Sistem manajemen sumber daya manusia (SDM) telah berkembang dari
bentuk kerja kuno seperti tingkat keterlibatan karyawan yang rendah, ke proses yang
lebih partisipatif dan mendukung dimana karyawan mendapat kesempatan untuk
mengembangkan keterampilan, pengetahuan dan sikap (Singh et al. ., 2019). Di era
meningkatnya kesadaran tentang pengelolaan lingkungan dan pengembangan sumber
daya yang berkelanjutan (Phillips, 2018), manajemen sumber daya manusia green
(GHRM) mengacu pada praktik HRM yang ditujukan untuk pengaruh lingkungan dan
ekologi perusahaan dan ini terkait dengan strategi lingkungan perusahaan dan
perilaku green karyawan (Renwick et al., 2013). GHRM merupakan bagian integral
dari literatur HRM berkelanjutan dan berfokus pada praktik pengelolaan lingkungan
perusahaan di mana HRM green bertindak sebagai platform untuk menghubungkan
praktik HRM dengan kegiatan pengelolaan lingkungan perusahaan (Dumont et al.,
2017).
Green Human Resource Management mengacu pada aspek HRM dalam
pengelolaan lingkungan. GHRM berkaitan dengan merangsang keterlibatan karyawan
dengan memberdayakan mereka dan menghasilkan budaya organisasi yang ramah
lingkungan (de Souza Moraes et al., 2019). Oleh karena itu, GHRM mencerminkan
orientasi strategis organisasi terhadap perlindungan lingkungan dan meminta
manajemen puncak untuk memperhatikan proses dan praktik organisasi yang
mendorong orang untuk mengambil bagian dalam perilaku pekerjaan green untuk
mengurangi pencemaran lingkungan di tempat kerja (Oh et al., 2016). Dengan kata
13
lain, GHRM mencakup penggabungan tujuan pengelolaan ekologis organisasi ke
dalam proses SDM yaitu, rekrutmen & seleksi, pelatihan & pengembangan,
manajemen & evaluasi kinerja, penghargaan & pengakuan (Muller-Carmem et al.,
2010).
