Kepuasan Kerja yang dirasakan karyawan harus
diperhatikan oleh organisasi, karena karyawan yang
memiliki Kepuasan Kerja rendah akan memberikan dampak
seperti yang dikemukakan oleh Davis dan Newstrom (1996),
“Kepuasan kerja sangat penting artinya bagi
organisasi, karena salah satu segala kurang stabilnya
organisasi adalah rendahnya kepuasan kerja”.
Sedangkan menurut Rivai dan Sagala (2013) ada beberapa
alasan mengapa perusahaan harus benar-benar
memperhatikan Kepuasan Kerja, dapat dikategorikan sesuai
dengan fokus karyawan atau perusahaan, yaitu :
a. Pertama, manusia berhak diperlakukan adil dan
hormat, pandangan ini menurut perspektif
kemnusiaan. Kepuasan kerja merupakan perluasan
refleksi perlakuan yang baik. Penting juga
memperhatikan indicator emosional / kesehatan
psikologis.
b. Kedua, perspektif kemanfaatan bahwa kepuasan
kerja dpat menciptakan perilaku yang mempengaruhi
fungsi-fungsi perusahaan. Perbedaan kerja antara
unit-unit organisasi dapat mendiagnosis potensi
persoalan.
Pada dasarnya pendapat Rivai dan Sagala dapat
dilihat dari dua sudut pandangan.
a. Pertama, kepuasan kerja dapat dilihat dari pandangan
karyawan itu sendiri, tentu saja yang dapat
menimbulkan karyawan puas adalah segala hal yang
diterima karyawan dari organisasi baik material atau
pun non material (penghargaan, pengakuan, dan
sebagainya).
b. Kedua, dari sudut pandang perusahaan, kepuasan
pada hakikatnya adalah perilaku / tindakan karyawan
yang dapat menyenangkan pihak lain, dalam hal ini
organisasi atau perusahaan atau tim kerja. Sebagai
contoh banyak orang yang merasa puas melakukan
sesuatu jika tindakannya itu dapat menyenangkan
pihak lain.
