Teori Kepuasan Konsumen


Berikut adalah teori-teori yang membahas kepuasan konsumen:

  1. Teori Kepuasan ( the expectancy disconfirmation model )
    Teori kepuasan mengemukakan bahwa kepuasan dan ketidakpuasan konsumen
    merupakan dampak dari perbandingan antara harapan konsumen sebelum
    pembelian dengan kinerja produk yang sesungguhnya. Ketika membeli suatu
    produk, konsumen memilki harapan tentang bagaimana kinerja produk tersebut
    (product performance):
    a. Produk berkinerja lebih baik dari yang diharapkan. Inilah yang disebut
    diskonfirmasi positif (positive disconfirmation). Jika ini terjadi, konsumen
    akan merasa puas.
    b. Produk berkinerja seperti yang diharapkan. Inilah yang disebut konfirmasi
    sederhana (simple confirmation). Produk tersebut tidak memberikan rasa
    puas, tetapi juga tidak mengecewakan konsumen. Konsumen akan memilki
    perasaan netral.
    c. Produk berkinerja lebih buruk dari yang diharapkan. Inilah yang disebut
    diskonfirmasi negative (negative disconfirmation). Produk yang berkinerja
    buruk, tidak sesuai dengan harapan konsumen, akan menyebabkan
    kekecewaan sehingga konsumen merasa tidak puas.
  2. Teori Perasaan Afektif Eksperiental (experientially affective feeling theory)
    Menurut Jones dalam Sopiah dan Sangadji (2013:183), teori ini beranggapan
    bahwa kepuasan konsumen dipengaruhi oleh perasaan positif dan negatif yang
    diasosiasikan konsumen dengan produk yang sudah dibeli dan dikonsumsi.
  3. Attribution Theory
    Attribution Theory mengidentifikasi proses yang dilakukan seseorang dalam
    menentukan penyebab tindakannya, orang lain, dan objek tertentu. Atribusi yang
    dilakukan oleh seseorang akan memengaruhi kepuasan purnabelinya dalam
    produk tertentu, karena atribusi memoderasi perasaan puas atau tidak puas.
    Atribusi sangat besar pengaruhnya terhadap kepuasan atau ketidakpuasan
    pelanggan apabila keterlibatan, pengalaman dan pengetahuan pelanggan terhadap
    produk relatif tinggi. (Hasan, 2013:101)