Job Satisfaction


Spector (1985) menyatakan kepuasan kerja merupakan respon afektif
emosional terhadap pekerjaan atau aspek tertentu dalam pekerjaan. Colquitt et al
(2019) mendefinisikan kepuasan kerja bersumber dari penilaian kerja atau
pengalaman kerja yang dimiliki seseorang dan hal tersebut menciptakan suatu
keadaan emosi yang menyenangkan
Indikator yang digunakan untuk mengukur kepuasan kerja menurut Spector (1997)
dalam Marzuqi (2021) adalah :
a. Kepuasan terhadap gaji Indikator ini mengukur kepuasan karyawan
terhadap gaji yang diterima. Gaji merupakan aspek dinamis dalam
pekerjaan karena gaji merupakan imbalan yang diterima oleh karyawan
dari pekerjaan yang telah dilakukan. Kepuasan terhadap gaji berarti
merupakan kepuasan karyawan terhadap imbalan yang diterima.
b. Kepuasan terhadap promosi Indikator ini mengukur sejauh mana
kepuasan karyawan sehubungan dengan kebijaksanaan promosi.
Kebijaksanaan promosi harus dilakukan secara adil, yaitu setiap
karyawan yang melakukan pekerjaan dengan baik mempunyai
kesempatan untuk mendapatkan promosi. Promosi bagi karyawan
merupakan pengembangan potensi diri yang selanjutnya berakibat
adanya peningkatan status dan peningkatan pendapatan sesuai dengan
tingkat pekerjaannya
c. Kepuasan terhadap supervisi Indikator ini mengukur kepuasan kerja
seseorang terhadap atasannya. Karyawan lebih menyukai bekerja dengan
atasan yang bersikap mendukung, penuh pengertian, hangat dan
bersahabat, memberi pujian atas kinerja yang baik dari bawahan, dan
memusatkan perhatian kepada karyawan (employee centered), daripada
bekerja pada atasan yang bersifat acuh tak acuh, kasar, dan memusatkan
pada pekerjaan (job centered).
d. Kepuasan terhadap tunjangan tidak langsung (fringe benefits) Indikator
ini mengukur sejauh mana individu merasa puas terhadap tunjangan yang
diterima dari perusahaan. Tunjangan diberikan kepada karyawan secara
adil dan sebanding. Jika upah dan gaji merupakan tunjangan atau
kompensasi langsung karena berkaitan dengan prestasi kerja maka fringe
benefits merupakan tunjangan atau kompensasi yang diberikan kepada
karyawan karena berkaitan dengan sikap mental karyawan seperti rasa
tanggung jawab, ketelitian, dan lain-lain. Fringe benefits merupakan
salah satu bentuk pemberian kompensasi berupa penyediaan
paket/benefit dan program pelayanan bagi karyawan dengan tujuan untuk
mempertahankan karyawan dalam jangka panjang.
e. Kepuasan terhadap penghargaan kontinjen (contingent rewards)
Indikator ini mengukur sejauh mana individu merasa puas terhadap
penghargaan yang diberikan perusahaan berdasarkan hasil kerja.
Contingent rewards biasanya terbagi menjadi dua bentuk yaitu
penghargaan terhadap pekerjaan yang telah dilakukan dengan baik dan
rekomendasi untuk meningkatkan upah, bonus, dan promosi. Spector
(1997) berpendapat bahwa setiap individu ingin usaha keras dan
pengabdian yang dilakukan karyawan untuk kemajuan perusahaan
dihargai, dan juga mendapat imbalan yang semestinya
f. Kepuasan terhadap peraturan atau prosedur kerja Indikator ini mengukur
kepuasan sehubungan dengan prosedur dan peraturan di tempat kerja.
Hal-hal yang berhubungan dengan prosedur dan peraturan di tempat
kerja mempengaruhi kepuasan kerja seorang individu seperti birokrasi
dan beban kerja.
g. Kepuasan terhadap rekan kerja (co-worker) Indikator ini mengukur
kepuasan karyawan terhadap dukungan rekan kerja. Kepuasan terhadap
rekan kerja muncul dari interaksi dalam pekerjaan baik melihat sisi
interpersonal maupun dari sisi kompetensi yang dimiliki oleh rekan kerja
dalam pelaksanaan tanggung jawab pekerjaan.
h. Kepuasan terhadap pekerjaan itu sendiri Indikator ini mengukur
kepuasan kerja terhadap hal-hal yang berkaitan dengan pekerjaan itu
sendiri. Beberapa literatur telah mendefinisikan ciri-ciri pekerjaan yang
berhubungan dengan kepuasan kerja, antara lain kesempatan rekreasi dan
variasi tugas, kesempatan menyibukkan diri, peningkatan pengetahuan,
tanggung jawab, otonomi, job enrichment
i. dan kompleksitas kerja sejauh mana pekerjaan itu tidak bertentangan
dengan hati nurani
j. Kepuasan terhadap komunikasi Indikator ini mengukur kepuasan kerja
pegawai terhadap infromasi yang diberikan perusahaan kepada karyawan
yang berhubungan dengan segala sesuatu yang berkaitan dengan
pekerjaan yang dilakukan. Komunikasi di dalam organisasi memiliki alur
pergerakan yang bersifat vertical dari atas ke bawah dan horizontal
sejajar antar pegawai. Indartono (2014) mengatakan bahwa manusia
berkomunikasi untuk membagi pengetahuan dan pengalaman, melalui
komunikasi sikap dan perasaan seseorang atau sekelompok orang dapat
dipahami oleh pihak lain. Jika komunikasi dalam organisasi lancar dan
tidak mengalami masalah maka pegawai akan merasa puas