Kepemilikan Managerial


Kepemilikan manjerial adalah persentase jumlah saham yang dimiliki
manajemen dari seluruh jumlah saham perusahaan yang dikelola
(Krisnando & Sakti, 2019). Kepemilikan manajerial adalah situasi
dimana pihak manajer turut memiliki sejumlah saham di suatu
perusahaan sehingga dapat dikatakan bahwa manajer tersebut sekaligus
pemilik perusahaan. Keadaan ini ditunjukkan dalam laporan keuangan
dengan besaran presentase kepemilikan saham perusahaan oleh manajer.
Dalam teori keagenan dijelaskan bahwa ada kemungkinan permasalahan
yang akan timbul antara principal dan agen atau antara pemegang saham
dan manajer. Masalah tersebut dapat disebabkan karena kecilnya
kepemilikan oleh agen di perusahaan, hal ini dapat menjadi dimana
manajer bertindak hanya untuk menguntungkan dan mementingkan diri
sendiri. Sehingga manajer mengelola perusahaan tidak sesuai dengan apa
yang diinginkan principal. Dengan adanya kepemilikan manajerial,
maka manajemen akan ikut serta aktif dalam pengambilan keputusan.
Mereka akan memperoleh manfaat langsung atas keputusan-keputusan
yang diambilnya, namun juga akan menanggung risiko secara langsung
bila keputusan itu salah.
Dalam kerangka agency theory, salah satu cara untuk meminimalkan
konflik keagenan (agency problem) adalah dengan meningkatkan
kepemilikan saham oleh manajer atau yang dikenal sebagai kepemilikan
manajerial. Konflik keagenan terjadi ketika terdapat perbedaan
kepentingan antara prinsipal (pemegang saham) dan agen (manajer), di
mana manajer cenderung bertindak untuk kepentingannya sendiri
daripada memaksimalkan nilai perusahaan. Kepemilikan manajerial
dianggap sebagai salah satu mekanisme Good Corporate Governance
(GCG) yang efektif untuk menyelaraskan kepentingan antara prinsipal
dan agen. Dengan memiliki saham di perusahaan, manajer menjadi
bagian dari pemilik (prinsipal), sehingga kepentingan pribadi mereka
akan selaras dengan kepentingan pemegang saham.