Teori Signaling


Dalam teori signaling ini manajemen mempunyai informasi bahwa prospek
masa depan sebuah perusahaan sangat baik. Maka manajer akan mengeluarkan sebuah
pernyataan untuk meyakinkan investor bahwa masa depan perusahaan cerah, tapi
investor akan menginginkan bukti yang nyata atas klaim dari manajer tersebut.
Selanjutnya, dalam menyediakan bukti tersebut perusahaan membutuhkan biaya yang
besar, jika tidak perusahaan lain dengan prospek yang kurang cerah hanya akan meniru
tindakan dari perusahaan dengan prospek yang benar–benar bagus. Satu hal yang dapat
dilakukan oleh manajer adalah dengan meminjam banyak uang dengan mengeluarkan
hutang. Dengan begitu, mereka sedang mendemonstrasikan kepada pasar bahwa
mereka mempunyai keyakinan bahwa perusahaan akan menghasilkan aliran kas di
masa depan yang cukup untuk melunasi hutang – hutang tersebut. Sebaliknya,
perusahaan dengan prospek yang tidak begitu bagus akan ragu – ragu untuk berhutang
dalam jumlah yang besar karena mereka akan kesulitan dalam pelunasan hutang dan
bahkan bisa menyebabkan kebangkrutan (Gitman dan Zutter, 2015).
Menurut Gitman dan Zutter (2015), aktivitas pendanaan yang dilakukan oleh
manajemen yang mana dipercaya untuk merefleksikan pandangannya terhadap nilai
perusahaan. Umumnya, pendanaan dengan hutang dianggap sebagai sinyal positif
yang mana manajer percaya bahwa saham “undervalued”. Dan begitu juga sebaliknya
apabila perusahaan memutuskan untuk menerbitkan saham, investor khawatir bahwa
ini bisa menjadi sinyal negatif, yang mana mengindikasikan bahwa manajer percaya
profitabilitas perusahaan di masa depan mungkin kurang baik dan harga saham saat ini
“overvalued”. Untuk itu investor akan sering menginterpretasikan bahwa pengumuman
penerbitan saham sebagai bad news, dan penurnan harga saham.