Banyak teori tentang kepuasan kerja, diantaranya adalah Teori
Pertentangan (Discrepancy Theory). Teori ini pertama kali dipelopori oleh
Porter pada tahun 1961, Porter mengukur kepuasan kerja seseorang dengan
menghitung selisih antara apa yang seharusnya dengan kenyataan yang
dirasakannya (dalam As’ad, 2008).
Locke (dalam Munandar, 2001) menyatakan bahwa kepuasan atau
ketidakpuasan terhadap beberapa aspek dari pekerjaan mencerminkan
penimbangan dua nilai, yang pertama yaitu pertentangan yang dipersepsikan
antara apa yang diinginkan seorang individu dengan apa yang menurut
perasaan atau persepsinya telah diperoleh atau dicapai melalui pekerjaan dan
yang kedua pentingnya apa yang diinginkan bagi individu.
Kepuasan kerja secara keseluruhan bagi seorang individu adalah
jumlah dari kepuasan kerja dari setiap aspek pekerjaan dikalikan dengan
derajat pentingnya aspek pekerjaan bagi individu. Misalnya untuk seorang
tenaga kerja, satu aspek dari pekerjaannya (misalnya: tata ruang kerja (layout)
sangat penting, lebih penting dari aspek-aspek pekerjaan lain (misalnya
penghargaan), maka untuk tenaga kerja tersebut tempat kerja harus difasilitasi
lebih baik dari pada penghargaan (Munandar, 2001)
Menurut Locke seseorang individu akan merasa puas atau tidak puas
merupakan sesuatu yang pribadi, tergantung bagaimana mempersepsikan
adanya kesesuaian atau pertentangan antara keinginan-keinginannya dan hasil
keluarnya. Ruangan yang tertata dengan baik akan menunjang kepuasan
tenaga kerja yang menikmati kenyamanan dalam bekerja, tetapi tidak akan
menunjang kepuasan kerja seorang tenaga kerja lain yang merasa tidak
menikmati kenyamanan dalam ruangannya.
