Job crafting seeking resources merupakan salah satu cara yang
dapat dilakukan individu untuk menghadapi perubahan organisasi yang
terjadi. Ada banyak faktor yang dapat memicu munculnya perilaku job
crafting seeking resources antara lain kemauan individu untuk berubah
mengikuti perubahan yang diimplementasikan oleh organisasinya. Petrou
dkk (2015) menemukan bahwa kemauan individu untuk berubah
memotivasi individu untuk mengembangkan diri dengan cara
meningkatkan sumber daya dan tantangan pada pekerjaan.
Beberapa peneliti berpendapat bahwa kemauan individu untuk
berubah merupakan salah satu komponen penting untuk mendukung
berhasilnya proses perubahan organisasi (Shiddiqui, 2011). Hal tersebut
terlihat dari penelitian sebelumnya yang menunjukkan bahwa job crafting
dapat digunakan sebagai salah satu cara individu untuk beradaptasi
menghadapi perubahan organisasi (Petrou dkk, 2015; Petrou dkk, 2016;
Peral & Geldenhuys, 2016).
Kemauan untuk berubah merupakan hal penting yang seharusnya
dimiliki individu untuk mendukung keberhasilan penerapan perubahan
organisasi. Kemauan individu untuk mengikuti perubahan bisa dilihat
sebagai salah satu usaha yang dilakukan individu untuk mendukung
perubahan organisasi sehingga penolakan individu terhadap perubahan
akan sangat rendah. Kemauan individu untuk berubah akan memicu
individu untuk membentuk ulang (crafting) pekerjaan mereka untuk
menyesuaikan tuntutan-tuntutan yang muncul karena perubahan (Wanberg
& Bannas, 2000; dalam Petrou dkk, 2016).
Salah satu penelitian Petrou dkk (2015) menemukan bahwa
kemauan untuk berubah secara signifikan berhubungan dengan job crafting
dan mempengaruhi kinerja individu menjadi lebih baik serta mengurangi
kelelahan yang dirasakan individu. Petrou dkk (2015) juga menjelaskan
bahwa kemauan untuk berubah merupakan variabel penting yang menjadi
faktor munculnya perilaku job crafting. Individu yang memiliki kemauan
untuk berubah akan terikat dengan perilaku peningkatan sumber daya
pekerjaan ke level yang lebih tinggi.
Menurut Metselaar (1997) kemauan untuk berubah memiliki lima
dimensi yaitu sikap, niat, norma subjektif, kontrol perilaku dan perilaku.
Dimensi sikap dengan indikator merasakan nilai dari perubahan untuk
organisasi akan menumbuhkan perilaku untuk menyukseskan perubahan
organisasi. Terkait konteks job crafting seeking resources pada pekerja
profesi, ketika perawat, guru, arsitek maupun psikolog telah memiliki sikap
positif untuk mengikuti perubahan organisasi, maka pekerja profesi akan
bersedia mencari cara untuk mengatasi dan menyeimbangkan tuntutan-
tuntutan perubahan organisasi dengan sumber daya pekerjaan yang
dimilikinya (seeking resources). Pekerja profesi yang memiliki sikap positif
terhadap perubahan akan menyelesaikan tugasnya sesuai dengan sumber
daya pekerjaan yang dimiliki sehingga dapat mencapai target yang telah
ditetapkan.
Keterlibatan emosi individu terhadap perubahan berupa keyakinan
individu bahwa dirinya mampu beradaptasi dengan perubahan yang sedang
terjadi. Indikator ini membuat individu berupaya mencari cara agar dapat
beradaptasi dengan perubahan. Petrou (2012) menyatakan bahwa job
crafting seeking resources merupakan cara yang digunakan individu untuk
dapat beradaptasi dengan perubahan. Pekerja profesi yang memiliki
keterlibatan emosi dengan perubahan akan berusaha agar dapat beradaptasi
dengan tuntutan perubahan yang sedang terjadi. Pekerja profesi akan
meningkatkan sumber daya pekerjaan yang dimilikinya sehingga dapat
beradaptasi dengan tuntutan perubahan yang terjadi.
Selain dimensi sikap, dimensi kedua adalah niat. Niat individu untuk
mengikuti kemauan untuk berubah. Niat tampak dari ekspresi apakah
individu tersebut menolak atau mempunyai kemauan untuk berubah. Niat
ini dapat dilihat dari adanya usaha individu untuk mendukung implementasi
dari perubahan organisasi. Anggota organisasi yang memiliki niat
mengikuti perubahan organisasi akan menampakkan perilaku yang
mendukung perubahan tersebut. Niat kemauan individu untuk berubah
memicu individu untuk meningkatkan sumber daya pekerjaannya (seeking
resources).
Niat yang dimiliki pekerja profesi untuk mengikuti perubahan akan
membuat pekerja profesi mengikuti proses perubahan yang sedang terjadi.
Pekerja profesi dapat memaksimalkan otonomi pekerjaannya, mencari cara
untuk memperbaiki kinerja dengan cara mencari umpan balik dari atasan
dan rekan kerja. Pekerja profesi juga akan mencari kesempatan untuk
mempelajari hal baru sehingga kemampuan tersebut akan menjadi sumber
daya baru untuk mengikuti tuntutan perubahan yang sedang terjadi.
Dimensi ketiga dari kemauan untuk berubah yaitu norma subjektif.
Norma subjektif memiliki indikator bagaimana individu melihat sikap yang
ditunjukkan oleh rekan terhadap perubahan. Sikap yang ditunjukkan rekan
kerja sebagai norma bagaimana individu akan bertindak. Norma subjektif
dalam mendukung perubahan diharapkan akan memberikan kontribusi
positif dalam mempengaruhi kemauan individu untuk berubah. Saat
seorang pekerja profesi yang resisten melihat rekan kerjanya melakukan
adaptasi terhadap perubahan organisasi, maka akan mempengaruhi pekerja
profesi yang resisten tersebut untuk menyetujui ataupun mengabaikan
perilaku yang dilakukan oleh rekan kerjanya. Pekerja profesi yang
menganggap bahwa perilaku tersebut menguntungkan kemudian mengikuti
perilaku rekannya tersebut. Individu mengikuti rekan kerjanya untuk
beradaptasi salah satu caranya dengan melakukan job crafting seeking
resources.
Dimensi keempat ialah kontrol perilaku. Kontrol perilaku
merupakan persepsi tentang mudah atau sulitnya suatu perilaku untuk
dilakukan. Hal ini berkaitan dengan kontrol kepercayaan yang merujuk
pada kepercayaan terkait adanya faktor yang memfasilitasi ataupun
menghalangi performa perilaku pekerja profesi. Pekerja profesi yang
memiliki persepsi bahwa memodifikasi caranya menyelesaikan pekerjaan
merupakan hal yang mudah, maka hal ini akan memotivasi pekerja profesi
untuk melakukan job crafting seeking resources.
Dimensi terakhir dari kemauan untuk berubah yaitu perilaku.
Kemauan untuk berubah dapat berbeda-beda pada setiap individu. Hal ini
nampak dari perilaku pekerja profesi yang mendukung atau menghalangi
perubahan organisasi yang sedang berlangsung. Perilaku yang mendukung
perubahan organisasi misalnya memotivasi orang-orang, berbagi informasi
dan ide, meyakinkan orang lain bahwa perubahan yang terjadi akan
memberikan hasil yang positif. Sementara itu, perilaku yang menghalangi
perubahan organisasi misalnya meninggalkan organisasi, berbicara negatif
mengenai perubahan secara diam-diam dan saat meeting, mengilkuti petuah
“wait and see”, dan menciptakan koalisi untuk memblok dan menghalangi
proses perubahan.
Perilaku yang mendukung perubahan organisasi berkaitan dengan
perilaku job crafting pada dimensi meningkatkan sumber daya pekerjaan.
Perilaku mendukung perubahan organisasi dapat memicu pekerja profesi
untuk melakukan peningkatan sumber daya pekerjaan guna mencapai target
organisasi yang diinginkan. Petrou dkk (2015) menyatakan bahwa perilaku
pekerja profesi yang mendukung perubahan organisasi akan membuat
pekerja profesi mencari suatu strategi untuk mengatasi tuntutan pekerjaan
atau strategi untuk menyelesaikan semua tugas.
Terkait konteks job crafting seeking resources pada perubahan
organisasi, pekerja profesi yang memiliki kemauan untuk berubah akan
menunjukkan perilaku yang mendukung perubahan organisasi. Pekerja
profesi yang memiliki kemauan untuk berubah dapat memberikan reaksi
emosional yang positif terhadap perubahan dan melakukan usaha terbaik
untuk menyukseskan perubahan organisasi. Hal tersebut dapat dilakukan
pekerja profesi dengan melakukan job crafting seeking resources pada
pekerjaan mereka.
Penelitian sebelumnya telah mengindikasi bahwa job crafting
memainkan peran penting dalam usaha individu untuk menghadapi dan
menyesuaikan diri pada perubahan (Peral & Geldenhuys, 2016; Ghitulescu,
2006). Menurut Petrou dkk (2015) individu dapat melakukan job crafting
dengan tiga cara yaitu meningkatkan sumber daya pekerjaan (seeking
challenges), meningkatkan tantantangan pekerjaan (seeking resources), dan
mengurangi hambatan pekerjaan (reducing demands). Ketiga dimensi ini
merupakan cara yang tepat yang digunakan individu ketika berurusan
dengan perubahan yang terjadi secara terus-menerus.
Berdasarkan uraian penjelasan di atas, kemauan untuk berubah
berfungsi sebagai faktor pemicu munculnya perilaku job crafting seeking
resources. Petrou, Demerouti dan Schaufeli (2015) menjelaskan bahwa
semakin individu memiliki kemauan untuk berubah dalam artian mereka
sudah memahami sikap, niat, norma subjektif, kontrol perilaku dan perilaku
untuk mendukung perubahan maka semakin besar munculnya perilaku job
crafting seeking resources
