Indikator-indikator Konflik Kerja-Keluarga
Moreira (2023), indikator Work Family Conflict, yakni sebagai berikut:
a. berbasis waktu, ketika tanggung jawab dalam satu domain menggunakan
waktu yang sangat penting untuk melakukan tugas di domain lain;
b. berbasis ketegangan, yang timbul dari situasi stres di satu bidang, yang
mengganggu tugas bidang lain; dan
c. berbasis perilaku, bila ada ketidaksesuaian peran yang diambil di
masing- masing lingkungan inklusi.
Wijayadne (2022) menjelaskan terjadinya work family conflict didasari
beberapa dimensi yakni time based conflict, dimana waktu yang dimiliki karyawan
banyak digunakan untuk menjalankan tuntutan pekerjaan sehingga karyawan
merasa kesulitan untuk memenuhi tanggung jawabnya dalam keluarga dan strain
based conflict, dimana kelelahan fisik, mental dan pikiran yang dirasakan karyawan
setelah melakukan peran kerja mengganggu mereka untuk menjalankan peran
sebagai anggota keluarga.
Albert (2021) menyatakan indikator konflik kerja keluarga diawali oleh dua
hal, yaitu konflik yang muncul ketika peran pekerjaaan mengganggu peran
seseorang dalam keluarga, dan yang kedua dikarenakan adanya konflik yang
muncul karena peran keluarga yang mengganggu pekerjaan seorang karyawan.
Menurut Widayati (2018), work-family conflict memiliki indikator, yakni
sebagai berikut:
a. meningkatnya absensi.
b. menurunnya kinerja.
c. buruk kesehatan fisik dan mental.
Komponen work family conflict menurut Reymonda (2018) muncul sebagai
akibat adanya tuntutan yang tinggi dari peran ganda yang dimainkan seorang
individu terdapat 2 (dua) macam ketegangan, yaitu :
a. Overload, ketegangan yang bersifat overload muncul ketika jumlah tuntutan
terhadap waktu dan energi terlalu besar untuk memainkan peran ganda.
b. Interference, ketegangan yang bersifat interference muncul ketika banyak
aktifitas pekerjaan dan keluarga yang harus dimainkan pada waktu yang
bersamaan di tempat yang berbeda