Faktor-faktor yang Berpengaruh terhadap Kebijakan Dividen.


Dalam menentukan kebijakan dividen, perusahaan harus
mempertimbangkan sejumlah hal atau faktor-faktor yang mempengaruhi
kebijakan dividen. Faktor-faktor yang mempengaruhi kebijakan dividen
menurut Ridwan S Sundjaja dan Inge barlian (2003:387-390)

  1. Peraturan Hukum
    A. Peraturan mengenai laba bersih menentukan bahwa dividen dapat
    dibayar dari laba tahun-tahun yang lalu dan laba tahun berjalan.
    B. Peraturan mengenai tindakan yang merugikan modal. Melindungi
    para direktur, dengan melarang pembayaran dividen yang berasal dari
    modal (membagikan investasinya dan bukan membagikan dividen).
    C. Peraturan mengenai tak mampu bayar. Perusahaan boleh tidak
    membayar dividen jika tidak mampu (bangkrut).
  2. Posisi likuiditas Laba ditahan biasanya diinvestasikan dalam bentuk aktiva
    yang diperlukan untuk menjalankan usaha. Laba ditahan dari tahun-tahun
    terdahulu sudah diinvestasikan dalam bentuk mesin dan peralatan,
    persediaan, dan barangbarang lainnya, bukan disimpan dalam bentuk uang
    tunai, Oleh karena itu sesuatu perusahaan yang keuntungannya luar biasa
    mungkin saja tidak dapat membayar dividen karena keadaan likuiditasnya.
    Memang perusahaan yang sedang tumbuh biasanya betul-betul kekurangan
    dana. Dalam situasi seperti ini mungkin perusahaan memutuskan untuk
    tidak membayar dividen dalam bentuk tunai.
  3. Membayar Pinjaman
    Jika perusahaan telah membuat pinjaman untuk memperluas usahanya atau
    untuk pembiayaan lainnya maka ia dapat melunasi pinjamannya pada saat
    jatuh tempo atau ia dapat menyisihkan cadangan-cadangan untuk melunasi
    pinjaman itu nantinya. Jika diputuskan bahwa pinjaman itu akan dilunasi ,
    maka biasanya harus ada laba ditahan
  4. Kontrak Pinjaman
    Kontrak pinjaman apabila jika menyangkut pinjaman jangka panjang,
    seringkali membatasi kemampuan perusahaan untuk membayar dividen
    tunai. Pembatasan-pembatasan yang dimaksudkan untuk melindungi para
    kreditur yaitu :
    A. Dividen yang akan datang hanya boleh dibayar dari keuntungan
    yang diperoleh sesudah ditandatanganinya kontrak pinjaman
    (artinya tidak boleh dibayarkan dari laba tahun lalu yang ditahan).
    B. Dividen tidak boleh dibayarkan jika modal kerja bersih
    jumlahnya lebih kecil dari suatu jumlah tertentu. Begitu pula
    persetujuan mengenai saham preferen biasanya menyatakan
    bahwa dividen atas saham preferen selesai dibayar.
  5. Pengembaliaan Aktiva
    Semakin cepat pertumbuhan perusahaan, semakin besar kebutuhannya
    untuk membiayai pengembangan aktiva perusahaan. Semakin banyak dana
    yang dibutuhkan di kemudiaan hari, semakin banyak laba yang harus
    ditahan dan tidak dibayarkan. Apabila ingin menambah modal dari luar
    maka sumber alami yang tersedia adalah para pemegang saham sekarang
    yang sudah mengenal perusahaan. Jika keuntungannya dibayarkan kepada
    mereka sebagai dividen dan terkena tarif pajak perorangan yang tinggi,
    maka hanya sebagian saja yang dapat ditanam kembali.
  6. Tingkat Pengembalian
    Tingkat pengembaliaan atas asset menentukan pembagiaan laba dalam
    bentuk dividen yang dapat digunakan oleh pemegang saham baik
    ditanamkan kembali di dalam perusahaan maupun di tempat lain.
  7. Stabilitas Keuntungan
    Perusahaan yang keuntungannya relatif teratur seringkali dapat
    memperkirakan bagaimana keuntungan di kemudiaan hari. Maka
    perusahaan seperti itu kemungkinan besar akan membagikan
    keuntungannya dalam bentuk dividen dengan persentasi yang lebih besar
    dibandingkan dengan perusahaan yang keuntungannya berfluktuasi.
  8. Pasar modal
    Perusahaan besar yang sudah mantap, dengan profitabilitas yang tinggi dan
    keuntungan yang teratur, dengan mudah dapat masuk ke pasar modal atau
    memperoleh macam-macam dana dari luar untuk pembiayaannya.
    Perusahaan yang sudah mantap akan mempunyai tingkat dividen yang lebih
    tinggi dibandingkan dengan perusahaan kecil atau yang masih baru.
  9. Kendali Perusahaan
    Jika perusahaan hanya memperkuat usahanya dari pembiayaan intern maka
    pembayaran dividen akan berkurang. Kebijakan ini dijalankan atas
    pertimbangan bahwa menambah modal dengan menjual saham biasa akan
    mengurangi pengendalian atas perusahaan itu oleh golongan pemegang
    saham yang kini sedang berkuasa. Selain itu penjualan saham tambahan
    akan memperbesar resiko berfluktuasinya keuntungan bagi para pemegang
    saham.
  10. Keputusan kebijakan dividen
    Hampir semua perusahaan ingin mempertahankan dividen per saham pada
    tingkat yang konstan. Tetapi naiknya dividen selalu terlambat dibandingkan
    dengan naiknya keuntungan. Artinya dividen itu baru akan dinaikkan jika
    sudah jelas bahwa meningkatnya keuntungan itu benar-benar mantap dan
    nampak cukup permanen. Sekali dividen sudah naik, maka segala daya dan
    upaya akan dikerahkan. Jika keuntungannya kemudian menurun. Menurut
    Sutrisno (2001 ; 304 – 305), faktor-faktor yang mempengaruhi besar
    kecilnya dividen yang akan dibayarkan oleh perusahaan kepada pemegang
    saham