Teori teori Kepuasan Kerja


Menurut (Wexley dan yulk dalam kinanti 2012)mengatakan bahwa ada tiga macam
teori-teori tentang kepuasan kerja yaitu discrepancy theory (teori perbandingan),
equity theory (teori keadilan), two factory theory (teori dua faktor) :
a. Discrepancy Theory (Teori Perbandingan)
Teori ini dipelopori oleh Porter pertama kali pada tahun 1974 (dalam kinanti,2012),
yang mengukur kepuasan kerja seseorang dengan menghitung selisih antara apa
yang seharusnya dengan kenyataan yang dirasakan.Apabila yang didapat ternyata
lebih besar dari pada yang dingini,maka orang akan menjadi lebih puas lagi
walaupun terdapat discrepancy, tetapi merupakan discrepancy yang positif.
Sebaliknya semakin jauh kenyataan yang dirasakan dibawah standar minimum
sehingga menjadi discrepancy yang negatif. Maka semakin besar pula ketidakpuasan
seseorang terhadap pekerjaanya.
b. Equity Theory(Teori Keadilan)
Teori ini dikembangkan oleh Adams (dalam kinanti 2012), adapun pendahuluan dari
teori ini adalah Zalezenik(dalam kinanti 2012). Prinsip dari teori ini bahwa orang
akan merasa puas atau tidak puas tergantung apakah ia merasakan adanya keadilan
(equity)atau tidak atas situasi.Perasaan equity ataupun inequity atas suatu situasi
diperoleh orang dengan cara membandingkan dirinya dengan orang lain yang
sekelas sekantor maupun ditempat lain.
c. Two Factory Theory (Teori Dua Faktor)
Prinsip dari teori ini adalah bahwa kepuasan kerja dan ketidakpuasan itu merupakn
dua hal yang berbeda artinya kepuasan dan ketidakpuasan terhadap pekerjaan itu
tidak merupakan suatu variabel yang berlanjut.Teori ini pertama kali dikemukakan
oleh Herzberg pada tahun 1959 (dalam kinanti 2012), berdasarkan penelitiannya
beliau membagi situasi yang mempengaruhi sikap seorang terhadap pekerjaannya
menjadi dua kelompok yaitu kelompok satisfier atau motivator dan kelompok
disatifier atau hyginie factors. Satisfier(motivator) adalah faktor-faktor atau situasi
yang dibuktikannya sebagai sumber kepuasan kerja yang terdiri dari achievement,
recognition, work itself, responsibility, dan advancement. Dikatakan bahwa hadirnya
faktor ini akan menimbulkan kepuasan tetapi tidak hadirnya faktor ini tidaklah selalu
mengakibatkan ketidakpuasan . Disatifier (hygiene factors) adalah faktor faktor yang
terbukti menjadi sumber ketidakpuasan yang terdiri dari company policy, and
administration, supervision tehnical salary, interpersonal relations, work condition,
job securty, and status. Perbaikan atas kondisi atau situasi ini akan mengurangi atau
menghilangkan ketidakpuasan , tetapi tidak akan menimbulkan kepuasan karena ia
bukan sumber kepuasan kerja .
Frederick Herzberg (dalam Aruan dan Fakhri, 2015) berdasarkan
penelitiannya dikembangkan gagasan bahwa terdapat dua rangkaian kondisi yang
mempengaruhi sesorang didalam pekerjaannya yaitu intrinsik dan ekstrinsik.
1) Faktor Intrinsik
Faktor yang berhubungan dengan aspek- aspek yang berasal dari dalam dirinya .Jadi
berhubungan dengan job content.Rangkaian ini melukiskan hubungan seseorang
dengan apa yang dikerjakannya (job content) yaitu kandungan pekerjaan pada
tugasnsya. Motivasi yang ideal yang dapat merangsang usaha adalah peluang untuk
melaksanakan tugas yang lebih membutuhkan keahlian dan peluang untuk
mengembangkan kemampuan.
2) Faktor Ekstrinsik
Faktor yang berasal dari luar dirinya .Faktor ini berhubungan dengan job
context.Rangkaian ini melukiskan hubungan seseorang dengan hal hal yang berada
di lingkungan kerja yang ada disekitarnya (job content). Menurut hasil penelitian
Herzberg (dalam Aruan dan Fakhri 2015) ada tiga hal penting yang harus
diperhatikan dalam mempengaruhi kepuasan kerja karyawan antara lain sebagai
berikut ;
a). Hal-hal yang mendorong karyawan adalah pekerjaan yang menantang yang
mencakup perasaan berprestasi, bertanggung jawab, kemajuan, dapat menikmati
pekerjaan itu sendiri, dan adanya pengakuan atas semuanya .
b). Hal –hal yang mengecewakan karyawan adalah terutama faktor yang dianggap
remeh pada pekerjaan, peraturan pekerjaan, penerangan, istirahat, sebutan jabatan,
hak, gaji, tunjangan, dan lain- lain.
c). Karyawan akan kecewa apabila peluang untuk berprestasi terbatas. Mereka akan
menjadi sensitif pada lingkungannya serta mulai mencari-cari kesalahan.
Dari beberapa teori diatas maka dapat ditarik kesimpulan bahwa setiap individual
tentunya ingin mencapai kepuasan itu sendiri .Disamping adanya faktor pendukung
seperti lingkungan kerja, hubungan antar karyawan, gaji, jabatan dan lain-lain .
Pengaruh dari luar dan dari dalam juga tidak kalah pentingnya dimana sangat besar
dampaknya terhadap kepuasan kerja seseorang