Pengertian Keputusan Investasi


Investasi adalah komitmen atas sejumlah dan atau sumber daya
lainnya yang dilakukan pada saat ini, dengan tujuan memperoleh sejumlah
keuntungan di masa datang Pertiwi; at al., (2016). Menurut Ilhamsyah &
Soekotjo, (2017) menjelaskan bahwa investasi adalah penanaman dana
yang dilakukan perusahaan oleh suatu perusahaan ke dalam suatu asset
(aktiva) dengan harapan memperoleh pendapatn dimasa yang akan datang.
Keputusan investasi mempunyai dimensi jangka panjang, sehingga
keputusan yang diambil harus dipertimbangkan dengan baik, karena
mempunyai risiko berjangka panjang pula Purnama, (2016). Dan juga
dipertimbangkan apabila investasi dilakukan untuk jangka panjang, maka
konsep nilai waktu uang menjadi penting untuk diperhatikan Ilhamsyah &
Soekotjo, (2017). Terdapat beberapa dasar keputusan yang memiliki
kaitannya dengan keputusan investasi terdiri dari tingkatan return yang
diharapkan, tingkatan risiko, dan hubungan anatar return dan risiko.

  1. Return. Alasan utama orang berinvestasi adalah untuk memperoleh
    keuntungan, dalam konteks manajemen investasi tingkat keuntungan
    investasi disebut return. Return yang diharapkan investor dari investasi
    yang dilakukannya merupakan kompensasi atas biaya kesempatan
    (opportunity cost) dan risiko penurunan daya beli akibat adanya
    pengaruh inflasi. Dalam konteks manajemen investasi perlu dibedakan
    return yang diharapkan (expected return) dan return yang terjadi
    (realized return). Return yang diharapkan merupakan tingkat return
    yang diantisipasi investor yang akan datang sedangkan return yang
    terjadi atau return akrual merupakan tingkat return yang telah diperoleh
    investor pada masa lalu. Jadi dalam berinvestasi disamping
    memperhatikan tingkat return, investasi juga harus selalu
    mempertimbangkan risiko.
  2. Risiko. Hal penting yang harus selalu dipertimbangkan, yaitu seberapa
    besar risiko yang harus ditanggung dari investasi tersebut. umumnya
    semakin besar risiko, maka semakin besar pula tingkat return yang
    diharapkan. Hal ini dibuktian dengan penelitian terhadap return saham
    dan obligasi di Amerika yang dilakukan oleh Jeremy J. Siegel tahun
    1992, menentukan bahwa dalam periode 1802-1990, return saham
    melebihi return obligasi. Kelebihan return saham aras return obligasi
    disebut equity premium. Salah satu faktor yang menyebabkan fenomena
    equity premium tersebut adanya fakta bahwa risiko saham lebih tinggi
    dari risiko obligasi.
  3. Hubungan tingkat risiko dan return yang diharapkan. Hubungan antara
    risiko dan return yang diharapkan merupakan hubungan yang bersifat
    searah dan linier. Artinya, semakin besar risoko suatu aset semakin
    besar pula return atas aset tersebut, demikian sebaliknya.