Dyah Hasto Palupi 2005 dalam majalah (Swa no. 02, 2005), yang
menjelaskan adanya lima ukuran yang menentukan loyal tidaknya konsumen pada
suatu merek tertentu, yaitu :
a. Costumer Value
Yaitu persepsi konsumen yang membandingkan antara biaya atau harga, atau
beban yang harus ditanggung dengan manfaat yang diterimanya. Manfaat
disini bisa tangible, menyangkut kegunaan produk secara fisik, bisa pula
manfaat intangible, yang bersifat psikologis atau emosional dari konsumen.
b. Switching Barrier
Yaitu hambatan-hambatan atau beban atau harga yang harus ditanggung
konsumen bila ia akan berpindah dari suatu merek ke merek lainnya.
c. Costumer Characteristic
Yaitu karakter konsumen dalam menggunakan merek, karena setiap individu
memiliki karakteristik yang berbeda dari individu lainnya.
d. Costumer Satisfaction
Yaitu konsumen yang merasakan kepuasan terhadap merek yang dibeli,
karena konsumen tersebut memiliki pengalaman ketika melakukan kontak
dengan merek yang digunakannya.
e. Competitive Environment
Yaitu sejajuh mana kompetisi yang terjadi antara merek dalam suatu kategori
produk.
Sedangkan menurut Rangkuti (2004:64) pengukuran-pengukuran loyalitas
merek dapat dilakukan dengan cara sebagai berikut:
a. Pengukuran perilaku
Cara langsung untuk menentukan loyalitas, khususnya perilaku yang sudah
menjadi kebiasaan adalah dengan mengetahui pola-pola pembelian yang biasa
dilakukan oleh konsumen diantaranya dapat dilihat melalui tingkat pembelian
ulang, presentase pembelian dan jumlah merek yang dibeli.
b. Pengukuran switching cost (Biaya peralihan)
Biaya pengorbanan merupakan suatu dasar terciptanya loyalitas merek.
Apabila konsumen memerlukan pengeluaran yang sangat mahal dan memiliki
resiko yang sangat besar, akan mengakibatkan tingkat perpindahannya
menjadi sangat rendah.
c. Pengukuran kepuasan
Konsumen yang loyal terhadap suatu merek bila ia mendapatkan kepuasan
dari merek tersebut. Karena itu jika konsumen mencoba beberapa macam
merek yang kemudian dievaluasi apakah merek tersebut telah melampaui
criteria kepuasan mereka atau tidak. Bila ketidakpuasan konsumen terhadap
suatu merek rendah, maka pada umumnya tidak cukup alasan untuk beralih ke
merek lain. Sangat perlu bagi perusahaan untuk mengetahui informasi dari
konsumen yang memindahkan pembeliannya ke merek lain dalam kaitannya
dengan permasalahan yang dihadapi oleh konsumen atau alasan yang terkait
ddengan ketergesaan mereka memindahkan pilihannya.
d. Pengukuran Kesukaan Terhadap Merek
Kesukaan yang menyeluruh dapat diukur melalui cara yang bermacam-
macam, seperti perhatian, kepercayaan, perasaan-perasaan hormat atau
bersahabat dengan suatu merek yang membangkitkan kehangatan dalam
perasaan konsumen. Akan sulit bagi merek lain untuk dapat menarik
konsuemn yang sudah mencintai merek tertentu.
e. Pengukuran Komitmen
Merek yang sangat kuat akan memiliki sejumlah besar konsumen yang
memiliki komitmen. Salah satu indikator kunci adalah jumlah interaksi dan
komunikasi yang berkaitan dengan produk tersebut. Konsumen akan
membicarakan merek tersebut kepada orang lain bahkan menyarankan dan
merekomendasikan untuk membeli merek tersebut
