pada diri seorang
karyawan dikarenakan adanya: karakteristik individu, karakteristik struktur
organisasi, signifikansi tugas, berbagai keahlian, umpan balik dari pemimpin, dan
keterlibatan dalam manajemen. Umur dan lama masa kerja di organisasi sangat
berhubungan positif dengan komitmen afektif. Karyawan yang memiliki komitmen
afektif akan cenderung untuk tetap dalam satu organisasi karena mereka
mempercayai sepenuhnya misi yang dijalankan oleh organisasi.
2) Komitmen kelanjutan
Komitmen kelanjutan merupakan komitmen yang didasari atas kekhawatiran
seseorang terhadap kehilangan sesuatu yang telah diperoleh selama ini dalam
organisasi, seperti: gaji, fasilitas, dan yang lainnya. Hal-hal yang menyebabkan
adanya komitmen kelanjutan, antara lain adalah umur, jabatan, dan berbagai
fasilitas serta berbagai tunjangan yang diperoleh. Komitmen ini akan menurun jika
terjadi pengurangan terhadap berbagai fasilitas dan kesejahteraan yang diperoleh
karyawan.
3) Komitmen normatif
Komitmen normatif merupakan tanggung jawab moral karyawan untuk tetap
tinggal dalam organisasi. Penyebab timbulnya komitmen ini adalah tuntutan sosial
yang merupakan hasil pengalaman seseorang dalam berinteraksi dengan sesama
atau munculnya kepatuhan yang permanen terhadap seorang panutan atau pemilik
organisasi dikarenakan balas jasa, respek sosial, budaya atau agama
