Pengaruh Stress Kerja Terhadap Perilaku Kerja Kontraproduktif


Stress kerja disebabkan oleh tekanan dari lingkungan kerja seperti
tuntutan pekerjaan dari pimpinan maupun dari faktor eksternal. Adanya
tekanan yang dirasakan akan menimbulkan emosi pada individu. Emosi
tersebut ada sebagai hubungan utama antara pengalaman kerja dan
perilaku karyawan. Stres kerja merupakan fenomena psikofisik yang
bersifat manusiawi, dalam arti bahwa stres kerja bersifat inheren dalam
diri setiap karyawan dalam menghadapi pekerjaannya sehari – hari. Stres
kerja dapat dialami oleh karyawan, tanpa mengenal jenis kelamin, usia,
kedudukan, jabatan atau status sosial ekonomi (Yusuf, 2004:93).
Sangat dipahami bahwa karyawan adalah aset yang paling penting
bagi organisasi karena peran utama mereka dalam menjalankan organisasi
secara efektif dapat mempengaruhi keberhasilan organisasi. Karyawan
yang mengalami lebih sedikit stres lebih kooperatif dan berfungsi sebagai
aset untuk suatu organisasi tetapi ketika organisasi mengabaikan stres dan
kebutuhan karyawannya, maka hasilnya adalah peningkatan
ketidakhadiran, biaya, produktivitas rendah, motivasi rendah dan biasanya
kerugian finansial yang akhirnya mempengaruhi perilaku kerja karyawan
dan mengarahkannya pada perilaku kerja kontra-produktif (CWB).
Karyawan yang mengalami emosi negatif lebih besar akibat stresor
kerja dapat melepaskan kemarahan atau frustrasi ini melalui keterlibatan
dalam CWB. Dengan kata lain, reaksi emosional yang berasal dari
pengalaman stres kerja dapat mempengaruhi keputusan karyawan dalam
mengatasi stres, sehingga berpotensi mengarah pada perilaku
kontraproduktif (Sprung & Steve, 2012). Studi hasil penelitian Eschleman
et al., (2014: 1) berhasil menyatakan bahwa peningkatan stres kerja (yaitu,
kendala organisasi, konflik interpersonal) secara positif terkait dengan
peningkatan perilaku kerja kontraproduktif (CWB). Dengan kata lain,
pekerja lebih mungkin untuk terlibat dalam CWB setelah ada peningkatan
tekanan kerja. Selain itu, adanya tekanan yang cukup tinggi dalam
organisasi, baik yang berasal dari individu, anggota lain maupun
pemimpin dapat mengancam sumber daya, lingkungan yang tidak dapat
39
diprediksi menciptakan ketidakpastian. Sejalan dengan hasil penelitian
Aftab & Javeed (2012:590) menyimpulkan bahwa dari keseluruhan sampel
menghadapi stres kerja terutama karena banyaknya tuntutan, beban kerja
yang berlebihan, dipaksa untuk bekerja lebih banyak oleh atasan,
komunikasi yang buruk, tidak ada penghargaan yang diterima, sistem
evaluasi kinerja yang tidak adil, kondisi kerja yang tidak pantas dan gaji
serta penghargaan yang tidak pantas. Dengan demikian, stres kerja di
antara karyawan membawa mereka ke arah perilaku kerja kontra-produktif
dan ada korelasi positif yang cukup diantara keduanya. Pernyataan
tersebut diperkuat oleh hasil penelitian Nugraheni & Wahyuni (2016: 49)
bahwa emosi negatif yang ditimbulkan dari tekanan kerja berpengaruh
positif signifikan terhadap perilaku kerja kontraproduktif